Title : Crush In Rush

Cast :

Xi Luhan (girl) - Oh Sehun, etc.

Warning : Genderswitch, typo(s), etc

Rated : T

Disclaimer :

Cerita ini sepenuhnya milik Santhy Agatha dari novel yang berjudul sama. dan saya hanya meremakenya dengan mengganti cast dan mengedit sedikit alurnya. So don't call me plagiator, ok?!

.

Summary : Sehun dan Luhan. Dua mahluk yang bertolak belakang, yang seharusnya tidak pernah bersinggungan. Tetapi kehidupan mempertemukan mereka ke dalam pusaran nasib yang tidak terelakkan.

.

.

Don't Like

.

Don't read

.

.

Enjoy

.

.

.

.

William masih ternganga akan kata-kata vulgar Luhan, sementara Jessica melemparkan pandangan jijik kepada Luhan.

Luhan sendiri tidak peduli, dua orang di depannya itu sudah menganggapnya sebagai kelas rendahan hanya karena dia bukan bangsawan dan tidak jelas asal usulnya, jadi biar sama mereka berpikiran semakin buruk kepadanya.

"Kau membuatku tak sabar untuk masuk kamar."

Sehun berbisik mesra, tangannya semakin memeluk pinggang Luhan dengan posesif, sengaja memberikan isyarat di sana agar tamu mereka malu.

Tetapi rupanya Jessica bukanlah perempuan yang mudah menyerah. Tentu saja, dia tidak akan diangkat menjadi CEO perusahaan multinasional yang sekarang kalau dia menyerah dengan begitu mudahnya.

"Aku ingin kau memberiku kesempatan." Gumamnya tegar, membuat Sehun mengerutkan keningnya sambil menatap Jessica.

"Kesempatan untuk apa?"

Jessica tersenyum manis, "Kesempatan untuk mengenalku. Rasanya tidak adil bagiku kalau aku datang jauh-jauh kemari hanya untuk diusir dengan kasar, tanpa kau memberi kita kesempatan untuk saling mengenal." Jessica lalu melemparkan tantangan kepada Sehun, tahu bahwa ego seorang lelaki akan tertantang jika dipancing seperti itu, "Aku ingin kau mencoba mengenalku dengan intens selama seminggu penuh... dan kalau setelah itu tidak ada ketertarikan yang tumbuh darimu untukku, aku akan pergi dengan kepala tegak, puas karena sudah mencoba."

Sehun terdiam, menatap perempuan di depannya. Oh ya. Sehun tahu persis Jessica bukan perempuan biasa, dia bukanlah perempuan bangsawan inggris yang lemah dan lembek, bisa diusir dengan mudahnya.

Satu-satunya jalan adalah dengan cara menerima tantangan Jessica. Setelah itu perempuan itu pasti akan pergi dengan terhormat dan tidak mengganggu mereka lagi. Itu juga merupakan salah satu cara untuk membuat ayahnya kalah karena tidak punya senjata lagi untuk mencoba menguasainya.

"Oke. Satu minggu." Sehun tersenyum, "Dan setelah itu, kau bisa mengemasi barang-barangmu, Jessica."

Jessica mengulurkan tangannya dan Sehun menjabatnya, lalu perempuan itu terkekeh, "Jangan yakin dulu Sehun, jangan-jangan kau yang akan berkemas nanti dan mengikutiku pulang ke London." Mata Jessica beralih ke Luhan, "Kau dengar sendiri Luhan? Kekasihmu setuju untuk menjadi milikku selama seminggu penuh." Gumamnya dalam bahasa inggris yang sekali lagi dilambat-lambatkan seolah mengejek kemampuan bahasa inggris Luhan.

.

.

.

Sepeninggal kedua orang itu, Sehun menutup pintu dan kemudian tersenyum kepada Luhan.

"Kalimat yang sangat hebat, aku tidak menyangka kau bisa menggunakan kosakata 'mencemari' dengan begitu baiknya." Mata Sehun tampak menggoda, "Membuatku bertanya-tanya darimana kau belajar tentang hal itu."

Pipi Luhan merah padam. Mengingat ulang kata-katanya dan menyadari bahwa kata-katanya begitu vulgar, "Aku mempelajarinya di drama yang aku tonton." Jawab Luhan seadanya, dan langsung membuat Sehun mengerutkan keningnya,

"Sudah kubilang Luhan, jangan terlalu suka melihat drama, itu akan menenggelamkanmu dari dunia nyata." Lelaki itu lalu terkekeh, "Lagipula apa gunanya aku memasang TV kabel di kamarmu kalau kau hanya memakainya untuk menonton drama?"

Sehun berhasil membuat Luhan merasa malu, tetapi perempuan itu memilih tidak menanggapinya, dia malahan teringat akan tantangan Jessica yang diterima oleh Sehun tadi dan seketika merasa cemas,

"Apakah menurutmu bijaksana memberi kesempatan kepada Jessica selama seminggu? Siapa yang tahu apa yang akan dilakukannya?"

"Dia memintanya dengan begitu baik, dengan tantangan yang membuatku mau tak mau harus menerimanya, Luhan. Kalau tidak aku akan tampak seperti pengecut." Jawab Sehun cepat, "Jangan kuatir, aku tidak akan dikalahkan olehnya."

Tetapi walaupun Sehun bicara begitu, tetap saja Luhan merasa luar biasa cemas. Ada perasan takut dibenaknya, takut kalau perempuan itu akan mengambil Sehun...

Ah, Luhan menggelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran itu dari benaknya. Dia tidak boleh berpikiran seperti itu, mungkin dia hanya terlalu terbawa peran yang dimainkannya...

.

.

.

.

.

"Seharusnya kau tidak menerima tantangannya."

Kai bersandar santai di sofa, dia tentu saja mendengar semua adegan itu dari kamarnya dan mengintip sekilas penampilan Jessica, "Perempuan itu penggilas lelaki, dia terbiasa membuat laki-laki berlutut di bawah kakinya, dan dia sangat licik. Dia akan menggunakan segala cara Sehun, dan alih-alih mengusirnya, kau malahan memberi kesempatan kepadanya untuk menguasaimu."

Sehun menyesap kopinya dan mengernyit karena rasa pahit yang kental di sana. Jenis kopi kesukaannya, tanpa gula, tanpa campuran apapun. "Apakah kau tidak percaya pada kemampuanku, Kai?" gumamnya setengah terhina.

Kai tertawa, "Tentu saja aku percaya, kau telah menaklukkan berpuluh-puluh perempuan, tetapi mereka semua tipe yang sama Sehun, kau harus ingat itu, semua perempuan yang kau pacari, mereka semua tergila-gila kepadamu, bersedia melakukan apa saja supaya bisa mencium kakimu." Kai menatap Sehun dengan serius, "Perempuan yang ini beda, dia memang tergila-gila padamu, tetapi dia akan melakukan apa saja, supaya kau mencium kakinya. Hati-hati Sehun."

.

.

.

.

Luhan menatap Sehun yang sudah berpakaian rapi di ruang tengah, dia tidak mengeluarkan pertanyaan, tetapi matanya sudah cukup mewakilinya, hingga Sehun tersenyum masam dan berkata "Aku akan pergi makan siang dengan Jessica. Kau ingat kan kesepakatan kemarin?"

Luhan menganggukkan kepalanya, tidak berkata apa-apa.

"Aku harus pergi dengannya." Sehun bergumam lagi, mencoba menjelaskan, "Dia menantangku, Luhan dan aku harus menunjukkan siapa yang akan kalah di antara kami."

Sekali lagi Luhan menganggukkan kepalanya. Toh dia harus bilang apa? Hak Sehun untuk pergi dengan perempuan manapun, dia kan hanya berakting menjadi kekasih Sehun kalau ada William dan Jessica. Selain itu dia kembali ke pangkat aslinya, pelayan Sehun.

"Kenapa kau hanya menganggukkan kepalamu?" Sehun tampak gusar, "Kenapa kau tidak mengatakan sesuatu?"

Luhan mengerutkan kening, bingung dengan sikap Sehun. kenapa lelaki itu mendadak merasa terganggu dengan sikapnya? Salah apakah dia? "Kau ingin aku mengatakan apa?" tanya Luhan akhirnya, menatap Sehun dengan matanya yang polos.

Seketika itu juga Sehun tertegun, ekspresinya tampak marah, "Ah sudah, lupakanlah."

Dengan langkah-langkah marah, dia meraih kunci mobilnya dan melangkah pergi.

.

.

.

.

Di jalan Sehun masih saja berpikir keras, menahan bingungnya. Bahkan dia sendiri tidak bisa memahami sikapnya tadi. Kenapa dia merasa perlu menjelaskan segala sesuatunya kepada Luhan sebelum dia pergi berkencan dengan perempuan lain?

Luhan bukan kekasihnya kan? Dia tidak wajib menjelaskan segalanya kepada perempuan itu.

Sehun mendesah, tetapi dia tetap saja menjelaskannya, entah kenapa. Dan kemudian, ketika reaksi Luhan tidak seperti yang diharapkannya, Sehun marah.

Ya. Dia marah, amat sangat marah ketika Luhan hanya menganggukkan kepalanya tanpa ekspresi ketika Sehun bilang bahwa dia akan pergi berkencan dengan perempuan lain.

Seharusnya perempuan itu... Sehun langsung tertegun dengan pikirannya sendiri,

astaga... apakah dia ingin Luhan bersikap berbeda terhadapnya? Apakah dia ingin Luhan merajuk, cemburu atau bahkan membujuknya supaya tidak pergi?

Entahlah, Sehun bahkan tidak bisa menelaah perasaannya sendiri. Yang dia tahu, sikap apatis Luhan membuatnya amat sangat kecewa.

.

.

.

.

Jessica sudah menunggu di lobby hotel untuk acara makan siang mereka.

Perempuan itu meminta waktunya di siang sampai malam hari, menghabiskan waktu bersama-sama untuk saling mengenal,dan Sehun setuju.

Dan rupanya Jessica memang ingin mempesonanya dengan kekuatan penuh. Perempuan itu berdandan lengkap dengan gaun warna sampanye yang elegan dan indah, dan juga rambut yang diikat tingi di atas kepalanya, membuatnya tampak segar dan luar biasa cantik.

Jessica menghampiri Sehun dan tersenyum mesra, "Terimakasih untuk tidak terlambat menjemputku, Sehun." Gumamnya lembut, "Kita akan makan siang di mana?"

"Di tempatku biasanya makan siang."

Sehun sengaja memilihkan sebuah restoran biasa, bukan restoran kelas atas untuk Jessica, sambil berusaha melihat reaksi perempuan itu. Bangsawan wanita seperti Jessica pasti terbiasa makan di restoran kelas atas, dan akan jijik ketika diajak makan ke tempat biasa.

Tetapi rupanya dugaan Sehun salah, Jessica sama sekali tidak protes ketika Sehun mengajaknya masuk ke restoran yang sederhana itu, perempuan itu malah memesan makanan dengan bersemangat, dan ketika makanan datang, dia melahapnya sampai habis.

Sehun tidak bisa mengalihkan pandangan dari Jessica ketika makan, menyadari bahwa perempuan itu adalah perempuan tangguh yang tidak akan menyerah dengan perlakukan sengaja Sehun.

Jessica mengelap mulutnya dengan tissue dengan gaya yang elegan, lalu tersenyum manis menatap Sehun, "Enak sekali Sehun, tak heran kau sering makan siang di sini, kalau aku tinggal dinKorea aku juga pasti akan sering kemari untuk makan siang." Gumamnya puas.

Dan Sehun pun tertegun, mengetahui bahwa rencananya untuk mempermalukan dan membuat Jessica tak nyaman gagal total.

.

.

.

.

Luhan merenung sendirian di ruang tamu.

Alunan biola terdengar dari kamar Kai, kali ini bukanlah alunan penuh kemarahan, melainkan sebuah lagu romantis nan syahdu. Yah. Mungkin Kai sedang melankolis. Batin Luhan dalam hati, sambil mengaduk-aduk teh di tangannya.

Lalu dia membayangkan Sehun.

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan Sehun belum pulang. Mungkinkah dia sedang bersenang-senang dengan perempuan itu? Mungkinkah Sehun pada akhirnya menyadari pesona Jessica selain kecantikannya yang luar biasa dan memutuskan bahwa ayahnya benar? Bahwa Sehun harusnya menikahi perempuan sesempurna Jessica?

Luhan merasakan dadanya berdenyut sakit.

Sekali lagi dia menghela napas, berusaha menenangkan pikirannya. Gawat. Sepertinya Luhan benar-benar terbawa oleh perannya.

.

.

.

.

.

Pukul sebelas malam, Sehum membuka pintu apartemen dengan hati-hati.

Jessica memintanya mengantarkannya ke sebuah club malam yang terkenal di Seoul. Dan Sehun tidak menolaknya, dia butuh sedikit minum malam ini.

Tetapi kemudian Sehun sadar bahwa ini sudah terlalu larut, pada akhirnya dia bisa memaksa Jessica mengikutinya meninggalkan club dan mengantarkannya kembali ke hotel.

Yah, diakuinya, perempuan itu memang tidak sedangkal yang dia duga. Jessica ternyata adalah wanita karier dengan posisi tinggi di perusahaannya, meraih nilai sempurna di dua jenjang pendidikannya dan merupakan salah satu figur wanita sukses modern yang tidak terikat oleh tradisi. Percakapan mereka sangat cocok, mereka bisa membahas apa saja, seolah-olah kotak pengetahuan mereka tak pernah habis. Jessica memang teman yang menyenangkan untuk menghabiskan hari.

Sehun mengerjapkan mata, berusaha menyesuaikan diri dengan ruangan apartemen yang gelap. Matanya menelusuri seluruh penjuru ruangan yang sepi. Semuanya pasti sudah tidur.

Sehun melangkah melewati ruang tengah, hendak masuk ke kamarnya, tetapi kemudian di tertegun mendapati sesosok tubuh di atas sofa, berbaring meringkuk dengan posisi seperti janjin yang baru lahir...

Sehun mendekat, dan menyadari bahwa Luhan ada di sana, tertidur meringkuk di atas sofa. Segelas teh yang masih setengah nampak di meja. Membuat Sehun menyadari bahwa Luhan ketiduran di sini.

Apakah perempuan itu menunggunya? Apakah ketidak pedulian yang ditampilkannya tadi sebenarnya palsu? Apakah Luhan mencemaskannya yang pergi seharian bersama Jessica?

Perasaan itu tiba-tiba saja membuat dada Sehun terasa hangat, dia lalu membungkukkan tubuhnya, melingkarkan tangannya di punggung dan belakang lutut Luhan, lalu mengangkat tubuh mungil Luhan ke dalam gendongannya.

Luhan menggeliat, sedikit terganggu dari tidur pulasnya, membuat Sehun tersenyum sedikit,

"Bangun tukang tidur." Bisiknya lembut.

Tetapi kemudian yang dilakukan Luhan adalah menenggelamkan kepalanya dengan nyaman di dadanya. Membuat jantung Sehun tiba-tiba bergetar, dipenuhi oleh perasaan hangat.

Dengan langkah hati-hati dia menuju kamar Luhan, dan membuka pintunya, kemudian dia melangkah menuju ranjang, dan membaringkan tubuh Luhan dengan lembut di atas tempat tidur. Luhan langsung bergelung dengan nyaman ke arah Sehun.

Sehun sendiri duduk di pinggir ranjang, mengamati wajah damai Luhan yang tertidur pulas, jemarinya bergerak lembut, membelai dahi Luhan yang tertutup rambutnya. Dan kemudian didorong oleh perasaan yang tidak dimengertinya, Sehun menundukkan kepalanya dan mengecup dahi Luhan dengan lembut.

Setelah itu, Sehun melangkah keluar, menutup pintu kamar Luhan pelan-pelan.

.

.

.

.

.

Luham membuka matanya dan mendadak merasa kehilangan orientasi.

Dia kebingungan menyadari dirinya berada di atas ranjangnya. Bukanlah semalam... Luhan sedang duduk minum teh di sofa, sementara Kai sedang berlatih serius dan mengurung diri di kamarnya setelah makan malam?

Seingat Luhan dia mengantuk dan memutuskan memejamkan matanya sebentar di atas sofa, saat itu benaknya sedang berkecamuk karena Sehun tak kunjung pulang juga. Lalu sepertinya dia tertidur…

Kalau begitu kenapa dia bisa berada di atas ranjang ini?

Luhan terduduk, menatap sekeliling dengan bingung, apakah dia berjalan kembali ke ranjangnya tanpa sadar? Yah. Itu mungkin saja.

Dengan bergegas, Luhan langsung menuju kearah kamar mandi, dia harus segera mandi dan menyiapkan sarapan pagi.

.

.

.

.

Ketika sampai di dapur, Luhan mengernyit melihat Sehun sudah duduk di sana, lelaki itu sedang menyesap secangkir kopi, kemudian tersenyum datar ke arah Luhan.

"Hai, aku sudah bangun duluan darimu." Gumam Sehun ramah, ada senyum di sana.

Luhan langsung gugup, "Oh... Aku akan membuatkan sarapan untukmu."

"Tidak usah." Sehun mendorong cangkir kopi yang sudah dihabiskannya, "Aku cukup minum kopi saja, aku akan menjemput Jessica, kami berjanji akan sarapan bersama sebelum main golf."

Tangan Luhan yang membawa dua butir telur membeku, dia menoleh dan menatap Sehun bingung. "Kau akan pergi dengan Jessica lagi?"

Sehun tertawa, "Tentu saja, kau lupa? Tantangan itu kan seminggu lamanya." Lelaki itu lalu berdiri, meraih jaketnya yang tersampir di kursi, "Aku pergi dulu," gumamnya dan kemudian sambil bersenandung, lelaki itu pergi berjalan keluar.

Sementara itu Luhan masih terpaku kebingungan menatap bayangan Sehun yang menghilang di ambang dapur.

Sehun...bersenandung?

Tiba-tiba Luhan merasakan perasaan tidak enak yang mengglayutinya, perasaan yang dia tidak tahu itu apa. Yang pasti rasanya menyesakkan dada dan membuatnya ingin menangis.

.

.

.

.

"Sehun pergi lagi?"

Kai yang datang ke dapur untuk sarapan menatap Luhan yang murung. Meskipun begitu Luhan membuatkan nasi goreng keju yang sangat enak untuknya.

"Dia pergi pagi-pagi sekali."

Kai terkekeh, "Seperti tidak sabar menghabiskan hari bersama perempuan itu ya." Lelaki itu lalu tersenyum lembut, "Dan kita seharian di sini, menghabiskan hari yang membosankan... Hmmm..." Dia tampak berpikir. "Mungkin kau bisa ikut aku."

"Kemana?" Luhan menatap Kai dan tampak agak tertarik.

"Aku akan menemui mentorku untuk membicarakan persiapan resital tiga bulan lagi di Austria, setelah itu aku bebas. Kau bisa ikut aku, menunggu sebentar ketika aku berkonsultasi dengan mentorku, lalu kita mungkin bisa pergi ke taman hiburan, atau tempat lainnya yang ingin kau kunjungi."

"Taman hiburan?" mata Luhan melebar, begitu tertarik ketika mendnegar nama taman hiburan disebut, dia tahu lotte world yang cukup terkenal, tapi yang dia tahu tiketnya cukup mahal, sehingga datang kesana hanyalah impian bagi Luhan. "Tapi… Tapi bukankah harga tiketnya mahal?"

Luhan mengungkapkan kecemasannya, membuat Kai terbahak.

"Luhan, begini-begini aku adalah pemain biola dengan bayaran tinggi, sekali-kali mentraktirmu tidak apa-apa buat kantongku," gumamnya dalam senyuman, Kai lalu menghabiskan suapan nasi gorengnya, "Ayo siap-siap, kita berangkat sekarang, semakin pagi kita sampai, semakin banyak kesempatan kita untuk mencoba banyak wahana."

Setengah meloncat, Luhan pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian, membuat Kai melihatnya sambil tersenyum.

Luhan sangat mirip dengan Taemin adiknya yang begitu lugu dan polos, dengan tubuh mungil dan wajahnya yang penuh binar.

Ternyata Kai cukup lemah dengan perempuan-perempuan yang setipe adiknya. Lelaki itu mengangkat bahunya, ya sudahlah lagipula dia tidak ada pekerjaan hari ini, bermain ke taman hiburan tentunya menyenangkan, sekaligus bisa menghibur Luhan yang tampak begitu murung.

Tiba-tiba Kai menebak-nebak, apakah Luhan begitu murung karena Sehun pergi lagi dengan Jessica hari ini?

.

.

.

.

Setelah menunggu Kai kira-kira setengah jam di sebuah ruangan elegan, di sebuah sekolah musik elit di kota ini. Kai pun keluar dan mengatakan bebas untuk hari ini dalam senyum lebarnya.

Mereka lalu berkendara ke bagian utara kota, memasuki kawasan taman hiburan itu. "Kau mau masuk ke yang mana dulu?"

Kai masih memutar mobilnya di jalanan yang melingkar-lingkar itu, melihat-lihat semua pilihan yang ada.

Luhan sendiri tersenyum lebar penuh harap, "Aku mau ke taman hiburan seperti yang di televisi itu."

Luhan pernah melihat iklan televisi yang menayangkan tempat hiburan ini. Kelihatannya sangat menyenangkan, bahkan Luhan sampai berbunga-bunga membayangkannya.

Kai tersenyum melihat ekspresi Luhan. "Oke kita kesana, tapi hati-hati jangan jauh-jauh dari aku ya. Adikku dulu pernah mengalami penculikan di sana."

"Benarkah?" Luhan tampak terkejut.

"Yah... Mungkin kau tidak mengikuti berita, tetapi dulu cukup heboh ditayangkan..." Kai tersenyum pahit, "Tapi sudahlah yang penting adikku sekarang selamat dan berbahagia."

Luhan melirik sekilas ke wajah Kai, menemukan ekspresi pahit yang pekat di sana. Kenapa sekilas tadi Kai tampak begitu sedih?

.

.

.

.

Malam telah tiba ketika Sehun pulang ke rumah, masih jam sembilan malam dan dia mendapati apartmentnya gelap. Tidak mungkin kan mereka semua sudah tidur?

Sehun menyalakan lampu dengan kebingungan. Dan kemudian dia melangkah ke dekat kamar Luhan dan memanggil namanya, tidak ada jawaban, dia membuka pintu kamar Luhan yang tidak dikunci dengan hati-hati dan menemukan kamar itu kosong. Hal yang sama juga terjadi di kamar Kai.

Sehun mengernyitkan keningnya, dan tiba-tiba merasa marah. Apakah Kai mengajak Luhan pergi bersamanya? Pergi kemana? Kenapa sampai malam sekali belum pulang?

Sehun menekan nomor ponsel Luhan, tersambung tapi tidak diangkat-angkat, dia kemudian mencoba menghubungi nomor Kai yang ternyata tidak aktif.

Dengan gusar dia mondar-mandir di ruang tengah, menunggu setengah marah setengah cemas. Kemana Kai membawa Luhan? Apakah Luhan bersama Kai? Ataukah dia pergi sendirian? Atau jangan-jangan ayah kandungnya merencanakan menculik Luhan ketika sendirian di rumah?

Pikiran-pikiran buruk memenuhi benak Sehun, membuat kepalanya kalut dan pening.

Hampir satu jam lamanya Sehun menunggu dengan cemas.

Sampai kemudian ada suara-suara itu di pintu, suara tawa cekikikan. Lalu pintu apartment terbuka, menampakkan Kai yang sedang merangkul Luhan sambil tertawa, di tangan mereka ada kembang gula yang hampir habis setengahnya.

Dua sejoli itu tertegun ketika melihat Sehun berdiri di tengah ruangan, menatap mereka berdua dengan marah. "Kemana saja kalian?" gumamnya dingin.

Kai langsung sadar ada kemarahan di sana, dia langsung berdiri agak di depan Luhan seolah melindunginya, dan kemudian tersenyum seolah-olah tidak ada sesuatu pun yang berbeda.

"Oh. Hai Sehun, kami kira kau akan pulang larut seperti kemarin." Senyum Kai tampak tenang, "Aku mengajak Luhan ke taman hiburan."

Ekspresi Sehun mengeras. Hampir meledak, "Ke taman hiburan? Satu jam lebih aku menunggu kalian di sini cemas akan apa yang terjadi mencoba menghubungi ponsel kalian yang tidak bisa dihubungi, dan ternyata kalian ke taman hiburan dan bersenang-senang?" Sehun melemparkan tatapan marah ke arah Luhan, "Dan kau, kuharap kau tidak melupakan posisimu di rumah ini. Kau bukan salah satu dari kami. Tugasmu adalah menunggu rumah dan membersihkannya, mempersiapkan masakan. Karena kau adalah pelayan rumah ini. Mengerti? Apa perlu kuulangi? Kau hanyalah pelayan di rumah ini!"

Mata Luhan melebar, tidak menyangka akan dikata-katai seperti itu, kenapa Sehun begitu marah? Apakah karena Luhan memang melanggar aturan? Seorang pelayan seharusnya memang menunggu rumah bukan?

Luhan yang bersalah, memang Luhan yang bersalah.

Sehun mengatakan bahwa dia bukanlah salah satu dari mereka... Ternyata Sehun sama saja dengan ayah kandungnya dan Jessica, memandang Luhan sebagai sosok dengan kelas yang lebih rendah dan lebih hina, karena asal usulnya yang tidak jelas...

Mata Luhan berkaca-kaca, tetapi dia berusaha menyembunyikannya. "Maafkan aku...," gumamnya dengan suara serak.

Kai yang melihat Luhan hampir menangis menggertakkan giginya, menatap Sehun dengan marah, "Luhan tidak berhak diperlakukan seperti itu Sehun, kau tidak berhak menghinanya."

Pembelaan Kai terhadap Luhan, dan juga posisi Kai yang menutupi Luhan seolah melindungi Luhan dari dirinya semakin menyulut kemarahan Sehun. dia memandang Kai dengan dingin.

"Luhan itu pelayanku, sudah hakku untuk memarahinya ketika dia melakukan kesalahan. Aku yang membayar gajinya, aku yang memberinya tempat bernaung dan memberinya makan. Jadi aku berhak melakukannya." Mata Sehun bersinar sinis, "Dan kalau kau menginginkan pelayanan yang sama dari Luhan, seharusnya kau membawanya saja dan memberikan bayaran yang cukup untuknya, mungkin saja kau akan menerima pelayanan ekstra dari tubuhnya." Mata Sehun menelusuri tubuh Luhan dengan tatapan melecehkan.

Cukup sudah!

Luhan tak sanggup lagi mendengarkan kata-kata hinaan Sehun kepadanya. Setengah mendorong Kai yang ada di depannya, Luhan berlari dengan berlinang air mata, masuk ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.

Kai menatap Sehun dengan marah, matanya menyala. "Kau keterlaluan Sehun, aku tidak tahu apa yang ada di otakmu itu, tapi kau tidak berhak menyakiti Luhan seperti itu!"

"Oh ya? Apakah kau ingin memukulku? Apakah kau jangan-jangan menginginkan Luhan untukmu sendiri? Ingin memiliki tubuhnya yang menggiurkan itu?"

Sehun membalas perkataan Kai dengan tantangan. Dan kemudian yang didapatkannya adalah sebuah tinju yang keras di mukanya. Kai melemparkan tinju itu dengan penuh emosi, napasnya terengah-engah karena marah, suaranya bahkan bergetar menahan kemarahannya. Tinju itu begitu keras sampai kepala Sehun mundur ke belakang.

"Dengarkan kata-kataku ini baik-baik. Aku menyayangi Luhan karena dia mirip dengan adikku. Tidak pernah ada satupun pikiran kotorku terhadapnya, tidak sepertimu," desisnya marah, "Dan kurasa persahabatan kita berakhir di sini, aku akan pergi dari rumahmu, dan membawa Luhan. Kurasa lebih baik kubawa saja dia pulang sebagai calon istriku kepada mamaku, daripada dia disini terus-menerus kau lecehkan. Aku pikir dulu kau tulus menolong Luhan, tapi ternyata aku salah. Pikiranmu picik, sama seperti ayah kandungmu!"

Dan kemudian Kai berlalu, meninggalkan Sehun yang masih tertegun dengan rasa panas di wajahnya, bekas pukulan Kai.

.

.

.

.

.

Pagi harinya Sehun terbangun dengan kepala pening, sudut bibir yang memar dan rasa bersalah yang luar biasa. Dia telah melakukan kesalahan yang begitu besar...

Menghina dan melecehkan Luhan seperti itu, pantas saja Kai memukulnya. Masih diingatnya air mata Luhan semalam, dan tatapan mata terlukanya. Sehun menghela napas panjang, kemarin dia begitu cemas dan bingung dan kemudian dia dihadapkan akan pemandangan Luhan dan Kai yang pulang sambil tertawa-tawa dan berangkulan tangan, tidak mempedulikan bahwa Sehun menunggu mereka dengan cemas...

Lalu kemarahannya memuncak, dan berakhir dengan menyakiti Luhan.

Sehun sungguh-sungguh tidak ingin menyakiti Luhan seperti itu... Kata-kata kasarnya... Penghinaannya. Dia pasti telah mencabik-cabik perasaan halus Luhan. Perempuan itu pasti benar-benar terluka.

Dengan gusar, Sehun melangkah keluar dari kamarnya dan berhadapan dengan Kai yang sudah berpakaian rapi di sana. Mata Kai menatapnya dingin, masih marah.

"Aku akan pergi dari sini dan membawa Luhan." Gumam Kai tegas.

Matanya melirik ke arah kamar Luhan yang tertutup rapat. Tidak biasanya Luhan belum bangun jam segini. Biasanya Luhan sudah ada di dapur, menyiapkan minuman panas dan sarapan yang beraroma harum.

Tetapi Kai maklum, perlakuan Sehun kepadanya semalam tentu sangatlah menyakiti perempuan itu, mungkin perempuan itu menangis semalaman.

Sehun meringis dan menggelengkan kepalanya, "Tidak Kai, jangan pergi, maafkan aku, dan jangan bawa Luhan."

Kai menatap Sehun yang tampak berantakan dengan memar di surut bibirnya dan mata yang begitu kalut. "Kau sudah keterlaluan menghinanya Sehun, kau lupa dia seorang perempuan polos yang tidak tahu apa-apa." Kai mendesis, "Dan aku tidak akan membiarkannya di sini menanggung kesalahan yang tidak dia buat, menanggung kemarahanmu yang tidak diketahui sebabnya."

Sehun menghela napas panjang, "Aku tahu. Aku tahu Kai, kemarin aku keterlaluan. Aku memang salah. Aku pulang dan menemukan kalian tidak ada, ponsel kalian sama-sama tidak bisa dihubungi, dalam kecemasanku aku malah berpikir jangan-jangan ayah kandungku menculik Luhan." Sehun menatap Kai dan meminta maaf, "Aku memang pantas mendapatkan pukulan itu, maafkan aku."

Kai termenung menatap Sehun dengan skeptis. Tetapi bagaimanapun juga, dia menemukan kesungguhan di mata Sehun, lelaki itu sekaligus tampak tersiksa.

Akhirnya Kai menghela napas panjang. "Semuanya terserah Luhan, minta maaflah kepadanya. Kalau dia tidak mau menerima maafmu, aku akan membawanya menjauh darimu."

Sehun menganggukkan kepalanya, dan kemudian mengetuk pintu kamar Luhan. "Luhan? Kau sudah bangun?"

Tidak ada jawaban.

Kemungkinan Luhan masih tertidur dengan lelapnya.

Sehun mengetuk lagi, "Luhan, kalau bangun, keluarlah. Aku ingin meminta maaf kepadamu. Kata-kataku padamu semalam memang keterlaluan. Aku cemas dan menumpahkan kemarahanku kepadamu, kau tidak pantas menerimanya, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi...Luhan?"

Sama sekali tidak ada jawaban.

Sehun melemparkan tatapan curiga ke arah Kai. Ekspresi keduanya sama-sama harap-harap cemas.

Dengan hati-hati, Sehun membuka handle pintu kamar Luhan dan mendapati ranjang kosong dan rapi seperti tidak pernah ditiduri.

Dengan tergesa Sehun melangkah masuk diikuti Kai ke kamar mandi yang ternyata juga kosong. Lemari-lemari masih penuh dengan pakaian, rak sepatu kaca masih tertata rapi. Luhan tidak membawa apapun pergi dari sana selain pakaian yang dibawanya masuk ke kamar ini.

Luhan tidak ada di mana-mana.

Sehun melemparkan tatapan cemasnya ke arah Kai.

.

.

.

.

.

To Be Continued