Title : Crush In Rush
Cast :
Xi Luhan (girl) - Oh Sehun, etc.
Warning : Genderswitch, typo(s), etc
Rated : T
Disclaimer :
Cerita ini sepenuhnya milik Santhy Agatha dari novel yang berjudul sama. dan saya hanya meremakenya dengan mengganti cast dan mengedit sedikit alurnya. So don't call me plagiator, ok?!
.
Summary : Sehun dan Luhan. Dua mahluk yang bertolak belakang, yang seharusnya tidak pernah bersinggungan. Tetapi kehidupan mempertemukan mereka ke dalam pusaran nasib yang tidak terelakkan.
.
.
Don't Like
.
Dont'read
.
.
Enjoy
.
.
.
.
Luhan tidak ada di mana-mana!
Sehun langsung menghambur ke luar, memeriksa penjuru ruangan, tetapi Luhan tidak ada. Kai mengikutinya dan kemudian bergumam, menarik kesimpulannya,
"Kurasa Luhan pergi dari rumah ini setelah lewat tengah malam."
Mata Sehun menggelap, "Tapi dia kabur kemana? Dia tidak punya rumah, tidak punya tempat tinggal, tidak punya uang. Dan tidak ada satupun orang yang dikenalnya. Bahkan dia meninggalkan ponselnya!" Sehun melirik frustrasi kepada ponsel yang diletakkan Luhan dengan rapi di atas meja ruang tengah, bagaikan sebuah pesan bahwa Luhan tidak membutuhkan apapun pemberian Sehun.
"Kita bisa bertanya kepada mantan rekan kerjanya di cafe, mungkin saja Luhan ke sana meminta pertolongan."
Sebelum Sehun sempat menjawab, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia melirik nama yang ada di sana dan mengernyitkan dahinya, itu Jessica yang meneleponnya.
"Ya?" Sehun menjawab telpon itu dengan gusar,
"Sekedar mengingatkanmu sayang." Jessica menjawab dengan suara lembutnya di seberang sana, "Aku akan siap kau jemput satu jam lagi, hari ini kita akan ke sebuah restoran yang direkomendasikan oleh pramutama hotelku, kau pasti akan menyukainya..."
Jessica terus berkata-kata tetapi Sehun sudah tidak mendengarkan lagi. Diakuinya bersama Jessica memang menyenangkan, tetapi Sehun menghabiskan waktunya bersama Jessica bukan karena menyukainya, sama sekali tidak tumbuh perasaan di hatinya menghabiskan waktu begitu lama bersama Jessica. Dia mendekati Jessica hanya untuk satu alasan khusus. Satu alasan yang kemudian malahan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
"Aku tidak bisa keluar bersamamu sekarang Jessica."
"Kau sudah berjanji Sehun, satu minggu bersamaku, ingat?" suara Jessica agak meninggi, tetapi perempuan itu masih bisa menyembunyikan kegusarannya.
Sehun menghela napas panjang, "Memang. Tetapi sekarang aku sampai di satu titik dan menyadari bahwa aku tidak butuh waktu selama itu untuk tahu bahwa aku sama sekali tidak tertarik kepadamu. Dan tidak akan pernah tertarik! "
Sebelum Jessica sempat bertanya lagi Sehun menutup teleponnya dan kemudian mengalihkan pandangannya kepada Kai yang berdiri di sana sambil bersedekap.
"Ayo kita ke cafe tempat Luhan dulu bekerja." Gumamnya tergesa.
.
.
.
Ternyata sia-sia.
Entah Jongdae berkata jujur, atau dia melindungi Luhan, lelaki itu mengatakan bahwa dia sama sekali tidak tahu dimana Luhan berada. Sejak pertemuan di supermarket itu, Jongdae sama sekali belum pernah bertemu lagi dengan Luhan.
Sehun sudah bertanya dengan begitu serius, tetapi Jongdae tetap menggeleng-gelengkan kepalanya, lelaki itu masih begitu terkejut karena didatangi oleh dua lelaki yang sangat tampan dan berpakaian elegan.
Yang satu tentu Jongdae sudah pernah melihatnya ketika bertemu di supermarket beberapa waktu lalu... lelaki yang sangat tampan sedangkan yang satunya lagi...itu adalah pelanggan tetap cafenya waktu itu yang sering datang ketika tengah malam hingga menjelang pagi. Yang secara kebetulan tidak pernah datang lagi setelah Luhan berhenti bekerja... jadi ini semua bukanlah kebetulan?
Kai menatap Jongdae yang kebingungan lalu mengernyit, "Sudahlah Sehun, sepertinya dia benar-benar tidak tahu di mana Luhan, kita harus berpikir ulang. Siapa kira-kira yang akan didatangi Luhan di saat dia butuh bantuan. Dan siapa kira-kira yang menginginkan Luhan menghilang."
.
.
.
.
Jessica langsung menemui William yang kebetulan suite hotelnya ada di sebelahnya, dia mengetuk pintu kamar itu dengan marah dan kesal. William yang baru bersantai sehabis mandi, membuka pintu dan menatap terkejut ke arah Jessica, yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah gusar.
"Hai Jessica. kenapa kau masih ada di sini? Bukankah kau ada acara dengan Sehun?" William tersenyum senang, "Aku lihat kau telah berhasil menjeratnya, kalian pasti melewatkan banyak waktu bersama untuk bersenang-senang. Dan aku yakin apa yang kau katakan akan terwujud, Sehun akan mengepak kopernya dan mengikuti kita pulang ke London dalam seminggu ke depan, dan kita akan merencanakan pernikahan mewah dan besar-besaran."
Wajah Jessica merah padam, teringat kembali di benaknya kata-kata Sehun ketika menolaknya tadi. Kurang ajar. Lelaki itu berkata akan memenuhi tantangannya selama satu minggu, membuat Jessica merasa dia punya banyak kesempatan dan waktu, tetapi kemudian Sehun mencampakkannya begitu saja.
Tidak pernah ada laki-laki yang mencampakkan Jessica sebelumnya, tidak akan pernah!
"Perempuan jalang itu, perempuan murahan yang tinggal bersama Sehun, dia benar-benar pengganggu." Jessica mendengus menahan marah, "Pagi ini Sehun menolakku, pasti ada hubungannya dengan perempuan itu. Aku tidak akan pernah bisa mendapatkan Sehun kalau perempuan itu masih ada, Papa."
Ada senyum misterius muncul di wajah William, dan lama kelamaan senyumannya berubah menjadi seringai, "Tenang saja Jessica, mulai hari ini perempuan itu sudah dibereskan."
Suaranya begitu misterius, membuat Jessica menatap William penuh tanda tanya, "Apa maksud papa?"
William membuka pintunya lebar dan mempersilahkan Jessica masuk, kemudian menutup pintu suitenya dan menatap Jessica yang sudah duduk di sofa dengan senyuman bangga,
"Well aku sudah bergerak duluan untuk menyingkirkan perempuan itu, aku sudah menduga sejak lama perempuan rendahan itu hanya akan menjadi pengganggu rencana kita. Jadi kemarin aku menyuap salah satu petugas teknisi listrik di apartemen, dia berhasil menyusup masuk ke apartemen itu di malam hari dan menculik perempuan murahan itu. Dan sesuai instruksiku, perempuan itu mungkin sudah diselundupkan ke luar negeri sebagai pelacur. Cocok dengan profesinya sekarang ini."
"Oh ya?" mata Jessica melebar indah, kemudian dia tersenyum lebar, "Kalau begitu sudah tidak ada lagi yang menghalangi kita?"
William menuangkan anggur ke gelasnya, semuanya berjalan lancar. Sehun akan dengan segera melupakan perempuan rendahan itu dan berpaling kepada Jessica.
Jessica ada di pihaknya, dan dengan begitu dia bisa dengan mudah menguasai Sehun, anaknya itu memang sulit dikendalikan dan membencinya. Tetapi dengan adanya Jessica, William yakin Sehun akan menurut padanya, seperti seharusnya seorang anak menurut kepada ayahnya.
.
.
.
.
Luhan membuka matanya dengan terkejut, mengetahui bahwa dia berada di ruang sempit yang gelap. Dia langsung panik mengetahui getaran-getaran yang ada di bawahnya.
Astaga! Dia ada di dalam bagasi mobil!
Tangannya diikat di belakang punggungnya, membuatnya pegal, tetapi kakinya tidak. Luhan berguling, megap-megap mencari napas, bagasi itu sempit dan gelap, dan Luhan merasa sesak napas. Dia memukul-mukul bagasi itu sekuat tenaga, menendang-nendangnya sekencang mungkin, tetapi percuma, mobil itu tetap melaju kencang, tak peduli dengan semua usahanya. Sampai akhirnya Luhan terdiam, dengan napas makin terengah dan lemas kelelahan.
Oh Tuhan! Dia langsung teringat tatapan kebencian William, ayah kandung Sehun kepadanya. Apakah ini direncanakan oleh William untuk menjauhkan dirinya dari Sehun?
Sehun... tiba-tiba air mata Luhan mengalir, dia megap-megap lagi berusaha mencari napas, tiba-tiba kepalanya terasa pening. Lalu semuanya gelap, dan sebelum kesadarannya hilang, Luhan sempat mungkin dia tidak punya kesempatan untuk bertemu Sehun lagi.
.
.
.
.
"Petugas apartemen mengatakan melihat sesuatu yang mencurigakan tadi dini hari, dia melihat salah seorang teknisi membawa kotak yang sangat besar...dia sempat curiga, tetapi karena teknisi itu adalah petugas apartemen ini yang sudah bekerja cukup lama, dia menghapus kecurigaannya."
"Apakah kau curiga kotak itu berisi Luhan?"
Kai duduk di depan Sehun sementara petugas polisi ada di belakang mereka. Ya. Mereka sekarang ada di kantor polisi, melaporkan hilangnya Luhan.
Sehun mengangguk, "Tidak ada lagi yang mencurigakan setelah lewat tengah malam selain kejadian itu. Luhan pasti dibawa keluar di dalam kotak besar itu."
Untunglah kesaksian petugas apartemen sangat membantu. Teknisi itu memiliki mobil yang tercatat, dan sekarang polisi sedang berusaha melacaknya,
"Sepertinya itu penculikan amatiran. Karena kalau benar pelakunya teknisi itu, dia bertindak gegabah dan bodoh, dan tidak berusaha menutup-nutupi jejaknya."
Kai mengerutkan keningnya, ingatannya melayang di masa itu, ketika adiknya diculik. Suasananya hampir sama, para polisi bergerak, mencoba mencari titik terang. Tanpa sadar Kai mengernyit, apakah perempuan-perempuan baik yang ada di sisinya haruslah selalu mengalami penculikan?
Kali ini Kai tidak mengetahui bagaimana kondisi Luhan. Dia hanya bisa berharap bahwa Luhan baik-baik saja.
Diliriknya Sehun, lelaki itu tampak tenang dan memasang wajah datar, tetapi Kai tahu Sehun gelisah dan ketakutan setengah mati.
Ada perasaan yang tanpa sadar ditumbuhkan Sehun kepada Luhan. Itu sudah pasti, dulu mungkin Sehun tidak menyadarinya, tetapi sepertinya lelaki itu sudah menyadarinya...
Kai tersenyum sedih, dan jangan sampai Sehun terlambat... bagaimanapun juga mereka harus menemukan Luhan.
Seorang petugas polisi menghampiri mereka, mengatakan sesuatu kepada Sehun langsung berdiri, Kai menatap Sehun dengan bingung, "Ada apa?"
"Polisi bisa melacak mobil itu, sekarang sedang mengarah ke pelabuhan. Sepertinya si penculik ingin menghilangkan jejak dengan menaiki kapal." Sehun mengambil jaketnya dan mengenakannya, "Ayo, kata petugas kita bisa ikut salah satu mobil polisi, asal saat penyergapan nanti kita tidak keluar dan membahayakan misi, kita boleh ikut."
.
.
.
Sepanjang jalan begitu menegangkan bagi Sehun. Dia dan Kai duduk di jok belakang mobil polisi itu.
Informasi yang didapat dari radio polisi, mobil yang menculik Luhan ditengarai masih ada di jalan tol, belum keluar menuju arah pelabuhan. Sepanjang jalan mereka melewati truk-truk besar pengangkut barang. Dan benak Sehun bergetar ngeri... kalau mereka tidak bisa menyelamatkan Luhan dengan cepat, akankah perempuan itu diselundupkan seperti ini? Di dalam truk yang penuh barang kemudian di bawa menyeberang pulau seperti ternak?
Sehun makin geram kepada William, dia merasa malu, berasal dari benih lelaki sombong dan licik itu.
Penculikan ini, meskipun mereka belum bisa membuktikannya, sudah pasti didalangi oleh ayah kandungnya yang jahat itu. Dia sudah curiga. Dia sebenarnya sudah cemas ayahnya yang licik akan berbuat jahat untuk menyingkirkan Luhan. Dan semalam dia lengah, lengah karena kemarahannya sendiri.
Sehun menghela napas dengan sedih. Kalau sampai Luhan tidak dapat diselamatkan, Sehun tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Lalu tiba-tiba sirene polisi dibunyikan, lima mobil polisi mengerubuti sebuah sedan warna hitam yang langsung mengebut kencang, tidak mau berhenti. Mobil itu tancap gas, setengah zig zag, benar-benar nekat dan tetap tidak mau berhenti meskipun lima mobil polisi mengejarnya.
Kejar-kejaran berlangsung menegangkan. Yang ditakutkan Sehun adalah sedan hitam itu, yang mungkin ada Luhan di dalamnya, terlalu mengebut dan kehilangan kendali, membuat Luhan celaka. Sehun mengikuti pengejaran itu sambil berdoa dalam hati, berdoa semoga Luhan selamat.
Setelah pengejaran selama beberapa kilometer, sebuah mobil polisi berhasil menjajari sedan hitam itu dan memepetnya ke bahu jalan tol. Mobil yang lain mendahului dan menghadang tepat di depan. Membuat sedan itu terpaksa berhenti, dengan suara berdecit keras dan ban yang berasap. Beberapa petugas polisi langsung keluar, menodongkan senjatanya dan memerintahkan supir sedan hitam itu turun. Sopir mobil itupun turun dengan tangan di atas kepala, kemudian dipaksa berlutut.
Setelah kondisi dipastikan aman, Sehun dan Kai boleh keluar dari mobil. Hati Sehun mencelos ketika polisi itu memeriksa tempat duduk dan memastikan tidak ada penumpang lain di sana.
Jadi di mana Luhan?
Lalu seorang polisi mencongkel bagasi dengan linggis, dan di sanalah, di dalam bagasi itu, terbaring Luhan yang sudah pingsan kehabisan udara.
.
.
.
.
"Shit! "
William mengumpat ketika membaca berita di televisi berita tentang sebuah penculikan yang berhasil di gagalkan oleh polisi.
Dan berdasarkan pengakuan si penculik amatir, dia dibayar oleh orang asing yang menyuruhnya menculik dan menjual perempuan itu ke sindikat perdagangan manusia untuk dijadikan pelacur.
Dengan marah William mengemas pakaiannya, dan kemudian menelepon untuk mendapatkan tiket penerbangan dengan jadwal yang paling cepat. Sayangnya semua penerbangan penuh dan harus menunggu enam jam lagi paling cepat.
Jessica juga sama paniknya setelah melihat berita itu, dia bolak-balik ke kamar William, ketakutan dan bingung. William menyuruh perempuan itu untuk diam, tetapi Jessica tetap mengomel-ngomel, menyalahkan William.
"Seharusnya papa memilih penculik yang lebih ahli, bukannya teknisi bodoh gila uang yang baru pertama kali menculik, pantas saja dia tertangkap dengan begitu mudahnya." Sambil mondar mandir di dalam kamar William, membuatnya gila, Jessica terus menerus mengomel, "Kalau begini jadinya bisa gawat, nama kita bisa tercoreng..."
"Diam Jessica!" William membentak pada akhirnya, merasa frustrasi karena disalahkan.
Jessica terkejut dibentak sedemikian keras oleh calon papa mertuanya. Matanya melebar dan kemudian wajahnya merah padam penuh kemarahan,
"Aku tidak mau berurusan lagi denganmu!" teriak Jessica marah, "Aku tidak ada hubungannya dengan penculikan itu jadi kau tidak bisa melibatkanku, silahkan saja polisi menangkapmu, tapi aku tidak mau nama baikku cemar! Mulai hari ini tidak ada urusan di antara kita. Aku akan pulang ke London besok, aku telah membuang-buang waktuku dengan mencoba mengejar anak harammu yang berdarah separuh pelacur!"
Setelah meneriakkan kemarahannya, Jessica membalikkan badan dan pergi, tidak peduli William memanggil-manggil namanya.
William layak cemas, Papa Jessica adalah rekan bisnis sekaligus teman bangsawannya yang paling penting, kalau sampai masalah ini sampai ke telinga papa Jessica, William akan kehilangan banyak sekali keuntungan bisnisnya. William tidak akan bisa melibatkan Jessica dalam hal ini, sebagai gantinya, William berharap Jessica bijaksana dan tidak mengadu kepada ayahnya.
Sekarang dia hanya harus pergi dari negara ini secepatnya. Penerbangan ke London paling cepat enam jam lagi. Dia sudah selesai berkemas dan menenteng tas-nya untuk check out.
Sayangnya, Ketika dia membuka pintu, beberapa polisi berpakaian preman sudah berdiri di sana, siap menangkapnya, membuat wajahnya pucat pasi.
.
.
.
.
Di kantor polisi, William bertatapan dengan Sehun yang sedang membuat laporan di kepolisian.
Mata mereka bertatapan. Dan terpatri jelas kebencian dan rasa muak Sehun kepada ayah kandungnya.
Ketika William berada di dekatnya, Sehun berbisik puas. "Aku akan menikahi Luhan segera. Dia akan menjadi istriku, dan kau tidak akan diundang ke pernikahan. Pergilah ke neraka bersama gelar, harta dan darah bangsawanmu itu."
Kata-kata itu membuat wajah William pucat pasi, tetapi lelaki itu tidak bisa berkata apa-apa. Sehun sudah mengalahkannya, dia sudah kalah sepenuhnya. Anaknya itu tidak akan pernah mau kembali kepadanya dan melanjutkan warisan gelarnya. Dan mungkin William tidak akan pernah bisa datang ke negara ini lagi.
Sehun dan Kai sama-sama menatap kepergian William ke ruang pemeriksaan. "Begitu pengacaranya datang, dia akan dibebaskan dengan jaminan... paling buruk dia akan dideportasi, tidak akan menerima hukuman setimpal." Gumam Kai pahit, "Dia bangsawan dan orang kaya yang punya banyak koneksi."
Sehun mengangkat bahunya, "Memang." Gumamnya, "Tetapi setidaknya aku bisa memastikan dia tidak akan pernah kembali lagi ke negara ini."
"Apakah sama sekali tidak ada rasa tersentuh di hatimu melihatnya?" Kai bertanya ingin tahu, "Bagaimanapun juga dia adalah ayah kandungmu?"
"Dia bukan ayah kandungku. Bagiku ayahku adalah Donghae yang merawat dan menyayangiku sampai aku dewasa." Sehun menggelengkan kepalanya, "Mungkin benihnya memang menghasilkanku, tetapi selebihnya aku tidak mau punya ayah seperti dia."
Lelaki itu menandatangani laporannya dan menyerahkan kepada petugas polisi, "Ayo, aku harus ke rumah sakit, aku takut Luhan sadar dan aku tidak ada di sana."
.
.
.
.
.
Ketika Luhan membuka matanya, Sehun ada di sana menatapnya.
Semula Luhan membelalak ketakutan, merasa bahwa dirinya ada di dalam bagasi yang gelap, sesak dan tanpa udara. Tetapi kemudian Sehun memegang tangan Luhan yang panik dan menekannya lembut. Membuat Luhan menoleh kepadanya, menyadarkan dia ada di mana.
"Kemarin kau diculik Luhan, tetapi polisi menyelamatkanmu sebelum kau di bawa lebih jauh. Kau sekarang ada di rumah sakit, kau sudah selamat." Sehun berbisik lembut, berusaha meredakan ketakutan Luhan, "Kau baik-baik saja Luhan."
Luhan menatap Sehun dalam-dalam. Ingin rasanya dia menghambur ke pelukan lelaki itu dan menangis, tetapi kemudian seketika dia teringat akan kata-kata kejam Sehun kepadanya. Sebelum Luhan diculik, Sehun telah melecehkan dan merendahkannya. Dan sekarang apa yang dilakukan lelaki itu di sini? Akankah dia merendahkan Luhan lagi?
"Aku tahu kata-kataku malam itu menyakitkan." Gumam Sehun ketika Luhan berusaha menarik tangannya, membuat Sehun harus menahannya, "Maafkan aku Luhan. Aku menyesal, aku mengucapkannya karena aku marah...dan cemburu..."
Cemburu?
Kali ini Luhan tertarik dengan perkataan Sehun, dia mengangkat matanya dan menatap Sehun dengan bingung. Cemburu? Sehun cemburu? Kepada siapa? Kepadanya?
"Ya. Aku cemburu kepadamu dan Kai... Aku..." Lelaki itu tampak salah tingkah dan kesulitan berkata-kata, "Aku sebenarnya menyimpan perasaan lebih kepadamu, entah sejak kapan yang pasti aku sadar ketika aku merasa tidak suka saat kau biasa-biasa saja ketika mengetahui aku akan keluar bersama Jessica." Senyum Sehun tampak pahit, "Aku ingin kau marah, aku ingin kau setidaknya mengungkapkan kecemburuanmu. Tetapi kau bersikap datar kepadaku, membuatku sulit menebak apa yang sebenarnya kau rasakan."
Bagaimana mungkin Luhan menunjukkan kecemburuannya kepada Sehun? Bagaimana mungkin dia berani? Sehun adalah majikannya, penolongnya, bagaimana boleh dia yang hanya seorang pelayan menunjukkan perasaan lebih kepada majikannya?
"Dan kemudian itu mendorongku untuk bersikap sedikit kekanak-kanakan." Pipi Sehun tampak sedikit merona, laki-laki itu jelas-jelas merasa malu, "Tujuanku pergi bersama Jessica, menghabiskan waktu dengannya dan memperlihatkan ketertarikan kepada Jessica adalah untuk memancing rasa cemburumu, aku ingin kau merasa cemas aku pergi dengan perempuan lain, aku ingin bisa menebak perasaanmu."
Sehun mengacak rambutnya dengan frustrasi, "Pada akhirnya, aku malahan yang menjadi korban kecemburuanku sendiri. Aku pulang mendapati rumah kosong, mencemaskanmu setengah mati hanya untuk mendapati kau pulang bersama Kai, tertawa-tawa dan berangkulan. Nampak begitu gembira, aku langsung menarik kesimpulan bahwa usahaku sia-sia. Aku pergi dengan Jessica seharian dan kau bahkan tidak memikirkanku sama sekali, malahan pergi bersenang-senang dengan Kai, hal itulah yang memancing kemarahanku." Sehun menatap Luhan sungguh-sungguh.
"Kata-kataku kasar Luhan, dan yang pasti sangat menyakitkan, aku tahu kau akan sulit memaafkanku." Sehun melanjutkan sambil menghela napas panjang, "Tapi satu yang harus kau tahu Luhan, semua perkataan itu hanyalah manifestasi kemarahanku, tidak ada satupun yang berasal dari hatiku. Bagiku kau adalah perempuan sempurna, lugu, polos, pekerja keras, mandiri, bisa bertahan dalam kesulitan dan terlebih lagi kau telah menyentuh hatiku yang paling dalam." Dengan lembut Sehun mengecup jemari Luham, "Mungkin ini akan terdengar sangat klise, dan mungkin kau tidak akan mempercayainya, tetapi aku mencintaimu Luhan."
Luhan ternganga, kaget dan tak percaya.
Sehun mencintainya? Mencintainya? Apakah dia bermimpi? Luhan menyentuh pipinya yang terasa hangat, tiba-tiba merasa malu, bagian mana dari dirinya yang bisa dicintai oleh lelaki sesempurna Sehun? Bagaimana mungkin Sehun bisa jatuh cinta kepadanya? Seorang pelayan udik yang kadang-kadang mempermalukannya?
"Dan aku tidak pernah bisa membaca perasaanmu." Gumam Sehun lembut, "Matamu begitu polos dan aku berusaha mencari-cari makna cinta di baliknya, yang tidak pernah aku temukan." Sehun menghela napas panjang, "Maka katakanlah padaku Luhan, bagaimana perasaanmu kepadaku?"
Wajah Luhan merona, memerah karena malu atas pertanyaan Sehun, atas tatapan matanya yang begitu intens kepadanya. Bibirnya gemetar ketika mencoba berbicara, sementara benaknya menelaah dirinya sendiri. Bagaimanakah perasaannya kepada Sehun?
Luhan mulai sering membayangkan Sehun di malam-malam sebelum tidurnya, mulai merasa rindu jika lama tidak melihat Sehun, dan dia selalu merasa bahagia jika ada Sehun di dekatnya.
"Aku... Ketika kau pergi bersama Jessica, aku sebenarnya merasa sedih...dan murung, karena itulah Kai berbaik hati mengajakku ke taman hiburan." Luhan bergumam pelan. Bingung bagaimana menjelaskan perasaannya. Tetapi sepertinya itu sudah cukup untuk Sehun, lelaki itu mengangkat alisnya dan menatap Luhan tajam.
"Apa maksudmu kau merasa sedih ketika aku pergi bersama perempuan lain? Apakah kau...cemburu?"
Apakah Luhan cemburu? Apakah perasaan sakit seperti jantung diremas ketika membayangkan Sehun berdekatan dengan Jessica, menggenggam tangannya dan merangkulnya itu adalah perasaan cemburu?
Tiba-tiba Luhan menyadari kebenaran perasaannya, dia menganggukkan kepalanya.
Seketika itu juga Sehun bangkit dan memeluknya yang sedang terduduk di ranjang, lelaki itu duduk di tepi ranjang, tepat di hadapannya. "Kalau begitu apakah kau mencintaiku?"
Lama, Luhan mengerutkan kening dan berpikir, menyiksa Sehun, membuat lelaki itu ingin mengguncangkan bahu Luhan, membuatnya berkata 'ya'.
Tetapi kemudian bibir indah Luhan tersenyum dan perempuan itu menatap Sehun dengan lembut.
"Ya Sehun."
"Ya apa?" Sehun masih tidak puas rupanya.
Luhan menelan ludahnya, "Ya Sehun, aku mencintaimu."
Senyum lebar merekah di bibir Sehun membuat wajahnya berseri dan tampak begitu tampan.
"Dan aku juga mencintaimu Luhan." Tatapan Sehun tampak mesra, "Dan kita akan menikah jadi kau bisa tinggal di apartment itu tanpa masalah?"
"Menikah?"
"Ya. Menikah. Kau mencintaiku, aku mencintaimu. Harus menunggu apa lagi? Kita harus segera menikah."
Luhan tersenyum, "Lalu bagaimana dengan menjadi pelayanmu?"
Sehun menatap Luhan mesra, lalu mengerutkan keningnya menggoda, "Kau masih tetap menjadi pelayanku, tapi perkerjaanmu akan bertambah, karena kau juga akan melayaniku di kamar."
Pipi Luhan langsung merah padam mendengar godaan Sehun itu, membuat Sehun terkekeh geli, dan kemudian meletakkan kepala Luhan ke dadanya.
Luhan memejamkan matanya, menenggelamkan diri di kenikmatan aroma Sehun yang maskulin dan menyenangkan. Mensyukuri diri bahwa lelaki yang memeluknya ini adalah lelaki yang mencintai dan dicintainya.
Luhan mengawali kehidupannya dengan pahit, menjadi anak yatim piatu yang tidak tahu asal usulnya, kemudian kejahatan orang lain membuatnya melarikan diri, mencoba hidup mandiri, memulai dari bawah dengan gigih dan mencoba bertahan di antara semua kesulitan. Sampai kemudian Tuhan mempertemukannya dengan Sehun, lelaki penyendiri yang baik hati dan menolongnya. Lelaki penyendiri yang kemudian membuatnya jatuh cinta.
Luhan tidak pernah menduga kehidupannya akan menemui jalan yang begitu membahagiakannya, pasti Tuhan begitu menyayanginya sehingga memberikan kekasih yang begitu sempurna, kekasih yang tidak pernah berani dibayangkannya sebelumnya.
Jemari mungil Luhan melingkari pinggang Sehun, dan lelaki itu makin mempererat pelukannya yang penuh cinta kepada Luhan.
Nanti, pada saatnya nanti masih ada banyak waktu terbentang di depan mereka untuk berpelukan setiap saat. Sehun akan memiliki Luhan di rumahnya, menjadi milik pribadinya, saling memiliki dengannya.
.
.
.
Kai yang berdiri diam di depan tersenyum melihat kedua sejoli itu berpelukan.
Dia menghela napas panjang. Setidaknya, sahabat-sahabatnya telah bertemu dengan perempuan yang benar-benar baik. Tiba-tiba benaknya bertanya-tanya kapan saat itu tiba untuknya? Akankah dia menemukan perempuan yang benar-benar baik? Ataukah dia akan selalu terkalahkan rasa takut dan traumanya yang membuatnya membenci dan berprasangka kepada perempuan?
Matanya melirik kearah Sehun yang sekarang mengecup dahi Luhan lembut dan mengernyit. Dan kenapa setiap perempuan baik, yang tidak menyalakan alarm Kai selalu diambil oleh sahabatnya?
"Cemburu?"
Sebuah suara lembut dan feminim membuat Kai tersadar dari lamunannya. Kai mengangkat kepalanya dan makin mengerutkan keningnya ketika melihat Xiumin berdiri di depannya.
Kai memang masih menganut aliran konvesional, dia masih belum bisa menerima ada seseorang yang tidak menerima apa yang sudah diberikan Tuhan kepadanya dan kemudian mengubahnya, dengan kekuatan manusia. Itu hampir-hampir seperti bentuk kesombongan manusia kepada Tuhannya...
"Xiumin." Kai menyapa kaku, kemudian menegakkan tubuhnya, "Tentu saja aku tidak cemburu. Apa yang kau lakukan di sini?'
"Aku segera kemari setelah melihat berita televisi, bagaimanapun juga, meskipun baru sebentar bersama Luhan, aku peduli kepadanya."
Xiumin mengintip hendak masuk, tetapi kemudian tidak jadi ketika melihat Sehun sedang tertawa dan bergumam mesra kepada Luhan, dia mengangkat alisnya dan bergumam kepada Kai, "Akhirnya Sehun kita mengakui perasaannya eh?"
Kai mengangkat alisnya, "Kau sudah tahu sejak lama perasaan Sehun kepada Luhan?"
"Aku sudah tahu bahkan sebelum Sehun menyadari perasaannya sendiri." Xiumin terkekeh, "Ketika dia membawa Luhan ke butik, tanpa sadar dia bersikap begitu posesif, matanya mengawasi Luhan seperti elang menunggu mangsa. Ketika itu aku sadar bahwa tinggal menunggu waktu saja sampai Sehun mengakui perasaannya."
"Dan mereka pun bahagia bersama." Kai tersenyum.
Xiumin mengangguk, "Kapan giliranmu Kai?"
"Apa?"
"Aku dengar kau pembenci wanita. Bagaimana kalau dengan wanita yang ini?" Xiumin menyulurkan jemarinya menyentuh lengan Kai.
Seketika itu juga Kai berjingkat mundur, menatap Xiumin dengan wajah shock. "Kau tidak sungguh-sungguh dengan rayuanmu bukan?" Kai bergidik.
Xiumin tergelak melihat reaksi Kai. "Tentu saja aku tidak sungguh-sungguh." Dan kemudian, sambil menebarkan aroma parfumnya yang wangi, Xiumin berlalu meninggalkan Kai yang masih tertegun bingung.
Lama kemudian, Kai menyadari candaan Xiumin dan tertawa. Dasar! Makhluk ajaib yang satu itu ternyata menggodanya. Mata Kai melirik lagi ke arah dua sejoli yang tampaknya begitu diliputi cinta itu, lalu tersenyum simpul.
Waktunya sendiri akan tiba .
Dia percaya akan menemukan perempuan baik hati, yangtidak jahat dan hanya menginginkan materi dan fisiknya, yang hanya diciptakan untuknya.
Taemin dan Luhan telah menyadarkannya bahwa tidak semua perempuan berhati jahat, masih ada di sana, tersembunyi di antara semua yang mencolok, perempuan berhati baik yang menunggu untuk ditemukan. Saat untuk kisah cintanya sendiri pasti akan segera tiba. Kai hanya perlu mencari perempuan itu.
Perempuan baik hati yang akan menyentuh hatinya yang kelam ini.
.
.
.
.
.
END
.
.
A/N
.
.
Sorry for Typo.
.
chapter depan Epilogue. Awalnya saya berniat untuk menambahkan satu chapter lagi (ence) di akhir cerita. Tapi mengingat beberapa readers yang menagih saya untuk melanjutkan fanfic saya yang lain dan sebentar lagi saya akan UAS, maka saya membatalkannya. Maaf banget yaa...
.
Di sini Kai nya gantung banget. Saya juga berencana ingin meremake (lagi) novel kak santhy yang berjudul Embrace the Chord. novel itu bisa di bilang sequel dari
Crush in Rush tapi main cast nya Kaisoo.. Itu juga alasan mengapa saya membatalkan Kyungsoo menjadi adiknya Kai di fanfic ini. Kalau banyak yang minta saya buat ngeremake novel itu maka saya akan remake secepatnya...
.
Makasih buat semua review dan dukungan dari kalian semua :*
