"Itu karena, gue udah janji sama ibunya Tenten buat jaga dia

"Itu karena, gue udah janji sama ibunya Tenten buat jaga dia. Gue sedih banget waktu harus pindah ke Amerika, jauh dari dia. Ibunya Tenten yang udah susah payah nyari keluarga gue! Itu kenapa" Sasuke menundukkan kepalanya

Laugh Away!

--forth beat: Rolling Star

"Maafkan kami Kurenai sensei. Sasuke, Neji dan saya nggak bermaksud untuk menimbulkan kekacauan di rapat ini. Kalau boleh, saya mau permisi. Saya janji nggak akan ganggu rapat ini." Kata Tenten yang sudah berbalik badan dan akan berjalan keluar

"Stop."

"Ada apa Sasuke?" Tanya Kakashi

"Aku bilang, Tenten STOP. Jangan jalan lebih dari itu" kata Sasuke

"Sasuke, aku kan udah bilang nggak mau ganggu rapat ini lagi? Kenapa aku pake distop-stop segala?" teriak Tenten

"Tenten ikuti apa yang dikatakan Sasuke." Kata Neji lembut, tapi serius.

"…" tanpa suara, Tenten mengikuti perintah Neji dan kembali duduk di samping Lee.

"Nah, Hinata-chan, sudah selesai latihannya. Kamu pulang deh, udah mau malam nih." Kata Naruto

"Iya, Naruto senpai"

"Pein, kamu tolong anterin Hinata ya. Naru-chan kan harus Les Bahasa Jerman. Salam untuk ayahmu ya, Hinata" kata Minato lalu mengajak Naruto ke dalam rumah.

"Iya, Namikaze-san. Saya mau permisi dulu ya." pamit Hinata

"Tschus, Hinata chan!" teriak Naruto

"Iya, Naruto-senpai, sampai jumpa lusa ya" teriak Hinata balik, lalu ia mengikuti Pein yang sedang menuju mobilnya.

Pein membukakan pintu untuk Hinata, layaknya ia seorang putri, lalu Hinata berterimakasih pelan kepadanya.

"Kakak tau rumahku di mana?" Tanya Hinata kepada Pein

"Duh, kamu tuh gimana sih? Emang yang biasa nganterin Naru-chan ke rumah kamu tuh siapa? Batu?" kata Pein lalu ia tertawa.

"Hehehe, emangnya siapa sih?" Tanya Hinata, dia memang tidak pernah tau, siapa yang mengantar senpai jabriknya yang satu itu.

Pein mengernyit," Ya ampun, ya aku lah. Lagian, kita nggak bakal langsung ke rumah kamu kok." Kata Pein sambil menjalankan mobilnya. Bukan mengarah kearah jalan besar yang biasanya dilewati, tapi malah ke jalan kecil di pinggir sungai yang jernih.

"Eh?"

"Tunggu aja, aku mau ngasih tau suatu tempat yang bahkan Naru-chan belum aku perlihatkan." Pein tersenyum

"Jadi kesimpulan rapat adalah…" Kurenai berbicara hanya untuk dipotong bicaranya oleh Shikamaru.

"Rapat pensi belum bisa dilaksanakan karena Ino langsung pulang, bla.. bla.. bla.. Boleh pulang nggak sensei?" tana Shikamaru, ia menggumamkan sesuatu seperti 'Merepotkan' atau 'Membosankan'

"Kamu ini, dasar. OSIS atau bukan sih? Semangat banget ikut rapat." sindir Anko

"Yah, Shika-kun emang bener sih. Kalau nggak ada Ino sama aja bohong. Kita nggak akan dapat kesimpulan rapatnya, unless Ino itu bukan kesenian. Mana Hinata nggak mau jadi panitia. Dia kan mau jadi pengisi acara doang, denger-denger sih, mau isi acara bareng Naruto" kata Temari panjang nan lebar

"Ciee… Temari yang belain calon suamii…" Kiba berteriak tiba-tiba

GRAUP!! Terdengarlah seperti kugutsu memakan manusia blasteran anjing.

Nggak ding. Ternyata Kankuro menatap Kiba dengan pandangan mautnya yang luar biasa mematikan itu.

"Hehe, maaf Kankuro. Kan bercanda" kata si Inuzuka, lalu dia bergumam; 'Sister-complex'

"Tadi ngemeng epe??" Tanya Kankuro

"Gak apa-apa.. hehe." Kiba menunjukkan symbol peace dengan kedua tangannya

'Hamparan bunga Edelweiss di Jepang? Belum pernah ada yang lihat. Lagipula bunga Edelweiss hanya bisa tumbuh di dataran tinggi setinggi gunung…' pikir Hinata, ia menganga melihat pemandangan di depan atanya itu

"Ini…" Hinata tak bisa berkata-kata

"Yeah, Edelweiss Musim Panas."

"Kok bisa,…" Hinata tak mampu berkata kata

"Aku baru menemukannya waktu ikut ayah jalan-jalan keliling Osaka. Aku kebelet pipis, dan tanpa sengaja aku menemukan tempat ini" kata Pein sambil berjalan makin dekat dengan tebing yang menunjukkan daerah Osaka dari atasnya." lalu Pein tertawa sambil menggaruk belakang lehernya.

"Apa nama tempat ini? Kayaknya aku belum pernah meneukan tempat ini di buku panduan wisata manapun deh." Kata Hinata bingung, lalu ia memperhatikan bintang salib selatan yang terlihat jauh sekali.

"Memang belum ada yang tau selain kamu sama aku. Aku berencana ngasih tau Naru-chan, tapi takutnya dia bakal jadi over-excited dan mungkin bakal ngajak untuk mencoba hal-hal yang err…,merepotkan seperti berkemah…"

"Iya, ide bagus! Kita bisa aja berkemah kapan-kapan kan? Bahkan bisa pakai api unggun!" Hinata meloncat saking girangnya

"Err, sebenarnya Hinata, aku hanya mau tempat ini jadi rahasia." Kata Pein smbail menggaruk leher belakangnya.

"Oh, begitukah? Baik! Terserah sama penemunya deh!!" kata Hinata. Seakan-akan ia tertular penyakit over-excited milik Naruto-senpainya itu

"Tapi kalau Hinata-chan kapan-kapan mau kesini juga nggak apa-apa kok." Kata Pein. Lalu ia memetik salah satu bunga Edelweiss.

"Hm, Pein-senpai, kapan pulangnya nih? Nanti ayahku marah." Hinata mengingatkan Pein tentang betapa ayahnya kalau marah

GLEK—Pein menelan ludah dan langsung berlari kembali ke mobilnya, Hinata mengikutinya dari belakang.

"Huh. Sungguh rapat yang merepotkan. Itu rapat bisa memakan waktu sampai malam kalau aku tidak berhentikan. Mana akhirnya nggak ada kesimpulannya lagi.." Shikamaru menumpahkan keluh-kesahnya pada Temari yang nampaknya malah tidak mendengarkan sedari tadi

"Oi, Temari"

"…"

"Temari!" panggilnya lagi

"…"

"TEMARI!!" Shikamaru berteriak, Temari hanya menengok sebentar lalu memandang ke jalan raya lagi.

"Ya sudah, aku mau pulang duluan ya, au revoir, Shika-kun" Temari melambaikan tangannya.

"Dasar anak yang aneh. Diajakin ngomong malah pergi" Shikamaru geleng-geleng kepala

"Heh, tadi kamu ngomong apa tentang aku?"

"Nggak."

"Ya udah. Aku duluan ya. Nanti aku ditanya macem-macem lagi sama Gaara." Kata Temari lalu ia tersenyum

"Eh, adikmu, si Gaara itu masih belajar main angklung di Indonesia?" Tanya Shikamaru

"Oh, harusnya sih masih. Tapi dia mutusin untuk pulang ke rumah cepat. Dia bosen" kata Temari.

"Oh gitu ya. Guess I'll just, see you tomorrow?"

"Hm! Dadah!" Lalu Temari berlari menuju arah subway. Sedangkan Shikamaru berjalan ke arah yang berlawanan, tangannya dikantung celananya.

"Besok rapat, lusa rapat, sebulan lagi rapat terus…" Shikamaru mendengus. Tapi sebenarnya ia berterimakasih kepada rapat-rapat ini.

Ia menatap langit, melihat bintang-bintang,

'Can't wait 'till tomorrow' pikirnya senang.

Tenten menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk di kamarnya. Menatap gelang anyamnya, lalu melihat jam yang menunjukkan jam 12 malam, waktu yang tidak biasa bagi seorang Tenten, karena dia belum tidur

Tenten tersenyum sinis, hampir sama dengan senyum sinis Sasuke yang ia lihat di foto mereka berdua yang baru dipotret sehabis rapat itu

"Sasuke… kun" desisnya, entah apa yang dipikirkan Tenten

"Neji… kun?" Ia berdesis lagi, penuh pertanyaan

Haruskah ia menambahkan suffix itu? Apakah Neji sederajat dengan Sasuke?

Siapakah yang meminta untuk memanggil Neji dengan Neji-KUN?

Tenten mengingat kejadian yang tak terduga itu…

Flashback… Setelah Rapat

Neji sedang berjalan bersama Sasuke, memang terdengar aneh, tapi saya belum selesai. Neji berjalan sedang berjalan dengan Sasuke, dengan Tenten ditengahnya untuk memisahkan mereka dari keributan yang sebelumnya terjadi.

"Sasuke-kun? Hei, kamu melamun" kata-kata Tenten yang lembut membangunkan Sasuke dari lamunannya

"Sasuke? Kau nggak apa-apa? Kalau sakit biar aku yang mengantarkan Tenten pulang." kata Neji pada Sasuke

"Aku ngga apa—"

"apa.." Sasuke sudah merasakan hawa yang tidak nyaman melihat mobil Peugeot yang melintas. Ia kenal nomor polisinya..

I-74-CHI

Dan perasaan Sasuke sangat teramat tepat. Seperti sudah ada tanda, kakak Sasuke sekaligus guru Sains-Inggris mereka, Itachi Uchiha adalah orang yang menaiki mobil tersebut.

"Kak Itachi, kupikir Sasuke sakit. Bisa kan kakak membawa pulang Sasuke?" Tanya Tenten

"Tentu saja Tenten. Ayo Sasu-chan"

"…" Sasuke berjalan ke mobil Itachi dan langsung terbaring lemas begitu ia duduk di joknya.

"Baik, Tenten, Neji, kami duluan ya. Oh iya. Kalau besok Sasuke tidak bisa masuk, mohon maklum. Akhir-akhir ini, dia sering sekali sakit. Sampai jumpa" Itachi tersenyum lalu memacu mobilnya.

Sunyi sekali, Tenten tidak berbicara pandangannya lurus ke depan. Neji terlihat seperti ia akan mengucapkan sesuatu tapi ia takut dan ragu

"Tenten. Erm, ehh.."

"Kenapa Neji?"

"Bi- Bisa nggak,… err" Neji mulai gagap, ia mengepalkan tangannya lalu menopang dagunya.

"Bisa apa?"

"Bisa nggak kamu panggil aku, err.. Neji-kun?"

"Eh?"

"Kalau nggak mau sih nggak apa-apa…" lalu Neji pulang ke rumahnya sebelum Tenten sempat menjawabnya

Flashback selesai

Major millions of 'sorry's too for this short-length chapter, promise, for the fifth beat, it will be longer than usual.

I want to thank my fellow fafict authors/authoress who have kindly review this piece of mine, also for readers, don't hesitate to review! But I stick on to my motto, "REVIEW IF YOU WILL" if you don't want to review, then don't, why complicate yourselves?

Maybe it's a very cocky idea about Neji-kun thingy. Well, I don't make such big fuss about it. And maybe you're confused why I use English for chitter-chatter like this, well it's that I missed my English-course so much… Love hugs for ILP Rawamangun

Playlist Winamp: Nagareboshi Shooting Star - Home Made Kazoku

Review if you will

Ja, matta ne..