Stranded
Summary: Team CSI NYPD yang diketuai Mac Taylor tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Ternyata, mereka 'terdampar' di Konoha. Crossover. NarutoxCSI:NY.
Disclaimer: I DO NOT OWN ANY OF THESE THINGS! Naruto milik Masashi Kishimoto, CSI:NY milik my heroes, Anthony E. Zuiker, Carol Mendelsohn sama Ann Donahue! Thanks udah bikin CSI:NY (dan milih Eddie Cahill jadi Don)!! Laptop dan cerita punya Helen tapinya.
Lindsay: Seperti biasa!
Semua: BALES REVIEW! IYA TAU!!
Lindsay, mojok: Hiks..
Danny: Wah! Faika Araifa bilang gue ganteng!! Heuheuheuheuheu… Lebih ganteng dari Kakuzu kan (Apa coba hubungannya dan dari mana dia tau tentang Kakuzu?)? Ga jadi Danny gimana maksudnya?
Hawkes: Rin Kajuji.. eh, kok kaya'nya dari chapter 3, kita berdua mulu ya yang ngurusin Faika ama Rin, ya?
Danny: Iya ya..
Hawkes: Rin bener banget! Ada-ada aja tuh, Tuan Hyuuga. Misi rahasia… tapi daripada engga dapet jatah nginep ama makan?
Mac: Wah, makasih, Hazelleen!! Dialog fav gue (tumben Mac ngomong gue? Lha, di chapter 2, dia ngomong 'aku'!?) juga itu tuh! Setidaknya itu menunjukkan bahwa anak-anak NYPD tuh di Konoha, pada bokek-bokek. Tapi, yaiyalah, secara kan kita pada ngga bawa duit ryo. Duit ryo itu tau-nya pas hari pertama di Konoha pula!
Stella: Akhirnya FateBinder JeAnne nge-review juga! Sudah kami tunggu-tunggu loh! Hohoho… Flack ma Hinata?? –ngelirik Flack- Tanya dulu deh ama si Helen. Pasti dia bakal langsung setuju.
Flack (diubah lagi namanya setelah Helen salah ketik jadi 'Don' di chappie 3. Kenapa ngga diganti? Helen males..): Eh, si Helen mana nih?
Stella: Tuh, lagi mojok berjamaah bareng Lindsay.
Flack: Kenapa?
Stella: Dia terharu ama orang-orang yang udah setia nge-review dari chapter 1. Walau cuma sedikit tapi dia bilang, pake sok nginggris, "It means a lot to me!!".
Danny: Trus, kenapa harus mojok?
Stella: Ngga tau. Emang habitatnya di pojokan kali?
Helen: Oh ya! Ada yang kelupaan! –semangat kembali- Helen sependapat ama JeAnne! Ya, Don emang pengkhianat, tapi kaya'nya ngga jelek, peang.. tapi mungkin emang agak rese –digetok Flack-. Mudah-mudahan Don cepet putus ama Devon dan berpaling ke Angell! Kalo' ngga, ya paling minim, berpaling ke Helen deh! –dibunuh- Dan Don emang KAWAII ABIS kalo pake vest anti peluru!! Kalo dia udah make vest-nya, tuh tipi udah mau Helen gunting dan 'gambar' Don itu mau Helen kliping.
Stranded
CHAPTER 4: One-Day Stalker PART TWO: Not Be Able To Play Anything at the AP? Eeeekk..!!
Di amusement park, anak-anak geng shinobi itu masih asyik-asyik main wahana-wahana yang ada di amusement park (mulai sekarang, singkat 'AP' aja ya!) itu. Ngeliat anak-anak lagi pada asyik main jet coaster, arung jeram, ontang-anting (ini AP apa Dufan sih?), dan sebagainya, membuat anak-anak NYPD yang sekarang lagi kerja jadi CIA (ngepet, alias jadi-jadian), ngiler. Mereka udah lama banget engga ke AP atau semacamnya, apalagi Mac. Tidur aja paling 1 tahun bisa diitung pake jari!
"Eh… kita main yuk…" kata Danny dengan nada memelas.
"Kita disini untuk bekerja. Kita disini untuk misi, kenapa nyambungnya ke main?" tanya Mac.
"Lagi ngapain sih kita disuruh mengintai Hinata? Kan sudah jelas dia pergi bersama teman-temannya… dan ada si Uzumaki itu! Pasti dia aman. Percaya deh..!" kata Hawkes nyantai (OoC again..).
"Kita dibayar."
Seketika, semua aktivitas anak-anak NYPD, mulai dari Danny yang lagi ngitung uang (mulai menjelma jadi Kakuzu nih, abis nyebut-nyebut Kakuzu), Lindsay yang lagi dalam perjalanan untuk beli permen, Flack yang lagi tidur, Stella yang lagi neropong kegiatan Hinata, sampai Hawkes yang lagi buat-buat kalkulasi matematika di udara! Mereka kemudian menoleh ke Mac perlahan.
"Di..ba..yar?" tanya mereka semua pelan-pelan.
"Iya," jawab Mac singkat. Irit suara.
"Be..ra..pa?" tanya mereka lagi, pelan lagi.
"500 ryo per orang," jawab Mac lagi.
GRUJAK!
Seketika anak-anak NYPD sudah ada di posisi masing-masing, meneropong kegiatan Hinata dkk. Walaupun engga tau 500 ryo itu berapa dolar, tapi mereka main asumsi sendiri. 500 ryo 500 dolar. 500 dolar 5.000.000 rupiah! Wauw! Tunggu. Kenapa nyambungnya jadi ke rupiah? Tapi.. bener ngga sih kurs-nya segitu? Anggap ajalah segitu.
"Kalo udah uang aja.."
Sementara itu, Naruto, yang lagi seneng-seneng sama temen-temen-nya, merasa diikuti.
"Eh."
"Apa, Naruto?" tanya Sakura.
"Kaya'nya ada yang ngikutin kita deh," kata Naruto.
"Palingan Konohamaru yang pengen minta uang jajan ke lo," kata Tenten.
"Engga, serius! Aura-nya engga kaya' Konohamaru."
"Emang aura..KRAUK..Konohamaru..KRAUK.. kaya' gi..KRAUK KRAUK..mana..KRAUK?" tanya Chouji sambil makan potato chips.
"Aura kekanak-kanakan dan jahat," jawab Naruto singkat.
"Jahat..?"
"Maksudnya jail gitu."
"Coba, kulihat memakai Byakugan-ku dulu," kata Neji, Byakugan-nya udah mau aktif.
"Udah lah, Neji, ga usah! Kan hari ini lagi senang-senang, kok malah aktifin Byakugan (apa hubungan?) sih?" kata Tenten.
"Iya Neji! Jangan biarkan kesempatan sekali seumur hidupmu yang penuh semangat ini terbuang percuma!! Semangat, Neji, SEMANGAT!!" kata Lee dengan semangat berkobar-kobar.
"Kalo sekali lagi lo ngomong begitu, ini beneran akan menjadi kesempatan sekali seumur hidup lo yang penuh semangat," ancam Tenten santai.
Biar dikate apapun, Neji tetep curiga ama suatu 'spot'. Dia curiga disitulah orang-orang yang mengikuti mereka bersembunyi. Ternyata yang bener-bener curiga bukan cuma Neji. Shikamaru pun ikut-ikutan curiga. Mereka berdua memasang tampang garang kearah 'spot' itu, yaitu sebuah tiang listrik ramping yang sudah dihias pake make-up ondel-ondel.
"Kaya'nya mereka sadar deh, kita mengintai mereka," kata Stella.
"Aku mau tanya satu hal," kata Flack.
"Apa?"
"Apa.. apa sebenarnya kita semua punya 'tiang ramping-complex', atau hanya Mac?" tanya Flack polos. Semuanya langsung memberikan 'death-glare' pada Mac.
"Hei! Bagaimana kalau kita mengintai sambil jalan-jalan? Kan jadi tidak begitu di curigai tuh?" usul Lindsay.
"Brilian!" tukas Hawkes.
"Tapi.. kalau tidak ada apa-apa yang bisa menutupi, pasti akan ketahuan," kata Mac.
"Aku tau! Ada yang pake' koran, ada yang pake.. cotton candy!" kata Lindsay sambil berjalan menuju sebuah toko yang menjual permen kapas.
"Siapa yang mau?"
"Aku!" kata Stella dan Danny serempak.
"Mac? Doc? Flack?"
"Kami beli koran saja," kata Hawkes, alias Doc.
"Oke..". Lindsay lalu 'meluncur' menuju toko tersebut.
"Kenapa kau tidak mau permen? Gengsi?" tanya Hawkes pada Flack.
"E-engga. Aku punya pengalaman buruk aja sama cotton candy," jawab Flack agak gugup.
"Apa itu?"
"Uh.."
Flashback
Hari cerah di New York City. Flack kecil sedang bermain dengan adik perempuannya, Melanie, di sebuah AP (sama orang tua, pastinya). Melanie sedang memakan sebuah cotton candy. Tiba-tiba saja, muncul sebuah ide yang.. aslinya sih baik, cuma akhir-akhirnya aja..
"Hey, Don?" tanya Melanie.
"Ya?"
"Kau mau mencoba permen kapas ini?" tanya Melanie lagi, menyodorkan permen kapas pinknya pada kakaknya.
"Boleh," jawab Flack bersemangat. Um.. karena ini sekeluarga dan pastinya nama keluarganya sama, jadi disini, flashback, manggilnya Don aja. Ia mengambil segumpal permen dan langsung melahapnya. Sebelumnya, ia belum pernah memakan permen kapas. Ini akan menjadi pengalamannya yang pertama (dan terakhir..).
Don sudah melahapnya dan sedang mengunyahnya (cotton candy dikunyah?) selama beberapa saat ketika tiba-tiba mukanya berubah menjadi biru.
"Don?" tanya Melanie, tapi kakaknya tidak merespon.
"Don, kau kenapa?" tanya Melanie lagi, tapi sekali lagi kakaknya tidak merespon. Don memegang tenggorokannya seperti orang keselek. Menyadari itu, Melanie langsung berterika memanggil orang tua-nya.
"Ayah! Ibu!! NYPD!!" teriaknya overeacted. Orang tua-nya segera menghampiri Melanie (diikuti tatapan 'ni-anak-kenapa-sih' dari orang-orang disekitar).
"Ada apa, Melanie?" tanya ibunya, belum menangkap apa yang terjadi pada anak laki-lakinya.
"I-itu.. Don.. sepertinya dia tersedak.." kata Melanie, menunjuk Don.
"Don!!" teriak ibu dan ayahnya bersamaan.
Mereka berdua segera berusaha mengeluarkan cotton candy terkutuk itu dari tenggorokan Don. Setelah melakukan beberapa proses ritual, akhirnya cotton candy jahanam itu bisa keluar.
"AH! Akhirnya.. AKU TAK MAU MAKAN ITU LAGI! PERMEN SADIS!!" teriak Don semena-mena.
"Ngomong-ngomong Melanie.. kenapa tadi kau manggil-manggil NYPD segala?" tanya ayahnya.
"Kan ayah NYPD? Biar ayah nyampenya cepet aja.." jawab Melanie polos.
"Heh?"
End of flashback
"Gitu."
"Oh.. jadi karena itu ya? Kasian.. untung abis itu lo engga madesu (masa depan suram).." kata Hawkes.
"Engga setia kawan.."
"Hei! Ini dia cotton candy untuk Danny, Stella… dan aku! Ini 3 koran, silakan pilih. Aku beli beda merek," kata Lindsay sambil menyerahkan koran-koran.
"Suara Pembaharuan Konoha, Kompak, Lampu Hijau.. aku Kompak saja," kata Mac sambil mengambil koran yang paling kiri.
"Aku.. Suara Pembaharuan Konoha," kata Hawkes, mengambil koran paling kanan.
"Tersisa tinggal 1. Lampu hijau.." kata Flack. Ia lalu mengambil koran di tengah. Kertasnya berwarna pink.
"Kok lebih mirip tisu di rumah makan padang ya, daripada koran?" tanya Flack, mengamati koran ditangannya dengan jijik. Emang di New York ada resto padang?
"Udahlah! Kan kamu engga harus ngebaca. Nyante aja lagi!" kata Stella.
"Dibilang gitu juga tapi.."
Flack akhirnya harus pasrah dan menuruti perintah-perintah (kejam) dari Mac. Seperti ketika ada seorang ibu-ibu tua yang meminta selembar korannya untuk buang ingus (ew!).
"De', minta tisu-nya dong," kata ibu-ibu tua itu.
"Tisu? Tisu apa? Saya engga bawa tisu!" kata Flack.
"Jangan boong kamu sama saya! Saya mungking tua, tapi penglihatan saya masih bagus! Itu yang kamu pegang itu tisu dari restoran padang kan?" tuduh si ibu-ibu tua.
"Tisu? Ini koran, ibu!!" kata Flack setengah teriak.
"Ah! Jangan mencoba-coba mengelabui beta (?) kau! Sini! Minta selembar!" paksa ibu-ibu itu. Flack, yang udah cape' mau debat lagi, akhirnya ngasih 1 lembar.
"Terima kasih, anak muda," kata ibu itu begitu selesai buang ingus. "Sebagai gantinya, saya akan belikan kamu permen kapas 10. GRATIS! Saya yang punya toko disebelah sana. Itu tuh!" kata ibu itu bersemangat. Yang mau ditraktir udah melesat kemana tau begitu dengar kalimat 'belikan kamu permen kapas'.
-STRANDED-
"Habis ini mau kemana neh?" tanya Naruto, memimpin teman-temannya jalan.
"Bagaimana kalau kesitu? Kita belum kesitu kan?" tanya Sakura.
"Tempat ini besar juga ya?" kata Shikamaru.
"Pastilah! Ini kan amusement park terbesar di Konoha!" kata Kiba semangat.
"Terbesar.. karena tidak ada yang lain kan?" kata Sasuke.
"Ah, kau bisa saja!" jawab Kiba malu-malu. Padahal yang diomongin kan si AP. Kenapa harus dia yang malu-malu?
"Anak bodoh," respon Sasuke.
"APUA?! Dasar Uchiha!!" balas Kiba.
"Hei! Teman-teman! Ayo cepat! Nanti antriannya penuh loh!" teriak Ino dan Sakura bersamaan. Mereka sudah jauh didepan bersama Hinata dan Tenten.
"Aku datang, Sakura-chaaaan!!" kata Naruto sambil berlari menuju anak-anak cewek.
"Gue ke toilet dulu ya," kata Neji sambil berbalik badan. Shikamaru sadar akan rencana Neji, ia juga berbalik.
"Gue juga," katanya malas-malasan.
"Jangan lama-lama ya!" teriak Tenten.
"Kalau lama, nanti kesempatan sekali seumur hidupmu akan terbuang percu.." kata-kata Lee terpotong. Neji dan Shikamaru menoleh. Ketika mereka menoleh, Lee sudah babak belur, dengan Tenten menginjaknya.
"Sudah kubilang kan! Jangan menyebut kalimat itu lagi!" Tenten memarahi Lee. Dengan pikiran 'dasar bodoh' mereka, Neji dan Shikamaru berjalan menuju 'toilet'.
"Neji.. kau tidak mau ke toilet kan?" tanya Shikamaru, memulai pembicaraan. Neji menggeleng.
"Orang-orang itu.." kata Neji.
"Ya, aku tau."
Sesampainya didepan pintu toilet, mereka berbalik arah, kearah sebuah kursi taman. Di atasnya, duduk seseorang yang sedang membaca koran. Shikamaru duduk. Neji berdiri disampingnya.
"Kenapa kau mengikuti kami?" tanya Shikamaru tiba-tiba. Orang itu tersentak.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya orang itu bingung.
"Kenapa kau.. maaf. Maksudnya, kalian, mengikuti kami?" tanya Neji memperjelas.
"Kau dibayar siapa?" tanya Shikamaru lagi.
Orang itu tampak ragu-ragu. Antara mau tetep disitu atau ke toilet. Antara tetep nutup rahasia atau ngebuka rahasia. Si Merah dan Si Putih bertengkar. Si Merah-lah yang menang. Buka rahasia.
"Hyuuga Hiashi.." kata orang itu.
"Pa-paman?" tanya Neji tidak percaya.
"Untuk apa?" tanya Shikamaru lagi.
"Tunggu. Rasanya aku tau orang ini, Shikamaru. Hei. Kau 'korban' itu kan?" tanya Neji. Tiba-tiba sesuatu keluar dari belakang kursi, diikuti sekitar 4 yang lain.
"KAMI BUKAN KORBAN!!" teriak mereka. Katak, yang udah lega engga bisa terbang lagi, malah terbang lagi.
"Tuh kan.."
"Korban? Korban apa?" tanya Shikamaru bingung.
"Beberapa hari yang lalu, mucul wormhole di halaman kediaman Hyugga dan Hinata-sama yang menemukan mereka. Setelah Hinata-sama meminta izin pada ottousama-nya, akhirnya mereka diperbolehkan menginap di kediaman Hyuuga sampai wormhole yang bisa membawa mereka pulang muncul," jelas Neji panjang kali lebar sama dengan luas.
"Tapi, tetap saja kami bukan korban yang seperti itu," kata Mac, menurunkan korannya.
"Lalu? Kalian disini untuk apa?" tanya Neji.
"Kami diminta pamanmu untuk mengintai Hinata. Kemana dia pergi, dimana dia sekarang, apa yang dilakukannya dan dengan siapa dia pergi. Karena kalian pergi sebelum Tuan Hyuuga bangun kan? Dia khawatir," kata Mac.
"..Baiklah. Kalian boleh mengintai kami tapi jangan terlalu ekstrim," izin Neji.
"Ekstrim? Seperti apa contohnya?" tanya Lindsay.
"Flying-fox di kabel listrik misalnya.." jawab Shikamaru santai.. dan ngantuk.
"Emang kita sebodoh itu ya?" bisik Danny pada Flack.
"Dengan mata mereka.. mungkin iya.." bisik Flack balik.
"Baiklah. Kami akan balik ke teman-teman kami. Kalian, ikuti kami saja," kata Neji sambil berjalan, yang langsung diikuti Shikamaru yang sudah beranjak dari kursi.
"Untung engga disiksa.." kata Lindsay.
"Kamu mau?" tanya Danny.
-STRANDED-
"Ah. Mereka sudah kembali," kata Shino.
"Yo! Lama amat sih? Perasaan gue kalo' ke toilet ngga selama itu?" tanya Kiba.
"Iyakah? Bukannya malah lebih lama, karena ekstra Akamaru?" sindir Sai. Kiba sampe harus ditahan 6 temannya. 3 megang lengan, 3 lagi megang kaki. Jadi ngga seimbang deh (ngga nyambung). Butuh beberapa menit untuk Kiba mendinginkan diri. Ngga.. dia ngga masuk ke kulkas kok. Cuma masuk ke freezer yang ada di stand makanan terdekat doang.
"Abis ini mau kemana?" tanya Sakura.
"Makan dulu yuk!" ajak Chouji dengan suara memelas plus puppy dog.. yang lebih mirip St. Bernard's puppy dog karena saking gendutnya. Bedanya, dia ngga ngeluarin banyak liur kaya' Beethoven. Kalo iya.. EW!
"Yok! Makan dulu! Gue juga udah laper neh!" kata Naruto.
"Pasti makan ramen.. dasar baka.." bisik Sasuke. Tapi, entah mengapa, udah dari chapter 2, pendengaran Naruto jadi setajam kelelawar. Ia langsung menoleh pada Sasuke.
"Apa kau bilang, teme? Pasti kau mau makan tomat lagi!! Iya kan? Hayo! Ngaku aja lo! Yang makanin tomat-tomat Sakura yang harusnya dibuat makan malam kemarin itu kau kan, teme?!" kata Naruto, menginterogasi Sasuke dengan paksa. Sementara si Sakura udah siap-siap mau menerkam Sasuke.
"Sa..su..keee.. Jadi KAU ya.. yang makan tomat-tomat itu KEMARIN?" tanya Sakura, hawanya udah ngga enak.
"Eh.." Sasuke gelagapan.
"Biarin aja sih, tuh tomat lagipula masih mentah, belom dicuci dan baru dipanen dari kebun belakang rumah. Masih banyak bakterinya.." kata Sakura cuek. Seketika itu juga, Sasuke tepar. Nama boleh Uchiha, tapi kalo udah menyangkut melawan makhluk mikroorganisme, Uchiha-pun bisa menciut jadi mikroorganisme juga.
"Udah ah! Makan dulu, teparnya entar!" kata Kiba, berjalan sambil menyeret si Uchiha yang masih tepar.
-STRANDED-
"AH! KENYANG!!" seru Lee. Disampingnya, Shino tampak tidak bahagia.
"Kau kenapa, Shino?" tanya Kiba. Shino berbalik pada Kiba. Matanya (kelihatannya) sembab (dibalik kacamata hitamnya). Air mata bercucuran dari matanya. Shino langsung memegang pundak Kiba keras-keras.
"BUGGY HILAAAAAANNGGG…!!" teriak Shino. Semua mata simpatik tertuju padanya. Ada yang takut juga. Takut gilanya nular.
"Bu-buggy?" tanya Kiba takut-takut. Baru kali ini dia lihat Shino, yang biasanya ngomong cuman yang perlu-perlu dan penting-penting doang, teriak-teriak ga jelas (Shino: Heh! Ini penting tau!).
"Iya! Buggy! Kumbang warna hitam favoritku nomor 5!!" teriaknya lagi.
"Kukira semua kumbangmu berwarna hitam?" tanya Hinata.
"Oh, tidak semua. Ada yang coklat. Misalnya si Pohan. Kenapa aku namai Pohan? Karena dia tinggal di pohon dan aku suka Annisa Pohan.. atatatatatattt..!! Jangan mencoba-coba mengalihkan pembicaraan!" kata Shino OOC.
"Si-siapa yang mengalihkan pembicaraan?" Hinata mulai takut mau diterkam Shino.
"Dimana hilangnya?" tanya Shikamaru, mulai berakting jadi (sok) detektif.
"Waktu tadi kita makan tuh.."
"Kiiiitaaaa?? Lo aja kale, gue lagi diet!" sela Sakura.
"Okeh. Waktu tadi kita kecuali SAKURA makan tuh.. dia masih ada. Gue masih ngasi makan dia!" kata Shino.
"Lo kasih makan apa dia?" tanya Neji.
"Spicy chicken wings." Semua sweatdropped. Kumbang kok dikasih makan chicken wing? Spicy pula! Pantes aja dia kabur..
"Mungkin dia kabur cari air buat minum karena kepedesan kali?" kata Naruto memberi analisa asal.
"Minum udah ada disampingnya!" kata Shino mulai panik.
"Ato.. KRAUK.. mungkin dia.. KRAUK.. mau.. KRAUK.. cu.. KRAUK.. ci ta.. KRAUK.. ngan kali?" tanya Chouji memberi analisa asal dan ngaco.
"Lo kira dia bisa sabunan?!" tanya Naruto. Dalem hati Naruto padahal berpikir kalo si Buggy beneran bisa nyuci tangan sendiri, dia mau nangkep diem-diem dan jual tu kumbang jenius.
"Ah! Udahlah! Gue mau nyari si Buggy dulu!" kata Shino sambil berbalik masuk ke restoran lagi.
"Shino-kun! A-aku juga ikut cari!" kata Hinata mengejar Shino masuk.
-STRANDED-
Iyak! Ternyata udah 13 halaman aja.. Kebanyakan kaya'nya.. Tadinya cuman mau di-split jadi 2 part, eh.. malah MUNGKIN jadi 3 part.
First ever in this fan fic: Bedak Talek!
Helen: Helow, helow!! Inilah Inuzumaki Helen, authoress dari fan fic ini! Inilah Bedak Talek!! Yay!!
Stella: Kenapa namanya bedak talek?
Helen: Karena waktu kecil, Helen selalu nyamain talkshow ama bedak talek. Kan sama-sama ada 't', 'a', 'l', ama 'k'. Ya Helen main samain aja ama bedak talek.
Stella: Ini anak..
Helen: Kan waktu itu Helen masih tekaaaa..!!
Danny: Kita kurang nampang ya chapter ini?
Helen: Duh! Ini tuh fan fic Naruto. Berarti Naruto-nya harus lebih banyak dong! Jangan egois deh!
Danny: Lha, orang elo yang nulis?
Helen: Oh ya, rikues untuk jadi orang gila oleh Vic70rz bakal muncul di chapter depan. Cameo doang tapinya ya! Maap!
Hinata –ngangkat tangan-: Helen, aku mau nanya dong.
Helen: Kenapa?
Hinata: Kenapa dialog-ku cuman sedikit di chapter ini?
Helen: -ngga percaya- Yee.. manis-manis egois juga lu ya. Entar di chappie depan, semua punya line! Noh! Puas?
Flack: Eh, Helen?
Helen: Ya?
Flack: Udah jam 9 tuh. Ngga mau nonton One Wedding and a Funeral? Ada gue lah pastinya.
Helen: Narsis lo! Ngga ah, udah pernah nonton di Yutup (YouTube). Gue cuman pengen nonton Things About Heroes. Lo minggu depan ke Chicago kan?
Flack: Iya.
Helen: Oiya, Helen mau nanya nih, 500 ryo tuh dikit apa banyak sih? Dikit ya? Apa banyak? Dikit ah! Banyak! Ah, dikit!! –terlarut dalam argumen dengan diri sendiri-
-STRANDED-
Chapter 5: One-Day Stalker PART THREE: The 'Buggy' Incident. Don't miss it! Review ya!! Thanks buat yang udah nge-review. Review membuat hari-hari Helen cerah! (kaya' lagu Tasya..) Helen belom ada uang untuk nyewa orang buat promosi dan nyuruh review ato sebagainya. Tapi kaya'nya ada seseorang yang bisa dicomot gratis deh.. –ngelirik Mac-
