Chapter 3
.
Previous Chapter
Setelah Mayuzumi meninggalkan kamarnya. Perlahan namun pasti Kuroko mulai terlelap. Yah... karena besok adalah hari besar baginya. Tidak, bagi Kuroko, Akashi dan semuanya.
Kuroko no Basuke Fanfiction
.
Arti Cintaku
.
Warning : Author newbie, alur cepat(?), typo,dll
.
.
-Saat hari final-
Gadis bersurai baby blue itu berjalan masuk ke stadium bersama-sama dengan timnya, Tim Seirin. Kuroko sudah mempersiapkan hatinya apapun yang terjadi. Bukan bermaksud ingin Seirin kalah tetapi, apapun itu Kuroko hanya tidak ingin menjadi serapuh dulu, meskipun dirinya yang sekarang sudah seperti siap hancur kapan saja.
Harapan Kuroko saat ini hanya satu yaitu…
…..mengembalikan orang yang dicintainya seperti dulu. Tak apa jika timnya tidak menang, asalkan dia bisa melihat senyum Akashi yang dia rindukan dari dulu, kembali. Yah tak apa-apa…..
asal harapan kecilnya terkabul, baginya sudah cukup untuk membayar semua rasa sakit yang dirasakannya selama ini. Meskipun perasaanya pun tak kian dibalas.
Bagi gadis itu…
.
.
.
….itu sudah lebih dari cukup melihat Akashi kembali seperti dulu.
SKIP TIME
Priiiittt…. Priiiiitttt…. Priiiitttt….
Peluit wasit menandakan pertandingan berakhir. Seirin kalah, Rakuzan menang. Selisih skor sangat tipis, selisih satu angka.
"Sudah kubilang bukan? Kemampuanmu itu tak akan berguna Tetsuna," ujar Akashi yang masih berada di tengah lapangan basket. Tatapannya yang tajam mengarah langsung kepada Tetsuna. Nada dingin dan aura intimidasi yang kuat melekat dalam setiap kata yang dikeluarkan Akashi.
Kuroko terdiam mematung melihat kenyataan yang ada dihadapannya. Timmnya kalah. Dan dia tak bisa mengembalikan Akashi seperti dulu. Tangannya yang ringkih menggenggam erat dadanya, berusaha menghilangkan rasa perih yang mulai timbul kembali.
"Mungkin dengan kemampuanmu itu kau akan menang melawan mereka, tapi tidak denganku. Kau dari awal memang lemah Tetsuna dan sudah kubilang bukan, bahwa kau adalah…"
Cukup! Cukup…..tolong berhenti….. jangan dilanjutkan kumohon, kumohon Akashi-kun. Onegai…..,batin Kuroko memohon.
"…pion yang tak berguna, Tetsuna," ucap Akashi tanpa belas kasihan.
Mata pemain dari Seirin terbelalak. Kagami sudah geram, dia akan menghajar iblis merah yang berada dihadapannya jika tidak ditahan oleh Hyuuga dan Kiyoshi.
Kepala Kuroko tertunduk, poninya terjuntai kebawah sehingga menutupi sebagian wajah gadis itu. Raut wajahnya tidak terlihat.
Apa aku salah meminta permohonan seperti itu? Kenapa? Kenapa? Padahal, aku sudah mempersiapkan hal ini, tetapi masih saja sesakit ini, batin Kuroko. Dadanya sudah terasa sangat sesak. Hati kecilnya dipaksa mengingat kembali rasa sakit yang pernah dia rasakan saat masih di SMP Teiko dulu. Yang sekarang bahkan terasa lebih sakit dari pada hanya mengetahui kenyataan bahwa orang yang kau cintai menyukai orang lain.
Tangannya semakin kuat menggenggam erat dadanya. Tubuhnya bergetar pelan. Perlahan namun pasti Kuroko berusaha menggerakkan badannya untuk pergi dari tempat itu. Kakinya berlari meskipun kepalanya tetap tertunduk.
Kuroko terus berlari, sampai dia mencapai sebuah lorong yang sepi. Kuroko jatuh terduduk di dekat tembok. Kepalanya bersandar di tembok itu. Tangannya tetap menggenggam erat dadanya. Air mata yang dari tadi berusaha mendesak keluar sudah menerobos pertahanan Kuroko. Seketika gakurannya basah terkena tetesan tangisannya. Isakan kecil keluar dari mulutnya.
Hiks… hiks…
Hiks… hiks…
Aku tak bisa membuat timku menang. Aku juga tidak bisa mengembalikan Akashi-kun seperti dulu. A-aku….. aku….. memang tidak berguna, batin Kuroko. Dia merasa terluka dan kecewa. Pupus sudah harapannya untuk mengembalikan Akashi.
Kenapa kau begitu susah digapai Akashi-kun?
Apa aku kurang berusaha untuk mencapaimu?
Apa yang harus kulakukan agar bisa melihatmu seperti dulu lagi?
Air matanya semakin deras mengalir. Seiring dengan perih yang dia rasakan.
Kenapa cintaku begitu rumit, kamisama?
Apakah masih ada harapan untukku ini, kamisama? Gadis itu bertanya, namun sayang. Tak ada yang menjawabnya.
"A-aka..shi-kun…. , Aka…shi-kun, Akashi-kun…" ucapnya disela-sela isakan tangisnya.
Sungguh hatimu bagaikan malaikat Kuroko. Ketika orang lain sudah menyerah mempertahankan perasaanya, kau masih tetap bertahan. Bahkan setelah menerima semua perlakuan Akashi yang seperti itu.
.
.
-Di tempat duduk penonton-
"Dai-chan…. Tetsu-chan… dia, dia… Hiks…" Momoi sudah tak sanggup lagi. Dia dapat merasakan perasaan yang dirasakan Kuroko sekarang. Dia paham betul dengan itu semua. Kenapa? Karena selama ini Momoi selalu bersama dengan Kuroko. Meskipun Kuroko tak bercerita apapun kepadanya, namun itu semua sudah sangat jelas di mata Momoi hanya dengan menatap mata sahabatnya itu.
"Tenanglah Satsuki. Teme…! Kenapa kau begitu Akashi?" Aomine sudah sangat kesal. Dia tak peduli jika teriakannya itu mengundang perhatian orang lain.
"Aominecchi… aku tahu kau kesal-ssu. Aku juga kesal dengan Akashicchi, tapi bagaimana dengan Kurokocchi? " ucap Kise sendu.
"Biarkan dia sendiri dulu Kise-chin. Aku yakin dia merasa sangat sedih sekarang"
"Temeeeee! Awas kau Akaaasshiiii….!"
"Aomine! Diamlah….. daripada seperti ini kita pergi menemui Akashi saja, nanodayo," ujar Midorima. Midorima membawa buku berwarna biru muda digenggaman tangannya.
"Cih, Satsuki ayo jangan menangis terus. Kita harus membantu Kuroko."
Midorima melirik sejenak ke teman-temannya itu. Mereka adalah Murasakibara, Kise, Aomine, dan Momoi. Dia tak menyangka bahwa akan datang saat dimana mereka harus membantu masalah pribadi temannya. Yah…. Ini pun salahnya karena mengambil dan membaca buku –buku biru muda- tanpa seizin pemiliknya. Midorima menghela napas sejenak. Salah satu jari tangannya yang bebas menaikkan kacamatanya yang melorot.
Dan Kiseki no Sedai pun pergi untuk menemui Akashi.
.
.
Setelah Kuroko pergi dari lapangan basket, Kagami sudah benar-benar tidak bisa ditahan, dia lepas dari cengkeraman Hyuuga dan Kiyoshi. Dia berlari kearah Akashi tetapi dihadang oleh Mayuzumi.
"Oi, jangan mencoba menghalangiku."
"Hentikan itu, kau akan mendapat masalah. Aku akan pergi berbicara dengan Akashi. Kau lebih baik mencari Tetsuna daripada melakukan hal sia-sia."
"Kuroko? Kenapa kau memanggilnya dengan nama kecilnya? Apakah kau pacarnya?"
"Hmm? Menurutmu kira-kira aku siapanya? Sudahlah kau cari saja Tetsuna."
"Hah… baiklah. Kupercayakan Akashi padamu."
Setelah Kagami pergi berlalu, Kagami langsung mencari Tetsuna bersama anggota Seirin lainnya.
Saat Rakuzan akan kembali ke ruangannya di stadium, mereka dicegat Kiseki no Sedai.
"Akashi…. Aku tahu kau pasti tidak suka melihatnya seperti itu, nanodayo. Tapi kenapa kau berkata sangat kejam kepada Kuroko?" tanya Midorima tanpa basa-basi lagi.
"Hmm? Buat apa? Tentu saja untuk menyadarkannya."
"Menyadarkannya katamu?! Kau itu yang tidak sadar Akashi!" teriak Midorima, urat kesabarannya sudah putus. Bahkan dia tidak memakai aksen –nanodayo nya.
"Berani sekali kau berteriak di hadapanku Shintarou," aura intimidasi mulai menguar dari tubuh Akashi, tapi sekarang itu sudah tidak mempan lagi.
"Akashi-kun... kau tidak meyadari perasaan Tetsuna selama ini? Dia itu mencintaimu…. Bahkan ketika kau berkata menyukai gadis lain, dia tetap tersenyum dihadapanmu bukan? Akashi-kun kumohon sadarilah perasaannya…" Momoi berkata sambil meneteskan air matanya. Tak kuat hatinya mengingat kembali kenangan yang sangat pahit itu.
Deg deg
"Akashicchi, kau tak tahu? Saat SMP Kurokocchi sangat perhatian padamu-ssu. Apa dengan itu kau masih tidak sadar? Dia juga sering tersenyum dihadapanmu-ssu."
"Aka-chin seharusnya tidak berkata seperti itu tadi. Kasihan Kuro-chin. Kuro-chin akan sedih."
Deg deg
Akashi sedikit merasa bersalah di hatinya. Perlahan-lahan dia mulai sadar dengan perasaannya yang sebenarnya dengan Kuroko. Samar tapi pasti, dia ingat jika hatinya terasa hangat jika berada di dekat Kuroko dulu. Dia merasa senang ketika Kuroko lebih banyak menaruh perhatiannya padanya. Hatinya merasa hangat ketika melihat senyumannya yang manis. Rasa yang sama ketika dia bersama dengan ibunya yang sudah tak ada. Namun sekali lagi, dia menepis perasaan itu jauh-jauh. Rasa ego dan harga diri masih dipegang teguh.
Akashi terdiam, mereka yang melihat Akashi berharap dengan sikap diamnya itu pertanda dia sudah sadar.
"Sudah selesai? Itu saja yang kalian katakan? Kalian hanya membuang waktuku saja dengan mengatakan omong kosong seperti itu," ujarnya dingin dengan seringai khasnya.
Terkejut. Hanya itu yang dapat di gambarkan dari orang yang mendengar perkataan Akashi.
"Teme! Akashi! Kuhajar kau!" tindakan Aomine itu langsung dicegah oleh Momoi dan Kise.
.
PLAKKK
Mayuzumi menampar Akashi sekuat tenaga. Bekas merah tercetak jelas dipipi putih Akashi. Akashi diam mematung. Dia terkejut, orang yang biasanya hanya diam dengan wajah datar telah menamparnya dengan tatapan marah.
"Kau bodoh Akashi."
"Apa dengan ini kau sudah sadar? Sudah cukup aku hanya diam melihatmu memperlakukan Tetsuna seperti itu. Aku sudah tak tahan lagi. Mau kau apakan lagi Tetsuna? Dia sekarang pasti sudah sangat kacau. Kau tak sadar bukan?" Mayuzumi menatap tajam Akashi dengan wajah datarnya.
"Sudah banyak beban yang dia bawa. Sudah banyak luka yang dia terima di hatinya. Tapi dia tetap mencintaimu. Cintanya tulus untukmu Akashi. Hanya satu yang dia harapkan sekarang, melihatmu kembali tersenyum seperti dulu. Apakah dengan ini hatimu masih tidak tergerak Akashi?"
Akashi bungkam, tertegun dengan ucapan Mayuzumi.
Mayuzumi yang sedari tadi hanya memerhatikan ketika Kiseki no Sedai datang, melirik Midorima. Midorima salah tingkah karena diperhatikan. Midorima ingin bertanya namun pertanyaannya diurungkan.
"Buku itu milik Tetsuna?" oh ternyata yang dilihat buku yang dipegang Midorima.
"Eheem… iya."
"Berikan padaku," pinta Mayuzumi sambil menyodorkan telapak tangannya. Midorima lalu memberikan buku biru muda itu kepada Mayuzumi. Setelah Mayuzumi menerima buku itu, dia memberikannya ke Akashi.
"Akashi, bacalah buku ini."
Harga diri dan egonya perlahan runtuh, meskipun tidak sepenuhnya. Akashi menerima buku yang diberikan Mayuzumi. Mayuzumi tersenyum melihatnya. Lalu Mayuzumi mendekatkan kepalanya ke telinga Akashi dan berbisik. Lalu, Mayuzumi menarik kepalanya kembali, setelahnya.
Akashi tetap tidak bergeming dari posisinya. Buku yang dipegangnya saat ini….. entahlah, Akashi merasa buku ini adalah jawaban dari semua perasaan aneh yang dia rasakan ketika bersama Kuroko. Ekspresinya yang semula keras kini mulai melunak.
Mereka yang melihatnya bernapas lega. Setidaknya ada harapan.
"Minna, lebih baik kita meninggalkan Akashi sendirian dulu," ujar Mayuzumi kepada yang lainnya. Yang lainnya menurut. Mereka meninggalkan Akashi di lorong itu sendirian.
.
.
.
Beberapa saat setelah mereka meninggalkan Akashi sendirian, rasa penasaran hinggap pada gadis bersurai soft pink, Momoi.
"Ano… Mayuzumi-senpai bolehkah aku bertanya padamu?" Seketika gerakan kaki mereka semua terhenti.
"Iya, apa." Mayuzumi berucap dengan wajah datarnya.
"Dari tadi ini sangat menggangguku. Mayuzumi-senpai sepertinya kenal dengan Tetsu-chan. Ah tidak, kau sepertinya sangat mengenal Tetsu-chan. Kau bahkan tahu tentang perasaannya. Dan tadi saat kau berbicara dengan Akashi-kun, kau kelihatan seperti... umm... protective dan menyayangi Tetsu-chan. Mayuzumi-senpai sebenarnya….. kau mempunyai hubungan semacam apa dengan Tetsu-chan?"
Semua mata memandang Mayuzumi. Seketika mereka yang mendengar pertanyaan Momoi sadar. Sebenarnya orang ini punya hubungan apa dengan Kuroko?, pikir mereka.
Mayuzumi menghela nafas. "Aku adalah kakak sepupu Tetsuna. Meskipun kami sepupu, kami cukup akrab. Aku juga sering mengunjungi rumahnya."
"K-ka, ka..kak sepupu?" Momoi membeo.
"Pantas saja Mayuzumicchi-senpai tahu perasaan Kurokocchi-ssu," kini giliran Kise yang bersuara.
Kini sudah jelas bagi mereka.
"Oh iya, kalian silahkan duluan. Aku masih punya urusan. Tak usah menungguku," Mayuzumi pamit dan langsung berlalu.
Sudah hampir seluruh bagian dari stadium dikunjungi Kagami dan Tim Seirin. Tapi mereka tak kunjung menemukan Kuroko. Kagami sudah sangat khawatir dengan Kuroko. Karena kesal, akhirnya dia memisahkan diri dari yang lainnya untuk mencari Kuroko.
Kagami lalu berjalan berkeliling –lagi untuk mencari Kuroko. Entah kemana dirinya melangkah, dirinya tak tahu. Kagami hanya mengikuti pergerakan kakinya, kemana dia berjalan. Lalu, Kagami melewati sebuah lorong. Keadaan lorong itu cukup sepi dibandingkan tempat-tempat yang dia lewati tadi.
Dari jauh Kagami dapat melihat kepala bersurai baby blue dan abu-abu. Mereka itu adalah Kuroko dan Mayuzumi. Kagami akan menghampiri mereka berdua jika saja dia tidak mendengar suara isakan kecil dan suara Mayuzumi yang sepertinya berusaha menenangkan Kuroko. Entahlah, karena Kagami mendengarnya samar-samar. Kuroko terlihat sedang duduk di lantai dengan posisi punggung menyandar di tembok. Mayuzumi yang berada dihadapan Kuroko sedang berjongkok dengan kaki kanan di depan dan tangannya yang mengelus rambut Kuroko.
Kagami berjalan lebih dekat, tetapi tidak sampai diketahui oleh mereka. Lalu, Kagami mengambil tempat duduk yang berada di balik sebuah pilar. Tempatnya cukup strategis hingga dia bisa mendengar dengan jelas percakapan yang tengah terjadi.
"Sudah cukup tenang sekarang, Tetsuna?"
"Ha'i."
"Baguslah, kalau begitu aku akan memberimu pilihan Tetsuna. Mungkin ini adalah waktu yang tepat bagimu untuk mengubah segalanya."
"Apa yang kau bicarakan, Chihiro-nii?"
"Dengar baik-baik Tetsuna. Lalu, pilihlah dari kedua ini. Kau ingin merelakan atau kau ingin menyelesaikan semua ini. Yah, meskipun aku lebih memilih kau mengambil pilihan terakhir, tapi tetap saja aku ingin kau mengambil keputusanmu sendiri."
"Hah?"
"Tak usah bingung, pilihlah tanpa keraguan."
"Ngg..? Aku pilih pilihan terakhir."
"Sudah kukira begitu."
"Kalau kau sudah mengiranya tak usah memberi pilihan lain."
"Hahaha, iya aku tahu. Nah, sekarang turuti apa kataku setelah ini."
"Apa itu?"
"Pergilah ke halaman stadium dekat pintu masuk belakang. Disana akan ada seseorang yang datang menemuimu."
"Baiklah, tapi . . . siapa orang itu?"
Ok, Kagami gregetan sekarang. Kagami yang semulanya menyembunyikan dirinya di balik pilar, akhirnya menyembulkan kepalanya. Dia sudah terlanjur penasaran dengan tingkah mereka. Apalagi dengan mendengar percakapan yang dia tidak mengerti sama sekali.
Tampak Kuroko dan Mayuzumi yang sudah kembali berdiri dari posisi mereka masing-masing. Kuroko mengernyitkan dahinya tanda dia bingung. Dan….. Mayuzumi yang tersenyum misterius. Tangan Mayuzumi terangkat. Dia menghapus jejak air mata di wajah Kuroko.
"Kau tak perlu tahu. Karena kau akan segera mengetahuinya Tetsuna," ucap Mayuzumi. Senyumnya masih melekat di bibirnya. Tangannya juga telah kembali turun.
"Hn, aku pergi dulu Chihiro-nii."
Belum jauh Kuroko berjalan, Mayuzumi mengatakan sesuatu yang membuatnya menghentikan gerakan kakinya.
"Nah, kalu begitu kudoakan akan berhasil. Ganbatte," ucap Mayuzumi. Sekarang sebuah senyum yang lembut mengembang diwajahnya.
Tanpa membalas ucapan Mayuzumi, Kuroko langsung berlalu menuju tempat yang dimaksud sepupunya itu.
.
.
Setelah ditinggal sendirian oleh teman-temannya, Akashi mulai membaca buku yang berada digenggamannya. Halaman pertama dibuka terlihat tulisan 'Dari Mayuzumi Chihiro, Untuk Kuroko Tetsuna'. Lalu, dibukanya halaman selanjutnya. Terlihat tulisan tangan yang sangat rapi di kertas itu. Disitu tertulis cerita tentang keseharian Kuroko. Setelah cukup lama membuka lemar demi lembar. Akashi lalu menajamkan penglihatannya.
Akhir-akhir ini aku sering sekali merasa berdebar-debar jika bersama Akashi-kun.
Setiap memandang wajahnya aku merasakan pipiku memanas.
Hanya melihatnya saja sudah membuat dadaku merasa tidak karuan.
Sebenarnya perasaan apa ini?
.
Hari ini Momoi dan Kise memberitahuku bahwa sebenarnya aku mencintai Akashi-kun. Mereka menyuruhku untuk menyampaikan perasaanku lewat surat.
Tapi saat aku akan memberikannya kepada Akashi-kun. . . . Akashi-kun memberitahu bahwa dia menyukai Furihata Kouka. Hatiku merasa sangat sakit saat itu juga. Aku merasa tidak suka mendengarnya menyukai gadis lain, tapi aku bisa apa? Aku cuma bisa diam dan memendam rasa perih di hati ini.
Entah kenapa melihatnya tersenyum itu sudah membuatku sedikit lega, meskipun senyum itu. . . bukan ditujukan untukku.
.
Aku sudah memutuskan keluar dari club Basket Teiko. Mereka berubah, teman-temanku... aku tak pernah menyangka itu akan terjadi. Aku kecewa dengan jalan basket yang kami tempuh. Ini sudah melenceng jauh dari apa yang aku harapkan.
Saat aku memberikan surat pengunduran diri kepada Akashi-kun, aku tak percaya dia mengatakan hal seperti itu. Ya, aku memang lemah, tapi... apa arti jika ternyata kau yang membuatku bergabung dengan club Basket? Kau yang mengajakku juga menemukan bakatku. Aku tak pernah mengira akan mendengar hal yang begitu menyakitkan dari Akashi-kun.
.
Nee, aku akhirnya tahu arti cinta yang kurasakan selama ini kepadanya.
Arti cintaku tidaklah seperti yang berada di novel-novel yang kubaca.
Cintaku ini... adalah menyayangi seseorang dengan sepenuh hati,
siap menerima banyak luka yang diberikan,
siap menerima semua kenyataan,
merelakan dirinya jika memang bukan aku yang ada dihatinya,
Dan yah... cukup aku saja yang tahu tentang penderitaan ini.
Kau tak perlu tahu... karena jika kau mengetahuinya, entahlah. Mungkin kau akan merasa terbebani.
Meskipun perasaan ini takkan pernah terbalas.
Aku hanya ingin melihatmu bahagia, itu saja sudah cukup bagiku.
.
.
Akashi merasa dirinya sangat bodoh sekarang. Bagaimana tidak? Dirinya sendiri tidak menyadari bahwa selama ini ada orang yang mencintai dirinya dengan tulus, tetapi dia menyukai gadis yang sama sekali tidak menerima dirinya apa adanya. Dia bahkan meminta bantuan Kuroko untuk mendekati gadis yang lain.
Kuroko selalu ada disisinya jika dia membutuhkan, dia membantunya dengan senang hati. Tapi apa yang dia lakukan? Dia malah menyakiti hati gadis itu selama ini. Dia menyakiti hati gadis yang mencintainya dengan tulus, bahkan dengan semua luka yang diterimanya. Dia menyakiti hati gadis... gadis yang ternyata dia cintai selama ini.
Aku begitu bodoh Tetsuna. Aku tidak menyadari perasaanku dan berakhir menyakitimu lagi. Aku bahkan tak bisa menghitung sudah berapa kali aku melakukan kesalahan, batin Akashi.
Tangannya mengepal erat. Rasa bersalah sudah membuncah di dalam hatinya sekarang. Wajah yang dingin itu sudah berubah menjadi wajah sendu.
Gomenna Tetsuna. Maukah kau memaafkanku setelah semua ini terjadi? Apakah kau akan memberiku kesempatan pada diriku yang begitu egois ini?
Seketika Akashi mengingat bisikan Mayuzumi sesaat sebelum dia meninggalkannya sendirian.
'Aku yakin Tetsuna akan memaafkan sikapmu itu. Tak perlu menunggu lama. Sesudah kau membaca bukunya cepatlah pergi ke halaman stadium dekat pintu masuk belakang. Aku akan menyuruhnya pergi kesana. Saat itu tiba, cobalah untuk berbicara dengannya. Semoga beruntung.'
"Tetsuna, tunggulah aku. Aku akan memulai semuanya dari awal lagi," ucap Akashi. Senyum yang telah lama hilang itu, sudah kembali lagi ke paras tampannya.
.
.
.
-TBC-
Maaf updatenya telat. Setiap saat saya akan mengerjakan ini pasti ada yang datang mengganggu :3 /cobaan/
oh iya saya tunggu reviewnya yah kawan-kawann.
.
Terima kasih kepada yang sudah baca, nge-review, nge-fav, nge-follow dan pastinya orang yang suka bikin tambah banyak notif di chat, protes soalnya ceritanya bikin dia flashback. Love you all minna :*
