Thanks To: fans naruhina (kasian amat narutonya?? jangan ntar hinata kebauan lagi ama baunya air got...), naruhina fc (ini dah di update lumayan panjang), Kaizo Eroji (pasti kamu VIKTOR ya?? eh salah PIKTOR ya?? baca terus Eroji), Sora Aburame (Aduh sora selalu mendoakan ya...), Mamble (Di update nih, seneng dong), Azumi Uchiha (Silahkan membaca), eye-of-blue...

News: naruto shippuden 63 sudah dapat kalian download secara free (no pay and no submit) di storyofnarutoanime(.)blogspot(.)com Ganbatte ne...


Sebelumnya...

Tangannya Sasuke yang tadi membekap mulutnya Sai di letakkan di kening Naruto.

"Apa-apaan sih?" Naruto menepis tangan Sasuke.

"Naruto, good luck" kata Sai.

Misi part 2

author: Hola-Ucup-Disini alias UcupNeptune

Naruto melanjutkan kembali perjalanannya ke kantor Hokage.

Sementara itu Hinata yang mengawasinya dari tadi, juga rada bingung kenapa teman-temannya berkumpul di kantor Hokage. Tiba-tiba Kiba dan Shino muncul.

"Hinata" kata Shino

"AHHH" Hinata terkejut "Shi-Shino, kamu jangan muncul tiba-tiba sih! Bikin kaget saja".

"Hinata, kamu ditunggu oleh Tsunade sama untuk menjalankan misi kamu. Kita berdua punya misi sendiri" kata Kiba yang menunggangi Akamaru.

"Ja-jadi, sa-saya akan men-jalankan misi sendiri?" tanya Hinata malu-malu.

"Kelihatannya kamu akan menjalankan misi bersama Naruto" jawab Shino.

"Hah, Na-Naru-to-kun. Ke-kena-pa?" Hinata bertanya-tanya.

"Hinata, cuma kalian berdua yang tidak hadir dalam rapat tadi. Tsunade sama tadi bilang untuk yang terlambat tolong diberitahukan segera menghadap dia" jelas Kiba.

"Ba-baiklah, sa-saya akan ke sana" Hinata segera berbalik dan berlari ke kantor Hokage.

Di Kantor Hokage

"Tsunade no-bachan, maaf saya terlambat" suaranya seperti toa dan sangat mengganggu Tsunade yang sedang bekerja.

"Eh gaki, suaramu itu loh tolong di kecilkan atau perlu saya sumpel dengan kertas bom?" kata Tsunade masih tetap menandatangani beberapa kertas pekerjaannya tanpa melihat ke Naruto.

"Gomen Tsunade no-bachan. Oh ya saya kemari untuk menanyakan-" ucapan Naruto dipotong oleh Tsunade.

"Misi kamukan?" Tsunade memastikan maksud kedatangan Naruto.

"mm" Naruto menganggukan kepala.

"Kamu tunggu rekan kamu ya" Tsunade mengambil kertas lainnya di meja sebelah kanannya.

Hari itu Tsunade bekerja sendiri tanpa Shizune. Shizune mempunyai tugas yang penting dari Tsunade. Dia berangkat siang tadi dan sempat bertemu dengan Hiashi di depan pintu kantor Hokage.

Naruto duduk di depan Tsunade dan memandangnya serius "Tapi Tsunade no-bachan, bisa tidak saya menjalankan misi sendiri?".

Tsunade memandangnya "TIDAK".

"But why? Tsunade no-bachan, you're the most beautiful girl in Konoha" Naruto mulai beraksi dengan rayuan.

"Naruto, rayuanmu yang pake berbahasa Inggris tidak mempan untukku lagi!" Tsunade tersenyum menyeringai.

"Uhh, ya sudah jelaskan misinya" Naruto cemberut terhadap Tsunade.

Tsunade hanya tersenyum "Kamu tunggu teman kamu dulu ya!".

Tak beberapa lama, ketukan dipintu membuyarkan senyuman Tsunade "Masuk!".

"Ohh ano, permisi Tsunade sama. Ma-maaf Sa-saya terlambat un-untuk datang…" Hinata masuk ke dalam dan tiba-tiba mukanya memerah memandang Naruto "Na-Naruto-kun…".

"Ohh Hinata, silahkan masuk" Tsunade mulai berpikiran jahil 'Aku akan membuat Hinata lebih bermuka merah, hehehe'.

"Hinata silahkan duduk di samping Naruto" perintah Tsunade yang menunjukkan bangku kosong di samping Naruto.

Hinata hanya memandang bangku kosong dengan muka yang semakin memerah.

'Hah, duduk di samping Naruto-kun. Oh tidak, come on Hinata stay cool. You can do it' inner Hinata membantu membangun ke-PD-an untuk dia sendiri.

Hinata lalu berjalan ke bangku yang ditunjuk tadi.

"Kamu duduk di sini saja Hinata, biar saya di luar menunggu" Naruto mengambil sikap untuk mengambil jarak dengan Hinata.

'Sebaiknya aku mengambil jarak dengan Hinata. Aku harus melakukannya agar tidak timbul perasaan yang tidak mengenakkan untukku. Gara-gara Hiashi, aku jadi berpikiran yang tidak-tidak ke Hinata' pikir Naruto.

'Hah, kenapa Naruto-kun tidak mau ikut dalam pembicaraan misi ini?' Hinata mulai khawatir.

"Hey Naruto, mau kemana kamu?" tanya Tsunade yang melihat Naruto berdiri dan ingin pergi ruangan Hokage.

"Tsunade no-bachan, misi saya dan Hinata kan sama. Jadi lebih baik saya menunggu di luar saja. Biar Tsunade no-bachan menjelaskan ke Hinata misinya. Lalu Hinata menjelaskan kepada saya tentang misi itu" jawab Naruto yang kemudian melangkahkan pergi.

Tsunade kesal, lalu mengambil botol arak yang kosong karena tumpah dan melemparkan ke kepala Naruto.

'Kena' pikir Tsunade senang.

"Ittai, Tsunade no-bachan kenapa melemparku dengan botol arak sih?" Naruto teriak sambil mengelus-eluskan kepalanya yang sakit.

Hinata hanya termenung melihat Naruto yang kesakitan.

"Eh gaki, kamu juga harus mendengarkan. Cepat kamu dan Hinata duduk di bangku masing-masing" Tsunade kali ini serius dengan tampang marah.

Mereka berdua akhirnya duduk di bangku yang ada. Tsunade mulai menjelaskan misi mereka berdua. Misi mereka pada saat itu adalah memberikan surat rahasia ke seseorang yang berada jauh dari Desa Konoha, bahkan dari Negara Api. Misi itu harus dijalankan besok pagi agar tidak telat sampai tujuan. Tujuan mereka adalah ke sebuah pulau yang bernama Heaven Island. Perjalanan itu memakan waktu selama 14 hari pulang pergi. Mereka juga menerima ongkos pergi dan pulang.

Tsunade mengatakan ke mereka supaya mereka tidak terlalu terburu-buru. Ini di maksudkan agar tidak memberikan kecurigaan ke mereka terhadap bandit jalanan yang mungkisn saja menghadang. Uang yang diberikan ke mereka lebih dari cukup untuk menginap di hotel mewah, sehingga mereka tidak perlu mendirikan tenda di tengah hutan. Untuk makanpun dirasa sangat berlebih.

"Tsunade no-bachan, kenapa misi ini terlihat seperti liburan sih?" Naruto melirik curiga ke Tsunade.

"I-iya benar juga a-apa yang dikatakan Naruto-kun" Hinata juga bingung dengan muka yang mengekspresikan penuh pertanyaan.

"Hmm, kalian tidak mendengarkan dengan baik penjelasan dari saya? Saya tadi bilang, ini untuk menghindari keurigaan dari para bandit jalanan, mengerti? Oh iya headband Konoha yang kalian pakai, selama diperjalanan tolong disimpan sampai kalian ke tempat menginap ataupun tempat tujuan" Tsunade menjelaskan kembali sambil memberikan dua amplop kepada mereka.

"Masih menimbulkan kecurigaan?" kata Naruto yang menerima amplop pertama.

Hinata yang melihat amarahnya Tsunade makin memuncak, mulai menarik tangan Naruto "Ba-baiklah Tsunade sama ka-kami akan menjalankan misi ini. Ka-kami permisi dulu".

Hinata dan Naruto pergi meninggalkan ruangan Tsunade.

'Yosh, sekarang tinggal aku aktifkan walky taky-nya dan menghubungi Shino untuk mengawasi mereka' pikir Tsunade dengan senyumannya yang mengerikan.

Hinata dan Naruto

Di luar kantor Hokage, Hinata dan Naruto masih berlari.

"Hinata, lepasin sih tangan ku! Sakit nih" Hinata menghentikan langkah larinya dengan tangan yang masih memegang lengan Naruto.

Naruto memandang wajah Hinata yang masih belum mateng (emang daging apa?), terlihat ekspresi kekecewaan pada wajahnya. Hinata sadar kalau Naruto memperhatikannya lalu melepaskan pegangannya pada lengan Naruto.

"Go-gomen Naruto-kun" kata Hinata pelan.

"Apa rencana kita untuk misi besok?" tanya Naruto pura-pura tidak mendengar perkataan Hinata.

"A-aku pikir, kita hanya mempersiapkan beberapa helai pakaian untuk 14 hari dan beberapa makanan kecil untuk diperjalanan" jawab Hinata sambil menyembunyikan wajahnya yang masih memerah.

"Hmm Hinata, apa kamu tidak merasakan ada yang aneh?" Naruto bertanya dengan ekspresi yang menunjukkan kebingungan.

"Ti-tidak Na-Naruto-kun" Jawab Hinata.

"Kalau kamu bilang seperti itu, ya sudahlah. Ja ne Hinata, besok kita berangkat pagi-pagi" Naruto segera pergi meninggalkan Hinata seorang diri.

'Naruto-kun' Hinata hanya memandangi Naruto yang pergi dari sisinya.

'Naruto-kun tidak seperti biasanya. Kenapa dia menjaga jarak dariku?' pikir Hinata.

Hinata melangkahkan kakinya pulang. Dalam perjalanan dia terus memikirkan pria yang menjadi idamannya. Dia tidak tahu mengapa Naruto bersikap menjaga jarak. Perasaan sedih mulai datang ke hatinya.

Sesampainya di rumah, Hinata bergegas menuju kamarnya. Berharap agar orang rumah tidak melihatnya pulang, Ia pun masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua secara sembunyi-sembunyi.

"hiks-hiks-hiks" tangis Hinata makin menjadi.

Dia merebahkan dirinya, tengkurap di atas tempat tidur sambil memeluk guling berwarna orange.

'Naruto-kun kenapa sih? Sepertinya aku tidak berbuat sesuatu yang membuatmu kesal' Hinata menghilangkan wajahnya dibalik bantal berwarna pink.

Sekarang perasaan hatinya seperti hancur berkeping-keping. Kemudian Hinata mengambil buku diarinya yang disimpannya di bawah kasur.

'Eits, kok tidak ada di sini?' Hinata mulai panik 'Dimana buku diariku?'.

Hinata mulai mencari sambil sesenggukan. Akhirnya Hinata menemukan buku diarinya tepat di atas meja belajar.

'Aneh, sejak kapan aku lupa menyimpan buku diariku?' Hinata berpikir.

Tetapi Hinata tidak mengambil pusing akan masalah ini.

Dia mulai menulis:

Dear diary,

Something happen today. Naruto is so sweet – I saw him at the team 7 training field. He seem didn't know that I'm always watching him. After he had training, he went to Hokage office then I followed him.

Anyway, A lot's been on my mind! I can't figure out what I'm supposed to do about him.

Now I'm crying, but I don't know why am I crying? Wonder why Naruto-kun keeps avoiding me?

I love him... I've been thinking about it a lot lately.

I just need to figure out why he's been acting so strange.

My Diary, I don't know what I would have done without you. You keep all my secrets for me, and you kept through it all, through thick and thin. You're quiet, but you listen. You never move, but you're always there for me.

Much love

Your Lavender Eyes

Hinata menutup diarinya, kemudian memeluk diari itu. Tak lama kemudian dia tertidur.

Naruto

Sesampainya di apartemen, Naruto segera menuju ke kamar mandi.

"Hmm, misi untuk besok betul-betul sangat mencurigakan buatku" gumam Naruto yang membasuh mukanya.

Naruto menuju ke bak mandinya lalu mengisinya dengan air panas. Naruto melepas semua pakaiannya. Kemudian ia berendam di dalam bak mandi tersebut.

'Wah enaknya kalau mandi sore berendam dengan air panas' pikir Naruto.

'Hinata sedang apa ya sekarang? Lho kenapa aku jadi kepikiran Hinata ya?' Naruto hanya tersenyum tapi bingung kenapa dia tersenyum.

Go-go-mission

Pagi yang tidak begitu cerah, sesuai dengan peramalan cuaca di tv, menerpa Desa Konoha. Walaupun begitu masyarakat Konoha tetap melakukan aktivitasnya. Kesibukan sudah tampak di sana dan di sini.

Hyuuga Mansion

"Huahh" Hinata telah bangun dari tidurnya.

"Sudah pagi kah? Berarti kemarin sore aku tidak mandi sore" gumam Hinata.

Hinata melihat jam bekernya "O ow, gawat sudah jam 7.30. Bisa telat nih", ia bergegas ke kamar mandi pribadinya.

15 menit kemudian

"Sepertinya semua sudah di packing. Untuk makanan ringan, belinya nanti saja deh sekalian pergi ke pintu gerbang Konoha" gumam Hinata.

"Ohayou onee-chan, tadi ngomong dengan siapa?" tanya adiknya yang muncul di pintu kamar Hinata.

"Ohayou Hanabi-chan. Kakak tidak bicara dengan siapa-siapa" jawab Hinata sambil mempersiapkan tasnya untuk di pakai.

"Onee-chan sudah mulai tidak waras nih. Pasti gara-gara si rambut kuning itu, iya kan?" Hanabi mulai menggoda.

"Jangan mulai menggoda ya, nanti kakak nggak beliin oleh-oleh ni" Hinata memakai tasnya dan berjalan ke pintu kamar.

"Emangnya onee-chan mau kemana?" tanya Hanabi sambil menatap tas Hinata yang besar.

"Emm, kakak ada misi penting. Eh tadi di bawah ada atou-san nggak?" tanya Hinata was-was.

"Sepertinya otou-san pergi ke klan Nara. Otou-san bilang sih mau mengurus bisnis dengan keluarga Nara" Hanabi masih memandangi Hinata.

"Neji nii-san ada di kamarnya?" tanya Hinata lagi.

"Sepertinya Neji nii-san sudah berangkat dengan Tenten menjalankan misi dari Tsunade sama" Hanabi menjelaskan.

"Ya sudah, kakak titip pesan ya. Kalau ayah mencari kakak, tolong sampaikan kakak sedang menjalankan misi. Gitu aja deh, dah Hanabi-chan" Hinata melangkahkan kakinya keluar kamar dengan berlari-lari kecil.

'Kelihatannya one-chan lagi senang banget hari ini' pikir Hanabi yang masih menyaksikan kakaknya berlalu dan menghilang di tangga ke arah lantai bawah.


Ayoo go go Hinata-chan... misi berjalan apa tidak? silahkan menunggu udatennya...