Because Of Love
.
.
Main cast :
Cho Kyuhyun.
Lee Sungmin.
Choi Siwon.
Kim Kibum.
.
Author : ChominJoy
Rate : T
Genre : Romance, Hurt/comfort.
Warning : Typo(s) dimana-mana, gaje, abal-abal, absurd, enggak sesuai EYD.
Disclaimer : Kyuhyun milik Sungmin, Sungmin milik Kyuhyun, mereka milik Joyers!
Ff ini murni buatan saya. Don't bash my fic! Don't like don't read! No plagiat, okay!
Summary : Bahagia, hanya itu saja yang Sungmin mau, bahagia bersama orang yang ia cintai. Apa itu begitu sulit untuk mendapatkannya? "Aku hanya ingin bahagia bersamamu, Cho Kyuhyun.."
.
Chapter 13
.
Sesampainya Kyuhyun di tempat yang ia tuju, Kyuhyun pun langsung berlari tergesa-gesa menyusuri lorong-lorong di dalam gedung bernuansa putih itu. Berlari dengan cepat meninggalkan Sungmin yang juga berlari jauh di belakangnya.
Sungmin tak mengerti apa yang terjadi. Ia sempat bertanya pada Kyuhyun di jalan tadi, terus bertanya apa yang sebenarnya terjadi walau Kyuhyun sama sekali tak membuka mulutnya. Tapi entah mengapa terbelesit rasa cemas, khawatir, dan takut pada diri Sungmin.
Sungmin melihat Kyuhyun mencoba masuk ke sebuah ruangan, tapi Kyuhyun dicegah oleh para pengawalnya. Ya memang ada beberapa pengawal di depan ruangan itu, pengawal keluarga Cho. Salah satu pengawal itu seperti bicara pada Kyuhyun. Dari gerak-geriknya pengawal itu seperti mengatakan bahwa Kyuhyun tidak diperbolehkan memasuki ruangan itu.
Sungmin berlari mendakat. Ia menarik nafas dan membuangnya, menstabilkan deru nafas lelahnya. Sungmin memandang bingung ruangan di hadapannya. Siapa orang yang ada di dalam sana? Lalu mengapa Kyuhyun terlihat sangat cemas?
"Eomma!" teriak Kyuhyun.
Sungmin sedikit mengernyit. Hatinya semakin merasa cemas saat Kyuhyun berteriak ke arah ruangan itu dan memanggil Eommanya. Apa jangan-jangan Eomma Kyuhyun yang ada di dalam sana? Benarkah?
"Aku harus masuk! Aku ingin melihat Eomma! Lepaskan aku!"
"Maaf Tuan.. dokter tidak memperbolehkan siapapun masuk." ucap salah satu pengawal sambil terus menahan tangan Kyuhyun.
"Tuan, tenanglah.. Nyonya Cho pasti baik-baik saja.." kini giliran seorang pria paruh baya yang pakaiannya berbeda dari beberapa pengawal itu. Pria itu mencoba menarik tangan Kyuhyun tapi Kyuhyun menepisnya dengan kuat.
"Bagaimana- bagaimana aku bisa tenang di saat keadaan seperti ini! Bagaimana aku bisa tenang di saat Eomma membutuhkanku di dalam sana. Bagaimana! Katakan!" teriak Kyuhyun lagi hingga membuat wajahnya memerah karena emosi.
Pria paruh baya itu tampak menghela nafasnya setelah mendengar ucapan sang tuan mudanya. Ya memang benar, siapa yang bisa tenang dalam situasi seperti ini.
"Setidaknya Tuan berdoa pada Tuhan agar Nyonya baik-baik saja di dalam sana. Dokter yang memeriksa Nyonya Cho juga pasti terganggu karena Tuan berteriak." ucap pria paruh baya itu dengan lembut. Mencoba menenangkan Tuan Mudanya yang ia anggap layaknya anaknya sendiri.
Kyuhyun tampak sedikit melemah, walau begitu ia tetap mencoba menerobos para pengawalnya agar bisa masuk ke dalam ruangan itu. Sedangkan Sungmin, ia mengerjab pelan mendengar ucapan pria paruh baya yang tadi bicara pada Kyuhyun. Sungmin pun memberanikan diri mendekati pria itu.
"Mm.. A-Ahjussi, boleh aku tahu apa yang terjadi?" tanya Sungmin gugup. Ia benar-benar cemas sekarang.
Pria yang diketahui bermarga Han itu menoleh pada Sungmin. "Nyonya Cho terkena serangan jantung tiba-tiba." jelas Han Ahjussi pelan.
Sungmin mengerjab kembali. Matanya bergerak beralih menatap punggung Kyuhyun yang kini terlihat lemas. Kyuhyun menunduk di hadapan pintu ruangan. Kedua telapak tangannya bergetar menyentuh pintu putih itu. Membelainya pelan seakan ia tengah membelai orang yang ia cemaskan di dalam sana.
Sungmin bergerak mendekati Kyuhyun. Menyentuh lengan pria tampan itu dengan iba lalu mengelusnya lembut. Mencoba memberi ketenangan padanya walau ia tak tahu Kyuhyun bisa melakukannya atau tidak.
.
.
Kurang lebih 30 menit mereka menunggu, dan kurang lebih 30 menit juga Kyuhyun terisak. Saat itu Sungmin hanya bisa diam. Ia takut, khawatir, sedih menghadapi Kyuhyun yang menangis. Baru kali ini rasanya Sungmin melihat Kyuhyun menangis. Menangis tersendak-sendak seakan benar-benar takut kehilangan.
Sungmin bisa merasakan itu. Badan Sungminpun bergetar menunggu kabar dari dokter tentang keadaan Nyonya Cho. Entahlah, ia sempat berpikir hal buruk tadi. Iapun sempat mencoba menyingkirkan pikiran buruknya, tapi ia malah merasa semakin takut dan cemas.
Sungmin hanya bisa berharap Nyonya Cho baik-baik saja. Ia merapatkan genggaman tangannya saat melihat beberapa orang berbaju putih bersih keluar dari ruangan itu.
Kyuhyun segera berdiri menghadap seorang pria paruh baya berkacamata yang tampak tersenyum miris pada Kyuhyun. Sungminpun ikut berdiri di belakang Kyuhyun.
"Bagaimana? Bagaimana dengan Eomma?" suara Kyuhyun bergetar. Terdengar sangat kecil dan pedih.
"Sebelumnya, Nyonya Cho sempat sadar, tapi detik selanjutnya keadaan beliau justru semakin parah hingga beliau kembali tak sadarkan diri. Maaf sebelumnya Tuan.. kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi.. Nyonya Cho tiba-tiba berhenti bernafas. Tuhan sepertinya berkehendak lain.." jelas sang dokter membuat tubuh Kyuhyun beringsut lemas.
"Maksud dokter Nyonya Cho- Ahjumma.." Sungmin menghentikan ucapannya dan menggeleng pelan.
"Maaf.. beliau tak bisa kami selamatkan. Maafkan kami.."
Mulut Sungmin membuka kaget. Dadanya bergetar hebat menyadari apa yang sempat ia pikirkan tadi menjadi kebenaran. Kebenaran hingga membuatnya merasa bersalah karena sempatnya ia berpikiran buruk.
Dokter dan yang lainnya menundukkan badannya hormat. Meminta maaf atas pekerjaannya yang tak bisa menyelamatkan pasiennya. Setelah itu mereka pergi.
Sungmin belum sadar sepenuhnya. Ia beralih menatap punggung Kyuhyun di hadapannya. Rasanya sangat sedih dan sakit melihat tubuh Kyuhyun lunglai, jatuh dan terisak menatap putihnya lantai. Rasanya iapun tak punya kekuatan lagi, sedikitpun. Bagaimana ia mencoba untuk menguatkan Kyuhyun jika dirinya sendiri merasa kecil?
Sungmin berjalan mendekat. Bukan, bukan pada Kyuhyun. Sungmin berjalan ke arah pintu itu. Menatap bagian yang transparan pada pintu itu, lebih tepatnya orang di dalam sana, seseorang yang tertutup kain putih.
Sungminpun memberanikan diri untuk membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu. Bahkan setiap langkah ia mendekat membuatnya sakit dan semakin sakit. Ia merasa dirinya berada di posisi Kyuhyun sekarang. Sakit. Sangat sakit kehilangan orang yang kita sayangi. Bahkan Sungmin yakin, Kyuhyun belum sembuh dari rasa sakitnya atas kepergiaan Appanya.
Ini terlalu cepat dan menyakitkan..
Sungmin berhenti melangkah. Perlahan tangannya bergerak membuka kain putih yang menutupi tubuh Nyonya Cho. Wajah cantik pucatlah yang pertama kali menyambutnya. Wajah itu sangat cantik walau beberapa kerutan terlihat di sana. Mata itu menutup, tampak tenang dan nyaman.
"Ahjumma.." panggil Sungmin lembut. "Ini aku.. Sungmin. Ahjumma mendengarku?"
Sungmin mencari tangan Nyonya Cho dan menggenggamnya. Ibu jarinya bergerak lembut mengelus tangan dingin pucat itu.
"Ahjumma.. kita baru saja bertemu beberapa hari yang lalu. Pertemuan pertama kali. Juga perpisahan terakhir. Ahjumma tahu, pertama kalinya aku melihat Ahjumma aku benar-benar senang. Aku juga merasa kagum pada Ahjumma. Ahjumma sangat cantik dan berwibawa."
Sungmin tersenyum kecil sambil memandang genggaman tangannya pada tangan Nyonya Cho. Sungmin sadar bahwa ia tengah berhadapan dengan jenazah sekarang, tapi ia benar-benar tak merasa takut sedikitpun berada sedekat ini. Bahkan sampai menggenggam tangannya dan mengajaknya bicara. Entahlah, mungkin ini hanya kemauan hatinya yang membuatnya berani.
"Ahjumma.. ingin sekali aku percaya bahwa ini tidak nyata. Percaya bahwa Ahjumma masih di sini, Ahjumma hanya tidur. Bolehkah seperti itu? Aku.. aku hanya ingin Kyuhyun tak merasakannya, lagi.." Sungmin menoleh sedikit ke belakang. Memperhatikan Kyuhyun yang duduk di lantai dan menangis hebat di sana.
Sungmin memejamkan matanya. Ingin sekali menangis, bahkan air matapun sudah siap meluncur. Tapi ia tak ingin menangis di hadapan Nyonya Cho. Nyonya Cho juga pasti akan sedih dan keberatan untuk pergi, dan itu tak baik. Tak baik menangisi kepergian seseorang.
Sungmin membuka matanya perlahan. Ingin sekali berharap jika ini hanya mimpi saat ia membuka matanya tadi. Tapi mungkin harapan tetap harapan. Ini benar-benar kenyataan.
"Ahjumma.. berbahagialah di sana. Aku berjanji akan menjaga Kyuhyun untuk Ahjumma. Kita memang baru sekali bertemu, tapi rasanya aku seperti menyayangi Ahjumma. Ahjumma, bolehkah aku memelukmu? Untuk pertama dan terakhir juga."
Sungmin diam menatap wajah pucat Nyonya Cho. Tak ada jawaban yang Sungmin dapatkan. Sungmin tersenyum tipis sebelum akhirnya ia memeluk tubuh dingin itu. Memeluknya dengan lembut seakan tak ingin mengusik tidur damainya.
Sekuat mungkin Sungmin menahan tangisnya yang hampir keluar juga air matanya yang hampir jatuh. Badan Sungmin bergetar memeluk tubuh pucat itu. Mulut Sungmin terbuka membisikkan sesuatu di telinga Nyonya Cho.
"Aku percaya Ahjumma bahagia di sana.. aku menyayangi Ahjumma.."
.
.
Keesokan harinya..
Kini, mansion keluarga Cho tampak sangat ramai, bahkan lebih ramai dari kemarin. Mansion itu dipenuhi tamu yang melayat dan memberi doa untuk kepergian Nyonya Cho. Nyonya Cho sudah dimakamkan kemarin sore, tepat di samping makam suaminya, Tuan Cho.
Semenjak mendengar Nyonya Cho meninggal, Kyuhyun terus menangis hingga larut malam. Bahkan saat pemakaman berlangsung Kyuhyun sempat berteriak memanggil Nyonya Cho. Kyuhyun menjadi lemah setelah tubuh Nyonya Cho benar-benar tak terlihat. Lebih lemah dari sebelumnya.
Keadaan itu membuat Sungmin harus menjaga Kyuhyun. Di rumahpun Kyuhyun masih tetap menangis. Ia mengurung dirinya di kamar, mengunci pintu kamarnya agar siapapun tak masuk terutama Sungmin. Sungmin hanya bisa menangis. Ia benar-benar prihatin pada Kyuhyun. Sama sekali Sungmin tak pernah melihat Kyuhyun selemah itu selama ini.
Dan kini, Sungmin tengah berdiri di depan pintu kamar Kyuhyun. Melakukan hal yang sama seperti tadi malam. Menangis.
Sungmin tahu Kyuhyun sangat berat kehilangan Eommanya, belum lagi kepergian Appanya yang bahkan belum terhitung sebulan. Duka Kyuhyun pasti sangat dalam. Tapi entah, Sungmin tak tahu siapa di sini yang memiliki duka dan sakit yang paling dalam. Apakah dirinya atau Kyuhyun?
Setidaknya Kyuhyun pernah memiliki orang tua dalam hidupnya bukan? Setidaknya ia pernah melihat orang tuanya sampai ia berumur 18 tahun. Sedangkan dirinya? Mungkin. Mungkin dirinya pernah memiliki orang tua. Secara umum memang iya, tapi jika melihat kenyataan? Mungkin ia pernah memiliki orang tua dan melihatnya hanya beberapa hari saja. Itupun saat keadaanya yang lebih sering tertidur, saat dirinya hanya bisa merengek kelaparan , saat dirinya tak tahu dan tak mengerti apa yang terjadi, hingga ia tak bisa mengetahui bagaimana rupa Eomma dan Appanya, siapa mereka, dan dimana mereka.
Semua tentang orang tuanya tidak bisa ia ketahui sampai sekarang. Bukankah itu duka yang sangat dalam? Sakit yang sangat menyakitkan?
Sungmin menarik nafas untuk dibuangnya. Ia menghapus jejak air mata yang membasahi pipinya. Tangannya bergerak mengetuk pintu itu perlahan. Beberapa kali ia lakukan karena sang pemilik kamar tak juga membuka pintunya ataupun sekedar menyahut.
Sungminpun memegang knop pintu. Ia tertegun saat ia membuka pintunya. Ternyata pintu ini tidak dikunci. Kapan Kyuhyun membuka kuncinya? Ah.. itu tidak penting.
Sungmin melihat Kyuhyun di sana. Memakai pakaian yang sama seperti kemarin. Sepertinya Kyuhyun tak berniat untuk melepas pakaian formal itu. Kyuhyun tengah berdiri memandang jendela kamarnya saat ini. Entah melihat apa? Mungkin angin?
Sungmin berjalan mendekat. Dari belakang, tubuh Kyuhyun memang lebih tegap dari kemarin, tapi Sungmin bisa melihat punggung tegap Kyuhyun bergetar kecil.
"Kyu.." panggil Sungmin setelah berdiri tepat di samping Kyuhyun. Yang dipanggil hanya diam. Menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong yang pilu.
"Kau ingin ke bawah? Tamu-tamu yang melayat mengatakan mereka ingin bertemu denganmu. Mungkin untuk.. mengucapkan mm.. d-duka cita.." ujar Sungmin pelan dan hati-hati. Ia benar-benar tak enak hati saat bicara seperti itu pada Kyuhyun.
Dan Kyuhyun tak merespon.
"Kyu.." panggil Sungmin lagi. Kini tangannya menyentuh lengan Kyuhyun dan mengelusnya pelan. "Ayo kita ke bawah.. mereka pasti menunggumu.."
Kyuhyun tampak memejamkan matanya sesaat. Setelah itu ia membuang nafasnya panjang dan kembali diam lagi.
"Kyu-
"Haruskah aku.. ke sana?" ujar Kyuhyun memotong ucapan Sungmin.
Sungmin tersenyum kecil hampir tak terlihat. Lega saja akhirnya ia mendengar Kyuhyun bicara. "Ne.. harusnya kau ke bawah."
Sungmin mengerjab saat tiba-tiba Kyuhyun menoleh dan menghadap padanya. Kyuhyun juga menatap Sungmin dengan mata yang memicing walau nyatanya tatapan itu tetap terlihat pedih.
"Untuk apa?" suara Kyuhyun lemah. "Apa untuk tersenyum pada mereka, mendengarkan mereka bicara, menjelaskan apa yang terjadi, dan mengatakan pada mereka bahwa aku baik-baik saja?" Kyuhyun menatap Sungmin ingin tahu.
Sungmin mengerjab lagi. Ia memandang mata tajam itu dengan gelisah. Bersalah lebih tepatnya. "K-Kyu.. maksudku-
"Kau kira aku bisa?"
Sekali lagi Sungmin memandang obsidan Kyuhyun. Lalu ia memutuskannya. Sungmin menunduk penuh rasa bersalah. Bukan, bukan maksud Sungmin menginginkan Kyuhyun melakukannya. Ia hanya tak enak hati pada para pelayat yang menanyakan keberadaan Kyuhyun. Dan bodohnya ia tak memikirkan perasaan Kyuhyun. Ia bahkan merasa lebih tak enak hati lagi pada Kyuhyun daripada mereka.
"Kau kira aku bisa melakukan itu semua? Pernahkah kau berada di posisiku?" Kyuhyun membuang tatapannya dari Sungmin dan berdecih pelan. "Tidak. Tidak karena kau tak memiliki orang tua."
Deg!
Sungmin mendongak dengan gerakan yang lambat, menatap Kyuhyun tak percaya. Kenapa? Kenapa rasanya sangat sakit saat melihat tatapan Kyuhyun saat ini? Benarkah? Benarkah Kyuhyun yang mengucapkan itu? Sungmin hampir tak percaya ini jika saja ia tidak sadar bahwa ia tengah menatap obsidan Kyuhyun.
Sungguh, tak pernah terlintas di benak Sungmin Kyuhyun akan teganya bicara seperti itu padanya, sedikitpun tidak. Karena yang ia tahu, yang ia percaya adalah Kyuhyun akan menjaga dan melindunginya. Bukan membuat hatinya merasa nyeri seperti ini.
Sungmin menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Jika saja ia bisa membela diri mungkin Kyuhyun juga hanya akan diam, sama seperti yang ia lakukan sekarang. Tapi hal apa yang bisa ia bela? Ucapan Kyuhyun memang benar dan tepat.
Kepala Sungmin tampak bergerak ke atas dan ke bawah dengan lambat. Mencoba berusaha menguatkan hatinya. "Ya.. kau benar, Kyu. Aku tak mungkin pernah berada di posisimu. Takkan pernah sedikitpun.."
Kyuhyun tersenyum kecil. Sungguh, Sungmin merasa Kyuhyun tengah meremehkannya. Benarkah ini Kyuhyun-nya? Kyuhyun-nya yang pernah berjanji akan membahagiakannya? Apa Kyuhyun tak sadar jika ucapan, perlakuan, bahkan tatapan Kyuhyun padanya sangat menusuk? Menusuknya hingga terasa amat sakit..
"Aku akan keluar. Maaf jika aku mengganggumu.."
Sekali lagi Sungmin menatap mata Kyuhyun dalam, memastikan bahwa orang yang di hadapannya ini benar-benar Kyuhyun-nya.
Ya. Sungmin percaya bahwa dia adalah Kyuhyun. Kyuhyun-nya yang berubah? Mungkin. Atau sedang tak sadarkan diri?
Sungmin mengangguk sambil tersenyum tulus pada Kyuhyun walau sangat sakit rasanya. Ia pun berbalik dan melangkah meninggalkan Kyuhyun.
.
.
Sungmin berlari meninggalkan mansion mewah itu. Tak peduli pada tatapan bingung para pelayat. Ia hanya ingin pulang. Pulang dan mungkin akan menangis besar di sana. Tempat yang kecil, tempat yang mungkin tak ada satu orangpun mau menginjakkan kaki di sana terkecuali dirinya. Tempat yang nyaman untuk menangis bukan? Sepi dan takkan ada yang peduli.
Sesampainya Sungmin di rumahnya ia langsung menutup pintu dan masuk ke dalam kamarnya. Terisak-isak dengan pilunya. Untuk saat ini ia tak bisa menjanjikan janji yang Kyuhyun berikan untuk dirinya. Ia tak bisa menahan sakitnya, karena hanya menangislah ia bisa mengadu. Mungkin perasaannya bisa tersampaikan.
Entah tersampaikan pada siapa?
"Kau kira aku bisa melakukan itu semua? Pernahkah kau berada di posisiku?"
"Hiks.. tidak.."
"Tidak. Tidak karena kau tak memiliki orang tua."
"Ya.. hiks.. hiks.."
Tangis Sungmin semakin membesar hingga membuat dirinya tersendak-sendak. Ia menghapus air matanya walau air mata terus mengalir dari pelupuknya.
"Apa kau berubah? Hiks.."
Sungmin membuang nafasnya, mencoba menenangkan dirinya untuk berhenti menangis. Begitu seterusnya hingga mata Sungmin lambat laun tertutup. Ia tertidur dengan wajah yang terlihat lelah, menyisakan garis cairan bening yang mulai mengering.
.
.
Tiga hari berlalu, terasa sangat lama bagi Sungmin maupun Kyuhyun. Tiga hari berlalupun menyisakan jarak antara mereka. Bukan, bukan Sungmin dan Kyuhyun sedang bertengkar, tapi karena tiga hari ini Sungmin sekolah tanpa bertemu Kyuhyun.
Kyuhyun hanya berdiam diri di kamarnya. Entah menangis ataupun melamun. Hanya itu pekerjaannya semenjak hari di mana mereka bertengkar kecil. Itulah yang membuat Kyuhyun merasa tiga hari ini waktu yang sangat lama, bahkan satu haripun terasa sangat-sangat lama bagi Kyuhyun.
Beratnya merelakan kepergian sang Eomma membuat Kyuhyun bingung harus melakukan apa. Rasanya semua aktivitas yang biasa ia jalanipun terasa percuma, buang-buang waktu, tidak penting, dan membosankan walau nyatanya yang ia jalani sekarangpun terasa lebih membosankan.
Sebenarnya Sungmin ingin sekali menjenguk Kyuhyun dan mencoba membuatnya tersenyum kembali. Tapi semenjak hari itu, setiap Sungmin mengingat Kyuhyun ia jadi merasa tak enak hati untuk bertemu Kyuhyun, atau mungkin lebih tepatnya tak mau melihat Kyuhyun karena kecewa. Ucapan Kyuhyun hari itu masih terlalu jelas di ingatannya.
Lagi pula, Sungmin rasa Kyuhyun pasti akan mengacuhkannya, ia akan diam dan melamun. Walau tak bisa dibohongi jika hatinya berteriak rindu pada namja tampan itu. Mungkin ini butuh sedikit waktu..
Dan hari ini sekolah libur, Sungminpun memutuskan untuk pergi ke luar. Mungkin ke panti asuhan. Ya, sepertinya iya, hanya itu satu-satunya tempat yang bisa ia tuju sekarang. Tempat yang cocok untuknya. Di sanalah ia takkan merasa sendiri, ia bisa merasa menjadi kecil lagi. Bermain-main tanpa memikirkan hal yang lain. Mereka sendirian tak punya siapa-siapa, tapi tidak jika mereka menyatu, saling menjaga dan menyayangi.
Tak terasa Sungmin sudah sampai di tempat tujuannya. Benar saja perkiraan Sungmin saat di jalan tadi. Anak itu! Dia tengah bersama gadis cilik. Duduk di atas rumput hijau sambil membaca buku bersama. Tapi sepertinya yang membaca buku hanya gadis itu saja, namja kecil di samping terlihat sedang mengganggunya bahkan memandanginya.
Sungmin terkekeh kecil sambil melangkah ke arah kedua anak kecil itu. Ia berhenti tepat di belakang mereka, sepertinya mereka tak sadar akan hal itu. Sungmin membungkukkan badannya hingga kepalanya berada di atas kepala mereka.
"Annyeong.."
Mereka tampak kaget karena mendengar sapaan Sungmin yang tiba-tiba. Lalu mereka menengok ke belakang. Sandeul, si namja kecil itu membulatkan matanya seakan tak percaya. Lalu ia menerjang memeluk Sungmin. Sepertinya Sandeul sangat merindukan Sungmin. Sedangkan Hana, gadis kecil itu hanya diam.
Sandeul melepaskan pelukannya. "Noona kesini? Ada apa? Rindu denganku?" namja kecil itu menyunggingkan senyuman menyebalkannya.
"Ne, aku merindukanmu.."
"Kkk~ itu pasti!" Saendeul menengok pada Hana. "Lihat! Orang-orang mudah merindukanku bukan!" katanya sambil tersenyum bangga. Hana hanya mendecih pelan.
"Noona ingin bertemu Park Ahjumma?" tanya Sandeul.
"Pasti. Dimana Ahjumma?"
"Ahjumma baru saja pergi." jawab Sandeul sambil menutup bukunya.
Sungmin mengernyit. "Pergi? Pergi kemana?"
"Mungkin ke pasar." Jawabnya singkat.
Sungmin mengangguk mengerti. "Ah ya, kalian lapar?" tanya Sungmin menatap kedua anak kecil di hadapannya. Tanpa menunggu jawaban mereka Sungmin sudah menarik tangan Sandeul dan Hana untuk bangun. "Ayo! Ajak teman-teman kalian. Noona akan memasakan makanan untuk kalian." kata Sungmin sambil menunjukkan plastik yang ia bawa.
Iya, Sungmin sengaja membawa bahan makanan untuk ia masak di panti asuhan. Sudah lama sekali ia tidak membuatkan makanan untuk anak-anak di sini. Sungmin pun pergi ke dapur di dalam panti asuhan. Sedangkan Sandeul dan Hana, mereka mengajak anak-anak yang sedang bermain untuk masuk ke dalam.
.
.
Sungmin tersenyum melihat lahapnya anak-anak makan, bahkan beberapa ada yang sudah menghabiskan makanannya dan meminta lagi masakan Sungmin, tapi yeah.. karena Sungmin tak membawa banyak bahan makanan dan hasilnyapun hanya sedikit yang untungnya cukup untuk semua anak-anak di sini.
Perlahan, senyum Sungmin memudar. Melihat anak-anak yang lahap makan ia jadi ingat dengan Kyuhyun. Apa sampai sekarang Kyuhyun tak mau makan? Bagaimana dengan keadaan namja itu sekarang? Apakah masih terpuruk sama seperti saat terakhir kali Sungmin melihatnya?
Sungmin tak tahu hal apa yang Kyuhyun pikirkan sampai membuat dirinya kosong. Sungmin hanya tahu bahwa Kyuhyun sangat terpukul akan kepergian ibunya.
Hanya dengan memikirkan Kyuhyun saja ia merasa sakit, merasa tak bersemangat bahkan merasa kecil. Apalagi jika saat ini ia melihat Kyuhyun yang hanya menatap angin kosong dan tak mau mengeluarkan sedikit katapun.
Begitukah rasanya kehilangan orang tua? Apa rasanya sangat perih dan sakit? Apa rasanya lebih sakit dari semua rasa sakit di dunia ini? Lalu apa ia bisa merasakan rasa sakit itu?
Tidak.
Tidak akan pernah.
"Tidak. Tidak karena kau tak memiliki orang tua."
Lagi. Lagi dan lagi. Selalu ini yang ia rasa saat mengingat ucapan Kyuhyun, ucapan orang yang dicintainya, ucapan orang yang mencintainya.
Ya, perasaan Kyuhyun pada sang ibu pasti lebih dalam dari dirinya. Kyuhyun pasti sangat menyayangi dan mencintai ibunya daripada dirinya.
Tidak. Bukan. Bukan Sungmin ingin Kyuhyun lebih mencintainya daripada ibunya sendiri. Tidak, itu hak seorang anak untuk mengasihi orang tuanya lebih dari apapun. Hak seorang anak melindungi orang tuanya dari semua bahaya. Hak seorang anak untuk membanggakan orang tuanya. Tidak seperti dirinya yang tak mempunyai hak itu. Sama sekali.
Sungmin menghela nafasnya panjang. Selalu seperti ini yang ia pikirkan. Mengecilkan diri sendiri hanya karena status dirinya.
"Noona.. mengapa melamun?" ujar Sandeul membangunkan lamunan Sungmin.
"H-huh?"
"Apa yang noona pikirkan?" tanya bocah cilik itu.
"Huh? Tidak.. tidak ada." Sungmin menggeleng kecil.
"Benarkah? Sejak tadi kuperhatikan kau seperti sedang murung." Sandeul memasukkan makanannya ke dalam mulut.
Sungmin menunduk. "Begitu ya.." ia menghela nafasnya.
"Eonni sakit?" tanya seorang gadis berambut pendek.
"Ah.. tidak. Mungkin hanya sedikit lelah." Sungmin tersenyum. "Sudah, cepat habiskan makan kalian." suruh Sungmin sambil bangun dari bangkunya. "Aku keluar sebentar."
Sungmin keluar dari gedung panti asuhan itu dan duduk di sebuah bangku kayu. Ia menaruh tas selempang kecilnya di meja kayu di hadapannya lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya itu.
Sungmin tersenyum pahit saat melihat layar ponselnya yang tidak menampilkan panggilan atau pesan singkat masuk. Biasanya ia sering mendapatkan hal itu dari Kyuhyun tiap harinya, ya walau terkadang Sungmin sendiri tak membalasnya. Sekarang, tak ada satupun kabar yang ia dapat mengenai Kyuhyun.
Sungmin membuka menu kontak dan mencari kontak Kyuhyun di sana. Jari Sungmin bergerak untuk memanggil kontak Kyuhyun setelah menemukannya, tapi ia mengurungkan niatnya. Sungmin meletakkan ponselnya di meja dan menatapnya.
"Aku harus bagaimana?" gumam Sungmin sambil menunduk.
"Sungmin.." panggil seseorang membuat Sungmin mengambil ponselnya dengan cepat dan memasukkannya ke dalam tas. Sungmin menoleh dan mendapati Park Ahjumma.
"Kau datang? Sedang apa duduk di sini? Kenapa tidak masuk?" kata Park Ahjumma sambil mendudukkan dirinya di samping Sungmin.
"Mm.. hanya duduk saja. Aku sudah masuk dan membuatkan makanan untuk anak-anak tadi." jawab Sungmin sambil menampilkan senyum manisnya.
"Ah.. pantas aku tak menemukan anak-anak berkeliaran di luar." wanita paruh baya itu menengok kanan-kiri mencari anak-anak asuhannya. Ia kembali menatap Sungmin sambil tersenyum.
"Ahjumma.." panggil Sungmin lembut.
"Hhmm?"
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Ne, tentu."
Sungmin menunduk sejenak kemudian melihat Park Ahjumma kembali. "Ahjumma.. apa saat orang tua Ahjumma meninggal, Ahjumma menangis hebat dan mengurung diri di kamar selama beberapa hari?"
Wanita itu kemudian diam sejenak sambil menatap wajah Sungmin. Entah kenapa ia mendengar dam melihat kesedihan pada diri Sungmin. Sepertinya Sungmin sedang ada masalah, pikirnya.
"Ya.. mungkin seperti itu, tapi Ahjumma tidak sampai mengurung diri di kamar, apalagi sampai berhari-hari." jawab Park Ahjumma akhirnya sambil tersenyum.
Sungmin mengangguk kecil dan menunduk. Sepertinya kau masih tidak rela atas kepergian Eomma dan Appamu ya Kyu?. Batin Sungmin.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Ahjumma membuat Sungmin mendongak.
"Ah.. tidak ada apa-apa Ahjumma." Sungmin tersenyum.
.
.
Sungmin berjalan dengan mata yang meneliti setiap pinggir jalan. Kakinya terasa lelah karena sudah 2 jam ia menyusuri jalanan. Selama itupun ia tak mendapatkan hasil. Tak terasa haripun sudah menjelang sore, membuat Sungmin ingin segera pulang, tapi Sungmin punya hal penting yang harus ia urus dan ia dapatkan hari ini juga.
Ya, keputusan Sungmin sudah bulat. Seharusnya ia tidak melakukan keputusannya ini, tapi mengingat betapa ia membutuhkan biaya untuk hidup, maka dari itu Sungmin memutuskan tetap akan bekerja. Jadilah ia di sini, mencari-cari kedai ataupun tempat yang sedang membutuhkan seorang pekerja.
Sungmin tak bisa hanya diam di rumah, karena jika ia hanya diam ia tak tahu bagaimana kehidupannya nanti. Akankah besok ia masih bisa makan? Sekolah? Dan hal lain yang ia butuhkan nanti.
Mengenai Kyuhyun yang melarangnya bekerja, entahlah.. mungkin Sungmin akan merahasiakan hal ini. Kyuhyun tak bisa menahan dirinya melakukan sesuatu untuk masa depan hidupnya. Sungmin tak mau hidup bergantung pada orang lain.
Rasanya sudah cukup ia merasakan jasa Park Ahjumma, karena Sungmin sadar Park Ahjumma tidak hanya mengurusi dirinya. Banyak anak di panti asuhan yang harus ia urus, belum lagi kehidupan beliau. Dia juga pasti memikirkan bagaimana dengan kebutuhan hidupnya ke depan?
Sungmin juga sudah memberitahu wanita itu bahwa dirinya akan bekerja paruh waktu. Awalnya memang Park Ahjumma berusaha melarangnya, tapi akhirnya ia membolehkan Sungmin untuk bekerja setelah mendengar penjelasan Sungmin. Sungmin memberitahu wanita itu alasan ia ingin bekerja termasuk karena Sungmin yang merasa tak enak hati pada Park Ahjumma yang selalu memberikannya biaya untuk dirinya.
Sungmin benar-benar kelelahan. Ia pun berhenti sejenak walau matanya tetap meneliti tempat-tempat yang ia kira membuka lowongan pekerjaan. Mata Sungmin berhenti di sebuah kedai yang lumayan besar. Itu kedai yang seharusnya menjadi tempat kerjanya sekarang.
Ya, kedai itu. Sungmin membaca tulisan yang ada di papan besar di atas atap kedia itu. 'Boom Jung' tulisannya dengan gambar dua buah boom yang menggantikan huruf 'O' di tulisan itu.
'Apa Ahjussi itu mau menerimaku lagi? Bagaimana jika ia marah karena aku tidak datang bekerja padanya? Dan bagaimana kalau Ahjussi itu sudah punya pekerja lain yang menggantikanku?'
Sungmin menggerutu dalam hati. Setelah itu ia diam sejenak dan tanpa disadari olehnya kakinya bergerak ke kedai itu. Dan Sungminpun sudah sadar bahwa dirinya sudah di depan pintu kedai itu.
Mata Sungmin bergerak melihat ke dalam kedai. Keadaannya cukup ramai di dalam. Sungmin bisa melihat satu pelayan yang sibuk pergi dan kembali ke meja makan untuk memberikan pesanan kepada pelanggan di dalam sana. Sungmin menghela nafasnya. Sepertinya Ahjussi itu sudah menemukan pelayan baru, batin Sungmin.
Sungminpun melangkahkan kakinya dengan malas. Tapi baru beberapa langkah ia berhenti saat melihat seorang lelaki paruh baya yang pernah ia temui sedang mengangkat banyak belanjaan dari motornya. Sungminpun menghampirinya.
"Ahjussi.." panggil Sungmin membuat pria paruh baya itu menoleh. "Ahjussi butuh bantuan?" Sungmin menawarkan diri sambil mengangkat beberapa belanjaan dari motor Ahjussi itu.
Pria itu tampak kebingungan melihat Sungmin. Sungmin hanya tersenyum. "Ahjussi, ini ingin diletakkan dimana?" tanya Sungmin.
"U-uh? Di-di sana saja!" Ahjussi itu menunjuk pintu belakang kedainya, matanya meneliti Sungmin dengan bingung.
Iapun mengikuti Sungmin dan menaruh belanjaan yang ia bawa di depan pintu belakang kedai sambil terus melihat Sungmin. Bingung saja tiba-tiba ia dihampiri seorang gadis, lalu gadis itu membantunya.
"Sudah.." Sungmin tersenyum. "Umm.. Ahjussi masih ingat aku?" tanya Sungmin setelah menaruh belanjaan Ahjussi tua itu.
"Umm?" Ahjussi itu tampak berpikir sambil melihat wajah Sungmin.
"Aku yang saat itu melamar pekerjaan di sini. Aku Lee Sungmin, Ahjussi ingat?"
Pria itu mengernyit. Usianya sudah cukup tua jadi sulit untuk mengingat sesuatu, tidak seperti dulu. "Entahlah, aku tidak begitu ingat." katanya.
"Ahjussi.. apa Ahjussi masih membutuhkan seorang pekerja lagi di kedai ini? Apapun itu.." Sungmin menatap Ahjussi itu penuh harap. "Ahjussi ingat, Ahjussi menerimaku untuk menjadi pelayan di kedai ini. Tapi maaf Ahjussi.. sampai sekarang aku tidak datang bekerja juga di sini. Saat itu aku.. mm.. saat itu sedang ada masalah, jadi aku tidak bisa datang. Maaf Ahjussi.." jelas Sungmin.
Ahjussi itu mengerutkan dahinya, berpikir dan mengingat-ingat lagi tentang apa yang Sungmin ucapkan. Lalu Ahjussi itu menatap Sungmin dari atas sampai bawah. "Kau.. mm.. sepertinya aku sedikit mengingatmu."
Sungmin tersenyum. Ia mendekat pada Ahjussi itu. "Ahjussi.. masih bolehkah aku bekerja di sini? Aku benar-benar akan bekerja dengan baik nanti, aku janji!"
.
.
Sungmin tersenyum sambil melangkahkan kakinya dengan semangat. Hari sudah hampir malam sekarang itu karena tadi ia sempat bekerja beberapa jam di kedai yang ia tuju tadi. Seharusnya Sungmin bekerja siang besok setelah ia pulang sekolah, tapi karena Sungmin ingin mencoba pekerjaan pertamanya sebagai pelayan hari ini, jadilah Sungmin pulang saat menjelang malam. Dan baiknya, Ahjussi itu memberikan upah hari pertama padanya, yah walau sedikit, setidaknya ini akan berguna untuknya.
Kini langkah Sungmin melambat, matanya menatap kosong seperti tengah memikirkan sesuatu, wajahnya terlihat menjadi khawatir.
'Apa Kyuhyun besok sekolah? Bagaimana kabar dia? Apa dia sudah makan?'
'Aku merindukannya..'
'Aku rindu Kyuhyun..'
Kaki Sungmin berhenti melangkah. Matanya bergerak gelisah. Ingin sekali ia pergi menjenguk Kyuhyun, tapi kenapa hatinya menolak secara bersamaan. Sungmin sadar dirinya egois karena lebih memikirkan perasaannya akibat ucapan Kyuhyun yang masih terngiang diingatannya.
Mungkin saja Kyuhyun tak sengaja dan tak bermaksud saat itu, dan mungkin saja Kyuhyun sedang membutuhkannya sekarang. Pasti Kyuhyun kesepian.
.
.
"Aku Lee Sungmin, boleh aku masuk?"
"Ah.. Nyonya Lee Sungmin, kekasih Tuan muda Cho?"
Sungmin tersenyum tak enak hati, rasanya tak nyaman saat pengawal Kyuhyun di hadapannya ini memanggilnya setinggi itu. Rasanya tak pantas ia dipanggil dengan begitu besarnya. Ia hanya orang biasa yang kebetulan menjadi kekasih Tuan muda mereka.
"Tapi Tuan muda Cho sedang kedatangan tamu." lanjutnya.
"Tamu? Siapa?" Sungmin menunduk kecil karena pertanyaan tidak sopannya. Seharusnya ia tidak boleh mencampuri urusan orang lain.
"Sepertinya pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan Cho Corp, perusahaan mendiang Tuan Cho." jelas pengawal itu.
Sungmin menghela nafasnya. Mungkin ia datang di waktu yang tidak tepat. Kyuhyun pasti sedang sibuk membicarakan perusahaan Appanya. Apa yang akan ia lakukan jika ada di dalam sana?
"Mm.. kalau begitu lebih baik aku-
"Maaf Nyonya Lee, sudah beberapa hari ini Tuan muda Cho tidak mau keluar juga dari kamarnya. Bahkan saat inipun Tuan muda Cho tetap mengunci pintu kamarnya. Sepertinya Tuan muda Cho butuh Nyonya Lee,hanya Nyonya Lee yang bisa menakluki Tuan muda Cho." pengawal itu menatap Sungmin dengan harap.
"T-tapi.. di dalam ada tamu yang akan membicarakan masalah perusahaan dengan Kyuhyun. Aku pasti akan mengganggu.."
"Dan bagaimana caranya mereka bisa membahas perusahaan jika Tuan muda Cho tidak mau keluar kamar? Nyonya Lee tak akan mengganggu, biar saya antarkan Nyonya dan saya akan bicara pada tamu Tuan muda untuk mempersilahkan Nyonya membujuk Tuan muda keluar. Mari.."
Pengawal itu menatap Sungmin sambil tersenyum, mempersilahkan Sungmin berjalan lebih dulu. Akhirnya dengan terpaksa Sungminpun melangkahkan kakinya ke dalam area mansion Kyuhyun.
.
.
"Kyu.. kumohon bukalah.."
Tok! Tok! Tok!
"Kyu.. ini aku Sungmin."
"Cho Kyuhyun.."
Sungmin menghela nafasnya. Ia tak tahu apa yang Kyuhyun lakukan di dalam sana. Sudah sejak tadi ia memanggilnya, tapi Kyuhyun tak mau keluar juga, bahkan untuk sekedar gumaman penolakanpun tak Sungmin dapat.
Tamu yang dimaksud pengawal Kyuhyun tadi benar seorang pria pemilik perusahaan, perusahaan besar yang sedang bekerja sama dengan Cho Corp. Sungmin belum tahu gerangan apa yang membawa pria itu kemari. Apakah untuk membahas investasi perusahaan mereka atau sekedar membuat rencana-rencana untuk kerja sama mereka.
Yang Sungmin pikirkan, siapa yang sekarang memegang perusahaan Cho? Sedangkan Nyonya dan Tuan Cho sudah meninggal. Apa kini Cho Corp ada di tangan Kyuhyun? Tapi sedangkan Kyuhyun masih sekolah. Apa Kyuhyun sudah mengerti tentang perusahaan mendiang Appanya? Entahlah..
"Kyu.. ini aku Sungmin. Kau dengar? Kyu, ada tamu di bawah yang menunggumu, dia ingin bicara padamu. Keluarlah Kyu, kumohon.."
Sungmin mengetuk pintu kamar Kyuhyun lagi, hingga Sungmin merasa sedih dan kesal. Sungmin berbalik, ia menyenderkan punggungnya di pintu sambil memejamkan matanya sesaat.
"Kyu.. kau mau tahu sesuatu?" Sungmin diam sejenak menunggu jawaban Kyuhyun. Sungmin sudah pasti tahu kalau Kyuhyun tak akan meresponnya. Sungmin mengangguk kecil sambil tersenyum pahit dan menghela nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Kau tahu, terkadang aku iri padamu- ah bukan, sepertinya pada semua orang. Semua orang yang punya tempat bersandar." Sungmin lagi-lagi tersenyum pahit. "Tempat bersandar yang akan selalu ada untukmu, tempat dimana kau mendapatkan perhatian, tempat yang akan selalu menyemangatimu saat kau terjatuh, tempat yang.. abadi di dalam jiwamu.."
Sedangkan di dalam kamar, Kyuhyun yang memang sejak tadi sudah berada di depan pintu kamarnya kini hanya bisa diam. Ia menyenderkan tubuhnya di pintu kamarnya, mendengarkan kalimat yang Sungmin ucapkan di luar sana.
Tatapan Kyuhyun terlihat kosong, sendu, dan menyedihkan saat melihat kamarnya. Bukan, bukan karena kondisi kamarnya yang sudah tak berbentuk karena ia sempat mengamuk pada diri sendiri dan melampiaskannya pada barang-barang yang ada di kamarnya. Bukan.
Ia hanya sedang meratapi dirinya sendiri. Dirinya sendiri yang kini benar-benar sendiri. Kepergian keluarganya satu persatu benar-benar membuat luka perih di dalam dirinya. Saudara? Tentu Kyuhyun masih punya saudara. Tapi untuk apa mengharapkan saudara yang seakan bisa hidup sendiri, tak butuh dan tak peduli orang lain. Semua saudaranya seperti itu. Jadi untuk apa mengharapkan keberadaan mereka.
"Terkadang tanpa mereka mengucilkanku aku akan tetap merasa kecil. Melihat mereka bisa mendapatkan kasih sayang dari tempat di mana mereka bersandar saja sudah membuatku merasa tak berguna. Kau tahu, sebenarnya aku tak pernah merasa dikucilkan oleh mereka, aku senang mereka mengucilkanku, bukankah itu berarti mereka memperhatikanku? Haha.." Sungmin tertawa tertahan. "Tidak, aku hanya bercanda. Tapi kau harus tahu Kyu kalau aku ini orang yang tegar!"
Sungmin memejamkan matanya kembali. Ia menggigit bibir bawahnya kuat, menahan matanya yang memanas akibat air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.
Sungmin mengambil nafas panjang dan berusaha tetap tersenyum. "Aku cukup bahagia dengan diriku yang seperti ini. Kau harus tau itu, Kyu! Hidupku yang seperti ini membuatku merasa seperti sedang berpetualang. Aku tidak sendiri Kyu, aku bersama dengan diriku, merasakan satu-persatu rasa bersama-sama. Manis pahit aku tetap menjalaninya.."
"Tapi satu hal yang benar-benar membuatku penasaran, Kyu. Kira-kira kau bisa menjawabnya tidak?" Sungmin tak mendengar jawaban Kyuhyun. "Kyu.. boleh kutahu bagaimana rasanya menjadi dirimu? Boleh kutahu bagaimana rasanya mempunyai seorang Eomma dan Appa?"
Setetes cairan bening jatuh begitu saja dari mata Sungmin. Sungmin segera menghapusnya. "Boleh kutahu itu?"
Sungmin berbalik menatap pintu kamar Kyuhyun dengan sedih, sedih jika membayangkan diri Kyuhyun yang seperti bukan dirinya yang dulu. Sungmin menunduk membuang nafasnya dan tersenyum.
Sungmin menunggu jawaban Kyuhyun. Tapi Kyuhyun tak juga bersuara.
"Sepertinya kau memang betah di dalam. Aku akan bilang pada tamu itu untuk-
Ceklek!
Sungmin mengangkat wajahnya. Matanya mengerjab menatap mirisnya wajah Kyuhyun. Rambutnya berantakkan tak tersisir, kantung mata yang terlihat dengan jelas, badannya yang sekarang terlihat lebih kurus, dan pakaian yang terlihat lusuh menggambarkan diri Kyuhyun sekarang. Kyuhyun sepertinya benar-benar frustasi.
Sungmin maju satu langkah mendekati Kyuhyun sambil tersenyum. Tangannya bergerak menyentuh pipi tirus Kyuhyun dan membelainya lembut. Sungguh Sungmin merindukan wajah ini. Walau Kyuhyun terlihat berantakkan, ia tetap terlihat tampan di mata Sungmin.
"Apa kabar Kyu?" Lagi. Air mata jatuh meluncur ke pipi Sungmin.
.
.
Sungmin's Pov.
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi kini. Tamu ini membicarakan masalah perusahaan dengan sangat tegas. Sejak tadi wajahnya menggambarkan kalau ia tengah menahan amarahnya. Seperti yang kupikir bahwa Kyuhyun akan tetap diam seperti sebelum-sebelumnya di hadapan tamu ini, benar saja. Sejak keluar dari kamar, Kyuhyun tetap saja seperti sebelumnya, bahkan sampai pria ini mengajaknya bicara saja Kyuhyun tetap diam menatap udara dengan kosong. Untung saja saat ini ada seseorang asisten keluarga Cho yang ikut serta dalam pembicaraan ini. Kalau tidak salah aku pernah melihatnya, di rumah sakit saat Eomma Kyuhyun meninggal.
Dan mengenai pembicaraan mereka, awalnya aku ingin pergi karena rasanya tak enak mendengar percakapan orang-orang penting macam mereka, tapi tamu ini bilang aku harus menemani Kyuhyun di sini.
"Maaf Tuan sebelumnya, saya juga tidak menyangka ini akan terjadi, semua terjadi di luar pemikiran saya. Sungguh, sayapun sangat terkejut dengan berita ini." kulihat asisten keluarga Kyuhyun itu melihat koran yang sejak tadi ada di atas meja. Ia menatap koran itu dengan tatapan tidak percaya.
"Apa yang sebenarnya terjadi!" Tamu itu terlihat sangat marah.
"Maaf Tuan jika semua ini merugikan perusahaan anda. Seperti yang anda ketahui sebelum-sebelumnya, kami hanya mencoba untuk membangun kembali perusahaan Cho dengan bekerja sama dengan perusahaan anda. Kerja sama kami mendapatkan hasil yang sangat baik, namun saya kira semua juga berjalan dengan baik sampai pada akhirnya. Tapi ternyata salah satu pihak yang bertanggung jawab atas kerja sama ini mempunyai niatan buruk." jelas asisten keluarga Kyuhyun.
"Ya! Aku sudah mendengar hal itu. Pria brengsek! Berani-beraninya dia! Siapa nama pria brengsek itu!"
Aku menatap tamu itu takut. Menurutku ini bukan masalah yang kecil, raut wajah tamu kaya ini seolah menunjukkan bahwa ia kehilangan sesuatu yang berharga. Ia terlihat sangat emosi. Ia juga tidak sungkan untuk mengeluarkan emosinya di tempat tinggal orang lain.
"Nama beliau Shin Seol Jae. Mungkin kami salah karena telah begitu mudah mempercayakan hal ini pada beliau. Saya mewakili Tuan Seol Jae meminta maaf atas kecerobahan kami, kami akan mencoba mencari keberadaan beliau. Mohon maaf-
"Kau kira maaf saja cukup!" ucapan asisten keluarga Kyuhyun terpotong saat tamu ini semakin meluapkan emosinya. Ia berdiri dan menatap tajam asisten Keluarga Kyuhyun. "Kau tahu, kerugian yang kudapatkan adalah 90 persen! Apa yang Cho Corp berikan saat kerja sama dilakukan huh! Perusahaankulah yang paling bekerja di sini dan apa yang kudapat?! Kau kira kata maaf bisa mengembalikkan uangku dan membawa pria brengsek yang membawa lari uang itu kembali huh!"
Aku menatap prihatin asisten keluarga Cho. Rasanya tak adil jika pria ini membentak orang yang bahkan tak bersalah. Dari ucapannya aku sangat tidak senang, dia sepertinya lebih mementingkan uangnya daripada perusahaannya. Aku sekarang sedikit mengerti masalah apa yang terjadi di sini.
"K-kami berjanji akan mencari keberadaan Tuan Seol Jae, Tuan.."
Pria itu berdecih sambil berbalik. Aku sontak terkejut dengan tatapannya yang tajam. Dia menatapku, lalu beralih pada Kyuhyun. Aku bergerak antara gelisah dan takut. Pria itu menoleh kepada beberapa pengawal yang sejak tadi memang ada di sekitar ruangan ini. Lalu pengawal-pengawal itu berjalan ke arahku dan Kyuhyun seakan Pria kaya ini memang menyuruh mereka.
Aku terkejut saat melihat ketiga pengawal itu memegang Kyuhyun. Akupun mencoba menyingkirkan tangan mereka, tapi aku gagal akan usahaku menjauhkan mereka dari Kyuhyun. Kukira mereka pengawal Kyuhyun, tapi ternyata tamu ini membawa pengawalnya juga. Akhirnya aku hanya bisa menatap khawatir Kyuhyun yang tetap tak bergeming sama sekali.
Kulihat tamu kejam itu mendekati Kyuhyun. Dia berjalan angkuh dan marah secara bersamaan.
"Tuan Cho Kyuhyun.." pria itu menatap Kyuhyun yang menunduk tak peduli pada keadaan sekitarnya. "Kau sudah tidak punya orang tua sekarang. Bagaimana rasanya huh? Menyedihkan sekali kau! Tapi kau akan merasa lebih menyedihkan lagi daripada ini!"
Aku menjadi marah saat benar-benar tahu bahwa sikap pria itu sangat jahat. Apa semua orang kaya seperti itu? Gila harta sampai membuatnya lupa akan dirinya sendiri?
Pria yang tidak kuketahui namanya itu berbalik menatap asisten keluarga Kyuhyun. "Kau akan bebas setelah berhasil menemukan Seol Jae brengsek itu! Tapi mulai sekarang kau tidak akan bekerja untuk Tuan Cho ini lagi.
Apa? Berhak atas hal apa dia memecat asisten keluarga Cho? Aku benar-benar ingin memukul kepalanya yang bahkan hanya mempunyai sedikit rambut.
"Untuk Cho Corp, akan kubiarkan perusahaan itu. Aku tidak peduli jika perusahaan itu bangkrut atau kembali membaik."
Ucapan angkuhnya membuatku ingin mengepalkan tanganku dan memberinya tinjuan yang pernah kupelajari dulu. Tapi sayangnya aku terlalu takut melakukannya..
"Kau!" Dia membalikkan badannya dan menunjukku. "Kau bawa Tuan muda ini. Berikan dia tempat tinggal karena mansion ini bukan miliknya lagi. Mansion ini bukan milik keluarga Cho! Mansion dan asetnya, anggap saja ini sebagai ganti rugi yang Cho Corp lakukan!"
Aku membelalakan mataku terkejut sekalipun tak percaya. Mansion keluarga Kyuhyun.. Oh Tuhan.. aku harus bagaimana?
.
.
Hiks.. hiks.. maaf baru dateng chap 13nya
Gak bermaksud kok.. aku lagi sibuk dan baru menyempatkan untuk bikin dan publish. Mianhae..
Iya iya aku tau. ceritanya makin gaje kan? Iyakan iya? Sumpah beneran aku gk tau lgi hrus bikin scene kyak gimana. Bekas kesibukan2ku ditambah lagi aku yang udh lama gk buat2 fic jdi bkin aku kesulitan nyari ide. Mianhae chingudeul..
Jongmal mianhae...
Rasanya juga aku udh gk semangat lagi bikin fic. Bahkan aku sempet mikir, aku pngen hapus aja fic2ku. Tapi klo inget reviews dan readers aku jadi... hahh.. aku bahkan jadi baperan gara2 mikirin fic2ku.
Adakah yang bisa membantu ChominJoy!
Hahh.. sudahlah. Baperannya selesai. Aku mau ucapin selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan *telatyee gk berasa berapa hari lagi lebaran. Yeee..
Dan... dan... dan..
Happy Kyumin Day! 137 wuuhuhuu #goyangbarengddangkoma
Tapi.. yah.. daddy alone.. mommy kemana? ;( mommy wamil apa hamil cih(?) Moga2 pulang2 bawa kabar baik yah.. bawa anak hasil kyumin gitu(?) Atau ngasih tau media klo kyumin emang punya hubungan lebih gitu.. apa kek! Pokoknya cepet pulang buat mommy ming yh. Miss you mom :*
#happyKyuminDay #HappyJoyDay
Sekali lagi maaf kalo jelek, mohon dukungan untuk ke depannya chingudeul..
Gomawo..
Salam joyers! :*
