Makasih buat yang udah baca Kimi No Memori…
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Angst
Rating: T
Pairing: SasuSakuNaru
Otanoshimi yonde kudasai ne minna!
Kimi No Memori
Story by: Akina Takahashi
Chapter 2: Kanashii Toki
"Apa maksudmu Tsunade-sama?" Sasuke menaikkan alisnya.
"Iya benar! Apa maksudmu Tsunade-baachan!" Naruto kembali mengulang pertanyaan Sasuke.
"Maksudku, ia tidak akan pernah bisa mengingatmu lagi Sasuke." Jelas Tsunade.
"…" Sasuke hanya terdiam seribu bahasa. Ia menundukkan kepalanya dan memasukkan tangannya ke kantung celananya. Berusaha menyembunyikan perasaannya yang hancur. Ia tidak ingin dikasihani oleh siapapun, apalagi Naruto yang telah memandanginya dengan tatapan kasihan sejak tadi.
"Aku harus kembali ke kantorku. Ja!" Tsunade melangkah pergi meninggalkan Naruto dan Sasuke.
"Sasuke…" Naruto menatap Sasuke dengan tatapan khawatir.
"Aku ingin menenangkan diri dulu. Jaga Sakura!" Sasuke berjalan meninggalkan Naruto.
Sasuke menatap langit biru yang terbentang luas di atasnya. Beberapa awan dengan bentuk aneh menghiasi langit. Setelah cukup puas melihat langit, ia menundukkan kepalanya menghadap ke rumput yang dipijaknya.
"Mungkin ini adalah hukuman bagiku." Ujarnya lirih. Pandangannya masih tertuju ke bawah.
"Aku akan menunggu Sasuke-kun"
"Aku menyukai Sasuke-kun lebih dari apapun."
"Sasuke-kun, izinkan aku ikut denganmu. Bawa aku bersamamu. Kumohon"
"Sasuke-kun, aku mencintaimu."
"Sasuke-kun, aku akan memberikan segalanya untukmu."
"Sasuke-kun, aku akan melakukan apapun agar aku dapat bersama denganmu."
"Aku menyayangi Sasuke-kun lebih dari diriku sendiri."
"Sasuke-kun kumohon, perhatikan aku sedikit saja."
"Apa aku hanyalah seorang pengganggu bagimu Sasuke-kun?"
"Kumohon izinkan aku mencintaimu."
"Aku mencintaimu selamanya."
"Sasuke-kun"
"Sasuke-kun"
"Sasuke-kun"
"Sasuke-kun"
"Sasuke-kun"
"Sasuke-kun"
Bayangan masa lalunya kembali mengusik pikirannya. Sasuke berdiri memandangi sebuah pohon Sakura yang sedang mekar di depannya.
"SYUU" angin berhembus menerbangkan kelopak-kelopak bunga Sakura.
Sebuah kelopak bunga Sakura yang tertiup angin melayang kearah Sasuke. Sasuke mengulurkan taangannya kemudian menangkap bunga itu. Ia membuka kepalan tangannya dengan perlahan kemudian memandangi bunga Sakura yang ada di tangannya.
"Maafkan aku Sakura…"
.
.
Apapun yang terjadi aku akan tetap membalaskan dendam klan-ku. Tak ada yang bisa menghentikanku. Bahkan kau, Sakura.
.
.
Naruto menatap Sakura yang masih tak sadarkan diri dengan tatapan khawatir, ia menggenggam erat tangan lemah Sakura.
"Ugh…" Sakura membuka matanya perlahan kemudian mendudukkan dirinya di tempat tidurnya.
"Sakura-chan." Naruto tersenyum lembut.
"Naruto, apa yang sebenarnya terjadi?" Sakura menaikkan alisnya.
Naruto mendekat kearah Sakura kemudian memeluknya. Tangannya mendekap erat tubuh mungil Sakura.
"Na…Naruto!" Sakura tersentak kaget karena Naruto memeluknya tiba-tiba.
"Sakura-chan, maafkan aku karena aku gagal melindungimu." Naruto berbisik lemah. Ia berusaha menahan air mata yang telah menggenangi pelupuk matanya sejak tadi.
"Naruto… tidak ada yang perlu dimaafkan." Sakura berbisik.
Sepasang mata berwarna hitam menatap Naruto dan Sakura dengan tatapan sedih dari balik pintu.
Sasuke mundur beberapa langkah kebelakang kemudian merubah arah jalannya menuju bangku yang ada di depan ruangan Sakura. Ia mendudukkan dirinya di bangku itu kemudian menautkan jemarinya di keningnya. Matanya terpejam. Ia berusaha melupakan apa yang baru saja ia lihat tadi. Hatinya sakit, pikirannya kacau. Ia memang bukan orang yang mudah melampiaskan perasaannya seperti Naruto. Sebenarnya sejak tadi ia sudah sangat ingin menangis. Namun, entah kenapa air matanya tidak bisa keluar. Mungkin harga dirinya sebagai seorang Uchiha tidak mengizinkannya menangis.
Tiba-tiba dari kejauhan terlihat sesosok gadis berambut panjang berjalan mendekat kearah ruangan Sakura. Gadis itu membawa sekeranjang buah-buahan di tangannya. Mata lavendernya sedikit melebar ketika melihat Sasuke yang sedang duduk di depan ruangan Sakura.
"A…Ano Sasuke-san, a…apa Sakura ada di dalam?" gadis itu sedikit tergagap.
"Lebih baik jangan lihat." Ujar Sasuke singkat. Sementara matanya masih terpejam.
"A…apa?" Hinata sedikit tidak mengerti.
Tanpa sadar matanya menatap Sakura dan Naruto yang sedang berpelukan di dalam ruangan. Hinata mundur beberapa langkah. Kakinya gemetar begitu pula tangannya, nyaris membuat keranjang yang ada di tangannya terjatuh.
"Sudah kubilang,sebaiknya jangan lihat." Sasuke kembali mengulang perkataannya tadi.
"Ma…maaf, a…ku mau titip ini untuk Sa…sakura." Gadis itu memberikan keranjang yang ada di tangannya pada Sasuke. Matanya tampak berkaca-kaca.
"Hn" Sasuke mengambil keranjang itu kemudian menaruhnya di samping.
"A…aku per…misi dulu." Hinata membungkuk memberi hormat kemudian berjalan menjauhi Sasuke.
"Naruto-kun…" gumam Hinata.
Ia menyusuri lorong dengan langkah gontai. Air mata terus-menerus mengalir membasahi wajahnya. Saat ini ia benar-benar ingin menghilang dari dunia ini. Berharap tak ada orang yang mengasihaninya.
Kasihan….
Benar-benar kasihan…
Seandainya waktu dapat diputar kembali.
Mungkin aku dapat bersama dengan dirimu sekarang.
Seandainya waktu dapat diputar kembali.
Mungkin aku adalah orang yang kau cintai, bukan dia.
Seandainya waktu dapat diputar kembali.
Mungkin cintaku padamu akan berbalas.
Seandainya waktu dapat diputar kembali.
Mungkin aku adalah orang yang ada di pelukanmu sekarang.
Seandainya waktu dapat diputar kembali.
Mungkin aku bisa memilikimu.
Seandainya waktu dapat diputar kembali.
Mungkin akulah satu-satunya wanita yang ada di hatimu.
Seandainya waktu dapat diputar kembali.
Mungkin aku tak akan berakhir menyedihkan seperti ini.
Hinata mempercepat langkahnya. Semakin cepat, semakin cepat, hingga ia akhirnya berlari dengan sekuat tenaga. Berharap menemukan pintu keluar yang dapat membantunya keluar dari rumah sakit ini. Bukan, dari dekapan kesedihan yang selalu membelenggunya.
.
.
.
.
.
.
Cahaya matahari menembus jendela menyinari ruangan Sakura.
"Ngh…" Sakura membuka matanya perlahan.
"Sudah bangun?" terdengar suara dingin menggema di seluruh ruangan.
"Ah, kangofu-san…" Sakura tersenyum lembut menatap Sasuke yang sedang membuka gorden jendela. Menyebabkan sinar matahari yang masuk semakin banyak.
"Kangofu-san?" Sasuke mengerutkan keningnya.
"Habis… aku kan tidak tahu namamu." Sakura tersenyum. Nada bicaranya seakan mengatakan 'beritahu-aku-siapa-namamu'
"Baiklah, panggil saja aku seperti itu."
"Kenapa kau tidak mau memberi tahu namamu padaku?" nada suara Sakura berubah menjadi nada sedih.
"Bukan urusanmu." Jawab Sasuke singkat.
"KRIET" pintu ruangan perlahan terbuka.
"Sakura-chan! Lihat aku bawa sesuatu!" Naruto tersenyum lebar.
"Apa itu?" Sakura nampak penasaran.
"Jeng jeng! Bonus dari Ichiraku Ramen!" Naruto menunjukkan sekotak ramen ukuran jumbo yang ada di tangannya. Ia tersenyum lebar hingga seluruh giginya terlihat kemudian mengacungkan jempolnya. Persis seperti gaya guy-sensei dan Lee.
"Norak!" Sakura memalingkan wajahnya.
"Usuratonkachi." Gumam Sasuke.
"Hyaa Sakura-chan hidoi…!" Naruto pura-pura menangis seperti anak kecil.
"Sudah, sudah. sini cup cup cup" Sakura berkata seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya yang menangis minta dibelikan permen.
Naruto melangkah mendekati Sakura kemudian duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Sakura.
"Nanti aku beri permen. Jangan menangis ya…" Sakura mengelus-elus rambut pirang Naruto.
"Hehehehe." Naruto tersenyum lebar. Matanya menatap Sasuke dengan tatapan 'aku-berhasil-mengalahkan-mu'
"Baka." Sasuke memalingkan wajahnya kearah jendela melihat kekonyolan sahabatnya itu. Walau sebenarnya ia ingin berada di posisi Naruto saat ini.
"Aku bukan orang bodoh yang senang diperlakukan seperti anak kecil." Sindir Sasuke.
"Apa maksudmu? Teme!" Naruto bangkit dari duduknya. Ia merasa tersindir oleh perkataan Sasuke tadi.
"Te…teme?" Sakura sedikit shock mendengar perkataan Naruto yang 'sedikit' kasar itu.
"Dobe." Gumam Sasuke.
"Teme? Dobe?" Sakura semakin tidak mengerti apa yang tengah terjadi pada kedua orang yang ada di depannya.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Sakura heran.
"Eh…!" Naruto sedikit terkejut mendengar pertanyaan Sakura.
"Tidak, kami baru saja kenal kemarin." Sasuke sedikit berbohong untuk menutupi identitasnya.
"Iya, iya" Naruto berusaha meyakinkan Sakura. Ia mengangguk-anggukan kepalanya.
"Naruto, boleh aku tahu siapa namanya?" tanya Sakura
"Kenapa kau tidak tanya saja pada orangnya Sakura-chan?" Naruto menatap Sasuke yang ada di hadapannya.
"Namaku bukan untuk diketahui orang lain." Jawab Sasuke singkat. Nada bicaranya seakan berkata 'bantu-aku-dobe'
"Ah, aku juga tidak tahu Sakura-chan. Ia tidak pernah memberitahuku siapa namanya." Naruto berbohong.
"Yaah padahal kukira kau tahu…" Sakura sedikit kecewa.
"Ng, Sakura-chan aku dan dia mau keluar sebentar ya!" Naruto tersenyum kemudian menarik lengan Sasuke menjauhi Sakura.
.
.
.
.
Naruto dan Sasuke berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit. Mereka berjalan hingga ke halaman yang ada di belakang Rumah Sakit. Naruto menghentikan langkahnya kemudian menatap Sasuke dengan serius.
"Apa?" Sasuke mengerutkan keningnya.
"Sasuke… kau menyedihkan." Naruto berbisik.
"Apa boleh buat kan?" ujarnya datar. Berusaha menyembunyikan kegalauan hati yang bergejolak didalam tubuhnya.
"Kenapa kau tidak membuat nama palsu untuk menyembunyikan identitasmu?" tanya Naruto.
"Aku tidak ingin terus-menerus membohonginya." Sasuke menundukkan kepalanya. Menghindari tatapan Naruto yang sejak tadi terus-terusan mengusiknya.
"Sasuke, sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadap Sakura-chan?" tanya Naruto serius.
"Biasa saja." Ujarnya datar. Sementara matanya masih terus menghindari tatapan Naruto. Kali ini ia memalingkan wajahnya kebelakang.
"TATAP MATAKU!" Naruto membalikkan wajah Sasuke menghadap wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya.
Sasuke menatap Naruto dengan tatapan enggan. Tatapannya seakan berkata 'aku-tidak-akan-membiarkan-kau-mengetahui-perasaanku-pada-Sakura'.
"Sebenarnya kau mencintainya kan? Sewaktu ia bertanya padamu sebenarnya hatimu sakit kan? Kau… kau sebenarnya cemburu padaku kan?" suara Naruto bergetar hebat. Air mata menggenang di mata birunya.
"Tidak."
"BOHONG! Jangan berbohong padaku Sasuke!" Naruto mencengkram kerah baju Sasuke.
Pikiran Sasuke semakin bergejolak. Emosinya nyaris saja tak dapat ditahannya lagi. Ia menepis lengan Naruto dengan kasar.
"Bukan urusanmu!" Sasuke berjalan menjauhi Naruto.
Naruto menunduk menatap tanah. Air mata jatuh mengalir dipipinya.
"Sasuke… aku tahu semuanya. Aku tahu kau mencintainya." Gumam Naruto.
"Aku sudah tahu semuanya Sasuke…
.
.
"Sasuke-kun, aku punya coklat untukmu! Terimalah!" Sakura tersenyum lebar. Tangannya menggenggam sebuah bungkusan berbentuk hati dengan pita merah yang melilit di atasnya.
"Aku benci makanan manis." Sasuke menolak.
"Ah, dibuangpun tak apa! Yang penting kau mau menerimanya. Eh tapi buangnya nanti saja. Jangan di depanku." Sakura memberikan coklat yang ada di tangannya kemudian melangkah pergi meninggalkan Sasuke.
"Oi, kalau kau tidak mau. Coklat itu untukku saja!" Naruto menawarkan.
"Tidak. Ini milikku."
"Bukankah kau tidak suka makanan manis?" Naruto mengerutkan keningnya.
"Iya."
"Lalu, kenapa kau…" Naruto belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena Sasuke telah pergi menjauhinya.
"OI TEME!"
"Bukan urusanmu."
.
.
"Sasuke, Aku tahu, walaupun kau tidak suka makanan manis kau selalu memakan coklat valentine yang selalu diberikan Sakura selalu melihatmu memakannya diam-diam. Kau bahkan menyimpan bungkusnya kan Sasuke?" Naruto berkata lirih.
"Sakura! Aku akan melindungimu"
"Naruto, kau jaga Sakura!"
"Sebegitu besarnya kah cintamu padaku hingga kau jadi seperti ini Sakura?"
"Kau tahu? Selama ini aku selalu berusaha agar kau membenciku, agar kau berhenti mencintaiku karena aku tahu, si dobe itu jauh lebih berhak memilikimu daripada aku. Cintanya padamu sangatlah besar jauh melebihi cintaku padamu."
"Sejujurnya, aku tidak pernah bisa melebihi dirinya, aku sudah kalah sejak awal."
"Sakura, apa yang harus kulakukan agar kau berhenti mencintaiku? Aku bukan orang yang pantas bagimu. Aku hanyalah orang yang hidup demi dendam yang sia-sia. Aku hanyalah orang yang selalu berada dalam kegelapan. Aku bukanlah orang yang pantas untuk memilikimu."
Naruto kembali mengingat kenangan-kenangannya yang terus-menerus berputar di kepalanya.
"Haha aku tahu semuanya Sasuke." Naruto tertawa miris.
"Aku telah mendengar semua perkataanmu pada Sakura waktu itu. Aku tidak butuh belas kasihanmu!"
-TSUZUKU—
Hyaa gimana? Review ya!
Keterangan
Kangofu: perawat.
Semoga kalian ga bosen baca Kimi No Memori.
Arigatou Gozaimashita.
With Love,
Akina Takahashi
