Title : Crush In Rush

Cast :

Xi Luhan (girl) - Oh Sehun, etc.

Warning : Genderswitch, typo(s), etc

Rated : T

Disclaimer :

Cerita ini sepenuhnya milik Santhy Agatha dari novel yang berjudul sama. dan saya hanya meremakenya dengan mengganti cast dan mengedit sedikit alurnya. So don't call me plagiator, ok?!

.

Summary : Sehun dan Luhan. Dua mahluk yang bertolak belakang, yang seharusnya tidak pernah bersinggungan. Tetapi kehidupan mempertemukan mereka ke dalam pusaran nasib yang tidak terelakkan.

.

.

Don't Like

.

Don't read

.

.

Enjoy

.

.

.

.

Mata Sehun tampak menggelap mendengar kata-kata arogan Wiliam, bibirnya menipis menahan marah, "Berani-beraninya kau menghina calon isteri pilihanku." Gumamnya gusar, "Keluar dari rumah ini sekarang."

William tampak kaget diusir dengan tidak sopan seperti itu.

Dia terbiasa dihormati, orang-orang terbiasa membungkuk hormat kepadanya. Dan sekarang dia diusir oleh anak kandungnya sendiri? Sungguh penghinaan yang menyinggung harga diri William, tetapi dia menahankannya.

William membutuhkan Sehun. Hanya anak itulah satu-satunya laki-laki keluarga Sinclair yang masih hidup. Selama berapa dekade ini, keluarganya telah dikutuk selalu melahirkan anak perempuan yang tentu saja tidak bisa diandalkan untuk meneruskan nama gelarnya. Lalu penyakit jantungnya yang menyebabkannya tidak bisa mempunyai keturunan meyerangnya. Membuatnya tergantung hanya kepada Sehun. William akan rela menahankannya.

Tidak apa-apa, asalkan gelar dan nama keluarga selamat di masa depan.

Dia kemudian beranjak dari duduknya dan bergumam geram, "Aku akan pergi sekarang. Tetapi aku akan kembali lagi, dengan membawa calon isterimu, Sehun. Calon isteri yang sangat berkelas dan cocok untukmu."

Setelah mengucapkan kata-kata angkuh itu, William melangkah pergi meninggalkan apartemen itu. Lama kemudian Sehun masih termenung, dengan marah menatap ke arah pintu, tempat William menghilang, matanya menyala nyaris menakutkan.

"Lelaki tua bangka tak tahu diri." Desisnya, "Seenaknya dia membuangku dan sekarang dia ingin memilikiku? Dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa!"

Sinar kebencian memancar di mata Sehun, membuat Luhan beringsut menjauh. Gerakan Luhan itu tampaknya menyadarkan Sehun, lelaki itu langsung melepaskan pegangannya di pinggang Luhan dan menatapnya dalam,

"Aktingmu tadi bagus sekali meski awalnya sedikit kaku." Gumam Sehun ringan, "Kau mungkin harus sedikit berusaha membiasakan diri dengan sentuhanku."

Dan kemudian, tanpa disangka-sangka, Sehun menarik pinggang Luhan lagi, dan menciumnya. Membuat Luhan ternganga kaget ketika bibirnya dilumat oleh Sehun tanpa ampun.

Dia hendak memekik, tetapi kemudian, sentuhan bibir Sehun berubah lembut, menyesap bibirnya seolah begitu menikmatinya, dan juga jemarinya bergerak lembut, menelusuri lengan Luhan, naik dan turun.

"Wow."

Itu suara Kai yang baru keluar dari kamar. Membuat Sehun dan Luhan terperanjat.

Secepat kilat, saat itu juga Sehun langsung mendorong Luhan hingga hampir terjungkal di sofa. Kai sendiri tampak menikmati sekali wajah-wajah gugup di depannya.

Lelaki itu tampaknya sudah bangun lama, tetapi memilih tidak keluar selama ayah kandung Sehun bertamu tadi. Sekarang Kai dengan sengaja melemparkan tatapan mata penuh arti dan berganti-ganti ke arah Sehun dan Luhan,

"Jadi yang barusan kulihat tadi apakah..." suaranya penuh spekulasi, dan Sehun langsung menyahut ketus,

"Itu tadi latihan supaya Luhan lebih terbiasa dengan sentuhanku." Mata Sehun menatap Luhan tajam, "Benar bukan Luhan?"

Ditatap setajam itu, dengan tatapan yang sangat mengancam, Luhan tidak bisa melakukan hal lain selain menganggukkan kepalanya. Meskipun sekarang bibirnya terasa panas membara. Sehun telah merenggut ciuman pertamanya!

"Kau boleh pergi Luhan, siapkan makanan, aku ingin makan."

Sehun mengalihkan pandangan seolah tak peduli. Dan Luhan yang ingin segera melarikan diri dari suasana canggung yang menyesakkan itu langsung bangkit dan setengah berlari menuju dapur.

.

.

.

.

.

Kai mengambil tempat duduk di sebelah Sehun, melirik lelaki itu yang berpura-pura memusatkan pandangannya kepada televisi.

"Kenapa kau menciumnya?" tanya Kai langsung dengan lugas, membuat Sehun membelalakkan matanya marah kepada sahabatnya itu,

"Kenapa kau bertanya lagi? Aku kan sudah bilang untuk latihan."

"Menurutku latihan terbiasa menyentuh tidak perlu dengan ciuman semacam itu, apalagi ciuman yang amat sangat bergairah, kau seperti sudah akan melumatnya habis-habiskan kalau aku tidak keluar tadi."

"Diam!" Sehun menggeram, tidak mau lagi mendengar analisa dari Kai.

Sementara itu benaknyapun berkecamuk oleh berbagai pertanyaan. Kenapa dia mencium Luhan? Benarkah hanya karena latihan? Kenapa dia begitu impulsif menarik Luhan ke dalam pelukannya dan menciumnya habis-habisan?

.

.

.

.

.

Perempuan cantik itu menuju ke tempat penjemputan dan menunggu, sambil menunggu dia mengeluarkan ponselnya dan menatapnya dalam senyuman.

Ada foto Sehun di sana. Calon suaminya yang sangat tampan. Yah, mereka memang sepadan.

Jessica adalah puteri ke empat dari bangsawan yang menjadi sahabat Wiliam Sinclair. Dan ketika lelaki itu melamarnya kepada ayahnya, untuk menjadi calon isteri anak lelakinya yang berada di negara yang jauh, semula Jessica menolak dan ragu.

Yah, dia adalah perempuan berpendidikan tinggi, meskipun berdarah bangsawan, Jessica tidak berpandangan kuno seperti ayahnya. Dia menjadi CEO perempuan yang sangat disegani di perusahaan tempatnya bekerja, dan otaknya sangat encer dengan jenjang pendidikan yang sangat tinggi.

Perjodohan adalah pilihan terakhirnya, tetapi kemudian, ketika dia melihat foto Sehun yang ditunjukkan kepadanya. Jessica langsung jatuh hati seketika itu juga. Dan ketika seorang Jessica jatuh hati, maka dia harus memiliki.

Tidak pernah ada orang yang bisa menolak pesona Jessica sebelumnya. Dan Jessica yakin, Sehun akan takluk dalam pesonanya.

Dia datang sesuai dengan permintaan William, anak hilangnya itu memang sangat keras kepala dan menolak perjodohan ini, dan itu pasti lebih disebabkan karena dia tidak mengetahui bahwa calon isterinya secantik dan sesempurna Jessica. Tubuhnya tinggi semampai dengan lekukan yang sangat indah dan berisi, rambutnya panjang dan pirang keemasan, membingkai wajahnya yang keseluruhannya cantik dan sempurna.

Orang-orang di bandara ini bahkan selalu menoleh dua kali ketika melihatnya. Jessica tersenyum penuh percaya diri. Sehun pasti akan terpesona dengannya. Lelaki itu akan bertekuk lutut di kakinya. Mereka memang sudah seharusnya bersama, darah bangsawan di tubuh mereka memang sudah seharunya menyatu.

"Jessica."

Suara dalam dan berat itu membuat Jessica mengangkat kepalanya. William calon ayah mertuanya sudah berdiri di sana.

"Hai papa." Jessica bahkan sudah memanggil William dengan sebutan 'papa' sesuai permintaan lelaki itu sendiri, yang begitu yakin bahwa Jessica akan menjadi anak

menantunya.

"Aku senang kau datang tepat waktu, mari ke mobil, aku sudah menyewakan kamar suite di hotel terbaik di kota ini."

William menghelanya dengan sopan dan dengan langkah anggun. Jessica mengikuti langkah lelaki itu. Mereka masuk ke dalam mobil hitam besar yang telah menunggu di luar, di dalam mobil, Jessica menatap wajah William yang tampak gusar,

"Kenapa papa? Apa yang mengganggumu?"

William mendengus, "Sehun. Dia mempunyai kekasih, seorang perempuan yang seperti lintah pengisap harta, perempuan murahan dan anak lelakiku yang bodoh itu tergila-gila karena nafsunya." Mata William menggelap, tetapi kemudian dia menatap ke arah Jessica dan tersenyum puas,

"Tetapi sekarang kau sudah di sini Jessica. begitu Sehun melihatmu, dia akan menyadari betapa bodohnya dirinya. Kau akan menyelamatkannya."

"Tentu saja papa. Lihat saja nanti, aku tidak sabar untuk bertemu Sehun dan juga

kekasihnya yang murahan itu." Tawa merdu terdengar dari bibirnya, tawa yang penuh percaya diri.

Ya. Jessica yakin, begitu bertemu dengannya, Sehun pasti akan bertekuk lutut di kakinya. Semua lelaki selalu bereaksi sama terhadap pesona Jessica.

.

.

.

.

.

"Selamat pagi."

Keesokan harinya, tidak seperti biasanya, Sehun sudah bangun dan rapi. Lelaki itu berdiri di ambang pintu dapur, menatap Luhan dengan canggung, "Buatkan sarapan untukku juga ya."

"Iya, sebentar lagi siap." Luhan menjawab tak kalah canggung.

Ciuman Sehun kemarin, membuat Luhan salah tingkah sepanjang hari. Dia berusaha menghindari Sehun sejauh mungkin, menjauhkan kontak mata dan bersembunyi dari lelaki itu.

Luhan bingung dan ketakutan dengan perasaannya sendiri. Dia tidak pernah berciuman dengan lelaki manapun sebelumnya, dan ciuman Sehun kemarin menumbuhkan perasaan yang tidak diketahuinya. Perasaan aneh yang membuatnya susah tidur semalaman, menatap langit-langit kamar dengan bingung, tak tahu harus berbuat apa.

"Aku ingin minta maaf." Tiba-tiba Sehun bergumam, membuat Luhan terlonjak karena kaget, dia menyangka Sehun sudah pergi sejak tadi.

"Maaf tentang apa?" Luhan bergumam santai, berusaha fokus pada masakannya dan seolah-olah tidak diberatkan oleh sesuatupun mengenai Sehun.

"Tentang ciuman kemarin." Mata Sehun menatap tajam, bergumam tanpa basa basi yang langsung membuat pipi Luhan merah padam. "Aku sendiri tidak tahu kenapa aku melakukannya, mungkin aku terbawa perasaan setelah bertemu ayah kandungku, aku marah dan kemudian melampiaskannya kepadamu. Itu tidak adil untukmu, maafkan aku."

Luhan tercenung, bingung harus menjawab apa. "Tidak apa-apa." Gumamnya lemah, kemudian.

Sehun tampaknya masih belum selesai, dia berdiri di sana menatap Luhan dengan tatapan tajam, "Dan jangan menghindariku, Luhan. aku tahu kemarin seharian kau menghindariku seperti wabah. Sandiwara kita ini belum selesai, aku tahu ayah kandungku tidak akan menyerah begitu saja, jadi untuk mempersiapkannya kau harus membiasakan diri ada di dekatku."

Luhan hanya bisa menganggukkan kepalanya, mencoba menghindari kontak mata

dengan Sehun. Lelaki itu tampaknya kesal dengan sikap Luhan tetapi memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa, setelah mendesah, Sehun menghentakkan kakinya pergi, membuat Luhan langsung menghela napas panjang dan merasa lega luar biasa.

.

.

.

.

.

Kali ini Luhan harus menghadapi Kai yang usil.

Lelaki berwajah tampan itu menatap Luhan dengan tatapan menyelidik, seolah-olah berusaha menelanjangi hati Luhan.

"Jadi bagaimana?" Kai bertanya sambil melahap roti bakarnya, dia akhirnya mengeluarkan suara setelah lama mengamati Luhan yang berpura-pura tidak menyadari bahwa dia sedang diamati dengan begitu intens.

"Bagaimana apa?"

"Ciuman itu." Kai tersenyum lambat-lambat, "Aku yakin itu adalah ciuman pertamamu."

Pipi Luhan langsung merah padam. "Kau tidak bisa yakin." Jawabnya setengah ketus, meletakkan secangkir kopi panas di depan Kai.

"Aku yakin." Kali ini Kai terkekeh, "Aku sangat ahli mengenai perempuan, Luhan. Dan dengan melihatmu sekali saja aku tahu bahwa kau tidak berpengalaman, ciuman kemarin pasti sangat mengejutkanmu."

Memang. Begitu mengejutkan hingga Luhan merasakan jantungnya hampir lepas. Luhan menghela napas panjang, menatap Kai memohon

"Bisakah kita tidak membahas itu, please?"

Kai mengangkat alisnya, "Terserah padamu Luhan, tetapi perlu kau ingat, aku akan selalu ada kalau kau ingin bertanya..." senyumnya mengembang, "Atau kalau kau ingin praktek, aku akan siap sedia. Aku yakin ciumanku akan lebih nikmat daripada yang bisa diberikan oleh Sehun."

Luhan melempar lap yang sedang dipegangnya ke arah Kai dengan marah, kesal karena Kai keterlaluan menggodanya, lelaki itu bukannya tersinggung dilempar lap, malahan tertawa.

Lama-lama Luhan ikut tersenyum juga dengan malu, yah bagaimanapun juga, sikap Kai yang penuh canda ini sedikit menghibur Luhan.

"Jangan marah padaku." Kai bergumam lembut kemudian, "Aku cuma menggodamu kok, tentu saja gadis lugu dan polos sepertimu tidak akan pernah masuk kriteriaku." Kai mengedipkan sebelah matanya, "Sebagai orang yang berpengalaman, aku hanya bisa memintamu untuk berhati-hati, Luhan. Hati-hatilah dengan hatimu. Kadangkala perasaan itu sudah ada bahkan sebelum kau menyadarinya."

Sambil mengucapkan kalimat misterius itu, Kai berjalan pergi, membawa cangkir kopi di sebelah tangannya dan melangkah keluar dari dapur.

.

.

.

.

.

Ketika bel berbunyi lagi, Sehun, Luhan dan Kai sedang duduk di sofa dan menonton televisi dalam keheningan, mereka kemudian saling melempar pandang, dan tanpa mengintip-pun, mereka tahu siapa yang datang.

"Kau masuk ke kamar, Kai. Dan Luhan... gantilah bajumu dengan gaun yang sedikit seksi."

Luhan dan Kai sama-sama melangkah ke arah kamar masing-masing, dengan Kai yang terkekeh menggoda Luhan yang merah padam karena disuruh memakai baju seksi oleh Sehun.

.

Luhan masuk ke kamar, dan berdiri di depan lemari pakaiannya, bingung akan memilih gaun yang mana.

Xiumin selalu bilang jika ingin tampil seksi, pakailah warna hitam. Mata Luhan menelusuri gaun-gaun yang tergantung di lemari pakaiannya, lalu tangannya menyentuh gaun sutera warna hitam itu, dengan korset yang ketat di dadanya, kemudian bagian bawahnya mengembang sempurna sampai di bawah lutut. Gaun ini tampak cukup seksi sekaligus pantas dikenakan di rumah pada malam hari, putusnya.

Luhan memilih memakai gaun itu, dia menatap ke arah cermin, mengagumi betapa gaun itu begitu pas ditubuhnya dan begitu cocok dengan rambut hitamnya yang berkilauan.

Setelah menghela napas berkali-kali, Luhan melangkah ke arah ruang tengah itu. Dan kemudian tertegun bingung mendapati selain William, ada tamu lain di sana, tamu lain yang sangat cantik bagaikan bidadari, duduk di sofa dengan tatapan penuh godaan kepada Sehun.

.

.

.

.

.

"Dan itu pasti Luhan."

Perempuan cantik itulah yang pertama kali menyadari kehadiran Luhan, dia tersenyum ramah dan tampaknya sama sekali tidak merasa terintimidasi dengan penampilan Luhan. Tentu saja, dengan kecantikan seperti dewi begitu, Luhan pasti tidak akan dianggapnya sebagai sesuatu yang penting.

"Kemarilah Luhan." Sehun tersenyum, senyum pura-pura penuh cinta yang meyakinkan, "Biar kukenalkan pada teman William."

Sehun mengamit tangan Luhan dan kemudian menariknya mendekat dengan posesif, "Kenalkan Luhan, ini Jessica yang jauh-jauh datang ke mari untuk William." Sehun menatap William dengan puas, "Kau sungguh tega membawa wanita secantik ini kemari hanya untuk pulang dengan sia-sia."

Kata-kata Sehun itu benar-benar membuat Jessia terkejut, dia datang ke mari dengan keyakinan penuh, bahwa Sehun akan langsung bertekuk lutut di kakinya ketika melihat penampilannya. Bahwa lelaki itu akan langsung tergila-gila kepadanya.

Tetapi rupanya pengaruh pelacur berbadan mungil di sebelahnya itu sangat besar.

Jessica merengut marah ke arah Luhan. Apa yang bisa diberikan oleh pelacur itu yang tak bisa diberikannya? William bahkan mengatakan bahwa asal usul perempuan itu tidak jelas. Jessica begidik ketika berpikir bahwa mungkin saja Luhan anak pembunuh atau mungkin malah pelacur – yang menunjukkan kenapa Luhan bertingkah seperti pelacur sekarang – Dan Sehun akan mencemari darah bangsawannya kalau sampai memberikan benihnya ke perempuan ini.

Dengan cepat Jessica memasang wajah penuh godaan, menutupi keterkejutannya, dia memandang Luhan dengan mencemooh, menelusuri gaunnya dari ujung kepala sampai ke ujung kakinya.

"Hmmmm... gaun yang sangat... elegan." Dengan lembut dia berucap dalam bahasa inggris, yang dilambat-lambatkan seperti ketika berbicara dengan anak kecil. Matanya menatap Luhan penuh ejekan, membuat seketika itu juga Luhan merasa ingin bersembunyi karena malu.

Tetapi pegangan Sehun di pinggangnya, sekali lagi menyelamatkan dan menopangnya, lelaki itu menunduk dengan sayang, dan menghadiahi Luhan kecupan lembut di pelipisnya,

"Tentu saja gaun yang sangat elegan dan seksi... membuatku tak sabar menanti kami bisa berduaan sendirian di sini." Matanya menatap penuh sindiran ke arah William, "Ada hal lain yang ingin kau katakan padaku, William? Kalau tidak mungkin kau bisa segera berkemas dan pulang, serta bawalah seluruh harapanmu itu karena aku tidak akan pernah mau menyandang namamu."

Wajah William pucat pasi mendengar kata-kata langsung Sehun itu. Bahkan Jessica yang semula duduk tenang di sebelahnya pun tampak kaget.

"Aku kemari membawa calon isterimu, Sehun. Jessica adalah perempuan yang sederajat denganmu, isteri yang paling cocok. Darah bangsawannya akan melengkapi keningratanmu dan mencegahmu tercemar oleh darah yang tidak diketahui asal-usulnya." Matanya sengaja melirik menghina ke arah Luhan,

dan tiba-tiba saja Luhan merasa dadanya panas, sejak tadi lelaki tua di depannya ini menatapnya dengan mencemooh, juga perempuan yang secantik dewi itu. Dan semua itu karena apa? Semua itu hanya karena Luhan anak yatim piatu yang tidak jelas asal usulnya. Apakah kalau dia yatim piatu maka sudah pasti dia berdarah kotor? Kelas rendahan?

Harga diri Luhan menyeruak, memberikan dorongan semangat untuk memberi pelajaran kepada manusia-manusia sombong di depannya itu.

"Siapa yang mencemari siapa Sehun?"

Luhan tersenyum genit kepada Sehun, membuat lelaki itu agak kaget karena tidak menyangka Luhan bisa berakting sebagus itu, untunglah dia bisa menutupinya dengan tatapan mata bergairah kepada Luhan,

"Aku rasa William tidak perlu mencemaskan itu, toh kau sudah mencemariku sejak lama."

Bravo.

Sehun bersorak dalam hati, kalau tidak ada William dan Jessica di depannya, Sehun pasti sudah bertepuk tangan memuji dan sangat puas akan kata-kata Luhan itu, kata-kata Luhan yang seolah bagaikan cambuk yang dilecutkan, tepat di muka ayahnya.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

A/N

.

Sorry for late update.