Plus Anima fanfic phase 2 "Again" chap 2 "Wildflower"

Nana membuka matanya. Ia teringat tadi ia jatuh pingsan di Coliseum, tapi ruangan ini terlihat tidak asing. "te-tempat apa ini?" bisiknya. Tiba-tiba terdengar bunyi pintu terbuka, seorang gadis cantik masuk ke ruangan itu dan menatap ke arah Nana.

"Oh, kau sudah sadar rupanya. Syukurlah hanya pingsan." Ucap gadis itu.

"Husky? Mana Husky?" Nana terkesiap. Lalu pandangannya melayang kepada gadis yang menyapanya tadi. Ia mengenalnya. "Magdra?"

Kembali ke penginapan, Cooro sedang mengepel lantai sementara Senri sibuk memasak di dapur, dan Franny duduk di meja penerima tamu. Franny berandai-andai sebentar lalu melihat kepada Cooro, "Cooro tidak capek?" tanyanya khawatir. Cooro sudah mengepel semua ruangan di lantai dasar dengan hanya menggunakan kain pel, dan ia harus bolak-balik menimba air dari sumur, jelas saja Franny khawatir.

"Fiuh, tidak apa-apa kok." Jawab Cooro sambil menghela napas.

"Sudah, Cooro istirahat dulu."

"Ya baiklah." Lalu Cooro beranjak ke kamarnya. Beberapa saat kemudian, Franny datang membawakan kue dan jus apel.

"Siang, Cooro!" sapanya.

"Eh? Franny?" Cooro terkejut dan langsung merapikan barang-barang. Kamar itu berantakan karena Husky dan Nana bertengkar sebelum akhirnya mereka pergi keluar.

"Sini, aku bantu." Franny lalu meletakkan baki yang dibawanya diatas meja dan membantu Cooro. Dia berlutut dan memunguti benda-benda. Cooro memperhatikannya. Tangannya meraba benda di lantai, lalu memungutnya.

"Mata Franny masih sakit, ya?" tanya Cooro. Namun Franny hanya mengangguk sambil sedikit menundukkan kepalanya. Cooro baru menyadarinya karena rambut Franny sudah diaturnya sedemikian rupa agar cacat matanya tidak terlalu terlihat oleh orang lain. Cooro mendekat kepadanya dan menyibak poninya. 'benar, matanya masih begitu.' Ucapnya dalam hati sambil saling beradu pandang dengan Franny. Terdiam sesaat. Wajah Franny memerah, ia menunduk dan merapikan poninya lagi. "Rambut Franny panjang ya!" kata Cooro dengan tersenyum, mencairkan suasana. Franny hanya tersenyum simpul.

Sementara itu di Arena Coliseum, 'Tuan Albert' dan 'Si Babi Hutan' masih saling membantai. Tuan Albert hanya menggunakan satu bilah pedang Tsurugi (pedang pendek dan tipis khas Jepang), sedangkan lawannya adalah orang berbadan besar yang menggunakan dua bilah Scimitar (semacam golok, tapi lebih besar ukurannya). Walaupun ia sangat mahir menggunakan pedang, akan tetapi karena perbandingan yang kurang adil, maka habislah dia. Dia terpojok. Tiba-tiba ia mengeluarkan sebilah parang dari saku kiri celananya. Bukan, itu bukan parang tetapi pisau dapur. Entah apa, namun terlihat seperti pisau dapur yang sudah karatan. Ia melempar pisau itu dan tepat mengenai bahu kanan Si Babi Hutan yang sedang mengacungkan pedangnya dengan angkuh. Lawannya itu meringis kesakitan. 'aku…menang!' ujarnya dalam benaknya. Sesaat kemudian ia bangkit dan berencana melakukan serangan dadakan dari arah samping, akan tetapi Si Babi Hutan seketika mencabut pisau di bahunya itu, melemparnya ke tempat Tuan Albert berpijak (tanpa mengenai kakinya) sambil tertawa mengejek. Sedang bersandiwarakah ia sesaat lalu? Karena terkejut dan berusaha mengelak dari lemparan pisau tadi, Tuan Albert jatuh tersungkur. Merebah dengan punggung menempel pada tanah. Ia dinyatakan kalah.

"Tuan Albert telah kalah dalam pertarungan ini! Pemenangnya adalah… Si Babi Hutan!"

Dari celah jendela di bangunan Coliseum, Nana dan Magdra menyaksikannya. Nana memegang kepalanya dengan kedua tangannya, seperti yang selalu ia lakukan ketika teringat akan saat ketika menjadi +Anima. Apakah hal ini mengingatkan ia akan sesuatu yang ada hubungannya dengan itu? Ia juga samar melihat Husky yang berada di antara kerumunan penonton lain di Arena.

"Hari ini spesial! Penonton boleh menantang pemenang!"

Nana juga mendengar suara sang 'juru lapor' Coliseum. Tiba-tiba pria langsing berambut perak yang samar dalam pandangannya itu bangkit. Awalnya Nana berpikir Husky mau menjenguknya atau mau pergi ke belakang, namun itu semua salah.

"Aku." Husky mengajukan diri sambil berdiri tegap dibelakang tongkatnya. "Aku akan menantang Si Babi Hutan!" Nana tercengang dan mendongakkan kepalanya seakan tidak percaya.

Senri beristirahat sebentar. Ia bersantai dan melakukan hobinya, membolak-balik halaman buku kecilnya, memandangi bunga-bunga kecilnya sambil mengingat semua orang yang pernah ditemuinya. Lalu dalam satu halaman ia memandangi bunga Rhododendron berwarna putih yang lucu. Bunga liar yang umum (walaupun tidak jarang tetapi menurut Senri itu adalah sebuah memorial), yang dipetiknya dari pekarangan rumah Paman Harden. Ia teringat ketika itu.

Sudah beberapa hari ini kesehatan Nyonya Harden memburuk, terus memburuk. Walaupun ia adalah wanita yang bersemangat, tetap saja ia dapat terkena penyakit. Paman Harden dan lainnya sudah menyuruhnya beristirahat, "iya, aku saja yang kerjakan~!" rayu Nana agar Nyonya Harden mau mengistirahatkan diri dan pikirannya.

"Tidak, pekerjaan suamiku justru lebih berat, tidak usah terlalu mengkhawatirkanku. Nana juga, apa Nana sanggup menggantikanku menjahit ini semua?" katanya membantah suaminya dan keempat malaikat tanpa dosa yang mengelilinginya seperti anak-anak balita.

Beberapa hari kemudian.

"Aku sayang padamu…" ucap Paman Harden lirih sambil memegang tangan istrinya yang terbaring lemah. Wanita itu tersenyum damai, "Harden, aku mencintaimu." Bisiknya lembut sambil mengusap air mata suaminya. "aku tidak akan pergi Harden, aku tidak akan beranjak sebelum kalian melepasku dengan rela dan ikhlas." Senri menunduk lesu, Cooro dan Nana terisak sambil menempel pada Husky, sedangkan Husky berekspresi datar, namun sedih, sedih sekali. Nyonya Harden memejamkan matanya dan berdoa lalu memandang suaminya dan anak-anak itu, memaparkan senyum terindahnya untuk terakhir kali. Ia terbaring dalam damai untuk selamanya. Paman Harden tak bisa menahan perihnya, ia menangis dan memeluknya. Senri masih menunduk, ia menunduk lebih dalam, mungkin ia menangis. Cooro mengusap tangannya ke dahinya dan kedua pundaknya, Nana menangis meraung dan memeluk Husky, Husky juga tidak bisa menahan air matanya. Duka. Suasana duka di hari itu.

Setelah peristiwa hari itu, Paman Harden menyibukkan dirinya dengan terus menempa; pernah suatu hari ia menghabiskan satu harinya hanya di tempat peleburan logam. Ia terus menyalahkan dirinya. Akhirnya Cooro dan Husky sepakat meminta ijin pada Paman Harden untuk kembali berkelana. Mereka juga mengharapkan Paman Harden dapat menstabilkan keadaan emosinya seperti semula, mereka tidak mau mengganggunya lebih lama lagi. Walaupun Nana tidak setuju pada awalnya, tapi karena bujukan Cooro, Husky dan Senri juga akhirnya mereka berempat kembali berkelana. Apakah mereka memang ditakdirkan untuk terus mengembara?

Senri terkenang. Ia merenung lalu membalik halaman selanjutnya, sekuntum Rosaecae merah yang indah, liar, memang sekuntum bunga liar yang indah. Rose. Dialah pemilik memorial itu. Pertama kali mereka bertemu yaitu di tebing yang terjal di daerah gurun. Gadis +Anima harimau yang agak tomboy itu adalah seorang pedagang. Senri terkenang lagi, namun tiba-tiba ia mendengar suara rekannya yang berteriak minta tolong diselingi geraman harimau. Harimau? Dari mana datangnya? Tanpa pikir panjang, Senri menyimpan buku kecilnya dan sekejap mengeluarkan cakar beruangnya.