Genre: Action/Romance/Tragedy

Disclaimer: Pandora Hearts—Jun Mochizuki


Day 3 – Rythmical Evening

[Cloudy,Wednesday, Spring]

Rabu tiba, waktu memang berjalan dengan sangat cepat. Kali ini waktu sudah bergulir hingga jam makan siang, dan sekarang Echo, Alice, Gil dan Vincent sedang makan siang bersama di tempat yang tidak biasa—kantor OSIS.

"Gil, aaa~" ujar Vincent sambil menyuruh Gilbert membuka mulutnya, Vincent membuat bento untuk Gil hari ini.

"Vince, cukup. Biar aku makan sendiri!"

"Ayolah Gil, sekali saja, aaah~"

"Hihihi," Echo terkikik geli. "Kalian dua bersaudara yang unik yah,"

"Oh, aku akan menganggap itu sebagai pujian, Echo-sama," senyum Vincent senang. "Apa kau juga mau Cake Blueberry buatanku? Gil tidak suka manis-manis jadi ia menolaknya."

Vincent suka memanggil dengan embel-embel '-sama' pada orang yang baru ia kenal.

"O-Oh, terimakasih…"

"Oh ya, Echo-san," Gil mulai bertanya. "Apa kau kenal dengan kelompok geng Black Knight?"

"Hei Gilbert, kenapa kau tanya itu padanya? Itu kan urusan OSIS!" bentak Alice.

"Maaf Kaichou, aku cuma penasaran…"

Echo terdiam.

"Black Knight? Apa itu? Ada apa soal mereka?"

"Biar kujelaskan untukmu Echo-sama," Vincent berdiri dari bangkunya. "Di Abyss Gakuen dikabarkan ada murid-murid yang bunuh diri setelah dibully oleh geng. Nah, geng itu diketahui bernama Black Knight."

"Geng bodoh itu tidak diketahui siapapun, dan tak pernah disebutkan oleh seorangpun, jadi kami tidak tahu…" lanjut Gil, raut wajahnya makin murung dari biasanya. "Aku sudah tanya Break, tapi ia tak tahu apapun…sial,"

"Ketua Kendo yang tahu jalanan kota itu tidak penting," komentar Alice. "Jadi kami harus cari info sendiri, kau mau bantu kami, Echo-san?"

Alice mengulurkan tangannya di depan Echo. Gilbert dan Vincent tersenyum cerah dibelakang mereka.

"Aku…akan membantu,"

Echo menjabat tangan Alice, dengan ekspresi yang tak pernah berubah, datar tanpa senyum.

Pukul 15:30 – Club Activities Time

Kegiatan klub Kendo mulai lebih lama, dari pukul 4 sore sampai pukul setengah enam. Maka dari itu, Alice pun mengajak Echo jalan-jalan dan memperkenalkan Echo pada orang yang ia janjikan.

Papan ruangan itu bertuliskan 'Ruang Musik', dan ada kertas ditempel di depan ruangan 'Klub Musik – Abyssal Band'. Alice memasuki ruangan itu bersama Echo.

Klub Musik? Itu artinya ia akan bertemu orang yang kemarin?

"Aku datang~" teriak Alice senang.

"Selamat datang Alice!" jawab salah satu siswa yang daritadi tampak sedang mengelap bass miliknya.

"Loh…Oz? Cuma kau yang ada disini?" Alice nampak kecewa.

"I-Iya, katanya mereka ada urusan…" ucap siswa yang bernama Oz itu pendek. Ia lalu membalik badannya dan memperlihatkan mukanya di hadapan Oz dan Echo.

Dalam hati, Echo kecewa orang yang ia cari tidak ada. Tetapi, ia yakin kalau ia akan menemukan orang itu.

"…Kau kan…Echo-chan?" tanya Oz.

"I, Iya ini aku, Oz Vessalius-san…"

"Wah, kalian saling kenal toh?" Alice nampak terkejut.

"Yah, Echo-chan itu teman kecilku ketika aku pernah tinggal di rumah keluarga Nightray, iya kan?" senyum Oz senang. "Tak kurasa kita akan bertemu lagi disini, hehe…"

"…" Echo diam saja. "…Jangan memanggilku dengan embel-embel '-chan', Echo saja,"

Tetapi, Oz mengabaikannya.

"Maaf Echo-san kalau orang yang ingin kukenalkan tidak ada, tapi setidaknya aku akan mengenalkan klub musik ini padamu!" Alice menepuk bahu Echo.

"Oh, tidak apa-apa, Alice-kaichou…"

"Ini ruangan milik Abyssal Band member, aku Alice sebagai lead-guitarist, dan Oz disini adalah bassist!"

"Lalu adikku Ada adalah keyboardist dan vocal serta Rhytm-nya…"

TING TONG TENG TONG

"Perhatian kepada Echo-san dari kelas 2-2 untuk segera datang ke klub Kendo, terimakasih. Kami ulangi…"

Echo dipanggil?

"Ah maaf Alice-kaichou dan Oz Vessalius-san…aku harus segera kesana,"

Ruang klub Kendo, Pukul 15:55

Break sudah ada disana, bersama seseorang lain yang berkacamata seperti dirinya. Entah kenapa, ruang Kendo terasa lebih ramai dari biasanya.

"Ada apa memanggilku, Xerxes-senpai, Liam-senpai?" tanya Echo.

"…Kita disuspect melakukan kekerasan, Echo," jawab Break. "Ada darah segar mengucur di sekeliling dojo Kendo ini, aku sudah bilang ke OSIS dan komite siswa kalau belum ada yang memasuki dojo ini tapi…"

"Ini masalah besar Xerx," ujar orang disebelahnya. "Dan kenapa harus kita yang dianggap tersangka? Bahkan tidak ada senjata pembunuhan disini!"

"Diam kau Liam! Aku sedang mencari jalan keluar…"

Yup, orang itu sahabat baik Break, Liam Liunent. Liam juga anggota klub Kendo—walaupun hanya manager klub. Liam sekelas dengan Break dan Vincent di kelas 3-1, Liam juga anak angkat kepsek SMA Abyss.

"Apa ini soal kasus…bullying yang berakhir dengan siswa bunuh diri itu?" jelas Echo.

Break dan Liam terkejut.

"Darimana kau tahu itu Echo?" pekik Liam.

"Ooh, Alice-chan menceritakannya padamu yah…baguslah," Break tersenyum simpul. "Tampaknya sih iya seperti itu, tapi kita harus menemukan pelaku sebenarnya sebelum akhirnya malah kita yang kena skors…"

Mereka bertiga pun terdiam.

GRAKKK

Wakaosis—Gilbert Nightray, memasuki ruangan dojo dan menemui Break serta Liam.

"Kalian semua dipulangkan, ini perintah kepsek. Polisi akan kemari dan memeriksa dojo ini sebagai TKP," perintah Gilbert singkat.

"Yasudahlah…ayo pulang, Liam…Echo juga!"

Sepertinya Break mengalah, dia ingin mengumpulkan info sebelum sekolah dan polisi tapi ia urungkan. Ketua klub Kendo itu lalu menyuruh semua anggota klub pulang dan hari ini tak ada kegiatan klub akibat kejadian itu.

Karena rumah Echo paling dekat, ia pulang berpisah jalan dengan kedua senpainya itu. Liam dan Break mengambil arah yang langsung ke stasiun, sementara Echo kembali melewati arah tanjakan. Break bilang kalau antara mereka bertiga menemukan informasi, mereka harus melapor untuk didiskusikan.

DRAP DRAP DRAP DRAP

Ada suara orang berlari dari kejauhan, tepatnya di gang dekat apartemen tua Echo.

DRAP DRAP DRAP

KLANG!

Suara itu tidak menarik perhatian Echo, dia pura-pura tidak mendengarnya dan tetap melangkah hingga menuju rumahnya.

BRAKKKKKK!

Tepat di depan gang itu, Echo ditabrak oleh seseorang yang daritadi terdengar sedang berlari. Echo pun terjatuh, dan orang itu jatuh di pangkuan Echo. Beberapa detik berselang orang itu bangun lalu kabur sebelum Echo melihat wajahnya.

Orang itu pun menghilang.

"Siapa tadi?" gumam gadis malang itu.

Ia lalu berdiri dan menuju rumahnya, tetapi ada pemandangan aneh di seifukunya saat ia melihat rok hitamnya sudah tercemar noda merah darah segar. Darah orang barusan…kah?

To be continued, don't forget the review! ^^