Design My love

Chapter 5

At the beginning

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuHina

Rated : T

Sasuke's POV

"Kenapa kau gak bilang sih kalo kau mau ke sini?" Sungut Itachi yang nampaknya merasa tertipu oleh ajakanku barusan. Aku hanya memutar bola mataku tanpa melihat kearahn ya dan terus melakukan kegiatanku, yaitu membeli (baca : memilih) buku di Gramedia.

"Kau bisa tunggu sini dulu gak, ntar kalo sudah selesai pilih-pilihnya kujemput lagi" Kata Itachi yang nampaknya terlihat memelas kepadaku. Aku hanya mengirimkan deathglare manisku paadanya.

"Enak aja, aku udah pengalaman sama yang kayak gituan, kau pasti entar jemputnya lama banget" Sugnutku sambil berjalan menuju kesamping kiri, dimana bagian design sudah dimulai.

"Tapi, disini membosankan tau" Kata Itachi sambil jongkok disampingku. Aku hanya memutar bola mataku melihat tingkah kakakku yang kekanak-kanakan tersebut.

"Cari buku aja, entar aku bayarin" Kataku sambil tetap berjalan-jalan diantara buku-buku tersebut dan sambil sesekali melihat sebuah judul buku yang menarik dan membaca sinopsis yang ada di belakangnya.

"Yah….! Mungkin itu lebih baik daripada mati kebosanan disini" Kata Itachi sambil berdiri dan kemudian berjalan menuju rak yang berisi buku-buku sekolah dasar.

"Huh….! Mati kebosanan katanya" Sungutku dengan suara berbisik. Emang pernah ada orang yang mati karena bosan yah? Itu mah orang yang super lebay banget. Setelah berputar-putar bagian design (dan aku tidak mendapat apapun), aku pindah ke area programming.

"Nampaknya aku mulai tertarik dengan dunia ini" Gumamku sambil melihat-lihat beberapa buku yang membahas tentang program terapan dan juga tentang algoritma murni. Aku hanya tertarik pada web programming yang nampaknya hanya segelintir aja disitu yang membahas hal itu. Kebanyakan berisi buku yang menunjukkan tentang praktisnya membuat web dengan menggunakan framework.

"Lho….! Teme, kau kesini juga?" Kata seseorang yang dengan tiba-tiba langsung menepuk bagian pundakku. Secara refleks aku pun menoleh dan mendapati sebuah duren busuk sedang nyengir rubah kearahku. Dengan masih memakai seragam sekolah Konohagakure dan bersama cewek berambut pink yang sedang menenteng buku-buku tebal disampingnya.

"Kau belum pulang ya, Dobe?" Tanyaku sambil berdiri tegak. Tadi aku ingin mengecek buku sih, makanya tadi aku membungkuk waktu dobe menepuk pundakku.

"Ngapain pulang cepet-cepet, hari masih panjang lagi" Kata Naruto sambil sedikit terkekeh pelan. Aku hanya memandangnya dengan tatapan datar dan kemudian beralih kepada Sakura yang membawa setumpuk buku. Kulirik sekilas judul buku tersebut dan kemudian tersenyum kecil.

"Kau juga suka roman ya?" Kataku sambil tetap tersenyum pada Sakura yang berada disamping dobe. Sakura yang nampaknya sejak tadi tidak memperhatikan, cukup terkejut dengan panggilanku tadi.

"Oh…! Iya sih sebenernya, tapi aku juga ga terlalu menyukai hal yang khusus seperti itu. Aku suka buku yang menceritakan anak muda masa kini, bahasanya lebih mudah dipahami daripada roman klasik yang bahasanya tingkat dewa itu" Kata Sakura sambil sedikit terkikik geli mendengar ucapannya sendiri.

"Kalo begitu, kau mau ini?" Tanyaku sambil mengambil sebuah buku bergambar seorang dengan kumis tipis, betubuh tambun dengan pakaian formal berwarna hitam. Ilustrasinya cukup kompleks karena dipadu dengan gradasi warna, tetapi masih terkesan seperti akrtun.

"Apa ini?" Tanya Sakura sambil mengambil buku tersebut dan kemudian membolak-baliknya. Sayang banget karena buku tersebut disegel dan di rak situ bertuliskan 'membuka segel berarti membeli' sehingga buku itu gak mungkin dibaca disini.

"Nampaknya buku yang kupesan gak ada ya, dobe. Pake aja uang yang kuberi tadi pagi untuk membeli buku itu, masih ada kembaliannya kok" Kataku sambil sedikti tersenyum cool kearah dobe yang nampaknya sudah bosan dengan took buku yang ada disini.

"Eh…! Serius nih? Emang isinya apaan sih kok kamu pengen banget aku baca buku ini?" Ternyata Sakura yang malah sewot ketika aku sudah berniat baik membelikan buku untuknya.

"Pake aja, ntar kembaliannya buat makan pulang" Kataku sambil melambaikan tangan dan menenteng beberapa buku yang sudah kupilih dari tadi dan bergegas mencari Itachi yang nampaknya sudah tidak ada lagi di bagian buku sekolah dasar. Jadi sekarang dia dimana? Aku pun celingukan mencari cowok berambut raven panjang tersebut dan kemudian berjalan kearah buku best seller yang berada di samping escalator. Kupikir akan mudah menunggunya disini karena dia gak mungkin bisa pulang kalo gak lewat escalator. Setidaknya, meskipun tingkahnya terlalu kekanank-kanakan untuk anak seusianya, aku masih yakin kalo dia ga bakalan loncat dari jendela untuk menghindari adiknya sendiri.

"Yo" Sebuah tangan langsung menepuk pundakku ketika aku sedang tertarik dengan sebuah buku dengan judul buku yang cukup fenomenal, suaranya sudah kukenal jelas. Aku pun langsung menutup buku yang sedang kubaca tersebut dan kemudian berjalan menuju kasir yang berada tak jauh disitu dan kemudian menoleh kebelakang.

"Ada yang mau kau beli?" Tanyaku pada cowok berambut raven panjang tersebut. Aku langsung terkejut begitu melihat sosok duren busuk yang sudah nyengir disamping Itachi, bersama dengan Sakura yang berada dibelakangnya.

"Ini kakakmu ya, Sasuke?" Tanya Sakura sambil membawa buku yang sudah dibawanya sejak tadi dan bergegas menuju kasir.

"Aku duluan, tidak ada semboyan ladies first didalam kepalaku" Kataku dengan tatapan datar begitu melihat dia akan menyerobot antrian kasir. Dia pun langsung memanyunkan bibirnya sambil menunggu dibelakangku. Aku pun menaruh bukuku dimeja kasir dan membayar semuanya.

"Oi…! Sekalian ajak mereka makan yuk" Kata Itachi ketika aku sudah menghampirinya yang tengah menungguku bersama dobe yang menunggu Sakura.

"Yah…! Boleh aja sih" Kataku sambil membuka kembali buku yang sudah kubuka tadi dan membaca sebuah cerita yang tampak menarik. Kulirik sedikit kearah Itachi yang nampaknya sedang bercanda dengan Naruto yang sesekali membalasnya dengan cengiran rubah miliknya.

"Itachi-nii mau bareng pulang juga kan?" Kata Sakura pada Itachi yang hanya dijawab dengan lirikan kearahku. Aku hanya menatapnya dengan tatapan datar dan kemudian memutar bola mataku.

"Terserah deh" Kataku pasrah dengan keputusan Itachi. Itachi pun menarik sudut bibirnya dan kemudian melemparkan sebuah kunci kearahku. AKu pun menangkapnya dengan sigap sambil meletakkan buku yang telah kubaca.

"Aku kenal dengan restoran yang sangat enak sekali, mungkin kalo aku bawa pelanggan baru dia akan memberikan diskon" Kata Itachi sambil nyengir kearah Naruto yang hanya dibalas dengan cengiran duren.

"Cepatlah, ntar pulangnya kemaleman dan kau akan dimarahi Tou-chan" Kataku sambil berjalan kearah escalator.

"Sasuke emang gitu, dia terlalu serius mirip sama Tou-chan. Kalo aku enggak kan ?" Sedikit kudengar ocehan dari cowok dengan rambut raven tersebut. Aku hanya mendesah kesal mendengar dia berkata demikian. Ingin rasanya kutonjok wajah innocentnya tersebut, tapi nanti aja deh di rumah.

Aku pun berjalan keluar dari toko buku tersebut dan kemudian menuju kearah mobil yang diparkir dibagian basement dari toko buku tersebut. Kulirik Itachi dibelakangku yang nampaknya masih berbincang-bincang dengan sepasang remaja yang nampaknya acara kencan mereka berdua telah terganggu oleh adanya Itachi.

"Kau bisa nyetir mobil, Teme?" Tanya Naruto ketika aku membuka pintu disamping kemudi. Aku hanya mengangkat sebelah alisku sambil menatapnya dengan heran.

"Kalo aku bisa dapatkan SIM A sekarang juga pun aku bisa, dobe" Sungutuku sambil masuk dan mengunci pintu mobil. Beberapa saat kemudian aku membuka kaca jendela ku dan melihat kearah Naruto yang nampaknya sedang berjalan menghampiriku.

"Kalo kau membawa mobil ini kesekolah pasti banyak cewek yang nempel kepadamu" Kata Naruto sambil sedikit mengedipkan mata kearahku. Aku hanya memutar bola mataku mendengar ucapan dobe tersebut.

"Ayahku bakalan membunuhku" Jawabku sambil sedikit terkekeh. Dobe juga ikutan terkekeh mendengar ucapanku tadi.

"Kau bawa motor kan, dobe?" Tanyaku. Dobe hanya mengangguk pelan.

"Bawa cewek tanpa motor itu sepertinya hanya mimpi, Teme" Kata Naruto mencoba untuk merangkai kata-kata bijaksana, tetapi malah merangkai kata-kata gak jelas. Yang jelas dia berusaha untuk menyindirku.

"Ya udah sana, ikut dibelakangku ke restoran langganannya Itachi" Kataku sambil menutup kaca jendela begitu menyadari kalo Itachi sudah berada disampingku sambil menutup kaca jendelanya setelah ngobrol ringan dengan Sakura.

"Kau tahu tempatnya gak, Sasuke?" Tanya Itachi sambil menoleh kearahku dan menyalakan AC.

"Pakai sabuk pengamanmu" Kataku sambil memakai sabuk pengamanku dan kemudian menyalakan mesin mobil secara halus. Itachi hanya terkekeh pelan mendengar instruksiku barusan.

"Kalo gak kupake kenapa?" Tanya Itachi dengan nada sinis. Kupandang dia dengan tatapan datar sambil sedikit memanasi mobil miliki Tou-chan ini.

"Percayalah, kalo menaati peraturan itu lebih mudah daripada membuat peraturan yang mudah ditaati" Kataku sambil memasukkan persneling menuju gigi satu dan mulai menjalankan mobil secara halus keluar dari basement. Kusodorkan selembar uang kertas pada Itachi untuk diserahkan kepada tukang parkir yang nampaknya sudah menunggu untuk gajinya.

"Kau sudah tahu tempatnya?" Tanya Itachi sambil memasang sabuk pengamannya. Kumasukkan persneling menuju gigi dua dan menaikkan kecepatan secara halus dan tetap berfokus kepada jalanan.

"Mungkin kau dan aku punya kepribadian yang sedikit berbeda, tapi kita bersaudara, aku yakin ada kesamaan diantara kita" Kataku sambil sedikit tersenyum cool pada kakakku yang satu ini.

"Kedai ramen dekat pasar induk" Kataku dan juga Itachi hampir bebarengan. Aku menyeringai kearah Itachi. Ternyata selera kami dalam hal makanan bisa sama juga, kecuali dia suka ikan dan aku tidak suka.

"Tapi mungkin orang kedai itu tidak kenal padaku" Kataku dengan nada datar yang hanya dijawab dengan decakan pelan oleh Itachi yang nampaknya cukup prihatin denganku.

"Kau terlalu cuek sih" Jawabnya dengan enteng. Aku hanya mengangkat bahuku sambil tetap fokus menuju jalanan yang nampaknya cukup ramai dimalam hari ini.

Kulihat kearah spion yang sudah terpampang disebelahku, dimana terlihat dobe yang sedang mengendarai motornya dibelakang bersama dengan Sakura. Mereka nampaknya tengah bercanda ria dibelakang sana.

"Anak itu cantik lho…!" Kata Itachi dengan tiba-tiba sambil menurunkan sandarannya agar dia bisa lebih mudah berbaring. Aku meliriknya sekilas saat dia sedang membetulkan posisi yang nyaman buatnya.

"Aku tiduran gini gak papa kan?" Tanyanya sambil nyengir innocent kearahku. Aku hanya memasang wajah tanpa ekspresi milikku dan kemudian tetap fokus pada jalanan.

"Kenapa kau tiba-tiba berkata begitu?" Tanyaku yang nampaknya cukup penasaran, kenapa Itachi tiba-tiba saja berkata kalo Sakura itu cantik. Itachi menoleh kearahku dengan tatapan heran.

"Aku hanya berkomentar saja, memangnya tidak boleh? Dia emang cantik kok" Kata Itachi tetap dengan wajah heran. Dasar…! Coba aja kalo ada cermin didepan mukanya, pasti dia sendiri pun langsung mimisan ketika menyadari kalo ekspresinya itu kelihatan tengil banget.

"Gak juga sih" Jawabku cuek saja dengan ucapan Itachi. Whatever lah dia mau ngomong apa, asalkan dia ga ngaku-ngaku penemu GPS juga aku ga bakalan repot kok.

"Nampaknya kau menyukainya ya? Kelihatan banget lho dari ekspresimu" Katanya, kali ini ekspresinya sedikit berubah. Nampaknya dia sedang menahan ketawanya, awas saja kalo ternyata ketawanya entar keluar dari bawah. Bisa kena kanker paru-paru dah.

"Gak usah ngomongin cewekku dulu deh, perjalananku masih jauh. Pikirin aja dirimu sendiri, bayangkan aja kalo kamu menikah umur 30, anakmu baru menginjak SMA kamu udah pensiun" Kataku sambil sedikit menahan tawa begitu berhasil meng-kick kakak jombloku ini agar tidak sembarangan mengejek adiknya yang sangat dan sangat pintar sekali ini.

"Tapi beneran lho, dia emang cantik kok. Kamu ga iri sama Naruto yang udah bisa dapetin cewek yang cakep banget kaya dia?" Tanyanya.

"Wah…! Kamu ngomporin aku buat ngerebut tuh cewek dari sahabatku sendiri yah…! Dasar gila…!" Sungutku sambil berdecih pelan mendengar ucapan nista dari kakaku yang sebenernya bukan begitu sih niatnya.

"Kamu kok sensi gitu sih sama kakakmu sendiri. Ato jangan-jangan kamu sudah berencana buat merusak hubungan mereka ya?" Tuduh Itachi yang langsung membuatku (hampir) muntah darah ditempat.

"Emangnya aku sahabat apaan yang berani nikung sahabatnya sendiri, enggak lah" Jawabku sambil sedikit menyeringai kearah Itachi yang nampaknya sudah menemukan posisi yang pas dari tidurnya.

"Ah…! Susah banget ngomong sama kamu" Kata Itachi yang terdengar frustasi ngobrol denganku dan berkali-kali aku kick dia sampe ke bulan. Perjalanan dari bookstore sampai ke kedai ramen langganan Itachi itu tidak jauh sih, hanya sekitar lima belas menit saja bila ditempuh dengan kecepatan standar, tetapi bila kamu kebut-kebutan, waktunya itu bisa jadi relatif. Relatif cepat bila kamu beruntung, dan telat bila kamu sedang apes.

"Inilah dia, restoran langganannku" Kata Itachi sambil menunjukkan restoran (baca : kedai) yang berada didekat pasar induk tersebut.

"Bilang kedai aja susah" Komentarku sambil masuk kedalam kedai tersebut dan kemudian segera duduk dan memesan makanan pada penunggu kedai tersebut.

"Pesan ramennya empat ya" Kata Itachi sambil duduk disebelah kanan ku, dobe pun menyusul duduk disebelah kiriku dan kemudian disusul oleh Sakura yang duduk dibagian paling kiri.

"Emang ramen disini enak ya?" Kudengar ucapan Sakura yang nampaknya sedang berbisik pada Naruto yang hanya angkat bahu sambil tetap menunggu dihidangkannya ramen yang sudah dipesankan oleh Itachi tersebut.

"Lumayan" Jawabku sekenanya.

"Emang kamu pernah makan disini?" Tanya Sakura sambil menatapku dengan tatapan heran.

"Yah…! Sering juga sih, tapi mungkin penjualnya ga begitu kenal sama aku. Kenalnya sama Itachi doang" Kataku sambil mengambil sebungkus kripik singkong di depanku dan membukanya kemudian memakannya sebuah sebelum menawarkannya pada Naruto.

"Waduh…! Makasih dobe" Kata Naruto sambil mengambil segenggam kripik tersebut sehingga tersisa cuman setengah bungkusnya. Aku pun menawarkannya pada Sakura yang hanya dijawab dengan anggukan plus senyuman manis dari Sakura.

Sebuah tangan dengan tidak elitnya menyerobot mau mengambil kripik tersebut. Aku pun menjauhkannya dari tangan yang ternyata milik Itachi yang nampaknya kepingin juga dengan kripik singkong.

"Aku gak nawarin kamu" Kataku dengan wajah tanpa ekspresi sambil mengambil sebuah kripik dan memakannya.

"Aku gak butuh tawaranmu, aku cuman mau minta kripiknya" Kata Itachi sewot sambil sedikit melotot kearahku. Nampaknya dia sudah merasa akan dipermalukan disini. Naruto dan Sakura yang berada disebelah kiriku pun cuman terkekeh pelan melihat tingkah laku kami berdua.

"Baiklah, ittadakimasu" Kata Itachi sambil memakan ramen miiknya sesaat setelah ramen tersebut dihidangkan. Aku pun memakannya dengan lahap. Ini karena kedai ini juga langgananku sehingga aku juga sudah kecanduan sama rasa dari ramen yang satu ini.

Hanya dalam waktu beberapa menit saja, aku telah menghabiskan semangkok ramen lengkap beserta kuah-kuahnya sekalian. Kulirik Itachi yang nampaknya sudah mengelus-elus perutnya sendiri dengan sebuah mangkok yang telah kosong didepannya.

"Sudah habis?" Kataku dengan nada terkejut ketika melihat dua mangkok kosong lainnya berada disebelah kiriku. Aku pun memandang kearah dobe yang hanya nyengir innocent dan juga Sakura yang nampaknya hanya berekspresi datar saja. Kalo dilihat dari gelagatnya sih, pasti dobe yang membantu Sakura menghabiskan ramen miliknya. Dasar busuk…!

Aku pun melirik kearah Itachi dan memberinya sedikit uang dengan berusaha agar tidak ketahuan oleh dobe maupun Sakura di sebelah kiriku memberikan isyarat untuk membayar semuanya.

"Arigatou" Kata penjaga kedai tersebut sambil sedikit tersenyum kearah Itachi.

"Eh…! Itachi-nii yang nraktir?" Tanya dobe dengan wajah heran.

"Oh…! Bukan, itu…" Aku pun mengirimkan deathglareku pada Itachi yang langsung membuat nyali Itachi ciut untuk melanjutkan kalimatnya. Betapa tidak, kalo aku lagi mengirimkan deathglare, Lionel Messi aja langsung melenceng tendangannya saking groginya.

"Itu cuman sedekah aja" Kata Itachi sambil nyengir innocent.

"Eh…! Teme, kamu mau pulang kan?" Tanya Naruto tiba-tiba. Aku hanya menatapnya dengan tatapan heran sambil mengangkat sebelah alis mataku.

"Iya lah, memangnya kami mau kemana lagi?" Kataku balik bertanya sambil berjalan menuju kearah mobilku yang terparkir didepan kedai tersebut.

"Jangan terburu-buru gitu dong, Sasuke. Emangnya kamu mau ngajak kita maen?" Tanya Itachi yang ternyata oh ternyata masih ingin maen bersama dua orang ini.

"Engga sih, cuman aku titip Sakura aja. Rumahnya kan searah dengan kalian berdua" Kata Naruto sambil nyengir innocent. Sakura yang mendengarnya pun langsung melotot kaget mendengar ucapan Naruto yang dengan seenaknya menitipkan Sakura pada ku. Kalo menurutku sih…

"Terserah" Kataku sambil berjalan menuju ke arah mobilku dan bersiap untuk membuka pintu mobil.

"Yah…! Daripada aku harus bolak-balik gitu, mungkin lebih baik kamu aja yang anterin. Biar kamu tahu rumah Sakura" Kata Naruto.

"Pasti mau dong. Siapa sih yang gak mau nganterin cewek secantik ini. Jangan malu-malu buaya gitu dong Sasuke" Kata Itachi yang hanya kubalas dengan 'Hn' sambil masuk kedalam mobil dikursi kemudi dan kemudian menyalakan mesin mobil. Aku pun membuka jendela dan kemudian melongok keluar, kearah Itachi dan Sakura.

"Cepat, baka. Ntar kita kemaleman" Kataku pada Itachi yang hanya dijawab dengan cengiran innocent dari wajahnya. Dia pun berjalan menuju kearah mobilku, diikuti oleh Sakura dibelakangnya.

"Kau mau duduk didepan, Sakura?" Sempat kudengar suaranya menawarkan tempat duduk disampingku pada Sakura. Aku hanya memutar bola mataku melihat tingkah kekanak-kanakan dari Itachi tersebut. Kulihat Sakura hanya menggeleng pelan sambil membuka pintu bagian belakang.

"Hati-hati dijalan, dobe" Kataku sambil melambaikan tanganku pada Naruto yang nampaknya sudah menyalakan mesin motornya. Dia pun membalas lambaian tanganku sesaat sebelum aku menutup jendelaku bersamaan dengan Itachi menutup jendelanya. Aku pun menjalankan mobil dengan halus menuju kearah jalan raya Konohagakure.

"Sakura, Aku boleh tanya gak?" Itachi nampaknya sudah tidak tahan dengan suasana sunyi meskipun hanya beberapa menit saja. Dia pun mulai membuka percakapan dengan cewek berambut pink yang berada dibelakang. Aku hanya terfokus pada jalanan saja.

"Boleh" Jawab Sakura sambil sedikit mencondongkan tubuhnya kearah depan supaya bisa mendengar ucapan Itachi ditengah ributnya bunyi kendaraan yang berlalu lalang.

"Sasuke tuh kalo dirumah gak pernah cerita apa pun sesuatu tentang sekolahnya. Emangnya Sasuke kalo disekolah itu kayak gimana sih?" Tanya Itachi.

"Aku sudah pernah bilang kalo aku tidak terlibat persoalan apa-apa disekolah. Kepo amat sih" Sahutku sambil tetap berkonsentrasi pada jalanan, Kudengar Sakura sedikti tertawa renyah mendengar ucapanku barusan.

"Yah…! Dia memang gak pernah terlibat persoalan apa-apa sih. Soalnya dia kan murid paling teladan disekolah" Sindir Sakura sambil sedikit mencolek pundakku. Aku hanya memutar bola mata menanggapi komentar dari Sakura tersebut.

"Apakah dia memang secuek ini jika dirumah?" Sekarang gantian Sakura yang balik bertanya dengan nada yang agak aneh.

"Yah…! Mungkin memang style dia seperti itu, dasar sok cool" Sahut Itachi. Kembali aku memutar bola mataku mendengar ucapan dari Itachi tersebut.

"Yang penting aku tidak terlalu kekanak-kanakan kayak kamu" Sindirku pada Itachi yang hanya dijawab dengan sebuah cengiran oleh Itachi.

"Bentar, Sasuke. Dipertigaan depan itu kamu belok kanan kemudian sekitar lima ratus meter didepan ada rumah dengan cat tembok putih. Itu rumahku" Kata Sakura sambil menunjuk kearah depan. Secara halus, aku pun membelokkan mobil tersebut kearah pertigaan yang telah ditunjuk oleh Sakura.

"Kau cukup lihai juga rupanya, belokanmu terasa halus sekali. Kenapa tidak bawa ini saja ke sekolah" Tanya Sakura. Aku hanya mengangkat bahuku.

"Aku lebih suka bersepeda" Jawabku entang. Sebuah rumah dengan cat putih dengan dua pintu setinggi dua meter bercorak bunga abstrak berwarna kemerahan. Sepasang jendela terpasang di samping pintu tersebut. Nampaknya itu merupakan sebuah kamar, terlihat gorden berwarna kemerahan yang belum ditutup yang menampakkan sebuah ruangan dengan lampu neon berwarna putih dan warna dinding yang di cat pink.

"Itu kamarmu?" Tanyaku pada Sakura yang nampaknya lagi bersiap untuk turun. Dia hanya nyengir innocent kearahku sambil melambaikan tangannya.

"Arigatou. Mau mampir dulu, Itachi-nii, Sasuke?" Katanya pada Itachi yang sudah membuka jendelanya.

"Mungkin next time aja deh" Kata Itachi sambil tersenyum. Aku hanya melambaikan tanganku sambil menjalankan kembali mobilku keluar dari gang dipertigaan tersebut.

"Kita pulang"

-0-

"Tadaima" kataku sambil merebahkan tubuhku diatas sofa yang berada diruang tamu. Bungkusan berisi buku yang sudah kubeli kutaruh diatas meja. Beberapa saat setelah mengambil nafas sejenak, aku pun langsung berjalan menuju kamarku dan kemudian menaruh bungkusan tersebut didalam lemariku.

"Kunci mobil, Sasuke?" Sontak aku terkejut dan langsung membalikkan badan begitu mendengar suara tersebut. Kulihat Itachi yang sedang melongok dipintu kamarku sambil menengadahkan tangan.

"Jangan ngagetin dong, dasar busuk…!" Kataku sambil melemparkan kunci mobil tersebut dan meutup pintu begitu Itachi sudah pergi dari depan pintu tersebut. Kulihat kearah meja belajarku dan melihat indikator LED dihapeku sudah menyala. Aku pun menyalakan hapeku dan melihat notifikasi dari Hinata.

"Hah…? Apa ini?"

TBC

Apa yang dilihat oleh Sasuke?

Hehe…! Nampaknya author updatenya lama banget yah? Gomen, gomen, author lagi disibukkan sama ujian, ujian, dan ujian. Maklum, udah kelas 12.

Happy Read