Dislaimers : Kuroshitsuji belongs to Yana Toboso. I'm just write this story.
Rating : T (for now)
Pairing : Sebastian Michaelis , Ciel Phantomhive, Original Chara etc (Increasing every step)
Genres and warnings : AU-Modern Setting , Language, character development, Drama, Angst, Bad Words, Original Chara, maybe OOC, OOT, etc .
Author notes : Halloo...
Makasih ya buat yang udah review di chap pertama ^^ Senang dengan reviewnya hehhee... '-'V
Nah buat yang minta SebasCiel itu langsung jatuh cinta itu nanti ya, kita ikuti saja jalan ceritanya dulu biar alurnya kecepatan dan feelnya gak berasa /plak. Saya minta maaf kalau di chap 1 agak berantakan ceritanya, soalnya saya baru ngerti nulis disini . Nah, saya ingin balas beberapa Review nih ..
Ryuusuke583 : Arigatou.. hehe iya nih, ini fanfic SebasCiel kok. Kalau untuk urusan jatuh cinta itu nanti yaa, diikuti saja jalan ceritanya. hehe .. Makasih sudah review ^^/
gjj : Agak ngebingungin ya? hehehe, maaf deh, soalnya ini baru ide awal buat cerita. Nanti kedepannya diperbaiki lagi deh ceritanya. Makasih sudah review ^^/
hikari : Ini sudah lanjut yaa ^^ Makasih sudah review ^^/
Akasuna no Zaa-chan : Sebastiannya udah muncul di chap ini yaa, hehehe... Untuk kali ini Sebas-channya belum terlalu mesum, nanti akan saya buat dia mesum berlebihan /plak . Makasih sudah review ^^/
And now.. DLDR ^^/ Go away ! Happy reading ^^
-Black Hole-
(A new life?)
Lantai ruang utama terdiri dari keramik-keramik yang mahal. Sofa beludru disudut dan beberapa lemari berdiri kokoh di ruangan yang tak lebih besar dari sebuah perpustakaan di sekolah mahal. Keindahan nyata, klasik, tapi tak tampak berlebihan. Sang pelayan memang pintar menyusun peralatan-peralatan yang ada dirumahnya.
Wanita bermata odd-eyed berjalan pelan menuruni tangga, melihat sang pelayan sedang mengelap meja.
"Bagaimana Kurose? Kau menemukan sesuatu?" tanyanya. Wardrobe putihnya menampakkan paha mulusnya saat menuruni tangga -karena keluar melalui perpotongan kain- .
Kurose menoleh. "Saya sudah kesana tadi, tapi mereka bilang mereka tak menemukan mayatnya. Mereka hanya menemukan pelayan tua yang bersembunyi tak jauh dari tempat kejadian."
Sang wanita mendengus. "Kita pergi kesana sekarang!" berbalik dan kembali naik keatas.
Kurose tersenyum dan sedikit menunduk. "Yes, my lady!" ..
.
.
.
.
.
Tak jauh dari pusat London, seorang lelaki kecil berlari dengan langkah terhuyung. Perutnya kosong, tubuhnya sudah kehabisan banyak darah. Kulitnya pucat dan rasanya ia akan hilang kesadaran sesaat lagi.
Gorden putih sudah ternoda dengan bercak-bercak merah.
Selangkah. Dua langkah. Dan akhirnya terhenti.
Tubuhnya tak kuat lagi untuk tersadar dan bertahan. Namun sebelum hilang kesadaran, ia merasa ada seseorang yang menahan tubuhnya sebelum ia terjatuh.
.
.
Ciel tersadar dari tidurnya. Mengerjap-ngerjap beberapa kali dan akhirnya tersadar sepenuhnya.
Tunggu dulu.
Ia tak mengenal ruangan ini. Dimana ini? Atau jangan jangan...
CKLEK... (?)
Menoleh. Seorang lelaki tinggi masuk membawa nampan jalan yang diatasnya terdapat beberapa cangkir, piring dan teko air. Ciel mengernyit, siapa lelaki ini?
"S-siapa kau?" hardik Ciel. Suaranya serak karena terlalu lama tidur. "Dimana aku?"
"Anda bisa memanggilku sesukamu." menuang sebuah cairan kedalam sebuah cangkir. "Aku melihatmu didalam hutan dengan sebuah kain gorden yang melilit tubuh telanjangmu. Apa yang kau lakukan sehingga telanjang begitu? Lari dari pemerkosa?" serunya pelan. Jemari terbalut sarung tangan putih bergerak lincah diatas nampan tersebut.
Tersadar, pemuda yang lebih kecil melihat kearah tubuhnya. Membalik kain melihat kearah perutnya dan terkejut. Dimana luka sayatan itu?
"Saya rasa anda pasti lapar. Bagaimana kalau anda makan beberapa suap cake ini dan minum teh." Memberi cangkir teh dengan cawan pada lelaki yang lebih muda.
Ciel memegang cawan itu dengan telapak tangan kirinya, dan melingkarkan ibu jari serta telunjuk tangan kanannya ditelinga cangkir teh yang ramping. Menyesap teh perlahan-lahan dan penuh perasaan -mencari ketenangan dari minum teh. Meletakkan kembali setelah beberapa kali tegukan. Lelaki dewasa menatapnya dalam diam, matanya menatap 'lapar'. Sedikit tersenyum tipis melihat pemuda itu menatapnya takut.
"K-kau tau siapa aku?" tanya Ciel pelan. Takut melihat pria didepannya.
"Tidak". Memberikan sepotong Tiramisu Cake pada pemuda didepannya. "Saya tak mengenal begitu banyak orang. Anda belum menjawab pertanyaan saya sebelumnya."
"Aku tak ingin menceritakannya." mengambil sesendok lalu memasukkan makanan manis itu ke dalam mulut. Kembali menaruh piring keatas nampan setelah merasa kue itu terasa sedikit hambar. Sang pria diam. "Bisa kau bawa aku pulang? Aku ingin melihat rumahku."
"Boleh saja. Kalau boleh tau, siapa namamu?" tanya Sebastian pelan.
Ciel melirik. "Ciel Phantomhive".
Lelaki dewasa menyeringai. "Kudengar mansion Phantomhive mengalami kebakaran hebat kemarin, anda tak tau?"
Membelalakkan matanya kaget. "Jangan bercanda!" hardiknya. "Bawa aku kesana sekarang!". Dalam diam Sebastian malah mendekat, Ciel beringsut mundur. "M-mau apa kau?"
Wajahnya terhenti diperpotongan leher dan bahu. Tangan kanannya bergerak menahan dagu. Kembali mengecup pelan disana. Yang dicium hanya membulatkan matanya tak percaya. Lelaki sialan ini... Berani sekali dia! " Ap- "
"Baiklah saya akan mengantar anda kesana." menyeringai. "Biar saya ambil baju anda dulu." melangkah keluar dari kamar.
Ciel masih terbelalak. Apa-apaan orang mesum itu? Berani sekali ia mencium seorang Phantomhive. Dia itu seorang homo? Atau orang sinting berkedok topeng tampan? A...atau seorang pedofil akut? ... Ah, terlalu banyak kemungkinan tak berguna yang kau fikirkan Ciel.
CKLEK...
Pintu terbuka, menampakkan seorang lelaki tinggi yang membawakan sepasang baju kaos dan celana panjang hitam. Disebelah tangannya terdapat mantel bulu -untuk musim dingin berwarna biru gelap. Ciel menatap dalam diam.
Ciel mengambil baju yang diberi. Mencoba membuka satu persatu kancing kemeja putihnya. Merasa terlalu lama, lelaki dewasa ikut andil.
"Bagaimana bisa seseorang tidak bisa melepas kancing bajunya sendiri." sindirnya.
CTAK!
Siku empat muncul didahinya. "Aku bisa brengsek!" hardiknya.
Sebastian tersenyum namun tak membalas ucapan pemuda dihadapannya. Semua kancing telah lepas dan menampakkan tubuh putih Ciel. Matanya kembali memandang lapar.
"Kau mau menggantikan bajuku atau melihat tubuhku? Dasar Pedofil brengsek. Apa-apaan caramu melihatku?" kembali menghardik.
Seolah tuli, Sebastian semakin menyeringai. Kembali mendekatkan wajahnya namun dengan sigap Ciel mendorong mundur wajah Sebastian dengan kasar. Menarik cepat baju kaos dari tangan Sebastian. Sedikit merasa takut dengan kelakuan abnormal lelaki didepannya ini.
"Apa-apaan kau sialan?" Ciel langsung secepatnya memakai bajunya. "Cepat bawa aku kerumahku Sialan!" Tanpa menatap ia berjalan keluar dari kamar tersebut -jaga-jaga dari serangan mendadak.. Sebastian hanya tersenyum tipis.
"Anda baik-baik saja?" Sebastian bertanya ketika melihat pemuda didepannya tampak diam melihat rumahnya yang hangus tak berbekas.
"Aku baik" jawab Ciel tanpa menoleh kebelakang.
"Kau bisa mengatakan pada saya yang sebaliknya kalau memang tidak baik-baik saja,... Keadaanmu tidak bisa dibilang baik" sang lelaki mengalihkan pandangannya dan menatap dingn kearah puing-puing bangunan. Sesaat kemudian tersenyum -lebih tepatnya menyeringai. "Apa kau mau membuat perjanjian?"
Ciel menoleh, sedikit tertarik. "Perjanjian? Tentang apa?"
Seringainya makin besar. "Tak sulit. Aku akan membuat mu kembali memiliki kekuasaan dan aku juga akan mengabulkan semua keinginanmu."
Ciel tampak semakin tertarik. "Lalu apa maumu?" tanyanya pelan, mata birunya menatap tajam lelaki yang jauh lebih tinggi darinya itu.
"Kurasaaaa...Tak adaa..."
"Cih, katakan apa maumu brengsek! Tak mungkin ada orang yang menawarkan diri mengabulkan semua keinginan seseorang tanpa meminta balasan. Apa kau sinting?" menyahut ketika melihat Sebastian menatapnya dingin.
"Kau... Hanya perlu memberikan tubuh dan jiwamu padaku. Aku hanya meminta itu.."
Tersentak. Ciel menatap sang pria kesal "Jangan bercanda. Dasar sinting!" . Melangkah masuk keantara puing-puing bangunan yang menghitam dan ia tau itu adalah ruang tengah.
"Aku tak pernah berbohong." terhenti, melirik Sebastian dengan sudut matanya. "Kau hanya perlu memberikan tubuh dan jiwamu, dan aku akan membantumu membalaskan dendammu."
Kembai tersentak. Bagaimana orang asing ini tau tentang rencana balas dendamnya? Siapa dia? Seorang stalker? Atau... Apakah dia tau kejadian yang menimpanya 3 tahun yang lalu?
Ciel menaruh satu tangan ke kening, menggerakan jemarinya dengan gerakan mengurut. Sakit kepala tiba-tiba menyerangnya.
"Siapa kau, sebenarnya?" tanyanya pelan, terdengar lemah.
Sebastian menyeringai "Hanya seorang iblis pelayan."
.
.
.
.
Kabut kelabu tertiup dari seberang jalan sana -terbawa angin. Membuat orang-orang yang berjalanan diluar mempunyai pengelihatan yang suram. Ciel duduk disofa beludru yang indah, sebelah tangannya memegang sebuah cangkir berisi teh hangat -buatan pemuda bermata merah itu.
Setelah sedikit berdiskusi pada malam itu, Ciel artinya menerima perjanjian yang aneh itu dengan syarat Ciel harus memberikan jiwanya sebagai balasan akan semua keinginannya. Biarkan saja seperti itu, agar balas dendamnya tercapai, ia tak mempermasalahkan semuanya. Ia dapat yang ia inginkan dan pemuda itu dapat yang ia inginkan. Toh, setelah semua selesai ia tak ingin menikmati hidup lagi.
Bahkan Ciel memberi nama pemuda itu dengan sebutan Sebastian Michaelis. Sebastian adalah sebutan untuk anjingnya dulu dan Michaelis adalah nama malaikat yang terjun masuk keneraka. Sesosok makhluk yang telah masuk kedalam lubang hitam yang tak berdasar -begitu penjelasan Ciel tentang namanya yang ia jelaskan dengan nada kesal.
Namun tanpa bisa pemuda 12 tahun itu percayai, lelaki itu memang benar-benar mengembalikan kekuasaan dan tahta kepadanya. Mansion megah -yang ia katakan tempatnya dulu sudah menjadi kediaman Ciel Phantomhive. Semua isi mansionnya lengkap dan luas.
Entahlah, Ciel hanya perlu membuang jauh-jauh logikanya. Lelaki itu memang mengabulkan keinginannya, kenapa susah-susah?
"Hari ini anda ada jadwal sekolah. Tolong persiapkan dirimu." Sebastian mondar-mandir didepannya, Ciel mendengus kasar.
"Apa aku harus sekolah juga?" memainkan cangkir kosong ditangannya. Matanya menatap kosong.
"Tentu saja, anda juga harus sekolah. Apa anda mau diejek bahwa penerus Phantomhive tidak mendapat pendidikan formal dan di cap tidak lebih baik dari orang rendahan?" Mengejek sedikit. Mungkin itu bis-
"-Tidak. Terima kasih, dan simpan semua ejekan tak bergunamu, aku bersiap." berdiri dari duduknya setelah menaruh cangkirnya ke atas baki. Ciel melangkah masuk kek kamarnya, Sebastian melirik. Menunggu sebuah pertunjukan menarik yang telah diduganya setelah ini.
.
.
"Eeeeehhh?"
Sebastian melangkah masuk ke kamar Ciel, melihat pemuda itu berdiri menghadap cermin yang tergantung. Mimik wajahnya tegang dan matanya menatap lurus kearah warna mata yang berlainan. Tangan kirinya bergerak menyentuh bawah mata. Ini benar atau memang kesalahannya dalam melihat?
"Apa-apaan mata ini?"
Tanda pentagrammaton. Ia tahu tanda itu.
Bukankah tanda itu bisa digolongkan untuk penanda pemanggil nama tuhan? Atau bahkan itu bisa digolongkan penandaan setia pada iblis karena itu juga terdapat didalam sejarah dalam cerita tuhan itu?
Tapii...
Siapa yang memberikan tanda aneh ini ketubuhnya? Apakah lelaki aneh yang ia temui di malam itu? Ah, bahkan ia ingat matanya sempat berdenyut sakit saat itu. Mata merah menyala lelaki itu dan perlakuan mesumnya...
Tunggu dulu.
Mata merah? Mesum?
Ciel dengan cepat menoleh marah pada Sebastian. Sebastian mengernyit bingung.
"Kau!" desisnya. "Apakah kau yang memberi tanda ini padaku? Apa-apaan tanda ini? Bagaimana kau melakukannya?" hardiknya. Sebastian sedikit menyeringai. Ciel masih terlihat marah.
"Itu adalah bukti bahwa anda sudah mengikat perjanjian dengan saya Bocchan" senyum memuakkan masih terlihat jelas di wajah pucat tersebut. Ciel menegang. "Jangan takut, itu hanya sebuah tanda." Sebastian melangkah pelan keluar dari sana.
Ciel sedikit mendengus. Apa dia mau bermain-main dengannya? Tapii... bagaimana caranya membuat tanda ini padanya?
Lelaki itu bukan manusia, ya rasanya bukan.
Tersadar dari lamunannya, Sebastian telah menaruh sebuah penutup mata hitam dan mengikatnya kearah belakang dangan gerakan erotis. Sesekali wajahnya menampakkan seringaian. Jari tangannya sedikit menyeruak masuk kearah kerah kaos yang sedikit tinggi itu membuat pemuda berusia 12 tahun tersebut merinding kaget. Apa-apaan?
Sebastian menyelesaikan pemasangan seragam Ciel. Sebuah kemeja putih dengan sebuah vest hitam terpasang rapi, celana pendek dengan kaus kaki hitam panjang sudah terpasang dikakinya. Ciel menatap pantulan dirinya dicermin, tak buruk. Berharap sekolahnya kali ini tak lebih buruk dari yang sebelumnya.
"Anda siap Bocchan?"
"Anda bisa memanah dengan baik dan dengan ketepatan yang sempurna, sangat baik mengingat umurmu baru 16 tahun, Moon-sama."
Seorang wanita berambut pendek tersenyum dan menunduk singkat setelah ia selesai dengan test memanah, ia hanya harus sedikit bercengkrama dengan guru yang akan melatihnya dalam hal tembak menembak. Oh ayolah, ia bahkan bisa menembak sasaran bergerak tanpa melihat. Ia tak butuh bantuan guru tengik yang memandangnya dengan tatapaan mesum itu.
"Saya pernah mendapat pelatihan formal sebelumnya sir. Tapi saya hanya menjalaninya sekitar 1 bulan. Terima kasih atas pujian anda, merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk belajar pada anda, sir."
Mata kanan melirik kearah jalanan didepan gerbang sana, entahlah, jalanan itu mungkin lebih menarik daripada lelaki tua yang mulai mengoceh panjang lebar tentang dirinya. Mata kirinya tertutup oleh poni panjangnya, tangan pucat terbalut sarung tangan putih memegang pemanah dengan lemah.
Seorang lelaki muda turun dari sebuah mobil dengan wajah kusut. Tanpa mengucapkan satu kata pun ia langsung saja pergi untuk masuk kedalam sekolah.
Moon terhenyak. Sekilas ia melihat seorang lelaki bertubuh pucat yang juga melihat kearahnya. Tak lama memang karena lelaki itu langsung tancap gas pergi dari sana. Siapa lelaki itu?
Keadaan tak begitu baik disekolah, Ciel tak mendapat satupun teman -karena memang ia merasa tak butuh. Beberapa ada yang menjahilinya saat ia baru masuk kekelas itu. Salahkan saja tampang dinginnya yang saat memandang seseorang dengan tatapan tak bersahabat. Bahkan ada yang merarik kursinya saat ia hendak duduk dan membuatnya terjatuh.
"Jadi dengan cara membulli orang lain membuat kalian senang? Miris sekali pemikiran kalian, aku kasihan melihatnya. Apa kedua orang tua kalian tak memperhatikan dan mendidik kalian sehingga berbuat begini? Benar benar miris."
Ciel mendecih. Sebenarnya ia tak ingin berbicara panjang lebar dengan orang-orang yang ada disekolah ini, namun kalau sudah begini, ia bisa apa? Tak akan mungkin ia membiarkan mereka menghinanya begitu saja. Itu pantangan baginya. Air muka anak yang menarik kuyrsi itu berubah keruh, matanya memancarkan kekesalan.
"Tau apa kau anak baru?" hendak meninju wajah Ciel yang sedikit lagi terkena kalau saja Ciel tidak mengelak. Tinjuan itu mengarah pada anak yang berdiri disampingnya.
"Kau hanya berbuat sesuatu yang memalukan. Tidak berguna." desisnya sebelum sang guru melerai mereka. Ciel hanya kembali duduk dibangkunya dalam diam.
Disudut kelas, seorang anak lelaki berambut pirang menatapnya datar, sedikit menyeringai karena suatu hal. Telunjuk tangan kirinya sibuk keluar masuk dimulutnya sedangkan tangan kanannya sibuk mencoret sesuatu."
CIEL PHANTOMHIVE coretnyanya diselembar kertas usang. Seringai nya melebar.
"Akhirnya aku menemukanmu! Earl Phantomhive"
-TBC-
Huaaah, maaf ya endingnya gantung. Semoga yang baca gak kecewa. Review yaa. Tapi jangan nge blame/bashing, nanti saya nangis loh *peluk Ciel /plak . Ditunggu xD
Next chap akan ada sedikit perpanjangan cerita , untuk sekarang segini dulu yaa huhu xD
