aya-chan: hwalloo….. Akhirnya ku apdet juga fic yang udah sekian lama aku hiatusin ini! Hahaha…..

Oh ya! Sebelumnya aku mau ngucapin terima kasih yang sebanyak-banyaknya buat yang udah ngereview di chapter sebelummya.

Terima kasih… terima kasih….

Trus, trus terima kasih juga sama yang udah jadiin fic ku ini favorite dan alert. Duh aku nggak nyangka banget kalian bisa suka sama fic ku ini.

Terima kasih.

Di chapter ini, belum ada Sasuke-nya, jadi maap yach.....lagi buntu ide tentang Sasuke nih...

Okeh! Happy reading!

Disclaimer : Kepunyaan Masashi Kishimoto

Cahaya dalam Kegelapan

Chapter 2

Tak Tergantikan

Sakura's POV

Semenjak kepergian Naruto, keadaanku jadi lebih lebih buruk dari yang sebelumnya. Aku sebal dengan kenyataan ini! Aku ingin cepat-cepat pergi dari dunia ini! Kapan waktu itu akan datang? Kuharap waktu cepat berjalan, supaya aku cepat-cepat meninggalkan dunia ini.

Aku sudah bosan hidup di dunia ini, toh aku mati pun tidak akan ada yang dirugikan malah pasti menguntungkan bagi kedua orangtuaku.

Orang tuaku tidak perlu lagi mengkhawatirkan atau menangisi keadaanku kalau aku tidak ada. Selain itu, aku juga merasa untung seandainya aku mati, aku tidak perlu bersedih lagi karena penderitaan ini yang tak kunjung reda dan tak perlu mendengar lagi tangisan kedua orang tuaku yang membuatku muak.

Sampai suatu ketika…..

"Sakura! Ibu punya kejutan untukmu!", teriak ibu dari luar kamarku.

"…..", jawabku dengan kebisuan.

"Boleh ibu masuk?", tanya ibu yang sudah sedikit masuk ke kamarku.

"Hn", jawabku singkat.

"Sakura, mulai sekarang kamu tidak akan kesepian lagi."

"....."

"Ibu sudah menyewa seseorang untuk menemanimu bermain menggantikan Naruto."

"....."

"Sakura, apa kamu tidak senang dengan kejutan dari ibumu ini?"

"Tentu saja tidak!" jawabku dalam hati.

"Apa kamu mau begini terus?" tanya ibu dengan nada suara sedih.

"....."

"Sebenarnya ibu sedih bicara seperti ini, tapi apa kamu tidak mau menghabiskan waktumu yang tinggal sedikit lagi dengan bersenang-senang?" tanya ibu sambil menitikan air mata.

"Apa? Ibu bilang bersenang-senang?! Bermain dengan penjagaan yang ketat dan terbatas hanya di halaman rumah ini ibu bilang bersenang-senang? Apalagi sekarang Naruto sudah tidak ada! Mana mungkin aku bisa merasa senang dengan keadaan yang seperti ini!" jeritku dalam hati.

"Sakura, mengapa dari tadi kamu diam saja? Apa ada yang salah? Apa ibu salah ngomong?" tanya ibuku tanpa merasa bersalah.

"Keluar! Lebih baik ibu keluar! Ibu takkan pernah tahu semua penderitaan yang kurasakan! Dan satu lagi! Aku tak pernah setuju dengan keputusan ibu yang menjauhkan Naruto dariku dan dengan seenaknya menggantikannya dengan orang lain!" teriaku pada ibu.

"Tapi ini semua demi kebaikanmu. Apa kamu tau? Ibu selalu merasa sedih melihat keadaanmu yang seperti ini. Kamu seperti.....", seketika pembicaraan ibu terpotong ketika melihatku berbalik kearah ibu dan menatapnya dengan tatapan yang tajam.

"Sa, sakura? Kamu kenapa? Tiba-tiba...."

"Demi kebaikanku kata ibu? Tapi mengapa semua yang ibu lakukan tidak membuatku merasa lebih baik? Malah aku merasa penderitaanku semakin banyak saja!"

Lalu aku berbalik lagi membelakangi ibu, ke posisiku yang semula.

"Keluar!", perintahku pada ibu.

"Tapi nak..."

"KELUAR! Urus saja diri ibu sendiri!" perintahku lagi dengan suara yang lantang.

Ibu pun keluar dari kamarku dan sepertinya sambil menangis. Ya, aku tak peduli lagi. Mau nangis atau tidak, itu bukan urusanku. Aku tahu, aku jahat pada ibu. Tapi mau bagaimana lagi, ibu sendiri yang membuatku jadi seperti ini.

Memang benar kata ibu, keadaanku yang sekarang sangat mengkhawatirkan. Rambut yang berantakan, sekeliling mata yang menghitam karena kurang tidur, wajah yang putih pucat, baju yang entah sudah beberapa hari bahkan minggu yang tidak diganti, dan yang terpenting aku sudah tak peduli lagi dengan penyakitku.

Sudah beberapa kali aku menolak tawaran ibu untuk cek kesehatanku dan minum obat. Padahal seharusnya aku tak boleh berhenti minum obat supaya keadaanku lebih baik.

Kalau dipikir-pikir, mengapa aku harus minum obat? Mau minum atau tidak, hasilnya akan sama saja. Aku akan tetap menemui ajalku yang tinggal menghitung hari lagi walaupun aku minum obat. Lebih baik aku diamkan saja kesehatanku ini.

oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

"Sakura, ibu membawa seseorang yang akan menjagamu dan menemanimu bermain seperti yang ibu ceritakan kemarin." kata ibu dengan senyumannya yang manis tapi tidak berarti apa-apa bagiku.

Aku menghadap ke ibu dengan pandangan tak suka dan berkata,"Ibu tidak mengerti apa yang aku katakan kemarin ya? Aku tidak mau ada yang menggantikan Naruto! Aku lebih baik berdiam diri saja di sini daripada bermain tetapi dengan orang selain Naruto!"

"Sakura sayang, ibu tidak sembarangan memilih orang. Ibu yakin, wanita ini pasti bisa menjadi teman yang baik bagimu dan bisa membantumu melupakan Naruto karena wanita ini tepat untuk menggantikan Naruto."

"Wanita?" tanyaku pada ibu.

"Iya, yang sekarang adalah wanita. Jadi kalian bisa bertukar cerita tentang hal yang hanya dirasakan oleh wanita dan kamu tak perlu takut lagi jika hanya berdua di dalam kamar."

"....."

Ibu yang tadinya duduk di kasurku segera berdiri dan keluar dari kamarku, setelah berada di luar, ibu mengibaskan tangannya seperti sedang memanggil seseorang sambil berkata, "Sini, sini."

Lalu seorang wanita berparas manis dan berkepribadian tinggi dan langsing masuk ke kamarku sambil tersenyum ke arahku. Tentu saja aku tidak membalasnya dengan senyuman, tetapi hanya wajah datar yang kuperlihatkan pada wanita tersebut. Walaupun begitu, wanita itu tetap tersenyum kepadaku.

Parasnya yang awalnya memang sudah manis bertambah manis ketika tersenyum. Melihatnya, membuatku juga ingin tersenyum.

Ketika aku ingin membalas senyumannya, aku jadi teringat, dia ini kan orang yang menggantikan Naruto. Dengan adanya orang ini, Naruto jadi tidak bisa kembali lagi ke sini. Dan aku juga masih belum percaya apakah orang ini bisa berlaku baik kepadaku seperti Naruto.

Karena teringat hal itu, aku tidak jadi memberikan senyumanku yang jarang kutunjukkan pada orang-orang kepada wanita itu.

Tiba-tiba wanita itu memberikan tangannya kepadaku berniat mengajaku berjabat tangan. Tadinya aku enggan membalasnya, tapi senyumannya yang manis itu membuatku luluh. Aku pun menjabat tangannya.

"Ino Yamanaka. Senang bertemu denganmu." katanya memperkenalkan diri sambil mempertahankan senyumannya itu.

"Sakura Haruno." balasku dengan ekspresi dan nada yang datar.

"Mulai sekarang aku akan menemanimu dan menjagamu bermain serta jangan sungkan untuk menceritakan keluh kesalmu kepadaku. Setuju?"

"Hn" jawabku singkat.

oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO

aya-chan : fiuuh, akhirnya selesai juga chapter 2 ini. Mudah-mudahan para pembaca sekalian suka dan nggak bosan sama fic ku ini ^_^

Review plis......