Ah, lagi-lagi tempat ini.
Kenapa ia harus berakhir di sini setiap kali bermimpi akhir-akhir ini sih?
Tetapi, tunggu dulu. Kali ini, atmosfer di sekitar Luka terasa lebih ringan daripada kemarin. Jika yang sebelumnya Luka antara mau menangis dan pingsan, kali ini ia bisa lebih menahan diri dan memutuskan untuk merasa penasaran.
Kabutnya tidak terlalu tebal lagi. Luka bisa merasakan bahwa sekarang ia sedang berdiri di atas jalan setapak. Di mana sekelilingnya terdapat begitu banyak bunga dan pepohonan. Dia berada di sebuah taman.
Teringat bahwa kemarin ia sempat melihat ada orang di sini, ia pun membalikkan badannya dengan hati-hati. Seolah ia takut akan disergap oleh seseorang—atau sesuatu—jika ia sembarangan menoleh.
Gotcha. Dia menemukan mereka. Dua orang anak itu.
Tetapi anehnya, Luka tetap tidak bisa melihat warna rambut—atau setidaknya wajahnya untuk dikenali. Nihil, wajah mereka buram seolah sengaja disensor, dan Luka hanya diijinkan untuk melihat badannya saja.
"... gak mungkin!"
Dan suaranya pun tidak begitu bisa Luka ingat. Ia seperti pernah mendengarnya, tetapi... di mana? Siapa yang mengucapkannya?
Luka yakin dia tidak amnesia kok!
Tetapi kenapa hal sekecil itu tidak bisa ia ingat?!
"... dengarkan omonganku dulu..."
Daripada terlalu lama frustasi akibat dirinya yang mendadak amnesia kecil, Luka pun memutuskan untuk hanya memperhatikan mereka dari jarak yang aman.
Namun suara percakapan mereka yang tidak terlalu terdengar, menggoda Luka untuk semakin mendekat pada mereka. Luka tidak yakin sebenarnya untuk mendekati mereka. Tetapi pada akhirnya, kaki rampingnya yang telanjang memaksanya untuk melangkah, sedikit mendekati mereka.
"... kenapa bisa begitu?"
Omong-omong, apa yang sedang dibicarakan oleh kedua anak ini? Luka sungguh penasaran.
"... kau jahat."
Apa?
"Gakuto-kun, kau jahat!"
Kemudian Luka melihat salah satu anak beranjak dari tempat itu. Langkahnya sedikit menghentak, pertanda bahwa ialah yang mengucapkan kalimat barusan. Sementara anak lainnya ikut melangkah dan berusaha menyusul.
Tetapi sebelum Luka tahu kelanjutannya, ia terbangun—lagi. Di saat-saat yang penting.
.
.
.
Guardian Spirit
Chapter 3. Kebenarannya Melebur di Dalam Pelangi.
Semua karakter yang ada disini merupakan hak cipta milik Yamaha Coorporation beserta perusahaan-perusahaan pemiliknya. No commercial profit taken.
WARNING : Ide pasaran. Sebisa mungkin IC. Isi ngawur. ghost!Gakupo. human!Luka. OC numpang lewat. Haruskah saya tambah genre Drama untuk chapter ini?
Dan pada akhirnya, judul tidak nyambung dengan isi. Haha. Maafkan saya. :v
selamat membaca.
.
.
.
Luka mengetukkan ujung pulpennya dengan pelan pada kepalanya.
Jujur, akhir-akhir ini ia dihantui oleh mimpi yang aneh.
Pertama kali mengalaminya, ia tidak terlalu mempermasalahkannya. Mungkin itu hanya mimpi nyasar, atau semacam itu. Tetapi tidak ia sangka akhirnya akan berujung seperti ini.
Orang tua Luka belum pulang. Jadi, lagi-lagi Luka harus menghabiskan waktunya bersama si kakak hiperaktif Luki—dan Gakupo.
Omong-omong, sedikit-banyaknya hubungan mereka menjadi merenggang semenjak kejadian itu.
Gakupo menjadi lebih pendiam daripada biasanya. Dia masih suka bertanya-tanya pada Luka, tetapi tidak menyelipkan candaan garing, atau setidaknya sedikit menggodanya seperti biasanya.
Dan hari ini pun Luka tidak melihat Gakupo. Cih, dramatis. Dikira Luka peduli apa?
Luka sendiri pusing memikirkannya.
"Kenapa, Luka-san? Dari tadi menghela napas terus?"
Lamunan Luka pun buyar ketika mendengar suara Miku. Dapat ia lihat gadis berambut hijau teal itu bersama gadis berambut pirang lainnya, Rin.
"Luka-chaaan! Gomen ne! Kemarin gak bisa ikut jalan-jalan karena tiba-tiba Len mengeluh badannya panas dan pusing!" Rin berucap setengah menjerit pada Luka. Raut wajahnya menunjukkan rasa bersalah.
"Ah, sudahlah. Tidak usah dipikirkan."
"Luka-san, wajah Luka-san kelihatan galau sekali."
"Wajahku memang selalu begini, 'kan?"
"Tapi Luka-saaaan..."
Luka diam-diam tersenyum tipis selagi teman-temannya itu mengkhawatirkan raut wajahnya yang mungkin mendadak terlihat murung. Dia seharusnya senang dengan kekhawatiran mereka, tetapi ia sama sekali tidak bisa berhenti memikirkan Gakupo.
Gakupo. Hantu tidak jelas yang sudah mengusik kehidupannya.
Dan entah kenapa darimana datangnya, lagi-lagi Luka kepikiran dengan mimpinya tadi malam.
Siapa Gakuto-kun itu?
Kenapa namanya mirip dengan nama Gakupo? Ada hubungan apa di antara mereka berdua ini?
"... Luka-san, sensei sudah datang loh."
"Ah, iya." Luka kembali sadar dari lamunannya ketika Rin berbisik padanya, dan ia pun mulai mengikuti pelajaran walaupun pikirannya masih berada di antara Gakupo dan Gakuto-kun.
.
.
.
'Apa Gakupo sudah ingat kembali dengan masa lalunya dan akhirnya sekarang dia sudah pergi dengan tenang?'
"Luka-chan, kenapa? Kok dari tadi melamun terus?"
Di rumah pun, Luki turut mengkhawatirkannya.
Luka yang sedang berbaring di sofa pun, melirikkan iris biru lautnya pada Luki sekilas, sebelum akhirnya membuang pandangannya ke arah lain dan menutup mata.
"Tidak ada apa-apa."
"Jangan bohong."
"Kenapa kau berpikiran begitu?"
"Meskipun kamu orang yang pendiam, bukan berarti aku tidak bisa membedakan antara kamu yang diam dan kamu yang murung, bukan?"
"Jangan sok jenius deh."
"Aku gak sok jenius!" Saking semangatnya, Luki pun berdiri dari duduknya. Wajahnya tampak merengut kesal. "Aku serius. Ada apaan sih?"
Kemudian Luka bangun dari tidurnya, dan tatapannya mengarah langsung pada Luki yang juga menatapnya. Sesaat, tatapan mereka saling beradu sebelum akhirnya Luka menjawab dengan tenang.
"Aku tidak apa-apa kok."
"Begitukah? Baiklah. Anggap saja aku percaya," ucap Luki melengos.
(Dan entah kenapa Luka merasa dejavu sesaat. Sepertinya kemarin ada kejadian seperti ini?)
"Luka-chan, aku keluar sebentar. Jaga rumah ya."
"Iya."
Tidak lama kemudian, Luka pun ditinggal sendiri di dalam rumah. Luka menghela napas, dan kembali berbaring di sofa.
"Gakupo, kau ke mana?" Dan tanpa Luka sadari, ia bergumam pelan. Luka sendiri pasti tidak ingin mengakuinya, tetapi pada dasarnya dia mulai merasa rindu dengan Gakupo.
Gakupo.
Gakupo.
Gakupo.
Lalu pada akhirnya, saking asyiknya melamun sambil berbaring, Luka pun tertidur di sofa.
.
.
.
Kali ini Luka bertekad akan mencari tahu siapa anak-anak misterius itu.
Mimpi di mana ia terjebak di tengah kabut pun menghampirinya lagi, namun Luka sudah mulai terbiasa. Dia justru langsung berlari meskipun pandangan yang kabur. Dia tidak peduli. Dia tidak peduli berlari ke mana. Yang pasti ia ingin bertemu kedua anak itu!
Dan Luka menemukan mereka lagi. Masih dengan mereka yang tampak berbicara.
"Gakuto-kun, kau jahat!"
"TIDAK! BERHENTI!"
Luka spontan memekik. Ia panik ketika melihat salah satu anak mulai berlari menjauh. Ia tidak terima jika pada akhirnya, lagi-lagi ia harus kehilangan kedua anak itu. Ia tidak ingin terus-terusan dihantui oleh mimpi semacam ini lagi. Tidak untuk keempat kalinya!
Sayang, gadis berambut merah muda itu tidak sempat menghentikan si anak yang berlari pergi itu.
Namun Luka sempat meraih bahu milik si anak yang ditinggal itu, menangkapnya, dan ia menariknya.
Dan betapa terkejutnya ketika Luka melihat wajah anak itu.
"Kau..."
Bahkan Luka sampai tidak bisa berkata apa-apa. Matanya melebar jelas, ia tidak tahu pasti kenapa namun ia sangat amat terkejut melihat anak itu. Wajah familiar itu... iris biru itu... rambut ungu itu...
"... Gakupo?"
.
.
.
Oh Luka ingat. Dia ingat sekarang. Dia ingat dengan kejadian itu. Enam tahun yang lalu. Di atas sebuah jembatan taman yang kecil.
Hari sedang siang, namun awan tampak mendung. Di bawahnya terdapat sepasang anak kecil yang sedang bertemu.
"Nee, Gakuto-kun. Katanya mau ngomong sesuatu? Ada apa?" tanya seorang gadis kecil kepada seorang anak lelaki di depannya. Mereka adalah sepasang sahabat.
Ah, sebenarnya gadis itu tahu bahwa ia salah memanggil nama anak itu dari awal perjumpaan mereka. Namun ia bersikeras lebih enak memanggil lelaki itu dengan Gakuto daripada dengan nama aslinya.
"Uhm, ano..." Sementara anak lelaki itu melirik-lirik gelisah ke segala arah, seolah ia merasa ragu untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan. Tapi pada akhirnya ia menggeleng dan berhasil mengucapkannya.
"Aku... lusa besok pindah rumah ke Kyuushu."
Begitu anak lelaki itu selesai berucap, perlahan pupil mata milik gadis itu melebar. Mulai menyadari arti kalimat tersebut. Dan ia tampak tidak percaya dengan kalimat itu.
Gadis itu tahu bahwa Kyuushu sangat jauh dari rumahnya, Tokyo.
Namun ia berusaha untuk berpikir bahwa anak lelaki itu hanya bercanda.
"Kamu... gak lucu deh, Gakuto-kun," ucap gadis itu tertawa pelan, namun wajahnya sama sekali tidak merasa senang. Malah pucat.
Ia gagal membohongi dirinya sendiri bahwa ia tidak ingin mempercayainya.
"Kamu pikir aku lagi bercanda? Aku gak bercanda." Sementara si lawan bicara membalasnya dengan pelan, dan memberikan tatapan serius pada gadis di depannya.
Dan anak gadis itu semakin tidak ingin mempercayai apa yang anak lelaki itu ucapkan.
"Gak mungkin! Kamu bohong!" Gadis itu mulai menjerit histeris, seraya melemparkan beberapa pukulan kecil sebagai akibat ketidakpercayaannya.
"T-tunggu sebentar! Dengarkan omonganku dulu!" Anak lelaki itu gelabakan menahan si gadis. "A-aku tahu ini tiba-tiba. Sebenarnya aku sudah diberitahu orang tuaku dari minggu lalu, tapi... aku tidak tega mau memberitahumu."
Kemudian hening. Tidak ada yang berbicara. Gadis itu telah berhenti memberontak. Ia diam. Membuat anak lelaki itu semakin tidak nyaman dan semakin merasa bersalah.
"Luka-chan—"
"Kenapa bisa begitu?"
"Apa?" Si anak lelaki—"Gakuto"—berucap bingung, tidak paham dengan pertanyaan si gadis Luka barusan.
"Kenapa? Kenapa harus terjadi? Kenapa kamu harus pindah saat kamu telah berjanji padaku?"
"Ah?"
"Kamu sudah janji kalau kamu akan menjadi sahabatku selamanya, 'kan? Kamu janji selalu ada di sampingku, 'kan?"
"A-aku—"
"Kau jahat."
"Eh?"
"Kau jahat, Gakuto-kun!"
Sejurus kemudian, Luka kecil berlari ke arah yang berlawanan. Dan bahkan ia tidak mempedulikan Gakuto—tidak, Gakupo selanjutnya.
"Lu-Luka-chan!"
Luka tidak peduli. Ia terus berlari menjauh dari Gakupo. Mungkin saja anak lelaki itu mengejarnya, namun ia tidak peduli. Ia hanya ingin pergi.
Membawa rasa sakit yang bagaikan merobek hatinya dalam seketika.
Dan sejak hari itu mereka tidak pernah bertemu lagi.
.
.
.
Mimpi yang mengulang masa lalunya barusan telah berakhir.
Namun Luka masih belum membuka matanya. Ia tersadar dari tidurnya. Dan entah mengapa tubuhnya terasa lelah sekali untuk digerakkan. Seolah-olah tadi ia sama sekali tidak tidur.
"... Luka-chan."
Ah, siapa lagi yang memanggilnya itu? Terdengar begitu samar.
"... chan!"
"Luka-chan! Bangun!"
Kemudian iris biru laut itu perlahan terbuka. Ia mengerjap sejenak, merasakan matanya basah. 'Basah? Mataku basah?'
"Luka-chan? Kamu tidak apa-apa?" Luka baru sadar dengan kehadiran Luki di dekatnya, menatapnya dengan tatapan luar biasa khawatir.
"Kamu mimpi buruk?" tanya Luki memperjelas pertanyaan sebelumnya.
"M-memangnya kenapa?" Ah, Luka baru sadar dari tadi ia masih tertidur di sofa.
Dan Luki menunjuk ke wajahnya, terutama pada matanya, dan berucap lirih, "Kamu menangis, Luka-chan."
Luka langsung menyentuh matanya sendiri. Ah, benar apa kata Luki. Dia menangis di dalam tidurnya. Apakah tubuhnya merespon terhadap mimpi itu? "H-huh."
"Apanya yang huh? Apa kamu baik-baik saja?"
"A-aku tidak apa-apa. Ini wajar saja 'kan?"
"Apanya yang wajar kalau air mata itu sampai membasahi bantal sofa?"
Spontan, Luka bangun dari posisi berbaringnya, dan menyentuh bantal yang ia tiduri tadi. Basah. "Sudahlah. Aku tidak apa-apa—"
"Luka, berhenti berbohong padaku!"
"Aku tidak bohong!"
"Kamu pikir kamu bisa terus-terusan membohongiku?"
"Lantas kenapa?!"
"Aku kakakmu, Luka! Setidaknya jika kamu tidak bisa terbuka dengan orang lain, terbukalah denganku!"
Napas yang terengah-engah menyudahi suara pertentangan yang nyaring dan tinggi barusan. Luka kini berdiri menghadap pada Luki. Dan wajah mereka sama-sama tegang dan merah, sempat terbawa emosi akibat kejadian barusan.
Dan di antara mereka, Luki-lah yang pertama kali bisa meredakan emosinya, dan tatapannya melemah.
"Dengar, Luka. Sebenarnya bisa saja aku percaya bahwa kamu sedang baik-baik saja. Tetapi pada akhirnya, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri dan tetap saja aku sangat khawatir dengan keadaanmu akhir-akhir ini."
Luka sendiri hanya diam. Raut wajahnya mulai tenang.
"Kamu sering berbicara sendiri."
Dan lagi-lagi, raut wajah Luka mengeras mendengar kalimat Luki itu.
"Kau... tahu darimana?"
"Kamu tidak lupa kalau kamar kita bersebelahan, 'kan? Aku sering mendengar kamu seperti berbicara dengan seseorang, tetapi ketika kuperiksa ke kamarmu, aku tidak menemukan siapapun selain kamu. Apa itu namanya bukan 'berbicara sendiri'?"
Luka terdiam mendengar penjelasan Luki.
"Dan aku percaya bahwa saat itu, kamu tidak sedang berbicara lewat telepon." sambung Luki, masih dengan wajah yang serius.
Dan bukannya apa. Luka hanya tidak tahu apa yang harus ia ceritakan tentang Gakupo kepada Luki.
Tentang Gakupo.
Gakupo.
Gakupo.
Tiba-tiba, Luka kembali teringat dengan Gakupo. Memori mengenai mimpi dan masa lalunya pun kembali mengambang ke permukaan. Menyadarkannya tentang apa yang harus ia lakukan sekarang.
"... aku harus pergi."
"Pergi? Pergi kemana—Hei!" Luki ingin meraih tangan Luka, menahannya. Namun gagal karena Luka terlalu cepat untuk ia tangkap.
"Akan kujelaskan nanti!" seru Luka dari luar rumah.
"T-tapi ini sudah malam, Luka! HEI!"
Luka kembali mengabaikan Luki. Karena ia tahu ke mana ia harus pergi sekarang.
.
.
.
Dan sampailah ia di sini.
Sebenarnya Luka tidak begitu tahu mengapa ia bisa berada di sini. Di jembatan yang pernah menjadi tempat yang berkesan bagi Luka.
Tempat terakhir kali ia bertemu dengan Gakupo. Yang sering ia salah panggil sebagai Gakuto dulu.
Luka tidak tahu mengapa kedua kaki miliknya membawa dirinya ke sini. Tetapi Luka yakin, bahwa firasatnya tidak salah. Firasatnya tidak membohonginya.
Malam telah tiba, seperti yang dikatakan oleh Luki tadi. Bulan tampak sabit di ambang langit, setidaknya ikut menerangi jalan menuju jembatan ini. Luka menaiki jembatan itu dan mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Ah, Luka rindu dengan tempat ini. Sebenarnya kejadian waktu itu hanya sekilas, namun entah kenapa begitu membekas di dalam benaknya.
Dia bahkan tidak peduli jika misalnya ada hantu atau apapun yang menyeramkan tiba-tiba muncul di sini. Karena dia tahu, Gakupo ada di sisinya. Menjaganya. Baik Luka bisa melihatnya maupun tidak.
"Gakupo, kau ke mana?"
"Aku di sini loh, Megurine-san."
Gadis berambut merah muda itu spontan membalikkan badannya, dan mendapati Gakupo berada beberapa meter di belakangnya.
"Gakupo, ke mana saja kau?" tanya Luka tetap di tempatnya. Luka tidak tahu mengapa, tetapi sekarang cara pandangnya terhadap Gakupo telah berubah.
Ia ingat siapa Gakupo.
Gakupo adalah teman masa kecilnya. Yang sering ia salah panggil dengan Gakuto—karena menurutnya, nama Gakuto lebih keren daripada nama Gakupo. Yang sering bersama dengannya semasa SD.
Dan yang dari dulu ia cintai.
Tunggu, cintai?
"Heee... tadi aku pergi sebentar karena aku ada urusan. Maaf ya. Tiba-tiba pergi tanpa bilang-bilang."
"Kau sungguh bodoh, Gakupo."
Pemuda itu sendiri tidak berkata apa-apa. Ia hanya tertawa pelan seolah kalimat Luka tadi adalah sebuah lelucon.
Ah, sebenarnya apa yang telah terjadi pada Gakupo selama ini? Sebelum mereka berpisah, Luka sangat yakin bahwa pemuda berambut ungu itu adalah seorang manusia. Kenapa sekarang tahu-tahu dia sudah berubah menjadi HANTU?
Apa yang telah pemuda itu lakukan selama mereka berpisah?
"Gakupo... maaf."
"Eh? Kenapa Megurine-san minta maaf? Seharusnya aku yang minta maaf, 'kan?"
Apakah Gakupo sama sekali tidak ingat dengannya?
Kenapa bisa begitu?
Kenapa Luka merasa dadanya sangat perih dan seolah ia ingin menangis sekarang juga ketika ia sadar, Gakupo mungkin telah melupakannya?
Atau Gakupo yang ada di depannya sekarang ini, adalah orang yang berbeda dari "Gakuto" yang ia ingat dulu?
Gadis itu pun menatap tanah. Tidak berani mengekspos kedua bola mata biru indahnya. Ia bingung. Begitu banyak kata-kata yang ingin ia lontarkan namun tidak ada satupun yang dapat tersusun.
"Tidak, maaf. Aku..."
Bahkan Luka sendiri bingung darimana ia harus memulai semuanya. Apakah ia harus mengatakan tentang kesalahannya yang telah melupakan Gakupo? Ataukah seharusnya dialah yang mengungkit kesalahan Gakupo bahwa pemuda itu juga melupakan dirinya?
Apa yang harus Luka lakukan?
Luka tidak mampu menahan bahwa ia masih mencintai pemuda itu.
Masih...
Perasaan itu sempat terlupakan olehnya. Akibat dirinya yang terlalu depresi dengan Gakupo yang pindah rumah begitu saja, ia mencoba untuk berhenti mencintainya. Berhenti mengingatnya. Dan di saat ia telah sukses melupakan pemuda itu, lagi-lagi Gakupo datang padanya.
Dalam wujud hantu.
Hei, dikata ini fiksi apa? Di mana hal lelucon dan tidak masuk akal seperti ini bisa saja terjadi bahkan pada dirinya?
Bukannya ini berarti... Gakupo telah lama mati?
Luka pun meringis di dalam hati.
"Aku... Gakupo..."
"Iya? Ada apa, Megurine-san?"
Ketika Luka mengangkat kepalanya, ia akhirnya sadar bahwa Gakupo sudah berada di depannya. Nyaris tidak ada jarak di antara keduanya. Luka sedikit mendongak, dikarenakan Gakupo yang lebih tinggi daripada dia.
Dan dalam sekejap, biru bertemu dengan biru. Mereka saling bertatapan.
Namun Luka terlalu sibuk mengatur detak jantungnya yang entah kenapa tiba-tiba tidak beraturan. Ia bahkan yakin bahwa wajahnya kini dihiasi rona merah. Jadi ia kembali menunduk. Memperhatikan kaki Gakupo yang terlihat seperti menapak tanah.
"Gakupo—"
"Kamu ingat denganku sekarang?"
"Ah?" Luka terkejut dengan bahasa Gakupo yang tiba-tiba berubah. Bukannya biasanya Gakupo ketika berbicara dengannya, ia menggunakan kata "Megurine-san" sebagai ganti dari "kamu"?
Dan Luka menemukan jawabannya ketika Luka menatap mata Gakupo kembali dengan benar.
Tatapan itu mengatakan sesuatu padanya.
Dan Luka pikir, ia tahu apa itu.
"Megurine-san, apa kamu ingat denganku?"
"..."
Sekarang, Gakupo yang menanyakan itu padanya. Seharusnya Luka yang bertanya, bukan?
"Megurine-san?"
"Bukan kamu yang lupa sama aku?" tanya Luka. Kali ini ia berani menatap Gakupo secara langsung dan lurus.
Ia meminta penjelasan atas semua yang telah terjadi, melalui tatapan itu. Dan ia harap Gakupo paham.
Sedangkan Gakupo sendiri hanya terdiam. Mungkin terkejut, mungkin apa. Luka tidak tahu juga.
"Dan ke mana saja kamu selama ini? Kenapa kamu sekarang..."
Gadis berambut merah muda itu hanya ingin jawabannya.
Selagi mereka saling terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing, angin semilir berhembus di antara keduanya. Entah kenapa Luka sama sekali tidak mendengar suara apapun selain suara angin, tetapi ia tidak menghiraukannya. Ia memusatkan fokus sepenuhnya pada pemuda yang telah menarik seluruh rasa penasarannya pada malam ini.
Ia memperhatikan semua hal yang ada pada Gakupo. Dan seperti yang ia lihat pada hari pertama pertemuan mereka setelah berpisah, Gakupo tembus-pandang.
Hati Luka terasa sesak ketika membayangkan, apa kira-kira yang telah terjadi pada pemuda ini. Apa dan siapa yang telah membunuhnya?
"Kamu... sekarang jadi hantu...?"
"Iya, Megurine-san."
"Kenapa?"
"... mau kuceritakan dari awal?"
"Seharusnya kau tidak perlu bertanya karena kau tahu apa yang kuinginkan."
"Ehm... baiklah. Akan kuceritakan garis besarnya saja."
"Waktu itu aku sudah tinggal dan berbaur dengan kehidupanku di Kyuushu. Aku berencana ingin kembali ke Tokyo setelah lulus SMP. Tapi ketika aku sudah berada di tengah perjalanan menuju Tokyo, tiba-tiba pesawat yang kutumpangi mengalami kecelakaan, dan tidak ada penumpang serta awak pesawatnya yang selamat."
Luka seketika bungkam mendengar penjelasan Gakupo.
"Aku awalnya tidak sadar bahwa aku termasuk di antara penumpang yang tidak selamat. Dan lama-kelamaan aku akhirnya sadar bahwa aku sudah mati."
"Tetapi aku kembali teringat dengan janjiku padamu. Meskipun pada saat itu kamu tidak mendengarnya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri di hari terakhir kita bertemu itu bahwa aku pasti akan kembali lagi padamu. Aku akan bersama denganmu lagi sebagai ganti rugi atas hari-hari kebersamaan kita yang telah hilang ketika aku pergi. Mulanya kupikir itu sudah tidak mungkin dengan wujudku sekarang, namun pada akhirnya aku tetap nekat datang padamu dalam bentuk seperti ini."
"Tapi... kenapa harus begini..."
"Maafkan aku, Luka."
"KAU JAHAT, GAKUPO. KAU JAHAT. KAU SUDAH MENINGGALKANKU, MENYAKITIKU, MEMBUATKU SEPERTI ORANG GILA..."
Kemudian kata-kata yang ingin Luka lontarkan pun tenggelam dalam sebuah isakan. Ingin ia marah, ingin ia berteriak. Namun suaranya tercekat dalam tenggorokan. Matanya memanas, selagi air mengalir melalui pipinya yang merona merah.
Kenapa harus begini?
Kenapa semua yang telah terkubur dalam dirinya, kembali terkuak dan muncul ke luar dengan sangat kuat?
Kenapa?
KENAPA?
Dan akhirnya Luka berteriak. Terisak dan menangisi dirinya sekarang ini. Ia tidak tahu, kenapa hal seperti ini harus terjadi padanya. Kenapa takdir begitu kejam padanya? Mengirimkan sebuah kenyataan bahwa orang yang ia cintai kini telah lama mati?
Ah, kepala Luka menjadi pusing. Ia kehilangan keseimbangan dan langsung tersadar kembali sesaat sebelum ia akhirnya benar-benar terjatuh. Gadis beriris mata biru laut itu terjatuh dengan posisi duduk bersimpuh dan kedua tangannya menutup wajah cantiknya. Seolah ia tidak ingin Gakupo melihat dirinya yang sedang menangis.
Luka hanya ingin menangis.
Ia tidak tahu, siapakah yang harus ia salahkan atas semua yang telah terjadi ini?
Apakah ia harus menyalahkan Gakupo yang beraninya mati sebelum bertemu dengannya?
Apakah ia harus menyalahkan pihak pesawat yang harus mengalami kecelakaan pada hari itu?
Apakah ia harus menyalahkan dirinya sendiri yang tidak pernah menyadari semua ini dari kacamata kebenaran?
... atau apakah ia harus menyalahkan takdir lagi—untuk ke sekian kalinya?
Ah.
"Gakupo..."
"Luka, lihat aku." Suara itu terdengar begitu pelan. Seolah ia takut suara miliknya akan melukai gadis itu lebih dalam lagi.
"Tidak..." Luka sendiri tidak mau menurut. Ia menggeleng dengan tangan masih menutup wajahnya.
Gakupo pun menggigit bibir bawahnya. "Luka... maaf."
"Beraninya kau minta maaf di saat seperti ini!"
"Lalu aku harus bagaimana? Pergi meninggalkanmu begitu saja di sini?"
"Aku—"
"Tidak. Aku takkan melakukannya. Tidak pada perempuan yang aku cin—"
"DIAM!"
Pemuda itu pun terdiam seketika. Ia cukup terkejut mendengar Luka ternyata bisa berteriak senyaring itu.
Sementara itu, Luka tiba-tiba tersadar oleh suatu hal. Dia membuka tangannya dan langsung menatap Gakupo yang kini telah berada di hadapannya.
"Gakupo...?"
"Luka...?"
Lalu mereka terdiam. Mereka berbicara secara bersamaan.
"Kamu duluan." Gakupo mengalah.
"Huh, baiklah." Luka menutup mata, menarik napas sebelum akhirnya berkata, "jadi dari tadi kau ada di sini?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena aku tahu kau akan ke sini."
"Kau benar-benar jadi sok tahu."
"Oh ayolah. Sudah pernah kubilang, aku tahu segalanya."
Luka terdiam lagi.
"Itu berarti, kau tahu bagaimana yang kurasakan sekarang, bukan?"
"Fuh, kalau yang itu aku tidak tahu~"
Luka hanya memutar matanya, tidak habis pikir kenapa pemuda ini senang sekali berbohong padanya. "Gakupo..."
"Apa?"
Kemudian sebuah kalimat terdengar dari Luka. "Aku suka padamu."
Lalu hening.
"Aku suka padamu, tapi kamu jahat."
Pemuda tembus-pandang itu spontan tergelak tawa. Entah kenapa, kalimat barusan terdengar begitu lucu baginya. Dan tentu saja hal ini membuat sang Megurine tersinggung.
"Apa yang kau tertawakan?" geramnya.
"Ah, tidak. Bukan apa-apa. Maaf." Gakupo berhenti tertawa, dan mulai berbicara dengan serius. "Aku gak suka kamu."
Sebelum Luka sempat merespon, Gakupo melanjutkan kalimatnya dengan seringai tipis nan menyedihkan. "Tapi aku cinta padamu, sangat, sangat. Karena itulah, kita bisa bertemu lagi di sini. Di tempat ini. Di malam ini. Tapi sayangnya kita gak bisa bersama. Maaf."
"Bagaimana kalau aku ikut denganmu?"
"Oh tidak. Aku tidak akan mengijinkannya."
"Kenapa? Bukannya kau mencintaiku?"
"Aku cinta padamu, tapi aku masih ingin melihatmu hidup bahagia dengan keluarga dan teman-temanmu. Meskipun tanpa aku. Meskipun aku harus jauh darimu."
Luka melihat wajah Gakupo yang menunjukkan ekspresi yang begitu menyedihkan, dan tiba-tiba merasakan matanya memanas. Ah sepertinya dia akan menangis lagi. Ucapan Gakupo barusan begitu mengusiknya, mengganggunya. Sampai saja ia merasakan rasa sesak yang teramat di dalam dadanya.
"Kau jahat..."
"Maaf..." Kemudian senyuman Gakupo melebar, hingga matanya tertutup. "Sepertinya aku harus pergi lagi."
"Tidak..." Gadis itu terisak lirih. Ia merangkak, ingin menggapai pemuda yang ia sayang itu sekali lagi. Namun nihil. Ia hanya menggapai udara. Menggapai ilusi yang tidak mungkin bisa ia tangkap. "Kumohon, jangan pergi..."
"Luka..."
"Jangan pergi lagi, bawalah aku bersamamu, kumohon..."
"Tidak bisa, Luka."
Kemudian tangis Luka pun meledak—ia merasa takdir ini begitu menyiksanya. Ia tidak tahan, ia ingin semua perasaan sesak ini segera menghilang dari dirinya!
Sedangkan Gakupo tidak tega jika harus terus melihat Luka menangis. Gadis yang begitu dicintainya—oh, kenapa semua ini harus terjadi dalam takdir mereka!
Sementara angin malam terus berhembus dengan pelan.
"Luka, sebenarnya... aku tidak pergi darimu kok."
Luka pun mendongak, penasaran.
"... karena aku masih ada di dalam hatimu. Selamanya, selama kamu masih ingat padaku. Dan percayalah, kita akan bertemu lagi suatu hari nanti. Pasti."
Sungguh Luka tidak tahan lagi dengan semua ini.
Lalu Gakupo pun menghampirinya, dan membawa Luka ke dalam dekapannya yang nyata untuk terakhir kalinya.
.
.
.
"Selamat tinggal, Luka. Sampai jumpa nanti."
.
.
.
(13082015. Perbaikan tanda baca.)
