Chapter 2
.
.
Previous Chapter
.
Yah, masa lalunya...
Masa lalu yang menguji keteguhan hati kecilnya.
Masa lalunya yang membuat dia menemukan apa arti cinta yang dia rasakan.
Masa lalunya saat dia mengetahui bahwa-
.
.
.
.
.
.
-dia mencintai seorang Akashi Seijuuro.
Kuroko no Basuke Fanfiction
Arti Cintaku
Warning : author newbie, typo, alur cepat(?), hurt gagal, dll.
.
.
FLASHBACK
Di atap, saat istirahat makan siang
"Tetsu-chan, akhir-akhir ini kau perhatian sekali ya dengan Akashi-kun," ujar Momoi dengan nada menggoda dan jangan lupakan senyum jahil menempel di wajahnya.
"Eh? Benarkah?"
"Iya, Kurokocchi! Aku sampai cemburu dengan Akashicchi. Huuuwaaaaa...! Kurokocchi aku juga mau-ssu...!" dan Kise mulai mengeluarkan tangisan buayanya.
"Iya, itu benar Tetsu-chan. Pertama, saat Akashi-kun tertidur di ruangan osis Tetsu-chan datang dan memakaikannya selimut. Kedua, saat Akashi-kun selesai latihan Tetsu-chan pasti menyodorkan handuk dan air mineral lalu bertanya 'Butuh sesuatu Akashi-kun?'. Ketiga, kau pernah memberinya sup tofu buatanmu sendiri dan menyuapinya sampai habis. Keempa-"
"Momoi-san bukankah hal itu wajar untuk membantu teman? Dan soal sup tofu itu, itu sebagai ucapan terima kasih karena telah membantuku belajar Matematika." Kuroko langsung menyela perkataan Momoi, 'akan lama kalau Momoi-san terus melanjutkan perkataannya', batin Kuroko sweetdrop.
"Kurokocchi... apa kau... pernah merasakan debaran jantung yang terasa lebih cepat saat bersama Akashicchi-ssu?" Tampang Kise mendadak jadi serius. Oh, sudah pulih dari tangis buayanya rupanya.
"Debaran jantung? Hmm... kurasa... sering"
Seketika mata Momoi dan Kise membulat
"ITU NAMANYA KAU SUKA AKASHI-KUN/AKASHICCHI, TETSU-CHAN/KUROKOCCHI!"
Momoi dan Kise berteriak histeris membuat Kuroko tetap memasang wajah datar(?)
"Hah?" Kuroko bingung.
"Eh, chotto Ki-chan. Mungkin itu bukan sekedar suka, mungkin ituuu... adalah perasaan cinta...," seketika Momoi langsung menutup mulutnya.
"Heh... benar juga ya-ssu?..."
"..."
"..."
Kuroko menulikan pendengarannya. Cinta? Benarkah aku mencintai Akashi-kun? Kalau memang iya... tak heran aku selalu merasa gugup akhir-akhir ini jika dekat dengan Akashi-kun. Tapi, terkadang aku juga merasa tak suka Akashi-kun dekat dengan gadis lain. Apa itu juga cinta? Sebenarnya... cinta itu... apa? , batin Kuroko.
"Ehmm, Kurokocchi kau dengar-ssu?" Kise melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Kuroko.
"Ah, maaf Kise-kun. Aku melamun."
"Tetsu-chan pipimu merah! Jangan-jangan dugaanku benar. Kau cinta Akashi-kun?"
"Umm, aku tak tahu. Momoi-san cinta itu apa?"
"Cinta itu saat kau merasa menyayanginya dan ingin bersamanya. Sebenarnya banyak arti cinta namun aku hanya mengetahui hal itu saja, Tetsu-chan. Lalu, apa dari penjelasanku ini... kau merasakan hal seperti itu kepada Akashi-kun?"
Kuroko memiringkan kepalanya. Bingung, iya. Setelah dipikir-pikir Kuroko memang merasakan hal itu. Kuroko mengangguk pelan menanandakan bahwa jawabannya adalah 'iya'
Lalu, Momoi dan Kise tampak berbisik-bisik. Diskusi ternyata.
"Kurokocchi, sudah ditentukan. Kau harus menyatakan perasaanmu-ssu!"
"Kenapa aku harus melakukanya?" Kuroko mengerutkan dahinya.
"Tetsu-chan, apa kau mau Akashi-kun berpacaran dengan gadis lain?"
Kuroko langsung bungkam. Lalu, dia menggelengkan kepalanya. Momoi hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya, sungguh manis sekali, batin Momoi.
"Nah, Tetsu-chan pilih saja, ungkapkan secara langsung atau lewat surat?
"Hm, entahlah. Bagaimana kalau lewat surat?
"Coba ajak dia bertemu lewat surat itu, ok?" Lalu, Momoi mengedipkan sebelah matanya ke arah Kuroko.
"Pasti berhasil, Tetsu-chan," Momoi mengacungkan jempol.
"Baiklah akan kucoba."
"Kurokocchi, semangat-ssu!"
"Terima kasih Kise-kun, Momoi-san,"ujarnya disusul dengan senyum tipis di paras cantiknya.
.
.
.
Kuroko telah membuat surat untuk Akashi. Sekarang dia sedang berjalan menuju arah rak sepatu, berniat untuk menaruh suratnya di rak sepatu milik Akashi.
Mereka itu bersemangat sekali, batin Kuroko sweetdrop. Tetapi, terima kasih, minna..., Kuroko tersenyum.
Sayangnya, Dewi Fortuna sedang tidak memihak gadis cantik itu. Tak jauh dihadapannya, berdiri Akashi dan seorang gadis bersurai cokelat susu yang tampak terburu-buru. Mereka tak sengaja bertatap-tatapan dengan pandangan mata yang tak dapat diartikan. Waktu bagai melambat bagi Kuroko. Pandangan itu... entah kenapa Kuroko tak menyukainya. Hatinya terasa perih. Bagai ada sebilah silet sedang mengiris hatinya. Kuroko berjalan perlahan menuju tempat sepatu miliknya.
Gadis bersurai cokelat tadi yang semula memang sedang terburu-buru sudah pergi, ketika Kuroko sudah mencapai rak sepatunya yang berada di seberang milik Akashi.
Akashi masih diam termenung menatap pintu keluar tempat gadis bersurai cokelat itu tadi terakhir dilihatnya. Kuroko lebih memilih bungkam. Dipikirannya dia masih menimbang-nimbang, Haruskah kuberikan surat ini kepada Akashi-kun?. Masih jelas terekam kejadian yang baru saja dilihatnya. Hati kecilnya mulai gundah
"Tetsuna?" Akashi yang pertama memecah keheningan yang terjadi.
"Ada apa, Akashi-kun?" Kuroko menjawab dengan wajah datarnya. Sangat bertolak belakang dengan kondisi hatinya.
"Kau tahu siapa nama gadis tadi?"
Mata Kuroko membulat sejenak. Oh, tidak. Kuroko merasakan firasat buruk. Sesuatu yang buruk akan terjadi, pikirnya. Berusaha menenangkan pikirannya, Kuroko menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dalam sekali hembusan. Lalu berbalik menghadap Akashi.
"Namanya Furihata Kouka."
"Kau kenal dengannya?" Akashi melirik Kuroko.
"Ya."
"Nee, Tetsuna. Kurasa... aku menyukai gadis itu. Maukah kau membantuku mendekati gadis itu?"
"Iya, boleh saja," jawab Kuroko masih dengan wajah datarnya. Hatinya terasa remuk. Apa yang kupikirkan sebenarnya?, batin Kuroko.
"Baiklah, terima kasih," ucap Akashi singkat dan berlalu pergi ke Gym.
.
.
Hanya hening yang tersisa. Sepi melanda ruangan itu. Namun tidak dengan kondisi hati Kuroko. Firasatnya benar. Kuroko berusaha mati-matian menahan air matanya yang mulai keluar dan menahan rasa sakit yang malah semakin menjadi-jadi. Surat yang tadinya akan diberikan kepada Akashi sudah habis tak berbentuk diremas Kuroko.
"Inikah cinta? Kenapa begitu seperih ini?" ucap Kuroko lirih, sambil menahan isakannya. Dadanya terasa sangat sakit. Kuroko memegang dadanya dan mendekap surat yang sudah tak berbentuk tadi. Kandas sudah niatannya untuk memberikan surat itu.
"Ittai yo..."
.
.
.
Seorang gadis bersurai soft pink sedang berjalan -ah tidak lebih tepatnya berlompat-lompat kecil menuju rak sepatu. Tangannya terayun kedepan dan kebelakang seiring dengan langkahnya. Rambutnya yang panjang juga ikut bergoyang, kesannya seperti anak SD yang mau pergi tamasya.
Berniat menyapa Kuroko yang berada tak jauh di depannya, namun niatnya itu diurungkan ketika melihat Kuroko berhenti tiba-tiba dengan tubuh kaku.
Didasarkan oleh intuisi wanitanya akhirnya gadis bersurai soft pink itu bersembunyi di balik tembok. Diam dan memperhatikan apa yang terjadi.
.
.
.
Dia telah menyaksikan semuanya. Dia juga mendengar lirihan Kuroko yang pelan itu. Tetsu-chan... Gomenne... seharusnya aku tak menyuruhmu untuk melakukan ini, batin Momoi.
Beda Kuroko, beda Momoi. Kuroko masih diam tuk menahan tangisnya, sedangkan Momoi... dia sudah mengeluarkan air mata. Menangis dalam diam. Air matanya sudah membasahi paras cantiknya. Momoi merasa bersalah kepada sahabat birunya. Gomenne... gomenne... gomenne..., batinnya tak henti-henti mengucapkan kata-kata itu.
Beberapa hari telah berlalu setelah kejadian itu.
Kise sudah mendengar cerita tentang kejadian hari itu dari Momoi. Seketika Kise juga merasa bersalah terhadap sahabatnya. Berniat menghibur dan mendukung Kuroko, Momoi dan Kise hendak mengajak Kuroko ke Maji Burger untuk mentraktir Vanilla Millshake katanya. Kise juga mau menjadi motivator dadakan bak Mar*o Te*uh. Sampai-sampai Kise sudah menyiapkan contekan kecil ditangannya kalau dia tiba-tiba lupa apa yang akan disampaikan.
Namun alangkah terkejutnya Momoi dan Kise mendapati Kuroko dengan wajah datarnya, seperti tak terjadi apa-apa. Saat Kise secara tak sengaja bertanya perihal surat yang akan diberikan kepada Akashi. Kuroko hanya menjawab,
'Aku tak jadi memberikannya Kise-kun, aku malu.' Nah, jawabannya seperti itu. Alhasil, Momoi dan Kise berpandang-pandangan. Mereka bingung. Namun juga paham disaat yang bersamaan. Mereka bingung kenapa Kuroko lebih memilih berbohong. Dan mereka juga paham karena mereka sudah mengetahui apa yang terjadi kepada sahabatnya itu.
.
.
Saat itu Kiseki no Sedai telah berubah, Aomine yang biasanya akan tersenyum dan bercanda tawa dengan Kuroko, telah menjadi Aomine yang dingin dan sekarang dia meremehkan lawan basketnya. Karena itu, Aomine tidak masuk latihan lagi, 'Buat apa aku latihan jika lawanku selemah itu', ujarnya.
Murasakibara, Midorima, Kise yah... meskipun mereka tidak terlalu banyak berubah, tetapi tetap saja mereka berubah. Namun,tidak semencolok Aomine.
Lalu, orang yang dicintainya...
Dia benar-benar berubah. Dia bukanlah lagi Akashi yang dikenalnya. Sorot matanya menjadi lebih tajam dan dingin dengan aura intimidasi yang sangat kuat. Senyumnya, yang selalu dirindukan Kuroko berubah menjadi sebuah seringai. Menang menjadi prioritas utama baginya dalam basket. Dia tidak lagi peduli kerja sama tim.
Tidak cukup sampai disitu penderitaan yang Kuroko rasakan.
.
.
.
Hari itu, disaat Kuroko akan menyerahkan surat pengunduran diri dari club basket kepada Akashi,
"Akashi-kun ini," ujarnya sambil menaruh surat itu di meja Akashi.
Akashi mengambil surat itu lalu membacanya.
"Surat pengunduran diri? Ada alasan khusus kau mengundurkan diri dari club basket?" Nadanya terkesan dingin dan matanya menatap tajam ke arah mata Kuroko langsung.
"Tidak ada, hanya merasa jika club basket yang sekarang tidak sesuai dengan jalanku," jawab Kuroko datar.
"Hm, begitu. Aku juga tak menginginkan pion yang tak berguna sepertimu Tetsuna. Tanpa strategi dan observasimu kepada lawan pun kami akan menang. Karena sejak awal kami memang tidak membutuhkanmu Tetsuna," ujar Akashi dingin disertai penekanan pada nama Kuroko di akhir kalimat tadi.
Hati Kuroko kembali merakan rasa sakit. Air matanya seperti mendesak keluar dari kelopak matanya. Binar mata gadis itu menjadi lebih redup. Tetsuna, kau harus kuat. Tahanlah, jangan sampai kau mengeluarkan air matamu di depan Akashi-kun, batin Kuroko.
"Maafkan aku, kalau selama ini menjadi beban bagimu Akashi-kun. Dan terima kasih atas perhatianmu selama ini," ucap Kuroko tersenyum tulus lalu membungkuk sedalam-dalamnya. Tak terasa air matanya telah lolos dari pertahanannya.
"Permisi," setelah kembali tegak Kuroko segera pergi dari hadapan Akashi.
Tadi itu apa? Kenapa aku merasa sakit saat melihatnya menangis? Dan apa itu, dia tersenyum? Sudah jelas aku tak membutuhkannya lagi, batin Akashi. Namun, segera ditepis semua pemikirannya itu dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
-Saat Hari Kelulusan—
Pagi-pagi sekali Kuroko pergi ke Teikou. Saat dia datang, tidak ada orang sama sekali, hanya ada penjaga sekolah.
Kuroko mengelilingi sekolahnya untuk yang terakhir kali. Serasa sudah puas, dia duduk di bangku taman sekolahnya lalu mengambil sebuah buku berwarna biru muda dari dalam tasnya. Didekapnya buku itu erat-erat. Buku itu adalah tempat dia menuliskan semua curahan hatinya saat berada di SMP Teiko.
Bagai ada sebuah energi yang membawanya pikirannya menerawang ke masa lalu, kepingan-kepingan memori saat berada di sekolah itu mendesak masuk ke kepalanya.
Dia lalu tersenyum, saat mengingat kenangan dia bersama teman-temannya di club basket, saat dia bercanda tawa dengan teman-temannya, saat dia belajar bersama dengan teman-temannya, saat dia merasakan apa itu arti cinta sebenarnya bagi dirinya, saat dia..., saat dia...
...
...
Tes
Tes tes
Air mata sudah membasahi wajahnya. Terlalu banyak kenangan indah -dan pahit- disini, pikirnya. Namun dia harus segera pergi. Kuroko menaruh kembali bukunya di tas.
Diliriknya jam tangan yang melingkar di tangannya. Lalu, dia pergi. Kenapa pergi? Kenapa dia tidak ikut Upacara Kelulusan? Karena dari awal dia memang tidak berniat mengikuti Upacara Kelulusan. Terlalu menyakitkan, pikirnya.
Kuroko mengusap air matanya sambil berjalan tergesa-gesa berjalan keluar sekolah. Saat di persimpangan koridor menuju pintu keluar. Kuroko menabrak seseorang hingga dia terjatuh. Isi tasnya berserakan kemana-mana. Kuroko lalu segera membereskannya dan pergi setelah mengucapkan kata maaf kepada orang yang ditabraknya.
END OF FLASHBACK
.
"T..tsu.a?"
"Tet...a?"
"..suna?"
"Tetsuna?" ucap Mayuzumi sambil mengguncang-guncangkan tubuh Kuroko. Kuroko baru sadar jika dekapan pemuda itu telah terlepas.
Mata Kuroko mengerjap pelan. Mata biru muda itu lalu menatap kakak sepupunya.
"Ah, maaf. Aku melamun lagi," gadis itu lalu menunduk.
"Tak apa," Mayuzumi mengusap air mata yang mengalir dari mata adiknya sepupunya iru.
"Nah, tenangkan dirimu Tetsuna." Mayuzumi kembali mengusap kepala Kuroko.
"Tetsuna..."
"Apa, Chihiro-nii?"
"Aku yakin cinta yang tulus itu suatu saat akan terbalas. Apalagi dengan ujian yang telah kamu lewati selama ini. Aku yakin kisahmu akan berakhir seperti kisah cinta di novel-novelmu itu. Pastinya dengan kebahagiaan yang lebih melimpah," Mayuzumi tersenyum tulus.
Bagai mantra sihir, kata-kata Mayuzumi membuat perasaan Kuroko jauh lebih tenang. Entah kenapa, dia percaya hal itu akan terjadi. Seperti HP di charge ulang, semangat Kuroko perlahan-lahan kembali. Lalu, dia menatap kakak sepupunya itu. Menyunggingkan senyum jahil, lalu berkata,
"Chihiro-nii, tumben sekali puitis, aku tak menyangka kau bisa mengucapkan kata-kata seperti itu."
Mayuzumi menangkap nada jahil Kuroko, saat tadi dia berbicara. Mayuzumi menatap Kuroko. Kuroko menatap Mayuzumi.
Stare~~
"pfttt..."
Lalu, keduanya saling tertawa lepas.
"Nah, karena adikku yang manis ini sudah tenang, aku pulang dulu ya... besok adalah final. Kau cepatlah tidur jangan malam-malam."
"Chihiro-nii... aku tak akan mengalah."
"Hhahaha, tentu saja aku juga tak akan mengalah. Aku akan berusaha sekuat tenaga. Nah sekarang tidurlah," Mayuzumi lalu mencium dahi adik sepupunya.
"Oyasumi Tetsuna."
"Oyasumi."
Setelah Mayuzumi meninggalkan kamarnya. Perlahan namun pasti Kuroko mulai terlelap. Yah... karena besok adalah hari besar baginya. Tidak, bagi Kuroko, Akashi dan semuanya.
.
.
- TBC -
Review please...
Sekali lagi mohon kritik dan sarannya yah~
OMAKE
Brukk
Midorima jatuh terduduk.
Cih, kenapa aku bisa terjatuh nanodayo? Apakah aku seperti ini karena tidak membawa lucky itemku? Sungguh sial , nanodayo.
Saat Midorima akan berdiri dan membersihkan celananya yang kotor. Dia mendengar seseorang mengucapkan kata maaf lalu pergi dengan tergesa-gesa. Suaranya terdengar familiar baginya. Namun hal itu tak diperdulikannya.
"Dasar tak sopan, nanodayo," Midorima cuma bisa mengusap dadanya. Saat akan berjalan Midorima merasa menginjak sesuatu.
"B-buku biru muda? Bukankah ini milik gadis tadi, nanodayo?" Midorima lalu mengambil buku itu dan mencari keberadaan gadis tadi. Nihil.
"Kuanggap saja tadi itu adalah kiriman dari Oha-asa. Lagipula hari ini lucky itemku adalah buku berwarna biru muda, nanodayo."
Midorima tersenyum puas –lebih tepatnya senyum-senyum kayak orang gila- lalu pergi membawa buku itu.
Kenapa Midorima datang pagi-pagi? Oh, tak usah ditanya lagi. Midorima adalah manusia terajin di dunia, kata ibunya...
Semua usaha itu pasti ada hasilnya
Kita tinggal menunggu kapan kita mendapatkan hasil tersebut
Semakin kau berjuang
Semakin besar hasil yang akan kau dapatkan
