Dunkle & Helle
Author : Lee Se11y4
Genre : Mistery, Romance, Fantasy, Agst etc?
Leght : Multichapter / Chapter 1
Cast : Crossover
Akashi Seijuurou
Kuroko Tetsuya
Kiseki No Sedai
Vampir Knight
Tokyo, 6 Maret 1838
Sebuah tawa muncul dari kebahagiaan. 'Aku akan hidup nyaman'. Mungkin itulah yang dipikirkan anak laki-laki kecil dengan wajah yang terlihat ceria sambil berlari di halaman. Langkahnya sangat tegap dengan bibir yang melebarkan senyumanya.
"Tetsu, kemarilah," panggil wanita yang saat ini berdiri tepat di depan pintu. Wajahnya terlihat ceria dengan mata yang tertutup karena senyumnya. Anak kecil yang dia panggil 'Tetsu' adalah anak semata wayangnya dengan seorang pria yang saat ini sedang duduk di dalam bersama seseorang sambil membicarakan sesuatu.
"Ibu..." teriak Tetsu yang masih berusia delapan tahun yang berlari kearah pelukan ibunya.
"Kenapa kau bahagia sekali sayang?" tanya sang ibu menyelidiki.
"Karena sebentar lagi, Tetsu akan makan enak bersama ayah dan ibu. Ibu tidak perlu jadi wanita orang lain dan ayah tidak perlu berjudi untuk mendapatkan uang. Karena itu Testu sangat bahagia,Ibu." Sungguh kalimat yang polos. Anak yang berusia delapan tahun bahkan mengerti apa itu penderitaan yang di alami orang tuanya. Mendengar penuturan malaikat kecilnya, sang ibu menangis. Dia memeluk erat anaknya yang dia beri nama Kuroko Tetsuya dengan lembut dan juga hangat.
"Terimakasih,Tuan Mirerk." Ucap seorang pria yang mengatarkan laki-laki bertubuh besar dengan pakaian yang mewah dan mahal. Bahkan sedari tadi sebuah kereta menunggunya di depan halaman.
"Aku akan menunggumu. Ingat jangan terlalu lama. Aku tidak suka menunggu." Seperti sebuah ancaman yang tidak langsung. Tapi mungkin Tetsu tidak mengerti apa arti dari tekanan kalimat yang di berikan laki-laki itu pada ayahnya, karena dia sudah terbiasa mendengar hal itu. Terbiasa? Iya, karena ayah Tetsu adalah seorang penjudi dan meninggalkan banyak hutang tidak heran banyak orang yang kenal dan selalu mencarinya. Sedangkan ibu Tetsu adalah wanita simpanan, ayah Tetsu tau sejak awal apa pekerjaan istrinya, tapi demi menghidupi keluarga kecilnya dia membiarkan istrinya bersama pria lain. Selama keduanya bekerja Tetsu hanya bisa berada di dalam ruangan kecil dengan pintu yang terkunci. Kenapa? karena Tetsu tidak punya seorang temanpun, setiap kali dia keluar dan mencoba mencari teman dia hanya akan mendapatkan hinaan dan caci maki dari orang tua teman-temanya, sejak saat itu orang tua Tetsu mengurung Tetsu di dalam kamar dengan di temani sebuah mobil kecil bekas yang di buang oleh seorang bangsawan.
.
.
Selang beberapa hari Tetsu dan orang tuanya berada di dalam kereta berkuda menuju kesuatu tempat. Tawa Tetsu yang begitu ceria itu terus mengembang di setiap perjalanan yang mereka lalui.
"Tetsu, apa kau senang?" tanya sang ibu sambil memegang tubuh kecil anaknya yang saat ini berdiri sambil melihat keluar jendela.
"Hm, tentu ibu," jawab Tetsu bahagia."Apa ayah dan ibu juga senang?" Lanjut Tetsu bertanya. Ayah dan ibu Tetsu saling memandang satu sama lain. Mereka tersenyum kearah Tetsu, tapi ada yang aneh. Senyum yang di paksakan. Mungkin ini hanya pikiran anak kecil yang saat ini sedang menikmati kebahagiaanya yang sudah berjalan tiga hari. Tapi perasaan seorang anak kadang menjadi sebuah kebenaran.
Kereta berkuda itu akhirnya berhenti tepat di depan rumah besar dan mewah, orang yang pernah masuk ke dalam hanyalah orang-orang penguwasa dan hanya orang yang mempunyai gelar dan tahta. Tetsu dan orang tuanya turun dengan mata yang menikmati pemandangan indah di depanya.
"Ibu, rumah siapa ini?" tanya Tetsu yang masih memegang tangan ibunya.
"Ini,ini rumah barumu sayang," lagi-lagi ada kecurigaan di hati Tetsu.
"Tetsu,dengarkan ayah," ayah Tetsu berlutut di depan anaknya, mata yang berkaca dengan tangan yang terasa gemetar saat memegang lengan Tetsu."Di sini kau akan bahagia sayang, makan enak dan juga tidur di kasur yang empuk, selama ini kau hanya menderita bersama kami. Makan makanan sisa dengan tidur hanya dengan alas kertas. Ayah tidak ingin melihatmu menderita lagi. Maafkan ayah,Tetsu." Air mata ayah Tetsu tidak bisa di tahan lagi. Dia memeluk erat anak kecil berambut biru muda itu. Ibu Tetsu yang juga tidak bisa menyimpan air matanya ikut menangis dan memeluk Tetsu dalam hati Tetsu saat ini tidak ada yang tau. Sebuah kalimat yang biasanya terucap lembut dan manja dari bibirnya kini hanya ada kesunyian. "Ayo, ayah antar masuk." Dengan kasar ayah Tetsu menghapus air matanya memegang tangan lembut anaknya sambil berjalan kearah pintu depan rumah mewah dan besar itu. Sebelum mengetuk, pintu itu terbuka dengan seorang pelayan yang kini ada di hadapan mereka.
"Maaf Tuan, Nyonya. Sampai di sini saja kalian mengantarnya." Ucap sang butler.
"Tapi,kami ingin bertemu dengan Tuan Mirerk"
"Tidak bisa,Tuan Mirerk tidak bisa bertemu dengan sembarang orang. Dia hanya punya satu janji dalam satu minggu dengan orang yang sama." Penjelasan yang tidak masuk akal hanya karena dia seorang penguwasa di daerahnya. Tangan Butler itu kini meraih tangan Tetsu. Ibu dan Ayah Tetsu melihat dengan tangis yang tidak bisa mereda, tatapan yang polos dan lugu. Sebelum masuk Tetsu meghentikan langkahnya lalu menoleh pada orang tuanya.
"Jika selamanya kini hidup dalam kemisikinan asal bersama ayah dan ibu, Tetsu akan bahagia," Mata kedua orang tua Tetsu melebar kaget. "Tapi, jika ini yang terbaik untuk ayah dan ibu, Tetsu rela bekerja. Karena Tetsu sayang kalian." Senyuman tulus Tetsu membuat kedua orang tuanya membatu. Sungguh anak yang mulia, anak yang baik anak yang luar biasa. Pintu rumah besar itu akhirnya tertutup rapat, ada rasa menyesal yang begitu dalam di hati ayah dan ibu Tetsu. Sang Ayah menuju pintu sambil memukul pintu itu berulang kali.
"Tolong! Tolong kembalikan anak saya, saya tidak jadi menjualnya. Saya akan membayar semua uang yang anda berikan pada saya. Tapi saya mohon kembalikan Tetsu pada saya. Tuan Mirerk" Terlambat. Hanya itu kata yang saat ini muncul di benak mereka. Menjual anaknya demi kehidupan yang layak, dan kini mereka menyesal melakukanya. Dan semua itu terlambat.
Tetsu terlihat sangat sedih, dia di bawa kesbuah kamar yang berada di bawah tanah.
"Tinggalah di sini sampai kau di panggil." Ujar Butler itu lalu meninggalkan Tetsu yang saat ini terdiam melihat apa yang ada di depanya. Banyak anak seusia Tetsu yang saat ini berada di ruangan yang sama. Mereka terlihat ketakutan dan juga menangis. Tetsu berjalan sambil mendekati salah satu dari mereka. Tetsu duduk dengan mata yang masih memperhatikan mereka.
"Apa kau di jual orang tuamu?" Tanya seorang anak yang ada di samping Tetsu.
"Mungkin, tapi ini demi kebahagiaan mereka jadi aku akan melakukanya"
"Bodoh!"
'Heh?"
"Kau masuk ke dalam lubang neraka. Di sini kita hanya pemuas orang-orang penguwasa. Anak-anak mereka akan menjadikan kita budak dan mainan mereka. Yang bisa bertahan akan di bawa pulang dan yang tidak bisa melayani akan di pukul, di injak dan akan di nikmati semalam." Penjelasan macam apa ini? pemuas? Di nikmati? Memangnya mereka makanan atau mainan? Tetsu menundukan kepalanya, tubuh kecil yang semula terlihat kuat kini sangatlah lemah dan tidak berdaya. Tanganya mulai gemetar.
.
.
Dua hari berlalu setelah Tetsu di kirim orang tuanya untuk di jual, di ruangan yang sama Tetsu hanya bisa tertunduk lesu menatap sisa-sisa makanan yang di lempar seorang pelayan dari pintu ke dalam ruangan. Tetsu melihat seperti ayam yang di beri roti oleh yang punya, mereka saling merebut dan mendapatkan makanan yang tidak layak untuk mereka. Tetsu yang merasa lapar tidak menyentuh makanan itu sama sekali. Perutnya berulang kali berbunyi karena sudah dari kemarin dia tidak makan. Bahkan anak-anak yang lain tidak di beri makan dengan waktu yang di tentukan, mereka makan jika ada sisa dari orang yang selama ini membawa mereka.
"Kuroko Tetsuya!" Panggil seorang Butler membuat Tetsu menatapnya tajam.
"Hai" Jawab Tetsu sambil berdiri.
"Ikut denganku," Tetsu berjalan kearah pintu, tanganya di gandeng dan di bawa kesuatu tempat. Sebelum menemui seseorang yang dia lihat kemarin Tetsu di mandikan, di beri baju yang bagus dan juga makanan yang enak. Tanpa berpikir panjang Tetsu menikmati apa yang dia dapatkan. Setelah selesai Tetsu di antar masuk ke dalam sebuah ruangan yang terlihat ramai dengan beberapa anak kecil dan juga orang tuanya.
"Tuan, ini Kuroko Tetsuya." Ujar sang Butler.
"Oh, ini dia anak dari keluarga Kuroko. Kau bisa bermain bersamanya,Elsy." Lau Mirerk dan anaknya terlihat puas melihat Tetsu yang saat ini terlihat lebih baik dari sebelumnya. Tetsu yang semula tidak tau apa-apa bermain biasa dengan anak Lau. Tapi,...
"Kuroko, makananku jatuh," Seorang anak laki-laki dengan wajah yang begitu dingin menujuk makanan yang dia jatuhkan dengan sengaja. Tetsu menatap makanan itu tanpa melakukan apapun."Ambil dan jilat." Lanjut anak laki-laki itu. Tetsu yang mendengar melebarkan matanya kaget.
"Dion, apa yang kau lakukan perlakukan dia dengan baik," gadis kecil yang di panggil Elsy tadi menghampiri Tetsu dan memegang tanganya. "Tidak perlu takut," Kuroko merasa lega saat ada orang yang mengerti persaanya saat ini. Elsy menghampiri makanan itu lalu tiba-tiba menginjaknya dengan sepatu yang dari tadi dia pakai. "Sekarang, baru kau boleh menjilatnya, pungut makanan itu dengan mulutmu,Kuroko Tetsuya." Tawa yang terdengar sangat kejam dan juga mengerikan. Tidak, ini mungkin saja sebuah mimpi buruk untuk Tetsu, dia di dorong hingga jatuh, kepalanya di paksa mendekati makanan yang tadi di injak. Air mata Tetsu kecil saat itu terurai deras, perlakukan yang kasar dan kejam itu pikiran Tetsu saat ini tapi dia tidak bisa melakukan apapun.
"Ayah, aku bosan." Keluh Elsy yang merengek pada ayahnya.
"Kau ingin apa lagi sayang?"
"Aku ingin dia berdandan wanita lalu tidur denganku malam ini" Elsy Mirerk, 10 tahun seorang gadis yang begitu tamak dan juga sangat mengerikan. Dia berambisi dengan berbagai macam boneka dan selalu memperlakukan boneka itu dengan kejam. Sedangkan Dion Mirerk, kakak kandung Elsy, 12 tahun. Dia adalah anak yang tidak sopan pada orang yang lebih dewasa darinya, kecuali orang tuanya. Dia selalu saja menyuruh, menginjak menindas bahkan memaki dan juga memperlakukan kasar pengawal, pelayan atau teman-temanya.
"Baiklah, apapun akan ayah lakukan untuk anak ayah yang sangat cantik dan juga manja" Lau mencium pipi anaknya, sedangkan Elsy memeluk ayahnya erat.
"Dasar! Itu terlalu ke kanak-kanakan. Aku ingin dia malam ini juga tidur denganku tanpa sehelai pakaianpun." Telinga Tetsu terasa sangat sakit, kalimat yang mereka katakan rasanya seperti jarum yang perlahan menusuk hati Tetsu saat ini.
"Baiklah sayang, Kuroko kan masih kecil wajar saja kita lakukan ini karena dia hanya mainan pemuas hati. Pelayan! Bawa Kuroko dan dandani dia menjadi wanita!" Teriak Lau, salah satu pelayan masuk dan membawa Kuroko untuk berganti baju dengan wajah yang berantakan karena menjilati makanan.
Dalam ruangan yang berbeda Kuroko sedang di pilihakan baju untuk dia pakai menjadi wanita tapi, matanya mengitari tempat yang baru saja dia masuki. Ada cela, pikir Tetsu yang melihat pintu tidak tertutup rapat. Perlahan dia bangun dari kursinya lalu berlari cepat keluar dari kamar yang sangat mengerikan itu. Semua pelayan tampak ricuh dan juga bingung, Tetsu berlari sekuat tenaga agar bisa keluar, tapi terlalu banyak pelayan. Berulang kali dia hanya bisa bersembunyi dengan jantung yang siap meledak karena takut.
"Ada apa?" tanya Lau keluar dari kamarnya.
"Kuroko Tetsuya mencoba kabur, Tuan."
"Bodoh! Cepat kejar dia sampai dapat. Jika tidak kalian akan tau akibatnya." Perintah Lau dengan tegas, saat Lau ingin kembali ke dalam kamarnya dia melihat ada kaki di bawah meja. Lau tersenyum sinis lalu perlahan mendekati meja itu.
"Apa yang kau lakukan di sini anak miskin?" Lau membuka kain yang menutupi meja kecil itu dan menemukan Tetsu yang ketakutan di dalamnya. "Jadi, kau mau kabur? Tidak semuda itu. Ingat kau sudah di jual orang tuamu dan sekarang kau jadi milikku." Tetsu menatapnya dengan mata yang penuh amarah. Sedangkan Lau tertawa lepas di depan Tetsu, Tetsu melihat ada sebuah gelas di atas meja di sebelahnya dia berdiri lalu mengambil gelas itu, tanganya mengarah pada kepala Lau. Setelah melihat darah yang keluar dari kepala Lau, Tetsu mencoba untuk kabur dari tempat itu tapi, tidak muda beberapa pengawal masih menjaga ketat rumah mewah itu. Tetsu berulang kali bersembuyi saat para pelayan itu menghampiri majikanya yang sudah terkapar tidak sadar. Saat itulah Tetsu keluar dari sebuah neraka yang mengerikan, dia berlari menuju hutan bersama dengan hujan dan petir yang saat itu menghampirinya.
.
.
Keesokan harinya.
"Kei-nii, cepat kemari aku dapat ikan." Teriak seorang anak laki-laki yang saat ini berdiam diri di tepi sungai untuk mencari ikan yang akan dia makan bersama saudaranya yang lain.
"Will, sudah aku bilang jangan teriak. Kau tau jika ini daerah penguwasa jika kkita tertangkap kita akan di penjara." Jelas sang kakak yang menghampiri adiknya yang bernama Will, Will mengangguk paham lalu menarik kuat tali pancing yang mendapatkan ikan.
"Kei-nii lebih kuat lagi"
"Ini sudah cukup kuat, Will, mungkin ikanya yang besar."
"Jika, memang besar nanti kita akan makan enak."
"Tentu saja" Mereka berdua mencoba menarik tali pancing yang terbuat dari banmbu itu dan berhasil, ikan yang mereka dapatkan cukup besar dan bisa di makan untuk tiga orang bersama adik perempuan mereka, Hino yang tinggal di rumah.
"Kei-nii ayo kita pulang dan tunjukan pada Hino."
"Ok"baru saja mereka mengemasi alat pancing, tiba-tiba mata Kei melihat ada yang mengambang dan tersangkut di batu. Kei mencoba mendekatinya dari tepi sungai.
"Kei-nii, ayo pulang."
"Tunggu, Will ada orang di sana," Kei lalu berenang dan menjangkau orang yang ada di seberang. Kei yang di bantu Will akhirnya mendapatkan orang yang dia temukan. Dan itu adalah Kuroko Tetsuya.
Sejak saat itu, Tetsu tinggal bersama Kei, Will dan juga Hino. Kei dan Tetsu berbeda satu tahun. Selama Tetsu bersama mereka, Tetsu yang mencarikan mereka makan dan juga tempat tinggal. Tetsu memang menyembunyikan identitasnya Tetsu hanya meminta mereka memanggilnya Onii-san.
.
.
Tokyo, 2 Juli 1843
Tetsu yang sudah berumur 14 tahun saat itu memberanikan diri untuk melihat rumah lamanya dan kedua orang tuanya tinggal. Banyak yang mengatakan kalau keluarga Kuroko sekarang menjadi keluarga paling miskin. Ibu Tetsu sakit-sakitan dan ayahnya menjadi sasaran preman karena hutang yang menumpuk. Kuroko yang memakai mantel dan menutupi dirinya saat berjalan menuju rumah menghentikan langkah saat dia mendengar beberapa cerita dari orang yang dia lewati.
"Aku dengar saat ini, Tuan Lau dan anak buahnya berada di rumah keluarga Kuroko."
"Untuk apa?"
"Kau ini ketinggalan cerita ya? Tuan Lau kesana hanya untuk menyisa mereka karena kesalahan anaknya yang kabur dari rumah Tuan Lau beberapa tahun lalu"
"Kenapa hanya di siksa? Kenapa tidak di bunuh saja?"
"Aku rasa mereka sengaja hanya menyiksa keluarga Kuroko, itu karean suatu saat anaknya akan pulang menemui orang tuanya kan? Dari situlah kesempatan Tuan Lau untuk mendapatkan anak itu lagi"
Tetsu yang mendengar mengepalkan tanganya marah, dia berlari kerumah lamanya. Dan saat berada di sana sudah banyak orang yang melihat saat ayah dan ibu di siksa. Tetsu yang melihat langsung meneteskan air matanya. Kakinya berulang kali ingin berlari dan menyelamatkan mereka, tapi itu tidak mungkin. Tetsu akan di dapatkan lagi dan di bawa kerumah kotor itu lagi.
"Bunuh kami Tuan, bunuh kami saja." Teriak Ayah Tetsu sambil tergeletak di tanah.
"Tidak, sampai anakmu datang"
"Aku berterimakasih pada Tuhan, anakku bisa lolos dari anda Tuan. Itu kebahagianku sebagai orang tua yang tidak bisa membahagiakan anaknya," mendengar itu Lau langsung saja menendang Ayah Tetsu.
"Tuan, tolong hentikan Tuan. Jangan siksa suamiku lagi, saya mohon." Ibu Kuroko membantu suaminya duduk, air matanya berlinang melihat apa yang terjadi pada suaminya dengan wajah yang pucat Ibu Tetsu keluar dari rumah dan membela suaminya.
"Kalian harusnya berterimakasih padaku, karena aku membiarkan kalian hidup"
"Tidak, Tuan. Saya akan berterimakasih lagi jika Tuan membunuh kami. Kami pantas mati karena kami berdosa menjual Tetsu pada anda"
"Kurang ajar!" Lau kembali menendang Ayah Tetsu hingga jauh dan terlempar kearah penduduk yang melihat mereka. Ibu Tetsu berlari lemah dan menghampiri suaminya, tidak jauh dari mereka Tetsu berdiri dengan air mata yang sejak tadi menemaninya.
"Tetsu" Panggil Ayahnya saat dia melihat Tetsu yang berdiri menangis. Ibu Tetsu tersenyum melihat anaknya sudah tumbuh dewasa. Tetsu melangkahkan kakinya kedepan untuk mencoba mendekati dan menolong orang tuanya, tapi ayah dan ibu Tetsu menggelangkan kepala mengisyaratkan agar Tetsu diam dan cukup melihat saja.
"Ayah, ibu aku mencintai kalian" Ucap Tetsu lirih, bibir mungil Tetsu terbaca oleh mata kedua orang tuanya walaupun tidak mendengar suara anaknya. Kedua orang tua Tetsu tersenyum, saat Lau dan pengawalnya medekati orang tua Tetsu, tiba-tiba terbesit rencana di benak mereka berdua. Ayah dan ibu Tetsu mengambil pistol yang ada di saku Lau dan pangawalnya dan mereka langsung menembak kepala mereka bersamaan. Tetsu yang melihat sangat terkejut tanganya bergetar hebat dengan kaki yang terasa lemah. Orang-orang yang melihat berterikan kencang Lau dan pengawalnya terlihat kebingungan. Sedangkan Tetsu seakan menahan rasa sakitnya. Tangan yang ingin menolong mereka, kaki yang ingin memapah mereka kini hanya bisa diam. Beberapa menit Tetsu melihat mayat orang tuanya yang mulai terguyur hujan yang tiba-tiba datang, merasa puas dia berpaling lalu pergi dari tempat itu begitu saja.
Sejak saat itu Tetsu menjalani kehidupan normal dengan adik-adik angkatnya, dia sesekali mengunjungi makam orang tuanya yang ada di belakang rumah lamanya walaupun dengan identitas yang di rahasiakan setiap Tetsu datang, dia hanya bisa melihat dari juah makam orang tuanya karena orang-orang Lau senagaja memakamkan orang tua Tetsu di belakang rumah karena Tetsu pasti akan datang, tapi Tetsu anak yang pintar dia tidak muda tertipu dengan rencana mereka. Walaupun hanya bisa melihat dari jauh Tetsu cukup senang melihat orang tuanya yang sudah tenang.
Tokyo, 12 April 1845
Kuroko terbangun dari mimpi yang selama ini selalu saja menghampirinya. Kuroko melihat sebuah kamar yang mewah dan juga besar, dia tidur di atas kasur yang sangat empuk dengan selimut yang hangat. Ini pertama kalinya Kuroko menikmatinya selama dia hidup. Kuroko terlihat mengingat apa yang terjadi padanya saat itu, dia bertemu dengan seseorang yang menolongnya saat di kejar Lau dan para pengawalnya.
"Kuroko-sama, anda sudah bangun?" tanya salah satu pelayan yang masuk ke dalam kamar Kuroko.
-Sama? pikir Kuroko yang masih heran dengan kejadian langkah yang dia alami. Kuroko masih saja diam dia tidak tau harus memberi respon apa pada pelayan laki-laki yang saat ini mendekatinya.
"Apa anda memerlukan sesuatu?" pelayan itu kembali bertanya pada Kuroko.
"Ah, dimana aku?" Kuroko yang kebingungan hanya bisa bertanya hal yang memang harus dia tanyakan untuk menjawab rasa penasaranya.
"Anda berada di rumah, Akashi Seijuurou-sama. Beliau orang yang membawa anda kemari kemarin saat anda pingsan di dalam kerata. Apa anda baik-baik saja Kuroko-sama?" penjelasan yang benar-benar masuk akal. Kuroko memang belum makan selama dua hari jadi wajar saja dia pingsan.
"Dimana Akashi sekarang?" tanya Kuroko lagi.
"Tuan muda ada di ruanganya, Beliau berpesan jika anda bangun, anda mandi dan makanlah dulu. Setelah itu anda bisa menemui,Tuan Muda" Kuroko paham apa yang di katakan pelayan itu padanya. Kuroko menurutinya lalu menuju kamar mandi yang sudah di sediakan. Sungguh menakjubkan bahkan ukuran kamar mandinya saja seperti lapangan tenis, wajar jika kamar Kuroko luasnya seperti lapangan bola.
Dua jam berlalu, Kuroko tampil berbeda dan juga sangat manis dengan kemeja putih, dan jaket coklat tebal yang cukup panjang untuknya. Kuroko di antar salah satu pelayan menuju ruangan Akashi. Pelayan itu mempersilahkan Kuroko masuk, lalu kembali menutup pintunya.
"Apa kau sudah lebih baik?" tanya seorang laki-laki memakai jas putih, celana putih dan semuanya hampir putih kecuali sepatu dan dasi kupu-kupunya. Di saku bajunya terdapat sapu tangan berwarna cream yang terlipat begitu rapi, laki-laki itu sedang membelakangi Kuroko karena mencari beberapa buku.
"Hai, Arigatou Gozaimasu Akashi-kun" Kuroko menundukan kepalanya untuk berterimakasih pada orang yang dia panggil Akashi-kun. Akashi yang mendengar tersenyum lalu menaruh salah satu buku yang tadi dia pegang. Akashi menghadap kearah Kuroko lalu duduk di kursi yang ada di depanya.
"Duduklah," perintah Akashi. Kuroko duduk di depan Akashi yang terlihat memperhatikanya "Terlalu cepat kau mengucapkan Terimakasih, padahal ada yang kau minta dariku, benar kan?" tebakan Akashi membuat Kuroko diam. Kuroko masih memperhatikan pemuda tampan yang saat ini tepat berada di depanya. Ada yang berbeda. Mata yang Kuroko lihat malam itu berbeda dengan mata yang menatapnya sekarang. Ada kelembutan dan juga perasaan tulus dari mata yang dia pandang saat ini, tapi malam itu mata yang penuh dengan dendam dan kebencian.
"Kau, bukan Akashi Seijuuou yang aku temui malam itu." Jelas Kuroko singkat.
"Hm? Tidak. Aku orang yang sama seperti yang kau temui tadi malam, karena kita adalah satu orang. Yah, walaupun kekuatan kita berbeda tapi perasaan kita sama, udara yang kita hirup sama dan tempat tinggal kita juga sama." Kuroko yang mendengar penjelasan Akashi mencoba untuk memahaminya, mungkin jika Akashi tadi malam akan berbicara dingin dan tidak akan ada Akashi yang saat ini berbicara tenang denganya.
"Kau tau tentang aku?"
"Iya, semuanya. Dari kau yang di jual oleh orang tuamu sampai kau yang saat ini ada di depanku." Akashi menyandarkan tubuhnya di Kursi dengan mata yang masih menatap sosok lugu di depanya.
"Aku minta dua penjelasan darimu, Akashi-kun"
"Katakanlah,"
"Pertama, apa maksudmu tadi malam? Kau berkata kalau aku adalah milikmu"
"Benar, mulai sekarang. Tidak, dari tadi malam kau sudah jadi milikku. Tapi tenang saja aku bukan Lau Mirerk yang akan menjadikanmu pemuas, aku hanya ingin kau jadi keinginanku, Kuroko Tetsuya. Lebih tepatnya lagi, kau hidup karena aku dan selama hidup kau harus memenuhi keinginanku, apapun itu. Apa kau paham dengan yang aku katakan?" Akashi berdiri dan mendekati Kuroko, lalu dia duduk di tepi meja dengan mata yang tidak lepas dari sosok di depanya.
"Tidak, aku tidak mengerti."
"Ternyata kau memang orang yang polos, Tetsuya Kuroko. Baiklah, kau akan mengerti dengan sendirinya nanti. Dan apa permintaanmu yang kedua?"
'Selamatkan adik-adiku dari tangan, Lau Mirerk."
"Itu permintaan yang cukup sulit untukku."
Kuroko berdiri dan berhadapan dengan wajah Akashi. "Bukankah, aku sudah jadi milikmu. Dengan permintaan semuda itu aku yakin kau bisa, jika mereka benar-benar selamat. Aku akan melakukan apapun yang kau minta." Jelas Kuroko dengan nada yang yakin dan tegas.
"Kucing yang manis, tapi bukan seekor anjing penjaga. Itu yang aku mau darimu"
"Baiklah"
"Perjanjian yang bagus, aku akan melakukanya untukmu. Dan nanti malam kita berangkat aku dengar dia merayakan pesta ulang tahun anaknya, tapi sebelum itu..." Akashi menarik tangan Kuroko. Wajah mereka begitu dekat dan sangat jelas ketika mata merah Akashi memandang mata biru Kuroko dengan tajam, bahkan Akashi merasakan desah nafas Kuroko yang terasa resah, bukan itu saja denyut nadi Kurokopun berjalan cepat karena perlakukan Akashi. Akashi menundurkan wajahnya, hingga Kuroko terlihat lega. "Kau ketakutan," tebak Akashi. Kuroko diam. Lalu Akashi mengangkat tangan Kuroko, dari situ Kuroko sadar tangan Akashi memegang denyut nadi Kuroko. "Istirahatlah dulu, sebelum nanti malam kita bekerja" Perintah Akashi, sambil melepas tangan Kuroko lalu duduk kembali ke kursinya. Kuroko melihat kearah Akashi yang mulai membuka beberapa berkas yang ada di mejanya. Tanpa berkata apa-apa Kuroko keluar dari ruangan Akashi.
To Be Continue...
NB : untuk Chap 2 tidak tentu ya, tergantung feel Author abal-abal seperti saya hahahah
Jangan lupa yang baca jangan jadi Reder misterius harus Review ya, Arigatou Gozaimasu.
