Because Of Love
.
.
Main cast :
Cho Kyuhyun.
Lee Sungmin.
Choi Siwon.
Kim Kibum.
.
Author : ChominJoy
Rate : T
Genre : Romance, Hurt/comfort.
Warning : Typo(s) dimana-mana, gaje, abal-abal, absurd, enggak sesuai EYD.
Disclaimer : Kyuhyun milik Sungmin, Sungmin milik Kyuhyun, mereka milik Joyers!
Ff ini murni buatan saya. Don't bash my fic! Don't like don't read! No plagiat, okay!
Summary : Bullying, cacian, ejekan itu yang didapatkan Sungmin tiap harinya. Bahagia, hanya itu saja yang Sungmin mau, bahagia bersama orang yang ia cintai. Apa itu begitu sulit untuk mendapatkannya? "Aku hanya ingin bahagia bersamamu, Cho Kyuhyun.."
.
Chapter 7
.
Flashback On.
Kyuhyun Pov.
"Dengarkan aku dulu Bummie! Aku-"
"Apa! Apa lagi yang ingin kau jelaskan huh!"
"Aku benar-benar hanya mencintaimu.."
Plak!
Aku sedikit meringis setelah dengan mudah yeoja di hadapanku ini menapar pipiku. Tak tahukah dia, ini rasanya sangat sakit dan perih!
"Kibum!"
"Wae! Kau tak senang aku menamparmu! Aku juga tidak senang melihatmu bersama yeoja lain dan memberikannya sebuah liontin! Aku tak suka itu!"
"A-aku.. i-itu liontin miliknya! Benda itu jatuh dan kuambil untuk mengembalikannya pada pemiliknya." jelasku berbohong.
"Oh.. begitu? Memangnya memberi liontin yang hilang pada pemiliknya harus memakai sebuah kotak liontinnya juga? Dan memakaikan langsung pada pemiliknya, itu maksudmu?"
"B-bukan begitu Bummie.."
"Lalu apa! Maksudmu setelah memberikan liontin itu pada pemiliknya kau dan pemilk liontin itu berciuman! Begitu!"
"Astaga Kibum!" ucapku tak percaya. Dari mana dia tahu aku berciuman dengan yeoja lain?
"Kita putus saja Kyu!"
"H-huh? Bummie.."
"Putus, kau tak mengerti juga! Kau tanyakan saja pada yeoja itu!"
Kibum pergi dari hadapanku, aku terpatung, sedikit lemas rasanya saat tahu bahwa ini adalah kenyataan. Ini.. ini pertama kalinya aku putus dengan Kibum setelah menjalani hubungan selama hampir 1 tahun, dan hebatnya kami putus hanya karena ulah ke-playboyanku ini.
Aku mengepalkan tanganku, kulayangkan tinjuan pada dinding yang ada di sampingku.
"Sial!"
Aku masuk ke dalam gudang sekolah yang kebetulan berada di atap sekolah. Ya, aku sedari tadi ada di atap sekolah. Kalian tahu, aku suka berada disini, disini sangat sejuk dan nyaman, nyaman untuk dipakai tempat berciuman lebih tepatnya. Iya, kenapa? Aku memang suka berciuman dengan yeoja lain yang berbeda. Ucapan Kibum itu terlalu benar untuk ditebak! Sial bukan!
Brugh!
Aku membanting tumpukan meja dan kursi yang telah tak terpakai di dalam gudang hingga beberapa menindih tubuhku dan aku terjatuh. Aku sudah lemas, dan hal ini membuatku semakin lemas. Bangku sialan!
Brak!
Kusingkirkan semua bangku yang menindihku dengan kasarnya. Aku benar-benar merasa sangat lelah sekarang. Akh! SialanYeoja snow white itu! Tak tahukah dia kalau aku mencintainya! Dan dengan beraninya ia meminta putus dariku dan membuatku lemah seperti ini!
Aku mencoba berdiri, dan..
Astaga!
Dia Lee Sungmin, bukan? Yeoja manis dan imut yang pendiam itu? Aish! Dia membuatku kaget. Tapi.. mengapa yeoja ini ada disini?
"Ah, kau Sungmin, aku membuatmu takut eoh?" tanyaku. Sebenarnya dia yang mebuatku takut!
Sungmin tertunduk tak menjawab pertanyaanku. Aku hanya bisa tersenyum saat ingat bahwa kenyataannya Sungmin adalah orang yang sangat pendiam. Kalian tahu, aku sudah sering mengajaknya bicara, tapi dia tak pernah menjawabnya, dia hanya mengangguk, menggeleng, mengangguk, dan menggeleng lagi. Ah, rasanya aku seperti bicara dengan mainan anak kecil!
Kulihat Sungmin keluar dari dalam gudang ini. Aku mengikutinya keluar juga. Memang panas di dalam sana, sepanas hatiku karena yeoja snow white itu!
"Mengapa kau ada disini?" tanyaku.
See? Dia malah tertunduk. Tak sopan bukan? Hey.. mengapa mata dia sembab. Apa dia menangis?
"Matamu sembab, kau menangis eoh?" tanyaku lagi dan menghasilkan.. hasil yang sama.
Aku melihat dia menutup matanya, seperti sedang merasakan sesuatu. Apa dia kerasukan? Aish! Tidak! Tidak mungkin! Dia tak pantas kerasukan, dia terlalu pendiam dan cantik. Hah? Apa Cho Kyuhyun?
Aku pun memeluknya, sedikit kasihan juga saat melihatnya tertunduk tadi. Iya, dia pasti menangis! Dalam pelukanku aku sedikit merasakan ketegangan tubuh Sungmin dan aku juga sedikit canggung.
"Mengapa kau menangis? Ceritalah padaku." kataku sambil mengelus punggungnya yang kaku.
Sungmin diam saja. Ia pun tak membalas pelukanku. Hey! Tak tahukah dia? Banyak yeoja- ah, bukan banyak lagi! Hampir semua siswi di sekolah ini ingin kupeluk dengan cuma-cuma. Apa dia tak tahu kalau aku ini idola sekolah?
"Lee Sungmin!" panggil seseorang membuatku refleks melepas pelukan dan menoleh ke arah suara itu.
Tsk! Namja kuda itu rupanya. Kulihat dia berjalan ke arahku dan Sungmin. Lalu, dia mengelus pucuk kepala Sungmin. Cih! Dia kira Sungmin anak kecil!
"Mengapa kau disini bersama.." Siwon tak melanjutkan kalimatnya, ia malah menatapku tajam
"Ayo kita pergi dari sini, tak baik kau bersama seorang playboy." gumam Siwon masih dapat kudengar. Setelah itu dia pergi menggandeng Sungmin keluar dari atao sekolah.
"Hh.. kau kira aku siapa huh?" kataku sambil menampikan smirk andalanku.
.
.
Malam ini aku di rumah megahku sendirian. Eomma dan Appa snngat sibuk bekerja. Mereka sedang di luar negeri, mungkin lusa mereka pulang, tapi bukan pulang ke Korea, melainkan mereka pulang ke luar negeri lagi. Iya, untuk mengurusi pekerjaan mereka. Hhh.. aku sendirian..
Biasanya setiap malam aku dan Kibum jalan-jalan. Entah itu kemana, yang pasti akhirnya ia akan membawa banyak belanjaan yang kubelikan. Lihat! Begitu cintanya aku sampai apapun yang dia inginkan aku turuti. Aish! Kibum.. aku mencintaimu. Tak tahukah kau akan hal itu?
Kejadian akan aku memeluk Sungmin teringat dalam pikiranku. Kalau dipikir-pikir Sungmin memang terkesan lebih cantik dari pada Kibum. Hanya saja ia terlalu pendiam, dan ya.. sedikit bodoh.
Foxy-nya.. sangat polos jika menatap, hidungnya yang cukup sempurna, pipi gembulnya nan chubby-nya yang mulus, dan.. bibir shape M-nya yang seakan-akan mengajak bibirku untuk bermain bersamanya. Aish! Dia cukup sempurna bukan?
Tak ada salahnya jika aku...
Mencari pengganti Kim Kibum..
.
.
Aku sudah sampai di depan rumahnya. Ya.. sedikit malu juga jika nanti akhirnya aku salah rumah. Tapi kuharap hal itu tak terjadi.
Dengan gugup aku mulai mengetuk pintu rumah Sungmin.
Tok! Tok! Tok!
Demi Starcraft-ku! Aku benar-benar gugup! Tak seperti biasanya aku gugup. Aish! Mengapa tak dibuka juga pintunya? Apa.. aku pulang saja? Umm.. pulang-tidak-pulang-tidak? Aish! Jika nanti dia membuka pintunya aku harus bicara apa? Ayolah Cho Kyuhyun! Tuhan.. semoga Sungmin tak membuka-
Sungmin membuka pintunya! Astaga! Aku harus apa!
Aku semakin gugup saja saat pintu yang kuketuk mulai terbuka dan menampakan sosok itu disana. Tak lupa boneka yang dibawa sosok manis itu. Menggemaskan! Kyu? Apa kau tadi memujanya? Ah, lupakan saja!
Hwaiting Cho Kyuhyun!
"Hh.. aku tak salah rum- kau menangis lagi?" kataku terkejut kala aku melihat matanya yang memerah. Sedikit ada rasa tak tega melihatnya seperti ini.
Kulihat ia mengerjabkan kedua matanya dengan polos. Apa dia sedang mencoba menyembunyikan kenyataan? Aku pun langsung memeluknya, berharap dapat menghilangkan beban yang selama ini ia rasakan, berharap ia tak seperti ini lagi, berharap ia dapat membagi rasa sedihnya padaku. Hh.. entahlah aku kenapa, aku tidak tahu..
Dalam pelukanku aku dapat merasakan tubuh Sungmin yang kaku. Sepertinya ia sangat kaget dengan aksiku ini.
"Tsk! Kau ini mengapa selalu menangis?" kataku sambil mengelus-elus punggungnya.
Setelah itu, aku melepaskan pelukanku dan mentapnya. God! Mengapa foxy itu begitu polos dan cantik disaat bersamaan. Diam-diam aku mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan berharap udara yang kuhirup adalah ramuan yng dapat membuatku semangat dan tidak gugup seperti ini.
"Kau.. kau mau tidak jadi kekasihku?"
Deg!
Aku yang bicara tapi jantungku juga yang berdetak cepat. Sungguh! Ini pertama kalinya aku merasakan rasa campur aduk nan ambigu ini. Semua tak jelas mengapa aku dapat merasakan hal ini, hal itu. Yang kutahu adalah aku tidak tahu jawabannya..
"Sungmin.. kumohon jawab aku!" Ya tuhan.. apa aku benar-benar bicara seperti itu?
Ia diam tak menjawab pertanyaanku. Bahkan aku baru ingat ia benar-benar pendiam. Wajar dia tak menjawab, apalagi dengan pertanyaan seperti itu.
"Ayo jawab aku Lee Sungmin! Kalau kau diam kuanggap kau menerimanya!" Astaga Kim Kibum! Kau telah membuatku seperti ini! Apa aku sedang mengharapkannya? Mengharapkan siapa?
"Sungmin.. aku butuh jawabanmu!"
Yaa! Lee Sungmin! Kenapa dia tak menjawab juga! Urgh! Hanya bilang ya atau tidak itu saja! Mengapa sulit sekali! Aku bisa gila! Ini semua karena Kibum. Berani-beraninya dia membuatku gila!
"Kuanggap kau menerimanya! Kau telah resmi menjadi yeojachingu-ku." ucapku pada akhirnya. Sedikit lega setelah mengatakannya, walaupun sebelumnya sangat membuatku gugup dan kurasa aku mulai konyol.
Spontan kulihat Sungmin yang membulatkan matanya seperti tidak percaya akan ucapanku barusan. Ia mematung di tempat sambil tetap menatapku tak percaya. Lihatlah! Disaat seperti itu ia sangat menggemaskan belum lagi sambil memeluk boneka itu. Urgh! Membuatku ingin menerkamnya!
"T-tapi aku-"
"Tidurlah chagi, ini sudah malam." ucapku lembut padanya membuat ia terbangun dari dunianya sendiri.
Aigoo! Cho Kyuhyun! Kini kau punya kekasih super manis! Beruntungnya kau!
.
.
Pagi ini aku bangun lebih awal. Sengaja, aku akan menjemput yeojachingu baruku. Tapi.. aku masih menganggap Kibum kekasihku juga walaupun dia sudah memutuskan hubungan kita. Kibum.. tak bisakah kau bertahan untuk tetap bersamaku?
Aku pun menyabar kunci mobilku di meja nakas dan segera keluar dari rumahku. Sepanjang jalan aku masih mengingat-ingat apa saja yang pernah aku dan Kibum lakukan bersama. Mengajarkan dia bermain game, tapi sampai sekarang ia tak bisa juga. Mengajaknya jalan-jalan, merayunya saat marah, menciumnya setiap hari. Aku.. aku mencintainya..
Lee Sungmin? Entahlah, aku tak tahu harus bagaimana kedepannya. Hanya untuk pelampiasan saja atau bukan aku tak tahu akhirnya bagaimana. Aku juga tak tahu aku bisa membuatnya senang, bahagia, atau hal-hal lain seperti yang Kibum rasakan. Karena semua kulakukan hanya sebuah pelampiasan. Aku bingung pada siapa aku harus melampiaskan ke-frustasianku ini hingga akhirnya kaulah Sungmin yang harus merasakannya. Maafkan aku..
Aku sudah sampai di depan rumahnya. Aku pun membuka pintu mobil dan keluar. Aku berdiri di depan pintu rumahnya. Gugup, hal itu lagi yang kurasakan. Selama aku mengganti-ganti pasangan aku tak pernah merasakan hal segugup ini sekalipun itu pada Kibum.
Pintu terbuka menampilkan seorang gadis yang cantik, manis, imut, ah.. dia sempurna.. hey! Cho Kyuhyun kau memujanya atau memujinya?
"Kau sudah bangun eoh? Ayo! Berangkat bersamaku saja!" Aku menarik tangannya dan membantunya untuk masuk ke dalam mobilku. Setelah itu, aku pun menyusul masuk ke dalam mobil.
"Kau sudah sarapan?" tanyaku. Ia mengangguk. Cukup senang saat ia menggerakan kepalanya keatas-kebawah. Setidaknya dia merespon ucapanku.
"Mm.. kupasangkan sabuk pengamannya eoh." Aku mencodongkan tubuhku agar bisa meraih sabuk pengaman di samping Sungmin. Ahaaa!
"Hey lihat! Apa itu?" Aku menunjuk kearah luar dan..
'Cup'
Kulihat Sungmin membulatkan matanya antara kaget dan tak suka akan kelakukanku, mungkin. Dia semakin imut jika seperti itu.
"Umm.. mianhae chagi, apa aku keterlaluan?" Dengan santai tanganku mengelus-elus bekas ciumanku di pipinya.
Sungmin menepis tanganku dan menatapku dengan tajam. Apa aku benar-benar keterlaluan? Hanya karena aku menciumnya?
.
.
Kini aku dan Sungmin sedang duduk di bawah pohon yang rindang, di taman sekolah. Kami mengobrol, ya walaupun sebenarnya aku yang lebih banyak bicara. Sudah lama mengobrol kami terdiam sejenak.
"Umm.. k-kau tidak suka pelajaran tadi?" tanya Sungmin membuang kesepian.
"Huh?" Aku mengernyit bingung.
"Tadi k-kau tak mau diam."
"Hh.. aku sudah cukup pandai." kataku. Hey! Asal kalian tahu! Seorang Cho Kyuhyun itu pintar! IQ-ku saja tinggi.
Kulihat ia terkekeh mendengar ucapanku. Dia sangat manis saat tertawa kecil seperti itu. Mm.. kurasa dia sangat mudah untuk digoda. Ehmm.. biar kucoba!
"Salah kau mencuri perhatianku! Kau mengganggu konsentrasiku!" ucapku pura-pura sebal.
Sungmin malah terlihat bingung mendengar ucapanku. Wajah bingungnya saja menggemaskan!
"Iya, kau! Wajahmu itu! Membuat konsentrasiku hilang! Wajahmu terlalu cantik, aku sebal!" ujarku menggodanya.
Ia menunduk. Apa ia malu? Ya.. sedikit kulihat pipinya memerah tadi. Lihat! Dia mudah untuk digoda bukan. Ya walaupun semua wanita akan sangat senang digoda dengan seorang Cho Kyuhyun.
"Kapan kau akan sepertiku. Pasti sangat seru menjadi pasangan yang sama-sama pintar."
Aku tersenyum membayangkan jika saja Sungmin pintar, sama sepertiku. Pasti akan sangat manis bukan? Aku mengajari kekasihku belajar, mengerjakan soal-soal matematika yang sulit. Kalaupun kalian berpikir mengapa aku tak mengajarinya saja, itu salah. Karena aku tidak senang jika harus mengajari orang bodoh. Pasti akan sangat sulit dan melelahkan bukan? Dia pasti sangat lama untuk mengerti dan memahami apa yang kuajarkan.
Ehm.. maaf saja jika tadi aku bilang aku tak senang mengajari orang bodoh. Karena memang kenyataannya Sungmin seperti itu. Maaf Ming.. aku tak bermaksud! Sungmin bisa masuk di sekolah ini hanya karena kemahirannya dalam bela diri. Tapi aku tak mengerti mengapa sekarang ia jadi tidak bisa bela diri lagi. Beruntung sekolah masih berbaik hati membiarkannya tetap sekolah disini.
"Ah.. aku ke toilet sebentar eoh, kita bisa makan itu saat pulang sekolah. Kau bisa ke kelas jika kau mau. Sepertinya aku akan ke perpustakaan setelah dari toilet."
"A-ada apa?"
Kyuhyun menggeleng. "Tidak ada apa-apa! Hanya ingin baca buku saja. Kau ke kelas saja!" kataku sambil bangun dari posisi duduk dan pergi meninggalkan Sungmin.
Drrt.. drrt..
Aku merogoh sakuku dan mengeluarkan ponselku. Kulihat ada panggilan masuk dari.. kibum?
Dengan semangat aku pun mengangkat telfon darinya.
"Y-yeoboseyo Kyu?" aku tersenyum mendengar suaranya.
"Kyu.. dengar.. aku ingin minta maaf, aku salah menilaimu. Maaf karena aku sudah memutuskan hubungan kita ini.."
Aku terus berjalan menaiki anak tangga. Yap tujuanku berubah, aku tidak pergi ke toilet atau perpustakaan sekalipun. Aku malah berjalan menuju atap sekolah.
"Kyu.. kau mau memaafkanku? Umm.. aku.. aku ingin kita kembali.."
"Mwo! B-Bummie?" jeritku tak percaya.
"Ne, aku ingin bersamamu lagi Kyu.. aku membutuhkanmu.. kau mau kembali 'kan?"
Benarkah? Kibum mengajakku kembali menjadi kekasihnya? Aigoo!
"Kau benar?"
"Ne Kyu! Kumohon.." pintanya.
Aku menimbang-nimbang jawaban yang akan kuberikan pada Kibum. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk..
"Ne.."
"Sungguh! Kau benar Kyu?" kudengar ia berteriak. Apa dia sesenang itu karena aku? Ah.. tentu semua bisa terjadi karena aku Cho Kyuhyun.
"Ya Bummie.."
"Kyu! Saranghae! Jongmal saranghae!" Kibum berteriak girang lewat telpon.
"Ne Bummie! Nado.. kita bisa bertemu? Aku di atap sekolah."
"Ne, aku akan- sebentar Kyu.. aku akan kesana nanti, ada urusan yang harus kukerjakan pada seseorang!" aku mendengar suara Kibum yang berubah menjadi sinis dan ketus. Ada apa dengannya?
.
.
Malam ini aku melamun menatap langit-langit kamarku, memikirkan sosok manis itu. Siang tadi, dia benar-benar membuatku jengkel. Baiklah akan aku ceritakan.
Satu. Saat bel pulang berbunyi aku masih mencatat apa yang ada di papan tulis ke buku catatanku. Hingga aku sadar Sungmin berniat berjalan melewatiku, aku pun memanggilnya. Tapi ia seakan tak mendengarkanku yang sedari tadi memanggilnya. Hingga aku merasa kesal karena dia hanya diam saat aku ajak pulang. Uhh!
Dua. Aku berhasil membujuknya agar mau kuantarkan pulang. Di dalam mobil, aku memakan sandwich buatannya, aku juga menyuruhnya makan tapi dia bilang kenyang. Bahkan ia menjawabnya dengan malas. Dan ini membuatku benar-benar kaget, Tiba-tiba Sungmin menanyakan aku ada dimana sampai bel masuk tadi. Sontak aku terbatuk-batuk. Aku berbohong padanya, aku jawab aku ke perpustakaan padahal sebenarnya aku ke atap sekolah dan.. umm berciuman dengan seorang yeoja. Bukan Kibum.. aku bertemu dengannya setelah aku selesai bertelfonan dengan Kibum. Entahlah, kenapa aku melakukannya? Kurasa itu caraku untuk melampiaskan kebahagiannku karena aku dan Kibum kembali menjadi sepasang kekasih. Lagi pula untuk melakukannya dengan Kibum, aku harus menunggunya yang begitu lama untuk bertemu denganku di atap sekolah. Dia sempat bilang kalau dia ada urusan pen
Entah kenapa aku merasa kalau Sungmin tahu akan hal itu. Ia seperti berusaha menanyakanku dengan jelas tapi aku terus mengalihkan pembicaraannya. Bagaimana pun juga, tidak seharusnya dia bertanya seperti itu padaku dan mencoba mengintrogasiku.
Tiga. Tiba-tiba saja Sungmin menyuruhku untuk menurunkannya di sebuah halte saat aku sedang menyetir. Wajar, aku pun bingung. Rumah Sungmin masih jauh, dan untuk apa ia minta turun di tempat itu?
Aku pun bertanya padanya, tapi ia terus menggeleng, Sungmin seperti tidak mau menjawabku, dan dia telah menyulutkan api kemarahan padaku hingga aku memarahinya dan membentaknya. Tapi setelah aku membentaknya, dengan beraninya ia pergi begitu saja meninggalkanku.
Empat. Aku sadar aku telah membentaknya dan aku pun merasa bersalah akan hal itu. Aku pun mengikuti Sungmin hingga aku melihat Sungmin berhenti di sebuah panti asuhan dan mengobrol dengan seorang wanita paruh baya.
Tak lama ada seorang anak laki-laki yang mendatangi Sungmin. Wajah anak itu benar-benar mirip Sungmin. Hingga aku sempat berpikir apa itu adalah anak Sungmin? Hasil dari kepuasan seorang ahjussi tua dengannya? Tapi langsung kutepiskan pikiran konyolku itu. Tak mungkin Sungmin yang polos dan pendiam adalah mantan seorang pelacur. Tidak Mungkin!
Semua orang yang bicara pada Sungmin kini satu persatu pergi meninggalkan Sungmin. Aku pun berjalan mendekatinya. Kulihat ia sangat terkejut dengan keberadaanku yang secara tiba-tiba ada di belakangnya. Aku membujuknya, mengajaknya pulang, berusaha meminta maaf padanya. Hingga aku benar-benar kesal karena Sungmin hanya menunduk tak meresponku. Dan disaat itu aku berhasil mengendalikan emosiku yang hampir meledak.
Lima. Setelah sampai di depan rumahnya. Aku menanyakannya mengapa ia begitu berbeda. Tapi Sungmin mengacuhkanku. Aku langsung keluar dari mobil dan mengejarnya. Aku benar-benar tak suka diacuhkan olehnya. Dan.. disaat aku ingin menciumnya tiba-tiba saja Sungmin mengatakan sesuatu. "Apa kau mencintaiku?" dan pertanyaannya itu sukses membuatku terpatung di depan wajahnya. Aku benar-benar tak habis pikir Sungmin bisa mengatakan hal itu padaku.
Hh.. kelima kejadian itu benar-benar membuatku frustasi.
Sungmin memang polos tapi dia juga ternyata menyebalkan! Aku sempat berpikir, apa Sungmin marah karena melihatku berciuman dengan yeoja lain? Tapi bukankah di atap sekolah hanya ada aku dan yeoja jalang itu? Sungmin masih di taman sekolah bukan? Dan Kibum juga tidak tahu.
Kuambil ponselku yang tergeletak di meja nakas. Lalu mengetik namanya di kontak ponselku. Aku menimbang-nimbang untuk menelfonnya atau tidak. Jika aku menelfonnya aku tak tahu haris bicara apa, kalau aku tak menelfonnya, aku benar-benar akan penasaran mengapa ia begitu berbeda?
Akhirnya kuputuskan untuk menelfonnya. Kuharap dengan ini aku bisa tahu mengapa ia mengacuhkanku.
Aku menunggunya mengangkat panggilan dariku. Tak lama akhirnya ia mengangkatnya juga. Tapi ini sudah malam. Apa dia belum tidur? Atau terbangun karena panggilan telfonku?
"Yeoboseyo!" sapaku. "Minnie.. kau belum tidur? ini sudah malam."
Aku tak tahu kenapa, tapi di bagian ini! Di sekitar dadaku! Terasa seperti ada yang mendorong dan menariknya. Jantungku berdebar! Astaga Cho!
"Minnie.. kau-" ucapku terpotong
"Aku terbangun."
Mwo? Dia terbangun? Karenaku? Astaga apa yang kulakukan! Aku mengganggunya!
"Benarkah? Aish! Aku ini kurang ajar telah mengganggu putri yang sedang tidur. Ya sudah kalau begitu, aku-" lagi Sungmin memotong ucapanku. Ckckck..
"Tak apa, aku sudah dari tadi bangun dan kau menelfonku."
Benarkah Min? Sebenarnya aku tak rela jika harus mengakhiri sambungan telfon ini, hanya saja aku tak enak hati telah mengganggunya. Pasti ia sangat mengantuk!
"Sudahlah, lagi pula ini sudah-" astaga! Mengapa Sungmin senang sekalu memotong ucapan orang lain?
"Tak apa, sungguh!"
Tak apa? Jinjja? Entahlah Min.. aku rasa aku senang dengan ucapanmu tadi! Kau mengerti aku yang.. baiklah! Aku jujur! Kau mengerti aku yang.. merindukanmu..
"Aish kau ini! Bilang saja rindu dengan suaraku hehehe.." candaku berharap ia dapat tersenyum di sana.
"Minnie.." panggilku.
"Ya?"
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Ne, silahkan."
Aku mengambil nafas diam-diam. "Apa.. apa kau merasa tertekan jika bersamaku?"
Sungmin tak menjawab. Apa dia terlalu kaget dengan penuturanku?
"Min.. apa kau masih merasa gugup jika di dekatku?" Cho Kyuhyun! Itu pertanyaan gila! Aku yakin Sungmin tak akan menjawabnya!
Dan benar saja.. Sungmin diam.
"Kau masih disana 'kan? Apa.. apa kau masih menginginkan kita mengakhiri hubungan ini?"
Entah kenapa, dadaku terasa nyeri saat aku bicara seperti itu. Seperti ada yang mengganjal, seperti.. tidak rela..
"Min.. mengapa kau diam? Kau sudah tidur eoh? Min.. apa.. aku masih boleh memelukmu saat kau menangis?"
Entah pertanyaanku yang terlalu aneh hingga Sungmin tak dapat menjawabnya atau Sungmin memang ketiduran?
"Oh, kau sudah tidur ya? Ya sudah.. selamat malam Minnie, mimpi yang indah eoh!"
Aku mengakhiri sambungannya. Hhh.. aku sedikit lega. Wajahku memanas! Aish! Aku tak mengerti apa ini!
.
.
Pagi ini aku menjemput Kibum. Aku harus menjadi lebih baik lagi agar Kibum tak memutuskanku lagi! Sungmin? Aku tak tahu dia bagaimana akan berangkat ke sekolah? Apa sekarang ia sedang menungguku di depan rumahnya? Atau ia masih tak peduli?
Aku benar-benar kurang konsentrasi menyetir. Pikiranku membanyangkan sosok manis itu. Dadaku sedikit bergemuruh saat aku sadar aku lebih memilih menjemput Kibum dari pada Sungmin.
Bahkan kini aku sedang meminggirkan mobilku ke pinggir jalan. Setelah itu aku berdiam diri. Menjemput Sungmin? Atau Kibum? Sungmin atau Kibum? Sungmin dan Kibum sama-sama mandiri tapi Sungmin.. ia sangat polos dan pendiam. Bagaimana kalau nanti dia dalam bahaya? Tapi Kibum? Bagaimana dengannya? Dia akan marah padaku lagi karena aku tak menepati janjiku untuk menjemputnya pagi ini.
Akhirnya keputusanku jatuh untuk menjemput Kibum. Sungmin? Biarlah? Bukankah dia hanya pelampiasanku saja? Untuk apa aku begitu memperhatikannya?
.
.
Aku sudah sampai di depan rumah Kibum. Aku menunggunya sambil menyenderkan tubuhku di mobil. Ini sudah setengah jam aku menunggunya, kenapa ia belum keluar juga?
Aku mengambil ponselku dari saku. Lalu mengetik pesan untuk Kibum. Kucek jam yang terpampang di layar ponselku. Ini sudah jam masuk. Aish! Aku bisa telat! Ayolah Kibum! Mengapa ia lama sekali?
Hhh.. tak apa.. ini untuk Kibum, aku rela menunggunya!
Hebat! Ini sudah satu setengah jam aku menunggunya! Sial! Jangan-jangan dia sudah berangkat dari tadi dan jangan-jangan dengan orang lain! Wanita jalang!
Aku pun menaiki mobilku lagi dan entah kenapa aku malah mengarahkan mobilku ke arah rumah Sungmin. Kini, aku sudah sampai. Aku keluar dan mencarinya.
"Min!" aku berharap ia masih menungguku. "Min! Kau dimana?"
Aku berjalan menuju pintu rumahnya dan mengetuknya. Tapi pintu ini tak kunjung terbuka juga. Apa mungkin dia sudah berangkat sekolah, dan tak peduli mau aku menjemputnya atau tidak? Tsk! Kelinci nakal!
Aku pun memasuki mobilku dan menjalankannya menuju sekolah. Akh! Ini sudah jam istirahat. Hebat jika ada berita yang isinya tentang "Seorang siswa masuk sekolah di saat jam istirahat" oh itu benar-benar konyol! Aku ini murid teladan, aku pintar! Ish! Ini gara-gara Kibum!
.
.
Akhirnya aku bisa masuk ke dalam sekolah juga. Hhh.. hari ini melelahkan!
Benar saja! Sekolah sudah ramai karena ini jam istirahat. Aku pun memutuskan untuk ke atap sekolah. Saat aku berjalan ke arah atap sekolah aku bertemu dengan Kibum. Aku pun mendekat dan mencoba untuk membiarkan kejadian tadi pagi yang membuatku kesal itu.
"Mengapa kau berangkat duluan?" tanyaku sambil mengajaknya ke atap sekolah.
"Mianhae Kyu.. aku dipaksa Siwon.."
"Siwon?" tanyaku tak percaya. "Untuk apa dia memaksamu huh?"
"T-tidak tahu.."
"Benar?" aku menatapnya tak percaya. Dari nada bicaranya ia seperti berbohong.
Aku dan Kibum sudah sampai di tempat kesukaanku. Hhh.. disini benar-benar sejuk membuatku ingin menggelar tempat tidur dan tidur disini.
"Kyu.. kau marah?" tanya Kibum sambil memegangi kedua bahuku.
"Hhh.. lain kali jangan kau ulangi, arraseo?" kataku sambil membelai rambutnya.
"Mmm.." Kibum mengangguk. "Kyu.. kau punya yang lain selain aku 'kan?" tanya Kibum sontak membuatku terkejut. "Jujur saja Kyu.."
Aku diam sejenak. Aku harus jujur atau tidak? Aish! Dari mana dia tahu itu?
"Kyu.."
"Hhh.." aku menghela nafas. "Ne.."
"Dengan Sungmin bukan?"
Aku tercekat lagi. Kibum tahu? Aku tak habis pikir! Bagaimana dan dari siapa Kibum mengetahuinya?
"Mianhae Bummie.. tapi aku janji akan memutuskannya! Kemarin, aku hanya mencoba penggantimu.." ucapku jujur.
"Kau janji?"
"Ne! Aku janji!"
"Benar?" tantang Kibum membuat aku tersenyum.
"Rasakan dulu!" ucapku sambil menubrukkan bibirku pada bibirnya.
Aku terus meresapi bibir Kibum hingga Kibum seperti kehabisan bernafas. Rasakan saja! Suruh siapa dia memutuskanku huh!
"Kyummpphh.."
.
.
Aku memasuki kelas dan duduk di bangkuku di samping jendela. Jam istirahat sudah habis dan ini jam masuk kelas, tapi tak ada guru yang masuk ke kelasku. Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela, ke arah taman sekolah dan saat itu juga aku merasa tak suka melihat pemandangan di sana, di bawah pohon besar itu.
Aku melihat Sungmin dan Siwon berpelukan. Sialan! Apa maksud mereka melakukan itu! Kuda tengil! Berani-beraninya dia memeluk Sungmin! Awas saja jika mereka melakukan hal yang lebih dari berpelukan, akan kuhabisi Choi Siwon itu!
.
.
Astaga! Hampir saja aku terbawa emosiku saat lagi-lagi Sungmin berani mengacuhkanku. Aku tetap mencoba meredam emosiku dan memeluk Sungmin. Sungmin memberikan pertanyaan yang membuatku benar-benar bingung harus menjawab apa. Apa dia boleh memilikiku? Dengan terpaksa aku menjawab boleh..
Maaf Min.. tapi kau bukan orang yang kucintai. Kibumlah orangnya Min..
Sungmin mengakui dirinya mulai jatuh cinta padaku. Disitu aku bingung, antara senang dan tak mau. Jujur, aku tak mau juga Sungmin jatuh cinta padaku, karena selama ini yang kulakukan padanya hanya pelampiasan semata.
Aku menggodanya dan mencium pipinya. Kubilang pipinya harus diberi obat karena memerah merona. Aku menggodanya lagi. Ah! Menggoda Sungmin sepertinya memang cara yang tepat untuk menyenangkan hati. Lalu aku pun memberanikan diri memotong ucapannya saat ia bilang kalau ia mencintaiku. Aku memotong ucapannya dengan menempelkan bibirku pada bibir lembutnya. Demi apa! Aku menyukai benda yang kusentuh ini! Ini seakan membawaku terbang. Aih! Kalau saja aku tak sadar ada yang tak beres dengan wajahnya, dia pasti sudah habis ku.. eits! Jauhkan pikiran kotormu Cho!
Kutanya mengapa wajahnya membiru seperti itu? Wajahnya memar? Bagaimana bisa? Aku benar-benar khawatir. Tapi Sungmin bilang ini hanya tertabrak dinding, aku menahan tawaku. Bagaimana bisa dia menabrak dinding dan menjadi memar biru seperti ini? Kkk Sungmin.. Sungmin.. kau ini benar-benar kelinci nakal! Terlalu nakal menggodaku!
.
.
5 hari kemudian..
Aku tak tahu bagaimana aku harus menceritakannya. Yang pasti aku benar-benar bingung untuk menjelaskannya pada Sungmin.
5 hari belakangan ini aku selalu bersama Kibum, karena Kibum sendiri yang memintanya. Aku tak dibolehkan untuk bersosial lebih dekat lagi dengan Sungmin. Kibum bilang cukup menjalin status, tak perlu sampai lebih. Dan bodohnya aku menurutinya saja.
Aku tak tahu sejak kapan Sungmin mendengar percakapanku dengan Kibum di atap sekolah. Yang pasti saat aku berciuman dengan Kibum, Sungmin terjatuh dan membuat aku dan Kibum kaget. Aku yang lebih terkejut, aku mencoba untuk menjelaskannya tapi Sungmin malah menghentikanku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Jujur! Hatiku terasa sakit saat itu.
Aku hanya bisa berlari mengejar Sungmin sampai akhirnya Sungmin jatuh pingsan di koridor sekolah. Astaga! Sungmin pingsan karena ulahku!
Aku mencoba menjelaskannya saat ia sudah sadar walaupun aku tak tahu itu alasan yang tepat atau bukan. Aku tahu Sungmin benar-benar menahan emosi dan tangisnya. Sungmin yang pendiam saat itu berubah, ia mengeluarkan segala apa yang ia rasakan padaku. Jadi selama ini, Sungmin tertekan padaku? Sungmin merasa sengsara?
Sungmin berlari entah kemana, aku mengejarnya tapi aku tak menemukannya. Kupikir Sungmin berlari ke atap sekolah, jadi kuputuskan untuk berlari kesana. Sesampainya di atap sekolah, aku meneraki namanya, mencarinya yg justru tak ada disini. Entahlah, aku merasa khawatir padanya.
Kulihat pintu atap sekolah terbuka. Kukira itu Sungmin, tapi itu Siwon. Aku bertanya dimana Sungmin berada tapi Siwon malah menghajarku. Baik! Aku tahu mengapa Siwon seperti ini. Ia lakukan ini pasti karena Sungmin.
Badanku benar-benar tak kuat untuk berdiri. Siwon membentak dan terus memberikan tinjuan padaku. Satu hal yang membuatku terkejut saat Siwon membentakku. Siwon bilang aku mencintai Sungmin! Tapi selama ini aku tak menyadarinya. Benarkah?
Kulihat disana Sungmin berlari mendekat ke arahku dan Siwon. Oh.. tuhan terimakasih, akhirnya dia masih baik-baik saja, walau aku yakin hatinya tak baik. Aku sedikit lega saat melihatnya.
Sungmin mencoba mencegah Siwon untuk menghajarku lagi tapi sepertinya Siwon terlalu sayang pada Sungmin dan tak rela jika Sungmin tersakiti. Aku benar-benar merasa seperti nyamuk yang telah mengusik manusia dan tubuhku hancur karena mereka menepuku. Oh tuhan.. maafkan aku! Aku terlalu bodoh hingga tak menyadari apa yang kulakukan dan tak memikirkan akhirnya seperti apa. Aku benar-benar bodoh.
Sekarang aku mengerti rasa sakit yang dialami Sungmin. Coba saja aku sadar kalau aku memang mencintai Sungmin. Min.. aku minta maaf.. aku yang memintamu tapi aku yang menyakitimu. Aku ini idiot!
Sungmin.. jika memang nanti kau memaafkanku, kuharap kita masih bisa seperti kemarin-kemarin tanpa merasakan adanya kesakitan dalam hati kita. Tapi kalaupun kau tak memaafkanku, kuharap kau jangan membenciku.
Karena aku sadar Min.. yang Siwon ucapkan mungkin benar, atau memang sangat benar!
Aku mencintaimu..
.
.
To be continue..
Seperti janji author yang bakal update hari minggu.. tadinya pngen banget post pagi2 tapi ternyata author baru sadar chap ini belum selesai, jadi author harus bikin smpai selesai hehehe.. mianhae..
Chap ini khusus flashbacknya Kyuhyun. Jadi.. buat yang awal2nya bingung, kenapa Kyuhyun menjadikan Sungmin pacarnya, terjawab disini. So.. author harap chap ini bisa menjawab pertanyaan kalian dan semoga readers menikmati chap ini.
Di chap ini Kyuhyun ternyata acuh gak acuh sama Kibum. Jadi.. ini bisa dijabarin kalo Kyuhyun benar-benar suka sama Sungmin, tapi seperti yang Siwon bilang. Kyu gk sadar akan hal itu..
Ya udh readers gitu aja..
Review please..
