"Jika selamanya kini hidup dalam kemisikinan asal bersama ayah dan ibu, Tetsu akan bahagia,"

"Kau masuk ke dalam lubang neraka. Di sini kita hanya pemuas orang-orang penguwasa. Anak-anak mereka akan menjadikan kita budak dan mainan mereka. Yang bisa bertahan akan di bawa pulang dan yang tidak bisa melayani akan di pukul, di injak dan akan di nikmati semalam."

"Kucing yang manis, tapi bukan seekor anjing penjaga. Itu yang aku mau darimu, Kuroko Tersuya"

Dunkle & Helle

Author : Lee Se11y4

Genre : Mistery, Romance, Fantasy, Agst etc?

Leght : Multichapter / Chapter 2

Cast : Crossover

Akashi Seijuurou

Kuroko Tetsuya

Kiseki No Sedai

Vampir Knight

London , 12 April 1845

"Huft, Kaname-sama selalu saja membuat peraturan baru." Hanabusa Aidou, terlihat mengeluh sambil memggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya tampak sebal pada orang yang dia bicarakan.

"Mau bagaimana lagi, kita juga tidak mungkin diam saja melihat mereka terus membunuh orang-orangkan, Hanabusa." Seorang pria yang berjalan sejajar dengan Aidou, terlihat pasrah dengan perintah yang dia dapatkan.

"Hai, hai. Tapi malam seperti ini apa ada orang yang keluar." Aidou melihat ke arah langit yang menunjukan bulan Purnama penuh. Memang saat-saat inilah waktunya bangsa vampire untuk menikmati makanan mereka, tapi tidak dengan Kaname dan yang lain. Mereka terbiasa berbaur dengan manusia dan hanya mengkonsumi darah dalam bentuk kaplet obat.

"Tentu saja ada, mereka tidak akan peduli dengan bulan purnama jika itu tugas mereka." Jawab Akatsuki Kain yang berjalan mendahului Aidou.

Tidak beberapa lama mereka berjalan tiba-tiba ada sebuah teriakan dari arah berlawanan. Aidou dan Akatsuki segera berlari dan benar, Vampire Level E mulai beraksi dengan menghisap darah manusia.

"Yare, yare mendokusai ( wah, wah merepotkan)" keluh Aidou.

"Siapa kalian?" tanya seorang monster di hadapan mereka berdua, dengan bekas darah dan wajah yang mengerikan vampire yang tergila-gila dengan makananya itu terlihat sangat menyeramkan.

"Berisik! Aku ingin cepat pulang tinggal membunuhmu saja itu perinta Kaname-sama," Aidou yang sudah tidak sabar berjalan beberapa langkah mendekati Level E itu dan tiba-tiba jalanan menjadi es batu. "Kau ingin merasakan bagaimana mati di dalam es? Aku akan tunjukan?" Aidou tersenyum manis saat melihat Level E yang tampak ketakutan. Sepertinya dia baru saja menjadi vampire hingga dia takut saat ada orang yang melihatnya.

"Jangan,...jangan bunuh aku. Aku mohon, aku tidak akan melakukanya lagi"

"Uso tsuki. (pembohong)" Jalanan yang di injak Aidou dan berubah menjadi jalanan es itu lalu merambat kearah monster yang mencoba untuk kabur dan membekukanya hingga tidak bisa bergerak. Lama-lama es itu semakin menekan dan menekan tubuhnya hingga hancur berkeping-keping.

"Terlambat, apa ini pekerjaan kalian? Kalian belum bisa menyelamatkan korban," suara seseorang membuat Aidou dan Akatsuki menoleh ke belakang. Seorang laki-laki berjalan menghampiri mereka di antara kegelapan saat dia mencapai sebuah cahaya lampu Akatsuki dan Aidou mengerutkan kening mereka.

"Aomine Daiki" Ujar Aidou.

::::::::::

Tokyo, 12 April 1845

8 : 00 PM

"Kei- nii, apa Onii-san akan datang?" tanya Hino yang terlihat ketakutan duduk di sebuah tempat yang di sekitar mereka hanya ada kegelapan.

"Aku yakin Onii-san akan datang" jawab Kei yakin.

"Tapi, jika Onii-san datang. Maka dialah yang menyerahkan diri untuk menyelamatkan kita." Sahut Will yang ada di samping Kei yang merangkul Hino.

"Ah, tapi pasti ada rencana. Dia bukan orang gegabah dalam melakukan sesuatu. Aku percaya pada Onii-san." Kei terlihat meyakinkan kedua adiknya yang saat ini berharap kedatangan orang yang mereka bicarakan.

.

.

Di tempat yang sama tapi berbeda ruangan, terlihat kemewahan yang luar biasa. Kue ulang tahun yang besar dan tinggi. Tamu-tamu yang terlihat sangat mewah dengan baju yang mereka kenakan dengan di iringin musik yang sangat nyaman membuat orang-orang begitu menikmati sajian yang di berikan keluarga Lau Mirerk untuk para tamu yang datang ke acara ulang tahun anaknya, Elsy Mirerk.

"Tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda" salah satu pelayan Lau mendekati Lau yang duduk menikmati pesta dengan sebotol wine.

"Siapa?" tanya Lau heran.

"Akashi Seijuurou-sama, beliau menunggu anda di ruang tengah"

"Akashi Seijuurou-sama? kenapa dia ada di tempat ini? baiklah aku akan kesana. Sebelum itu perlakukan dia seperti seorang raja aku tidak ingin dia kekurangan sedikitpun pelayanan" perintah Lau pada pelayananya. Sebelum menemui Akashi, Lau terlihat berpamitan pada beberapa tamu yang ada bersamanya.

Akashi tampak tenang dengan setelan jas serba hitam yang kali ini dia pakai, tapi di saku kananya ada sebuah bunga mawar. Kemeja Akashi berwarna putih dengan dasi kupu-kupu hitam. Akashi duduk sambil menikmati minuman yang dia dapatkan dari para pelayan Lau. Sedangkan di samping kanan Akashi berdiri seorang Butler.

"Akashi Seijuurou-sama" panggil Lau sambil mendekati Akashi. Akashi tersenyum lalu menyambut tangan Lau yang menjabat tanganya. "Ada keparluan apa anda datang kemari, Akashi-sama? sungguh sebuah kehormatan bagi saya kedatangan tamu seperti anda, Akashi-sama." Lau sangat menyanjung Akashi bahkan dia menundukan kepalanya di hadapan Akashi. Sebuah emas punya nilai yang cukup tinggi tapi lebih tinggi nilai berlian yang di hiasi emas, itulah posisi mereka saat ini.

"Aku kemari hanya ingin mengantarkan seseorang." Jawab Akashi.

"Seseorang?"

"Iya, mungkin kau mengenalinya Tuan Mirerk, tapi sebelum itu saya ucapkan Selamat Ulang Tahun untuk anak anda." Akasi terlihat basa-basi.

"Terimakasih Akashi-sama, tapi siapa yang anda bawa kemari?"

"Bawa dia masuk" perintah Akashi pada Butlernya, sang Butler menjemput orang yang Akashi maksud. Wajah Lau terlihat begitu penasaran. Dari pintu laki-laki bertubuh tidak terlalu tinggi memakai mantel jas hitam dengan topi yang masih menutupi wajahnya. Dia berdiri tidak juah dari Lau, beberapa menit wajah itu tidak tampak tapi saat Lau menhadap wajahnya dengan jelas, mata Lau melebar kaget.

"Kuroko Tetsuya" panggil Lau dengan nada lirih.

"Apa kabar Tuan Mirerk? Apa anda baik-baik saja?" tanya Kuroko menyapanya.

"Kurang ajar! Kau akan mati di tanganku malam ini Kuroko Tetsuya," Lau berlari sambil mengambil pisau dari sakunya. Dia menghadapkan pisau itu kearah Kuroko tapi tidak semudah itu tinggal beberapa centi saja pisau itu mengenai wajah Kuroko, sang Butler yang membawa Kuroko menghentikanya dengan memegang tangan Lau. "Hah? Apa yang kau lakukan? Lepaskan! Aku akan membunuhnya." Teriak Lau marah.

"Lakukan itu jika kau bisa, Tuan Mirerk." Akashi bersuara, tapi dia tidak mendekat. Akashi hanya menikmati pemandangan itu dari jauh dan duduk santai. Dia menuangkan wine ke dalam gelas kosongnya smabil tersenyum.

"Akashi-sama, apa maksud anda?"

"Tidak ada, aku hanya mengantarkan kucing kecilku yang ingin menemui pemburu seperti anda. Jika ada hal yang ingin anda tanyakan, silahkan. Tapi bukan aku yang menjawabnya"

"Kau..., apa yang kau inginkan Kuroko Tetsuya?"

"Kembalikan adik-adikku"

"Adik? Hahaha..." Lau menjauhkan pisaunya lalu tertawa terbahak-bahak. Dia sekan menertawakan kalimat yang Kuroko ucapkan padanya. "Adik? Adik mana yang kau maksud Kuroko Tetsuya? 3 kelinci itu? Dia adikmu? Mana mungkin dia adikmu orang tuamu sudah mati mereka tidak mungkin memberikanmu 3 orang adik, jangan bercanda" Lau tampak sangat marah. Tiba-tiba dia memukul Butler Akashi hingga dia pingsan, Kuroko terkejut melihatnya. Lau menghampiri Kuroko lalu menarik kera bajunya.

"Aku akan menujukan siapa yang berkuasa di sini. Aku akan tunjukan padamu." Lau memukul Kuroko, hingga Kuroko terjatuh dan mengeluarkan darah di sudut bibirnya."Pealayan, tangkap dia." Perintah Lau pada pelayanya. Dua orang pelayan Lau masuk kedalam ruangan yang sejak tadi hanya berisi empat orang dengan pelayan Akashi. "Tapi sebelum kau masuk ke dalam penjara lihatlah apa yang akan aku lakukan padanya" Lau menuju Akashi yang masih terlihat tenang di kursi.

"Akashi-kun cepat pergi dari ini!" Teriak Kuroko bingung.

"Terlambat, terlambat kau menyuruhnya pergi. Di sini adalah Kuburanmu, Akashi Seijuurou-sama hahahahahah" Lau berdiri di depan Akashi yang masih duduk. Lalu kera baju Akashi dia tarik hingga Akashi berdiri di depanya. "Anak muda yang begitu sombong kau menggali kuburanmu sendiri saat datang kemari!"

"Akashi-Kun aku mohon larilah!" Kuroko mencoba memberontak dan melepaskan diri tapi tidak bisa. Dalam mata Kuroko dia ingat saat kedua orang tuanya di siksa oleh Lau. Dan dia tidak ingin itu terjadi lagi di hadapanya. "Tidak, aku tidak ingin melihatnya lagi, aku tidak ingin Akashi-kun bernasib sama dengan ayah dan ibu, aku harus melakukan sesuatu" Kuroko mencoba untuk melepaskan diri dengan menginjak kaki mereka tapi sayang baru beberapa langkah Kuroko kembali tertangkap, mereka memukul Kuroko hingga tersungkur. Tangan Kuroko kemudian di pegang dan di hadapankan kebelakang. "Akashi-kun"

"Lihat, dia ingin menyelamatkanmu, Akashi-sama tapi itu tidak mungkin. Kau akan mati di sini sekarang" Ancam Lau. Akashi menutup matanya sebentar dan saat matanya kembali terbuka tatapan dingin dan penuh dendam itu datang. Lau langsung kaget melihatnya.

"Kematianku? Apa kau yakin? Biar ku peringatkan padamu, Tuan Mirerk yang boleh berbicara sambil menatap mataku saat aku berbicara hanyalah orang yang melayaniku, orang yang menentangku tidak diperbolehkan meremahkanku," tangan Akashi yang memegang pundak Lau tiba-tiba membuat Lau terjatuh dan berada di bawah Akashi. "Sadarilah posisimu!" Wajah Lau terlihat ketakutan dan berkeringat. Tanganya gemetar dengan wajah yang masih menatap kearah Akashi. Kuroko yang melihat juga terkejut. Pelayaan Lau langsung ketakutan mereka melepas Kuroko begitu saja lalu berlari keluar.

"Akashi-Kun, mata itu..."

"Lubang kematianmu bukan aku yang membuatnya tapi orang lain" Akashi melemparkan pistol kearah Kuroko, lalu Akashi menendang Lau hingga bersujud di depan Kuroko dengan posisi yang masih ketakutan.

"Aku mohon jangan bunuh aku, aku minta maaf padamu Kuroko Tetsuya" Lau memegang kaki Kuroko sambil terus meminta maaf.

"Jika banyak orang yang menerima sebuah maaf maka polisi juga akan menerimanya lalu melepaskan tawananya" tegur Akashi.

"Aku berjanji akan memperbaiki kelakuanku, aku tidak akan semena-mena lagi aku akan memberikan hartaku untuk rakyat biasa tapi aku mohon jangan bunuh aku"

"Semua terserah padamu Tetsuya, aku tidak menyuruhmu membunuhnya aku hanya memberimu pertolongan dengan sebuah pistol. Tapi ingat kembali apa yang dia lakukan padamu dan kedua orang tuamu, jika kau tidak bertemu dengan dia mungkn sampai saat ini kedua orang tuamu masih hidup" Akashi menatap Kuroko tajam dengan mata yang begitu indah, tapi terlihat sebuah kebencian yang mendalam di dalam dua bola mata yang berbeda itu.

"Kau telah membunuh kedua orang tuaku dengan kejam, Tuan Mirerk. Kau menjadikan aku mainan anakmu, bahkan kau menguburkan kedua orang tuaku tidak layak agar aku datang dan kau mendapatkan aku untuk jadi mainanmu lagi. Bahkan bukan aku saja, semua anak-anak kecil yang tidak berdosa kau membelinya." Jelas Kuroko dengan nada yang begitu marah. Pistol yang Kuroko bawa dia hadapkan pada Lau.

"Aku tau aku salah, maafkan aku. Aku tidak akan melakukanya lagi"

"Kau tidak akan melakukanya lagi karena kau sudah di hadapkan dengan kematian? Benarkan?" Tebakan Kuroko memang sangat tepat. Jika berniat untuk sadar seharusnya lebih awal karena Lau sekarang terpojok dia mengatakan tidak akan melakukan hal keji itu lagi. Kuroko yang bersiap menarik pelatuk pistol itu menatap ragu pada Lau. Lau memang menyebabkan penderitaan pada Kuroko, tapi orang tua Kuroko tidak mengajarkan balas dendam apa lagi membunuh seseorang. Tangan Kuroko mulai gemetar dia ragu untuk menarik pelatuknya, tapi karena hal itu Lau tersenyum dia mengambil sesuatu dari sakunya dan Doorrrr...!

Kuroko terkejut saat dia melihat Lau yang mendapat tembakan tepat di kepalanya, darah Lau bahkan menciprati baju Kuroko. Tapi itu bukan pistol Kuroko, Kuroko menoleh ke belakang dan melihat Butler Akashi yang menembak Lau.

"Kau ragu, Tetsuya," ujar Akashi yang melihat Kuroko dari jauh dan bersandar di dinding. "Dalam permainan catur yang ragu melangkah akan kalah, tapi aku bukan orang sepertimu aku tidak akan ragu untuk melakukanya." Akashi berjalan kearah Butlernya lalu melihat ke arah Kuroko. "Kita pergi, pelayanku udah membawa adik-adikmu keluar. Menyerahlah pada polisi lalu aku akan menebusmu." Perintah Akashi pada Butlernya.

"Hai, Akashi-sama." Jawab tegas sang Butler sambil menundukan kepalanya. Akashi berjalan keluar ruangan itu sedangkan Kuroko terlihat begitu bingung dengan apa yang dia lakukan dan yang dia lihat saat ini. Mimpi tapi tidak terbangun dan kenyataan tapi tidak bisa di lakukan.

Kuroko dan Akashi berjalan menuju ke luar rumah Lau, saat Kuroko berjalan menjauh ada suara tangis dan teriakan di dalam rumah yang baru dia tinggalkan. Kuroko berhenti dan berbalik ada rasa yang aneh dalam dirinya, Kuroko bukanlah yang membunuhnya tapi ada rasa menyesal di hatinya, karena Kuroko yang menyebabkan semua ini ada.

"Apa yang kau cemaskan?" tanya Akashi yang ikut berhenti dan menoleh kearah Kuroko.

"Mereka kehilangan seorang ayah dan seorang suami." Jawab Kuroko jujur.

"Dan kau kehilangan ayah dan ibumu juga masa depanmu, bukankah itu impas?" lagi-lagi Kuroko menyetujui perkataan Akashi, semua kalimat yang Akashi keluarkan selalu benar tapi di sisi lain hati Kuroko memberontak, bukan ini yang dia inginkan. Kuroko hanya diam sambil menundukan kepalanya bingung.

"Onii-san!" panggil seseorang dari jauh. Kuroko melihat dari arah yang berlawanan Hino tampak berlari kearah Kuroko dan memeluknya erat.

"Hino, apa kalian tidak apa-apa?" tanya Kuroko sambil memeluk Hino.

"Hm, kami tidak apa-apa hanya saja aku lapar. Kami tidak di beri makan selama 2 hari." Keluah Hino yang terus memeluk Kuroko.

"Maaf, aku terlmbat"

"Apa kau akan pergi lagi?" Kei angkat suara.

"Iya, aku tidak bisa bersama kalian untuk saat ini," Hino yang mendengar melepas pelukanya. Dia menatap Kuroko dengan mata yang berkaca-kaca. "Tapi, suatu hari aku akan membawa kalian tinggal bersama." Lanjut Kuroko.

"Onii-san, kemana kau akan pergi?" Will penasaran.

"Entahlah, sekarang yang penting kalian bisa hidup normal. Sesekali aku akan mengunjungi kalian."

"Tapi, apakah lama?" Hino mulai mengeluarkan air matanya. Kuroko tersenyum dia berjongkok dan menyamakan tubuhnya dengan Hino. Dengan lembut Kuroko menghapus air mata anak berumur 10 tahun itu.

"Mungkin, tapi aku janji akan mengunjungi kalian dan tidak akan melupakan kalian. Jangan menangis, ingat Hino jika Will dan Kei marah lagi padamu cubit saja mereka lalu jangan beri mereka makananmu. Ok?" Kuroko mulai menghibur Hino. Dengan senyum yang di paksakan Hino menyetujui Kuroko.

"Will, bantu Kei. Jangan hanya makan dan bermain saja. Kau sudah dewasa sekarang." Pesan Kuroko pada Will, anak laki-laki yang berusia 12 tahun.

"Baik, Onii-san. Aku akan merindukanmu" Will memeluk Kuroko.

"Kei, jaga Will dan Hino. Kau yang paling tua di antara mereka. Jangan memberikan pelajaran yang aneh, masa depan mereka ada di tanganmu sekarang"

"Cih, karena kau tidak bersama kami, kau memberikan masa dengan mereka padaku. Harusnya itu tanggung jawabmu" Kei memang lebih tua dari Hino dan Will, dia berumur 15 tahun dan berbeda 1 tahun dengan Kuroko. Kuroko yang mendapatkan komentar pedas dari Kei hanya bisa tersenyum, dia mengusap kepala Kei lalu berjalan menjauhi mereka.

"Onii-san, apa sekarang aku boleh tau nama aslimu?" tanya Hino berteriak pada Kuroko.

"Kuroko, Kuroko Tetsuya. Itu namaku." Jawab Kuroko.

"Tetsu-nii, sampai jumpa lagi!" Hino melambaikan tanganya sambil melihat Kuroko berjalan menuju kereta kuda yang di dalam ada Akashi.

"Akashi-sama" panggil salah satu Butlernya pada Akashi yang ada di dalam kereta.

"Bawa mereka ke panti asuhan agar mereka bisa makan dan tidur dengan nyaman." Perintah Akashi.

"Hai Akashi-sama" Kuroko berhenti di depan pintu kereta saat dia melihat Butler Akashi baru saja selesai bicara.

"Sampai kapankau di luar Tetsuya?" Kuroko terkejut, dia segera masuk ke dalam kereta dan duduk di depan Akashi. Saat itu kereta Kuroko dan Akashi berjalan pergi. Kuroko melihat adik-adiknya yang sedang melambaikan tangan gembira mengantar kepergian Kuroko.

"Apa mereka saudara?" tanya Akashi.

"Tidak, mereka hanya orang lain yang saling bertemu dan melindungi"

"Hmph, ternyata masih ada orang baik di dunia ini" Akashi yang tersenyum membuat Kuroko mulai berpikir tentang siapa yang ada di depanya saat ini. Akashi yang matanya berwarna sama memanggil, Kuroko. Dan yang bermata berbeda memanggilnya Tetsuya. Ini adalah hal yang membuat Kuroko bingung pada sosok Akashi Seijuurou saat ini. Kuroko menatap Akashi yang memejamkan matanya lelah. "Ada yang ingin kau tanyakan padaku, Tetsuya?"

"Hah? Ah, iya"

"Apa?" Akashi membuka matanya dan membalas tatapan Kuroko.

"Apa begitu muda untukmu membunuh seseorang?"

"Sungguh pertanyaan yang konyol, orang yang membunuh orang lain tentu saja akan ketakutan. Ada darah, ada sakit, ada penyesalan dan ada tangisan."

"Lalu, kenapa kau melakukanya tadi?"

"Aku tidak melakukan apapun, dan aku tidak membunuhnya, yang membunuh Tuan Mirerk adalah pelayanku. Dia melakukan itu hanya untuk melindungi manjikanya, apa itu salah?" Tatapan Akashi pada Kuroko semakin tajam. Tapi tidak membuat Kuroko gentar untuk membalasnya. Dengan wajah yang serius Kuroko terdiam seakan mengisyaratkan agar Akashi melanjutkan perkataanya."Hmph, baru sekarang ada orang yang berani menatapku setajam itu. Kau tau, Tetsuya. Orang yang bertindak cepat yang akan menang. Sebelum kau di bunuh, bunuhlah dulu musuhmu." Akashi tersenyum lalu dia menarik tangan Kuroko hingga mendekatinya membuat Kuroko terkejut seketika. "Kau adalah miliku dan kau tidak boleh pergi dariku" tangan kanan Akashi menarik dagu Kuroko hingga hidung mereka berdekatan sedangkan tangan kirinya melepas topi baret Kuroko yang sejak tadi dia pakai. Perlahan wajah Akashi semakin mendekat hingga bibirnya menyentuh mungil bibir Kuroko.

:::::::::

London, 12 April 1845

10 : 15 PM

Ruang tamu yang cukup ramai, secangkir teh mereka buatkan untuk sosok tamu yang baru saja bertemu dengan mereka. Aidou terlihat lesu saat tatapan tajam Ruka seakan menyalahkanya.

"Aku tidak membawanya kemari, dia yang minta untuk datang!" Protes Aidou. Ruka yang sedari tadi melirik Aidou akhirnya membuang mukanya tidak peduli dan hal itu semakin membuat Aidou semakin kesal.

"Aku tidak keberatan kau datang berkunjung, Aomine Daiki" Sapa Kaname yang duduk di depan Aomine, salah satu anak dari kepolisian London. Di usianya yang terbilang masih sangat muda tapi dia bahkan turun tangan untuk menjadi polisi demi memberantas salah satu incaran mereka, Level E.

"Terimakasih, Kuran Kaname," Aomine menaruh cangkir yang berisi teh itu di meja. "Maaf atas kelancanganku menemui kalian di malam seperti ini." Lanjut Aomine.

"Tentu saja, manusia sepertimu masuk ke kandang buaya dan kau akan di makan habis tanpa tersisa." Sindir Aidou.

"Hentikan, Aidou" Perintah Kaname. "Aku maafkan, apa yang membawamu datang kemari?" tanya Kaname memulai membicaraan.

"Apa kalian sudah tau, Akashi Seijuurou akan datang?"

"Ah, dia akan menginap beberapa hari disini sampai dia mempunyai bukti yang kuat bahwa kita bukan pelaku yang dia cari" Jelas Kaname singkat.

"Tapi, kenapa Aomine-kun tau dia akan datang?" tanya Yuki ikut bicara.

"Dia salah satu temanku saat aku masih di Tokyo" jawab Aomine.

"Kalau begitu apa kau tau tentang Akashi Seijuurou sebenarnya?" Akatsuki angkat bicara.

"Dia memang tau tentang kami sejak lama, tapi ada yang berbeda padanya sekarang" Selidik Ruka.

"Jadi, kalian sudah tau perubahan itu?" Aomine terlihat memancing rasa penasaran mereka.

"Ah, dan dia bukan Akashi Seijuurou yang dulu. Terakhir kita bertemu saat dia tertembak bau darah yang berbeda, rasa yang berbeda dan juga jiwa yang berbeda. Aku jelas masih ingat saat itu" Aomine yang mendengar kesimpulan Kaname menghela nafas berat. Dia menyandarkan tubunya di sofa sambil memejamkan mata.

"Mau bagaimana lagi? Kalian juga harus tau tentang ini. Tidak sepenuhnya benar. Dia Akashi Seijuurou yang sama seperti yang kalian temui selama ini tapi sejak ibu Akashi meninggal semuanya berubah, ada sosok lain di dalam dirinya. Dulu tidak seperti sekarang sosok itu datang dalam sebuah kalimat yang dingin tapi saat orang di sekitarnya terbunuh sosok itu mulai menguasai sebagian diri Akashi" Penjelasan Aomine terlihat belum cukup untuk mereka.

"Apa maksudmu orang yang di sekitarnya terbunuh?" Aidou semakin penasaran.

"Kematian Ibunya membuat luka yang dalam, karena saat itu dia masih kecil. Tapi bibinya datang dan merawat Akashi karena sang ayah selalu bekerja. Tapi, bibinya terbunuh karena melindungi Akashi yang akan di tembak seseorang, bukan itu saja saat sepupu Akashi datang dan bersama Akashi dia juga terbunuh dengan racun yang harusnya Akashi minum. Hal itu terus terjadi hingga para pengawal dan pelayan Akashi, terakhir ayah Akashi yang saat ini terbaring koma di rumah sakit semua karena Akashi."

"Apa maksud semua ini? apa Akashi mendapat kutukan atau semacamnya?" tanya Yuki yang melihat wajah Aomine sedih saat bercerita.

"Tidak, tapi aku tidak tau pasti. Siapapun yang berada di dekat Akashi akan mati. Itu yang aku tau, maka dari itu sejak sosok lain itu datang. Orang yang bersama Akashi akan di beri kekuatan dengan sebuah kaliamt 'Bunuh dia sebelum dia membunuhmu' dan kalimat itu yang selalu membuat para pelayan dan pengawal Akashi lakukan. Saat Akashi dalam bahaya mereka bertindak, dengan membunuh siapapun yang menyakiti majikanya." Cerita Aomine membuat suasana sunyi. Kepedihan, kebencian dan balas dendam yang terlihat jelas di mata Akashi itu semua karena kejadian yang menimpanya selama ini. Dia menghadapinya sendirian tanpa seorangpun di sampingnya, dia kesepian, dia menangis, dia sakit dan dia terluka. Semua itu dia hadapi sendirian. Kuroko, apa yang selanjutnya terjadi pada orang yang Akashi miliki sekarang, akankah nasibnya sama seperti orang yang Akashi sayangi?

To Be Continue...

.

NB : Hhehe, untuk kalimat yang mungkin tidak asing untuk kalian, iya salah satu kalimat Akashi Seijuurou – KNB dan kalimat Ciel Phantomhive – Kuroshitsuji. Ini FF seperti gabungan beberapa anime dengan cerita yang berbeda tapi, kalimat yang sama, dan tujuan utama FF ini adalah emosional yang aku dapat dari Ciel Phantomhive. Aku paling suka karakter Ciel makanya terbentuklah FF ini. Sebenarnya saat kisah Kuroko kecil itu aku ingin kisahkan seperti Alois Trancy, tapi terlalu bagaimana ya? Sadisme tapi, mungkin banyak yang suka. Sayangnya gak jadi, dan jadinya kayak Chap 1. Maaf cerewet Mohon Reviewnya ya yang panjang gpp :v Terimakasih yang udah Read and Review

Dan satu lagi saya buat FF itu sambil dengerin musik biar masuk dan untuk FF ini coba kalian dengerin Akira Suou - Aoki Tsuki Michite ini lagu Favorite saya dan paling saya suka pasti lebih mendalami saat baca dan dengrin lagu ini