Genre: Action/Romance/Tragedy

Disclaimer: Pandora Hearts—Jun Mochizuki


Day 2 - Waltz of Rain

[Rainy, Tuesday- Spring]

Pagi hari itu gemericik hujan sudah membasahi kota, Echo si gadis malang yang sudah mengevakuasi cucian bajunya dari balkon kamar pun berangkat ke Abyss Gakuen seperti biasanya.

Dengan payung berwarna biru muda, ia kembali berjalan menuju ke sekolah.

"Hei, berhenti!"

Tampaknya hari ini pun bukan hari baik untuk si gadis malang. Ada seorang preman pasar mendatanginya dengan dandanan punk yang khas. Mereka memojokkan Echo di dekat tiang listrik tempat kemarin Alice menabraknya.

Logat preman betawi pun mereka gunakan disini.

"Buat apa siswi kayak lo disini? Ini daerah kami, tahu!" hardik si preman.

"Ta…Tapi…"

"Serahkan uang lo dan lo boleh pergi, CEPAT!"

Apadaya, siswi malang itu tidak punya uang, ia belum dapat gaji kerja sambilannya. Ia tidak mau menerima gaji harian, ia lebih mau gaji bulanan agar dirinya tidak boros. Gajinya diberikan tanggal 25 setiap bulannya, mirip dengan tanggal pemberian uang pensiun. Si siswi dengan wajah diamnya hanya bisa meringis ketakutan. Kemarin tertabrak sepeda, sekarang dipalak preman, sungguh malang nasibmu nak.

"Cih, pagi-pagi begini sudah ada penyiksaan…"

Ada suara yang tidak asing untuk Echo muncul dari sisi belakang jalan. Seorang siswa berpakaian seragam Abyss Gakuen, ia ditutupi payung hitam, nampak memakai kacamata bening serta sepasang headphone menempel di kedua sisi telinganya.

"S…Senpai?"

Melihat wajah Echo, raut wajah si Senpai tersenyum. Dengan berani sang Senpai mendekati preman itu.

"Wah, wah, hei preman kampung, ngapain lu pada nyiksa Kouhai gua? Hah?"

"Mau apa kau? Kau berani dengan kami? Dasar murid SMU cabul,"

"Heh heh…Hahahahahha lu nggak pernah dengar soal gua yah? Iblis Merah Abyss ini?"

"H—Hah? I—Iblis Merah…maksudnya lo tuh…?"

Iblis Merah Abyss adalah sebutannya, dia sudah menaklukan lebih dari 20 preman jalanan dan 15 geng yang ada di Abyss Gakuen.

Senyum licik terpampang di wajah Senpai, dia melempar payung yang ia gunakan seraya menendang si preman ke tumpukan sampah di sebelah tiang listrik.

BRAKKK

Tanpa basa-basi, Senpai menimbunnya dengan isi plastik sampah lain. Lalu si Senpai meraih tangan Echo dan kabur ke arah sekolah.

"X—Xerxes-senpai—apa tadi tidak apa-apa?"

"Heh, tidak masalah kok, aku ini butuh pelampiasan aja. Lagipula preman itu pasti tidak akan mengejar kita, Echo," senyumnya pada Echo.

Separuh jalan menuju sekolah mereka berdua berhenti. Oh ya, sekedar info, Echo yang terlihat anti-sosial ini ikut sebuah klub olahraga sekolah, yaitu klub kendo yang diketuai senior kelas 3 bernama Xerxes Break, ya, Xerxes-senpai yang sekarang ada di dekat Echo. Break sudah Dan 3 Kendo dan sudah sering menjuarai turnamen SMA, hanya pada gadis-gadis ia bersikap lembut.

"U, Umm, terimakasih sudah mengantarku sampai sekolah, Xerxes-senpai!" Echo membungkuk.

"Sudah kubilang tidak masalah kok!" Break mengusap kepala Echo. "Sana masuk! Aku masih ada urusan diluar sini,"

Pukul 12 : 11 – Lunchtime

Echo seperti biasa duduk dikelasnya dengan lauk makan siang yang ia buat sendiri, hari ini Omelet Rice. Dan seperti biasa, ia duduk sendirian di kelas itu.

GRAKKK

Pintu kelas sepi itu terbuka, si ketua OSIS itu memasuki kelas dengan sekotak bento ditangannya.

"Echo-san~ Ayo kita makan siang~"

"A—Alice-kaichou? Kenapa kau ada disini?"

"Ya untuk makan siang bersamamu lah! Ayo makan!"

"I—Iya, si-silakan duduk disini…"

Teman pertama Echo disekolah ini adalah Alice, ketua OSIS yang menabraknya di hari pertama sekolah. Alice bilang, sebagai ungkapan balas budinya, ia akan menjadi teman baik Echo dan mencarikan teman untuknya. Walau Echo bilang tidak usah, Alice dapat dengan baik memaksanya.

Lauk makan siang Alice siang ini adalah Beef Steak sederhana dengan saus lada hitam.

"Wuaah, tampaknya lauk makan siangmu enak, Alice-kaichou!"

"O-Oh ya? Padahal ini papaku yang buat…"

"Papa?"

"Iya, aku punya ayah tiri, namanya Glen Baskerville. Kami tinggal dekat sini jadi aku tak perlu ikut kos atau asrama sekolah,"

"Ooh…, aku tinggal sendirian di rumah,"

"A—M, Maaf aku tidak bermaksud—"

"Sudah tidak apa-apa, Alice-kaichou! Aku sudah sering begitu kok…"

Suasana pun menjadi down beberapa menit…

"Hei, bagaimana kalau besok kau kukenalkan dengan beberapa temanku?"

"E-Eeeh tapi…"

"Sudahlah! Daripada kau sendiri terus disini, bagaimana?"

Echo tak dapat menolak, jadi ia mengangguk saja. Mata Alice pun berbinar senang.

Echo mulai senang bersekolah mulai dari hari itu. Yah, walaupun ia tetap harus bekerja sambilan dari hari ke hari sepulang sekolah. Ia bekerja ganda, di sebuah supermarket kota sore tiap hari sekolah (Selasa, Kamis, Jum'at) dan tiap malam Minggu di sebuah restoran Sushi.

Seperti apa kerja sambilannya? Silahkan menunggu di chapter selanjutnya. *author dilempar ke laut*

-Continued to the Tuesday Afternoon-


Day 2 Half – Strange Lady inside the Market

[Rainy, Tuesday – Spring]

Seperti yang diceritakan di akhir chapter sebelumnya, Echo hari ini ada kerja sambilan di supermarket kota.

Pemilik Supermarket kota itu sangat ramah, namanya Cheryl Rainsworth. Walaupun sudah nenek-nenek, ia kadang masih standby di kasir. Echo membantu di bagian kasir, stock equipment, gadis malang itu punya talenta kerja yang sangat mengagumkan untuk gadis seusianya.

Hari ini ia ditempatkan di bagian stock equipment, kerjanya menaruh barang-barang baru dan mendata. Ia sedang menyetok barang di bagian peralatan musik dan olahraga.

Ooh?

Echo melihat gadis berpakaian seifuku sekolahnya sedang memilih-milih sesuatu, dia juga membawa guitar case dipunggungnya.

"Cari apa mbak?" ujar Echo pada orang itu.

"AAH—M, maksudku, aku sedang mencari bat baseball sambil menunggu Gitarku selesai di maintenance…"

"Oh, ikut klub musik?"

"Yup, Abyssal Band namanya~"

"W-Wow hebat…apa posisi anda mbak?"

"Rhytm guitar, hehehe…"

Entah kenapa gadis yang dipuji Echo itu makin lama semakin terlihat sok tsundere. Matanya masih tertuju ke peralatan olahraga. Sekedar info, tsundere itu tipe cewek yang keliatan perangainya galak tapi sebenarnya menyembunyikan sisi manis (?)nya.

"Sebenarnya, anda nyari apa sih mbak?" Echo penasaran.

"Bat Baseball,"

"O-Oh, kau juga ikut klub olahraga?"

"Tidak kok, aku cuma ikut klub musik," Ia tersenyum ke arah Echo. "Aku minta rekomendasimu, lebih baik aku pilih bat kayu, bat besi atau bat aluminium?"

"Jelas bat aluminium, bahannya lebih ringan dan kuat, juga nggak gampang berkarat!"

"Hmhm, begitu, terimakasih. Nah, Aku permisi dulu, Echo-san,"

Siswi rada-rada tsundere itu mengambil bat aluminium yang ditunjuk Echo dan menuju ke tempat maintenance gitarnya. Matanya jeli, bahkan ia dapat melihat nametag Echo yang jarang diperhatikan orang. Orang yang menarik, pikir Echo dalam hatinya. Siapa sebenarnya orang itu? Namanya saja ia tidak sebutkan…

Mungkin orang itu bisa ia temui di sekolah hari Rabu? Entah juga. Hari Rabu dan Sabtu adalah hari dimana kegiatan klub berlangsung. Para siswa Abyss Gakuen boleh memilih 2 macam klub, 1 klub olahraga dan 1 klub akademik. Echo memilih klub kendo saja, ia tak terlalu memikirkan soal klub akademis.

Aku pasti akan menemui orang itu, akan mendapat teman tanpa bantuan Alice-kaichou, harus.

-Let's meet again on Wednesday-