Title : Crush In Rush

Cast :

Xi Luhan (girl) - Oh Sehun, etc.

Warning : Genderswitch, typo(s), etc

Rated : T

Disclaimer :

Cerita ini sepenuhnya milik Santhy Agatha dari novel yang berjudul sama. dan saya hanya meremakenya dengan mengganti cast dan mengedit sedikit alurnya. So don't call me plagiator, ok?!

.

Summary : Sehun dan Luhan. Dua mahluk yang bertolak belakang, yang seharusnya tidak pernah bersinggungan. Tetapi kehidupan mempertemukan mereka ke dalam pusaran nasib yang tidak terelakkan.

.

.

Don't Like

.

Dont'read

.

.

Enjoy

.

.

.

.

Luhan sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Kondisi tubuhnya sudah membaik dan dokter memastikan dia akan sehat-sehat saja ke depannya. Saat ini dia sedang duduk di samping ranjang, sudah mengenakan pakaian rapi dengan koper yang sudah siap di atas ranjang.

Dia menunggu Sehun yang akan menjemputnya.

Suara ketukan di pintu membuat Luhan menoleh penuh harap, tetapi bukan Sehun yang datang melainkan Kai.

Lelaki itu tersenyum, dan melangkah masuk ke ruangan duduk di kursi depan Luhan. "Menunggu Sehun?"

Luhan menganggukkan kepalanya, tersenyum ke arah Kai.

"Bagaimana keadaanmu?" Kai bertanya lagi.

Luhan tersenyum, menyelipkan sejumput rambut di belakang telinganya. "Aku sudah baikan..."

"Dikurung di bagasi seperti itu memang mengerikan. Ayah Sehun memang jahat, tetapi kau bisa tenang, Luhan. dia sudah kembali ke negaranya dan tidak akan mengganggumu lagi."

Ya. Peristiwa penculikan itu memang menakutkan, sebuah pengalaman traumatis yang sangat ingin dilupakannya. Kadangkala benaknya berpikir, bagaimana jika waktu itu Sehun dan Kai serta pihak kepolisian tidak berhasil mengejar penculiknya dan menyelamatkannya?

Mungkin dia akan berakhir menjadi korban perdagangan manusia di luar negeri seperti yang direncanakan oleh ayah Sehun.

Kadang di malam-malamnya di rumah sakit, Luhan masih sering terbangun tengah malam, berkeringat dan ketakutan karena mimpi buruknya berada di dalam bagasi, tersekap, berteriak-teriak dan tidak ada yang menolongnya. Dan ketika itu, Sehun yang setia menungguinya langsung menggenggam tangannya, menenangkannya sampai dia tertidur kembali.

"Aku akan berusaha melupakannya." Luhan menatap ke arah Kai, "Terimakasih Kai, kau begitu baik kepadaku."

Kai tersenyum, sebuah senyum lebar yang mempesona di wajah tampannya. "Aku menganggapmu seperti adikku sendiri, kau sangat mirip dengannya, dengan kemandirian dan sikap tegarmu." lelaki tampan itu lalu mengerutkan keningnya, "Sayangnya tidak disangka kau mengalami nasib yang sama sepertinya. Diculik oleh orang jahat."

"Dan untunglah kami berdua sama-sama selamat." Gumam Luhan, merasa benaknya dipenuhi rasa syukur yang begitu dalam.

"Ya. Untunglah pada akhirnya kalian menemukan laki-laki yang bisa menjaga kalian." tatapan Kai tampak melembut. "Sehun lelaki yang baik, meskipun dia kadangkala keras dan menakutkan, tetapi dia tidak pernah bersikap seperti itu kepada perempuan lain sebelumnya. Aku yakin dia benar-benar menyayangi dan akan menjagamu, Luhan."

Luhan tersenyum. Hatinya terasa hangat ketika mengingat Sehun. Memang kemarahan Sehun terakhir kali sebelum dia diculik waktu itu benar- benar menyakiti hatinya, kata-kata Sehun waktu marah memang kasar. tetapi lelaki itu telah meminta maaf kepadanya dan menjelaskan sebab kemarahannya.

Sehun cemburu.

Luhan tidak bisa menahan senyumnya memikirkan bahwa Sehun, lelaki sempurna itu cemburu kepadanya.

"Sepertinya kalian sangat asyik."

Lelaki yang dibayangkannya itu, Sehun, tiba-tiba sudah muncul di ambang pintu. Seperti biasa penampilannya tampan dengan rambut basah sehabis keramas. Sepertinya dia baru saja mandi.

Luhan tersenyum, menyadari bahwa Sehun rela mengubah pola tidurnya yang biasa untuk menjemput Luhan. Yah siapa yang bisa lupa bahwa Sehun selalu bersikeras bekerja sepanjang malam dan beranjak tidur ketika menjelang pagi lalu bangun di sore hari?

Hari ini jam sepuluh pagi dan Sehun sudah rapi berada di sini untuk menjemputnya. Sehun melangkah masuk, mengangkat alisnya ketika menatap Kai.

"Kenapa kau ada di sini Kai?" suaranya terdengar curiga.

Kai tersenyum jahil. "Aku berencana untuk menculik Luhan sebelum kau ambil."

Seketika itu juga, Sehun dengan defensif berdiri di depan Luhan yang masih duduk di tepi ranjang, seolah ingin menghalangi pandangan Kai kepada Luhan. "Kau harus menghadapi aku dulu." gumamnya tenang.

Kai terkekeh, geli melihat tingkah posesif Sehun kepada Luhan. "Kau bisa tenang Sehun, aku bercanda. Mana mungkin aku menculik Luhan, dia tidak akan mau mengikutiku karena dia sedang menunggumu."

Sehun tidak bisa menahan senyumnya, dia menoleh ke arah Luhan yang menatapnya malu-malu dan tersenyum, "Benarkah? kau menungguku?"

Luhan sendiri hanya tersenyum malu, bingung hendak menjawab apa, sementara Kai tampak tidak tahan dengan sikap malu-malu Luhan di bawah tatapan mata tajam Sehun, dia langsung menceletuk dengan nada menahan tawa.

"Tentu saja Luhan menunggumu Sehun, kau kan berjanji akan menjemputnya keluar dari rumah sakit."

"Aku terlambat, aku sedikit kesiangan. Maafkan aku." Sehun menatap Luhan dengan pandangan meminta maaf. Dan Luhan menganggukkan kepalanya, tersenyum penuh pengertian.

"Aku mengerti, Sehun."

Sekali lagi, Kai tampaknya tidak tahan untuk berkomentar, "Kau harus sedikit galak kepada Sehun, Luhan. Kalau tidak dia akan menindasmu." gumamnya dan langsung mendapatkan tatapan mata galak oleh Sehun.

"Bisakah kau pergi Kai? aku ingin berbicara empat mata dengan Luhan."

Sehun seperti biasa melakukan pengusiran terang-terangan kepada sahabatnya itu. Untunglah Kai sudah biasa dengan sikap Sehun hingga sama sekali tidak merasa tersinggung, dia malahan tersenyum lebar, menatap pasangan di depannya dengan pandangan menggoda.

"Oh Well baiklah, aku akan pergi. Jangan lupa Luhan, sekali-kali sedikit galaklah kepada Sehun." Gumam Kai sambil terkekeh geli, melangkah ke luar ruangan, meninggalkan Sehun dan Luhan hanya berdua saja.

Lama Sehun hanya menatap Luhan, dia lalu duduk di tepi ranjang, di sebelah Luhan. Aroma parfumnya yang menyenangkan menyentuh hidung Luhan, dan tiba-tiba saja jantungnya berdebar. Sehun terasa begitu dekat. Dan sekarang lelaki itu menatapnya dengan pandangan intens.

"Bagaimana keadaanmu?" Sehun bergumam lembut, menatap Luhan yang masih menunduk salah tingkah.

"Aku sudah baikan. Tidak ada bagian tubuhku yang terluka kok."

"Aku berjanji ayahku yang brengsek itu tidak akan bisa mengganggumu lagi."

Mata Sehun menyala, tampak geram ketika membicarakan tentang ayahnya. Tetapi mata itu berubah penuh kasih sayang ketika menatap Luhan. Lengannya bergerak, semula agak ragu, tetapi kemudian dia merangkul Luhan ke dalam pelukannya dengan sebelah lengannya, menyandarkan kepala Luhan ke dadanya dan memeluknya erat.

"Aku senang kau baik-baik saja, Luhan."

Sehun tidak pernah selembut itu kepadanya. Mungkin karena sekarang lelaki itu menyadari perasaannya kepada Luhan dan sudah tidak mencoba menyangkalnya lagi?

Lelaki itu sudah menyatakan cinta kepada Luhan, meskipun rasanya Luhan masih tak percaya. Dicintai oleh lelaki seperti Sehun... mimpi. Tetapi sekarang dia tidak sedang bermimpi bukan? Sekarang Sehun memeluknya erat, sepenuh hatinya.

Tiba-tiba muncul keberanian di hati Luhan. Dia merangkulkan sebelah lengannya ke punggung Sehun, dan sebelah lengannya lagi melingkari dada Sehun, setengah memeluk lelaki itu dari samping.

"Terimakasih Sehun." gumamnya lembut, berbisik pelan dengan pipi merona merah, malu akan keberaniannya sendiri memeluk tubuh Sehun yang harum beraroma maskulin itu.

Sejenak Sehun tampak tertegun, membeku, seolah tidak menyangka bahwa Luhan akan balas memeluknya. Tetapi sedetik kemudian, lelaki itu merangkulkan sebelah lengannya yang lain ke tubuh Luhan, setengah mengangkat Luhan ke pangkuannya dan memeluknya erat-erat.

"Jangan berterimakasih kepadaku. Akulah yang harusnya berterimakasih kepadamu, sayang." Sehun menenggelamkan kepalanya di rambut Luhan yang harum, "Hidupku dulu hampa, aku menjalani hidup dengan penuh kebencian dan rasa pahit, tidak mensyukuri semua yang telah kumiliki. Lalu kau datang, kau membuat hidupku berarti, membuatku bersyukur masih bisa membuka mata dan menghirup napasku setiap hari, masih bisa bersyukur karena aku bisa memilikimu, perempuan polos yang begitu manis, begitu baik hati, bahkan setelah perlakuan kasarku kepadamu."

Luhan mendongakkan kepalanya, menatap Sehun. Lelaki itu rupanya masih menyimpan rasa bersalah atas kata-kata kasarnya kepada Luhan di pertengkaran mereka waktu itu.

"Aku sudah memaafkanmu." bisiknya tulus.

Sehun tersenyum, tidak bisa menahan diri untuk mengecup pucuk hidung Luhan, dan kemudian menenggelamkan perempuan mungil itu ke dalam pelukannya lagi.

"Tentu saja kau sudah memaafkanku, dasar kau perempuan berhati baik." Bisiknya dengan penuh emosi, "Aku akan menikahimu Luhan, aku akan mengurus dan menjagamu, kau tidak akan sendirian lagi di dunia ini,begitupun aku, kita saling memiliki, kau dan aku akan selalu bersama."

Ucapan itu bagaikan sebuah janji. Diucapkan oleh seorang lelaki yang mencintai.

.

.

.

.

Pesta pernikahan berlangsung sederhana, hanya teman-teman dekat Sehun yang datang, serta beberapa rekan kerjanya dan koleganya. Pesta itu diadakan di ballrom sebuah hotel berbintang di pusat kota.

Luhan berkali-kali mencuri pandang ke arah Sehun yang tampak begitu tampan dengan setelan jas hitam dan dasinya yang rapi. Sang pengantin lelaki begitu tampan. Luhan mengawasi Sehun dan merasakan jantungnya berdebar.

Suaminya.

Dia masih tidak percaya bahwa sekarang dirinya dan Sehun adalah sepasang suami isteri.

Matanya melirik ke arah cincin emas putih dengan berlian mungil yang elegan di jari manisnya, tanda bahwa dia terikat dengan Sehun. Lelaki itu mengenakan cincin perkawinan juga di jari manisnya, dengan versi yang lebih maskulin tentu saja. Dan setiap melihat kilatan cincin di jari manis Sehun, Luhan merasakan perasaan hangat menjalari dadanya.

Mereka sekarang adalah pasangan, saling memiliki. Luhan tidak sebatang kara lagi di dunia ini. Dia memiliki Sehun, suaminya yang akan selalu menjaganya.

Tiba-tiba mata Luhan terasa panas. Rasa haru yang luar biasa menyesaki dadanya. Membuatnya ingin menangis keras-keras. Oh tentu saja ini bukan tangisan kesedihan, ini tangisan kebahagiaan.

Di pesta yang indah ini, Luhan memang tidak mempunyai ayah, ibu ataupun keluarga lain yang ikut merayakan bersamanya. Pun demikian adanya dengan Sehun. Tetapi mereka bahagia, mereka memiliki satu sama lain dan tetap berbahagia.

Luhan percaya pada akhirnya mereka akan membentuk keluarga baru mereka sendiri, keluarga besar, seperti yang dikatakan Sehun kepadanya semalam, dengan banyak anak laki-laki dan perempuan yang memenuhi rumah besar mereka nanti.

"Jangan menangis."

Suara Kai terdengar di belakangnya, membuat Luhan menoleh, lalu tersenyum malu dan mengusap air matanya.

Kai mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, lelaki ini juga tampak tampan dengan setelan jasnya, dia menjadi pendamping pengantin pria, sementara Xiumin menjadi pendamping pengantin wanita, Xiumin juga tampak cantik dengan gaun warna peachnya, orang yang tidak mengenalnya tidak akan tahu bahwa Xiumin bukanlah perempuan asli.

Dengan lembut Kai mengusap air mata di sudut mata Luhan dengan saputangannya,

"Pengantin yang cantik tidak boleh menangis, nanti riasanmu rusak." Lelaki itu tersenyum, "Kau cantik sekali Luhan, dan Sehun terlihat sangat bahagia. Kalian tampak begitu cocok satu sama lain."

Tiba-tiba Luhan merasa begitu terharu, sekuat tenaga dia menahan air matanya supaya tidak mengalir lagi, "Terimakasih, Kai."

"Sama-sama Luhan, aku mendoakan kebahagiaanmu." Kai mengangkat bahunya, "Kalian orang-orang yang beruntung, bisa menemukan belahan jiwanya dan bersatu, seandainya saja aku seberuntung kalian."

"Kau pasti akan mengalami keberuntungan itu suatu saat nanti." Tiba-tiba Luhan menggenggamkan buket bunganya ke tangan Kai, "Ini buket bungaku untukmu."

Kai terkekeh, tetapi dia menerima bunga itu. "Ini kan biasanya untuk perempuan lajang, aku yakin banyak perempuan lajang menanti untuk mendapatkan bunga ini jika dilempar."

Luhan tertawa, "Aku rasa kau lebih membutuhkannya, Kai."

"Hmm kalau memang kutukan bunga pengantin ini benar, berarti aku akan segera menyusul kalian."

"Itu bukan kutukan, Kai. Itu sebuah berkat." Luhan langsung mengoreksi, membuat Kai mengedipkan sebelah matanya sambil tertawa,

"Terimakasih atas bunganya. Kurasa aku harus segera pergi, ada pengantin pria yang datang dan memelototiku."

Dengan gaya elegan dan menggoda, Kai membungkukkan tubuhnya, lalu berbalik pergi, membawa bunga itu di tangannya sambil bersiul pelan.

"Kau memberikan bunga pengantinmu untuknya?"

Sehun tiba-tiba muncul di belakang Luhan, menatap ke arah kepergian Kai.

Luhan mendongak, menoleh ke belakang dan tersenyum lembut. "Aku rasa Kai lebih membutuhkannya dibandingkan dengan perempuan-perempuan yang ada di sini."

Sehun terkekeh, "Ya. Mungkin dengan begitu dia bisa berhenti untuk semakin memperkuat reputasinya sebagai penghancur perempuan." Mata Sehun menatap Luhan dengan tajam, "Tetapi dia sangat baik kepadamu, membuatku sedikit cemburu."

Dengan malu Luhan memukul sebelah lengan Sehun, "Dia menganggapku seperti adiknya."

Sehun terkekeh, menarik Luhan ke dalam pelukannya, "Ya. Aku tahu. Kurasa kau harus terbiasa, Luhan, aku akan mencemburui semua lelaki, siapapun yang berani melirikmu akan membuatku merasa cemburu, tak terkecuali."

"Tidak ada yang akan melirikku." Luhan menyahut, menenggelamkan wajahnya ke dada Sehun.

Sehun menarik bahu Luhan, membuat Luhan berhadapan dengannya, Isterinya. Pengantinnya. Perempuan itu tampak begitu cantik dalam balutan gaun putih yang mengembang indah di pinggangnya. Rambut Luhan terurai sempurna, membingkai wajahnya, dengan riasan sederhana yang membuat wajah polosnya semakin cemerlang.

"Kau cantik, Luhan. Kau sempurna untukku. Apakah kau tidak tahu betapa takutnya aku kehilanganmu? Bersamamu, menjadi suamimu adalah kebahagiaan yang sempurna untukku." Sehun menunduk, mengecup pucuk hidung Luhan, "Sekarang maukah kau berdansa denganku, pengantinku?"

Luhan mengangguk, membiarkan Sehun menggenggam tangannya dan membawanya ke lantai dansa. Mereka menyatu di tengah lantai dansa, dengan lengan-lengan kuat Sehun memeluk pinggangnya dengan posesif.

Mereka berada di tengah pasangan lain yang berdansa, tetapi bagi Sehun dan Luhan, sekarang hanya ada mereka berdua, menikmati kebahagiaan langkah baru dalam hubungan mereka.

Pernikahan bukanlah tujuan akhir dari sebuah hubungan percintaan. Pernikahan adalah sebuah awal, awal diamana dua anak manusia merengkuh janji untuk menjalani hidup bersama. Dua yang menjadi satu, satu yang terdiri dari dua. Itulah mereka sekarang. Luhan tidak tahu akan menjadi apa Sehun nanti. Tetapi yang dia tahu, mereka akan menjadi kuat bersama ke depannya, karena mereka akan selalu bergenggaman tangan.

.

.

.

.

Kai melepas kaca mata hitamnya, menyadari beberapa perempuan menoleh dua kali setiap berpapasan dengannya. Dia sudah biasa menerima tatapan mata seperti itu, tatapan mata kagum dan terpesona perempuan-perempuan itu kepadanya.

Langkahnya terhenti ketika melihat Sehun dan Luhan. Sehun seperti biasa, tampak merangkul pinggang Luhan dengan posesif seolah-olah ingin melindunginya dari hiruk pikuk keramaian bandara.

Luhanlah yang pertama melihatnya dan langsung melambaikan tangannya dengan bersemangat, membuat Kai tersenyum dan mempercepat langkahnya mendekati pasangan itu.

"Kalian hanya membawa dua tas itu?" Kai melirik dua buah koper yang ada di dekat kaki Sehun.

Ya. Sehun dan Luhan akan menetap permanen di Australia, kebetulan Sehun menerima pekerjaan di sana, dan dia juga memiliki investasi di perusahaan yang cukup besar di sana. Mereka berdua memutuskan untuk memulai kehidupan baru di tempat yang benar-benar baru, mencoba membangun keluarga kembali dari awal.

"Barang-barang yang lain akan dikirimkan melalui jasa pengiriman. Lagipula aku tidak membawa banyak barang, kami bisa membelinya nanti di sana berikut perabotan untuk mengisi rumah kami di sana." Sehun tersenyum, menatap Kai penuh arti. "Bagaimana rasanya menempati apartemen barumu? kuharap kau kerasan."

Kai memang telah membeli apartemen yang dulunya milik Sehun segera setelah Sehun memutuskan untuk pindah ke australia dan menetap di sana. Dia merasa nyaman di apartemen itu, sekaligus dengan pindah ke tempatnya sendiri, dia bisa menghindari mamanya yang terus menerus berusaha menjodohkannya dan memaksanya untuk segera mengakhiri masa lajangnya dan mencari pendamping hidup.

"Aku senang di sana." Kai tersenyum lebar hingga barisan deretan giginya yang rapi terlihat, "Banyak kenangan manis yang tertinggal di sana." Matanya melembut, menoleh ke arah Sehun dan Luhan berganti-ganti. Pada saat yang sama panggilan untuk keberangkatan penerbangan terdengar,

"Hati-hati ya. Aku pasti akan sangat merindukan kalian berdua."

"Kami juga akan merindukanmu, Kai. Mampirlah ke Australia kapanpun kau sempat."

Luhan menyahut lembut, matanya tampak berkaca-kaca, dan Kai memeluk perempuan itu dengan sayang, seperti memeluk adiknya sendiri

"Pasti." Kai mengecup puncak kepala Luhan, lalu menoleh ke arah Sehun, "Aku yakin kalian akan berbahagia."

"Terimakasih Kai." Sehun menyalami Kai, mereka berpelukan sejenak, dan Sehun menepuk pundak Kai dengan menggoda, "Aku harap kau akan menemukan tempat berlabuh, sama seperti diriku."

Kata-kata itu membuat Kai tersenyum skeptis, "Itu mungkin masih akan lama sekali." gumamnya.

Sehun tertawa, "Yah. Siapa yang tahu? Mungkin saja jodohmu ada di sekitar sini hanya saja kau belum mengetahuinya." Lelaki itu mengamit jemari Luhan, "Ayo sayang, kita harus masuk sekarang."

Luhan mengangguk, sekali lagi menatap lembut ke arah Kai. "Sampai jumpa lagi Kai."

Kai melambaikan tangannya, menatap pasangan itu yang mulai melangkah menjauh, "Sampai jumpa lagi." jawabnya lembut.

Luhan dan Sehun memasuki gate penerbangan, bergandengan tangan.

"Terimakasih karena mau mengikutiku ke Australia." gumam Sehun sambil merangkul Luhan ke dalam pelukannya, "Aku tahu mungkin ini sedikit berat untukmu, meninggalkan semua kehidupan yang biasa kau jalani untuk pindah ke negara baru yang sama sekali asing."

Luhan tersenyum. "Aku tidak punya siapa-siapa yang kutinggalkan di sini, Sehun. Aku hanya punya kau. dan aku isterimu, aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi."

"Kemanapun?" mata Sehun tampak menggoda.

Luhan langsung mengangguk mantap. "Kemanapun."

Sehun membungkuk, mendekatkan bibirnya ke telinga Luhan dan berbisik dengan sensual. "Saat ini, aku memikirkan untuk pergi ke tempat manapun yang menyediakan ranjang."

Pipi Luhan langsung memerah, spontan memukul lengan Sehun. "Sehun!" gumamnya memperingatkan, memandang ke sekeliling takut kalau ada orang yang mendengar godaan sensual Sehun kepadanya tadi.

Sementara itu Sehun tertawa melihat pipi Luhan yang semerah kepinting rebus. Diraihnya kembali isterinya ke dalam pelukannya, ketika dia berbisik, suaranya serak penuh perasaan.

"Aku bahagia bersamamu, Luhan. Kuharap kau merasakan hal yang sama."

Luhan membalas pelukan suaminya matanya berbinar penuh kebahagiaan, "Akupun demikian adanya, Sehun."

Dan beginilah akhirnya, dua manusia yang berasal dari dua dunia berbeda, dua manusia yang seharusnya tidak pernah bersua, ternyata bersimpangan jalan dan saling terkait. Pada akhirnya mereka berdua menyatu, terikat oleh cinta, berlabuh di dalam janji pernikahan.

.

.

.

.

.

.

Klik next untuk chapter tambahan