Design My love
Chapter 2
Assignment
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuHina
Rated : T
Sasuke's POV
Kubuka mataku perlahan. Aku merasakan sedikit pegal pada ruas tulang leherku dan mencoba untuk menggerakkannya kekanan dan kekiri untuk melemaskan sedikit otot pada leher tersebut.
"Jam berapa nih ?" Gumamku sambil memijat perlahan leherku yang masih terasa sakit. Kayaknya aku salah posisi saat tidur tadi malam. Aku melihat sekeliling dan mendapati hapeku tergeletak di sampingku.
"Eh…!" Kataku dengan terkejut begitu melihat hape tersebut tergeletak tak berdaya disampingku. Aku baru ingat sekarang, aku ngobrol dengan grup yang berada di WhatsApp sampai aku ketiduran. Dan kau tahu apa artinya itu ?
Cepat-cepat langsung kunyalakan hapeku untuk melihat sekarang jam berapa. Empat buah angka dengan tipografi yang sangat keren menunjukkan waktu 03:40. Aaaahhhh…! Sepertinya masih ada waktu buat mencharge hape ku supaya aku masih bisa bermain hape untuk mencari inspirasi nanti disekolah.
Langsung ku charge hapeku dengan segera agar bisa fully charged saat kubawa berangkat sekolah lagi. Tapi, tampaknya aku masih melupakan sesuatu. Aku terdiam dan berpikir sejenak untuk memikirkan apa yang sudah kulupakan tempo hari.
Astagah….!
Aku lupa mengerjakan deadline milikku. Aku pun dengan cepat langsung menyalakan laptop yang masih dalam mode sleep tersebut dan langsung mengetikkan passwordku yang sangat rumit tapi sudah hapal diluar kepala tersebut. Tampaknya aku lupa menutup jendela illustrator sehingga aku langsung disambut dengan designku yang 'hampir' jadi tersebut, tinggal finishing touch aja.
"Mungkin makan waktu satu jam untuk finishing touch nya" Gumamku sambil melihat kearah jam yang masih menunjukkan jam empat kurang sepuluh menit. Kupejamkan mataku dan mencoba untuk berfikir lebih tenang lagi. Aku mulai menyusun rencana kegiatanku untuk beberapa jam kedepan sebelum deadline tersebut.
"Sebelum sekolah aku punya waktu setengah jam, akan sangat tidak menyenangkan jika aku mengerjakan cuma setengah jadi. Jadi, mungkin aku harus mengerjakannya sepulang sekolah nanti. Hari ini tidak ada pelajaran tambahan, hanya pelajaran Bahasa, Fisika, dan Kimia, cukup mudah meskipun aku tidak konsentrasi. Pulang dan langsung kerjakan" Pikirku menganalisis apa kegiatan yang bisa kulakukan untuk mengerjakan deadline tersebut.
"Tunggu, jika bahasa, dan fisika. Itu berarti aku harus ikut ekskul sepulang sekolah nanti. Dan jika dihitung dari perjalanannya, aku hanya punya waktu setengah jam sebelum deadline. Resiko yang harus kuambil sekarang adalah, kehilangan deadline atau ekskul" Aku pun mulai bingung menentukan pilihan.
"Baiklah, tampaknya ekskul kali ini tidak berjalan begitu baik" Kataku sambil membuka mata dan kemudian melepaskan genggaman mouse dari tanganku dan memasukkan laptopku kembali ke mode sleep sebelum akhirnya aku mengambil handuk berwarna biru tua milikku dan segera pergi mandi.
-0-
"Ittekimasu" Teriakku dengan suara lantang sambil mengayuh sepedaku menjauhi rumahku yang bercat biru dongker tersebut. Rumahku tidak terlalu besar sih, tapi enak dipandang. Begitulah kata-kata temenku yang pernah kuajak untuk memasuki rumahku. Kata mereka rumahku nyaman untuk dilihat, entah kenapa mereka selalu rileks ketika belajar kelompok didalam rumahku.
Kukayuh sepedaku dengan kecepatan sedang dan konsentrasi penuh dengan tatapan tajam yang selalu menghasi wajahku. Wajah yang terkesan cuek dan tanpa ekspresi yang jelas serta cool dan tidak mudah terpengaruh oleh godaan di jalan. Tapi, meskipun aku tampak cuek, kejadian kemarin seolah telah membuka mataku untuk memperhatikan hal-hal yang berada dialam.
Langit yang cerah disertai dengan kicauan burung yang terdengar bersahut-sahutan. Embun yang menetes terlihat sangat segar sekali meskipun nanti akhirnya dia akan terbang tinggi ke langit membentuk awan tebal. Hawa pagi yang sejuk menyelimuti tubuhku. Dengan helaian raven yang masih terlihat basah oleh air mandi dan wajah yang masih terlihat fresh, aku tersenyum cool menyadari kalau alam yang sempurna ini telah kulewatkan begitu saja bertahun-tahun silam.
Perjalanan terasa begitu panjang, seolah adegan slow motion, suara detak jantungku pun terasa lebih pelan dan lebih rileks.
"Ohayou, Sasuke" Kata Izumo-san sambil tersenyum dan melambai kearahku. Aku hanya membalas senyumannya seperti biasa dan meletakkan sepedaku di tempat biasanya. Tampak seorang pria setengah baya dengan rambut hitam jabrik sedang menyapu daun-daun yang berwarna kuning berguguran di halaman sekolah.
"Yo, Sasuke" Sapanya sambil melambaikan tangan kanannya kearahku. Tou-chan kenal baik dengan dua orang pegawai sekolah ini sehingga mereka selalu menyapaku ketika aku baru saja masuk sekolah. Dan selalu saja aku membalas mereka dengan senyuman yang sama. Aku masih terlalu malu untuk menjawab salam mereka meskipun hanya berbasa-basi.
Aku pun berjalan menuju kelasku yang hanya melewati jalur lurus dari pintu gerbang dan kemudian naik tangga. Begitu sampai di kelas, seperti biasanya, hanya ada seorang anak cewek berambut kecoklatan dengan cepol dua layaknya panda.
"Ohayou" Katanya memberi salam padaku dengan tanpa ekspresi sekalipun.
"Hn" Jawabku dengan tanpa ekspresi juga. Anak itu kembali berkutat dengan novel tebal miliknya yang selalu dia bawa saat sekolah, faktanya, dia membawa jenis novel yang berbeda setiap kali sekolah dan kebanyakan novelnya setebal buku kamus.
Dengantingkat kecuakan yang lebih tingi dari aku, dan tingkat kerajinan yang jauuuhhh lebih tinggi daripada aku, tapi dalam hal nilai, dia jauh lebih rendah daripada aku. Aku curiga kalau dia mengidap dibil, jadi aku agak sedikit menjauh darinya.
"Eh…! Nanti ekskulnya ada pertemuan penting" Katanya sambil tetap menundukkan kepalanya. Hah…! Apa maksudnya dengan pertemuan penting ini ? Aku sudah memutuskan untuk tidak mengikuti ekskul kali ini dan kemudian dia tiba-tiba datang dan berkata ada pertemuan penting. WTF…!
"Sial…! Gimana nih ?" Gumamku sambil meletakkan tasku diatas kursi milikku dan kemudian langsung duduk sambil memejamkan mata, memikirkan solusi yang bagus buat masalah ini.
"Ohayou" Sebuah suara keras langsung mengagetkanku dan otomatis juga memecah konsentrasiku dalam memikirkan masalah yang saat ini tengah menimpaku. Kulihat cowok berambut kuning jabrik sudah nyengir rubah didepan pintu. Aku hanya menatapnya dengan tatapan malas dan kesal sebelum akhirnya kudesahkan nafasku perlahan dan mencba untuk memikirkan kembali solusi dari masalahku.
"Kau lihat jangka ku gak, Teme ? Sekarang kan waktunya matematika. Kalo aku gak bawa jangka, bisa-bisa aku dilempar pisau sama guru itu, mmm…! Siapa namanya ?" Kata Naruto sambil mengobok-obok laci meja yang berada disampingku dengan brutal. Beragam jenis sampah telah dia timbun disana, mulai dari sampah plastik makanan, sampai dengan sendok plastik bekas dia dapet nasi kotak masih ada disana. Pantes aja jangkanya hilang kalo mejanya aja berantakan gitu.
"I don't know and I don't care" Jawabku. Tapi, jika kupikirkan sejenak, ada benernya juga sih.
Tawaku meledak ketika aku memikirkan hal ini. Memang terdengar sedikit dipaksakan sih, tapi aku merasa ada yang lucu dengan kejadian ini.
"Kau kenapa, Teme ? Tawamu aneh sekali " Kata Naruto dengan nada khawatir sambil memandangku dengan tatapan aneh dan sedikit menjauhkan mukanya dariku.
"Kenapa kau menatapku seperti itu ?" Aku pun balik bertanya dengan nada heran dan risih melihat cowok duren ini menatapku dengan tatapan jijik begitu.
"Takut aja, tawamu mirip dengan tawa psikopat. Aku takut kalo kamu tiba-tiba nyekek aku lagi" Katanya dengan wajah innocent. Buset…! Nih anak ngeselin juga ternyata. Tapi aku udah terbiasa sama tingkah laku anak duren yang sering kali berubah menjadi duren ajaib ini.
Aku pun berjalan keluar dari dalam kelas, meninggalkan Tenten yang masih asyik membaca bukunya dengan tanpa ekspresi dan juga Naruto yang sibuk mengotori kelas hanya demi mendapatkan jangkanya kembali.
"Mungkin begini caranya alam bercanda dengan kita" Gumamku sambil berdiri dan menyandarkan tubuhku di pagar pembatas agar tidak jatuh dari lantai dua. Kurasakan semilir angin yang meniup helaian raven milikku dengan lembut.
Seringkali kita merasa terlalu sibuk sehingga tidak pernah memikirkan orang lain. Ketika kita sedang terburu-buru, tiba-tiba jalan macet. Ketika kita sedang santai, jalan terasa sangat mulus tanpa hambatan.
Tampaknya aku mulai sadar sesuatu kali ini. Hidup bukan hanya tentang diriku saja. Aku tersenyum memandangi keindahan langit biru muda yang tampak sangat indah, dihiasi dengan kapas berwarna keputihan yang tampak lembut, seakan-akan kamu bisa tidur dengan nyenyak di atasnya.
Kuambil hapeku dan kemudian langsung membuka WhatsApp dimana sudah banyak orang yang ngobrol sambil bercanda didalam grup yang baru saja aku ikuti. Teringat lagi olehku, debat yang cukup melelahkan tadi malam sampai aku bisa melupakan target yang sudah kupasang untuk menyelesaikan logo tersebut.
Dengan cepat aku pun mengetik untuk memberi salam pada member grup yang kuputuskan matang-matang untuk keluar dari grup tersebut karena mungkin aku tidak akan bisa ngobrol disana tanpa menyakiti member grup yang lain.
Gomenasai, all. Aku harus keluar dulu
Dengan cepat aku langsung menghapus dan keluar dari grup tersebut. Lalu aku pun mematikan hapeku yang hanya terisi setengahnya dan kemudian memasukkannya kedalam saku dan kembali menikmati semilir angin pagi yang sejuk. Aku tidak bisa menyalahkan siapa pun atas masalah ku ini sehingga sekarang aku yang harus menanggung resikonya.
"Baiklah…!" Gumamku sambil berjalan masuk kelas dan kemudian berjalan mendekati tenten yang masih asyik membaca buku setebal kamus tersebut.
"Aku mungkin nanti gak masuk ekskul. Bisa tolong katakan kalau aku sibuk dan tugasnya akan kukumpulkan lusa ?" Kataku dengan nada datar sambil menatap kearah cewek cepol dua tersebut. Dia mengalihkan pandangannya dari mataku dan menatap kebawah. Dia memang seperti itu kalau sedang bicara dengan orang lain sehingga aku pun merasa dicuekin olehnya.
"Baiklah" Katanya dengan nada pelan. Yosh…! Dengan ini beban tugasku menjadi tambah satu lagi.
-0-
"Teme, kau mau ikut footsal tidak ?" Tanya Naruto sambil mengikat tali sepatunya yang berwarna biru putih tersebut. Tampaknya dia baru saja ganti sepatu footsal. Aku hanya memandangnya tanpa ekspresi yang jelas dan mengambil tas punggungku lalu berjalan dengan cuek.
"Sorry, dobe. Aku agak sibuk minggu-minggu ini" Kataku sebelum meninggalkan duren ajaib tersebut. Aku pun berjalan menuruni tangga, melewati kerumunan anak yang tampaknya sedang bersenda gurau denganlega karena pelajaran sudah berakhir. Tempat parkir sudah ramai oleh bunyi klakson para siswa yang tidak sabar untuk pulang dan tidak mau antre.
"Yo, Sasuke" Sapa seseorang dengan rambut coklat sebahu sambil melambaikan tangan dengan manis kearahku. Aku pun menoleh dan mendapati sepasang mata berwarna hijau zambrud yang langsung menangkap onyx milikku dengan tatapan tajam darinya. Wajah sinis yang tak pernah tersenyum dengan rambut merah bata dan terkesan berantakan, serta tato bertuliskan 'Ai' yang ditulis dengan warna merah pada dahinya tersebut tak pernah kulupakan.
"Yo" Jawabku sambil melambaikan tangan dengan cuek kearah cewek manis yang berada di samping cowok tersebut. Aku pun menghiraukan keduanya dan kemudian melanjutkan perjalananku.
"Gaara-kun, kenapa kau tidak menyapanya juga" Sempat kudengar celoteh manja dari cewek tersebut pada cowok berambut merah bata yang bernama Gaara tersebut.
"Cowok yang sok cool seperti itu ga perlu diberi salam, Matsu" Cih…! Apa-apaan dia. Cewek manis tadi adalah Matsuir, dari kelas sebelah. Aku gak tau apakah mereka pacaran atau gimana, yang jelas Gaara memang tidak suka denganku. Dia selalu menganggapku saingan dalam segala hal, dan dia tampaknya banyak kalahnya.
"Arigatou, Izumo-san" Kataku sambil mengambil sepeda milikku dari pos satpam dan kemudian mengayuhnya menjauhi sekolah yang tampaknya masih ramai tersebut.
Aku menjauh dari sekolah dan berencana untuk istirahat di gubuk yang telah kutemukan kemarin ditengah sawah. Mungkin aku bisa mendapatkan sedikit inspirasi dengan potret alam yang akan kudapat di gubuk tersebut.
Aku pun sampai di gubuk tersebut dan langsung berjalan menuju kearah gubuk tersebut. Ku keluarkan hapeku untuk memotret beberapa pemandangan sebentar saja lalu kukayuh kembali sepedaku untuk segera pulang mengejar deadline yang sudah kutinggalkan dan kutunda tadi malem.
-0-
"Tadaima" Kataku sambil langsung melepas sepatu dari kakiku beserta dengan kaos kakinya dan meletakkannya secara tergesa-gesa di rak yang sudah disediakan tersebut dan kemudian langsung berlari menuju kamarku.
"Sasuke…! Sepatu mu terjatuh, lekas rapikan" Kata seorang wanita yang hanya membuatku nyengir innocent sambil menggaruk belakang kepalau meskipun tidak gatal.
"Ha'I, Kaa-chan" Kataku sambil kembali dan merapikan sepatuku yang sudah terjatuh tadi sambil memasukkan kaos kakiku yang sempat terlempar keluar dari lobang sepatu tadi. Lalu aku pun lanjut berlari menuju ke kamarku.
Tanpa basa-basi lagi, tanpa lepas seragam bahkan dasi pun tidak sempat ku lepas, aku langsung membuka laptopku dan mengetikkan passwordnya dengan cepat. Lalu dengan cekatan, aku menyambar mouse yang berada di kanan laptop dan bermain dengan illustrator sesuai dengan apa yang telah aku pikirkan saat pelajaran tadi.
Finishing touch tidak seberat berpikir mulai awal lagi, hanya main perasaan dan sedikit mencoba-coba untuk membuat hasilnya lebih baik. Kebanyakan untuk menyelesaikan logo hanya review dan tidak memerlukan teknik ilustrasi yang rumit.
Hanya dalam setengah jam aku sudah berhasil membuat logo yang bisa dipublikasikan. Tapi tam[aknya aku masih belum puas dengan hasil itu, jadi aku sedikit melakukan eksperimen untuk mencoba apakah logo itu memang sudah profesional atau tidak.
Dan… sesuai dengan perkiraanku, aku bisa menyelesaikan logo tersebut dalam waktu satu jam. Kulihat jam di pojok kanan bawah laptopku yang sudah menunjukkan pukul 16.00.
"Hampir saja telat" Gumamku sambil sedikit menghembuskan nafas lega melihat jam tersebut. Kulihat kembali hapeku yang dari tadi masih nongkrong dengan mulusnya dikantongku. Aku silent untuk berjaga-jaga agar aku tidak terpengaruh dengan bunyi hapekalau lagi konsentrasi.
"Eh…!" Gumamku tanpa sadar ketika telah melihat dua notifikasi WhatsApp dari Ino dan satu lagi dari orang asing (lagi ?)
Kenapa keluar Sasuke ?
Pesan dari Ino langsung kujawab dengan permintaan maaf dan penjeleasan kalau aku sibuk dengan kerjaan freelance ku dan tidak bisa bergabung dengan grup yang rame.
Satu pesan lagi dari nomor yang tidak kukenal.
Kenapa keluar Sasuke ? Gara-gara aku ya ? Gomenasai
Dahiku mengernyit heran membaca pesan dari nomor itu. Kayaknya dia memang member grup juga sih, dia bisa tahu kalau aku keluar dari grup. Tapi, apa hubungannya sama dia coba ? Aku kan ga kenal dia.
Ini siapa ?
Balesanku muncul begitu aku menekan tombol send dan aku langsung berpindah menuju interface BBM dan mengirimkan pesan pada client bahwa logo yang dia pesan sudah jadi dan akan aku kirim segera….
Setelah aku selesai mandi. Aku pun langsung bergegas mengambil handuk yang sudah tersampir di balik pintu dan berlari menuju ke kamar mandi begitu mendengar suara motor milik Itachi yang memasuki garasi. Bisa jamuran kalau menunggu baka aniki tersebut mandi.
"Tadaima…! Siapa yang ada dikamar mandi ?" Teriakannya kenceng banget, padahal baru aja masuk rumah tapi udah tanya siapa yang ada di kamar mandi. Pantesan aja kalo dia dikamar mandi suka ngetem lama banget.
"Sasuke…! Bisa cepet gak kalo mandi ?" Kata Itcahi begitu sampai didapur. Aku hanya mendengus kesal mendengar ucapan kakakku yang sangat aneh tersebut.
"Kau juga biasanya lama" Kataku tak peduli dengan gedoran dari Itachi yang tampaknya menyesal telah pulang lebih sore.
-0-
"Huh…!" Desisku pelan sambil menyeka air yang masih tersisa di helaian raven milikku yang tampaknya mudah sekali menyerap air. Aku pun mengganti seragam yang sudah kupakai sejak pulang sekolah tadi dengan hem berwarna putih dan celana berwarna biru.
"Sekarang, tugas karya tulis untuk ekskul" Kataku sambil membuka laptop milikku dan langsung googling untuk mencari ide apa yang bisa kutulis untuk tugas karya tulis ini. Banyak siswa yang nulis ide tentang pemanfaatan produksi pangan, tampaknya mereka hanya memikirkan tentang isi perut mereka saja.
"Eh…! Bukannya AjAX itu kurang populer ya ?" Gumamku ketika melihat artikel pilihan dari wikipedia yang membahas tentang AJAX yang notabene merupakan sebuah metode untuk pemuatan website modern zaman sekarang. Tampaknya hal ini akan jadi menarik nih, mengingat banyak web yang tidak menggunakan AJAX dikarenakan banyak terjadi konflik.
"Aku dapet ide" Aku pun langsung menuju kearah file-file simpananku untuk melihat apakah aku masih mempunyai web server. Setelah kutemukan filenya, aku langsung mengutak-atik web server tersebut dan kemudian melakukan serangkaian uji coba dengan web server.
"Sesuai dugaanku, ini merupakan sebuah penemuan yang tampaknya sepele namun akan dapat berguna bagi sebagian besar orang yang mengerti" Gumamku ketika mendapati sebuah jendela dengan tulisan bahasa Inggris yang lumayan ruwet. Aku pun tersenyum bangga dan kemudian langsung membaringkan tubuhku yang lumayan lelah setelah bermain komputer seharian ini.
"Besok tinggal nulis laporan doang" Gumamku dengan perasaan lega campur senang.
Tingggg…!
Suara notifikasi tersebut menyeruak masuk melalui telingaku. Tampaknya aku akan segera gajian nih. Aku langsung menyambar hape yang tergeletak di atas ranjangku dan kemudian membuka notifikasi tadi yang tampaknya adalah notifikasi BBM. Namun, kelihatannya ada juga notifikasi lain dari WhatsApp,tapi aku mengabaikannya karena aku lebih fokus pada client ku yang satu ini.
Sudah selesai ya revisi ketiganya, Sasuke-san ? Mohon untuk segera di kirim
Aku hanya menjawab Ha'I dan kemudian langsung menghidupkan bluetooth laptop dan hapeku untuk mengirim gambar yang sudah kubuat tadi. Aku pun mengirimkan revisi ketiga atau final tersebut kepada client ku melalui BBM dan menunggu balasan darinya.
Arigatou, uangnya akan segera kami transfer. Tampaknya revisi pertama anda lebih bagus. Tapi revisi kedua sama ketiganya akan jadi pertimbangan kepala pemasaran kami
Akhirnya, jadi juga gajiannya. Aku pun langsung melempar hapeku kembali ke ranjang dan kemudian bergegas keluar kamar. Yah…! Santai dulu lah sebentar, karena tidak ada kerjaan setelah ini.
Aku pun keluar dari rumah menggunakan sepeda milikku dan bergegas mengayuhnya menusuri jalanan senja Konohagakure. Langit berwarna kemerahan dengan matahari yang berwarna jingga terang masih sedikit mengintip di ufuk barat sana. Membuat langit yang semula biru mulus menjadi sedikit merona oleh terangnya sinas lemah dari mentari senja.
Aku pun berbelok di depan sebuah rumah dengan cat berwarna kuning dan atap berwarna merah lalu memarkirka sepedaku disana. Aku masuk melalui gerbang dan kemudian mengetuk pintu yang terbuat dari kayu tersebut.
"Eh…!" Gumamku ketika melihat sebuah sandal berwarna pink yang sudah terparkir dengan rapi didepan pintu tersebut.
Ceklek…!
Pintu berwarna coklat itu pun terbuka dan muncullah sosok gadis berambut pink yang membuka pintu tersebut dengan ekspresi heran.
"Sakura ?" Aku kaget juga dengan penampilan cewek dengan mata emerald yang tiba-tiba saja membuka pintu selagi aku masih memperhatikan sandal yang ada didepan pintu. Memang agak kurang kerjaan juga sih, tapi daripada nganggur.
"Teme, sudah lama kau tidak kesini" Sapa duren yang tiba-tiba aja menyeruak keluar dari belakang Sakura dan dengan cengiran rubah miliknya dia menyambutku dengan tatapan innocent dari mata safir miliknya.
"Kenapa kau ada disini, Sakura ?" Tanyaku menghiraukan si duren busuk yang sedang nyengir rubah tersebut.
"Dia kan pacarku, Teme"
"Hah…!" Ucapan Naruto jelas membuatku cukup terkejut mendengarnya. Yah..! Dari sini sudah jelas kalau aku sebenernya menyukai Sakura. Dia anak yang pinter dan manis, tapi sedikit cuek.
"Sejak kapan ?" Tanyaku dengan tenggorokan yang agak tercekat meskipun aku bisa sedikit menutupi nada bicaraku yang masih terkesan sedih tersebut.
"Kudet bener sih, dasar Teme. Sudah dua minggu yang lalu kali" Kata Naruto sambil sedikit manyun. Jijik juga lihat dia begitu, tapi Sakura malah tertawa senang melihat duren manyun itu.
"Eh…! Sasuke ya, tumben main kesini ?" kata seorang wanita yang cukup dewasa berambut merah panjang sambil tersenyum ramah kearahku. Aku heran wanita cerdas nan ramah ini bisa melahirkan anak macam dobe.
"Masuk dulu gih, Teme" Kata Naruto mempersilahkanku untuk masuk dan kemudian aku pun masuk diiringi dengan Sakura di belakangku. Biasanya kalau aku bermain ke rumah Naruto, aku langsung masuk kamarnya dan kemudian main game bersama dengan dia.
Tapi kali ini ada Sakura, jadi aku masih ga berani untuk mengajak Naruto main game. Mungkin nanti Sakura bakalan merasa dicueki sehingga kami bertiga menghabiskan waktu selama beberapa jam untuk mengobrol dan bercanda, tapi aku tidak ikut tertawa karena masih merenungkan hal ini.
Kenapa dobe bisa jadian dengan Sakura ?
Kenapa aku tidak berani mengungkapkan perasaanku padanya ?
Kenapa aku tidak bisa menjadi seseorang yang bersahabat layaknya dobe ?
Kenapa aku lebih banyak diam dan berpikir tanpa berkata dan berkomunikasi ?
Apakah ada yang salah denganku ?
-0-
Kukayuh sepedaku dengan kayuhan lemah, gontai karena mendengar hal yang begitu mengejutkan. Paraahnya lagi, hal itu harusnya sudah terjadi dua minggu yang lalu dan aku baru mendengarnya sekarang.
Angin keramaian lalu lintas malam Konohagakure mulai menerpa ku. Dingin menusuk tulang, tapi aku masih bertahan dengan hemku yang hanya bisa menutupi sampai batas lengan atas.
"Mungkin pacaran bukan hal yang cocok buatku" Gumamku mencoba untuk mengusir kepedihan yang terasa dihatiku. Meskipun sebenarnya aku masih sangat ingin pacaran, tapi dalam hati kecilku, aku masih lebih suka bermain-main dengan laptopku daripada harus menemani cewek jalan-jalan.
Langit terlihat bersih tanpa awan sedikit pun sehingga aku bisa dengan mudah melihat bintang-bintang yang bertaburan layaknya berlian yang ditebar diatas permadani berwarna hitam. Tapi, warna langit masih sekeluarga dengan biru, dan bukan hitam sempurna.
Tapi, ada satu hal yang masih kurang. Aku berhentikan sepedaku ditepi jalan untuk menyempatkan menoleh ke belakang meskipun hanya untuk sebentar. Terlihat bulan sabit yang sudah pada fase ketiganya sedang mengintip dilangit belakang.
"The world isn't over"
-0-
"Tadaima…!" Kataku begitu masuk kedalam rumah setelah memasukkan sepedaku kedalam garasi. Suara dari perutku yang keroncongan segera membawaku untuk pergi ke ruang makan. Tampaknya waktunya sudah tepat sekali untuk makan malam.
"Baru pulang, Sasuke ? Kukira kau akan makan malam di rumah Naruto" Kata Kaa-chan yang sepertinya masih menyiapkan makan malam. Itachi hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya kearahku. Sedangkan Tou-chan, tampaknya masih sibuk membaca laporan pekerjaannya. Aku pun mengambil tempat duduk disebelah Kaa-chan dan didepan Itachi.
"Sudahlah sayang. Kita bisa makan dulu" Kata Kaa-chan mencoba untuk menenangkan Tou-chan dan mengajaknya untuk makan dulu. Dan, kami berempat pun makan malam bersama seperti biasa.
"Ne, gimana dengan sekolahmu tadi pagi, Sasuke ?" Itachi mengawali pembicaraan dengan menanyakan sekolahku. Aku hanya menatapnya dengan tatapan heran sambil mengangkat sebelah alisku.
"Baik seperti biasa, senin depan ujian" Kataku sambil memasukkan sesuap nasi kedalam mulutku.
"Jangan terlalu berkutat pada pekerjaanmu saja, pikirkan juga sekolahmu Sasuke. Mending kau hentikan aja mencari client untuk design mu itu, untuk sementara aja. Manfaatkan waktumu untuk belajar" Kata Tou-chan dengan tatapan tajam kearahku. Aku hanya mengangguk pelan.
"Kalo menurut Kaa-chan sih, terserah kamu. Yang penting kamu harus bisa rangking satu lagi bagaimana pun caranya" Kata kaa-chan sambil tersenyum kearahku.
"Aku selesai" Kataku sambil berdiri dari kursiku dan kemudian berjalan meninggalkan tiga orang keluargaku untuk masuk kedalam kamar. Aku pun merebahkan tubuhku diatas ranjang milikku dan menghela nafas panjang. Kulihat disampingku, tergeletak hapeku yang berwarna kemerahan. Aku pun menyambarnya dan melihat ada beberapa notifikasi WhatsApp yang muncul.
Langsung kubuka WhatsApp tersebut yang tampaknya berisi sebuah pesan dari Ino.
Ganbatte ne, Sasuke
Kukira ini tidak perlu dibalas sehingga aku tidak perlu repot-repot memikirkan apa yang harus kukatakan padanya. Aku lihat nomor lain lagi dan menemukan tiga pesan dari nomor asing.
Tuh…! Kan nomorku aja gak di save
Aku Hinata, Hyuuga Hinata
Sasuke ? Kok diem aja sih, masih marah ya sama aku ?
Dahiku mengernyit heran membaca pesan dari nomor asing tersebut. Sepertinya ini nomornya Hyuuga-san ya ? Dengan terampil aku langsung mengetikkan sebuah balasan dari tanganku yang sudah terbiasa dengan keyboard virtual, apalagi dengan keyboard fisik.
Aku gak marah kok. Aku aja yang salah, bukan kamu.
Tak lama kemudian dia pun membalas pesanku. Buset…! Kok cepet banget sih balesnya. Aku pun membacanya.
Kamu boong ya ?
Hatiku panas juga mendengar dia mengatai aku boong untuk yang ke sekian kalinya lagi. Dengan cepat aku kemudian mengambil screenshot dari hapeku yang berisi pesan dari client tadi dan mengirimkannya ke hape Hyuuga-san. Lalu kutambahi dengan sedikit ucapan.
Tidak, aku memang sudah bekerja. Aku hanya mendapatkan sedikit inspirasi dari temanku yang sedang kehilangan jangkanya.
Aku pun melempar hapeku dan mengistirahatkan mataku sejenak. Begitu kubuka mataku, aku melihat lampu pemberitahuan dari hapeku mulai berkedip. Dengan perasaan sedikit malas aku mengambilnya dan membaca pesan yang dikirimkan oleh Hyuuga-san.
Wih…! Sugoiii…! Maaf, kalo aku sudah berrprasangka buruk
Kok dapet inspirasi dari teman yang kehilangan jangkanya ? Ada inspirasi apa disitu ?
Dengan cepat aku pun membalas
Dunia, bukan hanya tentang diriku saja
Lalu aku mengambil charger yang tergeletak di samping kiri laptop milikku dan mulai mencharge hapeku dan segera pergi tidur.
Semoga esok hari lebih baik.
TBC
Author pindah jurusan nih, dari seni programming menjadi seni design. Tapi masih ada unsur programmingnya lho, kayak design web gitu. Heheheh….!
Happy Read
