Stranded
Summary: Team CSI NYPD yang diketuai Mac Taylor tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Ternyata, mereka 'terdampar' di Konoha. Crossover. NarutoxCSI:NY.
Disclaimer: I DO NOT OWN ANY OF THESE THINGS! Naruto milik Masashi Kishimoto, CSI:NY milik my heroes, Anthony E. Zuiker, Carol Mendelsohn sama Ann Donahue! Thanks udah bikin CSI:NY (dan milih Eddie Cahill jadi Don)!! Laptop dan cerita punya Helen tapinya.
(Lindsay niup trompet)
Lindsay: YAY!! Hari ini, tanggal 17 September, authoress kami, Inuzumaki Helen..
Flack: Ulang tahun yang ke-13!!
Danny: HOREEE..!! (preeettt.. preeettt.. niup trompeeettt..)
Stella, Mac & Hawkes: 'Met ulang taun ya!
Helen: Makasi!! -meluk satu-satu anak-anak NYPD tapi waktu meluk Flack dilama-lamain- Oiya, untuk semua OCs yang udah daftar.. SEMUA DITERIMA!! Jadi, berbahagialah! Tadinya mau ngpublish ini jam 09:40, waktu kelahiran Helen, cuma kan jam segitu Helen masi skolah.. jadi dimundurin 12 jam deh!
Flack: Iya,iya tau, pendeskripsian gue BURUK! FateBinder JeAnne pernah makan telor onta?? Lamenta + Gue?? Gue minta CD Bon Jovi ke Lamenta dan bakal gue keprakin ke kepala Lindsay -ga nyambung-.
Lindsay: Kurang ajar!! -ngejar-ngejar Flack-
Danny: HAUP! Makasi cotton candy-nya yaaaa, Faika Araifa!! -berlagak anak TK abis dikasi susu ama ibu gurunya-
Hawkes: Okeh, jadi.. darkerThanDarkness pesen Yggdrasil Berry.. heh? Apaan tuh? Lo dilayanin ama Lindsay aja ya, abis lo ngga ngasi tau mo dilayanin sapa.. Gue juga bingung lo sebenernya mesen makanan yang beneran dari bumi ato dari galaksi lain..
Sasuke tiba-tiba muncul dari tanah (dianterin ama Zetsu): Eh, selamat ulang taun ya, Helen. Tau tuh! Si Helen main buat gue OOC aja, Atomic-Tank! Gue padahal kaga tau telor onta tuh bentuknya kaya' gimana!
Helen: Lo tu ya.. Dibikin OOC dikit (dikit?) kaga mau! Telor onta kaga tau bentuknya pula!
Sasuke: Hn.
Hawkes: Tuh Sasuke, pada ngetawain lo waktu lo mesen dango telor onta! Gue juga ngetawain dia kok, Rin Kajuji! Gila tu anak ngasal abis. Oke, martabak ya? Rasa telor? Soalnya si authoress sukanya yang telor.
Sasuke: Telor onta!
Hawkes: Hus! Pergi sono lo!
Helen: Iya, phillip william-wammy, Helen sekolah di Labsraw. Di alarm? Temen Helen bekas Al-Azhar (dulu Helen kelas 1-5 pertengahan di Alsen) juga banyak di Alarm!
Mac: Si Helen udah nge-ripyu X tuh, Nakamura arigatou. By the way, lo ngga nyantumin sapa yang mau ngelayanin lo jadi si Stella aja ya yang ngelayanin lo? Dia kaga dapet rikues (Stella: Huhuhu...).
Hawkes: Karena Atomic-Tank maunya dilayanin ama yang paling waras disini, jadi dilayanin ama gue aja ya, kan gue yang paling waras disini -dilempar jok mobil-.
Stella: Sasuke emang pelit, Hazelleen. Heran deh, kenapa ya Sakura mau jadi ceweknya dia?
Danny: Muggle.30.05.80.. namamu susah juga ya.. Gue sebenernya merasa terhina dipanggil anjing, tapi gue pendem aja. Anak sabar disayang Tuhan kan? Tau tu ah! Si Montana maen nerkam gue aja! Emang gue daging?!
Helen: Iya, Angie Da Angel.. makasi ya, kak! Hohoho.. di chappie ini, selain panjangnya dari Bali sampe New York, banyak kejutan juga! Dilayanin ama Lindsay aja ya?
Stella: Ga adil! Masa gue cuman dapet 1!?
Helen: -ngacuhin Stella- Deeandra Hihara suka ama Hihara-senpai ya? Helen juga suka ama dia! Happiness you give udah Helen ripyu. BAGUS BANGET!! Dan iya, Don emang ganteng abis!! (Flack: Heh? Apa? Ngga denger. Tadi lo ngomong apa?) Untuk semua, ini dia apdet-annya!!
Stella: KACANG KAYAKNYA NAEK 20.000 YA!! Oke, on to the story!
Stranded
CHAPTER 7: Riot on 7!
Sebenernya, apa sih syarat-syarat 'Typical morning'? Oke, matahari masih rendah, burung masih betah terbang-terbang, katak udah ngga terbang. Selama Danny udah jatoh dari tempat tidur, hari bakalan jadi normal dan tenang. Tapi ngga hari itu.
Flack udah bangun sebenernya, tapi dia males duduk. Gerakan favoritnya sebelom bangun duduk: Ngulet. Ya, Helen-pun juga suka ngulet sebelom bangun duduk. Tapi Flack merasa sesuatu yang beda. Biasanya pagi-pagi (semenjak mereka nginep di rumah Hinata) waktu ngulet, tempatnya untuk ngulet tersedia banyak banget. Tapi waktu dia baru nguletin tangannya, tangannya kejedok sesuatu. Flack menoleh. Disitu, terbaring dengan tenang, dan ngorok, seorang Danny Messer, yang sedang tidur dengan damainya layaknya kebo yang ngga tau apa-apa. Flack melotot. Tanpa ngulet dan komando, ia bangun duduk.
"Danny masih di tempat tidur?!" teriaknya kencang, yang langsung disambut beberapa bunyi pintu berderit terbuka dan juga beberapa "HEH!?" yang tak kalah kencang. Pintu kamar Danny/Flack menjeblak terbuka.
"Ada apa? Ada apa?" tanya Stella tergesa-gesa.
Flack memberi isyarat untuk melihat kesebuah objek dikirinya. Teman-temannya menoleh.
"Apa sih? Itu kan hanya Danny yang lagi tidur ditempat tidur!" kata Lindsay. Tiba-tiba matanya melotot, lebih bulet dari dango.
"Danny masih di tempat tidur!!" teriak teman-temannya. Mereka berlarian kesana-kemari dan amazingly, Danny bahkan ngga terusik sedikitpun.. dan nada ngoroknya pun masih do-re-mi-la-sol-fa.
"Gimana nih? Terakhir kali Danny ngga jatoh dari tempat tidur, malah gue yang jatoh dari tangga!" kata Hawkes ketakutan.
"Oke, tenang, tenang. Emang terakhir kali hanya melibatkan Hawkes tapi kali ini kita juga harus jaga-jaga. Sebelom itu, lebih baik kita sarapan dulu." Mac kemudian berbalik menuju pintu, diikuti teman-temannya dibelakang. Tapi Flack masih duduk ditempat tidurnya, bengong. Tanpa Mac sadari, tiba-tiba Hanabi ada didepannya.
"Ada apa sih, pagi-pagi udah gradak-gruduk?" tanyanya. Spontan, Mac kaget dengan kedatangan Hanabi dan langsung loncat. Dalam proses meloncatnya itu, kepalanya kejedok pintu dan ia jatoh. Stella, Hawkes dan Lindsay, yang berjalan dibelakangnya, kagok kedatangan 'serangan tiba-tiba' begitu dan ngga bisa menghindar. Akhirnya Stella ketiban Mac sementara Lindsay jatoh terjerembab, kepalanya kejedok lantai. Sementara Hawkes juga jatoh tapi dia lain edisi. Jatoh edisi terbatas. Kakinya melilit satu sama lain dan dia langsung jatoh. Kepalanya kejedok kaki kasur. Edisi terbatas, tapi paling brutal.
"ADOH!! Danny punya dendam apa sih ama gue!?" teriak Hawkes, kepalanya merah.
"A-aduh.. maaf! Kalian baik-baik saja?" tanya Hanabi menghampiri Stella dan Mac.
"Tergantung. Apa jatoh dan ketimpa gajah disebut 'baik-baik saja'?" tanya Stella. Mac menatapnya.
"Apa loncat kaget, kejedok, jatoh dan dihina sebagai gajah termasuk 'baik-baik saja'?" tanya Mac tidak melepaskan pandangannya dari Stella. Pandangan 'aku-akan-balas-dendam-nanti'.
"Hoi! Gue gimana?" tanya Hawkes. Teman-temannya, plus Hanabi minus Danny, langsung menoleh.
"Maaf, maaf! Kubawa kau ke ruang kesehatan dibawah, kalian tunggu disini saja," kata Hanabi. Dia merasa bersalah.
"Rumah yang punya ruang kesehatan! Ini rumah apa sekolah?" Hawkes masih bisa bercanda padahal dahinya udah berdarah begitu.
"WOY! Gue gimanaaaa??" kali ini giliran Lindsay.
"Ka-kau juga aku bawa ke ruang kesehatan!" kata Hanabi sambil mengangkat Lindsay.
"Gitu kek dari tadi!" kata Lindsay.
Sepergian Lindsay, Hanabi dan Hawkes, Stella dan Mac sudah bangun dari jatoh dan Flack udah berani menginjakkan kaki ke karpet.
"Kau pasti dari tadi ngga mau bangun karena takut ikut dalam kecelakaan kecil itu?" tanya Stella penasaran. Flack mengangguk pelan. Tiba-tiba, terdengar sebuah suara. Lebih tepatnya, suara sapi melenguh.
"Ngeuh.. Halo!" Akhirnya Danny bangun, diawali dengan melenguhnya dia, dengan resminya dia dikatakan bangun. Teman-temannya hanya berdiri disitu, ngga bergerak sama sekali. Mata mereka menatap Danny dengan horror.
"A-apa sih? Oh! Yes! Gue ga jatoh dari tempat tidur! Heh? Gue ga jatoh dari tempat tidur?! Siapa yang mati kali ini?" tanyanya polos dan ketakutan. Mac mengalihkan pandangannya dari Danny.
"Gue tadi jatoh kejedok pintu nimpa Stella. Lindsay jatoh kejedok lantai tapi Hawkes.. dia yang paling brutal. Kakinya melilit dan jidatnya kepentok kaki tempat tidur," kata Mac menerangkan dengan tenangnya, seakan-akan kejadian yang ia ceritakan hanya kejadian "Gue, Stella, Lindsay dan Hawkes jatoh ketimpa 20 mamalia terbesar didunia".
"Oh.."
-STRANDED-
"Hinata!"
Hinata berbalik setelah namanya dipanggil. Ia kemudian melihat sahabatnya, Kiba, berjalan dengan Akamaru disampingnya.
"Ohayou, Kiba-kun, Akamaru-kun," sapa Hinata sambil tersenyum. Kiba menjawab. "Ohayou!". Akamaru juga ngga mau kalah. Dia menjawab dengan sebuah gonggongan keras.
"Kau mau kemana?" tanya Kiba.
"Aku mau ke kios dango," jawab Hinata sambil mulai berjalan. Kiba ikut.
"Dango? The Rainbow Dango?" tanya Kiba yang langsung disambut 2 anggukan kecil dari Hinata. "Aku dengar pemiliknya Mac. Benar?" Kiba bertanya pertanyaan kedua, yang langsung disambut lagi dengan 2 anggukan kecil. "Dan kiosnya dibelikan ottousama-mu?" Kiba meluncurkan pertanyaan ketiga. Hinata mengangguk. "Harga kiosnya hanya 500 ryo?" Kiba terus bertanya dan kali ini pertanyaan keempat keluar.
"Iya, Kiba-kun. Jangan bertanya lagi pertanyaan yang jawabannya iya sebelum leherku putus karena mengagguk," kata Hinata, yang udah capek dari tadi ngangguk-ngagguk.
"Oh, maaf.."
Ada long pause diantara mereka berdua sampai akhirnya Kiba bertanya lagi.
"Katanya seharusnya 500 ryo-nya berbentuk uang tapi ottousama-mu belikan kios, apa benar?". Hinata langsung sweatdrop. Sejak kapan Inuzuka Kiba jadi suka ng-gosip begini?
-STRANDED-
"Oke, bahan-bahan udah siap, kompor udah siap, api-nya juga udah siap.. blablablabla.. OKE! Ayo kita buka!" Stella memeriksa daftar-daftar yang ada di clipboardnya lalu memerintah teman-temannya untuk membuka toko dengan semangat (Mac: Sebenernya yang bos siapa sih?).
GREEEKK! Flack dan Hawkes membuka pintu rolling (itu loh, yang biasa di toko di mall. Helen lupa namanya) dengan hati-hati. Setelah insiden tadi pagi, mereka takut nyawa mereka terancam. Danny menawarkan diri untuk membantu tapi langsung ditolak Flack dan Hawkes padahal Danny baru bilang kata 'boleh' doang.
Saat Flack dan Hawkes selesai membuka toko, beberapa pelanggan mulai berdatangan. Salah satunya adalah seorang gadis berumur kira-kira 16 tahunan yang membawa sebuah buku tebal dan besar. Anak-anak NYPD langsung berpikir, "Kayaknya pernah liat ni anak deh..". Anak itu bergaya a la 70an, dengan dress seperti baby doll dengan lengan menggembung. Dengan rambut ikal merahnya, anak itu menjadi sebuah boneka yang dijual di emperan kaki lima -dibuang ke laut ama JeAnne-.
"Permisi, saya mau beli," katanya tenang. Imej-nya mirip Luna Lovegood di Harry Potter tapi tampangnya anak ini lebih degil dari Luna.
"Eh, iya. Mau pesen apa?" tanya Flack, yang mengambil pesanan anak ini.
"Saya mau pesan dango rasa pocari sweat," kata anak itu.
"Oke, ada lagi?" Flack bersikap sok profesional padahal ngga ada bedanya dia ama pelayan mie ayam yang lewat didepan rumah -dikejar Flack muter-muter kios-.
"Engga."
"Oke, duduk dulu ya, nanti pesanannya diantar," kata Flack. Anak itu mengangguk tapi anak itu ngga beranjak dari tempatnya.
"Kenapa?"
"Namaku Lamenta," kata anak itu memperkenalkan diri. Flack cengo.
"Oh, eh, nama gue Flack. Don Flack," jawab Flack dengan gaya memperkenalkan diri dimirip-miripin ama Jemes Bonde (Nonton CSI:NY Season 4 Episode 3, You Only Die Once? Dia juga memperkenalkan diri begitu).
"Aku melihat kebodohan.." kata Lamenta ngga jelas. Flack berbalik bingung.
"Maaf?"
"Dan karena kebodohanmu, kau jadi sial," lanjut Lamenta. Kata-kata sebenernya simpel, tapi menohok hati Flack juga.
"Well, makasih, gue udah tau kok tentang kesialannya," kata Flack mencoba tersenyum seperti biasa tapi yang keluar malah senyum paksaan yang lebih parah dari senyum paksaan lain di dunia ini. Flack kemudian berjalan ke dapur.
-STRANDED-
"Katanya disini ya.. Oh! Itu dia!" Seorang anak perempuan tinggi sedang memegang sebuah kertas kecil dan ia kelihatannya kebingungan sampai akhirnya ia melihat tempat tujuannya.
"Ahem. Mau pesen," kata anak perempuan itu. Danny menghampirinya.
"Mau pesen apaan?"
"Dango rasa.." kata-kata anak perempuan itu terputus ketika ia mendongak dan melihat tampang Danny (yang 'begitu' -apa 'begitu'?-). Tiba-tiba, berkumandanglah lagu 'Pandangan Pertama' milik RAN. Anak perempuan itu pernah mendengar dari teman-temannya yang sudah pernah ke The Rainbow Dango bahwa ada seorang pelayan di kios dango The Rainbow Dango yang cakep bernama Danny. Tapi dia ngga mengira 'cakep'-nya itu udah diatas batas 'cakep'.
"Um.. jadi pesen ga nih?!" Danny membuyarkan lamunan anak itu.
"Oh? Eh, maaf! Aku mau pesen dango rasa rambutan. Aku suka rambutan loh.." kata anak itu. Danny hanya meng-oh sebentar, menyuruhnya duduk, dan berjalan ke dapur.
"Oiya, namaku Faika loh..!" seru Faika kepada Danny, yang lagi sweatdrop.
-STRANDED-
"Permios! AeroRange mo beli!" Anak bernama AeroRange itu.
"Iya, iya. Mau pesan apa?" tanya Hawkes.
"Rasa burger!" kata anak itu. Hawkes mencatat pesanannya.
"Ada lagi?" tanya Hawkes. AeroRange menggeleng, Hawkes mengangguk (gimana si?). Ketika AeroRange sudah meninggalkan kaunter, Hawkes melihat sesuatu yang tertinggal di kaunter.
"Hoi! Bintangmu ketinggalan satu!" Hawkes memanggil AeroRange karena sablonan bintang dari sweater AeroRange tertinggal 1.
AeroRange menunduk kebawah, melihat sweater 4 bintangnya (tadinya 5. Kan 1 ketinggalan) dan berbalik.
"Ah, maka-" Belum sempat AeroRange menyelesaikan kalimatnya, ia jatuh tersandung sebuah batu, yang udah bisa dikategorikan sebagai batu kali, yang ga tau kenapa bisa ada disitu.
GEJEBUGH!
"Kau ngga apa-apa?" Hawkes menanyakan 'kabar' AeroRange. AeroRange kemudian mendongak.
"Udah tau tentang Save as DAISY XML-nya Microsoft Word?" tanya AeroRange ngga nyambung, Yang ditanya cengo.
"Heh?"
-STRANDED-
Walaupun ada sedikit kericuhan, Faika terlihat tidak tertarik. Ia berlagak seakan tidak terjadi apa-apa. Dia emang anak yang cuek (cuek apa budek? -ditampar Faika-).
Sudah ada kira-kira 8 cowok yang ngegodain dia, tapi dia tetep ngga menghiraukan mereka. Ini anak cantik, tapi cuek dan judes.
Tiba-tiba, sebuah piring putih ceper, dengan 4 tusuk dango diatasnya, mendarat di meja Faika. Faika mendongak.
"Kau hampir membuatku jantungan!" Faika mengurut dadanya.
"Ma-maaf.." Danny meminta maaf. "Rambutan kan?" tanya Danny. Faika mengangguk.
"Hei, kau dari New York kan?" tanya Faika, ketika Danny baru mau balik ke kaunter. Mendengar pertanyaan itu, Danny balik lagi (banyak ama kata 'balik' disini).
"Tau dari mana?"
"Semua orang, ampe kodok juga ngebicarain kali?" kata Faika. Danny nyengir.
"Gue selalu pengen ke New York," kata Faika.
"Benarkah? Well, kalau misalnya kau 'benar-benar' bisa kesana, ini mungkin akan berguna," Danny mengambil duduk dihadapan Faika. "Di New York ada museum sejarah, not really my thing tapi keren banget! Trus, ada Empire State Building.." Danny berlagak jadi tour-guide (sok. Soalnya dia anak NY). Faika cuman ngangguk-ngangguk doang, padahal dalem hati udah tereak-treak, "HYAA!! DANNY KIYUT ABIS!!".
-STRANDED-
"Ini pesenannya. Dango pocari sweat," Flack memberikan sepiring dango kepada Lamenta.
"Makasih," jawab Lamenta seadanya.
Flack kemudian melirik buku Lamenta yang naujubilah lebih tebel dari kamus Inggris-Indonesia-Inggris-Prancis-Indonesia-Prancis-Jerman-Indonesia-Jerman.
"Buku apaan sih itu? Tebel amat," kata Flack sambil menunjuk buku Lamenta dengan dagunya.
"Oh.. itu buku yang sangat rahasia. Ada kucing laper," kalimat akhir dari Lamenta ngga nyambung sama sekali.
"Heh?" Tiba-tiba, seekor kucing kuning gendut loncat dan menerkam Flack. Flack kontan langsung loncat-loncat.
"HADOOOHH!! Kucing gila!! Lepas, lepas, LEPAAAASSS!!" Flack kalap. Bukan kucingnya kali yang gila.
Dalam kericuhan itu, Lamenta masih sempet-sempetan ngejahilin Flack. Dia meluruskan kakinya ke jalan dan Flack kesandung. Kucingnya udah siaga. Sebelom jatoh ketiban Flack, dia udah loncat duluan.
GEJOMBRYANG!!
Flack jatoh tengkurep. Mukanya penuh batu kerikil kecil-kecil.
"Ahahaha! Hah.. aku pergi dulu ya," Lamenta kemudian mengambil semua dango-nya dan berjalan keluar.
"Woi!! Kembali kau!" seru Flack esmosi. Kayaknya hari ini banyak banget deh yang jatoh...
-STRANDED-
"Hum.. penuh banget.. Gue jadi rada males masuknya.. Tapi, gue ngga mau dibilang ketinggalan kereta gara-gara belom makan ni dango! Gue HARUS, dengan bold dan underline, makan dango disini!" kata seorang anak perempuan dengan tekad yang kuat.. untuk melahap dango The Rainbows.
TING!
Anak perempuan itu memencet bel di kaunter, seperti yang biasa ada di hotel-hotel. Beberapa saat kemudian, seorang wanita berambut keriting keluar dari belakang.
"Ya?"
"Mau pesen!" kata anak itu semangat. Ngga tau semangat apa galak, tapi mukanya ngga mendukung. Ngomong-nya semangat '47 tapi mukanya senyum.
"Mau pesen apa?" tanya Stella, yang menangani pesanan anak perempuan ini.
"Rasa daun teh! Bukan teh lo ya. Daun teh!" kata anak itu, yang terakhir kali dicek dan diketahui bernama Nakamura Arigatou.
"Oke.. ada lagi? Minum?" tanya Stella. Nakamura menggeleng. Kata teman-temannya, dango-nya hanya 4 tusuk, jadi tidak begitu membuat haus.
"Baiklah. Ambil duduk dulu, nanti pesanannya diantar," kata Stella. Ia kemudian berpaling ke pelanggan lain ketika Nakamura berjalan menuju sebuah meja dengan 2 kursi (dan dengan gilanya dia jalan sambil ketawa-ketiwi ga jelas). Saat sedang berjalan menuju sebuah meja, Nakamura berpapasan dengan seseorang, yang menurut dalam opini Nakamura, serem. Dia bawa-bawa 'kambing', itu pun Nakamura ngga yakin sebenernya itu kambing apa bukan. Abis, kambingnya pake pierching sih! Mana kambingnya mukanya mirip manusia yang terlahir dengan tampang bokep pula. Nakamura cepet-cepet mengalihkan pandangannya dan berlari menuju mejanya. Takut ketangkep ngeliatin tu kambing dan dikejar-kejar ama kambingnya, sekaligus pemiliknya.
Orang yang tadi diliatin ama Nakamura juga pingin beli dango. Katanya, kambingnya ngidam-ngidam dango The Rainbows mulu, makanya dia nemenin, sekalian ngelahap juga deh satu. Saat sampai di kaunter, yang lagi kosong dan anak-anak NYPD lagi pada ngumpul semua dibelakang, orang 'serem' tadi memencet bel. Bedanya dari Nakamura, yang ini ngga tau semangat apa lagi gondok.. bunyi-nya beruntun memekakkan telinga.
TIIIINGGG!! PRAK!
Bel-nya hancur berkeping-keping.
Lindsay cepat-cepat keluar dan mendapati bel di kaunter udah jadi kaca pecah. Ia melotot, kemudian menatap orang yang menghancurkannya. Sepertinya dia ngga merasa bersalah.
"Kok dihancurin?" tanya Lindsay.
"Emang kenapa? Kalian kan laku, beli aja yang baru. Pedagang asongan juga punya bel. Bel gereja-pun mereka jual," kata orang itu datar. Lindsay melongo, membayangnya pedagang asongan bawa-bawa bel gereja yang bahkan lebih gede dari yang jual. Pikirannya udah kayak bebek mentok tembok, ngga bisa bayangin.
"Jadi.. mau pesen apa?" tanya Lindsay, berusaha mengusir pikiran tentang bebek dan bel.
"Dango rasa Yggdrasil Berry warna kuning," kata orang itu.
"Heh?"
"Yggdrasil Berry warna kuning. Buat kambing gue."
Lindsay makin ngga ngerti. "Nama lo siapa?" tanya Lindsay, berusaha tenang.
"Akaryu no Baka," jawab orang itu. Lindsay ngangguk-ngagguk sambil senyum.
"Oke.. Akaryu.. ITU TUH SEBENERNYA RASA APAAN!!" Lindsay kalap, ngga ngerti apa yang diomongin Akaryu.
"Lo cari lah di kamus. Gue bawa kamus nih.. Jaga-jaga. Abis kira-kira 99,99 persen yang gue ajak ngomong, kaga ngerti apa yang gue bicarain makanya gue suka bawa-bawa kamus," Akaryu menjelaskan.
"99,99 persen? Lo kira iklan sampo anti ketombe? Trus, 00,01 persennya siapa?" tanya Lindsay.
"Kambing gue."
Hening..
"Ini orang aneh banget.." pikir Lindsay. Ia kemudian membuka kamus segede kira-kira 1m x 1m itu (beneran! Tadi di sekolah Helen liat buku sejarah Indonesia gedenya segitu, lagi dijemur dilapangan, bersama kamus-kamus tebel lain yang ikut basah) dan membuka bagian huruf 'Y'. Beberapa detik kemudian bibir Lindsay monyong.
"Uuuuuu... Jadi itu tuh buah yang tumbuh 10 tahun sekali di perbatasan Asgard, Midgard dan Nifheilm?" tanya Lindsay, ga tau dia sebenernya ngerti bener apa ngga. Akaryu mengangguk. "Garis besarnya gitulah.." kata Akaryu.
"Oke deh! Ambil duduk dulu, nanti dibawa ke meja lo. Dangonya," kata Lindsay sambil menunjuk sebuah kursi kosong. Akaryu segera berjalan. Sebelom meninggalkan kaunter, Akaryu sempat berkata ke Lindsay, "Awas kalo bukan yang warna kuning.. Gue mutilasi lo! Kaga ada Sasuke sih.. Lo aja ya yang jadi korban." Mendengar itu Lindsay langsung bergidik ngeri dan berjalan menuju ke dapur dan langsung berteriak, "GUE NGGA MAU MATEEEEE...!! Kaga keren amat sih dimutilasi!" Mau di mutilasi masih sempet-sempetnya protes..
-STRANDED-
"Dango, dango, dango..!" seorang anak perempuan kebanyakan klorofil, dilihat dari rambutnya yang hijau, meloncat-loncat kecil menuju kaunter The Rainbows. Rambutnya yang dikuncir ekor kucing bergerak dari kiri, ke kanan, dari kanan kebawah, dari bawah ke atas dan diulang-ulang. Sesudah ia sampai di kaunter, ia berteriak, "MO BELIIII..!!". Ia kemudian melihat sebuah serpihan kaca ditepi kaunter.
"Weiss.. ada apa nih? Abis perang ya? Ngga baik ada kaca. Harus dibuang! Gue buang dulu bentar.." anak itu lalu mengambil serpihan kaca tersebut dan berjalan menuju tong sampah berwarna shocking pink norak, pilihannya Lindsay, dan membuang kaca tersebut.
Pada waktu yang sama, Mac keluar dari dapur. Ia melihat tidak ada siapa-siapa dikaunter.
"Halo? Serius mo beli ga nih? Kalo ngga, gue kasi makanan anjing punya Danny aja ya mau?" kata Mac. Ternyata selain mukanya mirip anjing, Danny-pun makan 'Pedigreem', makanan anjing terkenal di Konoha. Katanya rasanya kayak bakso.
"Maap, maap. Tadi saya abis buang serpihan kaca. Bahaya loh ada kaca disini," kata anak perempuan itu.
"Iya, iya, maap. Mo pesen apaan?" tanya Mac.
"Dango tahu basi," anak perempuan itu berkata tanpa basa yang udah basi.
"Oke.." Mac mengangguk. Ngga nyadar bahwa ia bakal masak pake tahu yang udah basi (Mac: Tahu basi dibelakang juga banyak. Bayem basi dibelakang juga sama banyaknya. Manusia basi.. kayaknya kita stoknya lagi ngga ada deh). "Ada lagi?" tanya Mac.
"Ngga ada. Makasih," anak perempuan itu berterima kasih.
"Sama-sama.. Heh? Kok malah elo yang terima kasih sih? Bodo amat dah. Cari tempat duduk aja dulu, entar dianter," kata Mac sambil melototin tulisannya tadi (Baru sadar tulisannya cakar anjing?).
"Makasih udah mau ngelayanin Wammy! Ngehehehehehehe..." Wammy kemudian cengengesan ngga jelas sebelom akhirnya pergi ke sebuah meja. Lagi, dia loncat-loncat kecil sambil sesekali menyapa orang-orang yang ditemuinya. Ia kenal dengan separuh penduduk Konoha dan separuhnya itu memenuhi hampir separuh dari kios (lama-lama Helen mikirin paruh bebek lagi).
-STRANDED-
"Ahem!" Hawkes berdehem. Tapi orang yang didehemin ngga berpaling dari laptop-nya.
"Woy! Ahem! Aero-Ahem-Range-OHOK!!" Karena kebanyakan berdehem disengaja, Hawkes jadi bengek. AeroRange menoleh. Sebuah kebahagiaan tersirat diwajahnya.
"Aaaahh.. bidadari-kuuuu.." AeroRange berkata. Matanya berkaca-kaca. Lebih lebay dari Lee.
"Heh?"
KRUYUK! Perut AeroRange menari dan memulai parade.
"Gue laper nih! Lama amat si lo!" AeroRange protes.
"Ya maap. Tadi ada kucing lewat terus Flack, yang alergi kucing, langsung freaked out sambil lari-lari keliling dapur 4 kali. Ngganggu banget tu anak satu!" kali ini Hawkes yang protes.
"Ga papa deh.. Udah ya, gue mau makan sambil melamun. Sono pergi! Hush.. hush!" AeroRange mengusir Hawkes.
"Lo kira gue tikus? Di-hush-hush.. Melamun pake ijin.. Sekalian aja lo melamun minta ijin pajak! Semenit ngelamun bayar 5 ribu!" Hawkes kemudian berbalik ke kaunter.
"Loh? Kalo gitu mah gue dong yang rugi? Lo gimana sih?" AeroRange ditinggalkan dalam keadaan bingung. Ia lalu makan dango sambil bertopang dagu. Ngelamun..
-STRANDED-
"Wah.. rame banget.. Kemaren kayaknya ngga serame ini deh," Hinata memandang lautan manusia yang mengerumuni kaunter dango layaknya gajah ngga pernah makan.
"Lo udah pernah kesini ya? Gue belom. Gara-gara kemaren si Shino, Shika ama Lee kaga' mau. Sebenernya gue mau-mau aja sih tapi udah keburu di-engga-in ama mereka bertiga.." kata Kiba panjang kali lebar sama dengan luas persegi panjang. Ia juga sebenernya agak segan ke kios tersebut, memandang berita-nya udah ada dimana dan pastinya rame. Buktinya lagi dia lihat sekarang.
"Ya udah, Kiba-kun kalo kesini bisa dapet VIP Access ke backstage!" Hinata berkata semangat. Kiba memandangnya dengan berkaca-kaca.
"Bener? VIP Backstage Access?" Kiba seneng banget dikasi begituan.
"Um.. sebenernya dapur sih.. Tapi kan dapurnya ada dibelakang, jadinya backstage," Hinata berkata polos.
"Itu mah backcounter kali!" kata Kiba. Kirain dia bakal ketemu Annisa Pohan di backstage.. ternyata dia bakal ketemu Annisa Pohan di dapur. Yang penting bisa ketemu (ini anak ngga ngerti apa bego?).
"Haha! Aku hanya bercanda, Kiba-kun! Nah, memandang kita sudah disini, bagaimana kalau kita ke dapur?" tanya Hinata.
"Dan ketemu si Annisa Pohan?" Kiba berharap.
"Annisa Pohan?" Hinata bingung sendiri.
-x-
"Hai, teman-teman!" Hinata menyapa anak-anak NYPD. Semuanya menoleh. Tiba-tiba, muka mereka, yang udah dari dulu kucel, langsung kucelnya ilang 10 persen.
"HINATAAAA...!!" Mereka kemudian berlarian kearah Hinata dan akan menubruknya ketika tiba-tiba Kiba berdiri didepan Hinata. Jadinya.. mereka jadi nubruk orang, tapi nubruk Kiba.
"Kiba-kun!"
"Aduuhh.." Kiba memegangi kepalanya. Ia merasa dunia udah berputar lebih cepat dan kemiringannya pun berkurang (apa coba? Maklum, tadi abis ulangan geografi).
"Maaf, Kiba. Maaf!" Lindsay meminta maaf. Kiba bangun.
"Ng.. ngga apa-apa kok. Jadi, mana Annisa Pohan-nya?" tanya Kiba. Semuanya melongo.
"Annisa Pohan?"
"Tau tuh. Daritadi dia ngomong tentang Annisa Pohan mulu," kata Hinata.
"Kiba.. disini ngga ada Annisa Pohan," kata Mac.
"Ngga ada? Tapi kata Hinata, ini backstage!" kata Kiba.
"Kan Kiba-kun udah ngoreksi yang bener! Ini tuh backcounter!!" seru Hinata OOC.
"Yaaaahh..." Kiba kecewa karena ngga bisa ketemu Annisa Pohan, tapi langsung ceria ketika melihat sebuah dango nganggur yang baru keluar dari wajan.
"Ooh.. Dango! HAUP! PANAAAASS!! Wek, rasa apaan neh?!" Kiba menjulurkan lidahnya dan membersihkannya (sama dia di-lap pake tangannya.. iyuk).
"Itu rasa keju pedes. Ada anak kecil pesen itu," kata Stella santai.
"Keju pedes?" Hinata bingung.
"Iya. Mungkin kami belom ngasi tau kalian. Slogan The Rainbow Dango adalah: 'Dango Serba Ada'. Kami bahkan menyediakan rasa tahu basi dan buah dari galaksi lain!" kata Mac semangat.
Lindsay menoleh kebelakang. "Yang sudah aku lupakan!" Lindsay kemudian berlari kesebuah wajan dan mematikan api-nya. Dango-nya matang.. ampe hampir gosong.
"Tau ini rasa apa?" tanya Lindsay. Kiba dan Hinata menggeleng.
"Yggdrasil Berry warna kuning," kata Lindsay. Kiba dan Hinata langsung menyambut dengan muka bingung.
"Ini buah yang dari galaksi lain itu," kata Hawkes. Kiba dan Hinata ber-oh ria. Ketika itu, Flack masuk.
"Yang keju pedes udah belon?" tanyanya. Ia lalu menoleh dan menyadari kehadiran 2 anak bawah umur yang harusnya ngga boleh ke dapur berbahaya yang dihuni manusia-manusia buas itu. Flack lalu menyapa mereka berdua. Kiba menyapa balik. Hinata hanya tersenyum.
"Iya nih. Udah ada. Tapi tadi satu ada yang digigit Kiba.." kata Lindsay.
"Ga papa. Digigitnya kecil kan? Bilang aja masih steril.." kata Flack. Oho.. Yang mesen dango itu bakal kena rabies! -dilempar Kiba ke kandang-nya Akamaru-
"Ya udah. Nih," Lindsay lalu mengulurkan sepiring 4 dango itu kepada Flack. Flack lalu keluar.
"Ngga higienis deh.."
-STRANDED-
"Nih, dango-nya. Keju pedes." Flack memberikan piring dango itu kepada seorang anak. Anak itu mendongak.
"Makasih," katanya.
"Sama-sama.." Flack bengong mandangin sebuah objek dipundak anak itu. Anak itu menyadari bahwa Flack memandangi objek itu. Anak itu lalu berkata, "Ini tupai-ku. Suka ya? Hahaha!" Anak itu menertawakan Flack.
"Ini dia yang gue cari!" kata Flack tiba-tiba. Anak itu kaget.
"Bikin Azurri kaget.. Apaan seh!?" kata anak itu, Azurri sebel karena suara Flack yang kayak kaleng rombeng.
"Buat gue ya!"
"Hah?"
"Mama gue suka pengen makan daging tupai," kata Flack, yang langsung disambut sendal jepit hasil sambitan Azurri.
"Udah sana! Gue mau makan dulu!" kata Azurri sambil melepas kacamatanya. Dango-nya masih ada uap. Orang pake kacamata biasanya kalo makan yang ada uap-nya, kacamatnya dilepas. Flack mengangkat kedua tangannya dan berbalik untuk pergi ketika ia mendengar Azurri berteriak, "PEDEEEESSSS!! Tapi ENAK!! Tapi kok kayak ada rasa bakso-bakso gitu ya?". Flack langsung ngibrit denger itu. Ternyata bukan cuma Danny yang makan Pedigreem. Kiba juga makan makanan si Akamaru itu. Makanya karena udah ada begas gigitan si manusia anjing, Azurri ngerasa ada rasa bakso, rasa khas Pedigreem. Flack ngibrit sambil merinding.
"Kok gue ngerasa ngga enak ya, ama ni dango? Udah dikutuk kali ya?" Azurri bertanya-tanya sendiri. Akhirnya ia mengangkat bahu dan terus makan dango, ngga tau bahwa dia sebentar lagi bakal kena rabies tipe ekstrim.
-STRANDED-
"Ini dango-nya," kata Stella. Ia lalu menurunkan sebuah piring berisi 4 tusuk dango berwarna coklat. Nakamura ngiler. Daritadi dia emang sengaja ngga makan biar dango-nya muat.
"Hehe.. makasih ya!" Nakamura lalu langsung melahap satu tusuk sekaligus (1 tusuk isinya 3 buletan. Jadi 3-3-nya dia makan sekaligus). Stella agak cengo juga ngeliatnya.
"Lo kembaran Sakura ya?" tanya Stella. Nakamura berhenti makan.
"Apa? Kembaran Sakura? Haruno Sakura maksudnya? Ngga lah! Orang marga kita aja beda! Mang napa?" Nakamura kemudian kembali melahap dango-nya.
"Abis lo mirip banget ama Sakura."
"Mm.. emang banyak sih yang bilang mirip.. secara rambut kita kan modelnya sama, udah gitu tinggi kita sama, tapi dia lebih tinggi 0,00004 mikrometer dari gue. Tapi kan sisi beda-nya lebih banyak dari yang sama! Liat aja, mata gue kan amber, Sakura emerald. Gue kan putih, Sakura coklat. Gue kan wangi, Sakura bau matahari!" Seketika itu juga sebuah bohlam mendarat dikepala Nakamura dan menghasilkan sebuah benjol yang.. luar biasa biasa-biasa aja..
"Keterlaluan ya lo!" seru Sakura. Ternyata dari tadi dia ada disitu, abis nyambit Nakamura pake bohlam, ngga tau dia dapet darimana.. dan ngga tau dia ngapain disitu.
"Kamu ngapain disitu?" tanya Stella. Ngapain juga Sakura sembunyi dibalik pagar?
"Liat-liat aja.. Aku lagi ga mau beli ntar kalo misalnya kalian ngeliat aku, entar dipaksa beli lagi!" kata Sakura.
"Emang kenapa?"
"Satu, aku lagi diet. Dua.. AKU BOKEK!!" Sakura nangis meraung-raung dengan lebay-nya. Tapi itu hanya beberapa detik saja sampai Stella berkata, "Ternyata bukan cuman kita yang bokek.." tapi dengan suara kecil.
"Apa?"
"Ngga! Tadi ada kucing jatoh ke kepala Flack!" seru Stella. Seketika itu juga, terdengar grompyangan dari dapur, dan teriakan-teriakan seperti: "KUCING!! ADA KUCING DI KEPALA GUEEE!!" dan "FLACK!! JANGAN LARI DI DAPUR!! GUE GORENG LO SEKALIAN!" ato dengan kejamnya berkata, "JANGAN! DIBAKAR AJAH! KASI SAOS MADU!!", yang udah obvious dari suaranya, itu adalah Danny dan diikuti dengan teriakan, "GUE BUKAN AYAM BAKAR MADU!!".
-STRANDED-
Setelah kerusuhan tadi, dan Flack udah tenang, dia kembali ON THE JOB! Baru dia keluar dapur, udah ada anak yang nungguin dikaunter. Anak perempuan itu lagi ngeliat ke lain arah, jadi dia belom perasaan kalo makhluk bernama Donald Flack, Jr. udah ada disitu.
"Ahem!" Flack berdehem. Anak perempuan itu menoleh. Seketika itu juga, anak itu senyum-senyum najong (a la Raditya Dika) dan langsung teriak kenceng sambil ngipas-ngipasin diri. Flack, udah kaget, bingung pula.
"Ke-kenapa?" tanya Flack, dia udah mundur 3 langkah kali.
"Lo tuh ganteng banget sih!" kata anak perempuan itu. Idung Flack langsung kembang-kempis. Dia berdiri yang bener dan langsung narsis mampus.
"Iya? Ya iyalah, secara GUE GITU!" teriaknya narsis. Dia seneng banget punya fans banyak dan dia juga merasa hebat kalo udah ngalahin Danny. Dalam hal fans, ataupun dalam hal yang paling banyak melayani pelanggan. Apalagi pelanggan cewek.
"Iya! Gila ya lo! Hahaha!" anak perempuan itu tertawa ngga jelas. Flack malah ngikut.
"Ahahahahahahahahahaha... mau pesen apa?" tanya Flack tiba-tiba (sok) serius.
"Hum.. rasa cappuccino aja deh! Gue suka banget cappuccino dan yang paling penting, gue suka banget bau kopi!" katanya.
"Oke.. ada lagi?" tanya Flack. Anak itu menggeleng.
"Kenalan dong. Nama gue Deeandra. Deeandra Hihara. Panggil gue Dee aja," kata Dee.
"Gue Flack. Don Flack," kata Flack memperkenalkan diri. Sekali lagi dia sok-sok Jemes Bonde. Tadinya dia pengen bilang gini, "Gue Detective Flack" tapi memandang dia sekarang adalah seorang pelayan, cewek itu pasti ngga bakal percaya ama dia. Pelayan yang mirip ama pelayan mie ayam jalanan kok detective? Dunia udah berputar arah!
"Oh.. Kalo gitu, salam kenal ya!" kata Dee. Flack tersenyum dan berbalik ke dapur, mau lapor.
"GILA SENYUMNYAAAA...!!" teriak Dee, kemudian ia pergi menuju sebuah meja kosong, menghiraukan tatapan iba dan bisik-bisik tamu lain. Mereka memberi Dee pandangan serupa seperti ketika orang-orang memandang Shino dengan iba di restoran.
-STRANDED-
"Nih, pesenan lo! Warna kuning! Tuh liat kan?" Lindsay berkata sambil 'membanting' piring berisi dango ditangannya. Kambing milik Akaryu mendongak menatap Lindsay. Kambing bertampang bokep itu-pun mengernyit.
"Mbeeekk..!! Mbeek, mbeek, mbeeeeeekkk!! Mbek, mbek, mbek! MBEK!" kelihatannya si Kambing marah ama Lindsay.
"Heh? Apa?" Lindsay, yang jelas ngga bisa bahasa kambing -orang bahasa Perancis aja dia acak-acakan- cengo.
"Pein bilang.." Akaryu kemudian menaikkan suaranya satu oktaf, sehingga lebih mirip cicak kejepit ventilasi. "Woooyy..!! Yang.Sa.Baaaaaarrr!! Tuanku nih! HUH!". Akaryu mengakhiri kerjaannya sebagai translator bahasa kambing.
"Oh.. maap deh. Oh iya, ini pesenan lo. Tuh warna kuning! Ngga jadi di mutilasi kan?" Lindsay berharap.
Akaryu meneliti 4 tusuk dango dihadapannya dengan seksama. Ia melihat bulatan 1.. atas, bawah, kanan kiri.. lanjut ke bulatan 2.. sampai ke bulatan terakhir. Ia lalu menoleh ke Lindsay.
"Lo ngga jadi di mutilasi," kata Akaryu, yang langsung disambut lenguhan kebo lega dari Lindsay.
"Tapi.." Lindsay langsung melotot waktu denger tapi. "Ada tapinyaaa??" pikirnya.
"Lo harus cariin Sasuke buat gue mutilasi," kata Akaryu. Lindsay, yang udah trauma ama pembunuhan temen-temennya, langsung bergidik dan ngibrit.
"NGGA MAUUUU..!!"
"Haha.. padahal gue cuman bercanda. Tapi abis ini, bolehlah berburu si Uchiha satu itu," kata Akaryu. Ia kemudian melahap dango-nya satu persatu, sharing sama Pein, kambingnya.
-STRANDED-
"Pfiuh.. Akhirnya nyampe juga. Cowok aneh berambut panci dengan baju hijau norak itu menyuruhku lari dulu! Sialan banget tu anak!" seorang anak perempuan terengah-engah didepan kaunter The Rainbows ketika Lindsay sampai dari 'jogging'-nya.
"Ah.. si Akaryu tuh aneh-aneh aja sih! Hm? Ada pelanggan? Gue aja deh." Lindsay kemudian beranjak dari tempatnya dan pergi ke belakang kaunter.
"Halo. Mau pesan apa?" tanya Lindsay.
"Strawberry marshmallow," kata anak itu pelan. Lindsay ngga kedengeran.
"Apa?"
"Stro.be.ri.mars.mel.louw..!" kata anak itu lagi. Mukanya agak nunduk. Lindsay jadi khawatir jangan-jangan dia setan.
"Oh, oke. Ada yang lain lagi?" tanya Lindsay. Anak itu menggeleng singkat dan pelan.
"Baiklah. Ambil duduk dulu, nanti saya antar dango-nya," kata Lindsay sambil menyerahkan sebuah nomor meja dengan nomor 4 kepada anak itu. Anak itu kemudian pergi.
"Kalo mau strawberry marshmallow, napa kaga beli marshmallow aja sih? Lagian tuh anak kok diem banget.. Misterius abis. Jadi merinding gue.." Lindsay lalu cepat-cepat lari ke dapur, takut tu anak tiba-tiba dibelakangnya (jelas-jelas dia ngga tau kalo setan ngga muncul di siang bolong).
-STRANDED-
"Nih tahu basi lo. Ngomong-ngomong, kami punya banyak tahu basi di dapur, kenapa lo ngga sekalian beli 6 piring aja?" tanya Mac.
"Terima kasih! Wah? Bisa sampe 6 piring? Boleh tuh! Pesen 6 piring lagi ya yang tahu basi!" Wammy terlihat bersemangat. Pagi tadi dia ngga sengaja makan tahu basi dan rasanya ternyata enak juga. Kayak rasa daun teh-tehan. Dan dia juga ngga sakit perut.
"Oke deh!" Mac kemudian langsung melesat kembali menuju dapur. Azurri, yang kebetulan duduk didepan Wammy, mendengar percakapan Wammy-Mac dan berbalik.
"Ada gitu rasa tahu basi?" tanya Azurri.
"Ada aja. Nih, gue lagi makan!" kata Wammy sambil memakan satu bulatan dango. Tiba-tiba seseorang dibelakangnya berseru dengan jijik.
"Eeewww..!! Enak gitu?" Ternyata itu adalah Faika.
"Enak lagi! Mau coba?" tanya Wammy sambil menyodorkan sepiring dango.
"Rasanya kayak apa?" tanya Faika.
"Kayak daun teh-tehan."
"Lo PERNAH MAKAN daun teh-tehan!?" Azurri berkata tidak percaya.
"Pernahlah, waktu gue umur 2 taun. Lumayan enak loh.." jawab Wammy.
"OH! Daun teh-tehan! Kalo itu mah gue juga pernah kemakan waktu kecil. Lumayan juga.. Gue bagi ya." Faika kemudian mengambil 1 tusuk dan memakan 1 bulatan. Tiba-tiba, matanya berkaca-kaca.
"Ini.. enak banget!" seru Faika.
"Tuh kan.."
"Mana? Gue coba dong! Lo kan abis mesen banyak lagi!" Gantian Azurri yang penasaran. Wammy memberikannya 1 tusuk. Azurri memakannya.
"Enak! Eh,eh, lo mo coba dango keju pedes gue ngga?" tanya Azurri.
"Keju pedes? Gue suka pedes tapi ngga begitu suka keju," kata Wammy.
"Coba dulu deh!" Wammy kemudian mengambil 1 bulatan. Ia melahapnya.
"Gila! Enak abis! Oh ya, nama gue Wammy ngomong-ngomong," kata Wammy memperkenalkan diri.
"Gue Azurri, dengan dobel 'r', Ukitake," Azurri memperkenalkan diri.
"Gue Faika Araifa," Faika juga ikut memperkenalkan diri. Tiba-tiba datang Mac, dengan additional package: Danny, dengan masing-masing membawa 3 buah piring dengan dango-dango berwarna putih pucat diatasnya.. dengan 'pelayan padang-style', piring bertumpuk.
"Bantuin gue dooong.." Mac memelas (OOC abis..). Wammy, Azurri dan Faika segera membantu mereka dan tentu saja, Faika dengan senang hati membantu Danny.
-STRANDED-
Flack mengacuhkan gotong-royong Mac-Danny-Faika-Azurri-Wammy itu dan bergegas mengantarkan pesanan fan-nya yang ditemuinya tadi.
"Ini. Dango cappuccino," kata Flack seraya meletakkan sepiring dango berwarna coklat muda dengan corak putih dibeberapa tempat.
"Makasih, Flack," kata Dee, tersenyum. Ia lalu mulai memakan dango-nya. Flack tinggal, ingin mengetahui apa pendapat orang pertama yang mencoba dango rasa cappuccino.
"Mmm..! Enak!" kata Dee.
"Bagus deh kalo gitu. Um.. gue pergi dulu ya.." Flack kemudian berbalik dan berjalan ke kaunter. Dia takut ama si Dee itu. Abis daritadi, setiap Dee ngeliat Flack, Dee selalu senyam-senyum ga jelas sendiri.
"Flack kenapa sih?" Dee bertanya-tanya sendiri. Kasian dia, ngga tau. Sudahlah..
-STRANDED-
"Hum? 'Dango Serba Ada'? Toko martabak masih jauh sih.. disini mungkin ada. Tapi.. aku pengennya martabak beneran, bukan dango rasa martabak. Gimana ya? Udah ah, kesini aja!" Seorang anak perempuan berkulit putih kelihatan plin-plan dengan masalah 'martabak yang mana'. Akhirnya ia berjalan menuju kaunter The Rainbows.
"Permisi, mau beli..!" seru anak itu. Dengan secepat angin, Hawkes melesat keluar dari dapur.
"Iya,iya! Mau pesen apa?" tanya Hawkes.
"Dango rasa martabak ada?" tanya anak perempuan itu mendongak (perasaan ngga sih disini banyak kata 'mendongak'?). Untuk pertama kalinya, anak perempuan itu melihat orang yang melayaninya.
"Martabak? Ada kok. Ada lagi yang mo dipesen?" tanya Hawkes lagi. Kalo yang ini ngga kayak Flack, yang sok-sok pelayan pro padahal miripan juga ama pelayan mie ayam. Kalo Hawkes keliatan banget profesionalisme-nya.
"Ngga."
"Oke, ambil duduk dulu. Ini nomernya." Hawkes memberikan sebuah papan bernomor 2.
"Makasih. Oh ya, kita pernah ketemu ngga sih?" tanya anak itu.
"Hm? Ngga deh kayaknya. Kenapa?" tanya Hawkes bingung.
"Ngga. Ngerasa kayak pernah ngeliat lo aja.." kata anak itu lagi. Hawkes makin bingung. Akhirnya, setelah anak itu pergi ke meja-nya, Hawkes baru ke dapur.
"Kayaknya pernah liat beneran deh.. yang suka nangkring-nangkring itu.. monyet ya? Bukan ding, bukan!"
-STRANDED-
"Hem.. i-ini pesanannya," Lindsay berkata gagap seperti Hinata dan meletakkan sebuah piring berisi dango berwarna soft pink.
"Makasih," anak misterius yang memesan strawberry marshmallow tadi berkata. Kepalanya masih tertunduk. Ia perlahan-lahan memakan dango-nya. Lindsay kemudian melihat sebuah nametag kain (nametag-nya bukan yang kayak nametag pelayan-pelayan restoran gitu.. yang di laminating. Tapi yang ini yang dijahit) di lengan atas kiri anak itu. Tertulis disitu: Angie.
"Jadi namamu Angie ya?" tanya Lindsay. Angie mendongak dan mengangguk. Ketika ia mendongak, terlihat ia memakai sebuah jepitan berbentuk stroberi yang menurut Lindsay, lucu banget.
"Jepit kamu lucu banget! Beli dimana?" tanya Lindsay.
"Di bikin sama mama," kata Angie singkat. Lindsay hanya ber-oh.
"Bilang ke mama kamu, dia terampil banget, bisa buat begituan. Bagus banget tau! Gue juga pingin punya.." kata Lindsay.
"Kamu mau? Nanti aku bilang ke mama," kata Angie tapi masih tetap pelan.
"Beneran? Waaaa.. mauuuu!!" Lindsay berteriak layaknya anak kecil yang baru mau dibeliin sepeda roda tiga pertamanya.
"Iya. Nanti kalau sudah jadi, aku antar kesini ya," kata Angie. Lindsay mengangguk setuju. Ia kemudian berbalik ke dapur.
-STRANDED-
"Nih, 'martabak'-nya," Hawkes berkata sambil mendaratkan sebuah piring di meja.
"Makasih. Martabak telor kan?" tanya anak perempuan berambut panjang blackpurple tersebut. Hawkes mengangguk. Anak itu kemudian memakan dango-nya.
"Sama banget kayak martabak beneran! Jangan-jangan lo beli martabak terus lo cetak bulet-bulet lagi?" tanya anak itu curiga.
"Ngga! Suer! Yang buat Mac!" kata Hawkes.
"Ya udah. Duduk deh," kata anak itu sambil menunjuk kursi kosong dihadapannya. Hawkes nurut dalam diam.
"Dahi lo kenapa? Kepentok kaki tempat tidur ya?" tanya anak itu.
"Kok lo bisa tau?"
"Nebak."
"Ni anak.. misterius amat.. MENCURIGAKAN!" pikir Hawkes dalam hati. Mungkin bisa juga disebut 'teriak dalam hati'..
"Oh, nebak. Nama lo siapa?" tanya Hawkes, berusaha terlihat friendly.
"Rin Kajuji," jawab Rin singkat.
"Ni anak aneh deh. Dia yang nyuruh gue duduk, dia yang diem.."
"Gue Hawkes. Eh, gue pergi dulu ya." Hawkes kemudian beranjak dari kursinya sebelum ia kemudian pergi ke dapur.
"Iya. Dadah selamanya.." Aneh ni anak.. Hmm..
-STRANDED-
"Mac. Bisa bicara sebentar?" tanya Hawkes.
Mac menoleh. "Ada apa?" tanyanya.
"Um.. begini. Aku sudah selesai membuat kalkulasi tentang kemungkinan kapan dan dimana wormhole selanjutnya, jurusan New York tentu saja, yang akan membawa kita pulang," kata Hawkes. Sekarang Mac benar-benar tertarik.
"Lalu? Lalu?" Mac ngga sabaran.
"Lalu.. ini dia hasilnya," kata Hawkes sambil mengeluarkan secarik kertas yang sudah dilipat dari dalam kantung celananya. Mac membacanya. Beberapa detik kemudian, ia mengangkat mukanya.
"Oke. Gue ngga ngerti rumusnya sama sekali," katanya. Hawkes lalu menyuruhnya untuk melihat halaman dibaliknya. Mac-pun membalik kertas buram tersebut. Di paling bawah, tertulis tulisan rapi Hawkes yang menuliskan: 'September 17, 2008. 10:04 a.m. Halaman Barat Daya Hyuuga Mansion". Mata Mac membelalak. Ia melihat jam tangannya.
"Sekarang jam 09:53.." katanya takut-takut.
"Makanya. Kau ambil yang lain, aku beritahu Kiba dan Hinata soal ini," kata Hawkes sambil mulai beranjak pergi.
"Tapi.. barang-barang kita di rumah Hinata? Gimana dengan itu? Gimana dengan uang kita? Gimana dengan kios ini!?" Perasaan Mac mulai bercampur-aduk. Ada perasaan senang karena akhirnya ia bisa pulang, ada perasaan sedih juga karena harus meninggalkan Konoha. Padahal ia berpikir ia sudah kerasan disana. Ada juga perasaan takut. Hawkes tidak tau kekuatan wormhoel itu segimana besar, jadi.. siap-siap aja tercabik-cabik dan tak bisa pulang. Tapi mereka polisi. NYPD pula! Mereka sudah di latih untuk menghadapi berbagai situasi. Tapi 'wormhole situation' itu lain!
"Itu yang akan kubicarakan dengan Hinata." Hawkes kemudian pergi untuk menemui Hinata dan Kiba, yang masih aja ada di kios.
"Well, tahun depan, akan kumasukkan materi 'APA YANG AKAN DILAKUKAN JIKA TERHISAP WORMHOLE' kedalam pelajaran disekolah-sekolah!" pikir Mac. Ia lalu pergi keluar dapur untuk memberitahu teman-temannya.
-STRANDED-
"Haaahh.. capek gue!" Stella meregangkan bahunya.
"Perasaan ngga sih hari ini pelanggannya aneh-aneh dan unik-unik. Apalagi si Akaryu itu.. yang mesen.. tu kan gue lupa lagi namanya," kata Lindsay sambil berusaha mengingat-ngingat.
"Kayaknya kok kemaren ngga kayak gini ya? Hari ini rame banget," kata Danny nyamber. Dia baru datang dan langsung mengambil tempat duduk disamping Flack. Mereka semua sedang duduk-duduk di sebuah kursi kosong berisi untuk 4 orang. Pelanggan udah pulang semua.
"Kayaknya ada yang ngga beres deh hari ini.." kata Flack curiga. "Eh, ngomong-ngomong, gue dapet pelanggan lebih banyak daripada lo hari ini! Ha!" Flack kelewat ceria dengan fakta bahwa dia dapet lebih banyak pelanggan.
"Tapi kan bukan berarti fans lo lebih banyak dari fans gue!" Danny mempertahankan diri.
"Eh? Si Mac kenapa tuh?" Stella menunjuk Mac yang lagi lari-lari ke arah mereka.
"Mac kalo lari kayak bebek ya!" kata Lindsay.
"Wooo!! Awas lo, Montana! Kalo dia denger, ngga basa-basi lo DIPECAT!" kata Danny menakut-nakuti Lindsay.
"Ga takut! Weeek..! Ga mempan!" Lindsay mengejek Danny.
"Hei.." Mac menyapa teman-temannya sambil ngos-ngosan. Yang lain menyapa balik.
"Wormhole.. New York.. Hawkes.. Hari ini.. 10 lebih 4.. Hyuuga Mansion.." Mac ngos-ngosan. Cemen amat, baru juga lari 6 meter!
"Kayaknya dia berusaha memberitahu kita sesuatu.." kata Stella ngga yakin.
"Mungkin gini: "Ada wormhole jurusan New York. Hakwes udah ngitung.. hari ini jam 10 lebih 4 di Hyuuga Mansion". Gitu kali? Why do you guys have to make it such a big deal, anyway?" kata Flack santai. Tapi saat ia mengucapkan kalimatnya, mata teman-temannya melebar.
"ADA WORMHOLE KE NEW YORK!!" teriak mereka bertiga, minus Flack yang kelihatannya masih belom ngerti.
"Iya.." jawab Mac.
"Terus? Ngapain kita disini? Mana Hawkes?" tanya Lindsay, celingukan mencari Hawkes.
"Dia lagi ngomong ama Hinata."
-x-
"Jadi.. kalian harus pergi hari ini?" tanya Hinata ngga percaya. Hawkes mengangguk. Hinata udah hampir nangis. Hawkes ngga tega juga ngeliatnya.
"Kapan wormhole-nya muncul?" tanya Kiba.
"Terhitung dari sekarang.. 9 menit lagi," kata Hawkes memandang jam tangannya.
"Kalau kalian pe-pergi.. si-siapa yang akan.. mengurus T-the Rainbow.. Dango?" tanya Hinata sesegukan. Aduh.. Hawkes tambah ngga tega!
"Uh.. nanti aku jelaskan ya? Sekarang, kita beneran harus ada ditaman keluarga milikmu. Ohya, Kiba. Tolong telpon teman-temanmu. Suruh mereka ke halaman barat daya Hyuuga Mansion," perintah Hawkes. Dengan kilat, Kiba langsung mengeluarkan hape Sony Ericsson Z558i (sama dong, Kib!)-nya, membuka tutupnya dan menelpon semua temannya.
-STRANDED-
"Ada apa mengumpulkan kami disini?" Naruto bertanya cepat-cepat.
"Begini.." Mac mewakili teman-temanny bicara. "Kami senang berada di Konoha. Pertama, kami sangat berterima kasih kepada Hinata, orang pertama yang kami temui di Konoha dan orang yang berjasa atas penghidupan kami selama kami disini," kata Mac sambil menunjuk Hinata. Hinata blushing. Akhirnya ada juga orang-orang yang benar-benar mengakuinya. Ia benar-benar senang. Terlebih lagi. Naruto juga ada disitu. Ia tersenyum bangga pada Hinata.
"Kedua," kata Mac. "Adalah Tuan Besar Hyuuga Hiashi. Tanpa Anda, kami tak akan bisa bertahan hidup di Konoha," lanjutnya sambil menunjuk Hiashi. Hanabi memeluk ayahnya bangga.
"Ketiga, Hyuuga Hanabi. Tanpanya, hidup kami di Konoha terasa hambar. Dia menyediakan hiburan, ampe dia bersedia jadi temennya Danny dalam bentuk anjing, 24 jam non-stop bagi kami.. Dan kami sangat senang akan hal itu," kata Mac. Tangannya menunjuk Hanabi, yang sedang tersenyum from ear to ear.
"Mac." Hawkes memperingatkan Mac akan waktu dengan menunjuk jam-nya. Mac mengangguk mengerti.
"Keempat, anak-anak shinobi semua. Sebagian besar peran kalian hampir sama seperti Hanabi. Tapi kalian juga membantu kami dalam menjalani hari-hari di Konoha. Kalian terus membantu kami. Naruto, Sasuke, Sakura, Shikamaru, Ino, Chouji, Kiba, Hinata, Shino, Lee, Tenten, Neji dan Sai, banyak amat ya.. kalian banyak membantu kami disini. Dan untuk semuanya.. terima kasih sebanyak-banyaknya," kata Mac mengakhiri 'pidato' perpisahan itu.
"Kami akan merindukan kalian," kata Hiashi.
"Kami juga," kata Mac. Hiashi kemudian mengulurkan tangannya, dan Mac menyambutnya.
Tiba-tiba, timbul sebuah pusaran kecil berwarna ungu, sama seperti yang ada di New York. Anak-anak NYPD berpandangan, kemudian mereka mengangguk bersamaan. Mereka kemudian berbalik, menghadap wormhole itu. Tapi Flack memutar kepalanya kebalakang (bukan 90 derajat! Emang burung hantu!?).
"Aku serahkan padamu ya," kata Flack.
Naruto terdiam. Kemudian ia mengeluarkan cengiran khas-nya dan menjawab, dengan loud and clear. "Iya!"
Anak-anak NYPD, yang mendengar itu, langsung tersenyum terharu (hiks..). Mereka kemudian melakukan apa yang mereka lakukan ketika wormhole pertama menghisap mereka. Pertama, mereka berpegangan tangan. Kedua, jangan lupa doa. Ngga bakal tau apa yang akan terjadi. Ketiga, tarik nafas dalam-dalam. Sampai akhirnya tahap keempat, tahap yang anak-anak NYPD agak segan melakukannya: Meloncat masuk kedalam wormhole. Tapi.. they have to do what the have to do, right? Mac kemudian menghitung mundur.
"3.."
Chouji saking deg-deg-an-nya, udah ngga bisa makan potato chips lagi. Ia udah nggigit-gigit tangannya dan tangan Sai. Sai sepertinya ngga nyadar.
"2.."
Mereka semua deg-deg-an. Tak terkecuali Hiashi.
Mac menarik nafas dalam-dalam. "1!"
Dan dengan itu, masuklah mereka kedalam wormhole ungu tua (warna janda dong) tersebut.
-STRANDED-
The end of chappie 7 ( 22 halaman MW!!)! Helen rasa, inilah akhir dari per-chapter-an (apa lagi ini?), tapi masih ada 1 chapter lagi kok! Tenang aja! Dan Helen mohon maaf sebesar-besarnya kalo ada yang OOC. Helen agak bingung juga meng-handle segitu banyak OC (halah! Blagu!). Chapter ini ngga begitu lucu ya? Agak serius, Helen bilang. Kritik dan saran Helen terima but don't flame! Critics.. Flames.. you can tell the difference only by the way you pronounce 'em! Tunggu chapter depan ya! -nyanyi-nyanyi 'Hapy Birthday To Me' sendiri-
Next on Stranded: CHAPTER 8: Snow Day, The Season Finale or Epilogue?
Kindly R&R!
