Genre: Action/Romance/Tragedy
Disclaimer: Pandora Hearts—Jun Mochizuki
Day 5 : Footprints in the Sand
[Sunny, Wednesday– Summer]
Masih ada beberapa minggu sebelum mid-test menjelang libur musim panas, siswa-siswi SMU Abyss sudah berganti seragam ke seifuku putih dan kemeja putih. Panas terik luar lumayan membakar kulit ditengah bulan Juli ini.
"Panas…" keluh Eliot. "Untungnya diruang musik ini ada AC…"
Ya, seperti minggu sebelumnya, Echo berada di ruang klub musik hanya untuk bersantai. Oz, Ada, Alice dan Eliot ada disana juga.
"Ada, bagi es krimnya dong…" pinta Oz.
"Nii-san! Tadi kau sudah menghabiskan 2 buah loh?"
"Cuacanya panas banget…ayolah…"
Sementara kedua kakak beradik itu bertengkar dan Eliot sedang tampak memuja (?) AC, Alice tetap jaim dan minum sekaleng soda.
"Ayo latihan!" ucap Alice memecah suasana.
"H-Hah? Yasudah terserah…" Eliot bangkit dari kursinya sambil memegang stik drum.
KLEK…
Pintu ruang musik terbuka, ada seseorang masuk.
"Oh…Sharon-san!" pekik Oz.
Siswi yang pernah dilihat Echo tempo hari di musim semi itu ada disini, bersama guitar casenya. Senyum simpul gadis itu masih tersungging tanpa henti, namanya adalah Sharon Rainsworth.
"Hm? Echo-san jadi anggota baru?" tunjuk Sharon.
"Bukan, dia cuma sering datang kemari," jawab Eliot. "Sudah ayo mulai latihan!"
Mereka pun memainkan sebuah lagu. Sekedar info, lagu ini adalah Lacie versi band—yang tentu saja hanya imajinasi sang author. Echo terpaku melihat mereka.
"Kalian hebat~" Echo seketika bertepuk tangan.
"Ini biasa saja kok, kami cuma band biasa," tanggap Sharon.
"…Sharon-san, kenapa kemarin-kemarin tidak ada?" tanya Alice langsung.
"Aku sedang sakit beberapa bulan itu, maaf ya Alice-chan,"
"…O, Ohh…"
Tatapan Alice pada Sharon adalah tatapan curiga, sangat curiga. Siapa tahu ia yang menjadi pembunuh. Echo menduga Sharon orang yang baik, jadi dia tetap santai.
"Oh satu lagi, darimana kau mengenal Echo-san?" tanya Alice lagi.
"Hmhm…ia kerja part-time di supermarket milik nenekku," jawabnya sambil tertawa kecil.
"Echo-chan bekerja di supermarket Rainsworth? Sama dong!" Oz menjabat kedua tangan Echo.
"Oz Vessalius-san, jangan memanggil namaku seperti itu—!" wajah Echo memerah.
Hari ini Echo pun menuju klub Kendo, di klub hanya ada Vincent, Liam dan seorang manager klub bernama Lily Baskerville—pacar Liam. Tidak ada Break disana.
"Ah, selamat sore Echo," senyum Vince. "Kakakku Gil ikut klub lain dan aku ikut klub kendo, salam kenal~"
"Mo-mohon bantuannya, senpai!" Echo membungkuk.
"Seperti biasa selalu imut ya Echo-chan~" Lily memeluk Echo.
"He-hentikan Lily-senpai…"
Echo bersama Lily pun menuju ruang ganti, sementara Liam dan Vince tetap di sisi pusat dojo.
"Sudah kuduga Xerx tak akan hadir," gumam Liam. "Ia pasti mencari Black Knight…"
Vincent yang mendengar gumaman Liam pun ikut bicara.
"Aku sudah meriset soal Black Knight. Mereka tersangka yang merusak CCTV sekolah dan membunuh 4 murid, ketua mereka adalah murid sekolah ini juga kok,"
"A-APA KATAMU VINCENT-SAN?" teriak Liam tiba-tiba. "Bi-bisa-bisa Xerx akan melebur sekolah ini lagi…"
BRAK BRUK BRUGH!
Sebagian kecil dojo kendo terhempas oleh sesosok manusia. Dan benar saja, orang yang menyebabkan itu adalah Break.
"Kau anggota Black Knight kan…? Mana ketuamu?" teriak Break geram.
"Break, hentikan!" lerai Vincent. "Bisakah kau selesaikan ini secara damai?"
"Ia tidak akan buka mulut, Vincent Nightray," seru Break dengan tatapan muak. "Coba kau liat siapa biadab yang kuhajar kemari itu!"
Vincent pun membalik badan orang itu—orang yang sudah tampak compang-camping bermandikan tinju Break.
"Kau…Reo-kun?"
To be continued, don't forget the review! ^^
