Design My Love
Chapter 1
At the beginning
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuHina
Rated : T
Sasuke's POV
"Ngapain, senpai?" Kata Shikamaru sambil membuka pintu kamar dan langsung berjalan menuju ranjangku.
"Hn" Jawabku tanpa ekspresi sambil tetap menatap layar laptopku. Dia pun ikut menengok ke layar laptop milikku dan kemudian sedikit terkikik geli.
"Aku mau coba programming" Jawabku asal saja. Shikamaru nampak sedikit menyeringai melihatku yang belajar seperti pemula itu.
"Yah...! Programming emang menarik" Kata Shikamaru sambil berjalan menuju ranjangnya sendiri dan kemudian menenggelamkan dirinya untuk membaca sebuah buku. Kulirik sebentar untuk melihat buku apa yang dibacanya. Nampaknya itu novel remaja, tapi kalo dilihat dari judulnya sih, genre nya bukan romance. Mungkin friendship.
Aku pun kembali menatap layar laptopku yang berisi barisan kode yang nampaknya tidak berarti, namun ternyata memiliki banyak arti. Aku pun meneliti barisan kode tersebut dan kemudian membenarkan beberapa baris kode.
"Yes...! AC" Kataku begitu melihat kalo ternyata baris kode tersebut benar. Yah...! Aku mengunjungi web yang di kunjungi oleh Shikamaru beberapa hari yang lalu dan sukses membuatku tertarik.
Flashback mode On
"Kamu ngapain sih? Berisik banget" Kataku sambil melihat kearah Shikamaru yang masih berkutat dengan laptopnya yang mempunyai keyboard yang berisik.
"Aarrrrghhh...! Apanya yang salah coba?" Kata Shikamaru frustasi. Suara keyboard dan teriakan orangnya juga membuatku frustasi. Kupandangi lagi layar laptopku yang menampilkan design minimalis dari website Sai. Belum jadi sih, tinggal mikirin animationnya. Tapi gara-gara Shikamaru, aku harus konsentrasi ekstra.
"Lihat apa sih" Kataku dengan nada penasaran sambil menengok kearah Shikamaru yang nampaknya berkutat dengan beberapa baris kode.
"Ini UVA, aku suka mengerjakan beberapa soal programming disini" Kata Shikamaru sambil tetap serius menatap layar laptopnya sampai-sampai matanya maju beberapa sentimeter di depan monitor.
Bukan matanya saja sih, tapi wajahnya juga ikut dimajukan.
"Udah selesai belum, animasinya?" Kata Shikamaru. Aku hanya sedikit mengangguk sambil tetap berpikir tentang animasi yang lebih baik dari ini.
"Baiklah, mungkin setelah satu soal yang ini" Kata Shikamaru sambil sedikit menyeringai. Dia pun kembali berkutat dengan suara berisik dari keyboardnya, tapi kali ini dia lebih percaya diri lagi dengan seulas senyuman menyebalkan di bibirnya.
"Yes, AC"
End of Flashback
"Wow...! Cepet banget dewa nya" Kata Shikamaru sambil sedikit terkikik membaca novel miliknya. Aku hanya menyeringai pelan melihat Shikamaru.
"Soal apa tuh?" Tanya Shikamaru yang nampaknya masih penasaran dengan soal apa yang telah aku kerjakan dan benar untuk pertama kalinya tersebut.
"Cuma teori bilangan sederhana, bukan soal rakus seperti yang kamu kerjakan tadi" Kataku sambil menutup laptop yang telah ku mode sleep dan kemudian mengeluarkan hapeku beserta touch pennya.
"Itu soal greedy" Kata Shikamaru meralat omonganku. Yah...! Tapi memang benar kan, greedy itu rakus? Aku pun menyalakan hapeku dan membuka sebuah aplikasi gambar yang nampak tidak asing bagiku.
Jreng...! Jreng...! Tampaklah gambar Sakura yang kuselesaikan beberapa minggu lalu setelah aku mengantarkan Sakura pulang dari gramedia. Nampaknya sudah lama sekali aku tidak menggambar, aku pun menyiapkan lembar kertas baru dan membuka galeri foto Hinata. Kupandangi setiap lekukannya, senyumnya yang menawan dan gayanya yang sedikit alay. Aku pun kembali menuju lembar gambarku dan mulai membuat sketsa wajah Hinata secara kasar.
"Oh...! Sekarang menggambar ya?" Kata Shikamaru tanpa melepaskan pandangannya dari novelnya tersebut. Aku juga tak menjawab, takut bayangan Hinata yang sudah susah payah kuingat-ingat itu hilang dari benakku. Beberapa menit kemudian, sketsa kasar dari wajah Hinata sudah tergambar jelas di layar.
"Bagus, tinggal renderingnya" Gumamku sambil kembali membuka galeri. Nampaknya kemampuan gambarku masih tidak berkurang dari sebelumnya. Aku berlatih menggambar untuk melenturkan otot tangan agar mahir untuk memakai tool seperti pen dan sebagainya pada illustrator.
"Hah...! Tidur dulu" Kata Shikamaru sambil menguap lebar dan menutup bukunya dan kemudian berrotasi kekanan. Beberapa menit kemudian suara dengkuran sudah terdengar dari mulutnya.
Aku terus berkonsentrasi pada gambar Hinata selama beberapa jam sebelum akhirnya gambar tersebut selesai. Kupandangi layar hapeku tersebut, aku pun sedikit tersenyum dan kemudian mematikan layar hapeku dan segera merebahkan tubuhku untuk bersiap tidur.
TING...!
Aduh...! Siapa sih yang BBM hampir tengah malam gini, gak punya kerjaan lain apa? Dengan malas aku pun mengambil kembali hapeku dengan mata yang hampir tertutup rapat. Kulihat siapa yang BBM di panel notofikasi. Rupanya seseorang yang tidak kukenal sedang PING aku.
Kubuka mataku lebih lebar supaya aku bisa fokus kearah siapa yang nge-PING itu. Namanya alay dan tidak mudah dibaca sehingga aku hanya memfokuskan pada DP nya. Oh...! Cewek berambut pink, siapa sih. Besok aja deh.
Aku pun kembali tidur dengan mata yang super ngantuk. Beberapa saat kemudian aku sadar dan langsung membuka mataku.
"Sakura" Desisku tertahan sambil membuka hapeku dan melihat bahwa Sakura nge-PING BBMku. Sebenernya aku tidak terlalu terkejut sih, tapi yang mengherankanku, kapan Sakura punya pin BB ku? Aku pun bergegas mengetik dengan tangan terampil milikku.
Ini Sakura? Sejak kapan kau punya pin BB ku?
Beberapa saat kemudian balesan pun muncul, bertubi-tubi. Yah...! Dalam BBM memang tidak bisa ganti paragraf, jadi begitu di enter langsung terkirim.
Syukurlah kau belum tidur
Apa? Kau lupa kalo kau yang minta pin padaku
Itu udah lama banget, bahkan aku saja sampai gak tahu kalo BBM mu itu aktif
Lagian status kok gak pernah ganti sih
DP juga sama, yang itu-itu mulu
Oh...! Iya, sekarang nampaknya otakku mulai bekerja dengan sempurna. Aku pernah sekelompok dengan Sakura saat mengerjakan tugas lingkungan hidup. Waktu itu aku sendiri sih yang mengerjakan, tapi Sakura waktu itu memarahiku karena sikap individualku sehingga aku minta pin BB nya dan bekerja sama untuk mengerjakan tugas. Yah...! Tapi seingatku dulu Sakura hanya mengiyakan ideku saja tanpa memberi ide lain. Kalo begitu kenapa dia memarahiku ya?
Ah...! Udahlah, kau mau apa?
Baiklah, itu terkesan dingin dan jutek. Tapi, sumpah, aku ngantuk banget tahu. Seharian ini aku main minecraft bersama Shikamaru dan Hinata (Sai tidak ikut karena dia sedang memperbaiki sistem web nya). Tapi nampaknya Sakura tidak mengerti (dan juga tidak mau mengerti) tentang keadaanku kali ini.
Jadi, aku gak boleh BBM nih kalo gak ada apa-apa?
Haha...! Bercanda lagi
Eh...! Kita kan ada PR liburan? Kamu udah selesai belum?
Hah...! PR liburan? Ku tajamkan mataku untuk membaca baris tersebut. Kukedip-kedipkan mataku secara cepat, kali aja itu kata berubah menjadi 'tambahan liburan'. Tapi, nampaknya memang benar aku tidak salah baca. PR apaan coba? Ini kan liburan kenaikan kelas? Ngapain pake PR segala sih.
PR apaan coba?
Kenapa dia musti bertele-tele gini sih? Kalo mau tanya PR langsung aja lagi, halaman berapa nomer berapa? Itu pun kalo aku sekarang bawa buku. Emangnya dia gak ngantuk apa malem-malem begini malah BBM-an, di hari terakhir liburan lagi. Oh, iya. Perempuan kan makhluk nocturnal.
Kan waktu terakhir masuk sama Anko-sensei disuruh mempelajari Matriks, Transformasi geometri
Abis itu ulangan
Katanya biar gak ngebut gitu waktu sekolah
Kamu udah belajar?
Hah...! Guru itu, udah galak seenaknya sendiri lagi. Tapi, toh aku juga sudah mempelajari hal itu dulu waktu SD. Yah...! Tinggal buka-buka sedikit lah.
Udah
Aku pun langsung beranjak tidur, berharap agar Sakura bosen dan tidak membalas BBM ku lagi. Tapi nampaknya harapanku tidak terkabul ketika bunyi notifikasi BBM segera masuk melalui lubang telingaku. Anjir...! Aku pun meraih hapeku dan melihat BBM dari Sakura tersebut.
Besok kerumahku deh, ajarin aku ya
Plissss...! *puppy eyes*
Hah...! Apa-apaan dia? Dia gak tahu kalo aku sedang ada lima ratus mil dari Konoha. Mau naik apa aku ke rumahmu? Naik pegasus? Eh...! Tapi, bukannya dobe udah tahu kalo aku ke Kumo? Kenapa Sakura belum tahu? Mustahil mereka tidak pernah bertemu semenjak liburan.
Aku di Kumo
Eh...! Naruto gimana?
Tanpa berpikir panjang aku langsung menanyakan keadaan sahabat durenku tersebut pada cewek rambut pink itu. Beberapa menit kemudian balasan nampak sudah muncul di layarku.
Hah...! Ngapain di Kumo
Kami putus
Kamu belum tahu? Padahal dia kan teman dekatmu?
Mataku membulat seketika ketika melihat tulisan tersebut. Nampak seperti dia tidak punya beban apa pun setelah memutuskan dobe. Aku pun mencoba membayangkan dobe ketika putus dengan Sakura. Yah...! Pastinya gak jauh beda dengan Sakura, tidak punya beban.
Urusan bisnis dengan client
Putus kenapa?
Aku penasaran juga kenapa Sakura yang katanya suka untuk 'menenangkan' cowok dan memperoleh penghargaan tersendiri itu segera memutuskan dobe. Dan untuk beberapa menit berikutnya, ponselku diserbu oleh notifikasi dari Sakura. Aku aja belum sempet bales.
Yah...! Gimana yah
Kurasa dia itu terlalu kekanak-kanakan banget
Masa gini ga boleh, gitu ga boleh
Ga pernah merhatiin masa depannya gimana?
Cewek memang suka sih nenangin cowok gitu
Tapi, kalo sama dia...
Aku menyerah deh, meskipun kelihatannya seru juga
Tapi, kalo kupikir lagi, sih. Aku mau cowok yang pasif aja
Biar aku yang lebih mendominasi percakapan dan memerintahnya sesukaku
Hei...! Kau udah tidur?
Kalo ada cewek ngomong dengerin dong...!
Aku hanya membaca baris demi baris curhat singkat dari Sakura tentang sahabatku tersebut. Hah...! Kenapa dia tiba-tiba bisa curhat denganku? Bukankah kalo di sekolah dia cuek aja tuh sama aku?
Belum
-0-
"Hei...! Bersiap-siaplah" Kata Sai sambil sedikit mendorongku. Aku pun melihat kearah jam dinding yang masih menempel di ruang tamu tersebut. Kemudian kulihat jam keberangkatan yang ada di tiket penerbangan milikku.
"Masih jam tiga kali. Penerbangannya kan jam tujuh" Kataku sambil tetap bermain minecraft dengan Shikamaru. Kali ini kami menggunakan modif tekkit. Setelah kami mengajarkan Hinata dasar dari bermain minecraft, Shikamaru menantangku untuk bermain menggunakan mod Tekkit dan Orespawn yang menambah mesin, industri dan robotika serta monster yang banyak sehingga kelihatan lebih menantang.
"Meskipun begitu, emangnya naik pesawat itu kayak naik angkot apa. Ketika ketinggalan bisa kamu teriaki ato kamu kejar sampai berhenti" Sungut Sai sambil tetap mencak-mencak menyuruh kami berdua untuk segera bersiap pulang.
"Bilang aja iri" Celetuk Shikamaru yang juga langsung kuanggukan sambil menyeringai kearah Sai. Sai tampak sebal sekali diledekin oleh kami berdua sehingga sekarang dia hanya terbaring pasrah diatas sofa sedangkan kami duduk lesehan di lantai sambil memelototi layar masing-masing.
"Udah-udah, nampaknya kita memang harus berangkat sekarang. Musim liburan hampir berakhir dan nampaknya kita harus antre lebih awal agar tidak terlambat" Kataku sambil sedikit tersenyum meledek kearah Sai. Sai nampak menatapku dengan tatapan malas.
"Udah, terusin aja sampai lima menit sebelum keberangkatan" Kata Sai yang nampaknya ngambek dengan kelakuan kami berdua. Shikamaru hanya terkikik geli mendengar Sai yang ngambeknya persis anak kecil tersebut.
"Lho...! Sasuke-senpai, Shikamaru-kun. Kenapa belum siap-siap? Kan sekarang udah jam setengah empat" Suara halus nan lembut itu langsung menggugah telingaku. Aku pun menoleh dan mendapati wajah yang tengah kugambar kemarin sedang berdiri didepanku. Ups...! Sekarang dia malah tambah imut lagi. Sapuan bedak tipis nampaknya masih tersisa di wajahnya, dan pipinya berwarna merah merona. Aku gak tahu dia make semacam pemerah pipi gitu ato itu memang warnanya tapi dia kelihatan sangat menawan sekali di mataku.
"Tau nih, mereka" Kata Sai.
"Ngadu dia" Kataku sekenanya aja agar teralihkan dari wajah Hinata. Wajahnya kemudian berubah menjadi sedikit masam.
"Eh...! Kau ajak Hinata juga?" Kata Shikamaru yang nampaknya udah disconnect duluan dari tekkit. Aku pun langsung mematikan laptopku setelah menutup game dan memasukkannya kedalam tas punggung milikku.
"Ya udah, ayo berangkat" Kataku sambil berdiri dan membawa tas punggungku. Sai nampak mengangkat alisnya heran dengan kelakuanku barusan.
"Kopermu mana? Kau udah packing?" Kata Sai. Aku dan Shikamaru pun memandangnya dengan tatapan heran.
"Emangnya kau pikir kami sebodoh itu apa, packing tiga jam sebelum penerbangan" Kata Shikamaru sambil tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi bingung dari Sai. Aku pun ikut tertawa, tapi tidak seheboh Shikamaru yang masih meledek Sai.
"Udah ah, ayo berangkat" Kata Hinata menenangkan suasana sambil tetap tersenyum. Tapi kelihatannya dia menahan tawa melihat Sai yang nampak seperti orang bodoh tersebut.
"Bentar-bentar, aku mau mandi dulu. Kalian berdua sih, gak bilang-bilang kalo mau packing" Kata Sai sambil cepat berlari menuju ke kamar mandi. Aku pun menarik bajunya dan menahannya agar tidak ke kamar mandi.
"Udah, gak usah mandi. Ntar juga keringetan lagi. Kalo telat nanti aku mau naik apa?" Kataku sambil tetap menarik baju Sai yang masih berusaha untuk kabur.
"Tapi, bauku masih gak enak nih" Sai nampak memelas dengan wajah albinonya tersebut.
"Nih" Shikamaru pun langsung melemparkan sebuah parfum yang langsung ku tangkap dengan cekatan. Setelah kukocok sebentar, aku pun langsung menyemprotkannya kepada Sai secara random.
"Bau apa nih?" Kata Sai sambil mengendus bau badannya sendiri. Aromanya sedikit menyengat dan harumnya juga sedikit familiar. Ini aroma melati, aku biasanya menjumpainya pada balsam yang biasa dipake Kaa-chan.
"Melati" Jawabku singkat sambil menarik Sai keluar bersama dengan koper ukuran kecil milikku yang berada di belakangku. Diikuti oleh Shikamaru yang berwajah malas dengan Hinata yang nampaknya masih berusaha menahan tawannya.
"We're go home"
-0-
"Jiah...! Main game aja yuk" Kata Shikamaru sambil menguap bosan. Aku hanya menatapnya dengan tatapan heran.
"Ogah...! Masa ngeluarin laptop di saat-saat begini sih" Kataku. Yah...! Sekarang kami lagi duduk-duduk di teras bandara sambil berusaha untuk tidak tertidur dan tidak merepotkan para cleaning service di bandara tersebut. Kami tidak sendirian juga sih, tapi ada banyak orang yang senasib dengan kami. Bandara nampak penuh dengan orang yang keluar dari penerbangan barusan. Penerbanganku baru beberapa jam lagi.
"Ini gara-gara kau, Sai. Kan tadi asyik main Tekkit" Kata Shikamaru langsung menyalahkan Sai sebagai biang keladi kenapa kami berempat menjadi gelandangan di bandara.
"Bukan aku. Sasuke tuh, dia kan yang nyeret aku" Kata Sai langsung melemparkan kesalahan miliknya kepadaku. Aku hanya angkat bahu. Sebenernya aku mau menyalahkan Hinata, kenapa dia datang saat itu? Kalo dia gak datang kan aku gak usah seret-seret Sai segala.
"Eh...! Tekkit itu apa sih? Kok kayaknya seru" Kata Hinata sambil menoleh kearahku. Aku hanya menatapnya dengan tatapan datar.
"Yah...! Semacam minecraft gitu, tapi yang ini ada sedikit unsur teknologinya. Selain besi, ada juga tembaga, timah dan timbal. Buat teknik" Kataku. Hinata hanya membulatkan bibirnya begitu mendengar ucapanku tersebut.
"Sasuke-senpai, kita main aja yuk. Maen hape aja" Kata Shikamaru sambil mengeluarkan hapenya. Sai pun ikut mengeluarkan hapenya dan kemudian menghidupkannya.
"Aku sama Shikamaru biasa maen frontline commando kalo di hape. Kamu maen juga?" Kata Sai sambil tetap memperhatikan layar gamenya. Frontline Commando adalah game first person shooter, tembak-tembakan. Aku juga tidak terlalu sering memainkannya, tapi itu juga untuk melatih reflek ku sih. Selain design, aku juga tertarik sama sepak bola.
"Aku juga punya" Sahutku sambil mengeluarkan hapeku dan kemudian menghubungkan kepada server Shikamaru dan Sai. Gamenya tidak begitu rumit sih, cuman tembak sambil jalan aja.
"Kau mau pake apa, Sai?" Tanyaku sambil melihat arena pertempuran.
"Shotgun" Jawabnya singkat.
"Aku pake Machine Gun" Sahut Shikamaru. Baiklah, mereka memang suka bertempur di garis depan. Aku lebih suka memakai sniper dan mengawasi mereka dari kejauhan sementara Sai menghancurkan pelindungnya dengan shotgun dan Shikamaru membantai mereka dengan machine gun.
"Kok jumlah killmu dikit amat, Sasuke-senpai" Kata Shikamaru sambil sedikit terkikik. Tugasku memang hanya mengawasi sambil melawan sniper musuh yang berada di garis belakang agar tidak menyerang Sai dan Shikamaru, jadi aku tidak bisa membunuh banyak orang.
"Sombong nih, mentang-mentang jumlah killnya banyak" Kata Sai yang nampaknya juga iri. Pasalnya, dari tadi dia tugasnya hanya menghancurkan pelindung musuhnya saja, sehingga bila musuhnya sudah kelihatan, Shikamaru langsung menembak mati dia.
"Ini main apalagi sih?" Tanya Hinata yang sukses buatku kaget. Nampaknya dia tertarik dengan game ini dan mulai melihat kearah layar hapeku.
"Ini game tembak-tembakan" Jawabku asal saja. Soalnya, aku harus konsentrasi. Sekarang kami sedang menghadapi banyak sekali sniper musuh sehingga sekarang yang paling sibuk tentu saja aku, sedangkan Shikamaru sama Sai cuman jalan maju saja terus sambil berlindung agar peluru sniper itu tidak menembus kepala mereka.
"Kasih granat aja Sai" Sara Shikamaru.
"Yang mana?" Jawab Sai yang nampaknya juga bingung. Mereka berdua sudah jauh didepanku, sedangkan aku masih sibuk membidik sniper musuh di belakang.
"Yang kiri aja, ada banyak musuh disana" Kataku sambil membidik musuh yang berdiri disebelah kananku. Selama beberapa jam kami bermain frontline commando dan menghabisi banyak sekali musuh yang cukup merepotkan.
"Eh...! Aku mau ke toilet dulu deh. Penerbangannya kan tinggal satu jam setengah lagi. Kita DC aja deh" Kata Shikamaru sambil disconnect dari server. Sai pun mengikutinya sedangkan aku yang terakhir, soalnya aku harus menembak mati dua ekor sniper yang berada jauh dibelakang.
"Aku juga ah" Kata Sai sambil berdiri dan membersihkan celananya yang nampak berdebu karena duduk di teras bandara. Dia berjalan sambil menepuk pundakku.
"Be Gentle" Katanya dengan ekspresi datar sambil berjalan menuju toilet. Aku tertegun sejenak mendengar ucapannya tersebut. Apa yang dimaksudkannya? Sejenak aku teringat dengan rencana redstone milik Sai beberapa hari yang lalu. Beberapa saat kemudian aku sadar apa yang dimaksudkan oleh cowok berambut eboni itu. Kulirik kearah Hinata yang tampaknya sedang tersenyum kecil kearah Sai. Aku pun mendesahkan nafas begitu mengerti hal itu.
"Hei...! Hinata" Kataku dengan nada datar kearah cewek berambut indigo tersebut. Cewek itu pun menatapku sebentar sebelum menunduk dengan wajah malu-malu.
"Kau, menolak Sai kan?" Kataku dengan nada datar saja, tanpa ada emosi. Hinata tampak sedikit terkejut dengan ucapanku.
"Sai-senpai yang cerita kah?" Tanyanya dengan nada penasaran. Aku hanya angkat bahu sambil mengalihkan pandangan.
"Aku hanya menduganya dari jawabanmu ketika keluar ruangan" Kataku yang hanya membuat Hinata membulatkan bibir merahnya.
"'Arigatou, Sai-senpai', jika kau menerimanya kau tak akan mengatakan hal itu. Sai lah yang harusnya mengatakan hal itu" Kataku. Yah...! Jika Hinata menerimanya pastinya Sai lah yang akan berterima kasih, bukan Hinata yang berterima kasih. Bodohnya aku yang baru sadar beberapa saat yang lalu.
"Yah...! Memang sih, waktu itu aku menolaknya. Aku memang menyukai Sai-senpai sejak pertama kali masuk MOS. Tapi sikapnya berubah secara drastis waktu itu. Biasanya dia dingin dan cool, tapi waktu itu tiba-tiba dia nembak, bahkan tanpa PDKT. Aku hanya khawatir bila Sai-senpai hanya kasihan sama aku, atau yang lebih parahnya lagi, aku dibuat bahan taruhan oleh Sai-senpai" Kata Hinata. Wah...! Nampaknya otaknya encer juga nih bisa berpikir sampai segitunya. Tetapi, masih ada sesuatu yang menganggu otakku.
"Setelah itu, apa yang kalian bicarakan?" Kataku dengan nada tajam. Hinata tampak membulatkan matanya sebentar sebelum akhirnya menunduk malu. Semburat berawrana merah muda tampak di pipi putihnya. Sudah kuduga begitu.
Butuh waktu lama untuk menginvasi sebuah blaze dungeon, bahkan aku sediri pun tak sadar ketika mereka berdua berbicara lama sekali setelah adegan penembakan serta penolakan Hinata itu.
"Yah...!" Hinata mengalihkan pandangannya kearah lain. Ketika Hinata tahu namaku, reaksinya tidak begitu terkejut dan nampak seperti dia sudah mengenalku saja. Artinya hanya satu. Sai telah menceritakan sesuatu tentangku kepadanya setelah adegan penolakan tersebut.
"Yah...! Aku..." Kata-kataku terputus begitu saja. Kenapa? Padahal dia sudah tahu betul bahwa aku menyukainya, Sai pasti sudah menceritakan semua hal yang dia dengar dariku selama beberapa hari ini. Mulai dari pertama kali aku kenal dengan Hinata dan mulai menyukainya beberapa hari yang lalu, Sai pasti sudah menceritakan semuanya. Tetapi kenapa? Kenapa aku masih tidak mau membicarakan hal ini? Kenapa lidahku kelu saat aku harus benar-benar mengungkapkan perasaanku? Apa yang salah denganku?
Jantungku berdegup kencang sekali. Aku gak tahu apakah darahku mulai mengental sehingga jantungku bekerja ekstra keras untuk memompa darah ke atas, atau otakku yang butuh asupan oksigen ekstra agar tidak pingsan.
Aku tahu ini lebay sekali, tapi aku merasakannya. Merasakan setiap darah yang mengalir ke otakku, merasakan darah kotor yang nampaknya sedang menumpuk di atas hidungku. Barangkali aku akan mimisan, tapi nampaknya tidak. Aku sudah gak tahu bagaimana rupa wajahku saat ini, tapi moga-moga aja darahnya mengalir lewat belakang kepalaku sehingga tidak kelihatan merahnya.
"Aku... menyukaimu, Hinata" Kataku dengan intonasi cepat dan berusaha agar tidak batuk darah. Aduh...! Memalukan sekali adeganku barusan. Aku gak berani mengangkat wajahku untuk melihat gimana wajah Hinata (sebenernya aku gak mau Hinata melihat wajahku).
"Hm...! Gimana yah?" Kata Hinata tampak kalem seperti biasanya. Aku pun mengalihkan pandanganku kearah lainnya, pura-pura cuek saja, padahal aku sudah nunggu jawabannya dari tadi.
"Tunggu dulu bentar deh, Sasuke-senpai" Kata Hinata. Aku pun mengalihkan pandanganku kearah Hinata yang sedang tersenyum manis. Kucoba untuk membaca ekspresi wajahnya, apakah dia sebenernya ingin menolak atau masih malu menerima. Tapi nampaknya otakku yang sudah terlanjur penasaran tidak bisa mencerna dengan jelas ekspresi yang ditampakannya.
"Tidak, Hinata. Aku tidak tahu apakah kau berencana untuk membuat kata-kata manis untuk menolakku atau masih ingin PDKT sedikit. Tapi, aku ingin kau bisa menjawabnya dengan spontan, karena itu adalah ekspresi hatimu yang sebenernya. Tak peduli semenyakitkan apapun itu, aku akan menerimanya" Kata-kata itu langsung meluncur tanpa henti dari mulutku. Bahkan beberapa kosakata yang cukup berat tidak terdengar oleh otakku yang belum bekerja seratus persen itu. Hinata tampak melongo sejenak mendengar ucapanku tersebut. Beberapa saat kemudian dia menundukkan kepala.
"Yah...! Sama deh" Katanya akhirnya. Hampir saja aku muntah darah mendengar hal itu, bahkan aku sudah merasakannya di tenggorokanku. Dia... dia ... dia... aku sudah gak sanggup berkata-kata lagi saking senangnya. Yah...! Meskipun aku adalah makhluk keras kepala yang dipenuhi logika sehingga aku hampir tidak pernah menunjukkan emosiku. Tidak pernah senang sampai melonjak-lonjak, atau menangis tersedu-sedu, kali ini (baru kali ini) aku merasakannya, bahkan tubuhku sekalipun tidak tahu bagaimana harus meresponnya.
"Sialan kau, Sai" Desisku tertahan karena bocah berambut eboni yang sudah membuatku hampir muntah darah tersebut. Bocah itu hanya nyengir ketika dia sudah kembali dari toilet.
"Udah buka tuh, kalo gak mau ketinggalan antre, lekas berdiri" Kata Shikamaru sambil menguap malas. Aku pun berdiri dan menyeret koperku. Shikamaru pun mengikuti dibelakangku.
"Thanks, Sai" Kataku sambil menjabat tangan Sai. Sai hanya tersenyum seperti biasanya. Setelah itu, aku hanya melambaikan tanganku saja pada Hinata yang hanya dibalas dengan senyuman ceria dari Hinata.
"Hati-hati, Sasuke-senpai" Katanya sambil melambaikan tangannya ketika aku memasuki gerbang penerbangan. Yah...! Nampaknya kisah cintaku dimulai dari sekarang nih.
TBC
Fufufufu...! Sasuke lebay banget sih. Masak mau nembak gitu sampai hampir muntah darah segala. Tapi, ini realita juga sih (bukan ngarang), author juga dulu sempet gitu (payah banget kan?) meskipun agak dilebih-lebihkan kata-katanya. Hiperbola dikit lah.
Ternyata Hinata bo'ong sama ayahnya. Kenapa ya? Ada yang pengen tahu perasaan Sakura sama Sasuke itu gimana?
Happy Read
