Summimasen, gw telat untuk meng-update… tapi yang penting gw sekarang dah update…

Ya bener banget jawaban kalian semua... tenten- neji, OB-NYA LEE, dan pelayannya Ino

thanks to: VongoLa ArcobaLeno (Aik-chan HIATUS.. apaan sih??), 1001-chan (kamu seperti dalmation ya, eh dalmation 101 ya?? hehehe maaf), Ray-kun 13 (bener banget jawabannya), Cantik-Chan (mau dong daftar jadi pacar... hehehe namanya aja cantik...), errielchan(thank-you om atenk bawa kayu... gak disangka ada yang nugguin ceritagw...), Atomic-Tank (nih udah gw update), Sora (ya sebentar lagi selesai... pokoknya tunggu mafia selesai baru gw upload), Naruto (wahahaha loe kayak lee aja), Yuuichi93 (dah di update nih...), CupCupMuah (eh untuk yang ni belum ada tebakannya lagi), l0etunk irenk (ntuh obat... mmm./... baca ceritanya yang ini deh pasti loe tahu?)... thanks banget yang udah review gw jadi kembali bersemangat menulis)

Disclaimer: Naruto hanya dimiliki oleh masashi kishimoto, Cerita ini milik Yusuf alias Holaucupdisini


MISI 5

Author: Holaucupdisini alias ucupneptune alias yusuf s.i.

(Cerita Sebelumnya)

Sebaiknya gw taburin sekarang bubuk dari Tsunade sama' pelayan mulai membuka tutup makanan yang terbuat dari stainless stell dan menaburkan sebuah bubuk di atas makan malamnya Naruto dan Hinata.

"Tuan makan malamnya saya letakkan di teras. Kira-kira tuan butuh apa lagi mumpung saya masih ada disini." Tanya pelayan.

"Hmm, apa ya? Sepertinya belum ada." Jawab Naruto.

"Kalau begitu selamat menikmati hidangan makan malamnya Na- maaf Tuan Naruto." Sang pelayan segera beranjak pergi meninggalkan kamar Naruto.

'Hotel ini memiliki pegawai aneh-aneh banget sih' Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya.

LANJUTAN CERITANYA:

Naruto yang sedari tadi cuman ceklak-ceklek mencetin tombol remote tivi, menyadari ada sosok yang sedang mengamatinya. Naruto mengalihkan pandangannya ke sosok itu.

"Hinata, ada apa?" Naruto bertanya.

"Ka-kamu nggak mandi Naruto-kun?" Hinata balik bertanya.

"Ohh, iya sebentar lagi." Jawab Naruto santai.

Naruto mengalihkan pandangannya kembali ke gambar di tivi. Entah mengapa Hinata agak sedikit kesal, dia memberikan tampang cemberutnya ke arah Naruto. Naruto merasakan sense of danger yang biasa diberikan oleh seorang wanita (Pengalaman Naruto dengan Sakura sih).

"Hi-hi" jawab Naruto singkat dan beranjak ke kamar mandi.

"Naruto-kun, mm-" Hinata belum melanjutkan omongannya sudah dipotong oleh Naruto.

"Hinata, makan malam tadi sudah disiapkan sama pelayan, kalau kamu lapar makan saja dulu. Tidak usah menunggu aku ya. Oh ya tadi kamu mau ngomong apa?" Tanya Naruto.

"Ohh, tidak jadi." Jawab Hinata singkat. "Aku tunggu kamu selesai mandi baru kita makan malam bareng."

"Ya terserah kamu saja deh" Naruto berlalu dari hadapan Hinata.

Setelah Naruto mandi, ia langsung menuju ke ruang tengah dimana ia meletakkan tasnya. Sementara Hinata sedang berada di dalam kamar menyisir rambut panjang kebanggaanya.

'Loh dimana tas gw tadi ya?' pikir Naruto.

"Hinata, tasku ada dimana ya?" teriak Naruto dari ruang tivi.

"Ada di sini Naruto-kun" jawab Hinata.

"Ohh" Naruto pergi ke kamar tempat Hinata sedang menyisir rambut panjangnya.

Di dalam kamar tampak seorang gadis yang mengenakan kaus hitam dan celana panjang khusus untuk tidur sedang berdiri di depan kaca. Rambutnya yang panjang terurai, kulit putih, wajah yang polos dan sangat manis.

'Wooaahh, there is an angel in this room' pikir Naruto yang tak henti-hentinya mengamati seorang gadis di dalam kamar itu dengan mulut menganga dan meneteskan liur (kaya'nya Naruto nggak gitu2 amat deh).

Hinata menyudahi acara dandan malamnya. Dia hendak menuju ke arah pintu kamar tetapi berhenti. Nampak di pintu kamar Naruto masih staring at her dengan mulut anime yang menganga dan mengeluarkan air liur. Hinata jadi salting dan blushing madly.

'Na-Naruto-kun, why you staring at me like that?' inilah pertanyaan Hinata yang hendak ingin diucapkannya, tetapi yang diucapkannya jadi berbeda.

"A-ada apa Na-Naruto-kun?" Tanya Hinata sambil memainkan kedua telunjuk dia sendiri.

"Oh tidak ada apa-apa Hinata" jawab Naruto dengan sura yang bergetar dan memberikan tampang malu.

'Yo Hinata, kayaknya si gaki ini mulai tertarik ama loe deh" inner Hinata mulai beraksi kembali.

'Shut up, you stupid ass xxxx" Hinata teriak di dalam dirinya.

'Come on Hinata, make him fall in love with you' inner Hinata membantunya unuk percaya diri.

"I will do it if I have the right time" teriak Hinata.

"Oyy Hinata kenapa kamu teriak?" Tanya Naruto dengan tampang bingungnya.

"Ohh, nggak pa-pa, he-he-he" jawab Hinata. 'Eh setan jangan ganggu gw lagi. Naruto-kun jadi berpikiran yang nggak2 ke gw. Sekarang pasti dia pikir gw gila… gara-gara loe…' pikir Hinata.n jangan ganggu gw lagi. Naruto-kun jadi berpikiran yang nggak2 ke gw. sekarang

"Na-Naruto-kun kita makan dulu yuk" Hinata segera berlalu dari hadapan Naruto.

(Eh maaf para pembaca… jujur gw capek nulisin perkataan Hinata yang gagap… jadi gw harap para pembaca bisa membayangkan sendiri gimana cara Hinata si cute berbicara okeh…)

Singkat cerita merekapun makan malam bersama dengan ditemani penerangan sebatang lilin putih yang menyala. Kalau diungkapkan dengan kata-kata, makan malam mereka sangat romantis. Makan di bagian teras kamar hotel, dengan pemandangan yang sangat alami yaitu hutan belantara (inget mereka di hotel deket banget dengan hutan), langit malam yang cerah dan semilir angin yang bertiup sejuk. Makan malam mereka berupa daging asap plus nasi putih ditambah dengan sebotol wine (tadinya gw mau nulis sayur asem, tapi kayaknya nggak cocok ama wine deh).

Hinata sangat menikmati makan malamnya. Dia makan dengan tenang dan sekali-kali melirik ke arah Naruto. Hinata menebak Naruto tidak enjoy dengan makanannya.

"Naruto-kun, kenapa kamu tidak menikmati makanannya?"

Naruto meletakkan garpu dan pisau makannya.

"Hmm, begini Hinata. Dagingnya sudah banget dipotong"

Memang benar Naruto dari tadi mencoba memotong daging asapnya tapi nggak pernah berhasil. Hinata tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya ke arah Naruto.

"Coba sini aku Bantu" Hinata mengambil pisau makan Naruto dan memotongnya perlahan "begini caranya Naruto-kun. Kamu tahan dagingnya dengan mengggunakan garpu dan memotongnya dan tinggal dimakan deh" Hinata mempraktekan caranya supaya Naruto mengerti.

Acara makan malam mereka akhirnya selesai. Setelah melewati kegiatan motong-memotong daging, lihat-lihatan mata, cerita-cerita tentang misi mereka masing-masing sampai minum wine bareng. Naruto yang belum pernah merasakan minum alcohol, membuat tumpahan-tumpahan kecil di baju yang dia kenakan. Setiap minum pasti batuk dan tersedak. Maklum Naruto kan masih pure and nature. Tahu nggak kenapa setiap minum dia tersedak, itu disebabkan dia minumnya seperti meminum segelas air putih. Minum langsung telen.

Dilain pihak, Hinata memang seorang heir. Walaupun dia belum pernah merasakan minuman sejenis itu, dia pernah diberitahukan oleh Hiashi bagaimana bersikap seperti seorang heir.

Setelah makan Naruto dan Hinata bergegas menuju ruang tengah. Naruto menyetel tivi dan Hinata mengambil scroll untuk dibaca.

"Aduh" Hinata memegang kepalanya.

"Dostano Hinata?" Naruto menatap Hinata.

"Kepalaku pusing, Naruto-kun" jawab Hinata.

"Heh, ya sudah sini aku Bantu kamu ke tempat tidur. Kamu mungkin terlalu capek Hinata" Setelah mematikan tivi, Naruto membantu Hinata berdiri dan melingkarkan lengan Hinata di pundak dia, sedangkan tangan dia di letakkan di pinggang Hinata (tahu kan yang gw maksud).

Naruto merebahkan tubuh Hinata di kasur secara perlahan agar tidak membuatnya bertambah sakit.

Tiba-tiba kepala Naruto jadi agak berat dan tubuhnya terasa lemah.

'waduh kenapa nih, badan gw kok terasa capek banget ya?' piker Naruto.

Naruto merebahkan dirinya di samping Hinata dan merasakan matanya agak berat untuk dibuka. Akhirnya Naruto tertidur.

Di tempat lain.

arah dari tadi mencoba memotong daging asapnya tapi nggak pernah berhasil. Hinata tersenyum dan bangkit dari tempembayangkan sendiri gimana cara Hinata si cute berbicara okeh...

Sebuah ruangan yang hanya diterangi dengan lampu lima watt, terdapat tiga orang manusia sedang duduk-duduk dan mengobrol. Tak lama kemudian datanglah dua orang mahkluk dari arah pintu. leh Tsunade-sama lebih manjur" kita masih aman dan sukses. Kita tinggal tunggu beberapa saat lagi"

"Shino, Kiba darimana aja sih kalian? Naruto dah nyampe, lu berdua baru nyampe, payah!" Tenten memelototi kedua mahkluk yang baru masuk di pintu hotel.

"Gomen-gomen, kita berdua ketiduran" jawab Kiba.

"Hmm, bisa-bisanya loe berdua tidur dalam misi" Neji mengambil kursi untu Shino dan Kiba.

"Sudah-sudah, yang penting sampai saat ini misi kita masih aman dan sukses" Ino menyiapkan lima buah cangkir teh untuk mereka dan untuk dia sendiri. Diletakkannya cangkir-cangkir itu di sebuah meja..

"Hey tugas kamu kan belom beres Ino" Tenten mulai menyeruput teh yang ada dihadapannya.

"Kamu tinggal tunggu beberapa saat lagi, untuk aksi selanjutnya, iyakan?" Neji memandang jahil ke arah Ino.

"Sepertinya nggak perlu deh. Bubuk yang diberikan oleh Tsunade-sama lebih manjur" jawab Ino.

Kiba melirik ke arah Ino "Maksud kamu apa?"

"Pokoknya kita check Naruto pas tengah malam nanti" Di wajah Ino terulas senyum yang sangat jahil.

Mereka semua mengngguk dan ikut tersenyum juga.

Kembali kepada Naruto dan Hinata

Di tengah malam Naruto merasakan panas yang amat sangat di tubuhnya. Dia berusaha membolak-balikkan tubuhnya untuk mencari posisi yang enak untuk tidur. Tetapi tetap saja tidak bisa. Dia merasakan bajunya telah basah oleh air keringatnya sendiri. Keringatnya mengalir begitu deras bagaikan hujan badai (alaah apaan sih).

Merasa tidak nyaman dengan kondisi pakaiannya, Naruto mulai melepas satu persatu pakainnya. Mulai dari jaket, kaos dan celana panjangnya. Cuma satu yang masih tetap dipakai Naruto, yaitu celana boxer. Selanjutnya dia meraih benda yang bisa dijadikan guling agar tambah nyaman, dan menemukan sesuatu disampingnya. Dipeluknya tubuh Hinata. Dia akhirnya merasakan PW (Posisi wuenak) untuk tidur.

Sebelumnya, Hinata juga merasakan hal yang demikian. Sama seperti Naruto dia menanggalkan pakain dan celananya. Cuma yang tetap dikenakan Hinata hanya bra dan panties. Tapi beberapa lama kemudian dia merasakan dingin. Tak kuasa melakukan apa-apa, dia paksakan untuk tetap tidur. Sampai suatu saat, Hinata merasakan kehangatan mengusai tubuhnya. Entah apa itu, Hinata membiarkan saja tak perduli. Yang penting dia sudah merasakan nyaman.

Limat menit setelah kejadian itu, lima sosok manusia memasuki kamar Naruto dari arah pintu teras yang masih terbuka. Naruto lupa menutup pintu teras itu.

"Tuh kan gw bilang apa" kata Ino.

"Hmm" Neji menganggukkan kepala.

"Kita ambil picture mereka yuks" cetus Kiba.

Tenten kemudian mengambil kamera dari arah sakunya "emang kita disuruh kali sama Tsunade sama." Kemudian memoto posisi Naruto dan Hinata di tempat tidur.

"Sudah yuk, kita pergi. Entar mereka bangun lagi" ajak Shino.

"Sebentar" kata Neji.

Neji mengambil selimut yang terjatuh karena dorongan kaki Naruto, lalu menggelarnya. Ditutupinya tubuh Naruto dan Hinata. Kelima temannya hanya menatapnya heran dan bertanya-tanya.

"Aku nggak mau kalau Hinata sama masuk angin" Neji menjelaskan.

Mereka berlima akhirnya pergi dari kamar Naruto.

Dipagi Hari

Naruto menguap dan dengan malas membuka matanya secara perlahan. Tatapan yang pertama dilihat hanya sebuah wajah yang damai. Dia belum menyadarinya. Kedipan demi kedipan dia masih terus menatap wajah itu.

"Hinata" suara Naruto terdengar seperti berbisik.

Naruto kemudian mengedipkan matanya lagi.

"Hinata" Naruto berbisik lagi.

Kedipan mata selanjutnya, Naruto menyaksikan kedua mata Hinata terbuka. Kemudan tampak di bibir Hinata senyum simpul ke arah Naruto.


Lalu apa yang terjadi? Tunggu di chapter selanjutnya… see you next time…

Pemberitahuan… kalian sudah bisa mendownload Naruto shippuden dari 74-76 dan Naruto the movie yang terbaru yang berjudul "BONDS" di my site: storyofnarutoanime(dot)blogspot(dot)com

Ganti kata (dot) menjadi titik (.)