Hyaa chapter 3! Selamat menikmati!

Mau balesin review dulu…

5 sekawan: Iya sedih bgt tuh dilupain hehhehe

jann juraquile: Iya mukanya pasti aneh tuh hahaha masih ganteng ga ya? yup ni diapdet...

Miyu201: He NaruSaku? Hohoho liat aja deh…emang kisah cinta di Naruto emang berliku-liku. Tapi kurang di sorot ama Masashi Kishimoto-sensei jadinya suka gregetan hehehe.

Deeandra Hihara: Iya nih update! Otanoshimi!

Hasheo the Terror of Death: Hm udah aku jelasin kan di PM. Ga tau nih ampe chapter berapa… kamu mau aku bikin sad ending ato sad ending?

Yvne-devolnueht: haha tampang dia emang tampang orang yang harus dikasihani kali? Hehehe ga bosen? Yokatta…

Nakamura arigatou: Update-tan telah tiba! Wah masa sih? Aku jadi malu ehehe –digampar-

M4yura: Makasih… hm tapi aku lagi mandeg ide nih… kasih ide dong!

Azumi Uchiha: Iya nih Saku lagi-lagi menderita… gimana nih? karakternya menantang untuk disiksa sih ehehe

Maa-chan-tik: hah? Masa sih? Sebegitu terharunyakah? Hehe

Yuuichi93: Iya kasian… hehe Hinata terlalu baik sih orangnya… hm udah baca chapter yang pas Sasu ngebunuh Itachi? Kalau kamu baca pasti tau kenapa dia pake jubah akatsuki.

: Iya si Sasu sedih banget tuh ampe ga bisa nangis hehehe. Pertanyaan kamu sama kaya Yuuichi, coba baca mangascannya deh… (skarang udah ampe chapter brapa ya?) SMANGATT!

Makasih banget buat temen-temen yang udah ngasih review!

Selamat menikmati!


Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Romance/Angst

Rating: T

Pairing: SasuSakuNaru

Otanoshimi yonde kudasai ne minna!


Kimi No Memori

Story by: Akina Takahashi

Chapter 3: Soba Ni Iru

Matahari bersinar cerah menyinari seluruh bumi. Langit biru terbentang luas dengan indahnya. Angin musim semi berhembus meniup dedaunan dan bunga-bunga yang bermekaran. Burung-burung berkicau dengan merdu. Menyanyikan nyanyian alam yang sangat indah.

Sakura menatap kearah langit biru yang terbentang luas diatasnya. Mata emeraldnya menelusuri keindahan langit.

"Langitnya indah ya, kangofu-san?" Sakura tersenyum menatap Sasuke yang berdiri di belakangnya.

"Hn" Sasuke hanya bergumam singkat.

"Ano… ada satu hal yang ingin kutanyakan." Sakura menundukkan kepalanya.

"Apa?" Sasuke berharap itu bukanlah pertanyaan tentang identitas dirinya. Dia sudah letih berbohong. Hatinya sakit bila ia membohongi gadis lemah yang ada di depannya itu.

"Kenapa Kangofu-san selalu menemaniku setiap hari?" Sakura menatap mata hitam Sasuke dengan serius.

"Tugas." Jawab Sasuke singkat. Ia tidak sepenuhnya berbohong kali ini. Yah, walaupun sebenarnya ia melakukannya karena ia mencintai Sakura dan ingin menjaganya selama dia bisa.

"Ah begitu ya? Haha entah kenapa rasanya aku pernah bertemu denganmu kangofu-san. Tapi entah kapan. Setiap kali aku berusaha mengingatnya kepalaku tiba-tiba menjadi sakit."

"DEG" degup jantung Sasuke berdegup kencang. Dadanya sesak, hatinya sakit.

Betapa menyedihkan jika orang yang kau cintai berada tepat di depanmu namun ia tidak mengingatmu sama sekali. Sakit… sakit sekali. Hal ini lebih menyakitkan daripada ketika ia berpisah dengan Sakura 5 tahun yang lalu.

"Moshi-moshi, kangofu-san.!" Sakura menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan mata hitam Sasuke yang nampak kosong seakan ia berada di dimensi lain.

"Eh" Sasuke tersadar dari lamunannya.

"Jawab aku kangofu-san, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

"Tidak." Sasuke terpaksa kembali berbohong.

"Iya, ya mana mungkin ya?" Sakura menggaruk kepalanya.

"Hn."

"Haruno-san, lebih baik kita kembali ke kamar sekarang. Langit sudah mulai gelap." Sasuke mendorong kursi roda Sakura menjauhi taman menuju ke kamar perawatan Sakura.

"Yah, kangofu-san aku masih ingin berada disini. Di kamar itu rasanya membosankan sekali." Sakura merengut.

"Tidak." Sasuke terus mendorong kursi roda tanpa mempedulikan Sakura.

"Ayolah Kangofu-san… aku masih ingin jalan-jalan." Rengek Sakura.

"Tidak." Jawab Sasuke dingin.

"Huh!" Sakura nampak sedikit kesal karena Sasuke tidak menurutinya.

"KRIET" Sasuke membuka pintu ruang perawatan Sakura kemudian mendorong kursi roda Sakura masuk ke dalamnya.

"Kenapa?" tanya Sasuke ketika melihat Sakura yang cemberut.

"HUUH! Aku bosaaan." Keluh Sakura.

"Hn" Sasuke tidak memedulikan keluhan Sakura. Ia merendahkan badannya di samping kursi roda Sakura berusaha menggendongnya ke tempat tidur.

"Ano kangofu-san, apa yang kau lakukan?" Sakura sedikit salah tingkah. Rona merah menghiasi wajahnya.

"Menggendongmu." Jawab Sasuke singkat.

"Aku bisa sendiri." Sakura berusaha bangkit. Sasuke melepaskan pegangannya.

Namun baru berjalan beberapa langkah Sakura telah hilang keseimbangan dan nyaris terjatuh kalau saja Sasuke tidak menangkapnya. Sasuke mendekap erat tubuh Sakura seakan ia takkan melepasnya lagi. Sakura menatap Sasuke dengan tatapan terkejut.

Sasuke menggendong Sakura menuju tempat tidurnya. Benar-benar tampak seperti pengantin baru. Yah, kalau saja itu benar terjadi Sasuke pasti akan sangat senang.

"Kangofu-san, kalau seperti ini kita nampak seperti pengantin baru ya?" Sakura tersenyum jahil, rona merah masih menghiasi wajah cantiknya.

"…" Sasuke tak mampu berkata-kata. Wajahnya memerah. Ia memalingkan wajahnya ke belakang berharap Sakura tidak melihat perubahan warna pada wajahnya.

"Maaf, kangofu-san marah padaku ya?" Sakura salah paham atas sikap Sasuke. Ia mengira Sasuke tidak menyukai perkataannya tadi.

"Tidak" jawab Sasuke singkat.

"Lalu?"

"Tidak apa-apa."

"Yokatta… aku senang sekali, kangofu-san tidak marah padaku." Sakura tersenyum lembut.

"Hn" Sasuke hanya bergumam.

"Aku tidak tahu harus bagaimana bila kangofu-san marah padaku. Aku pasti kesepian, karena kalau hal itu terjadi mungkin kangofu-san tidak mau menemaniku lagi." Sakura menundukkan kepalanya wajahnya nampak sedih.

"Hn." Sasuke kembali bergumam. Walaupun dalam hatinya ia sangat senang karena Sakura menganggapnya berarti walaupun ia tidak mengenalnya.

"Kangofu-san, 'hn' itu artinya apa?" Sakura nampak sedikit kesal karena perkataannya yang panjang hanya dibalas dengan gumaman 'hn' oleh Sasuke.

"Banyak." Jawab Sasuke.

"Kalau begitu aku artikan 'hn' yang tadi sebagai 'iya-aku-juga-senang-bisa-menemanimu'. Hehehe" Sakura tersenyum lebar.

"Iya." Sasuke membalas senyuman Sakura dengan senyuman-tipis-super-cool ala Uchiha.

"BLUSH" seketika Sakura merasakan pipinya memanas. Ia menepuk-nepuk kedua pipinya dengan kedua tangannya.

"Kenapa?" Sasuke sedikit bingung melihat sikap Sakura yang tiba-tiba aneh.

"Tidak apa-apa." Sakura menundukkan kepalanya kemudian mengangkatnya kembali.

"Ano… kangofu-san"

"Apa?" Sasuke menaikkan alisnya.

"Apa kau tidak bosan menemaniku terus-menerus?" suara Sakura melemah nyaris tak terdengar.

"Tidak." Jawab Sasuke singkat.

"Kenapa?" tanya Sakura heran.

"Karena itu adalah tugasku."

"Ah, begitu ya…"

"Hn."

"Terima kasih banyak kangofu-san." Sakura memandang wajah Sasuke kemudian tersenyum lembut.

"Sebaiknya kau tidur Haruno-san." Sasuke berusaha menghentikan pembicaraan. Ia memalingkan wajahnya kearah lain berharap Sakura tidak melihat perubahan warna di wajahnya.

"Tapi, aku belum ingin tidur." Sakura menolak.

"Hn." Sasuke tidak memedulikan perkataan Sakura. Ia mengambil selimut yang ada di sampingnya kemudian menyelimuti tubuh lemah gadis yang ada di depannya itu.

Sakura terdiam sejenak sebelum kemudian menatap Sasuke dan tersenyum lembut padanya.

"Arigatou… okaasan." Ujarnya lembut.

"Okaasan?" Sasuke berjengit ketika Sakura memanggilnya dengan sebutan 'okaasan'

"Kau mirip almarhum ibuku. Dia selalu menyelimutiku sebelum aku tidur."

"…" Sasuke tak mampu berkata-kata.

Sebenarnya ia tidak ingin Sakura menganggapnya sebagai seorang okaasan. Ia hanya ingin Sakura menganggapnya sebagai seorang 'kekasih'

Yah, dia memang bukan pria yang dapat mengutarakan perasaannya pada orang lain. Sejak dulu ia telah menyukai Sakura namun harga dirinya sebagai seorang Uchiha melarangnya untuk mengungkapkan perasaannya, apalagi ia tahu bahwa Naruto sahabatnya juga mencintai gadis itu. Ia lebih memilih mengalah dan mundur.

Sayangnya, Sakura bukanlah gadis yang pintar membaca perasaan orang lain. Sakura tidak mengetahui bahwa Sasuke juga menyukainya. Hingga akhirnya sampai saat ini tak ada seorangpun yang mengetahui perasaan Sasuke yang sebenarnya. Yah, kecuali Naruto tentunya.

"Ne okaasan." Suara Sakura membuyarkan lamunan Sasuke.

"Hn?" Sasuke tersadar dari lamunannya.

"Selamat malam." Sakura tersenyum.

"Hn." Sasuke mengangguk kemudian melangkah menuju pintu keluar. Meninggalkan Sakura yang ada di belakangnya.

"Ano…" suara Sakura mencegah Sasuke melangkah lebh jauh.

"Apa?" Sasuke menghentikan langkahnya kemudian membalikkan tubuhnya kearah Sakura. Mata hitamnya menatap mata emerald Sakura.

"Oyasuminasai…" Sakura berkata malu-malu.

"Sasuke tersenyum lembut kemudian melangkah mendekati Sakura. Ia merendahkan badannya kemudian mencium lembut dahi Sakura.

"Oyasuminasai, Sakura…" bisiknya lembut.

"Kan…kangofu-san?" mata Sakura membelalak lebar seakan tak percaya atas apa yang baru saja Sasuke lakukan padanya. Namun begitu ia hendak bertanya atas apa yang baru saja terjadi, sosok Sasuke telah menghilang dari pandangannya.

.

.


Aku tak tahu sejak kapan aku mulai memperhatikanmu, tapi satu hal yang pasti...

Perlahan-lahan rasa cintaku padamu semakin membesar. Menyesakkanku seolah hatiku dapat meledak kapanpun.


.

.

Sasuke berjalan keluar dari ruangan Sakura kemudian menutup kembali pintu yang baru saja ia buka.

"Hei, Sasuke." Suara Naruto mengagetkan Sasuke.

"Naruto." Sasuke sedikit kaget ketika mendengar suara Naruto. Ia mengalihkan pandangannya menatap sosok Naruto yang sedang berdiri di depan ruangan Sakura.

"Ikut aku!" tanpa basa-basi Naruto menarik lengan Sasuke.

"Kemana?" tanya Sasuke heran karena Naruto tiba-tiba menarik lengannya.

Namun Naruto tidak menjawab pertanyaan Sasuke ia terus menarik Sasuke menjauhi ruangan Sakura.

Mereka terus berjalan menyusuri lorong-lorong yang gelap hingga Naruto menghentikan langkahnya di halaman depan Rumah Sakit.

"Kita bisa bicara disini Sasuke." Mata biru Naruto menatap mata hitam Sasuke.

"Bicara apa?"

"Apa maksudmu tadi?" Naruto mempertajam tatapannya pada Sasuke.

"Ha? Aku tidak mengerti pembicaraanmu dobe." Sasuke memalingkan wajahnya menghindari tatapan Naruto.

"Sudah kubilang, kalau bicara TATAP MATAKU! Kuso!" teriak Naruto emosi.

"Aku tidak mengerti. Kenapa kau tiba-tiba saja marah?" Sasuke menaikkan alisnya. Ia tidak mengerti kenapa sahabatnya itu tiba-tiba saja bersikap aneh.

"Aku melihatnya tadi. Kalau kau memang tidak menyukainya, tidak seharusnya kau melakukan hal itu."

"Maksudmu, kejadian sewaktu aku mencium Sakura?"

"Iya."

"Hei, itu kan Cuma kecupan selamat malam saja. Lagipula ia hanya menganggapku sebagai seorang 'okaasan' baginya. Tidak usah cemburu padaku dobe."

"Kau bohong Sasuke. Aku tahu sebenarnya kau menyukainya kan? Kau ingin memilikinya kan? Tidak apa-apa aku akan bersaing dengan adil denganmu. Kau tidak perlu mengalah demi aku."

"Aku tidak berniat bersaing denganmu dobe." Sasuke melangkah pergi meninggalkan Naruto dibelakangnya.

"KUSO! TEME! Aku tidak butuh belas kasihanmu!" jerit Naruto.

.

.


.

.

Sakura memegang sebuah buku kecil di tangannya. Matanya sibuk menyusuri susunan kata dalam buku itu. Matahari bersinar terang, cahayanya memasuki ruangan Sakura melalui jendela yang baru saja dibuka Sasuke tadi pagi.

"Hhh bosan…" Sakura meletakkan buku yang baru saja dibacanya di atas meja.

"Aku ingin jalan-jalan sebentar." Sakura bangkit dari tidurnya kemudian melangkah mendekati pintu.

"Yosh, aku bisa jalan sendiri tanpa bantuan kursi roda!" gumamnya senang.

"Saat ini kangofu-san ada dimana ya? Dia pasti kaget melihat aku sudah sehat seperti ini." Pikir Sakura.

Sakura melangkah menyusuri lorong-lorong yang ada di Rumah Sakit ini. Sesekali ia menyapa perawat-perawat yang ia temui dalam perjalanannya. Matanya menatap tiga orang anak kecil yang sedang bermain dengan gembira. Mereka tampak sangat bahagia. Namun ketika mereka sedang berlari, seorang anak laki-laki berambut pirang menabrak seorang anak perempuan.

Sakura menatap sesosok anak perempuan yang memarahi anak laki-laki berambut pirang itu hingga menangis. Tiba-tiba muncul seorang anak laki-laki berambut hitam yang menenangkan mereka berdua.

Benar-benar konyol. Entah kenapa rasanya ia pernah melihat hal itu. Anak-anak itu benar-benar mirip dengan dirinya, Naruto dan tentu saja Sasuke.

"Astaga, anak perempuan itu mirip denganku." Sakura memperhatikan sosok anak perempuan berambut merah yang baru saja memarahi seorang anak laki-laki berambut pirang itu.

"Hmm, kalau anak yang pirang itu Naruto lalu yang berambut hitam itu siapa ya?" Sakura berusaha mengingat kembali masa kecilnya. Namun tiba-tiba rasa sakit kembali menyerang kepalanya.

"Ugh, kenapa sih kepalaku tiba-tiba sakit?" tanya Sakura pada dirinya sendiri. Ia memegangi kepalanya dan berjalan tertatih-tatih. Ia berusaha kembali ke kamarnya. Namun tanpa sengaja ia mendengar suara dingin yang selalu menemaninya.

"Kangofu-san?" gumamnya. Ia berjalan mendekat kearah suara.

Ia mengintip dari balik pintu. Matanya menangkap sesosok lelaki tampan berambut hitam yang sedang berbicara serius dengan godaime.

"Tsunade-sama, apa tidak ada cara lain lagi?" Sasuke memandang Tsunade yang duduk di depannya dengan tatapan serius.

"Tidak." Jawab Tsunade singkat.

"Apa kau tidak khawatir melihat keadaan Sakura yang seperti itu?"

"Tentu saja aku khawatir! Bagaimanapun ia adalah murid kesayanganku!" Akhirnya Tsunade tak dapat lagi membendung emosinya air mata mengalir dikedua belah pipinya.

"Tsunade-sama, aku tidak tahan kalau aku hanya bisa melihatnya menderita tanpa bisa melakukan apa-apa." Sasuke menundukkan kepalanya. Suaranya melemah nyaris tak terdengar

"Yang bisa kita lakukan saat ini hanya menunggu hingga kematian datang menjemputnya." Tsunade semakin tak bisa menahan emosinya. Air mata mengalir semakin deras dari wajahnya.

Mata Sakura membelalak lebar. Kakinya gemetar nyaris tak bisa menyangga tubuhnya untuk berdiri.

"Aku akan mati?" tanyanya pada dirinya sendiri.

Sakura berjalan dengan langkah gontai menuju ruangannya. Tatapannya kosong, seakan jiwanya sedang berada di dimensi lain. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa ia akan mati .

Sakura membuka pintu ruangannya dengan lemah kemudian berjalan mendekati tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya disana.

" Kami-sama kenapa aku harus berakhir seperti ini?" air mata mengalir keluar dari pelupuk matanya.

Kami-sama izinkan aku hidup lebih lama…

Kami-sama izinkan aku mencintai…

Kami-sama izinkan aku dicintai…

Kami-sama izinkan aku merasakan rasanya cinta…

Kami-sama izinkan aku belajar cara mencintai dengan tulus…

Kami-sama izinkan aku mengulang kembali lembaran kehidupanku yang telah lalu…

Kami-sama izinkan aku bersama dengan orang yang kucintai…

Kami-sama izinkan aku mengingat kembali orang yang sangat kucintai…

Kumohon kami-sama… izinkan aku…

-TSUZUKU-


Keterangan

Okaasan: Ibu

Yokatta: Syukurlah

Oyasuminasai: Selamat tidur / selamat beristirahat.

Gimana?

kasih aku review ya! karena itu ngasih aku kekuatan buat nulis.

Arigatou Gozaimashita.

With Love,

Akina Takahashi