Design My Love
Chapter 1
At the beginning
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuHina
Rated : T
Sasuke's POV
"Ternyata kau gamers ginian juga" Kata Shikamaru sambil mendesah pelan melihat aku membuka game yang baru kutemukan beberapa bulan lalu dan sukses membuatku jatuh cinta.
"Yah...! Aku baru menemukannya beberapa bulan yang lalu, tapi aku jarang maen sih. Waktu abis selesai ngerjain project aja, itu pun kadang-kadang" Kataku sambil membuka game yang namanya minecraft itu (cari aja di google)
Website sribu udah dirombak menjadi lebih baik berkat kerja sama antara aku, seorang designer dan Shikamaru yang seorang developer. Butuh waktu sepuluh hari untuk membuat website itu, dan tiga hari sisa liburan akhir semester harus aku habiskan di Kumogakure karena alasan Sai yang sudah kehabisan tiket sehingga paling cepet kita berangkat di akhir liburan dimana pesawat udah pada penuh semua.
Oh, iya. Aku juga sudah beberapa kali ke rumah Hinata. Tapi cuman liat-liat doang sih, gak pernah mampir.
Flashback Mode On
"Mau mampir?" Kata Sai ketika telah sampai didepan rumah yang tampak sepi itu. Padahal Hinata kan juga gak punya recana liburan.
"Enggak deh" Kataku dengan nada cuek. Kalian tahu kan, gimana rasanya bertemu dengan seseorang yang sudah akrab didunia maya? Pasti dag-dig-dug kan? Apalagi kalo yang bakal kalian temui itu adalah seseorang yang kalian suka, malah lebih parah lagi.
"Beneran nih?" Kata Sai dengan nada meledek kearahku. Aku pun hanya menggelengkan kepalaku berusaha cuek.
"Baiklah, kita langsung mulai ya begitu sampai rumah"
Flashback Mode Off
Setelah itu, aku bolak-balik lewat di depan rumah Hinata (gak mampir tapi). Entah itu untuk pergi belanja sama Sai, atau sekedar maen.
"Kau mau nge-LAN?" Tanya Shikamaru. Aku hanya mengernyit heran mendengar ucapan bocah nanas itu.
"Lah...! Kau kira aku tadi nungguin apa, aku nungguin kamu tahu" Kataku dengan nada kesal. Aku sudah membuka game itu dan menunggunya untuk membuka game, dan dia masih berada dalam layar desktopnya sambil menatap layar komputerku dengan malas.
"Baiklah, kau aja yang buat servernya" Katanya dengan nada cuek sambil membuka game yang sama. Aku pun segera memulai game dan membuka mode LAN.
Tak lama kemudian, Shikamaru masuk kedalam dunia minecraft. Inti dari game minecraft ini adalah petualangan dan bertahan hidup. Jadi kita akan masuk kedalam dunia yang tidak ada siapa-siapa dan kita harus bertahan hidup dengan keadaan alam yang ganas.
Quest dari game ini adalah untuk mengalahkan naga yang tinggal didunia lain. Tapi untuk mengalahkannya kita harus survive di dunia luar, membuat senjata dan ramuan yang akan membantu kita.
"Baiklah, kau suka menambang atau bekerja di luar" Kataku sambil melirik kearah Shikamaru.
"Aku akan menambang saja, aku suka banget membantai para mob. Ntar kalo udah malem bilang aku" Kata Shikamaru yang langsung buatku geleng-geleng kepala mendengar ucapan sadis tersebut.
"Baiklah, kita akan tamatkan dalam tiga hari ini" Kataku sambil berniat untuk menyelesaikan game yang satu ini dalam tiga hari. Aku pun berjalan mencari kayu yang tumbuh di hutan dan kemudian membuat kapak dari kayu tersebut dan menyerahkannya pada Shikamaru.
"Cari gua yang aman, aku akan meneruskan untuk cari kayu dan domba buat tidur" Kataku.
"Jangan, kita buat gunting dulu aja dan ternak domba dulu" Aku hanya melohok heran mendengar ucapan Shikamaru. Nampaknya dia tidak takut dengan mob, beda denganku yang takut banget dan pengen tidur.
"Heh...! Baiklah, aku juga pengen merasakan ketegangan lawan mob" Kataku sambil menyeringai kearah Shikamaru.
Aku pun mencari kayu sementara Shikamaru sedang mencari tempat yang cocok untuk perlindungan sementara dan mencari batu bara. Setelah menemukan banyak kayu gelondongan, aku langsung menemui Shikamaru yang nampaknya sudah menemukan batu bara.
"Baiklah, aku akan mencari besi. Senpai coba untuk buat kebun gandum dulu" Kata Shikamaru sambil melubangi gunung bebatuan dengan kapak kayu yang telah kubuat.
Selama dua jam kami bermain kami sudah hidup mapan. Aku gak tau gimana Shikamaru bisa dapet diamond 50 buah, dan redstone yang bertumpuk-tumpuk. Biasanya aku hidup nomaden karena aku suka dengan petualangan. Tapi kali ini, aku dan Shikamaru hanya punya sebuah rumah yang aku bangun dengan batu bata.
"Siap masuk nether?" Kata Shikamaru sambil menyeringai. Nampaknya dia juga sudah punya sepuluh obsidian untuk portal.
"Besok aja deh. Hari berikutnya kita bakalan masuk The End. Ngomong-omong, Sai kemana?" Tanyaku yang tidak melihat batang hidung makhluk albino itu.
Tok...! Tok...! Tok...!
Terdengar suara ketukan pintu depan. Jadi sekarang ini, aku sedang main game di ruang tamu milik orang lain.
"Masuk aja Sai, gak usah pake gaya gitu" Kata Shikamaru yang nampaknya sudah hapal dengan kebiasaan si Sai.
Tok...! Tok...! Tok...!
"Kelihatannya bukan deh" Kataku begitu mendengar ketukan pintu lagi. Aku pun beranjak dari tempat dudukku dan membuka pintu depan.
"Sasuke-senpai, buat mob trap aja dulu. Nampaknya kita butuh xp plus arrow yang banyak nih. Kita juga butuh gun powder" Kata Shikamaru. Aku pun menoleh kearahnya.
"Aku punya sebuah trik untuk buat mob trap agar kita tidak kehilangan xp" Kataku sambil membuka pintu dan menoleh kearah Shikamaru. Jadi posisiku sekarang, pintunya sudah terbuka dan aku membelakangi pintu itu sambil bicara pada Shikamaru.
Begitu aku mengalihkan pandanganku, mataku langsung terbuka begitu melihat penampakan cewek yang sedang menatapku dengan tatapan heran sambil memiringkan kepalanya. Rambut panjang berwarna indigo yang dibiarkan terurai indah. Wajahnya putih dan terkesan innocent dan polos. Bulu matanya lentik, meskipun tidak kulihat adanya make up di bulu mata yang kerap kali bergerak menyembunyikan biji lavender yang menatapku dengan heran.
Yah...! Bisa kalian tebak, dia lah Hinata. Aku benar-benar gak tahu kalo di aslinya dia bahkan benar-benar lebih 'wow' dari Sakura. Jantungku langsung berdegup kencang melihatnya sedang menatapku dengan tatapan imutnya. Tapi, pantang bagiku untuk blush dan sebagainya sehingga sekarang aku hanya berdiri tanpa ekspresi didepannya.
"Sai-senpai, kenapa ganti gaya rambut? Tapi keren juga kok" Katanya yang langsung buatku kaget seketika. Aku menoleh kearah Shikamaru yang nampaknya tengah menahan ngakak tapi sekarang tampangnya tampak seperti seseorang yang sakit perut.
"Emang tampang gue mirip Sai ya?" Kataku yang gak sudi disamakan dengan Sai yang sekarang gak tahu dimana rimbanya. Aku pun menoleh kearah Shikamaru sambil menahan hasrat untuk menonjok wajahnya.
"Oh, gomen2. Kirain kamu Sai-senpai. Jadi, dimana Sai-senpai? Tadi dia nelepon aku katanya suruh datang ke rumahnya" Kata Hinata sambil celingukan nyari cowok berambut eboni itu.
"Ajak masuk kedalam aja" Kata Shikamaru yang nampaknya saat ini kembali meneruskan gamenya. Sekarang dia sedang mengawinkan babi yang kita ternak, setelah itu dia bantai deh babi dewasanya.
"Ayo" Kataku dengan nada datar kearah Hinata. Hinata pun masuk kedalam rumah dengan malu-malu melewati Shikamaru yang lagi asyik nge-game.
Aku pun kembali ke layar laptopku setelah mengantarkan Hinata menuju pintu ruang tengah.
Kulihat ke layar laptopku dimana sudah hampir malam waktu itu.
"Yah...! Mungkin kita bisa tidur tenang sekarang" Kata Shikamaru yang nampaknya sudah membuat patung besi. Aku hanya mendesah lega melihat patung tersebut.
Wusssshhhh...!
Tiupan angin yang cukup keras menerpa wajahku dan menerbangkan sedikit helaian raven milikku. Aku pun menoleh kearah angin tersebut dan mendapati pemandangan yang sangat tidak elit.
Saat itu Sai berlutut sambil membawa bunga mawar merah. Dengan background berwarna pink yang dicat dengan pola hati berwarna merah.
Selain itu, terdapat kertas berbentuk hati berwarna merah nampak beterbangan bagai burung. Nampaknya dia melipat bagian hati tersebut sehingga mampu mengepakkan sayapnya. Dibelakangnya ada kipas angin yang nampaknya akan bereaksi jika pintu itu dibuka.
"... Redstone" Ocehan dari Shikamaru hanya kudengar bagian belakangnya saja. Mataku serasa panas melihat adegan tersebut. Kutahan nafasku agar tidak terdengar oleh Shikamaru yang nampaknya masih sibuk ngoceh. Dadaku terasa sesak, entah karena aku gagal lagi atau karena aku terlalu lama menahan nafas.
Beginikah takdirku? Aku secara tidak sadar langsung ditikung oleh sahabat terbaikku. Dan sekarang, seseorang yang baru saja kukenal, menembak cewek yang kucintai kembali.
"Yah...! Mungkin aku memang tidak hidup untuk asmara" Gumamku pelan sambil menarik nafas panjang, sampai air yang mau keluar dari hidungku terhisap habis. Dan, hatiku pun mulai tenang kembali. Aku pun duduk dan memegang mouse milikku sambil menatap tajam kearah Shikamaru.
"Buat laboratorium potion. Aku akan masuk nether sekarang" Kataku dengan nada datar. Shikamaru hanya melihatku dengan tatapan heran, tapi toh dia melakukan apa yang kuminta.
Apa yang harus kulakukan? Apakah harus mencari cewek lagi? Ataukan bertahan?
Mari kita kesampingkan hal tersebut dan melawan ghast
End of Sasuke's POV
Hinata's POV
"Sai-senpai?" Kataku pada cowok berkulit pucat yang sedang berlutut di depanku itu. Aku memang merasakan sesuatu ketika berada di dekatnya. Merasakan lembutnya senyuman yang terkesan palsu, tapi tetap tulus. Gayanya yang cool tapi murah senyum dan raut wajah yang hampir selalu berpikir itu nampak sangat memukau.
Selain itu, dia juga punya penghasilan sendiri. It's cool. Walaupun akhirnya aku menemukan pria seperti dirinya. Pria yang walaupun aku tidak pernah melihat bagaimana wajahnya, tapi dia kelihatan ramah dan hampir sama seperti Sai.
Flashback Mode On
"Huwaaaa...!"
"Eh...!" Kataku sambil celingukan di pinggir pasar yang nampaknya cukup ramai tersebut. Kulihat anak kecil yang nampaknya sedang menangis tanpa ada yang peduli padanya. Aku pun menghampirinya dan merendahkan badanku untuk melihatnya yang masih mengucek-ucek matanya yang basah.
"Kau kenapa?" Tanyaku dengan seulas senyuman lembut kearah anak berambut hitam tersebut. Kuletakkan tas kardus milikku diatas tanah dan meletakkan tanganku di bahunya. Bocah itu pun melihat kearahku dengan sesenggukan.
"A-aku, men-menca-cari ayah" Katanya dengan nafas sesenggukan. Aku hanya tersenyum dan mengulurkan kedua tanganku.
"Mari, kakak bantu" Kataku sambil menggendong bocah tersebut. Kalo dari usianya, nampaknya dia masih berusia dua tahun. Tapi berat badannya sedikit lebih ringan sih. Siapa coba yang tega meninggalkan anak seimut ini di jalan. Atau jangan-jangan dia dibuang lagi.
Aku pun membawa tas kardus milikku dan menggendongnya di belakangku sambil menggendong anak tersebut di depan. Jadi nampak seperti pengemis yang bawa-bawa anak sambil mulung sampah.
Yah...! Ini semua gara-gara senpai yang parah waktu ngospek juniornya nih. Jadi peraturannya gini, sekarang rambutku di kepang jadi dua dengan topi kerucut yang ditulis nama hewan (punyaku belut). Seragamnya biasa saja, tapi make bawahan pramuka. Bawa tas kardus seperti seorang pemulung.
"Papa" Kata anak tersebut ketika dia baru kuajak berjalan sejauh beberapa puluh meter.
"Mau kau bawa kemana anak saya?" Kata orang tua berkumis itu sambil menatap seram kearahku. Nah...! Bener kan? Penampilanku sungguh tidak meyakinkan sampai-sampai aku disangka penculik.
Aku pun menurunkan anak tersebut dan mengusap kepalanya sambil sedikit tersenyum. Anak itu pun berlari menuju ayahnya tanpa mengucapkan terima kasih.
"Lain kali kamu harus berhati-hati kepada orang asing" Bisik ayah tersebut yang nampaknya sedikit tidak suka padaku. Aku pun menghela nafas melihat kejadian tersebut.
"Huwaa...! Aku bisa telat" Kataku begitu melihat arlojiku yang sudah menunjukkan pukul 06.55. Aku pun berlari menuju sekolahku yang nampaknya masih berjalan beberapa ratus meter lagi. Bila aku terus berlari, mungkin lima menit saja tidak cukup, percuma saja, nampaknya aku juga sudah tidak kuat. Aku pun hanya merunduk dan memegangi lututku sambil mengatur nafas.
"Ayo" Kata seseorang yang tiba-tiba saja berdiri disampingku. Aku pun menoleh dan mendapati sosok cowok berkulit putih, bahkan terlampau putih. Rambut hitamnya terlihat rapi dan mata eboninya yang menatapku dengan tatapan datar. Dilihat dari seragamnya, dia juga siswa SMA Kumogakure, sama sepertiku, hanya saja dia tidak memakai bawahan pramuka sehingga pasti dia bukan anak baru.
Tanpa pikir panjang, aku pun naik keatas sepeda motor yang sudah dikendarainya. Dia pun menjalankan motor tersebut dengan halus dan kecepatan sedang menuju sekolah.
-0-
"Yah...! Masa hari pertama sudah dihukum sih" Keluhku ketika aku tiba didepan gerbang dan sukses di cegat oleh anak OSIS yang merangkap sebagai satpam.
"Bentar" Kata cowok yang memboncengku barusan sambil turun dan menghampiri satpam OSIS tersebut.
"Panggil aja Hinata" Kataku, tapi nampaknya dia tidak begitu mendengarku karena dia keburu menghampiri OSIS tersebut.
"Sai, kenapai kau telat?" Kata satpam tersebut dengan tatapan tegas dan tajam kearah pemuda berambut eboni yang dipanggilnya dengan nama Sai tersebut. Setelah itu, Sai berkata dengan nada lirih sehingga aku tidak bisa mendengarnya. Beberapa saat kemudian, temannya itu pun mengangguk dan Sai membungkuk hormat dan langsung berlari kearahku.
"Kelasmu ada di daerah ini. Lurus terus, nanti akan ada yang namanya gugus cemara. Teman-temanmu sudah ngumpul semua" Kata Sai dengan wajah datar. Aku hanya mengangguk senang sambil berlari menuju kelas.
-0-
"Kau kemana aja sih, Sai. Ada seorang siswa yang terlambat nih, belum lagi junior kita pada kurang ajar semua" Keluh senpai berambut hijau begitu kulihat cowok berambut eboni tadi masuk kedalam kelas dengan keringat yang masih mengucur dan tampang berantakan. Sepertinya dia habis di hukum.
Memang, suasana waktu itu cukup ramai aku sukses disuruh berdiri di depan kelas sambil menunggu Sai-senpai yang telat.
"Udah duduk aja. Sekarang semuanya perhatikan, namaku Sai dan aku adalah OSIS pembimbing kalian" Seketika itu juga para murid yang ada didalam kelas itu pun diam begitu mendengar suara milik Sai. Suaranya tegas dan berwibawa. Selain itu, tampangnya yang serius dan terkesan intelektual itu pun nampaknya juga membuat para murid segan untuk ramai, meskipun wajahnya tidak menunjukkan seorang pemimpin.
"Hinata, duduklah" Katanya. Aku hanya tersenyum kecil sambil berlari dan duduk di bangku yang kosong.
-0-
"Itu, cabuti rumput yang disana" Para senpai nampaknya asik sekali nge-bacod di beberapa tempat, sementara aku lagi menyapu bareng beberapa teman baruku. Ini adalah hari terakhir MOS dan itu artinya... waktunya bersih-bersih.
"Kelihatannya akan hujan nih" Kata temenku dengan perasaan senang. Aku hanya mengerut heran mendengarnya.
"Kenapa kau kelihatan senang?" Tanyaku.
"Pasti acara bersih-bersihnya dihentikan kalau hujan" Katanya sambil nyengir gembira.
"Tidak, kalo hujan justru akan tambah seru. Katanya ada yang mengusulkan, kalo hujan diganti outbond aja. Beberapa temanku sedang membuat arena di lapangan upacara" Kata Sai-senpai yang entah kenapa waktu itu ikut mencabuti rumput, padahal senpai yang lain masih asyik mandor di depan gerbang.
"Apa?" Kata temanku tersebut dengan lebay. Sekarang dia lagi mengangkat tangannya dan komat-kamit berdo'a supaya tidak hujan. Kulihat mendung tebal yang bergulung-gulung diatasku, yah...! Nampaknha do'anya tidak bakalan terkabul nih.
"Hei...! Ayo, semuanya masuk kedalam areal sekolah" Seru seseorang kakak OSIS sambil melambaikan tangannya didepan gerbang.
-0-
"Ayo, terus, maju" Koor dari para siswa gugus cemara sambil keprok-keprok tangan di halaman sekolah. Halaman sekolah yang tadinya dipake upacara, sekarang sukses dibuat arena outbond oleh para senpai. Ada yang melewati jaring-jaring dari rafia, ada juga yang bentuk labirin besar yang juga dari rafia dan banyak lagi. Hampir semuanya permainan yang cukup gila.
"Hinata, giliranmu" Kata seorang temanku yang langsung mendorong-dorong aku. Aku pun berjalan menuju arena jaring-jaring. Intinya, aku harus melewati jaring dari rafia itu. Ada yang harus kulompati, ada yang harus merunduk. Cukup mudah sih, mengingat tubuhku juga cukup langsing, tapi hari hujan ini nampaknya mempersulit keadaan.
"Yosh...!" Gumamku ketika sudah selesai melewati semua halangan dan rintangan. Aku pun menyisir rambutku yang basah dengan jariku dan mengusap wajahku yang penuh dengan air. Para senpai ini ngerepotin banget sih, masa hari hujan gini ga boleh make jas hujan. Untung aja hujannya ga begitu lebat dan ga banjir bandang.
"Nih" Pandanganku tiba-tiba gelap ketika seorang cowok melemparkan sesuatu padaku. Aku pun melihat apa yang dilemparkan cowok berkulit pucat itu.
"Sai-senpai?" Kataku begitu melihat jas hujan yang di lemparkan oleh Sai-senpai.
"Kau merasa kesulitan menelan, tenggorokan serak, sedikit pusing di bagian belakang kepala dan hidungmu terasa sedikit panas. Kau akan pilek bila kau terus kehujanan seperti ini" Kata Sai-senpai dengan nada datar. Eh...! Darimana dia tahu kalo aku memang merasa kurang enak badan.
"Gak usah bingung. Aku sudah tau dari raut wajahmu. Sekarang, cepat ke UKS dan ganti baju olahragamu" Kata Sai-senpai sambil melangkah pergi. Yah...! Aku memang merasa kurang enak badan sejak aku berangkat sekolah tadi, tapi karena aku tidak mau bolos saat MOS (yang nantinya bakalan dapet hukuman) maka aku paksakan saja, taunya malah maen hujan-hujanan.
"Eh...!" Gumamku ketika aku merasa pandanganku sudah mulai kabur.
"Cepat ke UKS sebelum kau pingsan" Kata Sai-senpai sambil menepuk pundakku.
"Gendong aja dia, Sai" Teriak seorang senpai yang lain sambil sedikit tertawa geli.
"Gak usah" Kataku sambil tersenyum kecut.
"Siapa juga yang mau gendong. Cepat ke UKS sana" Kata Sai-senpai sambil menarik lenganku kearah UKS.
-0-
"Ne, Sai-senpai" Kataku membuka percakapan dengan senpai berkulit coklat yang lagi mengobok-obok isi lemari kesehatan untuk mencari obat masuk angin.
"Hn" Jawabnya dengan singkat tanpa menoleh kearahku.
"Kenapa kau selalu memperhatikan dan menolongku?" Tanyaku. Yah...! Pertanyaan ini selalu bergemuruh dalam pikiranku sejak aku bertemu dengan Sai-senpai waktu pertama MOS, sampai MOS hampir berakhir hari ini. Dia memang menolongku hampir setiap saat aku butuh pertolongan di sekolah, mulai dari aku yang lupa bawa jajanan tradisional, lupa bawa uang ke kantin, atau saat berteduh dari hujan kemarin.
"Kan aku senpai pembimbingmu" Katanya dengan nada santai. Aku pun hanya terbaring lemah sambil melihat langit-langit ruang UKS. Apakah aku memang harus mengatakannya?
"Tapi, tidakkah terlalu berlebihan? Atau, jangan-jangan, Sai-senpai suka padaku lagi" Perkataan super PD dariku langsung meluncur tanpa jeda dari mulutku. Aku tahu ini bodoh sekali, tapi nampaknya Sai-senpai hanya diam saja menyikapi perkataan bodohku.
"Aku tidak peduli dengan alasan seseorang untuk menyakiti orang lain" Aku menoleh dan menatap senpai berambut eboni tersebut dengan tatapan heran. Kenapa tiba-tiba ucapannya seperti ini?
"Tapi, untuk menolong seseorang, meskipun tidak kita kenal, apakah perlu ada alasan?" Katanya sambil menyerahkan sebuah obat flu beserta minyak kayu putih dengan wajah yang tanpa ekspresi. Aku pun menerima obat tersebut dengan perasaan malu karena ucapanku barusan.
"Sudah ya, kayaknya teman-temanmu juga butuh pembimbing" Katanya sambil menepuk dahiku dengan lembut lalu kemudian berjalan keluar dari ruang UKS. Aku pun tidur dan menarik selimut ruang UKS agar merasa hangat.
"Istirahatlah yang cukup"
End of Flashback
Sejak saat itu, aku selalu mengagumi sosok Sai-senpai. Sosok yang paling terkenal di sekolah karena prestasinya, sosok yang terkenal dengan sifat dinginnya, dan sosok yang dikenal dengan kegilaannya pada komputer.
Setelah itu, selama setahun lebih, sampai aku bisa kelas dua sekarang, Sai-senpai tetap bersikap dingin seperti sebelumnya. Tidak peduli banyak dengan lingkungan sekitarnya, tapi tetap melakukan tugasnya disekolah.
Bahkan ketika dia bertemu denganku, dia hanya melempar senyumannya dan terus berjalan dengan tempo cepat, seperti biasanya. Aku jadi merasa di PHP. Tapi aku masih tetap bertahan dengan perasaan yang lama kelamaan menjadi perasaan cinta ini, meskipun aku tahu kalo sebenernya Sai-senpai tidak ada perasaan spesial padaku.
Aku bodoh ya?
Tapi sekarang, sosok yang sudah lama kukagumi ini, tengah berlutut di hadapanku sambil memegang sekuntum mawar merah dengan tatapan yang lembut.
Apakah dia memang benar Sai-senpai? Kenapa dia tanpa pemberitahuan langsung melakukan penembakan? Apakah dia merasa kasihan denganku yang menunggunya? Apakah aku dijadikan taruhan dengan temannya? Atau semacam itu?
Pertanyaan itu terus berkecamuk dibenakku. Sai-senpai yang biasanya dingin, tiba-tiba menembakku. Apakah aku harus senang dan menerimanya? Kutolehkan kepalaku kepada dua orang yang sedang serius main komputer dengan berhadap-hadapan.
Seseorang dengan rambut raven sedang duduk membelakangiku sambil menatap layar yang menampilkan sebuah game bernuansa merah. Sedangkan yang satunya lagi berambut hitam dikuncir atas sambil memandang laptopnya dengan serius.
"Sai-senpai, boleh aku jawab didalam aja"
TBC
Kira-kira jawaban Hinata apa ya? Si Sai di terima gak nih? Kan Hinata udah suka sama dia, masa gak diterima sih?
Happy Read
