Design My love

Chapter 5

New Project

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuHina

Rated : T

Sasuke's POV

"Teme, gambarmu ini gimana sih…?" Kata dobe dengan wajah frustasi begitu melihat gambarku yang kelihatan acak adut itu. Aku hanya memandangnya dengan tatapan datar.

Ini adalah hari terakhir ujian semester 2, dan materi terakhirnya adalah Seni Budaya dan Ketrampilan. Bagi para siswa IPA, harus berkutat dengan gambar mistar, proyeksi, yah…! Pokoknya istilah teknik gitu lah, tanpa adanya kreativitas karena semuanya bergantung pada ukuran.

"Eh…! Yang diwarnai merah yang mana saja ?" Kata Sakura sambil mengambil gambarku dari tangan Naruto dan membandingkannya dengan gambarnya sendiri. Kulirik guru yang berada didepan kelas yang lagi duduk dengan tenangnya sambil melihat kearah kelas yang jadi berantakan ini.

Ujian sudah dimulai sedari lima belas menit yang lalu, tapi nampaknya cuman aku seorang yang sudah menggambar dengan sempurna. Yah…! Ini semua juga karena guru seni budaya gadungan itu.

Yang aku ingat dia cuman masuk kelas sekali, dan kemudian membagikan tugas yang harus dikerjakan selama satu semester penuh, setelah itu dia tidak Nampak batang hidungnya, bahkan dikelas lain pun dia tidak nongol. Bener-bener guru teladan.

"Thanks ya" Kata Sakura yang nampaknya sudah selesai dengan gambarnya setelah lima menit membandingkannya dengan gambarku.

"Kau sudah selesai?" Tanyaku pada gadis berambut pink tersebut. Harus kuakui sih, meskipun aku sudah pernah memikirkannya (di chapter 4), aku masih tidak bias memungkiri kalo aku masih suka sama Sakura. Jadi aku masih merasa agak canggung bila berdekatan dengannya.

"Sudah. Kenapa emang?" Tanyanya dengan raut wajah yang heran. Kusunggingkan seulas senyuman sambil memasukkan kertas ulanganku kedalam laci.

"Gak papa. Kalo udah selesai, tolong share sama yang lain dong. Aku males kalo cuman punyaku yang digilir" Kataku sambil mengambil tasku yang kutaruh dibelakang. Sakura hanya memutar bola matanya sambil berjalan menuju bangkunya yang berada didepan.

"Ngapain kau masih disini, Dobe? Kau bisa minta ajarin sama Sakura sana" Kataku sambil mengibas-ngibaskan tangan kiriku kearah bocah duren yang saat ini masih berdiri disampingku, sedangkan tangan kananku kupake untuk mengobok-obok bagian dalam tasku untuk mencari hapeku.

"Masak minta ajarin sama pacar sendiri sih, gengsi tau" Dengus dobe sambil menarik kursinya yang berada disampingku untuk lebih mendekat kearahku.

"Kukira kau mendekatinya untuk mencari ilmunya" Kataku heran begitu melihat bocah duren ini. Bukan apa-apa sih, tapi sejak kapan dia memperhatikan masalah gengsi, biasanya dia juga malu-maluin tuh.

"Sudahlah, jangan banyak omong. Lekas ajarin aku gimana caranya menggambar seperti punyamu itu" Katanya sambil mengobok laciku, berharap menemukan hasil kerja kerasku yang sudah kusimpan dengan rapat di laci.

"Apaan sih" Sungutku sambil menepis tangan nista itu agar menjauh dari laciku. Dobe memang selalu gini, jika sudah merengek sulit sekali dienyahkan. Aku ragu kalo dia ini satu genus dengan kutu rambut yang (juga) hamper tidak bisa dienyahkan.

"Nih, kau jiplak aja lah" Kataku sambil mengeluarkan gambarku dan mendorong kursi dobe menjauh dariku sementara aku menyalakan hapeku yang indikatornya sudah berkedip.

Sudah selesaikah ujiannya, senpai?

Aku hanya sedikit tersenyum melihat sebuah pesan dari Hinata tersebut. Aku pun membalasnya dengan cepat.

Udah sih, cuman buat formalitas doing, jadi aku masih ngetem didalem kelas

Aku pun memasukkan kembali hapeku kedalam laci dan kemudian duduk sambil sedikit merenung. Yah…! Diantara semua mata pelajaran yang diujikan, aku merasa kalo aku paling lemah dalam hal biologi. Nampaknya aku juga sedikit khawatir dengan nilai biologiku yang pas-pasan ini, tapi nampaknya aku bakalan terselamatkan dari remedy.

Selain itu, setelah ujian ini, akan ada class meeting, tentu saja aku tidak ikut. Jadi mungkin lebih baik aku bolos aja dirumah. Wusshh…! Semilir angin dari luar meniup gorden yang tadinya tertutup menjadi sedikit terbuka. Akibatnya, angin sepoi tersebut menghembus dan menerbangkan helaian ravenku.

Kutahan sedikit rambut ravenku agar tidak menutupi mataku. Kulihat kearah guru yang sedang berjaga didepan yang sekarang sudah mulai berdiri dari kursi guru dan kemudian berjalan kearahku.

"Kau sudah selesai?" Tanyanya ketika sudah sampai didepanku dengan tatapan datar dan terkesan (sok) cool. Aku hanya membalas tatapannya tersebut dengan balik menatapnya dan kemudian kuanggukkan kepalaku.

"Gurunya ga pernah nerangkan ya?" Katanya sambil mengambil lembar kerjaku yang entah sejak kapan sudah ada diatas mejaku.

"Yah…! Maklumlah, kan guru seni disini kurang. Sehingga sensei itu…" Gawat…! Aku lupa siapa nama dari sensei yang mengajar kesenian.

"Oh…! Kalian diajar oleh Aoba-sensei ya, guru matematika itu" Kata sensei tersebut sambil sedikit tersenyum dan mengembalikan kertas ujianku keatas mejaku.

"Kalian semua sudah selesai?" Tanya sensei dengan rambut keperakan tersebut sambil berbalik dan berjalan dengan cepat menuju meja guru. Secara serempak, para siswa yang ada dalam kelas sepakat untuk menjawab 'ya'.

"Baiklah, kalian boleh mengumpulkan pekerjaan kalian. Tapi jangan ada yang keluar dari kelas" Kata sensei tersebut yang hanya dijawab dengan koor 'huuuu' dari anak-anak lain.

"Percuma dong kalo ga boleh keluar kelas" Celetuk Kiba dengan suara yang memang cukup terbilang lantang. Kulihat kembali hapeku yang sudah menyalakan indicator (baca : alarm) merah, tanda ada notifikasi yang masuk.

Cabut aja, senpai #bisikan setan

Kutersenyum simpul membaca pesan dari Hinata tersebut dan kemudian membalasnya dengan cepat pula.

Aku udah cabut dari tadi ko, males di sekolah terus *smirk*

"Ko kayanya kamu asik sendiri sih" Kata seseorang yang langsung mengejutkanku. Secara reflex,aku langsung menutup layar hapeku dan melihat keatas untuk memastikan bahwa siapapun yang menegurku tadi bukanlah seekor sensei.

"Ck…! Dobe" Dengusku kesal ketika menjumpai duren busuk tersebut tengah berdiri sambil nyengr rubah di sampingku. Tapi tampaknya si duren itu tidak hanya nyengir kearahku, tapi juga menyeringai. Aku aja sampe bergidik melihat seringaiannya yang sangat menyeramkan tersebut. Mungkin ratu dedemit pun pasti akan langsung tunduk dihadapannya.

"Aku tadi liat foto cewek lho…!" Kata Naruto sambil nyengir. AKu hanya memutar bola mata dengan tatapan datar. Nih anak terang-terangan banget sih kalo ngibul, orang Hinata make foto dengan gambar kartun, aku bahkan ga make gambar apa-apa kecuali logo anonymous.

"Siapa tuh, Teme?" Katanya sambil nyenggol-nyenggol bahuku dengan tangannya.

"Kalo dusta jangan terang-terangan gitu dong, orang tadi aku lagi menghubungi client ko" Kataku ikutan ngibul. Kalo ngibul dibales ngibul ga dosa kan? #bisikan setan.

"Eh, kamu mau ikut maen juga ga ntar sepulas sekolah?" Tanya Naruto sambil menyeret kursi tempat dia duduk dan kemudian duduk disampingku sambil memainkan kertas ujianku yang masih tergeletak diatas meja.

"Kemana?" Tanyaku sambil mengangkat sebelah alisku.

"Ke bioskop lah. Kamu tahu kan kalo hari ini akan diputar film yang terbaru itu lho" Kata Naruto sambil sedikit terkekeh pelan. Kuberpikir sejenak sambil mengusap daguku. Sebenernya aku sudah punya film yang akan diputar itu sih. Soalnya aku juga lumayan suka dengan dunia perfilman. Secara itu juga seni efek dan design, apalagi yang 3D animation, bikin ngiler pengen segera buat.

"Sama siapa aja?" Tanyaku yang mulai terlihat tertarik dengan ajakan (baca : hasutan) si duren busuk ini.

"Yah…! Kalo kamu mau ikut sih aku mau ajak Chouji sama Kiba biar bisa boncengin kamu" Eh…!

Yah…! Nampaknya aku juga mulai mengerti dengan posisiku sekarang. Biasanya aku dibonceng oleh si duren ini ketika akan kerja kelompok, karena biasanya bila aku tidak ikut dalam diskusi, pekerjaan tidak akan kelar karena mereka cuman ngoceh doang. Tapi nampaknya dobe masih mau ngajak Sakura deh.

"Nampaknya aku ga bisa deh. Acaraku padat banget sehabis ujian ini" Kataku sambil melihat kearah apliaksi kalender bisnis yang berisi semua acaraku. Naruto tampak memandangku dengan tatapan heran.

"Kalo ga mau ga papa juga sih, aku tau ko kalo kamu itu sibuk banget" Katanya sambil nyengir kearahku. Yah…! Nampaknya aku mengibulinya dua kali.

Sebenernya aku males aja melihat dobe kencan dengan Sakura, rasanya gimana gituh. Dan nampaknya aku baru saja selesai membuat jadwal dadakanku untuk setelah ujian ini.

Sekarang adalah hari Selasa, dan pembagian raport munngkin Sabtu depan lagi. Selasa sampai Sabtu ini mungkin akan diisi dengan kegiatan remedy, Setelah itu, Senin sampe Kamis mungkin akan diisi dengan class meeting, dan tentunya aku tidak bisa itu Sabtunya baru pembagian raport.

Itu artinya aku punya waktu sekitar 10 hari untuk liburan sendiri di rumah. Tapi masalahnya, aku tidak punya client yang sedang meminta designnya, alias nganggur.

"Hm...!" Gumamku sambil berpikir, apa yang enaknya kulakukan ketika aku sedang liburan sendiri seperti ini.

"Baiklah, anak-anak. Bagi yang sudah selesai, kalian boleh meninggalkan ruang kelas ini" Kata sensei yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan kemudian segera mengumpulkan semua peerjaan anak-anak tersebut satu persatu.

Aku pun langsung berdiri sambil membawa hapeku yang masih kusembunyikan di kolong meja dan memasukkannya kedalam tasku sambil tetap berpikir apa yang enaknya aku lakukan saat liburan nanti. Pasti akan sangat membosankan bila aku hanya membantu Itachi menyelesaikan laporan sekolahnya.

"Kau beneran ga ikut nih, Teme?" Tanya Dobe yang nampaknya masih ingin mengajakku untuk ikut maen ke bioskop bersama dengan Sakura. AKu hanya menggelengkan kepalaku sambil sedikit menyunggingkan senyuman cool.

"Gak usah deh" Kataku sambil berjalan dengan membawa tas punggung yang sudah nongkrong di punggungku. Eh...! Tapi..

"Kau mau ke bioskop kan, Dobe?" Tanyaku tanpa menoleh kearah Dobe.

"Ya, kenapa emang?" Dobe malah nanya bali. Aku pun berbalik sambil merogoh saku celanaku dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas. Aku menghitungnya sejenak dan kemudian menyerahkannya pada Dobe.

"Kalo mau ke bioskop haru melewati Gramedia dulu kan? Sekalian aku titip beliin buku" Kataku sambil menyerahkan uang tersebut ketangan Dobe.

"Eh...! Kau mau beli buku juga ya? Kebetulan sekali, tadinya aku juga mau mengajak Naruto untuk mempir ke Gramedia buat beli buku" Kata Sakura yang langsung nongol disamping Naruto dengan tas punggung berwarna pinknya.

"Hn" Jawabku ccuek aja dengan ucapan Sakura tadi.

"Judulnya 'The Principle of Beautiful Web Design'" Kataku dengan wajah yang datar sambil melihat Dobe yang sedang menghitung uang tersebut.

"Ini ada kembaliannya ato gak?" Tanyanya dengan wajah innocent. Aku hanya memutar bola mataku mendengar ucapan Dobe tersebut.

"Kalo ada kembaliannya ambil aja" Kataku sambil berbalik dan berjalan keluar dari kelas. Tapi, sebelum ku melangkah, satu pertanyaan dari Sakura nampaknya memberiku ide untuk membuat liburanku menjadi sedikit lebih menyenangkan.

"Kau mau buat web?" Tanya Sakura yang langsung membuatku berhenti seperti sebuah mobil yang ngerem mendadak. Web? Aku pun menyunggingkan seulas senyuman. Kenapa tidak terpikirkan olehku? Aku masih belum punya sarana marketing yang baik buat designku. Bila aku membuat web, mungkin akan banyak lagi ynag menyadari potensiku. Itu artinya akan ada banyak waktu untuk mencari client dan belajar design lebih banyak lagi.

"Menurutmu?" Kataku sambil menolehkan kepalaku kearah dua orang tersebut dengan wajah datar dan kemudian langsung pergi dari sana tanpa memedulikan reaksi dari wajah mereka yang terlihat bingung.

Yeah...! Aku punya rencana baru sekarang. Aku pun duduk di depan kelas dan kemudian mengutak-atik hapeku untuk mengatur agendaku selama sepuluh hari liburan.

Mulai dari mengatur layout, tipografi, mengumpulkan resource dan kemudian baru membuat file html. Setelah itu, untuk mengupload ke web hosting dengan menggunakan wordpress.

Mungkin akan makan waktu sepuluh hari untuk menjadikan web itu. Setelah itu aku akan libur selama tiga minggu, aku akan menggunakannya untuk mengatur SEO web dan menyiapkan artikel.

"Beres" Kataku begitu melihat kearah agendaku yang cukup padat untuk minggu ini. Aku pun berjalan menuruni tangga dan kemudian mengambil sepedaku yang berada di tempat parkir. Seperti biasa, aku menyapa terlebih dulu pada tukang parkir yang berada di pos satpam.

"Yeah...! New Project"

-0-

"Tadaima" Seruku begitu masuk rumah sambil melepas sepatuku dan meletakkannya di rak sepatu. Aku pun masuk kedalam kamar dan kemudian menyalakan laptopku. Aku pun menuliskan bebeerapa catatan agenda yang akan aku lakukan beberapa hari ini agar tidak lupa.

"Baiklah, sekarang aku akan melihat layout nya" Kataku sambil melepaskan seragamku dan kemudian memakai sebuah kaos singlet dengan design typography yang bertuliskan 'Design is how you see the world'

Aku pun langsung menancapkan modemku dan kemudian berkunjung ke beberapa blog yang membahas tentang web design dan kemudian mencari bagaimana layout yang pas buat web personal. Karena web kun anti akan kugunakan untuk memasarkan produk designku, maka akan lebih baik untuk menggunakan layout yang elegan dan tidak banyak tingkah.

"Mungkin ini bisa digunakan dengan baik" Kataku sambil melihat sebuah web yang memiliki layout yang cukup bagis dengan menggunakan rule of third. AKu pun kemudian mengambil kertas dan mencorat-coret untuk mendapatkan layout yang cukup baik.

"Nampaknya ini kurang ke kanan sedikit" Gumamku entah pada siapa ketika melihat lembar kerjaku. AKu pun membalik kertas tersebut dan kemudian membuat sebuah layout baru lagi dengan kesan yang berbeda dari yang lama.

Setelah tenggelam dalam keasyikan membuat layout, aku pun baru sadar kalo jam sudah menunjukkan pukul empat sore. AKu melihat kearah buku catatnku yang sekarang jadi kelihatan dekiiil banget karena penuh dengan coretan.

Yah….! AKu tidak begitu suka dengan yang namanya penghapu, karena aku menggunakan pulpen, jadi yah…! Kalo salah harus di coret deh.

"Dapet empat ya ?" Kataku sambil membalik buku tersebut sambil mereview sedikit apa yang telah kugambar. Aku pun melihat dengan seksama, layout mana yang harus kupake untuk menjadi webku. Aku pun membuka lembar baru lagi dan kemudian menulis apa saja yag akan kumuat didalam web ku.

"Yah…! Nampaknya design yang kedua ini lebih cocok untuk jadi webku" Kataku sambil menyobek kertas yang bergambar layout yang kupilih. Layout web yang sedang ngetren tidak menggunakan sidebar dan biasanya mempunyai tiga kolom untuk menaruh konten.

"Mandi dulu ah" Kataku begitu mendengar suara mobil Itachi yang sedang memasuki garasi. AKu pun mengambil handukku dan kemudian langsung berlari menuju kedalam kamar mandi sebelum keduluan Itachi.

-0-

"Masih ada waktu sekitar dua jam lagi" Gumamku ketika melihat kearah jam tanganku yang sudah nongkrong di lengan kiriku begitu aku selesai memakai baju. AKu pun langsung merebahkan tubuhku keatas kasur dan kemudian mengambil hapeku. AKu membuka aplikasi to do lisku dan kemudian mencoret pembuatan layout.

"Kayaknya hari ini cuman itu saja agendaku deh. Sekarang enaknya ngapain yah…?" Tanyaku entah pada siapa. AKu pun melihat kearah notification abr dimana sudah ada sebuah notifikasi dari WhatsApp. AKu pun membuka WhatsApp dan kemudian embaca pesan dari Hinata yang nampaknya sudah cukup lama banget.

*laugh*

Sasuke-senpai bias nakal juga ya kalo sekolah. Katanya mau jadi murid yang baik

AKu hanya tersenyum membaca pesan dari Hinata tersebut. Aku pun mengetikkan balasan dengan jari terampilku.

Sekali-sekali gapapa kan?

Kulihat sekali lagi statusnya, nampaknya sekarang dia lagi off, jadi mungkin aku tidak bias mengajak chat dia. Jadi aku harus ngapain selama dua jam ini? AKu pun bangun dari tidurku dan kemudian melihat kearah cermin yang sudah dipasang di samping tempat tidurku.

"Kau menyedihkan" Gumamku begitu melihat kearah wajahku sambil menghela nafas panjang dan kemudian beranjak keluar kamar. Aku tidak punya kegiatan kali ini, dan itu membuatku sangat bosan sekali.

"Tumben kau keluar, Sasuke. Biasanya kau kan selalu menetap di sarangmu yang sangat rapi itu" Sapa sebuah suara yang tak asing lagi baiku. Aku pun menoleh kearah cowok dengan rambut raven yang dikucir panjang tersebut yang nampaknya tengah kepanasan membawa mangkok yang berisi mie rebus.

"Mau kau apakan mie itu?" Tanyaku dengan nada datar tanpa memedulikan ucapannya yang seolah menyindirku tadi. Itachi memandangku dengan tatapan heran.

"Ya kumakan lah. Kau ini gimana sih" Katanya sambil menaruh mangkok tersebut daidepannya dan kemudian bergerak menuju televisi dan menyalakannya.

"Abis ini kan makan malam, ngapain juga kau masak mie rebus" Kataku sambil memutar bola mata melihat tingkah dari kakakku tersebut.

"Tadi aku lupa bawa bekal, jadi perutku sudah merasa keroncongan sejak tadi siang. Jadinya aku masak mie aja deh, lumayan buat ganjal perut" Katanya sambil menyuapkan sesendok mie kedalam mulutnya. Kulihat dia memonyong-monyongkan bibirnya begitu akan menelan mie tersebut. Yaelah…! Masih panas juga, ko dimakan aja sih.

"Itu masih panas tau" Sungutku sambil berjalan menuju ke ruang tamu.

"Haau auuu hemanga ? (bacanya : kau mau kemana ?)" Tanyanya dengan mulut yang penuh dengan uap mie.

"Keluar bentar, kau mau nganterin?" Tanyaku sambil memalingkan pandanganku apda kakakku yang nampaknya masih kepanasan dengan mie rebusnya tadi.

"Kau mau kemana dulu dong? Kalo aku bisa nganterin ntar aku anterin" Kata Itachi sambil tetap berusaha untuk makan mie rebus yang masih mkendidih.

"Alun-alun kota" Kataku dengan nada mantap. Sedetik kemudian, kudengar Itachi yang terbatuk-batuk seperti tersedak tuyul. Aku memandangnya dengan tatapan heran. Dia pun berlari dengan kecepatan kilat menuju ke dapur dan meneguk segelas air dengan sekali teguk.

"Beneran?" Katanya dengan nada ragu sambil masih sedikit terbatuk. Kayaknya rasanya menyedihkan juga kalo tersedak sama mie rebus yang lagi mendidih.

"Kau mau nganterin ato gak sii? Kalo gak mau, aku pinjam motormu aja deh" Kataku sambil menengadahkan tanganku kearah Itachi. Itachi pun menyendok sesuap besar dari mie rebusnya dan bergegas masuk kedalam kamarnya dengan mulut yang menggembung kepanasan.

Beberapa menit kemudian, dia sudah berpakaian rapi dengan kaos warna hitam dan memakai sebuah jaket dengan design tipografi yang cukup keren. Khas anak-anak muda zaman sekarang. Aku hanya melihatnya dengan tatapan datar. Nampaknya dia setuju untuk mengantarkanku menuju alun-alun kota.

"Kita make mobil Tou-chan aja deh" Kata Itachi sambil berlari menuju kearah dapur. Kudengar dia sedikti bercakap-cakap dengan Kaa-chan untuk meminta izin memakai motor Tou-chan. Beberapa detik kemudian, aku melihatnya menmbawa kunci mobil yang kemudian dia mainkan di telapak tangannya.

"kau yakin mau make baju itu?" Kata Itcahi sambil memandang heran kearahku. Memangs ih, nampaknya seleraku dalam berpakaian terbilang kuno. Aku memakai baju dengan pattern batik sederhana berwarna hijau kebiruan dengan menggunakan celana berwarna hitam, tapi bukan jeans. Terkesan sangat formal sekali.

"Kenapa memangnya? Gak pantes? Kau makin gak pantes memakai setelan itu" Kataku menyindirnya. Dia itu udah unik (usia nikah), harusnya dia itu dandan yang baik dan rapi lalu mencoba untuk mencari perempuan yang bisa dia lamar.

"Kau nampaknya serius banget sii. Ayolah, Sasuke, bersenang-senanglah walaupun hanya sedikit" Kata Itachi sambil menarik tanganku keluar dari rumah. Aku pun mengibaskan tanganku dan menoleh sejenak kearah mangkuk mie yang ditinggalkan oleh Itachi didepan televise.

"Kau tidak menghabiskan mie nya?" Tanyaku sambil menunjuk kearah mie e\rebus tersebut. Itachi yang tadinya bersemangat ingin keluar pun berhenti dan kemudian berbalik kearahku.

"Udahlah, itu urusan nanti saja" Kata Itachi sambil sedikit enarikku keluar dari rumah. Sekali lagi, aku mengibaskan lenganku dan melepaskan genggaman Itcahi dan kemudian mengambil mangkuk berisi mie tersebut. Kucicipi sedikit, nampaknya tidak terlalu panas. Aku pun langsung menuangkan semuanya, beserta kuah-kuahnya kedalam mulutku tanpa melalui sendok.

"Daripada mubadzir" Kataku sambil menaruh mangkuk tersebut diatas meja, disebelah televise dan bergegas menghampiri Itachi yang sedang menatapku dengan tattapan sweatdrop.

"Kalo temanmu tahu selera makanmu seperti itu pasti mereka akan terkejut" Katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku hanya memutar bola mata mendengar ucapan Itachi tersebut.

"Sayangnya, mereka semua tidak tahu dan tidak akan pernah tau" Kataku sambil berjalan mendahului Itachi yang nampaknya masih bengong dengan tindakan makanku barusan. Beberapa saat kemudian, dia pun berjalan disisiku dengan tampang konyolnya.

"Oh…! Ya, kita mampir dulu ke ATM untuk mengambil uang" Kataku sambil merogoh sakuku untuk memastikan bahwa aku membawa kartu ATM pribadiku.

Saatnya jalan-jalan.

TBC

Nampaknya Hinatanya jarang diekspos ya disini. Kesannya malah kayak SasuSaku sih. Dua chapter depan deh author bakalan munculin Hinata.

Happy Read