"Akhir Hidup 5 Sahabat"
"Hinata, beneran nggak apa-apa kalo sendirian?" tanya Tenten, sahabat Hinata.
"Ya.. gak apa-apa.. Aku masih mau latihan," jawab Hinata sambil tersenyum.
"Ya sudah.. Kita duluan ya?" ujar Ino. "Ja Ne Hinata!" Teman-teman Hinata pun meninggalkan Hinata sendirian.
Hinata sedang berlatih biola untuk persiapan kompetisi beberapa hari lagi. Walaupun hari sudah mulai sore, Hinata tetap ingin melanjutkan latihannya di sekolah meskipun ia sendirian. Hinata berlatih di kelasnya, ia tidak berlatih di ruang musik karena banyak yang kabar burung tentang ruang musik yang angker.
Sekarang, jam sudah menunjukkan pukul 17:45.. Hari sudah mulai gelap…
"Ya ampun, gak terasa sudah jam segini… aku harus pulang nih. Tapi tanggung, aku pulang jam 18:00 saja, jadi sekitar 15 menit lagi." ujar Hinata dalam hati.
15 menit kemudian….
Hinata segera membereskan biolanya. Hari sudah benar-benar gelap. Hinata sudah mulai merasa takut. Ia segera mengambil tasnya lalu berjalan ke arah pintu kelas.
GLEEK GLEEK GLEEK
"Loh kok? Gak bisa dibuka sih?" ujar Hinata dalam hati.
GLEK GLEEK
Hinata terus mencoba membuka pintunya tapi hasilnya nihil. "Ah, gimana dong? Masak aku harus di sekolah semalaman?" Hinata sudah mulai panik.
Selama 20 menit ke depan, Hinata terus mencoba membuka pintunya. Tapi hasilnya tetap saja sama..
Pintunya tidak bisa dibuka...
30 menit kemudian……
Tinggal di sekolah semalaman ditambah lagi sendirian memang menakutkan, sudah sewajarnya jika Hinata merasa takut dan mau menangis. Hinata segera mengambil HP-nya lalu ia mengirim sms ke Sakura.
To : Sakura-chan
From : Hinata
Sakura-chan, aku terkunci di kelas sendirian, bisa tolong ke sini tidak? Ajak yang lain juga tidak apa-apa.. Tolong ya Sakura-chan.. aku ketakutan sekali di sini..
Tolong….
Hinata mengirim sms-nya dengan derai air mata. Ia takut gelap, dan kelasnya saat malam hari benar-benar gelap. Kenapa ia tak hidupkan lampu? Karena lampu di kelasnya mati.
--
Sakura menerima sms dari Hinata, ia juga prihatain kepada sahabatnya itu. Kemudian, ia membalas sms dari Hinata.
To : Hinata-chan
From : Sakura
Hinata sabar ya.. nanti kita pasti datang. Tenang aja, OK?
Aku udah kasih tau yang lain supaya ikut.. Kamu tunggu aja.. Kita pasti datang..
P/S : Jangan ngelakuin hal-hal yang aneh-aneh, tunggu aja. Mungkin sekitar 20 menit lagi kita dateng..
Setelah mengirim sms pada Hinata, Sakura dan kawan-kawan janjian untuk ketemuan di depan gedung sekolah.
--
Sementara itu, Hinata sedang meringkuk tepat di depan pintu kelas. Air matanya bercucuran saking takutnya. Tapi, sms dari Sakura sedikit membuat hatinya tenang.
40 menit kemudian… Sakura dan yang lain belum juga datang. Hal itu memupuskan harapan Hinata. Ia juga cemas kalau-kalau terjadi sesuatu yang buruk.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Hinata mengira itu adalah teman-temannya yang ingin menyelamatkannya. Tapi dia salah…
"Ka.. Kamu siapa?" tanya Hinata dengan mata yang memerah pada seorang lelaki yang sebaya dengannya. Ia mengenakan seragam eskul sepak bola di sekolah Hinata. Wajahnya tanpa ekspresi, rambutnya kuning acak-acakkan. Tapi, ia tetap bersyukur karena ada yang menyelamatkannya.
"Mau main bola?" ujar laki-laki itu datar.
Hinata tidak menjawab. Ia sebenarnya merasa takut, ia hanya ingin pulang secepat-cepatnya lalu meyakinkan bahwa ke-4 temannya baik-baik saja.
"Mau main bola?" tanyan laki-laki itu lagi.
"A.. ano.. Aku rasa ini sudah malam. Ja.. Jadi, lebih baik a.. aku pulang.. kau pulang.. ka… kalau mau main bola.. besok saja ya?" jawab Hinata terbata-bata sambil menunduk. Lalu, saat ia mengangkat kepalanya, anak itu sudah menghilang. Hinata pun bergidik takut.
"Kemana anak itu ya? Hmm.. lebih baik a.. aku cepat keluar dari sini…" ujar Hinata dalam hati. Sebelum meninggalkan kelas, Hinata memutuskan untuk mengirim sms kepada Sakura. Memberitahukan bahwa ia sudah bisa keluar dari dalam kelas.
To : Sakura-chan
From : Hinata
Sakura-chan, aku akhirnya bisa keluar dari dalam kelas..
Maaf ya merepotkan.. Ngomong-ngomong Sakura-chan dimana? Katanya mau ke sini? Kalo masih di rumah, yah.. aku sudah gak apa-apa kok.. gak usah ke sini.. :) –Hinata-
Setelah mengirim sms, ia pun meninggalkan kelas dan menyusuri koridor yang gelap gulita sendirian. Masih bertanya-tanya siapa anak yang membukakannya pintu tadi. Tapi sms-nya tidak dibalas oleh Sakura. Tiba-tiba….
DUUUUUK
Kepala Hinata tertimpuk bola. "Aduh…" ujar Hinata kesakitan. Ia pun mengelus-ngelus kepalanya yang sakit. Tiba-tiba di hadapannya muncul anak laki-laki yang membukakannya pintu tadi. Anak itu memandang Hinata tajam.
"I.. Ini.. bolanya…" ujar Hinata. Ia, mengambilkan bola yang menimpuk kepalanya.
Anak itu diam saja. Hinata pun menyodorkan bola itu sambil tersenyum. Tapi anak itu tidak mangambil bolanya.
"I.. ini?" ujar Hinata bergetar, menyerahkan bola milik anak itu. Saat anak itu mendekat, barulah terlihat oleh Hinata kalau kepala anak itu berdarah-darah. Tangan kirinya buntung dan meneteskan banyak darah. Tiba-tiba, anak itu menjulurkan tangan kanannya… semakin dekat ke arah Hinata…
Semakin dekat….. Semakin dekat…….. GREP!
"Mau main bola?" tanya anak itu sambil mencekik leher Hinata. Hinata pun kaget. Ia sesak napas. Dan merasa itulah akhir hidupnya.
"Ba….. b… aik…la…h (Baiklah)" jawab Hinata pasrah. Anak itu melepaskan genggamannya. Seketika itu lah, Hinata jatuh ke lantai. Tak berdaya.
"Kau…. Bolaku sekarang……" ujar laki-laki itu datar.
--
Sebenarnya, Sakura dan kawan-kawan sudah sampai 20 menit yang lalu. Mereka datang tepat waktu, tapi setelah sekian lama mencari, hasilnya nihil. Mereka tak bisa menemukan Hinata di kelas. (Padahal Hinata ada di kelas, tapi, mereka tidak bisa melihat Hinata karena tipu daya hantu). Mereka sudah berkali-kali mencoba menghubungi Hinata. Namun, tidak nyambung-nyambung.
"Kita berpencar saja deh! Sakura ke ruang musik. Sekalian koridor lantai 4! Ino ke halaman sekolah! Tenten koridor lantai 3 sekalian toilet-toiletnya! Aku ke atap sekolah yang ada di lantai-6!" perintah Temari. Teman-temannya pun mengikuti perintah Temari dan segera mencari Hinata dengan cahaya dari HP, karena mereka tidak membawa senter.
--
Sakura berjalan menuju ruang musik yang berada di lantai 4, berjalan pelan-pelan dengan bantuan sinar HP. Selama perjalanan ia terus memanggil-manggil nama Hinata. Tapi tak pernah ada jawaban. Tiba-tiba ada sms dari 'Hinata'.
To : Sakura-chan
From : 'Hinata'
Aku terkunci di ruang musik.. tolong aku ya? Sakura-chan?
"Dasar Hinata…", ujar Sakura sambil tersenyum sesudah membaca sms itu.
Sekarang, Sakura berjalan ke arah ruang musik. Lalu, terdengar nada-nada alunan lembut piano.
"A…a.. apa Hinata bi.. bisa bermain piano?" tanyanya dalam hati. Sakura segera membuka pintu ruang musik. Ruang musik sangat gelap. Ia tak melihat siapa-siapa, tapi Grand Piano yang berada di dalam R. Musik tersebut berhenti menegeluarkan alunan musik yang indah. Sakura bergidik takut, air mata bercucuran dari pelupuk matanya. Ia benar-benar ketakutan.
"Halo? Hinata?" ujarnya lirih. Sambil terus berdiri terpaku. Tapi tak ada jawaban. Sakura melangkahkan kaki keluar. Saat ia ingin keluar, tiba-tiba saja terdengar lagi alunan musik yang indah.
Sakura menengok – Alunan musik berhenti. Sakura berbalik ke arah pintu – Alunan musik berbunyi lagi.
Sakura menengok – Alunan musik berhenti. Sakura berbalik ke arah pintu – Alunan musik berbunyi lagi.
Sakura menengok – Alunan musik berhenti. Sakura berbalik ke arah pintu – Alunan musik berbunyi lagi
Sakura menengok – Terlihat laki-laki yang memiliki mata yang hitam legam, rambut biru berdiri seperti landak, kulit sepucat mayat, dengan jari-jemari yang tidak lengkap sedang berdiri sambil memandangnya. Mata Sakura melebar.
"Mau main piano bersamaku?" tanya laki-laki itu dingin.
"Ano, la.. la.. lain ka.. kali saja ya?" jawab Sakura gugup. Laki-laki itu diam kemudian berkata..
"Kalau tak mau.. aku pinjam jari-jari indahmu.." ujar laki-laki itu dingin.
"UAAAAAAAAAAAAAAGH", Sakura berteriak.Sebuah pisau tajam menancap tepat di perut Sakura.
- Akhir hidup anak perempuan baik hati yang malang berambut pink-
--
Tidak seperti Sakura yang berjalan pelan-pelan, Tenten memilih untuk berlari sekencang yang ia bisa. Berlari sambil meneriakkan nama Hinata. Tenten tak pernah ciut dalam hal berkelahi. Namun, untuk mencari teman, menyusuri koridor lantai 3 yang gelap gulita jelas membuat nyalinya ciut.
Sepanjang koridor lantai 3, Tenten tidak mengalami atau melihat hal-hal yang aneh. Ia beruntung. Namun keberuntungannya berakhir saat ia melewati toilet anak laki-laki.
"Di toilet anak perempuan Hinata nggak ada sih.. Tapi, apa toilet anak laki-laki harus diperiksa juga? Masa' Hinata masuk ke toilet laki-laki?" pikir Tenten dalam hati. Baru saja Tenten berpikir begitu, tiba-tiba HP-nya berdering. Ternyata sms dari 'Hinata'.
To : Tenten-chan
From : 'Hinata'
Tenten-chan, aku terkunci di toilet anak laki-laki.. tolong aku ya?
Perasaan kesal, sebal, bingung, sekaligus lega mengelilingi Tenten. "Hinata gimana sih! Haha.. Masak ke kunci di toilet cowok? Dasar tuh anak…ada-ada aja.." ujar Tenten dalam hati. Tadinya Tenten merasa sedikit ragu. Tapi ketika ia mendengar suara keran, ia menjadi lebih yakin karena di dalam ada orang. Langsung saja Tenten membuka pintu toilet.
Ia tak menemukan siapa-siapa di toilet. Tapi, mungkin saja Hinata berada di dalam salah 1 dari 6 Toilet Stall yang ada di toilet sekolah tersebut. Suara gemercik air terus terdengar di telinga Tenten.
"Hinata?" panggil Tenten. Jantungnya berdetak sangat kencang. Tapi tak ada jawaban.
Tenten membuka toilet stall yang pertama – tidak ada siapa-siapa
Tenten membuka toilet stall yang kedua – tidak ada siapa-siapa.
Begitu juga dengan toilet stall yang ke-4 dan ke-5. Tapi toilet stall yang ke-enam? (Suara air tetap terdengar)
GLEK GLEK GLEK. Pintu toilet stall yang ke-6 tak bisa dibuka.
"Hinata?" panggil Tenten sambil mengetuk pintu. Tenten terus mengetuk pintu walaupun, firasat buruk terus menghantuinya. Ia juga terus memanggil-manggil nama Hinata.
Akhirnya pintu terbuka. Dan dilihat Tenten mata lavender yang sama dengan mata Hinata. Tapi itu bukan Hinata. Seseorang dengan mata lavender, kulit pucat seperti mayat, kepala berdarah-darah, rambut panjang, memiliki tatapan kosong, dan membawa pistol. Umurnya sebaya dengan Tenten.
"Mau main air?" tanya laki-laki itu dingin.
"UWAAAAAAAAAAAAA!!" Tenten berteriak, lalu segera menuju pintu keluar tilet. Tapi pintunya tak bisa di buka. Tenten pun menangis sambil terus menggedor-gedor pintu. Tak disadari oleh Tenten, laki-laki itu sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Ayo.. main air dengan darah segarmu.. sendiri…" ujar laki-laki itu datar sambil menodongkan pistol ke arah Tenten.
DOOOOOOOOOOOR! Peluru menuju tepat ke arah Tenten.
- Akhir hidup anak perempuan tomboy yang malang bercepol dua-
--
Bisa dibilang, Ino adalah anak terpenakut setelah Hinata. Ino berjalan pelan-pelan menyusuri halaman sekolah yang gelap. Namun tak begitu gelap, karena mendapat sedikit cahaya dari bulan. Ino tetap menggunakan HP-nya untuk membatu penyinaran. Ia terus memanggil-manggil nama Hinata. Tapi tak ada jawaban. Tiba-tiba HP Ino berdering. Ternyata ada sms dari Hinata.
To : Ino-chan
From : 'Hinata'
Ino-chan, aku lagi duduk di kursi taman nih.. hahahaha.. duduk-duduk yuk?
Setelah membaca sms dari 'Hinata' Ino rasanya ingin berteriak. "HUUUH! Hinata gimana sih? Dicariin malah duduk di taman, gila kali ya tuh anak?" ujar Ino dalam hati. Kemudian ia segera menuju ke taman dimana ayunan itu berada.
Sampailah Ino, di taman sekolah milik sekolah. Kursi tamannya kosong. Tak ada yang menduduki.
"Kemana sih tuh anak?" dumel Ino. Ia mencoba menghubungi Hinata namun tak diangkat-angkat. Ino pun memutuskan untuk meninggalkan taman dan mencari di tempat lain. Tapi, saat ia melangkahkan kaki untuk meninggalkan taman, saat ia berbalik ia bertemu anak laki-laki yang sebaya dengannya.
"UWAAAAAAAAAAA!!" Ino spontan berteriak karena kaget. Dilihatnya laki-laki dengan kulit yang sangat pucat, mata hitam, rambut hitam, sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Ayo biarkan aku melukismu.." ujar laki-laki itu sambil menggenggam pundak Ino dengan sangat keras. Ino sebenarnya ingin menolak. Namun, ia tak bisa bergerak. Kemudian, badannya bergerak sendiri, duduk di kursi taman sementara anak laki-laki itu melukisnya. Ino hanya bisa menunduk sambil menangis. Beberapa menit kemudian, Ino mengangkat kepalanya, anak itu sudah pergi….
Jantung Ino berdetak sangar kencang, matanya melebar. Dan ketika ia menoleh ke arah kiri, laki-laki yang melukisnya berdiri tepat di sampingnya sambil tersenyum. Namun ada yang berbeda dari laki-laki itu…
Di wajahnya terdapat bercak-bercak darah….. Ino tak bisa menjerit ataupun berteriak.. Tapi, air mata terus keluar dari matanya..
"Biarkan aku.. melukis wajahmu ya?" kata laki-laki itu sambil mengeluarkan silet dari sakunya. Ino hanya bisa diam.
"Apa ini akhir hidupku?" ujar Ino dalam hati.
Dan seketika itu juga, laki-laki itu mulai melukis wajah Ino dengan silet yang tajam. Darah segar bercucuran dari pipi, dahi, dan sekujur wajah Ino. Ino terus merintih sakit, tapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Berteriak pun tidak bisa.
"Sekarang akanku lukis tanganmu…" ujar laki-laki itu.
Di angkatnya tangan Ino, lalu laki-laki itu mulai menuliskan sebuah kata tepat di urat nadi Ino. S A I . Itulah kata-kata yang di tulis laki-laki itu. Dan dalam sepersekian detik, Ino jatuh ke tanah.
- Akhir hidup anak perempuan atraktif yang malang berambut pirang-
--
Temari terus berlari menuju atap sekolah, ia terus berlari menyusuri tangga dengan bantuan sinar HP-nya. Temari adalah anak yang sama sekali tidak percaya mistik. Ia tak percaya pada hantu ataupun yang sejenisnya. Tiba-tiba HP-nya berdering. Ternyata sms dari 'Hinata'.
To : Temari-chan
From : 'Hinata'
Temari-chan, aku lagi di atap.. tidur-tiduran memandang langit malam..
Ikutan yuk? Kamu bisa tidur loh di sini… adem..
Jemput aku ya? Temari-chan? Maaf MEREPOTKAN.
Setelah membaca sms dari Hinata, Temari menjadi sedikit kesal. Tapi perasaannya bercampur dengan senang dan lega karena Hinata baik-baik saja. Sesegera mungkin Temari mempercepat larinya menuju atap sekolah.
Akhirnya, Temari sampai di depan pintu atap sekolah. Ia membuka pintu itu.
GLEEEEK
Pintunya terbuka. Memang ada seseorang yang sedang tiduran memandang langit. Tapi itu…
Bukan Hinata..
Temari melangkahkan kakinya untuk melihat orang yang sedang tiduran lebih dekat. Ternyata anak laki-laki yang sebaya dengannya.
Sedang 'tertidur'.
Temari mau bertanya dimana Hinata. Jadi, ia membangunkan laki-laki itu.
"Hei, hei kepala nanas.." Temari mencoel-coel kaki laki-laki yang sedang 'tidur' itu. Tapi, laki-laki itu tidak bangun-bangun juga. Temari pun merasa sedikit kesal dan tak sabaran. Di pukulnya pipi anak laki-laki berambut nanas itu. Tapi ia tak bangun-bangun juga.
Temari beranjak dari duduknya dan menatap ke bawah dari atap. Kalau tak hati-hati, Temari pasti sudah jatuh. Tiba-tiba, Temari merasa seseorang sudah berdiri tepat di belakangnya. Ia menoleh. Yang dilihatnya adalah….
Laki-laki yang sedang tidur tadi..
Tapi ada yang berbeda dari laki-laki itu. Tubuhnya berdarah-darah. Kepalanya bocor.
"Mengganggu peristirahatan terakhir orang. Merepotkan." ujar laki-laki itu datar.
Temari rasanya ingin berteriak melihat kondisi laki-laki itu. Ia pun berteriak sekencang yang ia bisa. "UWAAAAAAAA!!" jeritnya.
"Dasar cewek.." ujar laki-laki itu. Lalu laki-laki itu mendorong Temari.
"UWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!" teriakkan Temari mungkin terdengar di seluruh lingkungan sekolah. Tapi, siapa yang mau mendengar teriakkannya? Sementara temannya yang lain juga sudah tidak ada.
"Orang yang jatuh dari lantai 6 pasti meninggal ya?" ujar Temari dalam hati sementara ia terus meluncur jatuh ke tanah.
DUUUUUUUUUG..
Temari pun terjatuh, kepalanya mengeluarkan banyak darah. Matanya terpejam untuk selama-lamanya.
- Akhir hidup anak perempuan pemberani yang malang berkuncir empat-
--
Hinata sedang berdiri di lapangan bola di sekolahnya. Dilihatnya seorang laki-laki yang sedang bermain bola denagn tangan buntung. Tapi yang dimainkan laki-laki itu bukan bola..
Lalu apa?
Bukan bola, tapi kepala Hinata. Kepala Hinata sendiri.
"Kalau itu kepalaku.. aku ini apa?" tanya Hinata datar.
The End
Ya, ini adalah chapter terakhir.. tolong baca epilognya juga ya!! Ini sudah ada kok epilognya, saya buat langsung sama epilog. Baca epilognya ya!!
Doumo Arigatou Minna……
"""""""" mugle.30.05.80""""""""
