With you 4

Yey~ chep 4 kluar sudah ~

:D

Aduh senangnya..

Sebentar lagi, penpik-penpik ga penting Beo uda pada mao selese..

Terharu..

*ngapus aerr mata kodok.

Hahahahha.. ok..

Berhubung Beonya lagi ga mau banyak omong, hayo kita intip CHAP 4 !

xD

yey ! yuuhuuu~~~

here we goooo~~~~~~

--------------- =_=" ----------------------

Disclaimer : Beo selalu memimpikan untuk memiliki Naruto.. namun, takdir berkata lain.. MASASHI KISHIMOTO-LAH pemilik Naruto!

Warning : OOC, LEMON, LIME, YAOI ! ga suka Yaoi, klik Back, please~

Rate : T yang sudah berenkarnasi jadi M

Genre : Romance, Comedy, Drama.

--------------- =_=" ----------------------

============================= =_=" =========

CHAP 4

============================= =_="=========

== (-_-") ==

Sai POV

== (-_-") ==

Aku dan Narutopun kembali ke kandang Naruto. Sesampainya di rumah Naruto, ia menarikku ke kamarnya, dan menyuruhku duduk di kasurnya.

"Sai.. unnmm.." Narutopun memulai ceritanya. Aku mendengarkan dengan seksama. Aku ingin tahu.. bagaimana bisa, Narutoku.. Ukeku tercinta bisa masuk ke ciuman si Uchiha berengsek itu.

Ia memberitahuku.. bahwa

Uchiha Sasuke itu adalah teman—mantannya saat dia Sd dulu. Meskipun sekarang dia sudah tidak ingat, tapi, aku yakin.. semua itu fakta. Kenapa ? ada saksi idup, ko.. Dei-kun juga bilang gitu. Mau ga mau, aku harus percaya dengan kenyataan menyakitkan ini..

"begitulah.. Sai.." ucap Naruto sambil mengakhiri ceritanya yang cukup panjang tersebut.

"Oh..begitu.." ucapku dengan santai.

"Kau.. marah ?" tanyanya. Muka innocentnya itu, membuatku gemaass!!

"Yah.. aku marah sama si Uchiha itu. Cih.. bisa-bisanya dia nyium Uke-ku ! cih !" ucapku kesal.

"Maa.. udahlah, Sai.. ya?" pinta Naruto. Aku benar-benar sudah terhipnotis oleh mata biru langitnya itu.

Kutatap lekat-lekat mata biru indah itu, lalu, kugapai pipi kenyal Naruto dengan tangan dinginku, dan ku usap dengan lembut pipinya.

Kulihat wajah Naruto bersemu merah. Dan ia menggenggam tanganku yang berada di pipinya. Kurasakan tangan lembut bin hangat itu.

Hasratku untuk 'menyentuh' Narutopun menghambur keluar. Sungguh.. aku sudah tidak bisa menahan perasaan ini lagi. Kami-sama, tolonglah aku untuk menjaga makhluk mungil ini agar tetap berada di sisiku..

"Naruto." Ucapku singkat sambil mendekatkan bibir dinginku ke bibir hangatnya. Muka Naruto kini semerah buah apel. Imut. Aku ingin terus menyimpan makhluk imut ini untukku seorang.

"Sai.." Naruto menjawab singkat, mata birunya menatap lurus ke mata hitam kelamku.

Aku tersenyum. Dan menempelkan bibirku kepadanya. Naruto mengalungkan lengannya ke leherku untuk memperdalam ciuman kami. Kami melumat satu sama lain. Dunia ini serasa milik kami berdua.. aku udah ga peduli lagi oleh.. siapa itu namanya ? Uchina ? Uchisa ? eh.. Uchiha rambut ayam itu. Masa bodoh dengan dia. Aku ga peduli.

Aku melingkarkan tangannku ke pinggul mungilnya, aku menjilat dengan lembut bibir bawah Naruto, meminta izin untuk memasuki rongga mulutnya. Naruto dengan senang hati membukakan mulutnya untuk lidahku.

Dengan gesit, aku memasukkan lidahku ke mulutnya, menjelajahi seluruh sisi hangat mulutnya, dan menyapu langit-langit mulutnya.

"Mnnhh.. Sai.." erang Naruto setelah langit-langit mulutnya kusentuh.

Setelah puas menjelajahi mulut Naruto, kulepas ciuman itu, aku membiarkan Naruto menghirup udara segar. Ia terengah-engah. Matanya masih terpejam. Akupun tersenyum melihat reaksi kekashiku tersayang itu.

Aku memeluknya dengan lembut, lalu menidurkannya. Naruto menuruti semua tindakanku. Nampaknya.. ia juga mau ? hahaha..

Kukecup dahi Naruto dengan lebut, dan kulihat pipi Naruto bersemu merah, lalu ku bisikkan kata-kata manis di telinganya, lalu ku gigit dan kujilat cuping telinganya dengan lembut.

"Mhhnn.. S..Saihh.. ahhnn"erang Naruto atas semua kegiatanku.

Aku melanjutkkan kegiatan bibirku, aku pindah ke pipinya, dan bergeser ke bibirnya. Ku kecup dengan lembut, lalu kuulangi kegiatan ku tadi, kulumat bibir manis itu dengan penuh nafsu. Tangan bebasku kuselipkan ke baju orange Naruto. Aku meraba-raba dada Naruto. Dan memainkan tonjolan yang sudah sedikit mengeras tersebut.

Akupun melepaskan lagi ciumanku, terlihat saliva yang masih menempel dari mulutku dan mulutnya, yang membentuk seperti benang tipis yang akhirnya putus.

Kubuka baju Naruto perlahan, Narutopun membantu untuk membuka bajuku.

Aku menciumi leher naruto, mencium titik sensitifnya, melumatnya, menggigitnya dengan lembut, dan menjilatnya sehingga terlihat bekas kemerahan di lehernya yang manis itu. Belum puas jika hanya meninggalkan satu kissmark, kuulangi kegiatan tersebut di berbagai titik berbeda. Naruto mengerang. Erangan yang ia keluarkan membuatku semakin bernafsu, sembari aku menciumi lehernya, tanganku mulai mencoba untuk membuka kancing celana panjangnya, dan berusaha untuk menurunkan resleting celana hitamnya.

Setelah sukses membuat celana itu terbuka, kuturunkan celana itu, dan kulempar ke sembarang tempat.

Tanganku bekerja di balik boxer orang Naruto. Aku mulai memain-mainkan 'barang' mungilnya yang sudah menegak dengan sempurna.

"Saii.. aahhnn.. mmmnn…" erang Naruto sambil meremas rambut hitam pendekku.

Setelah puas dengan hasil kerjaku di leher Naruto, mulutku berpindah ke dada naruto. Kujilati dadanya, dan kuciumi dengan lembut tonjolan di dadanya. Serta kugigit dan kulumat dengan lembut tonjolan berwarna pink yang sudah mengeras tersebut.

"Saaii.. ahhnn..mmhhnn.." kembali erangan Naruto keluar.

Aku kembali melanjutkan kegiatanku, menjilati perutnya, mengecup dan menjilat pusarnya, dan terus menjilat ke bagian 'barang'nya.

Aku menciumi pangkal 'barang' Naruto, menjilatnya dengan lembut, dan menciuminya. Setelah puas dengan reaksi Naruto, aku memasukkan sebagian 'barang' Naruto kedalam mulutku. Aku memajumundurkan mulutku perlahan. Tanganku yang bebas, kini memainkan tonjolan di dada Naruto.

"Ahhn..Ahhnmm.. S..Saiihh.. Aaaaahhhnnn" erang Naruto yang diakhiri oleh klimaksnya. Ia menyemburkan cukup banyak cairan di mulutku. Akupun menelannya dengan senang. Kujilat dengan bersih sisa-sisa cairan Naruto yang bertebaran di bibirku.

"Sai.. Hhn.. cukup menggodaku.. masuklah.. kumohon.." pinta Naruto sambil terengah-engah. Cukup manis mukanya saat ini.

"kau yakin, Naru ?" ucapku lembut sambil mengecup dahi Naruto.

"Uumm.." angguk Naruto pelan.

Hatiku berbunga-bunga. Lalu, aku menyuruh Naruto untuk memasukkan jari-jariku ke mulutnya, dan menyuruhnya untuk melumatnya dengan lembut. Dengan nurut, ia melakukan semua yang aku suruh. Ia melumat, menjilat, dan mengigiti jari-jari tanganku yang dingin ini.

Setelah saliva Naruto sudah membasahi jari-jariku, aku mengeluarkan jariku dari mulutnya, dan memasukkan satu jarinya ke dalam liang Naruto.

"Ahh.. ittai.." ucap Naruto sambil menggenggam erat seprai orangenya.

"Sabar sedikit Naruto.. kamu sempit banget soalnya." Ucapku sambil terus memasukkan jari keduaku ke dalam liang Naruto.

Akupun memasukkan jari ketigaku, mulai mencari titik sensitifnya, dan..

"Ahh.. Sai.." erang Naruto ketika 'titik' itu tersentuk oleh Jariku.

Akupun melebarkan liangnya, mengeluarkan kejantananku yang sudah menegak dengan sempurna sedari tadi dari sarangnya, dan menyiapkannya di depan liang Naruto.

Aku mendorong dengan perlahan kejantananku untuk memasuki liang Naruto, aku memperkecil resiko Naruto kesakitan

"I..ittai.." erang Naruto kesakitan.

"Ah.. maaf.." aku memberhentikan dorongan kejantanannku.

"Ah.. iie.. gapapa, sai.. lanjutkan.." ucap Naruto. Mukanya memerah.

Aku tersenyum, dan melanjutkan dorongan ke liang Naruto. Setelah kuyakin seluruh kejantananku telah terhisap di dalam liang Naruto, aku menghentikan kegiatan itu perlahan, membiarkan Naruto untuk menyesuaikan dirinya dengan barang yang ada di dalam dirinya.

"Doo ? boleh bergerak ?" tanyaku

"Uhh.. bergeraklah.." ucap Naruto. Matanya terpejam. Aku kembali tersenyum, menggerakkan pinggulku dengan perlahan, namun dengan tempo yang pas.

Maju mundur

Maju mundur

Semakin lama, aku semakin mempercepat gerakan in-out nya.

"Ahh..Ahhnn.. S..Saaaiihhm…" erang Naruto sambil mencengkrang punggungku.

"Naru..Naru.. ahhmmnn.." akupun tak kuasa menahan eranganku.

"Ahh..ahh.. Sai.. Deeper.. Faster.. hah..hah..Ahhnn" erang Naruto.

"Naru.. Naru.. ahhmmnn" erangku sambil terus mempercepat gerakan in-outku.

Kami terus melanjutkan kegiatan tersebut sampai titik dimana kami mencapai klimaks.

"Ahh.. Sai.. Sai.. aku.. udah mau keluarr.." ucap Naruto.

"Naruto.. aku.. aku juga.." ucapku sambil terus mempertahankan tempoku.

"Ahh.. Saaaaii!!!" teriak Naruto yang diakhiri dengan klimaksnya. Cairan tersebut meluncur keluar kearah dada dan perutku dan Naruto.

"N..Naruto..!!!" teriakku sambil mengeluarkan seluruh cairanku di dalam Naruto.

Setelah mengeluarkan seluruh 'isi' kejantananku, aku mengeluarkannya dari dalam liang Naruto.

Kukecup dahi Naruto yang telah dibasahi oleh keringat.

"Ah.. I love you, Naruto." Bisikku dengan lembut.

"Sai.. yeah.. I love you too.. forever.." ucap Naruto sambil memelukku dengan lembut.

Akupun tersenyum puas. Kubalas pelukan makhluk mungil tersebut. Kutidurkan dia ke dada bidangku. Dan kulihat, dengan cepatnya ia tertidur.

Aku tertawa kecil melihat betapa cepatnya Naruto tertidur.

Akupun juga mulai menyusul Naruto. Dan tertidur.

-- (=_=) --

End of Sai POV

-- (=_=) --

========== (-_-") ===========

"Tadaimaaa!!!" teriak Deidara sambil membuka pintu rumahnya.

"…………………."hening.. tak ada jaawaban dari Naruto maupun Sai.

Jiwa penasaran bin mesum Deidara pun kambuh. Ia berjalan perlahan kearah kamar Naruto. Mendekatkan kupingnya ke pintunya.

"…………….." kembali hening.

"Ko ga ada suara ?" ucap Deidara bingung.

Kecewa dengan hasilnya, Deidara kembali melangkahkan kakinya ke kamarnya, yang bersebelahan dengan kamar Naruto.

Ternyata, jiwa nakal Deidara tidak berhenti sampai diritu. Deidara mengambil kaca kecil, lalu ia ikatkan dengan tali. Setelah itu, ia membuka jendela kamarnya, dan mengarahkan kaca itu kearah kamar Naruto.

Dilihatnya Sai dan Naruto sedang tidur sembari berpelukan. Pikiran-pikiran kotor Deidara langsung melejit di otaknya, lalu Deidara tersenyum mesum.

--------------- =_= -----------------

"Ah.. Ohayou, Naruto.. Sai.." ucap Deidara yang sedang menyiapkan sarapan.

"Ohayou, aniki !" ucap Naruto semangat.

"Ohayou, Dei-kun" ucap Sai singkat.

"Ara.. mesranya. Semalem gimana ? puas udah ?" ucap Deidara sambil tersenyum mesum di balik wajan yang sedang ia pegang

Seketika, wajah Naruto dan Sai memerah. Semerah buah tomat.

"A..ANIKI !! DASAR MESUM !" teriak Naruto sambil menggembungkan pipinya. Mukanya sangat merah

"Ahahahahahahhahahaaa !!" tawa Deidara pecah.

"Dei-kun.. kau pervert !" ucap Sai sambil menutup mukanya yang sudah semerah darah.

"Ahahahahhah.. aduh.. sudahlah.. aku Cuma bercanda.. ah.. ayo makan.." ucap Deidara sambil melipat apronnya.

"A.. Ha'i.." ucap Naruto dan Sai berbarengan.

Sarapan pagi itu diisi dengan canda tawa Deidara, Naruto, dan Sai. Sungguh.. pagi yang indah bagi mereka bertiga.

"Ah.. Sai.. kau pulang lagi ke Suna hari ini ?" Tanya Deidara setelah menyeruput teh.

"Hn ? iya. Semalam udah ditelponin ama dosen.. disuruh balik.. hahaha" ucap Sai tertawa.

"Uaah.. gomen, ne Sai.. gara-gara aku.." ucap Naruto sambil menatap Sai.

"Naru-chan.. bukan salahmu, kok…" ucap Sai sambil mengelus rambut Naruto.

Deidara pun iri melihat kelakuan mesra kedua pasangan di depan matanya tersebut.

"Yak ! romance scene selesai !" ucap Deidara sambil menepukkan tangannya, dan berdiri dari meja makan.

"Ah.. Aniki.. jangan maraah.. kan udah ada Pein-san!" ucap Naruto menggoda.

"A.. WH—A.. ka..KAMU TAU DARI MANAA ??" teriak Deidara kaget.

"Fufufu.. jangan remehkan informasi Uzumaki Naruto ini, Aniki.." ucap Naruto jahil.

"kau ituu!!!" ucap Deidara sambil menjitak kepala Naruto dengan lembut.

========== (=_=") ===========

"Jaa.. Naruto.. aku pulang, ya ?" ucap Sai sambil mengelus kepala kuning Naruto.

"A.. uumm.. hati-hati, Sai.." ucap Naruto tersenyum lembut.

"Yah.. inget.. jangan berurusan ama si Uchiha rambut bebek itu lagi.. ok ?" ucap Sai menasehati.

"Sep ! Rebes !" ucap Naruto.

"Ja.. aku pulang, yah.. jaga diri, Naru-chan.. aku selalu sayang ama kamu.." ucap Sai sambil mengecup bibir Naruto.

"Sai.. umm… hati-hati di jalan.. aku juga selalu sayang ama kamu.." ucap Naruto setelah Sai melepaskan ciumannya.

Narutopun melepas kepergian Sai, dan mengambil tas sekolahnya, lalu bersiap untuk jalan ke sekolah.

"Aniki !! aku pergi sekolah, yooo!!" teriak Naruto dari luar rumah.

"Ahh.. ok ! hati-hati dijalan !!" teriak Deidara dari dalam rumah.

Sang pemuda pirang tersebut langsung berjalan dengan senang ke sekolahnya.

CHAP 4-END

Eww.. eww.. eww.. eww..

Cape..

Bingung.. bikin Lemonnya gimana.. entah ngapa, ga ada gambaran lemon di kepala.. padahal uda melototin Doujin berjam-jam.. tetep aja kaga ada bayangan buat adegan Lemonnya. Jadi, lemonnya ga begitu berasa..

Haahh~~

Ok, lah..

Chap 4 selese udah…. Tinggal berapa chap lagi..

Uda ga sabar.. pengen cepet-cepet selese..

Khukhukhukhu..

*snyum setan

Mao tao lanjutannya ?

Makanya ketik REG*spasi*REVIEW, kirim ke tombol dibawah !!

Waahahahahahahahaha

*ngaco !

Hahahahaha..

Okok..

Sooo.. mind to review ?

;)

:)