.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Horror/Mystery/Tragedy/Romance/A bit humor
Warning : T rate/Typo(s)/Death chara
Main Pair : NaruHina
Pada cerita ini akan lebih mengedepankan NaruHina
Others Pair : Slight SasuSaku/SasoKonan/ShikaTema/SaiIno/KibaTen
Story by Devilish Grin
Based on Japanese's Urband Legend
Hyuuga Mansion Secret
Chapter 2
...
Konoha University
Setelah memberikan penjelasan sedikit dan mendata nama-nama para mahasiswa baru. Ketiga senior itu segera membubarkan mereka. Sebagian dari mereka ada yang memilih untuk langsung pulang, tapi tak sedikit dari mereka yang memutuskan untuk tetap berada di kampus dan mencari makan siang di sana, termasuk beberapa orang anak yang saat ini sedang berjalan menuju kantin kampus.
"Kayaknya liburan ke Tokyo kali ini bakalan rame dan seru!" ucap pemuda pirang dengan perasaan berdebar. Dia sudah tak sabar lagi untuk menunggu hari sabtu. Maklum saja, waktu ia pergi ke Tokyo tidak pernah ramai-ramai begini.
"Kau benar! Aku jadi tidak sabar menunggu hari Sabtu!" timpal sahabatnya yang berambut coklat dengan antusiasme yang sama seperti si pirang.
"Tapi, kau 'kan penakut, Naruto," timpal seorang pemuda lain dari belakang dan langsung merangkul pundak kedua temannya.
"Sai, jangan seenaknya, ya! Aku bukan penakut!" gerutu si pirang merasa sedikit tersinggung dengan ucapan temannya yang mengatakan kalau dia itu penakut.
"Oh, ya? Lalu siapa yang teriak-teriak histeris ada hantu saat malam terakhir pada upcara perpisahan sekolah ketika semua lampu padam?" Sasuke ikut ambil bagian meledek sahabat pirangnya sambil menahan geli. Dia tersenyum angkuh ke arah Naruto.
Ah, tentu dia masih ingat, dan kemungkinan anak-anak lain juga belum melupakannya. Saat upacara perpisahan yang seharusnya berjalan khitmat malah berakhir kacau karena Naruto histeris saat lampu di dalam gedung padam. Pemuda itu berlari ke segala arah sambil berteriak-teriak ada hantu berkimono yang mengikutinya. Ketika lampu nyala kembali, pemuda itu sudah tersungkur menabrak meja besar dengan kue tart yang sudah bertengger di atas kepalanya. Sementara hantu berkimono yang dimaksudkan ternyata adalah seorang pelayan yang sedang membawa kain putih. Sontak semua murid di sana mentertawakan aksi konyolnya, bahkan memotretnya ketika tersungkur jatuh, termasuk Sasuke. Tapi dia akan menyimpan foto itu baik-baik untuk kenang-kenangan di masa tua nanti.
"Hahahahaha. Tentu saja aku ingat! Saat itu kau benar-benar konyol sekali!" celetuk Kiba sambil tertawa geli mengigat kejadian itu.
"Sialan kau Kiba!" Naruto mengumpat dengan kesal karena kejadian memalukan itu masih saja dibahas bahkan dikenang oleh teman-teman dekatnya sebagai Naruto's bad day. "Aku sedang lapar sekarang. Kalau kalian tidak ingin kumakan, lebih baik kalian tidak membahas hal itu lagi," gerutunya sambil berjalan duluan meninggalkan ketiga temannya yang masih saja tertawa.
.
.
Sementara itu tak jauh dari mereka beberapa senior yang tadi sedang mendiskusikan sesuatu. Mereka sedang membicarakan mengenai persiapan yang harus segera dilaksanakan karena waktunya sudah semakin dekat.
"Wah, mahasiswa barunya banyak juga, ya," kata Sasori begitu melihat daftar nama mahasiswa yang ikut dalam liburan Sabtu ini.
"Begitulah. Tahun ini ada sekitar 60 mahasiwa baru di jurusan Bahasa asing," jawab Konan sambil tersenyum sedikit melihat nama-namayang baru saja selesai ditulisnya.
"Urusan bus sudah beres 'kan, Pein?" tanya Konan pada Pein untuk memastikan.
"Tenang saja. Semua sudah diatur oleh Kakuzu dan sudah kupastikan akan ada dua bus yang membawa kita ke Tokyo nanti." Pein mengacungkan jempolnya sebagai respon positif.
"Lalu, apa akan ada dosen yang ikut bersama kita?" tanya Sasori yang langsung disambut gelak tawa dari ketiga temannya. "Hey, kenapa malah tertawa? Aku 'kan hanya bertanya!" Sasori mendengus kesal sambil memasang wajah masam.
"Habisnya, pertanyaanmu itu lucu! Kau pikir mereka itu masih bocah yang harus diawasi oleh guru? Sudah cukup kita-kita saja yang mengawasinya." Konan geleng-geleng sambil setengah tertawa.
"Berapa orang yang akan ikut mengawasi?" sela Hidan.
"Hmm..., aku juga masih berpikir. Bagusnya berapa orang ya?" Konan mengerutkan dahi sambil menempelkan ujung pulpen yang sedang ia pegang ke dagunya.
"Aku rasa 10 orang sudah cukup," balas Pein dengan santai dan mulai menyeruput mie pada kuah ramen pesanannya.
"Baiklah, akan aku tulis yang akan menjadi pengawas mahasiswa baru itu selama liburan." Konan bersemangat kembali. Tangannya bergerak lincah menulis di kertas.
Konan
Pein
Hidan
Sasori
"Hey, hey. Kenapa namaku juga ditulis? Aku tidak pernah bilang mau ikut bersama kalian 'kan." Sasori langsung protes begitu namanya ikut ditulis oleh Konan.
"Saso-kun~" Konan mengalihkan pandangnya menatap si pemuda merah yang duduk di sebelah kirinya. "Mau ya ikut? Yah, yah, bantuin, please." Sebuah jurus terlarang, bernama puppyeyesnojutsu dikeluarkan oleh gadis cantik itu, tepat ke dalam manik hazel sang target.
Saat itu juga Sasori yang mendapat 'serangan' dari Konan langsung pundungan dengan gaya komikal, berjongkok di bawah meja dengan aura-aura hitam dan merutuki dirinya sendiri karena selalu lemah kalau harus berhadapan dengan Konan yang sedang memelas.
"Yeay! Makasih ya, Sasori-kun!" Konan berteriak girang (membuat perhatian semua orang yang ada di kantin beralih padanya secara serempak) saat mendapat anggukan kecil dari Sasori.
Deidara
Tobi
"Kau serius mau mengajak kedua badut itu mengawasi mahasiswa baru?" kali ini giliran Pein yang protes saat nama kedua orang itu ditulis. Nanti bukannya bantu ngawasin, tapi malah mereka yang harus diawasin.
"Anggap saja buat hiburan di sana," balas Konan sambil menyeringai.
"Sadis," desis Hidan geleng-geleng.
Anko
Kakuzu
Temari
Itachi
Konan menuliskan nama keempat orang lainnya sambil tersenyum puas.
"Tambahkan satu orang lagi." Sasori menyambar puplen yang dipegang Konan dan menuliskan nama seseorang pada lembaran kertas.
Gaara
"Kenapa dia harus ikut? Gaara bukannya anak Elektro?" Konan mengernyit ketika Sasori menuliskan nama Gaara di sana.
"Berani taruhan dia pasti akan memaksa untuk ikut saat tahu aku liburan ke Tokyo," dengus Sasori sudah dapat membayangkan bagaimana reaksi Gaara nanti.
"Dasar kembar," gumam Konan sambil geleng-geleng.
Sasori dan Gaara memang sepasang anak kembar. Namun, alasan Sasori memiliki nama keluarga Akasuna adalah, karena dia diadopsi oleh Kakak dari ayah mereka yang tidak memiliki anak. Nasibnya sedikit tidak beruntung karena pada saat usianya baru menginjak 10 tahun, sang ayah angkat meninggal. Berangkat dari situ Sasori berniat untuk meneruskan nama Akasuna.
"Sasori, nanti kau beritahu Temari, ya." Konan meminta tolong pada Sasori untuk menyampaikan pesan keikutsertaannya dalam liburan nanti.
"Hm." Pemuda itu hanya membalas singkat sembari memberi anggukan kecil sebagai tanda persetujuannya.
"Eh, ngomong-ngomong, kau serius mau melakukan permainan itu?" tanya Hidan setengah ragu. Sikap pemuda yang tadinya santai itu berubah jadi sedikit was-was ketika membahas mengenai permainan kuno yang ingin dilakukan Konan nanti.
"Tentu saja, memangnya kenapa?" balas Konan sambil melirik heran ke arah pemuda itu.
"Enggak kenapa-kenapa sih, cuma..." Hidan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan kikuk.
"Kau takut, ya?" goda Konan sambil tersenyum jahil.
"Seorang Hidan, takut? Jangan bermimpi, ya. Aku tidak takut pada apapun!" umbarnya dengan gaya yang sedikit pongah. Urat kepalanya sedikit berkedut ketika Konan menganggapnya takut.
"Jangan sesumbar di sini Hidan. Lebih baik kau buktikan nanti di sana," celetuk Sasori sambil menyeringai licik.
Tentu dia tahu Hidan itu penakut, meski badannya tinggi besar seperti itu, namun dia berjiwa kucing. Galak outside lembut inside intinya. Bahkan temannya itu pernah menangis saat menonton J-drama saat si tokoh utama mati karena melindungi sahabatnya.
"Tch, gayamu itu seperti berani saja!" cetus Hidan sedikit kesal.
"Aku memang berani, Hidan, dan aku yakin kau sudah tahu akan hal itu," balas Sasori penuh kemenangan.
Pada akhirnya Hidan hanya bisa mendecih tanpa bisa membalas kata-kata Sasori. Pemuda berambut merah itu meskipun bertubuh lebih kecil darinya (kalau tidak mau dikatakan mungil dengan tinggi badannya yang hanya 164 cm saja, bahkan dia lebih pendek daripada rekor Deidara yaitu 166 cm) Sasori bisa dikatakan sangat bernyali besar. Dia bahkan tidak bermasalah saat harus keluyuran sendirian tengah malam di gedung seni yang konon katanya sangat berhantu.
"Ah, ya sudah, deh. Aku kembali ke kelas dulu." Sasori akhirnya berpamitan pada ketiga temannya dan pergi meninggalkan kantin.
.
.
Di tempat yang agak berjauhan, para mahasiswa baru sedang berkumpul untuk makan siang. Mereka semua sedang mengakrabkan diri satu sama lain sambil membicarakan mengenai rencana berlibur ke Tokyo nanti. Wajah-wajah antusias dari mereka tercetak secara jelas. Semuanya sudah tidak sabar menunggu hari Sabtu mendatang, dan pastinya mereka akan mendapatkan suatu pengalaman yang seru di sana nanti.
"Ngomong-ngomong, apa di antara kalian ada yang tahu permainan hitori kankurenbo?" celetuk seorng gadis manis yang rambutnya di kuncir seperti ekor kuda.
"Mana aku tahu! Aku baru tinggal di Jepang selama setahun dan tidak terlalu banyak hal kuketahui di sini," sambar seorang gadis dengan model rambut bergaya ala Cina.
"Benar juga, ya. Kalau tidak salah kau berasal dari Cina 'kan." Gadis ekor kuda itu bersunggut-sunggut, memahami ketidaktahuan Tenten.
"Hitori kankurenbo adalah permainan petak umpet, tapi ini bukan permainan petak umpet biasa," ucapnya sengaja menurunkan nada suaranya. Manik aquamarine sang gadis bergulir, menatap teman-teman barunya satu-persatu,"karena kau akan bermain petak umpet dengan 'mahkluk lain'," sambungnya sambil memperagakan gerakan tangan tanda kutip.
"Apa maksudmu dengan mahkluk lain?" tanya Tenten yang masih belum paham dengan maksud gadis yang bercerita itu.
"Maksudku adalah ha—" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, perutnya sudah disodok oleh sikut seseorang.
"Ino, sudah ah! Jangan cerita yang aneh-aneh!" sambar seorang gadis berambut merah muda sambil menyodok perut sahabatnya itu.
"Yah, kenapa? Aku juga 'kan mau tahu yang dibilang Ino." Tenten mengembungkan kedua pipinya karena si gadis merah muda itu menyuruh Ino untuk berhenti cerita. Dia paling tidak suka kalau dibuat penasaran, dan biasanya dia akan selalu memikirkan hal yang membuatnya penasaran sampai berhari-hari.
"Sudah, sudah, jangan terlalu dipikirkan!" Sakura, nama gadis bersurai lembut seperti bunga sakura itu mengibas-ngibaskan tangannya, "Lebih baik kita bicarakan hal yang lain saja," ucapnya sambil tertawa mencoba mengalihkan topik.
"Tapi aku penasaran, hitori kankurenbo itu permainan seperti apa." Tenten dengan sukses merajuk dan memaksa Ino untuk melanjutkan ceritanya.
"Itu adalah permainan petak umpet di mana kau bermain sendirian," sambar seorang pemuda dengan rambut yang dikuncir ke atas ala nanas.
"Ha, Shikamaru! Kenapa malah jadi kau yang bercerita! Padahal aku mau menakuti mereka!" giliran Ino yang memasang wajah masam kepada Shikamaru, yang merupakan temannya sejak kecil.
"Aku jadi bingung. Kalau hanya sendirian, bagaimanna bisa bermain petak umpet?" tanya Tenten sambil memiringkan kepalanya ke samping.
"Sebenarnya kau tidak sendirian karena di dalam permainan itu kau mengundang 'tamu' yang akan menjadi temanmu bermain. Tamu itu berasal dari dunia yang berbeda dari kita," ucap Shikamaru kali ini ikut-ikutan Ino pakai gaya bicara yang sengaja diseram-seramkan.
"Ah, kau sama saja seperti Ino! Sudah, jangan bahas cerita seram terus!" Sakura segera mendorong Shikamaru agar menjauh dari mereka.
"Hahaha, kau itu penakut sekali, Sakura!" Shikamaru tertawa renyah. Tampaknya dia sangat menikmati menggoda sahabat Ino yang baru dikenalnya ini.
"Aku bukannya takut!" Sakura dengan tegas menapik ucapan Shikamaru barusan.
Shikamaru berhenti tertawa sejenak dan melemparkan pandangan tak yakin kepada Sakura. Seolah ia ingin mengatakan, kalau dia tidak percaya dengan omongan Sakura barusan. Sakura yang menyadari tatapan Shikamaru itu langsung mendengus sebal.
"Aku hanya tak ingin merusak permainan yang akan diadakan pas liburan nanti. Akan jadi tidak seru kalau mereka semua tahu permainan itu," ucapnya mengungkapkan alasan yang sebenarnya kenapa dia menyuruh Ino dan Shikamaru berhenti cerita.
"Oh, jadi karena itu? Yakin, bukan karena kau sebenarnya takut, Sakura?" goda Ino sambil mencolek lengan sahabatnya.
"Ino pig, jangan menggodaku terus!" Sakura menyentil pelan kening Ino yang terus-terusan menggodanya. "Sudah, ah! Aku pulang duluan. Hari ini aku sudah janji pada Ibuku untuk mengantarnya ke salon." Setelah berpamitan pada teman-temannya yang lain, Sakura bergegas beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar kantin.
Namun karena ia berjalan terlalu terburu-buru, ia sempat menabrak seseorang ketika keluar kantin.
Brukh!
Sakura tanpa sengaja menyenggol bahu seseorang dengan cukup keras, bahkan ia sendiri hampir saja terjatuh. Dengan cepat gadis itu berbalik dan meminta maaf.
"Maaf aku tidak sengaja menabrakmu!" ucapnya pada pemuda yang sudah ia tabrak dan tanpa sengaja tatapan emerald-nya berpapasan dengan sepasang iris kelam sang pemuda yang sedang menatapnya dingin.
"Hn." Si pemuda tidak bicara apa-apa. Dia hanya memberikan komentar singkat yang tidak jelas dan setelah itu ia berlalu begitu saja seperti tidak terjadi apa-apa.
"Dasar aneh...," gumamnya sambil geleng-geleng kepala dengan sikap pemuda tadi. tapi Sakura tak punya waktu untuk memikirkan hal itu karena yang ada dalam otaknya saat ini adalah segera pulang ke rumah dan mengantar Nyonya Mebuki Haruno yang notabene adalah ibunya untuk pergi ke salon.
TBC
A/N : Hinata belum muncul, mungkin dua chapter lagi atau chapter depan. Well, saya pernah mencoba game ini dengan beberapa teman saya, dan saya sarankan teman-teman tidak ada yang mencobanya, seberani apapun! Never tried this game ALONE.
Pada cerita ini akan berfokus pada Naruto, Hinata, Sasori dan Gaara.
Saya akan berusaha untuk meng-update cerita ini pada siang hari untuk alasan tertentu.
Cerita ini hanya untuk menghibur semata, bukan untuk menghasut agar kalian ikut memainkannya.
