AN Here we goooo, the second and the laaa-a-a-ast chapter! Hope you'll like it!


[BONDS]

©2008-2009 by Verde Maripossa. Standard Disclaimers Apply.


Chapter 2

"Hah… hah… haduh, capeknya… aku tidak kuat…"

Naruto dan Sasuke melihat ke belakang mereka. Gadis itu tampak sangat kelelahan. Peluh bercucuran di kening dan membuat rambutnya lengket. Naruto mendekati gadis itu. "Sakura-chan, kau tak apa-apa?" tanyanya. "Sasuke, kita istirahat dulu saja di sini," katanya pada Sasuke.

Sasuke mengangguk. Mereka pun duduk untuk melepas lelah, untuk sementara keadaan aman. "Lagi-lagi kita kabur. Payah," gumamnya pelan. "Tapi... apa-apaan itu tadi? Ada gumpalan angin yang sangat besar tiba-tiba mengarah ke arah kita."

"Itu tadi jutsu, kan?" ujar Naruto, "Kita harus berhati-hati pada pemimpin gerombolan itu. Dia yang paling mencurigakan."

"Tentu saja, dobe," gerutu Sasuke, "aku sudah tahu. Tapi kurasa anak-anak buahnya bisa dibereskan dengan mudah."

"Kelihatannya begitu," kata Naruto setuju. Diliriknya Sakura yang tampak lemas. "Sambil kita menunggu Sakura-chan pulih, kita bisa mengulur waktu dengan melawan mereka. Begitu saja. Tapi, bagaimana dengan tim yang lain? Mereka seharusnya juga ada, kan? Atau jangan-jangan.. yang berjaga benar-benar hanya kita?" bisiknya. "Kalau begitu, cukup gawat juga..."

"Hutan ini luas. Bisa saja mereka ada di bagian lain dan sempat bertemu dengan gerombolan ini, lalu pergi ke tempat lain," sahut Sasuke. "Lebih baik kita istirahat dulu sekarang. Kau punya air minum?"

"Eh?" Naruto tampak tak mengerti, "ada sih sedikit di kantong peralatanku... aku bawa sedikit. Memangnya kenapa?"

"Berikan saja pada Sakura." Gumamnya nyaris tak terdengar, dan ia langsung berdiri dari tempatnya duduk.

Naruto cuma angkat bahu dan mengambil persediaan air di kantongnya. "Sakura-chan, ini. Minumlah ini dulu, kau pasti sangat capek," katanya sambil menyodorkan botol itu. Sakura memandangi botol itu. Wajahnya lagi-lagi tampak ragu.

"Eh... tapi bagaimana denganmu, Naruto? Dan Sasuke-kun—" dia melihat ke sekelilingnya, "di mana dia?"

"Dia pergi melihat keadaan." Naruto menjelaskan. "Kau yang kelhatannya paling lelah, jadi kuberikan saja ini padamu. Sasuke juga berkata begitu." Dia tertawa kecil melihat semburat merah di wajah gadis itu. "Ada apa?"

"Aku benar-benar payah," kata Sakura pelan, "sedari tadi aku selalu diselamatkan saja. Makanya aku tidak lolos ke ujian tahap berikutnya..."

"Eh? Mengapa kau beranggapan begitu?" Naruto bertanya, "Kau tidak lemah, kok!"

"Tapi lihat saja buktinya!" protes Sakura, "Sedari tadi aku sama sekali tidak melakukan apa-apa. Aku tidak tanggap seperti kalian berdua. Dan sekarang... aku yang paling buruk di sini..."

"Tenang saja!" Naruto tertawa kecil, lalu kembali membentuk huruf V dengan kedua jari tangan kanannya. Kembali nyengir lebar seperti kebiasaannya. "Kau akan lebih baik dan kita bisa melakukannya bersama-sama!" katanya cepat. "Kau sudah melakukan banyak hal, Sakura-chan. Ingat pertarungan kemarin—waktu kau melawan Ino? Kau sudah lebih kuat dibanding dulu!"

Sakura tersenyum getir. "Tapi 'kan aku tidak lolos."

"Lolos atau tidak bukan ukuran, kan!" sahut Naruto membantah, "Kau sudah berjuang mati-matian, dan itu lebih baik daripada menang dengan cara licik." Ia menjelaskan dengan gaya sok bijak, membuat Sakura terkikik geli.

Naruto tampak sedikit lega melihat ekspresi kawannya itu. "Iya, ya," Sakura tersenyum sambil melihat langit malam yang tertutupi bayangan dedaunan. "Aku berharap kau dan Sasuke-kun juga bisa melakukan yang terbaik di ujian tahap terakhir nanti. Apa kalian menyiapkan latihan khusus?" tanya Sakura.

"Nggg, belum, sih," kata Naruto sambil mengingat-ingat, "tapi aku akan memulai latihanku dengan Ebisu-sensei besok. Huh, menyebalkan sekali akhirnya aku harus latihan dengan si mesum itu—" dia mencibir entah kepada siapa.

Sakura hanya tertawa. Sasuke yang sedari tadi berada agak jauh dari mereka, namun bisa mendengar—menoleh ke arah Sakura dan Naruto dengan wajah merengut. "Jangan keasyikan ngobrol, tetap memperhatikan keadaan sekeliling!" katanya dengan wajah agak sebal.

Naruto dan Sakura berpandangan, lalu tertawa geli. "Oke, oke! Hoi, Sasuke-teme, kemari saja! Kau juga duduk saja!"

"Jangan perintah-perintah aku!"

"Ahahahaha..."

Akhirnya mereka bisa tenang, tapi…

"He he he... rupanya kalian di sini. Mengapa kalian tidak teruskan saja acara kabur kalian seperti anjing kecil yang mencari induknya?"

-

x—

-

Mereka bertiga terkesiap. Gawat. Di belakang mereka, para penjahat itu kembali menemukan keberadaan mereka. Sasuke melihat ke arah para penjahat, pemimpinnya tidak ada. Yang benar saja, padahal mereka baru saja dapat beristirahat. Suatu kesalahan karena mereka mengerjakan misi ini di malam hari—mereka sudah terlebih dulu kelelahan karena kegiatan di siang hari. Sial...

Apa mungkin mereka ini adalah anak buahnya yang tadi? Sasuke memperhatikan penampilan mereka. Semuanya berpakaian gelap dengan penampilan yang agak ganjil. Hitae-ate mereka dipakai dengan sembarangan. Ada yang di pinggang, di kepala, di leher, bahkan di pergelangan tangan. Namun ada kesamaan dari mereka semua, ekspresi mereka menyebalkan. Sekaligus menjijikkan.

Penjahat yang tertawa tadi menyeringai tajam. Sepertinya mereka semua akan menghabisi mereka bertiga. Tampaknya mereka lebih siap dibanding yang tadi. Beberapa dari mereka membawa senjata aneh seperti rantai panjang—bahkan ada yang membawa pedang. Naruto segera berdiri disamping Sakura yang masih kelelahan, sedangkan Sasuke berdiri di depan Naruto dan Sakura.

"Kalian mau apa, hah?" tanya Sasuke dengan tatapan mengerikan.

"Kami? Coba kau pikirkan dulu, mau apa kami? Tentu saja kami kemari untuk membalas perbuatan kalian tadi!" si penjahat itu menjawab sambil tertawa, "kalau membereskan satu keluarga saja kami bisa, mengapa tidak dengan kalian?"

Sakura merasa bibirnya bergetar. "...kelu...arga?" katanya dengan suara nyaris bagai bisikan, "apa maksud kalian?"

"Oh, tentu kalian sudah ketinggalan berita," tawa orang itu makin meninggi—diikuti tawa teman-temannya. Bersahutan seperti suara burung malam yang ada di sana. "Kami bukan gerombolan perampok picisan yang cuma bisa merampok orang yang tinggal sendirian. Bahkan rumah pun bisa kami gasak habis! Bagaimana? Sungguh bodoh kalian bertemu dengan kami..."

"Dan darah itu sangat menyenangkan." Salah satu dari mereka menambahkan. "Aku bisa mencium bau darah dari gadis itu—" pandangannya mengarah ke Sakura. Sakura merapatkan lututnya serapat mungkin.

"...Kejam..." bisiknya perlahan.

Naruto dan Sasuke merasa darahnya mendidih di dalam tubuh mereka. Keterlaluan. Rupanya memang benar. Selain mereka gerombolan perampok yang mengganggu masyarakat, mereka juga rupanya shinobi rendahan yang tidak bermoral. Apalagi yang dirampok adalah rumah warga biasa dan bukan warga shinobi... bagi Sasuke, maupun Naruto yang hidup sendirian sejak lama—tentu saja sangat sensitif dengan isu-isu seperti itu.

"Naruto, kau tetap di sini. Jaga Sakura." Gumam Sasuke.

"Hah? Apa?" Naruto tak begitu mendengar kata-kata Sasuke. Namun Sasuke sudah lebih dulu menyerang dengan ganas ke arah gerombolan itu. Naruto membelalakkan matanya kesal, "HOI, SASUKE BRENGSEK! SIAL, JANGAN MAJU SENDIRIAN, DONG!" teriaknya keras-keras. Sasuke selalu saja begitu, selalu ingin bekerja sendiri! Namun dilihatnya Sakura yang terlihat lemas. Ah, dia juga tak bisa membiarkan gadis ini sendirian...

Sasuke tampak tak peduli. Dia membentuk segel dengan kedua tangannya, menarik napas dan... "KATON, GOUKAKYUU NO JUTSU!" Semburan lidah api memanjang langsung mengarah tepat ke arah gerombolan itu.

"UWAAA!"

Terdengar teriakan bersamaan dengan lidah api yang mengenai pakaian mereka. Sasuke melompat ke pinggir dan melemparkan sejumlah kunai. Tapi mereka masih sigap rupanya, karena kunai itu ditangkis dengan mudah. Gerakan mereka juga cepat, pikir Sasuke. Cukup sulit menangkap gerakan mereka... baiklah. Dia sekali lagi melompat, melakukan serangkaian serangan ringan yang langsung ditangkis dengan mudah. Gerombolan penjahat itu sama sekali tidak kesulitan. Mereka mulai tertawa-tawa lagi.

"Aaaah... jadi, tadi itu hanya satu-satunya serangan yang kamu punya, bocah? Apa lagi yang bisa kau lakukan? Hanya itu?" teriak mereka di antara tawanya. "Kau sama sekali tak sebanding dengan kami, lebih baik panggil saja teman-temanmu yang hanya jadi penonton itu!"

"Huh." Sasuke menyeringai dan melompat ke atas pohon. Sasuke tersenyum tajam penuh kemenangan. Dia menegakkan kepalanya yang tadi tertengadah. Terlihat mata sharingan yang merah menyala. Mereka semua terperanjat.

"I… itu…" Si anak buah pemimpin gerombolan tampak terkejut. Mata merah itu... tak salah lagi. Sharingan yang hanya dimiliki anggota keluarga Uchiha... dan juga elemen api itu...

"KATON, HOUSENKA NO JUTSU!"

Sasuke berlari ke arah penjahat tersebut dengan api yang terus menyembur—mengikuti arah larinya gerombolan itu. Mereka tampak panik, namun akhirnya menyebarkan diri. "Kurang ajar kau! Dasar bocah sial!" salah satu diantara mereka pun maju menyerang Sasuke dengan rantai panjang di tangannya. Bukan sesuatu yang menguntungkan. Tenaga Sasuke sudah banyak dipakai untuk jurus elemen api tadi—dia belum cukup kuat untuk menggunakannya berkali-kali dalam sehari. Keringat muncul di wajahnya. Susah payah ia menghindar dari rantai panjang itu.

Kali ini, keadaan berbalik. Gerombolan itu tampaknya sudah mendapatkan tenaganya kembali. Sasuke dikepung dari segala arah—tampaknya mereka sudah tak peduli ada orang lain di sana selain Sasuke. Yang mereka inginkan sekarang hanyalah balas dendam pada bocah kecil yang sudah cukup membuat mereka kewalahan itu. Sasuke mulai kerepotan ketika beberapa penjahat lain membantu penjahat yang dihadapinya sekarang. Mereka menyerang dari berbagai arah. Orang yang tadi tertawa paling keras, menarik pedang yang sedari tadi hanya disarungkan saja.

Sakura yang melihat Sasuke bertarung sendirian, merasa bahwa Sasuke membutuhkan pertolongan. Dia tahu raut wajah Sasuke yang terlihat butuh bantuan. Meskipun Sasuke tidak mengatakannya langsung. Sakura berdiri. Walaupun dirinya sangat lelah dan mengantuk, dia harus menolong Sasuke. Namun, sebelum dia berjalan, seseorang menahannya.

"Sakura-chan, biar aku yang tolong Sasuke."

Langkah Sakura tertahan oleh ucapan Naruto. "Naruto, kau juga tahu kalau…", Sakura berbisik pelan.

"Iya, tentu saja. Lihat saja reaksinya yang sekarang. Sayang dia terlalu gengsi untuk bilang, ya?" Naruto tertawa kecil—bahkan dia masih sempat melontarkan candaan di saat begini. "Kau di sini saja."

"Tapi, kau bilang, aku juga bisa membantu, kan? Mengapa aku sekarang kau suruh diam? Aku juga ingin membantu kalian!" protes Sakura.

"Kakashi-sensei bilang, membantu bukan berarti ikut bertarung," kata Naruto tiba-tiba. Sakura mengangkat kepalanya. Naruto nyengir. "Kondisimu yang sekarang belum begitu baik. Lihat, kakimu juga masih gemetar begitu, kan?" dia menunjuk kaki Sakura—yang memang bergetar, tampak sulit menahan beban. Kaki gadis itu terluka saat tadi mereka kabur. Ada luka yang memanjang di betisnya yang tak terlindungi.

Wajah Sakura memerah.

"Aku..." dia tersenyum pahit. "Tampaknya kau tiba-tiba pandai bicara, Naruto. Aku saja tak pernah memikirkan hal seperti itu..." gadis itu tersenyum kecil mendengar ucapan Naruto tadi. Dia akhirnya kembali lagi duduk, bersandar lagi ke batang pohon terdekat.

Naruto kembali tersenyum lebar. Rambut pirangnya samar-samar berkilauan terkena cahaya bulan yang menembus sedikit melewati rimbunnya dedaunan. "Aku keren, kan?" Dia tertawa sambil menghindar dari pukulan ringan Sakura, "Ya sudah, aku bantu dia dulu ya. Kau tak apa kan, sendirian? Melindungi diri sendiri juga termasuk membantu, lho." balas Naruto sambil menggulung lengan jaketnya, lalu mengepalkan kedua tangannya. Terdengar suara sendi-sendi yang digerakkan.

Sakura tersenyum. "Iya, aku bisa jaga diri kok."

Naruto nyengir mendengar jawaban itu. Setelah mendengar jawaban dari Sakura, Naruto langsung meluncur ke arena pertarungan. Sasuke terus menyerang mereka dengan jurus-jurus yang dimilikinya. Namun karena terlalu agresif, dia mulai kelelahan. Keringat bercucuran di keningnya meskipun ini sudah larut malam. Si penjahat berantai sudah sedari tadi terus-menerus menyerangnya.

Lagipula... Sasuke memegang tengkuknya—dimana ada segel di sana. Panas. Jangan. Jangan sampai...

"Kau sudah capek, kan? Mana temanmu, hah?" orang bertubuh gempal itu berteriak dari kejauhan sambil memutar-mutarkan rantainya. Lalu mengarahkan ujungnya yang runcing ke arah Sasuke. Sasuke melompat mundur—tapi... di belakang sudah ada satu orang lagi. Pedangnya sudah teracung tinggi. Seringai licik muncul di bibirnya. "Dapat satu," gumamnya sambil mengarahkan pedang itu tepat ke arah Sasuke. Sasuke sama sekali tak menyadari kehadiran orang itu—mungkin karena dia juga sudah terlalu lemah. Sial, dia lengah! Apa yang akan dia lakukan sekarang...

-

-

TRIIING!

-

-

Suara metal dengan metal bertemu di satu titik dan menimbulkan percikan api kecil. Mengetahui hal itu, Sasuke cepat-cepat bergerak mundur. Hampir saja dia tertusuk pedang itu kalau saja kunai milik Naruto tidak menghadangnya. Kalau tidak ada Naruto, pasti keadaannya sudah seperti apa sekarang, sekarang. "KAGEBUNSHIN!" teriak Naruto, dan sekali lagi, beberapa replika Naruto muncul untuk membantu mereka bertarung.

"Sasuke, jangan bertarung sendirian saja kau!" seru Naruto dibelakang dengan senyumannya.

Naruto... Sasuke hanya menghela nafas, lalu tersenyum tipis.

"Huh, sok keren."

"Siapa yang duluan, heh?!"

Dan mereka melanjutkan lagi pertarungan dadakan yang sengit ini. Merasa mendapat bantuan, tubuh Sasuke mendapatkan kekuatan lagi. Meskipun tidak lagi menggunakan jutsu khusus, musuh demi musuh dihabisi dengan sempurna oleh Sasuke dan Naruto. Bahkan, suara teriakan semangat Naruto pun terdengar jelas dari kejauhan—berusaha memusnahkan mereka yang susah diatur itu.

-

x—

-

Sakura mengintip takut-takut dari balik pohon. Harapan mulai terlihat—sepertinya mereka bisa menang. Sakura menatap tangannya sendiri. Mungkin kondisinya saat ini memang tidak memungkinkan untuk bertarung—tapi dia pasti bisa melindungi dirinya sendiri... asal saja jangan pemimpinnya yang datang padanya. Semoga para penjahat itu bisa dikalahkan oleh mereka berdua... benak Sakura berharap sambil menautkan jemari kedua tangannya, berdoa.

"Kau pikir kau sudah aman, perempuan?"

Namun tiba-tiba, terdengar suara berat di belakangnya. Mata Sakura terbelalak lebar, terkejut. Serta-merta tubuhnya gemetaran lagi. Dia tak berani menoleh. Tadi dia tak melihat pemimpin gerombolan itu berada di sana... jangan-jangan...

Tidak!

Sakura langsung menoleh ke belakang. Pemimpin kelompok tadi! Sekejap, dia langsung terkejut dan ketakutan. Wajah seram itu membuatnya bergetar ketakutan. Apalagi saat mata mereka bertemu. Pria itu mendesis. "Kau takut?"

Sakura tak menjawab apa-apa. wajahnya pias.

"Seorang ninja ketakutan? Kau sungguh tidak pantas hanya untuk sekedar menjadi seorang kunoichi sekelas genin! Hahahaha!" Pemimpin penjahat itu menghina Sakura dengan tawanya yang membahana. "Kau tak bisa bergerak, kan?"

Apa? Kurang ajar...

Jadi, semua hal yang ia lewati itu sia-sia saja? Usahanya untuk berlatih lebih dari yang lain, belajar, berjuang sendirian di hutan terlarang untuk melindungi teman-temannya, mengorbankan waktu dietnya karena menjaga stamina berlatih, bahkan bertarung dengan sahabatnya sendiri.... juga melindungi Sasuke—tidak dihargai oleh orang brengsek ini?

"Pulanglah kembali ke rumah, ke pelukan orang tuamu!"

Uuuukhhh...

Hancurkan!

Tapi...

Ayo! Kau mau disebut lemah lagi?

"SHAAAANNNNAAAROOOOOOOOO!!"

Dengan gerakan kilat Sakura mengeluarkan beberapa kunai dan shuriken dari tas kecilnya, dan mengarahkan senjata tersebut pada sang pemimpin sambil melompat ke atas pohon. Gagal, senjatanya tidak mempan untuk menghadapi orang itu. Pemimpin tersebut menangkis semua senjata yang dilemparkannya. "Ayo, buktikan kalau kau bisa!" teriaknya keras dengan geraman. Tak hanya itu, kelihatannya orang itu juga tidak menangkis dengan anggota tubuhnya sendiri. Sakura menyipitkan matanya. Tubuh orang itu terlihat terlapisi gumpalan berwarna putih... chakra!

"Kalau begitu, kita bermain-main sebentar?" pria bengal itu tertawa keras sambil melemparkan serangkaian shuriken dan kunai. Sakura melompat lagi menghindar, naik ke atas pohon.

"Kawarimi no jutsu!"

Pria itu tampak kesal melihat batang kayu yang ada di hadapannya. "ANAK KECIIIIL!" Teriaknya keras-keras, membuat Sakura terlonjak. Sakura melirik arena pertarungan. Naruto dan Sasuke mulai lelah menghadapi anak-anak buah yang lumayan kuat itu. Baru beberapa yang sudah mereka hadang, tinggal sisanya saja yang belum mereka babat habis.

Ck, sial... bagaimana ini? Tapi tidak! Jangan sampai mengalihkan perhatian Sasuke-kun dan Naruto, mereka juga sedang berjuang... geram Sakura dalam hati.

"Heh! Sebentar lagi temanmu akan mati, tak usah macam-macam kau." seringai orang bertubuh besar itu makin lebar. Dia menyeringai sambil menjilat bibir atasnya—bagaikan hewan buas yang kelaparan mencari mangsa. Jantung Sakura berdegup makin kencang. "Aku ingin cepat-cepat melihat lagi darahmu—selain yang keluar dari kakimu yang terluka." Tangannya membentuk segel-segel dengan kecepatan tinggi, dan...

"KAZE NO JUTSU!"

Gawat, Sakura benar-benar lupa bahwa cakra orang ini dapat diwujudkan dalam bentuk angin! Habis sudah tenaga Sakura. Kali ini, cakra orang itu bercahaya putih kebiruan, dan berubah menjadi angin—bagaikan angin topan, namun sudah diukur begitu rupa sehingga yang terhantam hanya tubuh mungil Sakura. Hanya butuh waktu sekejap saja sampai tubuh Sakura terlempar dari pohon seperti buah pinus yang tertiup angin. Tiba-tiba saja, cakra putih itu berubah wujud menjadi berbentuk tali yang langsung mengelilingi tubuh gadis itu, mencengkramnya, dan menariknya sebelum jatuh. Tapi, tak urung tubuh Sakura terpelanting ke atas tanah.

Naruto...

Sasuke...kun...

-

x—

-

Tinggal dua orang lagi... tapi di mana pemimpinnya?

Sasuke dan Naruto melihat sekeliling sambil melawan para missing-nin itu sebisanya, meskipun tenaga mereka sudah hampir habis. Namun mata mereka tetap awas—takut kalau-kalau pemimpin gerombolan itu tiba-tiba muncul.

"Kalian memang hebat, tapi...kalian tetap saja ninja ingusan." Seakan-akan menjawab pikiran mereka berdua, seseorang muncul dari balik pepohonan. Konsentrasi Sasuke dan Naruto terpecah. Pemimpin gerombolan itu. Dia ada di sana dengan pakaiannya yang berwarna gelap, namun dengan tangan yang kontras bercahaya.

Tangannya... mengapa bercahaya? Pikir Sasuke curiga. Tak lama kemudian, terdengar derai tawa dari orang bertubuh besar itu. Kedua anak buahnya segera beringsut ke sisi tuannya, mencari perlindungan karena mereka sudah hampir babak belur. Perlahan, tawa orang itu terhenti—dan dia terlihat seperti menyeret sesuatu. Sasuke menyipitkan matanya untuk melihat lebih teliti. Tali yang bercahaya.

Sakura.

"SAKURA-CHAAAAAAAAAAAAAAN!"

Naruto yang pertama bereaksi dengan pemandangan itu. Sakura yang tidak sadarkan diri terbelit ketat oleh tali yang terbuat dari chakra yang bercahaya, sehingga terlihat berkilauan di tengah kegelapan malam. Naruto merasa tubuhnya mual. "Sialaaaan, apa yang kau lakukan?!" teriaknya sambil memburu ke arah orang itu, namun Sasuke menariknya kembali ke tempat—membuat Naruto makin emosi. "Hei, bodoh! Kau tak memikirkan keselamatan Sakura, ya?!" bentak Naruto marah.

"Justru ini karena aku memikirkan keselamatannya, bodoh!" teriak Sasuke tak kalah emosi. "Kalau kau maju sembarangan, kita tak akan tahu apa yang akan terjadi padamu dan Sakura! Tali itu... cakranya terlihat aneh..." nada suaranya merendah saat ia mengucapkan hal itu.

"Kelihatannya kau cukup cerdik, rambut hitam," Sang pemimpin gerombolan terkekeh mendengar perseteruan mereka. "Tapi... Kalian pikir dia akan mendengar panggilan tadi? Khukhu.. Tidak mungkin bisa, sekarang dia sudah ada dalam tanganku. Hahaha!" tawanya kembali membahana seperti orang mabuk. "Asal tahu saja, tali chakraku ini bisa berubah seempuk wol ataupun sekuat kawat baja; aku bisa mengatur kapan saja dan temanmu ini akan mati seketika."

Kali ini keadaan benar-benar berbalik. Sasuke dan Naruto sama sekali tak berkutik. Sakura berada ditangan pemimpin kelompok penjahat ini. Kalau dia memaksa menyerang mereka, bisa saja terjadi apa-apa dengan Sakura. Namun diam begini juga tidak akan menghasilkan apa-apa bukan? Sang pemimpin gerombolan tampak senang melihat wajah kedua anak lelaki yang tampak bingung itu.

"Nah, untuk menyelamatkan teman kalian ini, hanya ada satu cara. Kalian menyerah dan membiarkan kami menghabisi kalian—maka teman kalian akan selamat. Kalau kalian tidak mau, maka sebaliknya. Teman kalian akan kubunuh!"

Naruto dan Sasuke terbelalak mendengar pilihan itu. Bagai memasukkan bola ke gawang sendiri—bahkan, bagai memakan buah simalakama; salah satunya ada yang harus direlakan. Naruto meremas-remas ujung jaketnya. "Kalaupun kita membiarkan kita dibunuh, Sakura-chan belum tentu selamat!" bisiknya pelan, "dan kalau kita mati di sini, itu akan konyol sekali! Hei, Sasuke, bagaimana ini?"

"Jangan menanyakan pertanyaan dungu!" Sasuke balas berbisik. Lalu ditatapnya pemimpin gerombolan itu lurus-lurus. "Hei! Apa yang kau inginkan dari kami, hah? Kau tak akan mendapatkan keuntungan apa-apa!" gertaknya.

Sang pemimpin menyeringai—lagi-lagi. "Ke-un-tung-an??"

Lambat-lambat dia mengucapkan hal itu, seakan-akan ingin memberi penekanan di tiap-tiap kata yang keluar dari mulutnya. "Aku tidak butuh keuntungan materi. Kali ini, yang kuinginkan hanyalah kepuasan—kepuasan melihat kalian mati. Bukan begitu, hmmmm?" dia tersenyum sinis. "Sudah, jawab saja! Aku tak butuh jawaban tidak berguna seperti itu!" si pemimpin malah mengalihkan pembicaraan.

Sasuke mengerutkan kening—mencoba berpikir. Memilih yang manapun sama saja. Selain itu, seperti kata Naruto tadi, dengan cara apapun Sakura bisa saja terbunuh. Tapi diam seperti ini juga tidak menguntungkan. Jadi... apa yang harus dia lakukan? Kadang dia selalu merasa bodoh di saat-saat seperti ini... dia tak dapat melakukan apa-apa...

"Jangan kelamaan berpikir, bodoh!" Teriak Naruto kesal, "Kau ini bodoh atau bebal, hah?"

Mendengar teriakan itu, Sasuke terenyak dari pikirannya. Cepat! Apa yang harus dilakukannya saat ini? Tanpa disadarinya, Naruto telah lebih dulu melompat, dan menyerang ke arah orang itu, sementara pimpinan gerombolan itu tersenyum puas—seakan-akan ia telah mendapatkan dua mangsa...

-

x—

-

BRUUUUUUUUUUUUUUUUUK!

Eh?

Eh?

Eeeh?

Tiba-tiba saja, pemimpin yang menyandera Sakura langsung ambruk seketika. Sasuke dan Naruto membelalakkan mata. Lalu saling berpandangan. Tak lama setelah itu, tali chakra yang melilit Sakura terlepas—atau lebih tepatnya menghilang. Begitu pula dengan sisa dua anak buahnya; mereka langsung rubuh.

"Hah… Dasar penjahat awam."

Suara itu... Naruto dan Sasuke melihat seseorang yang muncul dari balik tubuh-tubuh yang ambruk itu, Kakashi! Menyusul kemudian, orang-orang lain yang juga mereka kenal. Izumo, Kotetsu, dan Genma. Ketiga orang itu dengan sigap langsung mengikat para gerombolan itu dan memasangkan borgol chakra ke tangan mereka. Dengan paksa mereka dikumpulkan dan dibariskan dengan mata yang masih setengah terpejam karena baru dihantam.

"Kakashi-sensei!" teriak Naruto lega saat melihat Kakashi yang muncul dengan santainya dari balik semak-semak.

"Yo," jawab Kakashi santai. "Sepertinya kalian sudah berjuang keras," dia melirik pakaian Naruto dan Sasuke yang sudah kotor dan basah oleh keringat. "Ngomong-ngomong, tolong periksa keadaan Sakura. Dia baik-baik saja?" tanyanya dengan nada khawatir, karena meskipun tali chakra itu sudah menghilang, tubuh Sakura masih belum bergerak. Wajahnya pun masih pucat.

Genma menunduk dan memeriksa gadis yang tidak sadarkan diri itu. "Tidak apa-apa. Dia cuma pingsan karena tubuhnya membentur tanah—tapi dia baik-baik saja." pria itu menggigit batang ilalang yang sedang dikulumnya, lalu ia menoleh ke arah Sasuke dan Naruto. "Ngomong-ngomong, apa yang terjadi sampai dia bisa dibelit tali begini?"

"Kami lengah," kata Naruto dengan wajah muram. "Namun Sakura-chan sepertinya sudah melakukan perlawanan hebat saat ia bertemu ninja itu."

"Oh, baguslah kalau dia baik-baik saja," Kakashi menghembuskan napas lega. "Bagaimana dengan kalian, Sasuke? Naruto?"

Naruto nyengir. "Aku baik-baik saja!" katanya sambil mengacungkan kepalan tangannya.

"Ya, begitulah." Sasuke menjawab singkat.

Kakashi tersenyum dibalik maskernya. Dalam hati dia salut juga kepada kedua murid laki-lakinya itu. Dia melambaikan tangannya menenangkan. "Baiklah, baiklah. Lebih baik sekarang kita keluar dulu dari hutan, oke? Kita harus kembali ke desa untuk memberikan perawatan medis pada Sakura." Pria itu menunduk dan menggendong Sakura, lalu mereka berjalan menuju arah keluar hutan. Dia mendelik ke arah Sasuke dan Naruto—dan kembali menyeringai. "Ada apa, kalian? Kalian mau menggantikan aku menggendongnya? Dia lumayan berat juga, lho," katanya setengah bercanda.

Sasuke langsung memalingkan muka, sementara Naruto langsung menyahut keras, "Tidak kok! Dari pada itu..." dia menatap sinis ke arah Kakashi, "Sensei, kenapa sensei lama sekali kembali? " tanya Naruto cemberut. "Kau baru kembali di saat-saat paling bahaya!"

Gurunya itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ooooh, itu yaaaa... hahaha, sebenarnya... tadi itu sandaime memberitahu kalau yang bersembunyi di sini bukan perampok biasa. Mereka juga missing-nin psikopat yang hobi membunuh. Jadi, heeeemmm... aku kembali lagi ke sini bersama beberapa jounin yang masih ada di Konoha," jelasnya panjang lebar.

"Tapi, kau sengaja membiarkan kami bertiga sampai saat-saat dimana kau harus keluar, kan?" Sela Sasuke sambil setengah menggerutu. "Dasar tukang pamer."

"Ha ha haaaa... maaf, maaf! Maaf, deh!" Katanya sambil tertawa keras—alias mengalihkan perhatian. Sasuke dan Naruto sama-sama menggerundel. Cih, kalau tahu dari tadi Kakashi ada di sana, mereka 'kan tidak perlu repot-repot segala! Keluh mereka dalam hati. Kakashi yang melihat gelagat itu cepat-cepat menyela. "Tapi kalian hebat, lho! Tim 8 juga ada di hutan ini, tapi mereka tidak sampai bertemu gerombolan ini. Tapi kalian berhasil menekan mereka sampai batas terakhir, kan?" katanya separo menghibur. "Selain itu..."

"Selain itu?" Naruto mengedikkan kepala tak mengerti.

"Aaaah," terdengar suara Izumo dari belakang mereka. "Lihat. Matahari sudah terbit."

Sasuke dan Naruto melihat ke arah langit. Benar, sejak kapan hari sudah menjelang pagi? Langit yang gelap hitam perlahan dihiasi semburat berwarna ungu biru—menunjukkan ada cahaya matahari yang sebentar lagi akan menaiki cakrawala. Naruto memandang langit dengan perasaan kagum.

"Yaaa, kalian hebat. Kalian bisa bertahan sejauh itu!" kata Kakashi.

Sasuke dan Naruto berpandangan. Naruto tersenyum lebar. "He he he... kalau begitu, kali ini kita berhasil melakukannya juga, ya, Sasuke?"

Sasuke tak dapat menahan keinginannya untuk ikut tersenyum—senyum tipis muncul di wajahnya. "Hn."

"Aaaaah! Dasar sok keren, cuma menjawab begitu saja, hoi!"

"Memangnya apa yang harus aku katakan? Memangnya otak bodohmu itu akan mengerti?"

"Siapa yang bodoh, Sasukebe-brengsek?!"

"Ssssst, sudah, sudah... memangnya kalian tidak capek?"

Matahari mulai muncul di ufuk timur, menandakan misi kali ini telah...

Selesai.


End


From Azumi x)

Wuehe! Selesai euy! Akhirnya dengan perjuangan keras fic ini bisa berakhir bahagia –halah- so, bagaimana nih? Menarikkah? Apa ada yang kurang? Seru ndak? :D O ya, dan akhirnya juga scene babuk-tinju-tendang bisa ditumpahkan di chap ini. YEAH! Padahal waktu bikin scene-nya dikit banget, tapi berkat Papillon-neechan jadi banyak scene-nya dan juga terasa auranya alias gregetan –aku sendiri greget- XD (thanks ya neechan!)

From Blekpapi :)

Finally, finished! Yaaaay! Pede banget sih saya, padahal saya 'kan cuma nambah-nambahin dikit, sama ngejelasin pendeskripsiannya. Idenya sih berasal dari adik saya, non Azumi. Saya sih kering-ide-sekali. Fuaaah, saya emang ngga bakat nyari ide, bisanya cuma ngejabarin doang :) Saya ngga tau deh apakah saya kelewat berlebihan... asalnya, inner Sakura alias 'shannaro'nya itu nggak ada, saya tambahin. Begitu juga dengan 'kaze no jutsu'-nya si mas penjahat. Abisan, kasian si mas penjahatnya kalo ngga dikasih jurus spesial... meskipun saya juga ngga ngerti apa sih maksudnya 'kaze no jutsu' itu hihihi XDD haduh maap saya emang ga biasa sama dunia ad-pen-tur atau apalah itu.

Dannn... akhir kata kami ucapkan terima kasih pada kalian yang sudah mereview, sangaaad berarti. Terima kasih untuk Ambudaff yang sudah membenulkan dan mengoreksi, hehehe makasih ambuuuu! dan mungkin scene tarung-menarung di sini juga agak aneh, tapi yaaah, inilah percobaan pertama kami bikin adventure, semoga anda enjoy membacanya! memang, Maripossa juga judul animasi Barbie, hihihi...

Blekpapi: Eh, Imouchan... kok kayaknya ini cuma plot without point ya?? Cuma satu event aja ngejabarinnya panjang beginih!

Azumi: Jiah... itu sih, siapa yang nulisnya kepanjangan sampe minta dibikin two-shots! Tadinya kan ini oneshot...

Blekpapi: *kabur*

Big Hug for : Miyu201 - Ambudaff - Myuuga Arai - Furukara Kyu - Lil-Ecchan - Sabaku no Panda-kun - karupin . 69 - Kosuke Gege 'maeda' - kawaii-haruna - wolfie von mudvayne - Kakoii-chan - Hiryuka Nishimori

Thanks for Read, and...

Review?