Design My love

Chapter 3

Gaming with Dobe

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuHina

Rated : T

Sasuke's POV

"Huffttt…!" Akhirnya sampai juga disekolah. Aku pun meletakkan tasku di depan kursiku seperti biasanya. Yang tidak biasa kali ini adalah, aku sendirian di kelas. Biasanya gadis bercepol dua itu aka Tenten selalu datang sebelum aku. Tapi entah dimana dia sekarang.

"Tampaknya aku harus mulai mengumpulkan data untuk tugas ekskul ku besok" Kataku begitu teringat kalau aku harus mengumpulkan karya tulis ku untuk ekskul besok. Aku pun mengeluarkan hape yang selalu jadi teman setiaku tersebut dan kemudianmembuka browser dan mulai googling sana sini untukmencari informasi tentang AJAX.

"Aku harus jelajah lewat laptop jika harus melakukan survey di internet tentang AJAX" Gumamku begitu melihat kalau aku harus melakukan browsing dari desktop untuk mendukung hasil eksperimenku saat ini. Aku pun beralih menuju aplikasi lain dan kemudian mencatat tugas untuk browsing di laptop sepulang sekolah nanti.

"Baiklah, mungkin akan makan waktu hampir semalaman" Gumamku sambi memperkirakan berapa waktu pengerjaan karya tulis ini. Kulihat notification bar milikku yang tampaknya menampilkan bahwa seseorang telah mengirimkan pesan WhatsApp. Karena saking konsentrasinya pada pekerjaanku, aku jadi tidak sadar kalau ikon tersebut sudah muncul sejak tadi malam.

Ih…! Apaan sih, kok tiba-tiba ngomong gitu

Kamu aneh tau gak

Aku mengernyit melihat pesan dari Hinata tersebut. Nomernya masih belum kusimpan sih, soalnya aku males untuk menyimpan nomor seseorang yang mungkin hanya akan kutemui sekali dalam seumur hidupku. Dengan cepat aku pun membalas pesan tersebut.

Aneh kenapa ? Memang benar kan ?

Kumasukkan kembali hapeku dalam saku dan kemudian mulai mencorat-coret buku catatan kecil yang kubawa dari rumah dengan kerangka karya tulis yang akan kubuat nantinya.

"Ohayou" Teriakan seseorang yang baru aja datang cukup membuat konsentrasi milikku jadi buyar karena hal tersebut. Kuputar kepalaku kearah datangnya suara dan mendapati Naruto sedang berdiri diambang pintu sambil memamerkan cengiran rubah miliknya.

Tetapi, yang lebih menarik perhatianku adalah sepasang mata zambrud yang menatapku dengan tatapan tajam seolah ingin membunuh. Cowok berambut merah bata tersebut lewat didepan kelas dengan tatapan tajam dan ekspresi datar yang selalu menghiasi matanya. Kutangkap sepasang zambrud tersebut dengan menggunakan tatapan onyxku yang sama tajamnya hingga dia menghilang dibalik pintu kelas sebelah.

"Oi…! Teme, kau melihat siapa ?" Tanya Naruto dengan tampang bodohnya sambil melihat kearah belakangnya. Aku hanya mengangkat sebelah alisku sambil menatapnya dengan tatapan heran, lalu kulanjutkan kembali aktivitasku.

"Ne, aku tau kalo kau kemarin datang ke rumah buat main game. Tapi karena ada Sakura aku jadi gak sempat buat main game, jadi gimana kalo kita main game disini aja ?" Kata Naruto sambil berjalan, atau lebih tepatnya melompati bangku-bangku yang ada untuk mencapai jalur yang lebih dekat kearahku. Dia pun meletakkan tasnya disamping tempat dudukku dan mengeluarkan laptop berwarna putih dari dalam tasnya tersebut.

"Waktunya gak cukup, dobe" Kataku sambil melihat kearah jam dinding yang terpampang didepan kelas yang sudah menunjukkan pukul 06.35 tersebut. Kulirik sebentar kearah bocah duren tersebut, tampaknya dia tidak menghiraukan ucapanku dan sudah menekan tombol power laptopnya. Lalu, dia kembali berkutat pada tasnya dan mengeluarkan joystick Playstation dengan konektor USB.

"Tenang saja, cuman satu pertandingan kok" Katanya sambil nyengir kearahku. Dia pun menyerahkan salah satu joystick miliknya kepadaku dan kemudian mengetikkan kata sandi laptopnya.

"Waktu kita hanya 10 menit, baka" Sungutku sambil menghela nafas pelan melihat tingkah laku dari temenku yang hiperaktif ini.

"Tenang saja, Teme. Jam yang ada didepan sudah aku rubah waktunya jadi 10 menit lebih cepat. Hari ini kan ada pelajarannya Anko-sensei" Katanya dengan wajah tanpa dosa sama sekali dan mulai menjalankan game favorit kami berdua aka game football. Buset dah…! Nih anak sampe segitunya sentimen sama guru matematika yang terkenal killer tersebut.

"Lagipula, aku belum pernah sekalipun mengalahkanmu" Katanya sambil sedikit manyun kearahku. Kulihat kembali coretan milikku, ku berpikir sejenak.

"Tampaknya aku sudah selesai dengan tugasku" Kataku sambil menutup buku coretan tersebut dan kemudian berkonsentrasi pada permainan football yang satu ini.

"Ayo, Teme" Katanya sambil menyeringai kearahku. Tampaknya dia suka banget memilih club Real Madrid yang bernuansa putih itu. Aku lebih suka memakai rival abadinya, yaitu Barcelona.

"Rival abadi" Ucapku sambil menyeringai kearah Naruto yang hanya dijawab dengan cengiran energik darinya. Beberapa menit setelah kami mulai mengatur formasi dan strategi permainan, kick off pun dimulai.

Sebenarnya aku tidak begitu jago dalam game ini, bahkan bisa dibilang payah sekali. Aku tidak sepandai dobe dalam mengolah bola, teknikku pun cuman sebatas teknik dasar aja.

Tapi, yang menjadi keahlianku disini adalah, kemampuanku dalam membaca pola permainan dengan baik dan aku tidak melewatkan sebuah kesempatan sekali pun untuk mencetak gol dalam permainan ini sehingga bahkan dobe yang terkenal sangat hebat dalam bermain sepak bola sekali pun takluk dihadapanku,

"Aarrrgggghhh…! Tinggal dikit lagi" Gerutu dobe ketika tendangan yang dia lesakkan hanya melebar kesamping gawang milikku. Aku hanya dengan serius menatap layar komputer untuk membaca pola permainan dan kemudian melakukan perlawan dengan serius.

"Teme…! Kok pemainmu bisa lolos sih" naruto kembali berisik ketika melihat seorang pemainku yang berdiri bebas disisi kanan lapangan lalu kemudian menyisir sisi tersebut sebelum akhirnya melesakkan sebuah umpan silang dan disambut dengan tendangan keras dari striker.

"Arrrggghhh…! Sialan, kau. Teme….!" Gerutu Naruto sambil menjambak rambutnya dengan ekspresi frustasi begitu melihat aku telah memasukkan bola kedalam gawangnya. Aku hanya memandangnya dengan tatapan datar. Masak hanya dengan serangan pertamaku dia sudah kewalahan gitu sih.

Satu per satu murid mulai berdatangan memasuki pintu yang tampak terbuka tersebut. Murid yang cowok pun berkerumun dengan sangat tidak rapinya di bangku milikku dan juga milik dobe. Yang cewek sedang bergosip ria di meja yang berada dua meja di depanku.

"Payah…! Kau, Naruto" Kata Kiba yang berada di sampingku sambil menjitak pelan kepala naruto ketika aku berhasil melesakkan gol keempatku yang aku peroleh dari sebuah umpan terobosan. Naruto hanya meringis kesakitan sambil mengelus-elus puncak kepalanya yang baru saja dijitak oleh Kiba.

"Teme, langsung skip aja deh replay nya. Kau tidak mengerti penderitaanku" Sungut naruto sambil mencoba untuk menekan tombol di joystick milikku. Aku menjauhkannya dari tangan dobe sambil menikmati angle yang lain dari replay gol yang cukup cantik tersebut.

"Arrrggghhh…! Teme" Sungut naruto terlihat frustasi dengan gol ku tersebut. Semua cowok tertawa melihat tingkah Naruto tersebut. Aku hanya menyeringai pelan kearah dobe yang tampak frustasi tersebut.

Tampaknya rekorku untuk tidak terkalahkan masih akan berlanjut.

-0-

"Yo, Sasuke. Tidak ikut main didalam ya ?" Tanya seseorang dengan badan tambun dan juga pipinya yang membulat sambil membawa sebungkus besar kripik kentang dan memakannya dengan sangat banyak sekali lahap.

"Enggak ah" Jawabku cuek pada cowok yang bernama Chouji tersebut. Chouji kemudian duduk di sampingku yang sedang duduk di bangku depan kelas sambil terus ngemil kripik kentang tersebut. Kulirik kearah anak bertubuh tambun tersebut, lalu kuintip sedikit kearah dalam bungkus kripiknya. Kripiknya masih banyak tapi dia tidak tawar kepadaku, dasar pelit….!

Eh…! Aku pun mengeluarkan hapeku begitu aku teringat pada sesuatu. Kulihat ada beberapa notifikasi WhatsApp, tapi hanya dari satu orang saja. Kubaca pesan dari Hinata.

Iya, benar

Dunia bukan hanya tentang diriku saja

Tapi apa maksud dari perkataanmu itu

Kulihat baik-baik chat tersebut, aku baru sadar kalau ternyata Hinata itu cepat membalasnya. Terlihat dari jangka waktunya yang hanya terpaut hitungan menit dari waktu aku mengirimkan pesan.

Yah…! Pokoknya begitu deh. Intinya, kita harus melihat sebuah pelajaran bahkan dalam peristiwa yang sangat sederhana sekali pun.

Aku memasukkan hape tersebut kedalam kantongku dan langsung melanjutkan acara terdiam dan merenung seperti biasa ini. Beberapa saat kemudian, kulihat lampu indikator notifikasi milikku sudah menyala.

Ternyata dia memang cepat dalam hal balas membalas pesan. Mungkin dia hidup dalam kebebasan dan hura-hura masa muda, tidak sepertiku yang harus bersusah payah dalam bekerja.

Iya, lalu gimana kau bisa menyimpulkan pelajaran itu hanya dari temenmu yang kehilangan jangka ?

"Lagi ngapain sih ?" Tanya Chouji yang dengan keponya langsung mengintip kearah layar hape milikku yang refleks aku tutupi dengan telapak tanganku agar tidak terlihat oleh bocah tambun ini. Remah-remah kripik masih tampak berserakan di sudut-sudut bibirnya. Nih anak jorok banget sih.

"Kepo" Sungutku sambil berdiri dari bangku yang berada didepan kelas sambil mengetikkan pesan untuk Hinata.

Kamu pikir sendiri deh

Kriiiinnnggg…!

Bunyi bel listrik berdering dengan nyaringnya sebanyak tiga kali. Tanda bagi para siswa (Khususnya yang berada di kantin) untuk kembali lagi menghadapi masa-masa pelajaran yang membosankan dan melelahkan. Aku pun memasukkan hapeku kembali kedalam saku dan kemudian masuk kedalam kelas ketika aku telah melihat guru berambut ungu yang terkenal killer berjalan menaiki tangga menuju kedalam kelasku.

"Mendadak sepi" Gumamku sambil sedikit tersenyum sinis begitu menyadari kalau semua siswa sudah masuk kedalam kelas begitu melihat guru angker tersebut.

Saatnya untuk pelajaran yang sangat melelahkan.

-0-

"Tadaima" Kataku sambil melepaskan sepatu sekaligus kaos kaki milikku begitu aku masuk kedalam rumahku seperti biasanya. Aku pun segera masuk kedalam kamarku dan segera menyalakan laptopku dan kemudian membuka browser Chrome yang merupakan browser yang menjadi favoritku.

Kulirik kebawah, lampu indikator hapeku tampaknya udah menyala. Kubuka hapeku dan melihat ada pm dari Hinata.

Menyebalkan….!

Kamu umur 16 ya ? Sama berarti

Eh…! Kok tiba-tiba nadanya jadi berubah gini ? Dengan cekatan,sambil menunggu halaman yang kubuka untuk loading, aku mengetikkan pesan pada Hinata.

Iya, aku umur 16 tahun. Kamu juga sama ya ?

Yah…! Aku tahu ini hanya mengulang kata-katanya tadi kembali dan tidak mengubah apa pun. Aku pun kembali berkutat dengan laptopku dan kemudian aku pun mulai membuka sebuah file word dan kemudian mulai mengetikkan sesuatu.

"Kutaruh dimana tadi ya ?" Gumamku sambil berdiri dan kemudian mengobrak-abrik tasku yang berada diatas ranjang. Kuambil buku catatan kecil yang berada di dalam tasku dan kemudian kubuka sambpul berwarna kuning tersebut dan mencari coretan yang kubuat tadi siang.

"Ini dia" Kataku begitu melihat catatan tersebut dan kemudian merobeknya dari catatan dan langsung menempelnya pada papan yang ada di depan laptop milikku. Lalu, dengan bantuan dari coretan tersebut, aku merancang karya tulis dengan data yang baru saja ku survey dari internet dan tentu saja masih hangat didalam kepalaku.

Dan dalam waktu kira-kira satu setengah jam, aku berhasil membuat outline dari makalah tersebut dengan data-data yang sudah lumayan lengkap dan juga cukup relevan untuk digunakan dalam sebuah karya tulis.

"Mandi dulu ah" Gumamku begitu melirik kearah jam yang berada di dinding sudah menunjukkan hampir setengah lima. Aku langsung menyahut handuk yang sudah tersampir di balik pintu kamar dan langsung berlari menuju kamar mandi ketika aku mendengar suara motor Itachi berderu digarasi.

"Sasuke…! Aku duluan yang mandi"

-0-

Tadi kan aku sudah bilang, telmi banget sih XD

Dahiku berkerut begitu melihat balasan dari Hinata yang tampaknya menyindirku tersebut. Aku pun mengetikkan balasan dengan cepat. Rambutku tampak masih basar dengan handuk yang masih berada diatas kepalaku untuk mencegah air menetes membasahi hapeku.

Terserah…!

Aku pun melemparkan hapeku keatas ranjang dan kemudian langsung berkutat kembali kepada laptopku yang masih menyala karena aku harus mendahului Itachi yang bernafsu untuk mandi duluan (dan pastinya bakalan lama kalo nungguin dia mandi). Aku pun melanjutkan outline tersebut dengan sedikit memberikan kesan yang elegan dengan menggunakan tipografi yang tegas serta mendominasi designnya dengan warna biru muda dan hitam agar terkesan maskulin dan cool.

Kulirik hapeku yang nampaknya LED notifikasinya sudah berkedip-kedip, menunjukkan kalau ada notifikasi yang menungguku. Aku pun meraih hape tersebut dengan menjulurkan tanganku dan kemudian membuka notifikasi yang ternyata masih dari Hinata.

Kamu itu jutek banget sih. Tinggal dimana ?

Yah…! Wajar sih kalau banyak orang menganggapku jutek dengan kepribadianku yang terkesan pendiam dan cuek ini. Tapi menurutku itu cool banget. Aku pun melepaskan mouse dari tanganku dan kemudian mengetik dengan menggunakan dua tangan agar bisa lebih leluasa dan lebih cepat.

Semua orang bilang aku jutek, kalo gak suka, maaf, kamu bisa cuekin aku. Aku tinggal di Konohagakure.

Dan kembali lagi, hapeku menjadi korban pelemparan tanganku yang dengan seenak jidat langsung melempar hape berwarna kemerahan tersebut kearah ranjangku dan kembali berkutat pada karya tulisku ini.

Selama setengah jam berikutnya aku berkutat pada cover book untuk karya tulis tersebut dan akhirnya aku menemukan sebuah layout yang sederhana dan masih terkesan elegan. Dan akhirnya aku berhasil menyelesaikannya sepuluh menit sebelum makan malam dimulai.

"Hufthhh….!" Kuhembuskan nafas lega sambil merenggangkan seluruh tubuhku untuk mengusir kepenatan yang telah mengusikku sejak beberapa menit yang lalu. Aku pun merentangkan tanganku dan kemudian memejamkan mataku, menenangkan pikiranku dan berusaha untuk stay awake dan tidak fall asleep karena sehabis makan malam, aku bisa tidur sampai pagi.

Kulirik kembali hapeku yang sudah menyalakan lampu indikator notifikasi tersebut dan kemudian aku langsung menyambarnya untuk membaca pesan yang lagi-lagi berasal dari Hinata.

Aku dari Kumo. Enggak kok, malah aku lebih suka cowok yang jutek daripada cowok yang banyak omong. Isinya angin doang XD. Sejak kapan kamu mulai bekerja ?

Dahiku pun mengerut begitu membaca pesan dari Hinata. Kenapa dia jadi kepo ? Padahal kemarin dia cuek dan mengatakan kalau aku pembohong. Aku pun mengetik dengan cekatan dan kemudian melemparkan hapeku keatas ranjang ketika Kaa-chan telah memanggilku untuk segera keluar dan makan malam.

Sejak beberapa bulan yang lalu.

End of Sasuke's POV

-0-

Normal POV

"Sasuke, tambah lagi udangnya. Aku tahu ini kesukaanmu" Kata Itachi sambil mengambil dua buah udang goreng dan menaruhnya di piring milik Sasuke. Sasuke hanya menjawab dengan kata yang biasanya dia ucapkan.

"Hn" Gumamnya sambil memakan salah satu dari udang tersebut. Itachi hanya terkekeh pelan melihat kelakuan adik berambut emo raven tersebut. Mikoto hanya tersenyum melihat tingkah laku Itachi yang bahkan lebih kekanak-kanakan daripada adiknya sendiri.

"Mau tambah sayurnya lagi, Sasuke ?" Kata Mikoto sambil menawarkan semangkok sayur yang ada didepannya pada Sasuke.

"Sayur baik buat mata lho. Kamu kan harus menjaga kesehatan matamu agar bisa design" Kata itachi yang dengan seenaknya langsung menyendok sayur tersebut dan menumpahkannya ke piring Sasuke. Sasuke hanya menyambut dengan deathglare pelan pada cowok berambut raven panjang tersebut.

"Apa-apaan sih ini" kata Sasuke sambil manyun dan dengan malas menyendok nasi dipiringnya beserta sayur yang sudah ditumpahkan dengan sengaja oleh Itachi di piring adik kecilnya tersebut.

"Baiklah, aku selesai" Kata Sasuke ketika dia sudah menghabiskan makanan miliknya dan bersiap untuk berdiri dan berjalan menuju kearah kamarnya.

"Sibuk nih ?" Sindir Itachi ketika melihat Sasuke yang dengan terburu-buru berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Sasuke berhenti dan kemudian menoleh kearah Itachi.

"Enggak juga" Kata Sasuke sambil berbalik badan dan kemudian berjalan kembali duduk diatas kursinya tadi. Dia lalu memandangi seluruh anggota keluarganya satu persatu dengan wajah datar.

"Apa ada yang perlu dibicarakan denganku ?" Tanya Sasuke sambil menatap Itachi dengan tatapan meminta informasi.

"Enggak juga. Tapi aku hanya memintamu untuk menceritakan bagaimana sekolahmu tadi siang, selama ini aku tidak bisa memonitor sekolahmu sama sekali" Kata Itachi dengan raut wajah serius kearah Sasuke. Sasuke hanya mengangkat bahu sambil memasang wajah datar.

"Yah…! Seperti itu lah, aku tidak pernah mengacau, nilai yang yah…! Mmm…! Cukup memuaskan bagiku dan tidak ada masalah sama sekali, semuanya berjalan normal" Kata Sasuke dengan raut wajah malas kearah kakak laki-lakinya yang suka kepo tersebut.

"Sou ka. Mungkin tidak cocok bagiku untuk menanyakan masalah sekolah pada adikku yang cerdas ini" Kata Itachi sambil berpangku tangan dan tersenyum kearah Sasuke. Sasuke hanya memutar bola matanya melihat tingkah dari kakaknya tersebut.

"Terserah kau lah" Kata Sasuke dengan nada cuek.

"Kalo membicarakan cewek bagaimana ? Kau sudah punya cewek belum ?" Kata itachi sambil mengangkat kedua alisnya dan nyengir kearah Sasuke yang masih memandangnya dengan ekspresi datar.

"Kau sendiri udah punya calon belum, kau sudah umur 22 tahun dan punya pekerjaan tetap. Masa belum ada yang mau kau lamar" Kata Sasuke dengan nada datar dan sukses menghujam hati Itachi yang langsung pundung sambil menundukkan kepalanya. Mikoto hanya tersenyum melihat tingkah kedua putra (jomblo) nya yang memiliki wajah diatas rata-rata tersebut.

"Konsentrasi saja pada pelajaranmu, Sasuke. Dan, Itachi, kau masih cukup muda kok. Aku dulu umur 30 tahun baru menikah dengan ibumu, jadi jangan terburu-buru memilih pasangan hidup. Kau tingkatkan saja dulu pekerjaanmu" Kata Fugaku yang tampaknya dari tadi diam aja mendengarkan ocehan dari putranya.

"Tapi, Tou-chan. Aku ingin segera menimang cucu" Kata Mikoto sambil sedikit terkikik geli melihat keseriusan dari suaminya tersebut.

"Tuh…! Denger kata Kaa-chan, Itachi" Kata Sasuke sambil menyeringai kearah Itachi kemudian langsung terkikik geli melihat ekspresi dari Itachi yang sedang pundung.

"Kau sudah belajar buat pelajaran besok, Sasuke ?" Tanya Fugaku dengan nada dingin kearah putra bungsunya tersebut. Sasuke kembali terdiam. Dalam hal keseriusan, dia masih kalah ddengan ayahnya yang selalu serius dalam banyak hal, hampir tidak bisa bercanda sama sekali, bahkan dengan istrinya sekalipun. Mungkin Sasuke lebih mewarisi sifat ayahnya yang serius dan juga workaholic tersebut.

"Ha'I, Tou-chan. Aku sudah mengerjakan semua tugas yang ada disekolah" Kata Sasuke dengan nada segan.

"Bagus" Kata Fugaku sambil beralih kepada Itachi dan kemudian berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan mereka bertiga menuju kedalam kamarnya.

"Aduh…! Sudah hampir jam delapan. Aku harus menyelesaikan laporan nilai dan juga soal untuk muridku" Kata Itachi sambil melihat arloji yang menempel ditangan kanannya tersebut. Dia bergegas pergi dan meninggalkan dua orang di meja makan.

"Kaa-chan, apakah tidak ada film yang ingin kau tonton ?" Tanya Sasuke sambil melihat kearah ibunya yang mulai membereskan perangkat makan malam yang baru saja dia gunakan. Mikoto memandang putra bungsunya sejenak sambil tersenyum manis.

"Kau bebas kan ? Bisa tolong siapkan satu film yang bagus buat Kaa-chan" Kata Mikoto sambil membawa piring dan gelas kotor tersebut ke dapur dan beberapa detik kemudian, terdengar suara guyuran air di wastafel dari arah dapur. Sasuke pun berdiri dan kemudian mengantongi kedua tangannya lalu kemudian berjalan masuk kedalam kamarnya dan menyalakan laptop miliknya dan segera mencari film yang bagus di hardisk eksternal khusus film miliknya.

"Mungkin ini akan menarik" Kata Sasuke sambil membuka folder dan kemudian memutar film tersebut, tapi dia jeda sejenak sebelum memutar film untuk menunggu ibunya datang. Dia kemudian menyambungkan laptopnya dengan speaker eksternal untuk mendapatkan audio yang lebih jernih kualitasnya. Dan beberapa menit kemudian semua peralatan multimedia sudah siap dan tinggal menekan tombol play saja.

Sasuke pun membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan kemudian membuka hapenya untuk melihat pesan dari seseorang didunia maya yang baru saja dia kenal.

"Tampaknya dia dalam status online, mungkin aku harus sedikit lebih ramah sama dia" Batin Sasuke begitu melihat pesan dari Hinata yang dalam status online.

Kerja dibidang apa ? Emang kamu gak sekolah ya ?

Kemudian dia mengetikkan sesuatu dengan jarinya yang sudah terampil dengan keyboard virtual tersebut.

Aku freelance, kerja di rumah sebagai seorang designer. Yah…! Kadang aku belajar di sela-sela kesibukanku dalam design grafis

"Huft…!" Mikoto yang tiba-tiba saja masuk langsung membaringkan tubuhnya di samping Sasuke dan kemudian dengan keponya mengintip apa yang dilakukan Sasuke bersama dengan hapenya tersebut.

Sasuke pun dengan cepat langsung menutup layar hapenya. Itu memang refleksnya ktika menyadari bahwa hapenya telah diintip. Entah apa yang dirahasiakannya dihape terseut sampai-sampai dia mempunyai refleks yang sebagus itu.

"Apaan sih, Kaa-chan ?" Kata Sasuke sambil menjauh dari ibunya dengan tatp membawa hape. Tangannya tidak lagi menutupi layar hapenya, melainkan sudah gelap dan tidak bisa dibaca lagi, alias screen off.

"Hayo…! Sedang apa kamu Sasuke ? Lagi sms sama pacarmu ya ?" Tuduh Mikoto sambil menyeringai kearah putra bungsunya tersebut. Berbeda dari Fugaku, Mikoto sedikit lebih ceria dan lebih fleksibel.

Kalau Fugaku melarang keras putranya untuk berpacaran sampai dia sukses, Mikoto justru memanas-manasi putra rupawan nan jomblonya itu untuk mencari pasangan hidup sebelum terlambat seperti ayah mereka.

"Bukan, cuman ada anak iseng yang kepo" Sangkal Sasuke sambil berdiri dan kemudian menghadap kearah laptopnya sambil menekan tombol play. Mikoto nonton film yang diputarkan oleh Sasuke sambil tiduran diatas ranjang milik Sasuke, sedangkan Sasuke yang notabene sudah pernah nonton film tersebut sedang asyik menikmati obrolannya dengan Hinata.

"Kasihan juga dia ya, aku kalo bales lama banget" Batin Sasuke yang rupanya merasa kasihan menyadari bahwa dirinya kalau membalas pesan terlalu lama.

Hinata : Pelajaranmu gak terganggu ?

Sasuke : Aku mempunyai cara belajar sendiri

Hinata : Benarkah ?

Hinata : Kamu kelas berapa ?

Sasuke : Kelas 11

Hinata : Kok bisa ? Padahal kita seumuran

Hinata : Boleh kupanggil Sasuke-senpai ?

Sasuke : Terserah

Hinata : Sou ka, Sasuke-senpai

Hinata : Kalo Sasuke-kun gimana ? Biar terasa lebih akrab ?

Sasuke : Aku agak merasa risih jika dipanggil Sasuke-kun, jadi panggil Sasuke aja

Hinata : Katanya tadi Sasuke-senpai ?

Sasuke : Terserah deh. Who care

Hinata : Baiklah, Sasuke-senpai.

"Udah selesai ya ?" Tanya Mikoto ketika melihat credit film yang tampak berjalan dari bawah keatas yang berisi crew pembuatan film.

"Udah, Kaa-chan. Kan pembunuhnya udah mati tadi" Kata Sasuke sambil mematikan hapenya dan beralih menuju laptop. Tampaknya Mikoto sudah terlalu hafal dengan jalan cerita sinetron yang bila musuh utama mati, maka akan muncul lagi musuh baru yang tampak lebih jahat dan lebih garang lagi.

"Kok dimatiin sih ? Gak ada yang lebih bagus lagi ya ?" Tanya mikoto ketika melihat layar laptop yang sudah mati didepan Sasuke. Sasuke memandang Mikoto dengan tatapan sayu alias sudah mengantuk.

"Gomenasai, Kaa-chan. Aku sudah ngantuk" Kata Sasuke sambil melemparkan tubuhnya keatas ranjang dan menarik selimut dibawahnya untuk segera bersiap tidur.

Mikoto hanya tersenyum melihat tingkah putranya tersebut dan segera beranjak berdiri meninggalkan putra bungsunya yang sedang tertidur tersebut dan menutup pintu.

TBC

Yah…! Apa yang bisa author katakan soal ini ya ? Uhm…! Uhm…! Kayanya gak ada deh, hehehe….!

Happy Read