Author Notes: yang ngeres ketauan ya. -_-
Disclaimer: Im not own Bleach even I really want it ¬_¬ *sigh*
Terserah mau review ato nggak.. lagi males..
Suasananya sangat hening. Tidak satupun dari keduanya yang berbicara. Masalahnya sekarang mereka hanya berdua. Di dalam kamar.
"Umm, g-gue keluar sebentar, ya, mau beli soda dulu." ucap Ichigo, mencoba memecah keheningan.
"O-oh y..ya, silahkan saja." jawab Rukia gugup.
"Mau nitip?" tanya Ichigo sambil merogoh sakunya untuk mengambil beberapa uang.
"Nggak usah.." jawab Rukia sembari memainkan jarinya.
"Bener nih?" Ichigo memastikan. Rukia mengangguk meyakinkan.
"Ya udah, gue keluar dul-- eh?" saat akan membuka pintu kamar, ada sedikit masalah dengan knop nya.
"Waduh.."
"Kenapa?" tanya Rukia cemas.
"Pintunya.. kekunci.."
Diluar Kamar
Orihime menunggu kepastian yang akan terjadi. Jika ternyata Ichigo menyukai Rukia, ia sudah siap.
Di Dalam Kamar 324
"Sial! Siapa nih yang iseng!?" Ichigo sewot, kemudian suasana kamar menjadi hening kembali. Jika laki-laki dan perempuan berada dalam satu kamar, apalagi yang akan mereka lakukan selain..
Ichigo langsung membuang jauh-jauh pikiran jahanam tersebut (usk: cie bahasa lu wakakaka) sambil meremas kepalanya.
"Ichigo..? Kamu kenapa..?" tanya Rukia heran. Di mata Ichigo, Rukia terlihat sangat polos dan..
Di Dalam Pikiran Ichigo
Hollow Ichigo: hayo.. mikirin apa lu..
Ichigo: hah!? Lu yang apa!
Hollow Ichigo: lah, gua kan bagian dalem lu, jadi gua itu elu. Nah lu mikirin apa?
Ichigo: g-gak ada kok!
Hollow Ichigo: haa.. gue tau.. LAGI MIKIR NGERES YA??
Ichigo: a-an---g lo, diem! Berisik!
Hollow Ichigo: ¬_¬ yes sir.
Back To The World
"Ichigo..?" tanya Rukia lagi sambil mendekatkan dirinya pada Ichigo yang tengah duduk di pojokan kasur.
"Y-ya?" jawab Ichigo gugup tanpa memalingkan wajahnya pada Rukia.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Rukia heran. Dilihatnya wajah Ichigo. Merah.
"Kamu demam?" tanya Rukia sambil meletakkan punggung tangannya ke dahi Ichigo. Suhunya normal.
"Kok aneh sih..?" gumam Rukia heran. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang membuat wajahnya ikut memerah.
"Rukia.." bisik Ichigo pelan di telinga kiri Rukia.
"Y.. ya..?" jawab Rukia gugup. Ichigo kembali menatapnya dengan lekat. Perlahan Rukia mencoba menatap wajah Ichigo. Wajahnya sudah tidak merah.
"Kau tahu.." ucap Ichigo pelan.
"Tahu.. apa?" Rukia menjawab agak malu. Kali ini Ichigo tidak melanjutkan kata-katanya. Selama 5 menit penuh, ia terus menatap Rukia tanpa mengedip sekalipun.
"Ichigo.. apa-apaan sih.. kenapa kau.. menatapku terus?" akhirnya Rukia memberanikan diri untuk mengatakan hal yang sedari tadi menggantung di lidahnya.
"..... diam dan bekerja samalah denganku." putus Ichigo. Sebelum bisa mengatakan sepatah katapun, Ichigo sudah mendorong Rukia ke kasur dengan keras hingga dirinya jatuh terlentang di kasur itu.
"Ichigo?" Rukia merasakan hal yang buruk akan terjadi.
"Kenapa..?" tanya Ichigo sambil menahan kedua tangan Rukia.
"Kau.. mau.. apa?" tanya Rukia malu. Ichigo hanya tersenyum. Kemudian ia mendekatkan wajahnya pada tengkuk Rukia. Rambutnya membuat Rukia bergidik kegelian.
"I.. Ichigo.." kata Rukia kaget. Tetapi Ichigo tidak mempedulikan hal itu dan terus melanjutkan 'pekerjaannya'. Dengan perlahan ia melepaskan baju Rukia dan melemparnya ke sudut Ruangan. Tapi Rukia tidak bisa membiarkan hal lain terjadi. Dengan cepat Rukia menendang tubuh Ichigo tersungkur jatuh ke lantai.
"A-apa yang kau lakukan!?" bentak Rukia malu. Ichigo malah tersenyum sambil bangkit. Lalu ia berjalan memojokkan Rukia ke sudut Ruangan. Rukia benar-benar tidak punya kesempatan untuk kabur.
"Ichigo!" ucap Rukia sembari menutupi badannya dengan kausnya yang dilepas oleh Ichigo tadi.
"Ada apa, Rukia?" tanya Ichigo sambil menahan kedua tangan Rukia dengan satu tangan. Rukia mencoba lepas dari cengkraman Ichigo tetapi tenaga Ichigo terlalu kuat. Ia tidak punya kesempatan lagi.
"ICHIGOOO!! LEP--AAAH!!" Rukia berteriak setelah Ichigo melepaskan celana Rukia turun dari kakinya.
"ICHIGO!! BERHENTI!! JANGAN!!" pinta Rukia. Ichigo tetap tidak menggubrisnya dan terus melepaskan sedikit demi sedikit baju Rukia.
"AKU TIDAK MAU!! LEPAAS! ICHIGO!!" teriak Rukia. Teriakannya sangat kencang sehingga seluruh teman-temannya mendengar teriakannya tersebut.
Air mata Orihime turun perlahan. Ia sudah tidak punya kesempatan lagi.
"Rukia-san!" "Rukia!" "Kuchiki-san!" teman-teman Rukia berlari menuju sumber teriakan Rukia. Mereka menemukan bahwa suara itu berasal dari kamar 324. Setelah dekat, mereka melihat sosok Orihime sedang berdiri di depan pintu kamar itu.
"Inoue, ada apa?" tanya Ishida khawatir. Orihime malah tersenyum.
"Ssst, jangan berisik.." bisiknya.
"Kenapa?" tanya Ishida bingung.
"Ada yang sedang.. hehehe.. gitu deh.." jawabnya terkekeh. Beberapa orang yang mengerti maksud Orihime langsung pergi.
"Hah? Kok kalian pergi?" tanya Ishida tambah bingung.
"Sudahlah Ishida~ kita juga pergi saja yuk!" sambar Matsumoto tiba-tiba sambil menggeret Ishida pergi. Diam-diam ia mencuri pandang pada Orihime yang masih berdiri terpaku di depan kamar itu. Air matanya menetes perlahan. Kemudian ia mencegahnya untuk turun dengan mengelapnya dengan tangannya. Tapi itu sia-sia karena makin ia berusaha menahannya, makin deras air matanya.
'Orihime...'
Di Kamar 324
"Ichigo.. jangan.." mohon Rukia sambil berusaha menutupi badannya dengan kausnya yang hanya terlindungi celananya saja.
"Kenapa?" tanya Ichigo pelan sambil mencium rambut Rukia.
"Ini tidak.. benar.." ucap Rukia lirih.
"Maksudmu?" tanya Ichigo sembari menyentuh pipi Rukia yang lembut.
"Sudah kubilang jangan!" temper Rukia mulai naik. Ichigo tertawa kecil.
"Gigai tidak dirancang untuk hamil seperti manusia biasa." ucapnya sambil tersenyum.
"Hah? Maksud.. h-hei! Jangan-jangan.. kau.. mau.."
"Itu sudah jelas kan?"
"Ichigo.. tolong.. jangan.." ucap Rukia bergetar.
"Kau pasti menyukainya." kata Ichigo. Ia mulai memaksa Rukia melepaskan kaus yang dipegangnya.
"Tidak!"
"Hanya mencoba sedikit saja kenapa!?"
"Aku tidak mau, bodoh!" tolak Rukia kesal. Diam-diam ia merencanakan untuk kabur. Dilihatnya jendela tidak dikunci. Matanya melirik kesana-kemari untuk mencari sesuatu yang bisa menutupinya dengan mudah. Tapi apa?
Setelah melihat Ichigo, ia jadi memiliki ide.
".... oke.." ucap Rukia melemaskan otot-ototnya.
"Jadi..?" tanya Ichigo berharap.
"Kupikir.. mungkin tidak terlalu buruk juga.." jawab Rukia sambil tersenyum nakal, membuat wajah Ichigo sedikit memerah.
"Mau mulai dari mana..?" tanya Ichigo pelan.
"Bagaimana, sih.. lepaskan dulu bajumu dong.." jawab Rukia manja sambil menarik baju Ichigo. Dengan mudahnya Ichigo tertipu triknya. 'kena dia!'
Setelah melepaskan kaus Ichigo, ia langsung menendang Ichigo dan dengan sigap berlari menuju jendela sambil memakai kaus Ichigo. Apa yang menanti diluar itu urusannya nanti. Lebih baik menyelamatkan diri dari 'singa' terlebih dulu. Kemudian ia melompat keluar jendela.
"Ah.. dasar.. dia itu.." ucap Ichigo kesal pada dirinya sendiri sambil bangkit. Setelah berencana melompat untuk menyusul Rukia, ia tidak melihat apa-apa. Bahkan tanda-tanda kepergian Rukia pun tidak ditemukannya.
"......"
Besoknya
"Oi, Inoue." sapa Ichigo setelah sarapan bersama.
"Y-ya?" tanya Orihime spontan.
"Kau tahu dimana Rukia? Kemarin aku mencari-carinya tetapi tetap tidak ketemu.." tanya Ichigo sambil menggulung lengan yukata-nya.
"Aku juga tidak tahu.." jawab Orihime sambil menahan sakit hatinya. 'Ternyata memang benar.. Kurosaki-kun dan Rukia-san..'
"Inoue? Kau kenapa?" tanya Ichigo heran saat melihat Orihime yang terpaku menatap lantai.
"E-eh? Aku? Aku tidak apa-apa.. cuma sedikit pusing.. hehehehe.." jawab Orihime sambil memegang kepalanya yang memang agak pusing.
"Mau kutemani ke kamar? Kau istirahat saja." tawar Ichigo.
"Ngg--nggak usah! Nggak terlalu sakit kok! Jalan-jalan sebentar juga akan sembuh lagi! Sudah, ya! Dah Kurosaki-kun!" ucap Ichigo sambil berlari menuju taman dibelakang penginapan sebelum Ichigo bisa menawarkan hal lain.
"?"
Sementara itu, di persimpangan antara ruang makan-koridor
"Jadi mau bagaimana?" ucap Niku dingin. Lelaki yang menjadi lawan bicaranya tersenyum.
"Jalankan saja rencana B."
To be continued. Gapapa kan motong? Hehehehehe
Yah.. maaf cerita di chapter ini ga seru.. memang si author lagi males sih, tapi dipaksa sama sepupu supaya jangan males2an. Jadinya beginilah. Antara malas dan terpaksa. Maafkan saya yang malas ini
Ngomong2.. hayo yg ngeres, pada ngira Ichiruki bakal gituan kan? Salah yee :p liat baik2, saya masih ngasih rating T. Kalo udah M baru deh.. huahahahaha.. *dipukul pake buku paket matematik*
Renji: heh, lu kan masih banyak tugas. Stop nulis fic dulu noh bentar. Kalo udah lumayan mereda, lanjutin lagi.
USK: iya.. iya..
Ichigo: lu bikin gua ooc banget.. dasar author ga becus.. lagian mana mau gue sama si CEBOL gituan??
Rukia: gue denger, stroberi..
Ichigo: terus kenapa?
*Ichigo ditendang Rukia ke bulan, Renji geleng2 kepala*
Berdasarkan perbincangan kecil antara author dan para tokoh Bleach, jadinya author mutusin buat hiatus bentar.. eh tapi bentar ato lama juga gatau deh.. tapi diusahain untuk ngerjain secepet mungkin. Yang nungguin 'Fate' maaf ya.. tapi lumayan jg kok saya udah bikin 10 halaman, walaupun belum kelar..
Sekian. Terimakasih. XD
Mmm.. ada yang merhatiin kalo saya jadi ngeganti bahasa fic ini dari bebas jadi agak baku ga? Ga ada? Ya sudah. hehehe.
-Hiatus-
