Design My love

Chapter 3

Examination

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuHina

Rated : T

Normal POV

Suara burung yang terdengar berkicau merdu menghiasi pagi yang indah di desa Konohagakure. Tetesan embun yang terlihat segar tampak masih menetes diujung hijau dedaunan dan rerumputan yang tumbuh disepanjang sawah dan ladang disana.

Dan dijalan setapak yang banyak orang berlalu lalang itu, terlihat seseorang dengan seragam putih-putih miliknya sedang mengendarai sepeda dengan semangat. Wajahnya menggambarkan kesemangatannya yang sedang berkobar, helaian raven di atas kepalanya tampak masih basah dan beberapa bulir air menetes dari ujung-ujungnya.

"Hari pertama ujian, Fisika dan Pkn. Aku semakin merasa tertantang" Gumamnya disela-sela wajahnya yang sedang semangat tersebut sambil sedikit menyeringai entah pada siapa. Tampaknya Sasuke sudah melakukan persiapan untuk menghadapi ujian kenaikan kelas ini.

"Pagi sekali kau, Sasuke" Sapa Izumo yang seperti biasanya, sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi susu yang dia beli di warung depan sekolah tersebut. Sasuke yang saat itu sudah turun dari sepedanya menuntunnya dan kemudian memarkirkannya ditempat favorit miliknya sendiri.

"Bukannya aku biasanya berangkat jam segini, Izumo-san ?" Tanya Sasuke sambil menatap Izumo dengan tatapan heran.

"Ujian dimulai jam setengah delapan, apa kau tidak melihat jadwal, Sasuke ? " Kata Izumo sambil sedikit terkekeh pelan mendengar jawaban dari Sasuke tersebut. Mendengar hal tersebut, Sasuke langsung melepas tas punggungnya dan kemudian mengobrak-abrik tas tersebut untuk mencari jadwal ujian miliknya.

"Benar, terus kenapa aku datang jam enam" Kata Sasuke dengan wajah frustasi ketika menyadari kalau dia datang kepagian. Teringat kembali olehnya ketika dia dengan terburu-buru melahap sarapannya karena mengira dia bakalan telat pagi ini.

"kan bisa belajar dalam kelas, buat siapin contekan" Kata Izumo sambil sedikit menyeringai melihat tampang frustasi dari Sasuke. Sasuke pun berdiri dan kemudian membereskan peralatan tempur miliknya sambil mengecek apakah ada barang yang tertinggal.

"Aku harus menunggu satu setengah jam" Gumam Sasuke sambil berjalan dengan tas punggung yang sudah menempel di punggungnya. Sasuke pun menaiki tangga yang sepi menuju kelasnya dan membuka pintu kelasnya yang masih saja tertutup.

"Kalau mau ujian aja rapi banget" Keluhnya begitu melihat ruang kelasnya yang tampak tertata rapi. Tidak ada kertas berserakan di lantai, laci meja pun bersih dan tidak ada sampah yang tertinggal disana. Bahkan sekarang, kursi dan meja pun saling berbaris rapi dengan jarak yang sudah beraturan layaknya pasukan yang akan berangkat perang.

Sasuke pun berjalan menuju ke deret paling belakang untuk mencari nama yang tertempel di masing-masing bangku tersebut.

"Ck…Ck…Ck…! Aku masih harus berhadapan dengan dobe" Sungut Sasuke begitu melihat kearah meja disebelah kanannya yang bertuliskan 'Uzumaki Naruto'. Sasuke pun meletakkan tasnya diatas kursi miliknya dan kemudian berjalan keluar kelas.

"Sepi" Gumamnya begitu keluar kelas dan kemudian dia duduk dengan manisnya diatas bangku yang berada di depan kelasnya tersebut. Dia merogoh kantungnya untuk mengeluarkan hape berwarna kemerahan yang indikatornya sudah menyala. Dia tersenyum sambilemenyalakan hapenya dan kemudian membaca pesan yang berasal dari Hinata.

Ohayou, ganbatte ne, Sasuke-senpai :D

Dia pun mengetikkan sesuatu dan kemudian memasukkan hapenya kembali kedalam sakunya.

-0-

"Ne, ne, Gaara-kun. Aku perlu bantuanmu untuk mengerjakan soal yang ini" Kata seseorang dengan rambut coklat muda sebahu sambil mengobok-obok sesuatu dalam tas punggungnya yang sekarang berada di depan nya. Seorang cowok berambut merah bata acak-acakan memandanginya dengan ekspresi datar.

"Ini…" Kata si cewek sambil menunjukkan sebuah soal pada anak yang dipanggil Gaara tersebut. Cowok berambut merah bata aka Gaara itu pun mengambil lembar soal milik cewek yang notabene bernama Matsuri tersebut sambil membacanya dengan cepat.

"Sebentar, aku cari dulu rumusnya di buku" Kata gaara sambil membuka tasnya dan kemudian mencari buku yang ada di dalam tasnya. Beberapa saat kemudian, muncullah buku dengan tebal yang cukup meumpuni bersampul yang didominasi oleh warna putih dan ungu. Dia pun membolak-balik buku tersebut untuk mencari rumus sementara Matsuri menunggunya dengan setia.

"Gaara" Panggil seorang berrambut pink yang diikuti dengan seorang berambut kuning jabrik yang tiba-tiba saja menghampiri Gaara dan Matsuri. Cewek yang berambut pink, aka Sakura mendekati Gaara sambil membawa lembar soal, sementara si duren, aka Naruto cuman mengikuti Sakura dari belakang tanpa ada niat buat belajar. Gaara pun mengangkat kepalanya dan kemudian menatap Sakura (masih) dengan ekspresi yang datar.

"Aku perlu bantuan untuk mengerjakan soal yang ini" Kata Sakura sambil menunjukkan lembar soal yang persis sama dengan yang ditunjukkan oleh Matsuri.

"Ini juga lagi mengerjakan soal yang sama, Sakura-chan. Soal itu sulit banget rumusnya tidak ada di buku, bener kan ?" Kata Matsuri yang hanya dijawab dengan anggukan pelan oleh Sakura. Dan beberapa menit kemudian mereka terlibat obrolan seru mengenai guru yang membuat soal tersebut. Insting gosip mereka masih berjalan meskipun habis ini bakalan ujian.

Terlihat Gaara yang mulai mencorat-coret ruang kosong disebelah soal tersebut dan menggunakannya sebagai hitungan untuk mengerjakan soal tersebut. Beberapa saat kemudian, dia mencoret kembali hitungannya dengan kesal dan frustasi yang tampak dari gurat wajahnya.

"Ada yang hilang dari soal ini sehingga aku tidak bisa menyelesaikannya. Soalnya tidak lengkap" Kata Gaara sambil menyerahkan soal tersebut pada Matsuri yang menerimanya dengan seulas senyuman manis.

"Pantas, tidak bisa kuselesaikan juga" Kata Sakura sambil memegang soal tersebut dan bersiap naik keatas tangga menuju kelasnya yang berada di atas tangga tersebut. Naruto yang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan hanya manggut-manggut saja melihat tingkah tiga orang yang rajin tersebut.

"Kalian tidak keatas ?" Tanya Naruto ketika dia mengikuti Sakura dari belakang sambil menoleh kearah GaaMatsu yang masih duduk diam di bawah. Gaara hanya menggeleng pelan menjawab pertanyaan dari Naruto tersebut.

"Dibawah lebih enak" Kata Matsuri sambil melambaikan tangan pada Naruto yang hanya dijawab dengan cengiran rubah oleh bocah duren itu. Ketika Naruto dan Sakura sudah sampai diatas, terlihatlah Sasuke yang sedang mengetik dihapenya yang berwarna kemerahan sambil tersenyum sendiri, entah apa yang dibaca oleh pemuda berambut pantat ayam tersebut. Tapi yang jelas, hal itu cukup untuk membuat Naruto penasaran sehingga dia berlari menghampirinya.

"Lihat apa, Teme" Tanya Naruto sambil mengintip disisi kanan Sasuke. Seperti biasa, Sasuke secara reflek menutupi layar hapenya dan memandang Naruto dengan ekspresi datarnya.

"Rahasia" Jawab Sasuke masih dengan ekspresi datarnya sambil dengan cepat menekan tombol send dan kemudian mematikan layar hapenya. Ternyata dia sedang membalas pesan dari Hinata.

"Oh…! Iya, Teme. Mungkin kau tahu soal sulit yang tidak bisa dikerjakan oleh Sakura-chan. Tanyakan saja sama teme, Sakura-chan" Kata Naruto memanggil Sakura yang tampaknya sedang duduk ditangga sambil memegang ballpoint untuk mengerjakan soal yang dibawanya tadi. Gadis berambut pink itu pun menoleh dan kemudian memandang Naruto dan Sasuke bergantian.

"Katanya soalnya tidak lengkap. Kurasa tidak mungkin bisa dikerjakan" Kata Sakura sambil berdiri dari tangga dan kemudian berjalan menghampiri Naruto dan Sasuke yang sedang duduk di bangku depan kelas.

"Kata siapa ?" Tanya Sasuke dengan ekspresi datar kepada Sakura.

"Kata Gaara" Yang ditanya Sakura eh malah yang menjawab Naruto yang saat itu masih ingin tahu apa yang dilakukan sobat pantat ayamnya ini sehingga secara diam-diam dia mau menarik keluar hape Sasuke dari kantung bajunya. Tentu saja dengan mudah Sasuke menyadari hal itu dan kemudian menepis tangan Naruto sambil mengirimkan deathglare padanya yang hanya dijawab dengan cengiran innocent dari bocah rubah itu.

"Aku tidak pernah menemui soal yang tidak lengkap saat ujian kenaikan. Bukankah yang menyusun adalah dewan guru dari Konohagakure ?" Tanya Sasuke sambil menengadahkan tangannya, bermaksud untuk meminta soal yang dibawa oleh Sakura. Sakura hanya mengangkat bahunya dengan ekspresi tidak tahu sambil memutar bola matanya.

"Aku lebih suka dapet soal yang kayak gitu karena pasti nanti akan diberi bonus" Kata Sakura sambil terkekeh pelan. Sasuke hanya memutar bola matanya mendengar ucapan Sakura tersebut dan kemudian membaca soal tersebut dengan teliti untuk menemukan apa yang tidak bisa ditemukan oleh Sakura.

"Ketika perasaan ingin tahumu berkurang, saat itu lah kamu telah kehilangan semangat untuk belajar " Kata Sasuke melontarkan kata-kata indahnya.

"Whatever" Jawab Sakura tak mengerti dan tak mau mengerti apa yang dibicarakan oleh makhluk emo berambut pantat ayam didepannya ini. Kembali Sasuke berkonsentrasi pada soal yang berada didepannya dan kemudian mencorat-coret ruang kosong yang ada diatas soal. Sakura hanya memutar bola matanya melihat Sasuke yang mencorat-coret bagian yang atas dan bukan yang berada disamping soal.

"Okashii ne" Gumam Sasuke sambil meletakkan tangan didagunya dengan ekspresi berpikir.

"Nani ?" Tanya Sakura yang tampaknya tadi mendengar Sasuke menggumam, meskipun tidak jelas.

"Bukan apa-apa" Jawab Sasuke sambil tetap melotot pada soal fisika tentang fluida tersebut. Soal yang menurut mereka bertiga bisa dikerjakan dengan hukum Bernoulli itu nampak aneh dan tidak bisa dikerjakan dengan cara biasa. Sasuke melihat sekilas gambar yang berada di samping soal tersebut untuk mencari apa yang telah dilewatkannya. Beberapa saat kemudian dia tersenyum menyadari sesuatu yang telah dilewatkannya tersebut.

"B, jawabannya yang B" Kata Sasuke tiba-tiba sambil menyerahkan soal yang masih ada bekas coretannya. Sakura hanya menatap Sasuke dengan tatapan heran, darimana nih anak tahu jawaban soal itu tanpa menghitungnya sekalipun. Jangan-jangan dia mencoba untuk belajar meramalkan jawaban untuk menguji insting miliknya.

"Gimana caranya ?" Tanya Sakura sambil menyerahkan kembali soal tersebut dan kemudian hanya dijawab dengan tatapan datar oleh Sasuke.

"Kuharap kau bisa menemukannya sendiri. Soal ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, mungkin akan ada soal yang serupa untuk ujian tahun ini jadi jika kau menemukan jawabannya sendiri, mungkin kau akan bisa mengerjakan soal tersebut nanti" Kata Sasuke dengan ekspresi datar.

"Darimana kau tahu soal ini akan keluar nanti saat ujian ?" tanya Naruto yang lebih terkejut lagi mendengar Sasuke juga meramal soal yang akan keluar di ujian nanti. Jangan-jangan sobatnya yang satu ini sudah beralih profesi menjadi dukun lagi.

"Mungkin banyak dari senpai kita yang tidak bisa menyelesaikannya, sehingga para dewan guru Konohagakure mengeluarkan lagi soal itu untuk melihat apakah guru fisika disini sudah mengajarkan cara dari soal tersebut atau belum" Kata Sasuke sambil mengambil soal dari tasnya dan menunjukkan soal tersebut yang penuh dengan hitungan yang rumit, tapi tanpa ada coretan pada multiple choice. Sepertinya dengan hitungan yang bejibun itu pemilik soal tidak bisa menemukan jawabannya.

"Hitungan milik senpai kita" Kata Sasuke sambil menunjukkan hitungan rumit tersebut.

"Yah…! Tampaknya kita tidak bisa mengandalkan guru fisika kita" Kata Sasuke sambil mengeluarkan hapenya dan berusaha untuk tetap menutupinya dari mata Naruto yang hanya manyun melihat Sasuke sudah mulai main rahasia-rahasiaan dengannya.

Kriiinnnnggg…!

"Nampaknya kita harus bersiap"

-0-

Sasuke's POV

Kubuka mataku sambil membiarkan kesunyian dalam kelas merasuki kedua telingaku. Kuangkat kepalaku dengan mata yang masih setengah tertutup akibat ngantuk untuk melihat seorang sensei dengan rambut coklat dan mata merah sedang duduk terdiam sambil mengawasi muridnya. Aku mendesah pelan sambil meletakkan kepalaku kembali, berusaha menahan kantuk yang luar biasa ini dan berusaha agar tidak tidur dengan mulut terbuka.

Aku sudah selesai mengerjakan fisika dan sesuai dengan dugaanku, soalnya lumayan menantang sehingga perlu waktu kurang lebih empat puluh lima menit bagiku untuk menyelesaikan seluruh soal. Biasanya aku hanya perlu tidak kurang dari 30 menit. Kulirik kearah dobe yang nampaknya sudah menyerah dan memilih untuk menggambar sesuatu pada kertas buram yang dibagikan untuk hitungan tadi.

"Ssssttt…! Teme" Kudengar dia membisikkan kata-kata pelan, tapi akulebih bersifat acuh karena aku tidak mau membodohkan temanku sendiri. Aku hanya menutup mataku dan berpura-pura untuk tidur. Sakura duduk dibangku nomor dua dari depan dan kami berdua duduk dibangku paling belakang, sehingga sulit bagi dobe untuk menyontek dari Sakura.

Selain itu, kuangkat kepalaku untuk melihat guru dengan rambut bergelombang tersebut sekali lagi. Guru itu tidak killer dan juga tidak tampak menyeramkan. Guru mata pelajaran sosiologi tersebut adalah guru yang ditakuti karena pelajarannya. Aku pernah sekali ditegur olehnya dengan kata-kata pedas didepan umum, dan itu membuatku sangat menyeganinya. Meskipun aku masih kesal bila harus dijatuhkan didepan umum seperti itu.

Kulihat guru tersebut berdiri dan kemudian berjalan menuju ke depan pintu kelas. Dia melihat awan sekilas didepan pintu tersebut. Kulihat tampaknya kesempatan emas itu digunakan oleh Chouji dan Kiba yang duduknya depan belakang (Chouji di depan dan Kiba di belakang) untuk saling bertukar jawaban.

Aku hanya mendesah pelan melihat mereka berdua yang dengan seenaknya menyontek walaupun mereka ada di barisan pertama dan kedua, barisan yang berada di dekat guru. Dengan malas aku kembali meletakkan kepalaku diatas meja dan berusaha untuk tetap terjaga dari serangan kantuk yang mulai menggebu-gebu.

Brak…!

Bunyi keras menyeruak masuk dan dengan refleks aku mengangkat kepalaku, mencari sumber bunyi yang ada di depan. Guru sosiologi yang notabene bernama Kurenai-sensei itu tengah menatap Chouji dengan tatapan horror.

"Kalian berdua, bisa ngerjakan sendiri gak ?" Katanya dengan nada tajam kearah Chouji dan Kiba. Chouji hanya menunduk sambil memainkan pensilnya sementara guru bermata merah itu sedang berdiri di depannya sehabis menggebrak mejanya.

"Kalian tadi sudah mengetahui kalau saya sudah memergoki kalian menyontek, tapi saya diam saja. Apakah kalian tidak segan untuk terus menyontek" Tanya Kurenai-sensei sambil memandang horror kearah mereka berdua. Apa kubilang, guru ini benar-benar pedas kata-katanya.

"Kamu juga, sudah berada hampir didepan guru tapi masih menyontek" Katanya sambil menunjuk batang hidung milik Sakura. Yah…! Mereka berdua menyontek dari Sakura tampaknya. Aku tak yakin mereka bertukar jawaban yang benar kalau tidak dengan Sakura.

Kulihat jam dinding yang berada di depan. Waktunya sudah pas kembali ketika guru sosiologi tersebut menyadari ada yang janggal waktu pertama kali memasuki kelas ini dan menyuruhku dan Naruto untuk mengambil dan menyetel ulang sepuluh menit lebih awal. Sehingga sekarang, aku masih harus menunggu tiga puluh menit lagi untuk bisa keluar dari ruangan ini. Detak jam tersebut terasa begitu keras akibat sunyinya ruangan kelas setelah gebrakan meja dari Kurenai-sensei memcah kesunyian tadi.

"Huh…! Lama banget sih, mana hapeku ada didalam tas lagi" Gumamku hampir tanpa suara. Yah,…! Aku tidak mau ada resiko seseorang yang tiba-tiba menelepon dari dalam laci atau bahkan saku ketika aku sedang mengerjakan soal. Bisa kena diskualifikasi kalau aku benar-benar mengalami hal tersebut.

Tapi, tampaknya aku mulai tertarik dengan anak yang benrnama Hinata itu. Kata-katanya selalu saja menghangatkan, dia enak diajak ngomong dan mengerti kapan waktunya bercanda dan kapan waktunya serius. Entah kenapa aku jadi pengen ngobrol lebih lama lagi dengannya.

Meskipun aku tidak pernah melihat wajahnya secara langsung, tapi tampaknya dia anak yang baik dan mungkin dia cukup cantik juga. Jika aku meminta fotonya dia akan marah atau enggak ya ? Eh…! Aku jadi penasaran dengan grup yang dibuat oleh Ino yang pernah kutinggalkan seminggu yang lalu, gimana kabarnya ya ?

Aku menjadi semakin tertarik dengan orang-orang yang baru saja kukenal lewat WhatsApp dan tampaknya aku sudah sedikit terbuka dalam menghadapi masalah-masalah hidup ini.

"Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri" Itulah prinsip yang sudah kupegang kuat sejak dulu. Bahkan sampai sekarang, aku masih memiliki prinsip bahwa aku memang harus menyelesaikan masalahku sendiri. Karena, teman tidak akan mampu berada disamping kita selamanya, sehingga penting bagi kita untuk tetap menyelesaikan masalah kita sendiri agar kita tidak menggantungkan semuanya pada orang lain. Itulah sebabnya aku masih menjadi seseorang yang tertutup dan tidak mau berbagi masalah dengan orang lain karena masalah punyaku kok dibagi-bagi. Memangnya ada orang yang mau menerima masalah.

Tapi, cuma seminggu mengenal Hinata bisa membuatku sedikit lebih terbuka, meskipun aku masih memegang kuat prinsip masalahku sendiri. Aku cuman sedikit sharing pengalaman dengan Hinata dan masih mencari solusi permasalahanku sendiri dan tidak pernah meminta saran sedikit pun. Dan tampaknya dia tidak keberatan karena kami mempunyai masalah pribadi sendiri-sendiri.

Kulihat kembali jam dinding yang berada didepan kelas tersebut, masih ada sepuluh menit sebelum jam ujian selesai. Kenapa aku merasa kalau jarum jam itu semakin lama berputar semakin lambat. Aku pun kembali meletakkan kepalaku diatas meja sambil tetap berpikir untuk membuatku stay awake and not to fall asleep.

"Pengumuman, ditujukan kepada siswa peserta UKK bahwa waktu mengerjakan ujian tinggal sepuluh menit lagi, sekali lagi waktu mengerjakan ujian tinggal sepuluh menit lagi" Suara seorang guru tampak terdengar berkoar-koar dengan menggunakan pengeras suara.

Aku pun mendesahkan nafas lega sambil membereskan lembar jawaban dan lembar soal sekaligus mengecek apa ada bekas iler milikku di lembar jawaban komputer milikku. Kalo ada bekas iler di lembar jawaban bisa kacau karena ga bakal bisa di koreksi di lembar komputer. Juga bakalan memalukan sekali.

Kelas yang tadinya sunyi senyap sekarang berubah gaduh meskipun hanya dengusan-dengsuan pelan dan desahan nafas frustasi karena tidak dapat mengerjakan soal yang lumayan rumit tersebut.

"Teme, jangan pura-pura gak denger ya ?" Sekarang naruto tampak mulai panik memanggilku dengan suara yang lumayan keras. Kurenai-sensei menolehkan kepalanya dengan cepat kearah Naruto begitu telinganya menangkap suara dari dobe. Aku hanya cuek sambil menoleh kearah lainnya, pura-pura tidak melihat kearah duren yang sekarang cuman nyengir innocent kearah guru yang pedas tersebut.

"Bagi yang sudah selesai, boleh meninggalkan ruangan kelas. Lembar soal di letakkan di meja depan guru dan lembar jawaban diletakkan diatas meja" Kata Kurenai-sensei sambil berbenah kertas-kertasnya yang sudah berserakan diatas meja guru. Tampaknya tidak ada seorang pun yang bergeming diantara kami sekelas, semuanya masih panik untuk mencari jawaban yang rumit. Aku pun tidak bernafsu untuk mengumpulkan duluan karena dobe akan menggunakan kesempatan itu untuk menyontek pekerjaanku secara leluasa ketika aku sudah keluar nanti.

"Teme, please" Kata dobe yang masih saja memelas untuk mendapatkan contekanku. Sebenernya aku merasa kasihan juga pada dobe yang nampak memelas itu. Bagaimana pun juga dia sahabat ku mulai dari kecil, entah mengapa kami berdua selalu sekelas dan sebangku. Mungkin dia menguntitku karena ingin tertular oleh kepandaianku. Tapi dia tidak pernah sekali pun mengajakku belajar bareng.

"Huh…! Tiga nomor aja" Kataku akhirnya luluh juga melihat tampang melas dari sahabat baikku tersebut. Cengiran ceria mulai terlihat di wajahnya, dia pun melihat lembar jawabannya dan kemudian menoleh kearah depan, memastikan bahwa Kurenai-sensei tidak mengawasi kami berdua.

"18, 21, 29" Bisiknya sambil merunduk, aku pun mengintip lembar jawabanku untuk melihat nomor yang ditanyakan oleh Naruto. Kulihat soal yang membahas nomor tersebut. Ternyata memang lumayan sulit, dia rupanya sudah menyiapkan soal yang sulit untuk menanyaiku jawabannya.

"D A B" Kataku mengeja jawaban yang tertera di atas lembar jawabanku. Aku kemudian kembali merapikan soal milikku yang sempat berantakan untuk mencari jawaban soal yang ditanyakan oleh Naruto.

"Thanks, Teme" Katanya sambil mengarsir jawaban yang telah kuberikan tadi. Kulirik dia yang mengerjakan setiap soal dengan ngebut. Rupanya dia sudah menyiapkan jawabannya di lembar soal dan kemudian tinggal menyalinnya ke lembar jawaban.

"Time Up, yang masih megang pensil tidak akan saya terima" Kata Kurenai-sensei sambil melihat kearah jam dinding. Nampaknya dia teliti sekali sampai bahkan meneliti sampai di jarum panjangnya (jarum yang tipis panjang warna merah aka jarum detik). Semua siswa langsung melepaskan pensilnya secara serantak. Bahkan diantara meraka ada yang jatuh kebawah karena terburu-buru melepaskan pensil miliknya. Kurenai-sensei tampak tersenyum senang melihat murisnya yang begitu patuh tersebut.

"Kalian diperbolehkan untuk keluar" Katanya sambil berjalan dari depan bangku lalu menyamping berdasarkan urut absen. Aku pun berdiri dan kemudian mengambil tas milikku yang kuletakkan dibelakang. Beberapa anak meletakkan tasnya didepan, tapi karena aku dan dobe merupakan barisan belakang, jadi lebih efisien untuk meletakkan di belakang daripada didepan.

Kulirik kebagian depan dimana banyak yang berlalu lalang untuk mengambil tasnya. Ditengah-tengah berlalu lalangnya siswa tersebut, pandanganku terbentur pada siswi berambut pink yang sudah kusukai semenjak aku masuk kelas sebelas. Anak cantik nan pandai yang sekarang menjadi pacar dari sahabatku tersebut nampak membawa tasnya keluar dari lalu lalang sambil membawa clip board di tangannya. Tapi yang membuatku terkejut adalah dia membawa serta buku catatan yang di selipkannya di clipboard.

"Buku Fisika ?" Gumamku ketika melihat pemandangan aneh tersebut.

"Nani ?" Tanya dobe sambil mengangkat tasnya dan memandangku dengan tatapan heran.

"Bukan urusanmu, dobe" Kataku sambil memberesi peralatanku yang Cuma sebatang pensil dan juga sebatang pulpen. Aku seseorang yang sangat percaya diri sehingga aku tidak memerlukan sebuah penghapus untuk merevisi jawabanku. Aku pasti yakin sepuluh juta persen itu bener.

"Habis ini Pkn yah…! Kau tahu harus belajar apa, teme ?" Tanya dobe sambil menungguku berdiri dari tempat duduk. Aku berdiri dan kemudian langsung mengangkat tas hitamku dan berjalan keluar kelas diiringi dobe. Tapi tetep saja, dobe langsung berjalan menuju Sakura yang sudah nongkrong didepan pintu kelas. Yah…! Meskipun gadis berambut pink yang sekarang tengah berusaha mengerjakan soal pkn tahun lalu itu sudah ada didepannya dan mengajaknya untuk belajar, dobe pasti hanya bengong doang kaya bodyguard yang pendiem di dekat Sakura.

"Geser dikit" Kataku sambil menyenggol pundak Chouji yang sudah duduk sambil senderan di pojokan dengan kripik yang sudah setia menemani istirahatnya.

"Kau disana aja tuh, ko suruh geser-geser sih" Kata Chouji sewot ketika kusuruh geser yang sekaligus mengganggu acara makan kripik kentangnya.

"Ogah, disana panas" Kataku sambil mendorong lebih keras Chouji agar segera minggir dari tempatnya dan usahaku sukses. Aku pun duduk dengan tenang dipojokan, tempat yang teduh yang berhasil kurebut dari Chouji.

"Guru yang tadi nyeremin banget ya" Katanya dengan mulut yang masih penuh dengan kripik kentang. Remah-remahnya berserakan di bahuku sehingga aku harus mengirimkan sebuah deathglare dari butiran onyx milikku sambil membersihkan bahuku tersebut. Dia cuman nyengir innocent doang dengan mulut yang penuh dengan kripik kentang yang sudah dikunyah. Menjijikan sekali makhluk ini.

Aku pun kembali merenung dalam pikiranku. Semua orang ternyata hidup dalam asumsinya sendiri. Semua orang hidup dalam dunia yang berbeda dan sulit untuk menyatukan pendapat mereka semua. Bahkan orang dengan logika super sekali pun bisa dengan mudah dipatahkan hanya dengan perasaan mereka.

Perasaan suka ku pada Sakura yang sudah mendalam sepertinya telah menutup mataku, dan melihat kalau semua hal yang dilakukan oleh Sakura adalah baik. Dia baik dalam dan luar bagaimana pun. Tapi ternyata aku salah, perasaan itu mungkin telah mengakibatkan penilaian yang subjektif.

Jika ingin menjadi orang yang objektif, seseorang harus melepaskan semua perasaan dan pra sangkanya kepada orang lain sehingga penilaian tidak tergantung pada perasaanya.

Tapi tampaknya, keobjektifan itu kurang berguna dalam design grafis. Karena bagaimana pun juga, aku harus bisa menjadi subjektif orang lain. Untuk membuat karya yang bagus di mata orang lain, kita harus menjadi orang tersebut, benar kan ?

Kusunggingkan seulas senyuman lega sambil mengeluarkan hapeku yang sudah muncul indikator merah, pertanda ada notifikasi yang belum kubaca.

TBC

Waduh…! Waduh…! Waduh…! Nampaknya author mulai mengalami yang namanya keteteran nih. Maklum, sudah kelas tiga jadinya sekolahnya harus lebih lama lagi, dan pulangnya lebih siang lagi, jadi maaf bila banyak telatnya dan jarang update lagi.

Happy Read