Chapter 4! Chapter 4! Chapter 4! –histeris-

Makasih buat yang udah review


Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Romance/Angst/Tragedy

Rating: T

Pairing: SasuSakuNaru

Otanoshimi yonde kudasai ne minna!


Kimi No Memori

Story by: Akina Takahashi

Chapter 4: Gomennasai

Sakura memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Mata hijaunya meredup. Cahaya perlahan-lahan mulai menghilang dari dirinya. Yah, mungkin siapapun akan begitu bila mengetahui bahwa kematian akan segera menjemput. Sakura menghela napas panjang. Napas yang mungkin tidak akan bisa ia hirup lagi. Sakura berusaha tersenyum. Senyuman tersungging di wajahnya.

"Setidaknya, aku bisa meninggalkan dunia ini dengan senyuman." Gumamnya.

"TOK TOK" suara ketukan pintu mengagetkan Sakura.

"Masuk!" Serunya.

"KRIET" pintu perlahan terbuka. Sosok lelaki berambut pirang masuk ke ruangan Sakura. Tangannya mendekap sebuah buket bunga besar yang berwarna merah.

"Sakura-chan!" Naruto tersenyum lebar.

"Naruto." Sakura tersenyum, berusaha menyembunyikan kegalauan hatinya.

"Sakura-chan, ini bunga untukmu!" Naruto menyerahkan buket bunga yang ada di dekapannya pada Sakura.

"Wah, indahnya… terima kasih Naruto." Sakura tersenyum lalu meletakkan buket bunga itu diatas meja.

"Ah, itu bukan apa-apa. hehehe" Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Sakura-chan, mana perawatmu?" Naruto memalingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, berusaha mencari sosok Sasuke.

"Dia sedang keluar." Jawab Sakura sedikit berbohong. Tidak mungkin kan ia mengatakan pada Naruto 'kangofu-san sedang membicarakan tentang kematianku dengan hokage-sama.'

"Oh, baguslah kalau begitu."

"Apanya yang bagus?" Sakura sedikit heran mendengar perkataan Naruto.

"Karena aku hanya berdua saja dengan Sakura-chan." Naruto tersenyum jahil.

"Memangnya kau mau apa Naruto?" Sakura sedikit takut mendengar perkataan Naruto.

"Hei, jangan ketakutan begitu. Aku kan Cuma ingin bicara empat mata dengan Sakura-chan."

"Bicara apa?" tanya Sakura heran.

"Ano… Sakura-chan…" wajah Naruto seketika memerah.

"Apa Naruto-kun?" tanya Sakura dengan nada jahil.

"Ano…" Naruto masih belum dapat melanjutkan perkataannya.

"Ano?" Sakura berusaha membuat Naruto menyelesaikan pembicaraannya.

"Errr ano…"

"Kau dapat bonus dari Ichiraku ramen?" tebak Sakura yang nampak tidak sabar lagi.

"Tentu saja bukan!" Naruto menggelengkan kepalanya.

"Hinata pingsan karena kau menyapanya?" tebak Sakura.

"Bukan!"

"Kalau begitu, Akamaru pergi meninggalkan Kiba?" tebak Sakura asal.

"Tentu saja bukan Sakura-chan.!"

"Shikamaru tiba-tiba menjadi rajin?"

"Bukan!"

"Kalau begitu… apa Chouji menjadi vegetarian?"

"Bukan! Itu semua salah Sakura-chan!" Naruto nampak kesal karena dari tadi Sakura asal-asalan saja menebak.

"Lalu apa Naruto?" tanya Sakura heran.

"Aku… aku…" wajah Naruto merah padam.

"Aku?" Sakura mulai penasaran.

"AKU MENCINTAIMU SAKURA-CHAN!" Naruto berteriak hingga suaranya habis. Wajahnya memerah karena malu. Napasnya tersengal-sengal. Ia memalingkan wajahnya kearah lain. Ia tak mampu lagi menatap wajah Sakura.

"Eh?" Sakura tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengar.

"Iya benar, sejak dulu aku mencintaimu. Kau ini benar-benar tidak peka ya Sakura-chan?"

"Eh, apa? Sejak kapan?"

"Sejak aku pertama kali bertemu denganmu di tim 7."

"Ta… tapi Naruto…" wajah Sakura memerah.

"Sakura-chan, maukah kau menjadi orang yang selalu ada di sampingku?" Naruto menggenggam tangan Sakura dan menciumnya.

"Naruto… aku tidak pantas berada disisimu." Sakura menundukkan kepalanya. Wajahnya nampak sedih.

"Kenapa Sakura-chan? Aku telah menunggumu sejak dulu."

"Karena aku hanyalah gadis lemah yang tidak bisa apa-apa."

"Siapa bilang? Sakura-chan kau adalah gadis terkuat yang pernah kutemui! Kau adalah gadis yang paling berani yang pernah aku temui. Kau adalah gadis impian para pria di Konoha. Kau adalah kunoichi medis jenius yang selalu diharapkan orang banyak."

"Itu dulu Naruto…" Sakura tersenyum pahit.

"Sekarang aku hanyalah gadis lemah yang sedang menunggu kematian datang menjemputku." Sakura kembali menundukkan kepalanya ia tak mampu lagi menatap mata Naruto.

"Sakura-chan, tatap mataku!" Naruto mengangkat dagu Sakura dengan tangannya.

Mata hijau Sakura dipenuhi genangan air mata yang siap jatuh kapan saja. Wajahnya memerah menahan tangis. Bibirnya bergetar.

"Aku tidak peduli. Mau jadi seperti apapun, kau tetaplah Sakura-chanku yang sangat kucintai. Menikahlah denganku Sakura-chan…" Mata biru Naruto menatap mata emerald Sakura dengan tatapan memelas.

Setetes cairan bening menetes membasahi tangan Naruto yang memegang dagu Sakura. Air mata terus menerus mengalir di wajah Sakura.

"Ka… kalau itu ter…jadi kau bisa jadi duda di usia muda…" Sakura tersenyum pahit.

"Bicara apa kau Sakura-chan! Tentu saja hal itu tidak akan terjadi! Jangan bicara seakan esok adalah hari kematianmu! Kematian itu adalah urusan tuhan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi"

"Naruto-kun…" suara Sakura bergetar hebat.

Naruto mengangkat wajah Sakura menghadap wajahnya kemudian mencium bibir Sakura dengan lembut.

"Naruto!" Sakura tersentak kaget karena Naruto menciumnya tiba-tiba.

"Aku tetap akan mencintaimu. Apapun yang terjadi." Naruto berbisik di telinga Sakura.

Naruto mencium dahi Sakura kemudian membalikkan tubuhnya menghadap pintu. Kemudian berkata, "Kutunggu jawabanmu besok." Naruto berjalan meninggalkan Sakura yang masih terdiam seribu bahasa.

"Kami-sama apa yang harus kulakukan?" gumam Sakura. Sebelum akhirnya ia tertidur.

.

.

.


Semuanya sudah terlambat, Sasuke-kun


.

.

.

Dalam mimpinya, ia bertemu dengan sesosok lelaki berjubah hitam. Ia mengenakan tudung di kepalanya. Benar-benar nampak aneh. Mata Sakura membelalak ketika pandangannya menemukan sosok lelaki itu mengambang sekitar 30 cm di udara.

"Kau siapa?" Sakura mengerutkan keningnya.

"Aku shinigami yang bertugas menjemputmu." Jawab sosok itu.

"Ah, ternyata memang sudah waktuku ya?" Sakura menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan wajahnya yang sedih.

"Ikut aku!" Shinigami itu terbang melayang meninggalkan Sakura.

"Shinigami-san, aku punya permohonan." Seru Sakura.

Shinigami itu menghentikan lajunya lalu berbalik menatap mata hijau Sakura.

"Permohonan apa?" tanya shinigami.

"Kumohon beri aku waktu 3 hari untuk menyelesaikan semua urusanku. Aku ingin aku mati dengan tenang." Pinta Sakura.

"Baiklah. Tapi ingat setelah 3 hari aku akan langsung mencabut nyawamu tanpa basa-basi lagi."

"Terima kasih, shinigami-san. Sampai jumpa 3 hari lagi!"

.

.

.

.


.

.

.

.

Sakura membuka matanya perlahan. Mata hijaunya memandang kesekitarnya. Berharap menemukan sosok lelaki tampan berambut hitam. Namun sayang yang ia temukan malah sosok lelaki pirang yang melamarnya kemarin.

"Kau sudah bangun Sakura-chan?" Naruto tersenyum lembut.

"Naruto… dimana kangofu-san?" tanya Sakura.

"Ia sudah kuminta agar tidak usah datang hari ini. Hari ini biar aku yang merawatmu Sakura-chan!"

"Tapi Naruto…"

"Nah, Sakura-chan hari ini kita mau apa?"

"Naruto, aku ingin kau menemaniku jalan-jalan keluar RS." Pinta Sakura.

"Tapi Sakura-chan tubuhmu masih…" Naruto menatap Sakura dengan tatapan cemas.

"Kau mau menemaniku atau tidak?"

"Uh, baiklah…" Naruto menganggukkan kepalanya dengan terpaksa.

"Arigatou." Sakura tersenyum.

Naruto mengambil kursi roda di pojok ruangan dan menyiapkannya untuk Sakura.

"Naruto, aku bisa jalan sendiri." Sakura menolak untuk menggunakan kursi roda. Yah, setidaknya ia ingin berjalan dengan kakinya sendiri sebelum hari kematiannya.

"Tentu saja Sakura-chan. Kau bisa bersandar padaku jika kau lelah." Naruto meletakkan kembali kursi roda itu di pojok ruangan.

"Iya. Jika aku pingsan, kau bisa menggendongku kan?"

"Tentu saja aku akan melakukannya dengan senang hati." Naruto tersenyum lebar.

"Selamat siang, Ojisan." Sakura tersenyum pada seorang lelaki tua yang sedang sibuk memancing di sungai.

"Selamat siang, Haruno-sama." Lelaki tua itu tersenyum.

Sakura kembali melanjutkan perjalanannya. Ia menyusuri jalanan sempit di Konoha. Ia terus berjalan menuju pusat kota. Di sampingnya nampak Naruto yang berjalan mendampinginya.

"Sakura-chan hari ini kau kenapa? Dari tadi kau menyapa semua orang yang kau temui di jalan. Itu nampak aneh di mataku. Kau kan tidak biasanya begitu." Naruto mengerutkan dahinya.

"Aku berniat menyapa semua orang yang kutemui karena aku takut aku tidak bisa menemui mereka lagi." Jawab Sakura.

"Hei… hei Sakura-chan jangan bicara seperti itu.!" Seru Naruto.

Namun Sakura tidak memedulikan Naruto ia terus berjalan menyusuri jalanan yang berada di Konoha.

"Hei Ino! Lee! Sai! Shikamaru!" Sakura melambaikan tangannya pada keempat sahabatnya itu. Sementara Naruto hanya tersenyum tipis.

"Sakura!" seru mereka bersamaan.

"Sakura berjalan mendekati keempat sahabatnya itu. Ia tersenyum lembut.

"Sedang apa kau disini Sakura?" tanya Ino.

"Aku sedang jalan-jalan sebentar bersama Naruto."

"Ah, halo Shikamaru!" Sakura menyapa Shikamaru yang baru saja tiba.

"Mendokuse." Shikamaru mendengus. Nampaknya moodnya sedang tidak baik hari ini.

"Hei jangan mengacuhkan Sakura-san seperti itu!" Lee memukul kepala Shikamaru.

"Selamat siang Sakura-san." Lee menyapa Sakura yang sempat terdiam ketika melihat aksi pemukulan yang dilakukannya pada Shikamaru tadi.

"Selamat siang Lee." Sakura tersenyum lembut menyebabkan wajah Lee memerah hingga ia nyaris pingsan.

"Sakura, jangan pernah tersenyum seperti itu lagi ya! nanti orang bodoh itu bisa pingsan." Sai menunjuk kearah Lee.

"Siapa yang kau bilang bodoh hah?!" Lee berusaha menyerang Sai dengan taijutsunya. Namun sayang usahanya gagal karena Sai telah lebih dulu menggambar seekor panda raksasa dan menjadikannya nyata untuk menahan taijutsu Lee.

"Lepaskan aku!" Lee berusaha melepaskan diri dari dekapan panda besar yang lucu itu.

"Hei kalian! Berhentilah melakukan hal bodoh!" seru Ino ketika melihat kekonyolan sahabat-sahabatnya itu.

"Hahahaha kalian lucu." Sakura tertawa geli melihat kekonyolan itu.

"Sakura?" semua orang heran termasuk Naruto yang sejak tadi diam saja. Karena tidak biasanya Sakura seperti ini. Jika hal ini terjadi pada Sakura yang dulu mungkin Lee dan Sai sudah dihajar dengan kekuatan abnormalnya itu.

"Teman-teman, tetaplah rukun seperti itu." Sakura tersenyum.

"Sakura-chan jangan bicara aneh ah!" seru Naruto.

"Apanya yang aneh Naruto?"

"Sejak tadi kau aneh…" ujar Naruto cemas.

"Ah, tidak. aku tidak apa-apa." Sakura tersenyum.

Ia mengalihkan pandangannya menatap Ino dan Sai.

"Nah, Ino, Sai. Kalian cepatlah menikah. Kudoakan kalian akan selalu rukun selamanya." Sakura menggenggam lengan Ino dan Sai dengan kedua tangannya.

"Sakura…" seketika wajah Ino memerah.

Sakura melepaskan genggamannya kemudian menatap Shikamaru yang sejak tadi diam saja.

"Shikamaru… kau jangan bertengkar terus dengan Temari. Walaupun galak, Temari itu sangat menyayangimu." Sakura menatap mata Shikamaru lalu tersenyum lembut.

Shikamaru hanya terdiam. Ia merasa ada hal yang aneh pada perkataan Sakura. Perkataan yang mungkin hanya diucapkan oleh orang yang hendak pergi jauh. Namun, ia tidak ingin membuat cemas teman-temannya, jadi ia hanya diam saja tanpa bicara apapun.

"Lee, jangan terlalu memaksakan dirimu ya! Kau itu kuat lho! Bahkan lebih kuat dari Neji sekalipun." Sakura menatap Lee dalam-dalam.

"Terima kasih Sakura-san." Lee tersenyum.

"Nah, semuanya selamat tinggal!" Sakura melambaikan tangannya pada teman-temannya.

"Ayo kita pergi Naruto." Sakura menarik lengan Naruto lalu melangkah pergi meninggalkan teman-temannya.

"'Selamat tinggal'… kata yang aneh." Gumam Sai.

"Apanya yang aneh Sai?" tanya Ino.

"Biasanya orang akan bilang 'sampai jumpa' atau semacamnya kan? Tapi dia malah bilang 'selamat tinggal' tentu saja itu aneh." Jelas Shikamaru.

"Iya, seakan-akan ia akan pergi jauh dan tidak akan bertemu dengan kita lagi." Sai melanjutkan penjelasan Shikamaru.

"Sakura…" gumam Ino khawatir.

"Ha? Memangnya Sakura-san mau pergi kemana?" Lee tiba-tiba muncul. Nampaknya ia tidak begitu mengerti maksud perkataan Shikamaru dan Sai tadi.

"BAKA!" Ino meninju Lee hingga terlempar beberapa meter. Sementara Shikamaru dan Sai hanya menghela napas panjang.

Naruto dan Sakura melintasi daerah pertokoan Konoha. Sakura memandangi toko-toko yang berjajar di samping kirinya. Tiba-tiba matanya menangkap sesosok wanita berambut coklat yang digelung dua. Di sebelah wanita itu nampak seorang pria berambut coklat dengan mata lavender yang menemani wanita itu. Mereka nampak sedang membeli peralatan bayi.

Sakura menarik lengan Naruto dan berjalan menuju kearah kedua pasangan muda itu.

"Hei, Tenten! Neji!" sapanya riang.

"Selamat siang Tenten! Neji!" Naruto ikut menyapa kedua temannya itu.

"Ah, Sakura! Naruto." Tenten balas menyapa. Sementara Neji hanya tersenyum tipis.

"Kalian sedang apa?" tanya Naruto.

"Kami sedang membeli perlengkapan bayi untuk anak kami nanti." Jawab Tenten.

"Wah, sejak kapan kau hamil?" tanya Sakura.

"Sejak dua bulan yang lalu." Tenten tersenyum kemudian menatap lembut mata Neji yang ada di sampingnya.

"Kudoakan keluarga kalian bahagia selalu." Sakura tersenyum lembut.

"Terima kasih Sakura." Neji membalas senyuman Sakura.

"Selamat tinggal." Sakura melambaikan tangannya pada Neji dan Tenten kemudian pergi menjauh.

"Sampai jumpa." Naruto berjalan menyusul Sakura.

Sakura menyandarkan dirinya pada bangku taman yang sedang didudukinya. Matanya menatap langit malam yang terbentang luas di atasnya. Bintang-bintang gemerlapan menyinari bumi. Bagaikan pecahan-pecahan Kristal yang tersebar luas di langit.

"Hei, Sakura-chan." Suara Naruto menyadarkan Sakura dari lamunannya.

"Apa?" tanya Sakura sementara matanya masih menatap langit malam.

"Tanpa terasa hari sudah malam ya?"

"Iya." Jawab Sakura singkat.

"Boleh aku tahu kenapa kau bersikap aneh hari ini?" tanya Naruto.

"Aneh? Apanya yang aneh?"

" Kau menyapa semua orang yang ada di Konoha, kau mendoakan semua teman yang kita temui, kau berpesan pada mereka semua seakan kau akan pergi jauh meninggalkan kami."

"Memangnya itu salah?"

"Tentu saja tidak tapi…" suara Naruto terdengar cemas.

"Naruto, aku tidak bisa menjadi istrimu." Sakura mengubah topik pembicaraan.

"Ha? Apa? Kenapa?" Naruto sedikit shock mendengar penolakan Sakura.

"Karena aku menyukai orang lain."

"Siapa?"

"Kangofu-san."

"Oh, begitu ya? Jadi apapun yang terjadi kau tetap akan mencintai orang itu ya… huh aku kalah darinya." Ujar Naruto lirih.

"Gomennasai…" Sakura menundukkan kepalanya ia tak mampu lagi menatap Naruto.

'Gomennasai' hanya itu kata yang dapat disampaikannya pada Naruto. Ia tak tahu lagi harus membalas dengan apa kebaikan Naruto yang selama ini diterimanya.

"Naruto, kau pantas mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dariku."

"Tapi…"

"Uh, Naruto… bisakah kau tinggalkan aku sendiri? Aku sedang ingin sendirian sekarang." Sakura memotong perkataan Naruto.

"Sakura-chan…" wajah Naruto nampak sedih.

"Kumohon…" pinta Sakura dengan wajah memelas.

"Baiklah, selamat tinggal Sakura-chan." Naruto memaksakan dirinya tersenyum. Ia bangkit dari duduknya kemudian berlari meninggalkan Sakura.

"Maafkan aku Naruto…" gumam Sakura sedih. Matanya menatap punggung Naruto yang bergerak menjauh.

"Aku tidak pantas untukmu…" ujarnya lirih. Air mata mengalir di kedua belah pipinya.

.

.

.

.

.

.

Sakura menundukkan kepalanya. Mata hijaunya penuh dengan air mata yang menggenang. Dinginnya malam membuatnya bergidik. Kegelapan malam mulai menyerangnya.

Sebenarnya ia tidak ingin sendirian saat ini. Yah, setidaknya ia ingin ada seseorang yang bisa menemaninya di hari terakhir ia berada di dunia ini. Namun, ia tidak ingin membuat siapapun menangisi dirinya. Ia tidak ingin seorangpun mengkhawatirkan dirinya. Ia berharap ia dapat menghilang tanpa menimbulkan kesedihan bagi teman-teman maupun orang-orang terdekatnya.

Ia mencoba untuk tetap tersenyum di hari terakhirnya ini. Yah, ia tidak ingin orang lain melihatnya menangis. Ia memaksakan bibirnya untuk tersenyum sementara air mata masih mengalir dari kedua pelupuk matanya.

Sakura berharap tak ada seorangpun yang menemuinya sekarang. Karena ia tahu orang itu pasti akan mengkhawatirkan keadaan dirinya yang seperti ini. Ia berusaha menekan perasaannya. Kesepian mulai menyerang dirinya. Sakura mendekap tubuhnya dengan menggunakan kedua tangannya. Sebenarnya ia berharap seseorang mendekapnya saat ini. Walaupun hal itu bertentangan dengan keinginannya agar tak seorangpun yang melihatnya saat ini.

Sendirian… kesepian…

Sakura menundukkan kepalanya sementara kedua lengannya masih mendekap tubuh mungilnya. Sesak rasanya benar-benar menyesakkan.

"HARUNO-SAN!" tiba-tiba terdengar suara teriakan yang terdengar di telinga Sakura. Dari suaranya, nampaknya orang itu sangat mencemaskannya.

Sakura mengangkat kepalanya kemudian memalingkan wajahnya kearah sumber suara. Matanya menangkap sesosok pria tampan berambut hitam yang terengah-engah. Pria itu memegangi lututnya sementara nafasnya masih terputus-putus.

Sakura menatap lekat-lekat pria yang ada depannya itu. Rambut hitamnya berantakan, bajunya sedikit kusut, keringat membasahi wajahnya. Pria itu mengangkat kepalanya dan menatap Sakura dengan tatapan cemas. Ia berjalan kearah Sakura yang terduduk lemah di kursi taman kemudian memeluknya erat-erat seakan tak akan pernah melepaskannya lagi.

"Kan… kangofu-san!" mata Sakura membelalak lebar.

"Akhirnya kutemukan…" Sasuke berbisik lemah di telinga Sakura.

Sakura tersenyum lembut kemudian balas memeluk Sasuke.

"Kau menangis." Sasuke melepaskan pelukannya lalu menatap mata hijau Sakura. Ia menghapus air mata Sakura dengan menggunakan jarinya.

"Kangofu-san…"

"Hari sudah malam, ayo kita pulang." Sasuke tersenyum lembut.

"Iya…" Sakura membalas senyuman Sasuke. Lalu mencoba berdiri, namun sayang, usahanya gagal. Kakinya tak mampu lagi menahan bobot tubuhnya. Nampaknya ia sudah kelelahan karena telah berjalan mengelilingi Konoha bersama Naruto siang tadi.

"Naiklah ke punggungku." Sasuke merendahkan tubuhnya. Mengisyaratkan Sakura agar naik ke punggungnya.

Sakura tersenyum kemudian melingkarkan lengannya di leher Sasuke.

"Kangofu-san, apa kau mencemaskanku?" Sakura berbisik di telinga Sasuke.

"Iya." Jawab Sasuke singkat. Ia masih terus menggendong Sakura di punggungnya.

Bulan bersinar terang, bintang-bintang bertaburan di seluruh langit. Langit malam bagaikan lukisan alam yang sangat indah. Sakura mengadahkan kepalanya ke langit menatap kearah bintang yang gemerlap.

"Kangofu-san, apa kau tahu? Jiwa orang yang telah mati akan terbang ke langit dan menjadi bintang yang menyinari bumi." Gumam Sakura.

"Mungkin nanti aku akan menjadi salah satu dari bintang itu." Ujar Sakura lirih.

Sesaat langkah Sasuke nyaris terhenti ketika mendengar perkataan Sakura. Namun ia segera mengatur kembali langkahnya agar tetap stabil. Ia mempererat pegangannya pada Sakura yang ada di punggungnya.

"Kalau itu terjadi, jadilah bintang yang paling terang dari semua bintang yang ada diatas sana." Suara Sasuke sedikit bergetar.

"Iya, terima kasih. Kangofu-san." Sakura tersenyum.

"Hn"

"Maukah kau menemaniku ke suatu tempat besok?" tanya Sakura.

"Kemana?"

"Ke padang rumput yang ada di dekat hutan di pinggir Konoha."

"Hn" Sasuke mengangguk.

"Arigatou…" Sakura tersenyum.

-TSUZUKU-


Keterangan:

Ojisan: paman

Baka: bodoh

Huwew chapter yang penuh dengan karakter! Ehehe

Review kalian selalu aku tunggu.

Arigatou Gozaimashita.

With Love,

Akina Takahashi