Siapa sih dua mahkluk itu? Bener banget dua mahkluk itu adalah teman satu teamnya Hinata Hyuuga, Aburame Shino & Inuzuka Kiba.
Thanks to: Ray-kun 13 (thanks for u, makasih juga atas doanya dan met puasa juga buat loe ya... oh ya jangan piktor dulu... baru anget nih ceritanya, maksud gw baru mulai bagian yang seru... gpp yg penting kan loe dah ng-review... silahkan lanjutkan bacanya), Naruto (makasih juga atas doanya, silahkan meneruskan membaca cerita gw), l0etunk irenk (tenang aja Hinata... baca aja deh dulu cerita gw... hehehe... mahkluk yang lain juga nongol kok), Atomic-Tank (weits bener banget buat loe... nih cerita mulai seru... EUDAN harusnya UEDAN... bener juga gw salah ketik... thanks)
waduh lama nggak pernah ngupdate jadi yang review cuman sedikit... ya gpp deh... thanks dah review...
Misi part 4
author: Hola-Ucup-Disini alias UcupNeptune
2 jam kemudian.
Hinata terbangun dari pingsannya. 'Apaan ini kok terasa aneh banget? Naik dan turun bahkan keras tapi empuk, terdengar suara napas dan detakan jantung lagi' Hinata bertanya dalam benaknya. Merasa ada yang aneh dengan alas kepalanya, Hinata was-was dan mengaktifkan kekkei genkai-nya "Byakugan".
'Bidang datar ini ternyata sebuah dada seseorang. Tetapi dada siapa ini?' pikir Hinata sejenak
Hinata memindahkan pandangan byakugannya dari badan lalu menuju ke kepala orang itu.
'Orang ini punya tanda garis di pipinya mirip seperti kumis. Sepertinya aku mengenal orang ini. Rambutnya juga tak beraturan. Siapa ya? Oh…' Hinata segera bangkit tiba-tiba tapi tertahan oleh telapak tangan Naruto yang berada di kepala Hinata.
Gerakan Hinata yang tiba-tiba tadi membangunkan Naruto.
"Hinata akhirnya kamu bangun" Naruto memandang sebentar kearah wajah Hinata.
Terlihat wajah yang panik dan ketakutan dari Hinata dan tidak lupa warna khas yang telalu terpampang di wajahnya, merah merona.
Naruto pun ikut panik "Hinata jangan salah paham. Aku nggak melakukan hal-hal yang aneh lho"
Hinata menunduk malu tetapi warna daging matang yang terlihat diwajahnya belum pergi juga.
"Tadi kamu pingsan lama banget Hinata" komentar Naruto sambil merapikan tas Hinata yang tadi digunakan untuk alas kepalanya.
"Be-berapa lama Naruto-kun?" Tanya Hinata masih bermerah-merah ria pada mukanya.
"Hmm… ada kali 2 jam-an" Naruto memberikan kembali tas Hinata yang sudah rapih.
"Kamu sudah cukup beristirahatkan? Sekarang kita lanjutkan perjalanan lagi. Masih jauh lho tujuan kita" kata Naruto.
Naruto berdiri paling awal sambil membersihkan baju dan celananya. Lalu dia memberikan tangan kanannya ke Hinata dan membantunya untuk berdiri. Mereka melanjutkan perjalanannya.
Kembali ke Shino dan Kiba. Malang untuk mereka berdua, tahu nggak kenapa? Shino ketiduran. Mungkin kecapean kali ya gara-gara ngikutin, ngawasin dan nungguin Naruto bangun. Mereka berdua tak tahu kalau Naruto mulai bergerak lagi.
Sama seperti di awal-awal perjalanan, sikap mereka masih tak berubah. Menjaga jarak dan Hinata berjalan di belakang Naruto. Kota pertama akhirnya terlihat juga, setelah dua jam perjalanan dari tempat mereka beristirahat tadi. Waktu sudah beranjak senja. Mataharipun mulai meredupkan cahayanya. Satu-persatu lampu menyala dari bangunan-bangunan di kota itu.
"Hinata, kita mau menginap di mana?" Tanya Naruto sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepala.
"Mmm, inget perkataan Tsunade sama nggak Naruto-kun?" Hinata mencoba mengingatkan Naruto.
"Mm-mm" Naruto menggelengkan kepalanya.
"Tsunade sama bilang, kalau kita mau ke tempat penginapan kita harus mengenakan headband kita" Hinata menjelaskan (Tumben Hinata nggak gagap ya. Lagi serius sih).
"Oh iya aku inget. Okey kalau gitu kita pake sekarang aja headband-nya" Naruto mulai mengeluarkan dan memakai headband-nya, begitu pula dengan Hinata.
"Hinata, kita mulai dari motel itu ya" Naruto menunjuk kea rah sebuah bangunan yang di dinding bangunannya bertuliskan penginapan.
"Mmm" Hinata hanya mengangguk perlahan.
Mereka berjalan ke arah bangunan tersebut dan mulai masuk ke dalam bangunan itu.
Naruto mendekati bagian resepsionis lalu bertanya "Permisi, saya mau pesan dua kamar. Masih ada nggak kamar yang kosong?"
Terlihat di bagian resepsionis seorang pemuda dengan rambut panjang dan lurus berwarna hitam gelap, serta mengenakan kacamata hitam, berkemeja putih lengan panjang dan bercelana hitam panjang pula.
'Sepertinya aku mengenal orang ini' batin Naruto, mencoba men-scan orang bagian resepsionis yang sedang berhadapan dengannya.
Resepsionis itu memandang Naruto dari kepala sampai ke kakinya.
"Maaf kami tidak menerima ninja untuk menginap. Oh ya sebagai informasi, ada sebuah motel di ujung jalan ini yang menerima ninja untuk menginap. Kamu bisa menginap di sana" resepsionis itu menjelaskan lalu tersenyum ke Naruto.
Naruto terkejut dengan perkataan orang tersebut "Darimana kamu tahu kalau gw ini adalah seorang ninja?"
Orang resepsionis tersenyum "Dasar bodoh, kamu kan menggunakan tanda pengenal kamu"
'Tanda pengenal? Apa dia tahu kalau headband ini tanda pengenal?' pikir Naruto.
"Banyak kok ninja yang berlalu lalang di kota ini. Oleh karena itu pemerintah setempat membuat ketetapan agar untuk para ninja yang lewat di kota ini diberikan fasilitas tersendiri" tandas orang resepsionis.
"Hah, kenapa tidak disamakan saja sih? Bikin susah saja" Naruto berusaha protes ke resepsionis.
"Memang sudah peraturannya Na- maaf Pak" Resepsionis jadi agak gugup 'Hampir aja gw ketahuan'.
"Hah, kalau nggak salah kamu mau ngomong Na? Na apa? Memang Na siapa?" Naruto menaruh kecurigaan ke orang tersebut sambil memicingkan matanya.
Hinata sempat mendengar ucapan resepsionis tadi, dan mendekati ke Naruto.
"Na-Naruto-kun, sebaiknya kita ke motel yang tadi diberitahukan. Aku sudah capek banget nih" Hinata sudah merasa letih dan gelisah untuk beristirahat.
"Oh ya sudah. Oh ya thanks tadi udah kasih tau informasi ya" Naruto bergegas pergi meninggalkan ruangan resepsionis.
"Untung Hinata bergegas mengajak Naruto pergi" gumam orang tersebut.
Orang itu kemudian mengambil walkytalky-nya.
Orang resepsionis 1: White eyes kepada weapon, white eyes kepada weapon, ganti.
Weapon: Ya disini Weapon. Ada apa white eyes? Ganti.
Orang resepsionis 1: Sasaran menuju tempat weapon, ganti gituh.
Weapon: Thanks infonya, ganti (percakapan selesai).
"Misi pertama selesai, sebaiknya mulai bersiap-siap untuk misi berikutnya" gumam orang ini.
Siapakah sebenarnya orang bagian resepsionis ini? Ikuti terus ceritanya.
"Dimana sih motelnya? Katanya di ujung jalan, kok nggak ada tulisan penginapan ya?" Naruto terlihat gusar karena sudah kelelahan.
"Naruto-kun, ada yang aneh" Hinata memeri Naruto.
"Ada apa Hinata? Apa yang aneh?" Naruto memberikan tampang seriusnya ke Hinata.
"Sepertinya, di depan kita ada hawa genjutsu. Coba biar aku check dulu ya Naruto-kun" Hinata mengaktifkan kekkei genkai-nya "Byakugan".
"Apa yang kamu lihat Hinata?" Naruto bertanya.
"Sebentar Naruto-kun. Sepertinya di depan ada sebuah bangunan yang dilindungi oleh genjutsu. Sehingga kalau dilihat dengan kasat mata, bangunan tersebut tidak akan tampak. Mungkin bangunan ini yang dikatakan oleh orang resepsionis itu Naruto-kun" Hinata meng-nonaktifkan kekkei genkai-nya.
Naruto melakukan beberapa gerakan tangan untuk meng-nonaktifkan seals genjutsu yang ada di hadapannya "KAI". Terlihatlah pemandangan sebuah bangunan mewah dengan halaman taman yang luas dan dipenuhi oleh bermacam-macam jenis bunga. Tetapi tidak tampak seorang pun di taman maupun di pintu masuk bangunan tersebut.
"Hinata mungkin yang kamu katakan benar. Kita masuk saja langsung" Naruto bergegas menggandeng lengan Hinata untuk masuk ke dalam bangunan itu.
Di dalam bangunan tersebut terlihat kemewahan yang benar-benar mirip seperti istana. Naruto mengangakan mulutnya seraya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kalau Hinata hanya berdecak kagum saja.
"Hinata, apa kita tidak salah masuk bangunan kan? Mewah sekali penginapan ini" Naruto masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Mm-mm" Hinata menggelengkan kepala.
"Maaf minasan, kalian harus mengisi formulir tamu dulu" seseorang perempuan yang berada di belakang meja yang bertuliskan resepsionis telah membuyarkan kekaguman Hinata dan Naruto.
Sang resepsionis berambut coklat panjang, menggunakan jas berwarna biru laut dan bercelana panjang biru tua. Tingginya sepadan dengan Naruto. Dia memperlihatkan dua buah formulir pengunjung untuk diisi.
(Pemberitahuan di motel yang tadi pertama kali, gw menggunakan kata resepsionis 1, dan di hotel ini gw akan menggunakan kata resepsionis 2)
"Hahh? Maaf kami tidak mendengarkan anda, tadi anda berbicara apa?" Tanya Hinata.
"Formulir ini harus anda isi dulu, baru anda bisa menginap di hotel ini" jawab Orang resepsionis itu. "Anda mau menginap bukan?" Tanya resepsionis 2.
"I-iya kami mau menginap. Masih ada kamar yang kosong?" Tanya Hinata sambil menerima dua buah lembar formulir untuk diisi.
"Mmm, sebentar biar saya check dulu. Ohh beruntung sekali, anda mendapatkan kamar yang bener-bener hot de-" ucapan si resepsionis dua ini terpotong oleh Naruto.
"Payah banget nih hotel, padahal mewah. Masa' kita dapet kamar yang HOT. Gini aja saya pesan kipas angin elektrik dua buat dia dan saya" celetuk Naruto.
'Bego amat ya nih anak. Nggak ngerti ungkapan apa ya' pikir resepsionis 2.
'Naruto-kun' Hinata menghela nafas.
Sang resepsionis berpikir sebentar untuk menyusun kata-kata "Begini Na- maksud saya saudara, hotel kami hanya menyisakan satu kamar yang kosong. Kamar itu cocok sekali dengan saudara berdua yang kalau saya tidak salah menilai baru menikah, bener nggak?"
Hinata dan Naruto mendengar perkataan "baru menikah" langsung memerah pipinya.
'Menikah dengan Hinata?' Naruto coba membayangkan.
'Menikah dengan Naruto-kun?' Hinata langsung tenggelam dengan khayalannya.
"Aloo" si resepsionis mencoba menarik perhatian, tapi saying gagal. Keduanya masih tenggelam dalam lamunannya masing-masing. 'Sial gw dicuekin ama mereka' pikir si resepsionis.
Ditepuklah pundaknya si Hinata oleh si resepsionis.
"Hah, go-gomen. Ma-mana formulirnya buat diisi" Hinata tersadar.
"Saya paham kok. Kalian kan masih pengantin baru jadi masih berpikir kalia masih pacaran. Iya kan?" goda sang resepsionis.
"Eh, se-sekedar pemberitahuan kami belum menikah dan kami hanya teman dekat kok" Naruto menimpali dengan gugup.
"Tidak ada lagi kamar yang tersisa lagi ya?" Tanya Naruto kembali.
"Semua kamar telah terisi. Jadi cuma kamar itu saja yang tersisa. Di dalamnya terdapat AC, satu tempat tidur, satu sofa dan satu televisi dilengkapi dengan lemari pendingin. Kamar mandinya dilengkapi dengan bath up. Oh ya Jika kalian menempati kamar itu kalian dapat menerima service tambahan berupa makan malam gratis dan satu botol champagne gratis juga" Resepsionis 2 menjelaskan.
"Gimana Hinata, kamu mau menginap? Cuma satu kamar doing yang tersisa" Naruto bertanya ke Hinata.
"Abis mau gimana lagi Naruto-kun. Kalau Naruto-kun sendiri mau gimana?" Hinata kembali bertanya ke Naruto.
"Aku sih mendingan kemping saja di hutan" jawab Naruto singkat.
'Waduh bisa berabe nih rencana kalau Naruto kemping' Si resepsionis 2 buru-buru mencari akal.
"Begini Naruto. Ko-" Lagi-lagi omongan si resepsionis dicela oleh Naruto.
"Darimana kamu tahu nama gw?" Naruto menaruh perasaan curiga terhadap resepdionis.
"Tadikan gadis itu mengatakan nama kamu. Bener nggak mbak Hinata?" berharap agar jati diri si resepsionis tidak terbongkar.
"Mm" Hinata mengangguk.
"Saya lanjutkan ya omongan saya, Naruto san, kota kami punya peraturan melarang para ninja untuk mendirikan kemah diluar perbatasan termasuk di hutan dekat kota ini. Apalagi pemerintah juga sudah menyediakan tempat singgah untuk para ninja dengan fasilitas yang lengkap" tandas resepsionis 2.
Sebenarnya Hinata curiga terhadap si resepsionis. Alasan dia curiga yaitu: pertama, baru kali ini dia menemukan kota yang memberikan peraturan seperti itu; kedua, sepertinya gaya berbicara sang resepsionis pernah dia kenal; ketiga, kenapa ninja diberikan fasilitas yang sangat mewah.
Berbeda dengan Naruto. Dia hanya mendengarkan, masuk kuping kanan keluar lewat kuping kiri. Walaupun dia juga merasa suspicious.
"Naruto-kun, a-aku juga sudah capek sekali. Mending diambil saja kamar itu" Hinata mengeluh ke Naruto.
"Benar itu" resepsionis 2 menyetujui keluhan Hinata.
"Hmmm, ya sudah mana formulirnya" Naruto mengambil formulirnya "Oh ya berapa harga menginapnya semalam?"
"Anda berdua punya surat pengantar dari kage setempat atau surat jalan misi?" Tanya resepsionis 2.
"Untuk apa kamu menanyakan? Itu sangat rahasia" jelas Naruto.
"Bukan melihat misi kalian apa, tapi disini kami sudah punya link untuk kemana saja" resepsionis 2 berpikir sebentar untuk mencari kata-kata yang masuk akal "maksud saya tuh, kami akan memberikan cap di surat tugas kalian dan kami akan mengirimkan orang untuk menagih ke KAGE yang memerintah di desa kalian" jelas si respsionis.
Naruto tambah menaruh curiga "sepertinya itu tidak perlu. Biar saya langsung bayar ditempat saja. Tidak usah memperlihatkan surat tugas".
"Ya sudah kalau begitu. Kami menggunakan mata uang rupiah. Kami tidak menerima mata uang asing. Tapi kalau anda tidak mempunyai ya diitung sesuai kurs aja ke rupiah" resepsionis menjelaskan.
Naruto tambah pusing mendengarkan penjelasan dari si resepsionis 2 ini. Hinata juga sudah terlihat letih sekali.
"Ribet amat. Tinggal bilang berapa ryo aja susah. Udah jadi berapa?" Naruto sudah emosi dan gaya berbicaranya sudah meninggi. Temperatur badannya juga sudah di ambang batas normal (apaan sih?).
"Na-Naruto-kun, sebaiknya kamu duduk saja di sofa itu. Biar aku yang handle ini" kata Hinata seraya menunjuk sofa panjang yang kosong di sudut ruangan.
"Tanomo Hinata" Naruto bergegas pergi sambil ngedumel ria.
"Go-gomen masalah Naruto-kun ya. Jadi berapa jumlahnya?" Tanya Hinata sambil memberikan kedua formulir yang sudah diisi.
Resepsionis 2 tersenyum "tidak apa-apa Hinata san. Semuanya ditotal hanya 100 ryo saja itu untuk dua hari, kalau per hari 50 ryo"
"Murah banget" Hinata terkejut dan mulai meraih tas backpacknya kemudian mengambil amplop yang berisi sejumlah uang pemberian Tsunade.
"Ini uangnya" Hinata memberikan 5 lembar uang bernilai 10 ryo ke resepsionis.
"Ini kunci kamar kalian. Oh iya kami juga punya obat kuat buat laki-laki juga ada kondom dan perlengkapan se-" mulut si resepsionis langsung dibekap ama tangan Hinata.
"CUKUP" Nada bicara Hinata menggambarkan keemosian yang puncak.
'bisa-bisanya resepsionis ini menawarkan barang seperti itu. Aku sih mau kalau ehm… dengan Naruto-kun. Tapi belum saatnya' Hinata tersenyum kecut ke arah resepsionis.
Kalau diberi gambaran Muka Hinata sangat merah sekali.
"Tunjukan dimana arah ke kamar itu?" Nada bicara Hinata kembali normal.
"Sebentar" kata resepsionis 2.
Perempuan itu kemudian menekan sebuah tombol. Dari sebuah pintu yang berada tepat di belakang ruangan resepsionis keluarlah seorang pemuda dengan seragam berwarna serba hijau potongan rambut kribo dan berkumis tebal.
"Office boy, tunjukan ke nona ini kamar yang dituju" perintah resepsionis sambil memberikan kunci kamar ke arah office boy.
"Baiklah Ten- maaf, Temi-san. Saya akan mengantarkan nona muda ini dengan semangat muda nona yang menggelora. Yosh silahkan ikuti saya" kata office boy itu.
'Hah, sepertinya aku mengenal dia' Hinata bertanya-tanya dalam benaknya sendiri.
'Bodoh, kenapa mesti bilang kata-kata itu sih. Bisa ketauhan nih penyamaran dan misi ini. Semoga Hinata tidak menyadarinya' Resepsionis memandang dengan pandangan melotot ke arah office boy.
Hinata mengangguk dan memanggil Naruto "Naruto-kun, ayo ke sini cepetan"
Naruto yang sudah capek dan letih bangun dari tempat duduknya dengan malas dan menuruti panggilan Hinata. Mereka berdua mengikuti jalan yang dipandu oleh office boy. Tak lama kemudian sampailah mereka ke kamar yang dituju.
"Nah kita sudah sampai ini kunci kamar kalian. Semoga dengan semangat muda yang masih membara dalam diri kalian puas akan pelayanan kami" Office boy berkata seraya memberikan kunci k diri kalian puas akan pelayanan kami"a.ng ruangan resepsionis keluarlah seorang peamar ke Hinata.
"Heh tunggu dulu. Gw kaya'nya kenal loe deh. Kita pernah ketemu dimana ya?" kata Naruto.
"Ah, mungkin hanya khayalan semangat anda saja. Kalau perlu apa-apa, kalian tinggal memencet no. 1 pada telpon yang ada di kamar ya. Saya masih ada urusan. Permisi Na- maksud saya minasan" office boy buru-buru pergi dari hadapan Hinata dan Naruto.
Hinata hanya menggeleng-gelengkan kepala saja sedangkan Naruto masih memikirkan siapa orang itu. Hinata mulai memasukkan kunci kamar dan membuka pintu kamar.
"Naruto-kun ayo masuk" ajak Hinata.
Ketika mereka berada di dalam kamar, mereka malah tambah bengong. Kamar itu begitu romantis dan ruangannya sangat luas. Warna dinding kamar merah muda, lampunya gemerlapan berwarna-warni. Ranjang yang besar khusus untuk dua orang. Meja dan kursi untuk dua orang berada di balkon yang dilengkapi dengan sebuah lilin di atas meja sebagai penerangan.
"Hinata, kamu tadi membayar berapa?" tanya Naruto yang masih dalam keadaan tidak percaya melihat isi ruangan.
"Tidak mahal kok, Naruto-kun" jawab Hinata.
"Naruto-kun, aku mau mandi dulu ya. Nggak banget nih badannya, lengket gara-gara keringet" Hinata lalu beranjak mencari kamar mandi.
Naruto kemudian melangkahkan kaki ke ruangan santai, lalu menyalakan televisi. Banyak channel yang dilihat oleh Naruto. Tapi tak ada satu pun yang menarik perhatian dia. Ketika sibuk mencari channel yang menarik, terdengar sebuah ketukan dari arah pintu masuk.
"Ya sebentar" Naruto segera beranjak ke pintu.
Seorang gadis berambut kuning menyapa Naruto "Saya mengantarkan makan malam tuan."
"Siapa yang pesen makan malam?" Tanya Naruto.
"Ini merupakan service kami karena tuan telah memesan kamar ini." Jawab pelayan.
"Oohh, ya sudah bawa ke dalam saja." Naruto mempersilahkan pelayan itu masuk.
Sang pelayan mendorong kereta makannya menuju meja yang berada di teras kamar. Sebelum dia beranjak, dia melihat ke arah Naruto yang sedang sibuk mengganti-ganti channel.
'Hehehehe, Naruto lagi sibuk. Sebaiknya gw taburin sekarang bubuk dari Tsunade sama' pelayan mulai membuka tutup makanan yang terbuat dari stainless stell dan menaburkan sebuah bubuk di atas makan malamnya Naruto dan Hinata.
"Tuan makan malamnya saya letakkan di teras. Kira-kira tuan butuh apa lagi mumpung saya masih ada disini." Tanya pelayan.
"Hmm, apa ya? Sepertinya belum ada." Jawab Naruto.
"Kalau begitu selamat menikmati hidangan makan malamnya Na- maaf Tuan Naruto." Sang pelayan segera beranjak pergi meninggalkan kamar Naruto.
'Hotel ini memiliki pegawai aneh-aneh banget sih' Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kira-kira siapa ya si resepsionis 1, resepsionis 2, office boy dan pelayan itu ya? Kirim jawabannya lewat reviews…. GW TUNGGU REVIEWS KALIAN
Oh ya sekalian minta doanya dari kalian semua… semoga gw bias lulus tahun ini… doa kalian sangat berarti buat gw…
