Pertama-tama, maafkan saya telah lama sekali ga ngeupdate ini cerita, ya ampun, maaf ya para reviewers saya baru lanjutin udah gitu kayanya pendeeek banget... T.T
Pokoknya ini chap terakhir...yah, enjoy~
Disclaimer: Pandora Hearts—Jun Mochizuki
Warning : Ada AU alias Alternate Universe/ AT alias Alternate Timeline/ dan OOC alias Out Of Character
Gak suka? Silahkan tinggalkan~ Review? Critic? Flame? Silahkan, jangan malu-malu *author digebuk*
Last Day – The Funeral, The Answer
[Rainy, Friday – Autumn]
ZRAAASH
Suara jam terdengar jelas sekali, walaupun suara hujan jauh lebih deras lagi diluar. SMU Abyss serasa hening hari itu.
Ya, Sharon Rainsworth sudah tiada.
Ia meninggal akibat semua luka yang pernah ia derita.
Pagi itu upacara peringatan juga dilaksanakan di sekolah, tetapi Break tidak ditemukan dimanapun oleh Liam, Oz dam Echo. Vincent dan Ada bahkan sudah membantu mencari mereka tetapi pemuda bermata satu itu tidak ditemukan dimanapun. Hujan semakin deras dan memaksa mereka menghentikan pencarian mereka.
"Mana sih dia, dasar," keluh Gil—yang baru datang ke acara pemakaman bersama Alice.
"Si badut itu mungkin sudah cabut duluan kerumah," ujar Alice.
"Tapi kata Vincent dia tidak ada di apartemennya," jelas Oz.
"Hrrm…" Liam berpikir. "Kalau begitu kita sudahi dulu, ayo istirahat sebentar,"
Liam mengajak semuanya ke kantin. Disana mereka mengeringkan diri sekaligus membeli sedikit minum minuman hangat agar tidak terkena sakit. Tetapi Oz dan Alice menyadari sesuatu.
"Kemana Echo-chan?" tanya Oz tiba-tiba sesaat ia baru saja mengambil minuman di mesin minum kaleng.
"Oh iya…aku juga tidak melihatnya daritadi, Oz." Alice menambahkan.
"Tch, gadis bodoh itu…!" Gil berdiri dari tempat duduknya.
"Tunggu, Gil! Di luar hujan sangat deras!" seru Vincent. "Ia pasti akan kembali,"
"Kalau ia tak kembali kau harus mencarinya tanpa payung ya, Vince?"
"Atas perintahmu, kakakku yang manis," senyum Vincent sebagai balasan.
"Hoek, kalian berdua menjijikkan," kata Alice dengan ekspresi mual.
Dimana gadis bodoh itu? Tentu saja mencari dimana Break berada. Kebetulan intuisinya berjalan ke satu tempat yang tak pernah terkira—makam Sharon. Benar, disana telah berdiri sesosok pemuda dengan seragam, ia sudah basah oleh hujan dan tidak bergeming dari tempatnya.
Echo yang membawa payung pun memayungi pemuda itu.
"Aku tidak perlu payung, Echo," dengan suara berat ia menjawab.
"Kau akan masuk angin, Xerxes-senpai,"
"Biarkan saja," Break tetap tidak menoleh. "Aku akan tetap disini sampai aku puas,"
"Xerxes-senpai…" Echo ikut sedih. "Ayo kembali…"
Break tidak merespon.
"Kenapa bukan aku saja yang…" gumamnya. "Kenapa harus…harus dia yang menderita…"
"Xerxes-senpai—"
"XERX!"
PLAKKKK
Satu tamparan mendarat di pipi pemuda bermata merah itu, membuatnya kesakitan sesaat. Yak, Liam datang kesana sedaritadi tanpa disadari Echo. Break hanya bisa mengelus pipinya yang kini telah semerah matanya. Mereka bertiga sudah basah terkena hujan deras—melupakan payung yang mereka bawa.
"Xerx, berapa kali kau kupukul agar kau sadar hah!" bentak Liam. "KAU SENDIRI BILANG KEPADAKU AGAR TIDAK MELIHAT LAGI KE BELAKANG, XERX!"
"…Kapan aku bilang begitu?" balas Break muak.
"Saat aku kehilangan keluargaku, kau lupa!" Liam menarik kemeja Break. "Sadarlah Break! Sharon sudah memberikan hidupnya untukmu! Ia mau KAU UNTUK TERUS HIDUP, BREAK!"
Liam lalu menjatuhkan Break ke tanah dan berlari di sela-sela hujan, membiarkan Break diam disana mengintrospeksi dirinya sendiri.
"Li-Liam-senpai—" Echo mencoba mengejar Liam.
"Heh…" Pemuda bermata merah itu menahan tawanya. "Ternyata aku yang selama ini bodoh ya…? Hah…hahahaha, kau pintar, Liam…"
Isak Break pun pecah di tengah hujan itu. Echo hanya diam bersimpati seraya perlahan ia memayungi senpai-nya itu lagi. Gadis berekspresi datar itu mengulurkan tangannya pada Break.
"Ayo kita kembali, senpai." ucap Echo."Masih ada hari esok, kan? Kau harus bisa melangkah kedepan,"
"Echo, kau sudah basah kehujanan, tidak apa-apa memayungiku?"
"Bantulah orang yang memerlukan uluran bantuan," balas Echo lagi.
"Hmph,"
Break meraih tangan Echo dan berdiri kembali.
"Kata-kata dari pacarmu, ya? Hah, dasar bocah," Break terkikik. "Ya sudah, ayo kembali,"
Echo tersipu, "Siapa yang pacar?"
"Tentu saja Oz kan?" Break kembali menggoda Echo. "Cowok pendek begitu, harusnya kau cari cowok yang lebih tinggi sedikit,"
"Xe-Xerxes-senpai! Sudahlah!" wajah Echo makin merona.
Hujan perlahan berhenti sesaat mereka berjalan di setapak tanah gravel pemakaman itu. Tangis langit pelan-pelan terganti menjadi biasan warna mentari yang membentuk tujuh warna yang melingkari langit, disambut oleh dedaunan segar yang baru tertimpa hujan. Surya kembali bersinar, menandakan awal yang baru bagi mereka semua.
Sebelum meninggalkan kompleks pemakaman, Break melihat ke belakang, ke arah makam kekasih dan adiknya yang tercinta satu-satunya itu; seraya berkata :
Aku akan menemuimu disaat nanti, Sharon.
Tolong tunggu aku disana, ya.
THE END
