Moshi-moshi minna-san…… Kembali lagi bersama Nina. Wah, udah chapter 5 nih.. tapi masih belom selesai. Aku harus kerja keras untuk menyelesaikannya cerita yang panjang ini hikz...hikz.... Dibantu do'a ya biar cepet selesai -ngareph!-

Penderitaan Itachi

Author : Hitsugaya Nina

Itachi berjalan tak tentu arah, apa yang ia inginkan?. Gelap. Semua begitu gelap. Terasa asing. Apa yang terjadi?. Itachi tidak tau. Ia sedang bermimpi. Mimpi yang aneh. Sangat aneh. Sangat menakutkan walaupun ia sudah terbangun.

"Aduh.. perutku kok tiba-tiba lapar ya??" gumam Itachi sambil menggeliat-geliat di tempat tidur. Ia merasakan dan mendengar bunyi aneh yang berasal dari perutnya.

"Ya... amplop! tengah malam begini kok aku lapar sih?" gumamnya lagi. Dengan segera Itachi bangkit dari tempat tidur. Ia melihat Sasuke terlelap disisinya.

"Sasuke kalau sedang tidur manis juga ya" gumam Itachi memperhatikan Sasuke sejenak. Tanpa sadar Itachi mengecup kening Sasuke dan berjalan ke arah dapur. Ruangan itu gelap gulita. Itachi meraba-raba dinding untuk mencari stop kontak. Setelah ruangan itu terang benderang, Itachi membuka kulkas dan kecewa.

"Kok kosong sih??" gumam Itachi sambil mendesah. Dipegangnya perutnya yang kempis. Lapar,minta diisi.

"Terpaksa aku harus mencari makanan di luar" uajr Itachi. Ia segera kembali ke kamar untuk mengambil uang dan menatap kembali adiknya.

"Sas, aku pergi sebentar ya. Aku tak tega membangunkanmu" kata Itachi. Setelah mematikan lampu kamar, Itachi berjalan ke arah pintu dan membukanya. Hembusan angin malam menyeruak kedalam ruangan kecil itu dan membuat Itachi menggigil.

"Dingin banget sih!" gumamnya. Ia keluar rumah dan mengunci pintu rumahnya. Diluar rumah, suasana malam begitu sunyi. Bahkan suara kodok atau jangkrik pun tak terdengar. Hal itu membuat Itachi bergidik. Bulu kuduknya meremang.

"Aduh... serem banget" gumamnya. Terpaksa ia keluar malam-malam untuk memenuhi permintaan perutnya yang tak bisa ditolerir. Tujuannya saat ini adalah tukang nasi goreng yang ada di ujung jalan. Itachi udah biasa beli disana karena masakannya enak, tapi nggak pernah selarut ini. Itachi mempercepat langkahnya karena mendengar sesuatu dari arah semak-semak.

"Tenang Itachi... bukan apa-apa. Itu bukan apa-apa" gumamnya menenangkan dirinya. Detak jantungnya berpacu cepat. Kembali Itachi mengelus-elus dadanya agar tenang.

Guk....Guk....Guk...

Deg!!

"Suara apa itu?" gumam Itachi. Ia menoleh kekanan dan kekiri. Kedepan dan kebelakang untuk mencari sumber suara. Hasilnya nihil.

Guk....Guk...Guk....

Lagi. Suara itu memecah keheningan malam. Itachi semakin penasaran, dari mana suara itu berasal. Itachi mempertajam pendengarannya, kalau-kalau suara itu datang lagi.

Hening.....

Guk...Guk...Guk...

"Aku tau!" seru Itachi pada dirinya sendiri.

Itachi menoleh ke samping kanannya yang notabene adalah semak-semak liar. Nalurinya mengatakan ada sesuatu, tapi Itachi nggak sadar kalau suara yang di dengarnya itu suara anjing. Sejenak ia ragu, apa perlu ia mencari sumber suara itu. Tapi dimantapkan hatinya untuk mencari sumber suara itu. Itachi berjalan mendekat.

Tiba-tiba, sekelebat bayangan muncul dari balik semak-semak. Bayangan itu menerkam Itachi yang kaget setengah mati. Itachi nggak sempat berpikir makhluk apa yang menerkamnya saat itu.

Matanya membelalak melihat makhluk itu. Seekor anjing besar hitam berdiri di atas tubuhnya, berusaha mencelakainya.

Secepat kilat Itachi berusaha melepaskan cengkraman anjing besar itu sekuat tenaga dan berhasil. Setelah bergulat dan berguling-guling di tanah, akhirnya cengkraman anjing besar hitam itu lepas dari pundaknya dan menyisakan bekas cakaran yang dalam di bahunya. Baju Itachi robek parah si bagian bahu. Tak dihiraukan rasa perih dan sakit dibahunya. Mata Itachi sempat berkunang-kunang sejenak karena pusing . Ia membelalakkan matanya setelah melihat dirinya berhadapan dengan apa.

Anjing besar itu menggeram marah karena nggak berhasil melumpuhkan Itachi dalam sekali terkam. Itachi kaget karena ukuran anjing itu nggak biasa. Tingginya hampir setinggi dirinya dan besarnya dua kali lipat besar badannya. Dan yang paling menyeramkan, matanya. matanya yang merah menatap garang ke arah Itachi. Giginya yang kokoh dan panjang tak tampak seperti anjing melainkan seperti serigala buas yang haus darah.

Dan yang membuat Itachi lebih kaget lagi, ternyata anjing itu nggak sendirian. Mereka bergerombol membentuk kawanan. Dan yang terlihat di tengah adalah pemimpin mereka.

Tubuh Itachi kaku tak bergerak, menatap ngeri sesuatu yang ada dihadapannya. Tapi ia tidak boleh menyerah, ia tidak boleh mati disini. Sasuke masih membutuhkan dirinya, masih ada orang tua yang menginginkannya dan teman-teman yang butuh dukungannya. Itachi optimis bisa menghadapi maslah ini.

Kawanan di depan Itachi tidak bergerak sedikitpun, menunggu komando dari pemimpin mereka. Tapi tatapan membunuh mereka masih memancar penuh nafsu.

Tanpa menunggu aba-aba, Itachi yang saat itu masih diam terduduk perlahan mundur tanpa melepaskan pandangan pada kawanan itu. Sangat pelan bahkan tak menimbulkan suara sedikitpun. Itachi berusaha agar kawanan itu tetap tenang dan tidak menyearng dirinya.

Sejalan dengan mundurnya Itachi, jawanan itu juga bergerak maju, perlahan-lahan juga. Dengan secepat kilat, Itachi berbalik, mengambil ancang-ancang untuk lari, dan berlari sekuat tenaga tanpa menoleh lagi. Kawanan dibelakangnya juga ikut lari bersama Itachi, mereka berusaha mengejar buruannya yang kabur.

Geraman dan lolongan panjang membahana di malam yang sangat sunyi itu. Itachi berlari semakin cepat, berusaha menghindar dari kawanan anjing buas itu. Tapi karena yang dihadapi Itachi itu bukan sembarang anjing, Itachi tidak sanggup lari melampaui mereka. Kawanan itu dengan mudah menjajari langkah Itachi dan menerkamnya dari belakang.

Itachi berusaha lari setelah usahanya terhenti. Tapi tidak berhasil. Cengkraman di punggung Itachi itu sangat kuat sehingga Itachi tidak bisa bergerak. Dalam keadaan yang terdesak itu, Itachi berusaha menghitung berapa jumlah anjing yang mengejarnya.

'2, bukan lebih banyak lagi. 5, bukan. 10, ya. Lebih tepatnya 11 dengan yang menerkamnya saat ini' batinnya.

'Banyak sekali anjingnya' batinya lagi. Pundaknya terasa panas, beban yang ada dipunggungnya makin terasa berat.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang" gumam Itachi bingung. Ia celingukan mencari benda apa yang kira-kira bisa menolongnya. Hasilnya sia-sia.

Sepertinya komandan merekalah yang menerkamnya saat ini, yang diawal tadi sempat melukai tubuhnya. Anjing-anjing yang ada mengelilinginya sekarang sudah tidak sabar menunggu pemimpinnya memberi perintah. Itachi mulai putus asa. Tidak ada yang bisa menolongnya bahkan orang yang paling dekat dengannya sekalipun.

Sekuat tenaga, Itachi berusaha berontak tapi sia-sia. Cengkraman itu semakin kuat. Tanpa terasa, darah segar mengalir dari punggungnya yang terluka, menyebarkan bau amis yang memualkan.

"Aku sudah tidak sanggup lagi" gumamnya lemah. Kesadarannya sudah mulai memudar. Akhirnya, Itachi menjerit sekuat tenaga untuk meredakan sakit di punggungnya. Dengan napas tersengal, Itachi menatap anjing-anjing yang mulai mendekatinya hingga ia tidak bisa melihat apa-apa lagi selain kegelapan. Kegelapan yang mencekam. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, yang terakhir ia ingat adalah napas hangat yang mulai mengoyak kulitnya.

x x x x x x x x

"Aku dimana?" gumam Itachi setelah sadar dirinya tidak berada di tempat yang sama lagi.

"Apa aku sudah mati? apa aku berada di surga?" gumamnya lagi. Ia memegang kepalanya yang terasa pening. Itachi mulai mengingat bagaimana caranya ia bisa berada di tempat ini. Tapi tidak bisa, ingatannya tentang hal itu kabur.

Akhirnya Itachi menyerah memikirkan hal yang membuatnya pusing. Ia mulai mengamati dirinya. Memandangnya dari ujung kepala sampai kaki. Bersih dan sehat, tidak ada luka, tidak ada darah. Ia bingung pada apa yang dilihatnya. Kemudian pandangannya beralih pada tempat asing ini. Ia merasa tidak pernah mengunjungi tempat ini,mengenalnyapun tidak.

"Aaarrrggghhhh....!!!!!" napasnya terengah-engah meneriakkan kata-kata itu.

"Aku dimana???" teriaknya lagi. Ia terus berteriak sampai ia kelelahan. Karena sudah lelah berteriak, Itachi menjatuhkan tubuhnya, berbaring tidak berdaya dengan napas memburu. Ia mulai memejamkan mata. Terus terpejam sampai ia mendengar suara yang samar-samar. Suara yang sangat familier di telinganya. Suara Sasuke.

x x x x x x

"Aniki, Aniki kenapa? sadarlah Aniki!" suara cemas itu memenuhi pikirannya. Memusingkannya.

"Tidakk..!!!" Itachi terbangun dengan napas tersengal dan keringat mengucur deras dari dahinya. Itachi melihat Sasuke memandangnya cemas.

"Aniki kenapa? mimpi buruk?" tanya Sasuke. Itachi hanya mengangguk.

"Sebentar, aku ambilkan minum" ucap Sasuke. Lagi-lagi Itachi mengangguk setuju. Sasuke segera berlalu dari hadapan Itachi yang masih bungkam.

'Rupanya hanya mimpi' batin Itachi.

"Itu hanya mimpi. Mimpi yang paling buruk" gumamnya lirih. Tak lama kemudian Sasuke datang membawakan air putih dan obat.

"Aniki tadi berteriak-teriak, makanya aku bangun" kata Sasuke menjelaskan. Ia menyodorkan air putih itu pada Itachi.

"Aku mimpi di terkam anjing. Aku pikir aku akan mati" ucap Itachi sambil mengambil gelas yang disodorkan Sasuke dan menyikat habis isinya.

"Mimpi di kejar anjing?" tanya Sasuke bingung.

"Iya, gara-gara kau mengingatkannya" sahut Itachi.

"Maaf, aku tidak bermaksud mengingatkan Aniki tentang itu" sesal Sasuke. Tiba-tiba Itachi limbung.

"Aniki kenapa lagi?" Sasuke segera menyangga kepala Itachi sebelum Itachi jatuh. Wajahnya pucat pasi.

"Aniki demamnya makin tinggi. Aduh gimana dong?" kata Sasuke.

"Tidak apa, aku hanya sedikit pusing" ucap Itachi lemah.

"Tapi Aniki harus segera dibawa ke dokter" kata Sasuke lagi. Ia melirik jam yang ada di dinding. Tepat pukul 1 pagi.

"Aduh, jam segini mana ada klinik yang buka" ujar Sasuke.

Pandangan mata Itachi mulai mengabur. Ia kehilangan kesadarannya. Hanya bisa berucap, "Sasuke..."

"Aniki!! bertahanlah" ujar Ssuke.

"............"

x x x x x x x

-

To Be Continue......

Huahh... chapter yang kelima selesai juga. Nina senang sekali kalain masih setia membaca fic nggak jelas ini. Tapi jangan lupa baca kelanjutanya ya..... Nina juga berhapap kalian mau mereview untuk memperbaiki dan memberi saran yang membangun pada fic ini.

Thankz.......