Title : Crush In Rush
Cast :
Xi Luhan (girl) - Oh Sehun, etc.
Warning : Genderswitch, typo(s), etc
Rated : T
Disclaimer :
Cerita ini sepenuhnya milik Santhy Agatha dari novel yang berjudul sama. dan saya hanya meremakenya dengan mengganti cast dan mengedit sedikit alurnya. So don't call me plagiator, ok?!
.
Summary : Sehun dan Luhan. Dua mahluk yang bertolak belakang, yang seharusnya tidak pernah bersinggungan. Tetapi kehidupan mempertemukan mereka ke dalam pusaran nasib yang tidak terelakkan.
.
.
Don't Like
.
Dont'read
.
.
Enjoy
.
.
.
.
Hari masih pagi ketika Luhan bangun dan menyiapkan sarapan, kamar Kai dan Sehun masih tertutup rapat.
kalau Sehun, Luhan sudah maklum karena lelaki itu selalu menggunakan waktu paginya untuk tidur karena semalaman hampir tidak tidur. Tetapi rupanya Kai juga bangun kesiangan pagi ini.
Luhan mengernyitkan keningnya karena tidak biasanya Kai kesiangan.
Setiap hari lelaki itu selalu bangun pagi, sudah mandi dan rapi dengan aroma segar yang menyenangkan lalu duduk di meja dapur, makan sarapannya bersama Luhan. Sudah hampir dua minggu berlalu sejak Kai datang untuk tinggal di apartemen ini. Dan dalam dua minggu itu, banyak sekali kejadian, dan perubahan, terutama bagi Luhan.
Selama dua minggu kemarin, Sehun selalu bangun pagi sarapan bersama Luhan dan Kai, kemudian dia mengantar Luhan ke tempat Xiumin, di sana Luhan menghabiskan waktunya seharian.
Semula Luhan agak canggung ketika berduaan dengan Xiumin, apalagi Luhan mengetahui bahwa Xiumin dulunya laki-laki sebelum berubah menjadi perempuan. Tetapi Xiumin memang memiliki sifat yang sangat ramah dan baik.
Setiap hari ketika Luhan datang, dia akan membuat seteko teh mint yang harum dan sepiring kue cokelat yang baru keluar dari panggangan, kemudian mengajak Luhan mengobrol dan mencairkan suasana.
Dari mengobrol itulah Xiumin megajarkan banyak hal kepada Luhan, semua pengetahuannya tentang dunia fashion di tularkannya, tak lupa dia mengajari cara berjalan, table manner di acara makan malam resmi, cara berbicara, dan bahkan cara memadu padankan pakaian supaya tampil cantik.
Xiumin selalu menekankan bahwa dia harus berperan sebagai wanita penggoda nanti ketika ayah kandung Sehun sudah muncul. Pipi Luhan selalu merona merah ketika Xiumin mengatakan bahwa Luhan harus melemparkan tatapan sensual penuh ajakan kepada Sehun setiap saat, juga senyuman nakal, bibir yang merekah penuh godaan.
Xiumin memang sudah mengajari Luhan semua caranya, dan Luhan menyerapnya, juga belajar sendiri di cermin, memonyong-monyongkan bibirnya, atau bahkan mencoba mengedip-ngedip genit kepada bayangannya sendiri di depan cermin, yang membuatnya tertawa sendiri di kamar.
Bagaimanapun juga, Luhan masih tidak mampu membayangkan bagaimana caranya dia melakukan itu semua pada Sehun. Pipinya selalu merona dan wajahnya terasa panas kalau membayangkan akan mengedip genit kepada Sehun, atau menyapukan jemarinya sambil menatap sensual penuh ajakan kepada Sehun.
Ah, Ya ampun , bagaimana mungkin dia melakukannya?
Luhan menyiapkan sarapan itu dengan pipi memerah. Kemudian pikirannya berkelana lagi, Xiumin sudah menyerahkan Luhan kepada Sehun kemarin, dan mengatakan bahwa Luhan sudah siap.
Yah mungkin secara teori Luhan sudah siap... tetapi prakteknya nanti? Entahlah. Yang pasti Luhan akan berusaha sebaik mungkin, dia tidak ingin mengecewakan Sehun yang sudah berharap banyak kepadanya.
Cara berpakaian Luhan pun sudah berubah, tiba-tiba saja lemari pakaiannya sudah penuh dengan pakaian-pakaian mahal dari butik ternama, ada rak sepatu khusus yang dibelikan oleh Sehun untuk menampung koleksi sepatunya yang tiada duanya, belum lagi susunan aksesoris, tas dan semua perhiasan yang diberikan Sehun kepadanya.
Lelaki itu benar-benar boros dan membuang-buang uang. Luhan berpikir akan dikemanakan semua barang itu kalau semua sandiwara ini sudah selesai. Tentu saja semua barang ini hanya pinjaman dan bukan untuk Luhan bukan?
Karena itulah Luhan sangat berhati-hati memakai semua barang itu, berusaha supaya nanti ketika barang itu dikembalikan, kondisinya masih bagus dan sempurna. Luhan benar-benar berhati-hati apalagi mengingat betapa mahalnya harga barang-barang itu.
Pagi ini Luhan mengenakan gaun satu potong yang ringan dan elegan, bahannya sifon dengan warna ungu lavender yang lembut dan menjuntai sampai ke tengah betisnya. Tampak sangat indah dipakai olehnya, membuat tubuhnya yang mungil tampak berisi.
Xiumin bilang Luhan terlalu kurus dan harus menambah berat badannya, dan sepertinya selama dua minggu ini, Luhan berhasil menambah berat badannya beberapa kilo sehingga bagian-bagian yang seharusnya terisi penuh, mulai terisi dengan indahnya.
Kadangkala Luhan masih sering terpaku menatap dirinya di cermin dan tidak mengenali
dirinya sendiri. Lalu dia tersenyum dan kemudian mengucap syukur kepada Tuhan atas kesempatan yang diberikan kepadanya.
Bahkan sekarang Luhan punya ponsel.
Sehun membelikan Luhan ponsel canggih dengan fitur-fitur yang Luhan sendiri tidak tahu cara memakainya, sementara nomor di ponsel itu hanya menyimpan nomor telepon Sehun saja, meskipun kemudian Luhan mengingat tentang Jongdae yang dulu sempat menanyakan nomor ponselnya.
Luhan sangat ingin mengunjungi Jongdae di cafe, meskipun dia harus memikirkan caranya menemui Jongdae tanpa harus berurusan dengan Yongguk yang setiap hari ada di cafe itu.
Bagaimanapun juga, Jongdae adalah satu-satunya orang yang bersikap baik kepadanya di sana, sahabatnya. Dan Luhan tidak mungkin melupakan kebaikannya. Tetapi karena setiap pagi Luhan harus ke tempat Xiumin dan baru pulang menjelang malam, tidak ada kesempatan baginya untuk mengunjungi Jongdae.
Mungkin besok dia bisa kesana... gumamnya dalam hati, sambil menaburkan bumbu ke masakannya,
Ketika Luhan menuang bacon panas yang beraroma harum dan menata kentang goreng di piring. Bel pintu apartemen berbunyi, membuat Luhan mengernyitkan keningnya.
Mereka hampir tidak pernah menerima tamu di apartemen ini. Hanya Kai satu-satunya tamu yang pernah datang kemari sejak Luhan tinggal di sini, dan kemudian menetap di sini.
Kalau begitu siapa?
Dengan langkah ragu, Luhan mengintip melalui kaca cembung untuk mengintip di pintu apartemen. Dia mengernyit, tidak mengenali lelaki bule tua berbadan besar itu yang sedang berdiri dengan ekspresi tidak sabar di depan pintu.
Otaknya berputar cepat, dan kemudian langsung menyadari bahwa mungkin saja saatnya sudah tiba. Mungkin saja lelaki itu adalah ayah kandung Sehun yang datang untuk mengunjunginya!
Luhan meragu, takut untuk membuka pintu.
Bel pintu berbunyi lagi, tetapi Luhan tetap menahan diri untuk menahan pintu. Mungkin saja lelaki itu ayah kandung Sehun, tetapi mungkin saja tidak bukan? Luhan harus berhati-hati membuka pintu untuk orang asing.
Dia harus membangunkan Sehun.
Jantungnya berdebar, menyadari betapa buruknya mood Sehun kalau dibangunkan paksa di pagi hari. Tetapi bagaimana lagi? Luhan tidak bisa duduk diam dan membiarkan bel itu terus berbunyi dan menunggu sampai tamu itu menyerah lalu pergi bukan?
Siapa tahu itu tamu penting...?
Dengan ragu, Luhan mengetuk pintu kamar Sehun. Pelan... sekali, dua kali, dan kemudian sedikit lebih keras. Tetapi tetap saja tidak ada jawaban.
Luhan akhirnya memberanikan diri memegang handel pintu yang ternyata tidak dikunci itu.
Dari celah pintu yang terbuka sedikit, Luhan bisa melihat Sehun tengah tertidur pulas, terbaring terngkurap di atas ranjang berukuran besar. Selimut polos berwarna gelap tampak menggumpal di kakinya, sementara seperti biasanya, lelaki itu tidur hanya mengenakan celana panjang piyama dan bertelanjang dada.
Luhan melangkah masuk, berdiri ragu di depan pintu kamar, kemudian memanggil Sehun,
"Sehun?" suaranya agak keras, berharap bisa membangunkan lelaki itu dari jarak jauh, tetapi rupanya usahanya sia-sia karena Sehun tampak pulas bahkan tidak bergerak dari posisinya.
Ragu, Luhan melangkah mendekat lagi, menelan ludahnya ketika sudah berdiri di sisi ranjang, menatap punggung telanjang Sehun yang berotot dan indah.
"Sehun?" Luhan setengah membungkuk di dekat lelaki itu. Tetapi panggilannya hanya mampu menghasilkan sedikit kerutan di alis Sehun.
Sambil menghela napas, Luhan meletakkan jemarinya di pundak telanjang Sehun, merasakan dirinya merona ketika kulit hangat itu menempel di telapak tangannya.
"Sehun?" Luhan mengguncang pundak Sehun.
Seketika itu juga, jemari kuat Sehun menarik Luhan yang mungil, membuat Luhan memekik ketika lelaki itu membanting tubuh Luhan ke atas ranjang dan kemudian setengah menindih tubuhnya.
Luhan berusaha meronta, tetapi pegangan Sehun kepada dirinya sangatlah kuat. Mata lelaki itu setengah terpejam, sepertinya masih setengah tidur, dan senyumnya begitu sensual, senyum yang tidak pernah ditunjukkannya kepada Luhan sebelumnya.
"Kau ingin menggodaku di pagi hari sayang?"
Sehun berbisik serak, lalu mengecup leher Luhan seringan bulu, membuat sekujur tubuh Luhan merinding. Dia langsung memekik dan mendorong tubuh Sehun sekuat tenaga, membuat lelaki itu tersentak dan kemudian membuka matanya, kali ini benar-benar sadar.
Sehun tampak mengerjap bingung, dia kemudian menunduk, menatap Luhan yang
terbaring di bawah tubuhnya dan mengerutkan keningnya,
"Apa yang kau lakukan di bawah situ?"
Pipi Luhan merah padam, dia malu setengah mati. Di sini, berbaring di atas ranjang, di bawah tindihan tubuh Sehun yang telanjang dada.
Astaga. Tidak pernah dipikirkannya sebelumnya akan terjadi begini ketika menyentuh pundak Sehun. Tahu begitu Luhan akan mengambil tongkat atau apa untuk menggoyang-goyangkan tubuh Sehun dari jarak jauh.
Well ya, kalau nanti dia harus membangunkan Sehun lagi, dia akan menggunakan cara itu, "Aku... aku berusaha membangunkanmu.. ada tamu... aku menyentuh pundakmu dan kau membantingku ke ranjang."
Ekspresi Sehun tidak terbaca, dia mengerutkan kening lalu secepat kilat melepaskan Luhan dari tindihannya, berguling ke samping dan kemudian meluncur berdiri di tepi ranjang,
"Lain kali hati-hati kalau membangunkanku." Gumamnya dingin, "Dan kenapa kau membangunkanku? Tamu apa yang kau maksud?"
Luhan sendiri langsung bangkit dari ranjang ketika Sehun melepaskan tindihannya, wajahnya merah padam dan terasa panas hingga dia harus meletakkan tangannya di lehernya untuk meredakan panasnya,
"Tamu... seorang lelaki tua asing.. aku pikir.. aku pikir akhirnya ayah kandungmu mengunjungimu."
Ekspresi Sehun langsung berubah keras, sedikit menakutkan. "Kau yakin?"
"Aku tidak tahu.." Luhan menggelengkan kepalanya, "Tetapi dia tamu pertama di apartemen ini, dia pria asing, berambut kelabu, sangat tinggi... apakah kau tidak ingin mengintipnya dulu?"
"Tidak." Bibir Sehun menipis, "Itu sudah pasti ayahku, aku tidak sedang menunggu tamu manapun. Aku akan mandi dulu sebelum menemuinya." Lelaki itu menatap Luhan dengan serius,
"Ingat peranmu mulai sekarang, Luhan. Kau adalah simpananku, perempuan penggoda, perempuan jalang yang tak jelas asal usulnya dan penggila harta, sementara itu aku tergila-gila kepadamu." Lelaki itu terkekeh, "Aku tak sabar untuk melihat reaksi tua bangka itu. Persilahkan dia masuk dan menungguku."
Kemudian Sehun membalikkan badan dan masuk ke kamar mandi.
.
.
.
.
.
Bel pintu sudah tidak berbunyi ketika Luhan keluar sehingga dia mengira tamu itu sudah pergi.
Tiba-tiba dia menyesal jangan-jangan dia terlalu lama membangunkan Sehun tadi sehingga membuat lelaki itu pulang. Tetapi ketika Luhan mengintip, dia masih
melihat lelaki bule itu berdiri di pintu dan menunggu, dengan hati-hati Luhan membuka pintu, membiarkan rantai gerendelnya masih menempel di sana untuk berjaga-jaga.
"Mencari siapa?" Tanyanya hati-hati.
Lelaki tua itu langsung menegakkan tubuhnya ketika Luhan membuka pintu dan mengintip dari baliknya, matanya menelusuri Luhan. sepertinya tidak menyangka kalau Luhan yang membukakan pintu untuknya, lelaki itu melemparkan tatapan mata penuh spekulasi sebelum kemudian bergumam,
"Aku mencari Sehun. Anakku." Suaranya berat dan dalam, penuh wibawa dengan bahasa Korea yang terpatah-patah.
Jadi benar. Orang ini adalah ayah kandung Sehun. Luhan teringat bahwa dia harus menjalankan perannya dengan baik, karena itulah dia tersenyum dengan gaya ceria yang sedikit menggoda, mengangkat alisnya dibuat-buat.
"Setahuku ayah Sehun sudah meninggal."
Luhan dengan berani menelusuri sosok lelaki di depannya, sengaja membuat lelaki itu jengkel, meskipun dalam hatinya dia gemetar setengah mati. Dan usahanya berhasil, lelaki tua itu tampaknya termakan oleh usaha Luhan untuk bersikap sebagai perempuan menyebalkan. Wajahnya memerah meskipun lelaki itu masih berusaha bersikap sopan,
"Aku ayah kandung Sehun, sekarang buka pintu ini dan biarkan aku bertemu anakku." Gumamnya tegas, menatap Luhan dengan mata menyala-nyala, membuat Luhan hampir saja mundur selangkah ketakutan.
"Biarkan dia masuk sayang."
Tiba-tiba saja Sehun sudah berdiri di belakangnya, memegang pundaknya dengan lembut dan begitu dekat di sana, sampai Luhan bisa mencium aroma sabun yang bercampur dengan after shave dan parfum beraroma maskulinnya.
Lalu jemari Sehun terlurur melewati Luhan dan membuka gerendel itu. Sebelah lengan lelaki itu merangkul Luhan dengan posesif dan kemudian mereka berdiri berhadapan dengan lelaki itu, ayah kandung Sehun.
"Kau tidak mempersilahkan aku masuk?" gumam lelaki tua itu datar.
Sehun menegang, Luhan bisa merasakannya meskipun lelaki itu tampak berusaha bersikap datar, tetapi sepertinya semua kemarahan dan kebencian terpupuk di sana, membuat seluruh tubuhnya menegang.
"Masuklah." Lelaki itu menghela Luhan masih dalam rangkulan lengannya, kemudian mengajaknya duduk di sofa, "Pengacaramu sudah memberitahukan kedatanganmu, aku tidak menyangka kau sebodoh itu membuang-buang waktumu dengan datang kemari."
Panggilan ber 'aku' dan ber 'kamu' yang dipakai Sehun kepada ayahnya sepertinya dilakukan dengan sengaja, untuk menunjukkan bahwa jelas-jelas Sehun tidak menganggap lelaki itu sebagai ayahnya. Sebuah penghinaan frontal yang disengaja dan rupanya efektif karena ekspresi ayah kandung Sehun memucat dan tampak tidak senang.
Lelaki itu duduk di sofa di depan Sehun dan mengamati sekeliling ruangan, dia mencoba berbasa-basi,
"Tempat yang bagus." Gumamnya bersikap tak mendengar kata-kata Sehun tadi yang menyebutnya bodoh. Kali ini dengan memakai bahasa inggris, untunglah Luhan cukup mengerti bahasa inggris dari pelajaran SMAnya dan kursus singkat intensifnya bersama Xiumin yang serba bisa.
Sehun mengangkat alisnya, jemarinya menelusuri pinggang Luhan sambil lalu, sebuah gerakan ringan tapi mesra, menunjukkan kepemilikan, membuat Luhan harus berusaha keras supaya tidak salah tingkah.
"Tentu saja, dan aku membelinya dari hasil kerja kerasku sendiri."
Lelaki itu tersenyum dan menatap Sehun dalam-dalam, "Kau bisa menadapatkan beberapa kastil indah, lengkap dengan tanah pegunungan yang luas, kekayaan yang berlimpah sehingga kau bisa membeli puluhan apartemen seperti ini, sebanyak yang kau mau Sehun. kalau saja kau mau mendengarkan perkataan pengacaraku."
"Aku tidak butuh hartamu." Tatapan Sehun berubah dingin, dia lalu melemparkan senyuman sensual kepada Luhan, "Benar kan, sayang?"
Saatnya berakting.
Luhan memutar bola matanya dengan genit, "Kalau ada kesempatan kau bisa lebih kaya dari sekarang, tentu saja tidak boleh kau tolak, Sehun. itu akan menguntungkanku juga." Gumamnya dengan nada genit yang meskipun sedikit kaku pada awalnya tapi tampak meyakinkan.
Sehun terkekeh dan kemudian menarik Luhan semakin rapat kepadanya, "Oh ya, aku belum memperkenalkanmu. Ini... Wiliam." Sehun dengan kurang ajarnya menyebut nama ayahnya langsung, "Dia seorang bangsawan... aku lupa gelarmu."
"Robin William Sinclair, Earl of Moray." Sahut William dengan dingin.
Seperti dugaan Sehun, masalah gelar dan darah bangsawan sangatlah sensitif bagi lelaki tua itu. Dan Sehun akan menggunakannya sebagai senjata.
"Yah begitulah namanya Luhan, aku sendiri susah mengingatnya, lagipula nama gelar itu tidak ada artinya di negara ini." Sehun sengaja melemparkan pandangan mencemooh,
"Dan perkenalkan, ini adalah Luhan. Luhan saja tanpa embel-embel nama lain sepertinya karena gadis ini sebatang kara sebelum aku memungutnya dari panti asuhan." Sehun tertawa sendiri, "Luhan ini adalah calon isteriku."
Wajah William langsung pucat pasi, memandang Luhan dan Sehun berganti-ganti.
Sikap dan kata-kata Luhan tadi, apalagi menyangkut kekayaan, sudah bisa membuat William mengetahui tipe perempuan seperti apa yang sekarang sedang menempel di tubuh anaknya seperti lintah penghisap darah. Dan dari panti asuhan berarti tidak diketahui asal usulnya! William tidak bisa menerima itu. Bagaimanapun juga, Sehun menyimpan darah Sinclair di tubuhnya, darah bangsawan yang murni dari miliknya yang diturunkan oleh nenek moyangnya yang terhormat.
Dan sekarang Sehun akan menikahi perempuan yang tidak jelas asal usulnya? Akan seperti apa keturunan mereka nanti? Perempuan itu akan menodai kemurnian darah Sinclair mereka, darah terhormat yang sekarang hanya ada di tubuh Sehun. Dia harus menyelamatkan darah bangsawan itu.
Sehun harus menikah dengan perempuan bangsawan yang terhormat, supaya keturunan Sinclair berikutnya berasal dari darah murni. Bukan dari perempuan yang tidak jelas seperti ini.
"Aku datang kemari untuk membicarakan warisan gelarmu." William memulai, pura-pura tidak mendengar perkenalan Sehun tentang Luhan tadi, "Kau adalah anakku satu-satunya, satu-satunya Sinclair murni yang tersisa."
"Dan apakah pengacaramu tidak mengatakan kepadamu bahwa aku menolaknya? Aku tidak butuh hartamu, gelarmu atau bahkan warisan darahmu. Kalau saja aku bisa membuangnya, akan aku buang dari tubuhku semua jejak yang menghubungkanku padamu,"
Mata Sehun menggelap, "Kedatanganmu sia-sia Pak Tua, Aku menikmati hidup di sini, bersama kekasihku yang menggairahkan dan tawaranmu sama sekali tidak menggodaku."
"Kau tidak boleh menikahinya."
Tiba-tiba William terpancing emosi, menatap Luhan dengan penuh kebencian, membuat Luhan sedikit beringsut dari duduknya. Untunglah jemari Sehun di pinggangnya menguatkannya, lelaki itu memeluknya makin erat seolah akan menjaganya.
"Kenapa tidak boleh? Kami saling mencintai dan saling memuaskan, aku sudah tinggal bersamanya selama beberapa bulan dan percintaan kami sangat memuaskan, benar kan sayang?"
Nada suara Sehun penuh siratan makna, membuat pipi Luhan merona, tetapi dia menganggukkan kepalanya, mengimbangi kata-kata Sehun dengan kedipan genit menggoda, "Benar sayang. Dan aku tidak sabar menunggu kita menikah dan kemudian mendapatkan cincin dengan berlian raksasa yang kau janjikan itu."
Ide untuk mengatakan hal-hal semacam itu sebenarnya berasal dari Xiumin. Xiuminlah yang mengarahkannya untuk selalu menyinggung uang dan perhiasan.
Sehun terkekeh, "Kau akan mendapatkannya nanti sayang."
Wiliam rupanya sudah tidak tahan lagi, lelaki itu langsung berseru, "Kau tidak boleh menikahinya, Sehun. Darah keluarga Sinclairakan tercemar kalau kau menikahi perempuan dengan asal usul tidak jelas, aku sudah memilihkan calon isteri untukmu, perempuan bangsawan, berpendidikan tinggi, modern dan sempurna untukku, dia sedang dalam perjalanan menyusulku kemari untuk menemuimu. Segera setelah kau melihatnya, kau akan sadar bahwa kau sudah membuat pilihan buruk!"
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
A/N
.
Untuk ayahnya Sehun saya memakai Robin William seorang aktor Hollywood. Jika penasaran kalian bisa mencari fotonya di google.
.
Sebenernya saya mau update tadi sore tapi jaringan gak memungkinkan. Maaf yaa..
