Genre: Action/Romance/Tragedy

Disclaimer: Pandora Hearts—Jun Mochizuki

Warning : Ada AU alias Alternate Universe/ AT alias Alternate Timeline/ dan OOC alias Out Of Character

Gak suka? Silahkan tinggalkan~ Review? Critic? Flame? Silahkan, jangan malu-malu *author digebuk*


Day 7 – Precious Reality

[Rainy, Sunday – Autumn]

Semenjak hari itu, Sharon dirawat di rumah sakit yang ada di kota itu. Luka tembaknya cukup parah dan banyak juga luka-luka lain yang kelihatannya ia dapat selama ia menjadi ketua geng Black Knight.

Kasus Gil pun resmi ditutup dengan diagnosa Gil menderita gangguan mental—singkatnya psikopat. Tapi atas rujukan Alice dia dimasukan ke panti rehabilitasi.

Semenjak hari itu juga, Break nampak sering datang ke rumah sakit dengan mengajak Echo, Oz atau Liam. Hari itu, hari pertama di musim gugur, Break mengajak Echo untuk menjenguk Sharon—Liam sedang ada urusan. Memang sebenarnya Sharon belum boleh dijenguk sampai hari itu, tapi tetap saja Break menungguinya di rumah sakit.

Rumah Sakit

Echo dan Break duduk di sekitar kursi lobby sambil minum minuman kaleng.

"Nah Echo, kau mau tahu cerita soal diriku?" tanya Break.

"Eh? Ada apa, senpai?"

"Rasanya lebih lega kalau kuceritakan ke orang lain, kau mau mendengarkannya?"

Flashback

Beberapa tahun yang lalu, aku cuma anak sebatang kara, sampai aku dipungut oleh keluarga anak pemilik market bernama Shelly Rainsworth, ibu Sharon, yang juga kebetulan menarik perhatianku. Aku menjadi anak angkat mereka, dibiayai segalanya, dan aku pun membantu usaha supermarket mereka. Shelly-san punya seorang anak perempuan bernama Sharon, yang sudah kuanggap sebagai adik kandung.

Pada suatu hari, saat masih SMP, aku kebetulan sudah ditakuti sebagai Iblis Merah dan terlibat dalam sebuah perang geng. Sharon kebetulan ada disana dan menjadi tawanan geng lawanku, aku pun berusaha merebutnya hingga aku kehilangan mata kiriku yang sekarang.

Sharon menangis minta maaf padaku, dan berkata suatu hari ia akan jadi kuat dan melindungiku. Setelah itu aku hidup sendiri terpisah dari rumah keluarga Rainsworth di sebuah apartemen di kota dan mereka merahasiakannya dari Sharon.

Tapi beberapa bulan lalu, ajaibnya Sharon datang ke apartemenku dengan berlumuran darah. Dia tidak bilang apapun padaku dan hanya bilang jangan katakan pada nenek Cheryl dan izinkan dia menginap sampai lukanya pulih.

Tak kusangka dia sudah terlibat dunia geng sepertiku.

"Begitu…" Echo terkejut.

"Aku jadi menyesal, apa yang kulakukan ya sekarang? Hahah…"

"Kurasa kau sudah jadi kakak yang baik, Xerxes-senpai,"

"Apa iya…?"

Senyum miris Break menghiasi wajahnya. Echo terbawa ke atmosfir kesedihan Break.

"…Tuan Xerxes?"

Oh, tampaknya ada seorang suster memanggil Break.

"Anda ditunggu Nona Sharon dikamarnya…"

"O-Oh, baiklah,"

Break ikut mengajak Echo menuju kamar Sharon, kamar di rumah sakit yang tergolong biasa. Tampak sesosok gadis terkulai lemah di ranjang putih rumah sakit itu. Awalnya ia menengok kearah jendela, begitu pintu tergeser, ia langsung menatap ke arah pintu.

"Kak Xarks…Echo-san…selamat siang,"

"Ah halo, Sharon," senyum Break padanya. "Aku belikan Janta nih~"

"Janta…?"

"Sejenis boneka Teddy Bear,"

"Makasih kak Xarks!"

"Emm, Sharon-san kau baik-baik saja?" Echo mulai bertanya.

"Mm…Aku sudah agak baikan kok, mungkin beberapa minggu lagi sudah pulih,"

"Syukurlah kalau begitu," Echo tampak lega.

"Kalau kau tidak masuk terus nanti lead guitar dan vocalistnya diganti Alice-chan lho Sharon?"

"Kak Xarks, kau mau kupukul ya?"

"Heheh, bercanda bercanda~"

Obrolan itu pun berlanjut hingga lumayan sore, setelah sore menjelang, Break menyuruh Echo pulang lebih dulu.

"Sampai nanti ya, Xerxes-senpai, Sharon-san,"

KLEK…

Sharon dan Break pun tinggal berdua dikamar itu.

"Mau kuantar jalan-jalan dengan kursi roda? Jam besuk sudah mau habis, jadi…"

"Terserah kak Xarks,"

Break mengeluarkan kursi roda dan menggendong Sharon hingga duduk di kursi roda tersebut. Kebetulan kamar Sharon terletak di lantai 1, jadi mudah membawanya untuk jalan-jalan di sekitar rumah sakit.

Matahari yang hendak terbenam menjadi pemandangan mereka berdua.

"Wah, matahari terbenam yang indah…"

"Sudah musim gugur sih, hahah,"

"Andai kak Xarks waktu itu tak pergi dari keluarga Rainsworth, kita mungkin bisa suatu saat bisa piknik bersama…"

"Kau mau? ...Kalau begitu kita lakukan setelah kau keluar dari rumah sakit!"

"…Eh? Benarkah?"

"Kau harus sehat dulu, oke Sharon-chan?"

"Baik kak Xarks~"

Sementara itu, di hari yang sama saat Echo pulang, hujan sudah berhenti, ia bertemu dengan Alice yang tampak membawa kotak bento—kebetulan ia ada di depan stasiun dekat apartemen bobrok Echo. Kira-kira sedang apa dia?

"Ah, Alice-kaichou~"

"O-O-Oh, selamat sore…err, Echo-san…"

Alice tampak berpakaian rapi tapi lebih gagap dari biasanya.

"Anda habis dari mana, kaichou?"

"Pa-Panti rehabilitasi…"

"Anda baik sekali ingin menjenguk Gilbert-san, aku jadi tersentuh,"

"Bu-bukan itu, a, aku cuma…aah…aku diajak Vince dan Ada-san…"

"Hmm?"

"Be, benar kok! Aku tidak mengantar makanan untuk Raven atau semacamnya!"

"Raven…?"

"Wha—maksudku Gilbert…" Akhirnya kedok Alice terbuka. "Aku dari kecil sudah sering bertemu dengan Raven, tapi ia selalu cuek padaku, dasar fukukaichou bodoh!"

"O, Oh begitu, maaf mengganggu sarang cinta kalian, Echo permisi,"

"Bukan begitu maksudku Echo-san! Aku tidak pernah suka dengan Raven!"

"Lalu hubungan anda dengan Gilbert-san?"

"A-Aku cuma teman kecil! Dia sering bertengkar denganku, itu saja,"

Entah kenapa obrolan ini menjurus ke masalah pribadi, jadi Echo memutuskan untuk pulang setelah menutup obrolannya dengan Alice.

Hari pun berakhir, tanpa ada yang mengira apa yang akan terjadi di hari esok atau esoknya lagi.


To be continued and don't forget to review!