Judul: Little Fire on the Candle
Sub-judul: Blank Paper
Fandom: Naruto
Disclaimer: Masashi Kishimoto
WARNING: AU, OOC-ness
Pairing: Sasu/Hina, Sasu/Saku
Note: Saya ungkapkan sebelumnya di sini, tidak akan ada Mary sue maupun Gary stu dalam cerita ini. Semua tokoh pada gilirannya akan berbuat kesalahan.
Dedicated to: Kalian yang sudah menyempatkan diri buat baca dan kirim feedback buat chapter lalu fic ini.
Terima kasih atas komentar kalian pada chapter sebelumnya, saya seneng denger pendapat kalian :)
Saya balas semua komentar yang masuk, kecuali dari beberapa anon yang memang ga ada alamat situs/email yang bisa dihubungi.
Secara garis besar, kalian punya pendapat/keinginan sendiri tentang dengan siapa akhirnya Sasuke nanti. Sayangnya, sebelum mulai ngetik cerita ini, semua plot udah ada di kepala saya, dan ending-nya pun udah ada di kepala saya… mohon maap *bungkukin badan* Tapi saya bakal berusaha biar ending-nya nanti bisa cukup memuaskan kalian semua :)
Dan kalau ada masukan ide atau lainnya, saya terima dengan tangan terbuka :)
Little Fire on the Candle
(Act 2: Blank Paper)
.
Sasuke menguap lebar. Meregangkan otot tubuhnya, ia beranjak dari tempat tidurnya. Sinar matahari hangat menerobos jendela kamarnya.
'Pagi yang cerah,' pikir Sasuke dengan senyum di bibirnya. Terlebih lagi semalam ia menghabiskan waktu mengobrol dengan Hinata sampai larut malam dan jatuh tertidur, betul-betul membuat perasaannya bagus.
Mengobrol dengan Hinata selalu menyenangkan. Tidak terlalu banyak bicara, tidak banyak canda. Percakapan mereka selalu menarik dan berujung pada diskusi tentang sesuatu hal. Sangat sesuai untuk Sasuke yang sedikit tertutup dan tidak menyukai hal-hal yang tidak jelas.
Semalam mereka mengobrol tentang macam-macam hal. Dari menu makan siang sampai proyek percobaan ilmiah yang tengah ditekuni Hinata. Sasuke sedikit banyak dapat merasakan kekecewaan Hinata ketika ia bercerita tentang salah satu teman kelompoknya yang kurang berpartisipasi dalam kegiatan mereka. Ia tidak menyukai orang yang berleha-leha, begitu pula Hinata. Dalam hal ini dan yang lain-lainnya mereka begitu mirip, dan inilah yang membuat Sasuke nyaman bersama Hinata.
Hendak melangkahkan kaki menuju kamar mandi, Sasuke melemparkan pandangannya pada laptop hitam di atas meja belajarnya. Masih dalam keadaan menyala seperti semalam, dengan deretan pesan di layarnya. "Sial! Aku lupa!" Sasuke bergegas menuju meja belajarnya.
Deretan pesan dari Melody_in_the_sky terpampang disana.
Melody_in_the_sky: "??"
Melody_in_the_sky: "Sasuke-kun?"
Melody_in_the_sky: "Masih disana?"
Melody_in_the_sky: "Halooo"
Melody_in_the_sky: "Ketiduran?"
Melody_in_the_sky: "(tertawa) Seperti anak kecil saja."
Melody_in_the_sky: "Kalau begitu selamat tidur"
Melody_in_the_sky: "Ngobrol lagi besok =)"
Melody_in_the_sky: "Selamat malam =)"
Sasuke mengetukkan jarinya di meja, sedikit rasa kasihan menggelitik hatinya. Jarang bergaul dengan orang tak dikenal membuatnya sedikit bingung dengan apa yang harus dilakukannya dalam situasi macam ini. Sempat terpikir olehnya untuk mengirim teman chatting-nya itu email permintaaan maaf, namun segera disadarinya ia tak tahu alamat email gadis itu.
"Siapa namanya… Sa… Sayaka? Sakuya??" Sasuke melangkahkan kaki menuju kamar mandi sambil bergumam.
Hari minggu yang sangat cerah. Namun di hari yang cerah ini Sasuke bahkan tak bisa menikmatinya sama sekali. Berbaring di tempat tidurnya, ia memandang langit-langit kamarnya. Angin sejuk berhembus melewati ventilasi kamarnya dan membuat gorden tipis berwarna putih yang menghias bingkai jendelanya menari seirama.
Waktu masih menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan ia masih tak punya rencana untuk menghabiskan sisa hari ini. Diliriknya meja belajarnya untuk yang kesekian kalinya. Setelah berpikir sejenak, dihampirinya laptop kesayangannya itu dan dihidupkannya. Kembali ia menelusuri situs yang semalam ditinggalkannya begitu saja, Konoha chatroom, 'Astrology Lovers' room.
Two users are online.
Sasuke mengecek daftar pengunjung yang online, tidak ada nama Melody_in_the_sky, teman chatting-nya semalam.
God_never_cry: "Sampai bertemu disana kalau begitu."
Candy_sweet_and_sour: "Ok, telpon aku kalau sudah sampai duluan."
God_never_cry has signed out.
Sasuke mengerutkan keningnya, sedikit penasaran. Tapi apapun percakapan mereka, bukan urusannya. Kalau mau, ia bisa saja mengklik menu 'History' dimana ia bisa melihat seluruh isi percakapan di public room itu.
Candy_sweet_and_sour: "Halo, Speak?"
Sasuke mulai memainkan jarinya diatas keyboard.
Speak_of_The_Devil: "Hai."
Candy_sweet_and_sour: "Orang baru?"
Speak_of_The_Devil: "Begitulah."
Candy_sweet_and_sour: "Oh, salam kenal. Aku Tenten."
Speak_of_The_Devil: "Aku Sasuke."
Candy_sweet_and_sour: "Kau suka astrologi?"
Speak_of_The_Devil: "Tidak juga."
Candy_sweet_and_sour: "??"
Speak_of_The_Devil: "Ada masalah?"
Candy_sweet_and_sour: "Kalau begitu kenapa masuk room ini?"
Speak_of_The_Devil: "Iseng saja, tidak boleh?"
Candy_sweet_and_sour: "Oh bukan begitu."
Speak_of_The_Devil: "Maksudmu?"
Candy_sweet_and_sour: "Maaf."
Speak_of_The_Devil: "Untuk apa?"
Candy_sweet_and_sour: "Eh? Entahlah. Aku hanya merasa harus mengatakannya."
Speak_of_The_Devil: "Oh ok."
Sasuke menyandarkan punggungnya di kursi meja belajarnya. Rasa bosan tampak jelas terpampang di wajahnya, "Tidak menarik," gumamnya seraya mengetik dengan malas:
Speak_of_The_Devil: "Aku off sekarang. Bye."
Sasuke tidak menunggu jawaban dari lawan bicaranya. Segera dikliknya tombol Sign Out. Perasaan hatinya tak berubah, tetap bosan, dan bahkan sekarang jauh lebih bosan lagi setelah ingat kalau ia akan seharian di rumah tanpa aktifitas. Disambarnya dompet biru tua di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, dan beranjak keluar dari kamar.
.
"Sasuke mau kemana?" seorang wanita paruh baya melepaskan pandangannya dari layar televisi sejenak, sebelum kembali terpaku pada reality show yang disuguhkan di sana.
Sasuke melirik sebentar pada layar televisi, mendengus. Tak habis pikir kenapa orang-orang sangat suka melihat orang lain dipermalukan. Dan yang paling tak masuk akal adalah kenapa orang-orang mau dirinya dipermalukan di hadapan banyak orang dan masih bisa tertawa. Seperti orang bodoh saja—pikir Sasuke.
"Menghirup udara segar," jawabnya tak acuh.
"Ah sebentar!" Wanita paruh baya itu menoleh lagi padanya, "Sudah lama Hinata tidak kemari. Kalian tidak sedang marahan, kan?"
"Dia sedang sibuk." sahut Sasuke tanpa menoleh dan menutup pintu.
Berjalan tanpa tujuan, Sasuke menyusuri jalanan dengan kedua tangannya dalam kantong celana jeans-nya. Hari minggu begini biasanya ia habiskan bersama Hinata seharian. Pergi ke taman hiburan atau ke mall. Sesekali mereka pergi ke tempat yang sedikit lebih jauh, ke daerah pinggiran kota, untuk menghirup udara segar.
Berjalan bergandengan tangan di antara hamparan kebun teh, adalah sesuatu yang paling disukai Hinata. Hening tak membuat mereka canggung ataupun bosan. Keduanya sudah biasa tak terlalu banyak bicara dalam kesehariannya. Bagi mereka hening itu tenang dan berarti nyaman. Sasuke merasa nyaman bersama Hinata. Begitu pula Hinata.
Ingatannya kembali melayang pada hari ulang tahunnya yang ke-tujuhbelas—tahun lalu, ketika tiba-tiba saja Ayahnya mengatakan bahwa ia sudah dijodohkan dengan putri tunggal dari salah seorang koleganya. Saat itu Sasuke menentang habis-habisan. Namun betapapun seorang anak berusaha memberontak, keputusan akhir tetap tak bisa diubah. Kedua orang tua masing-masing mengadakan acara makan malam bersama untuk mempertemukan putra-putri mereka. Saat itulah Sasuke berkenalan dengan Hinata.
Sedikit pendiam, baik hati, dan juga ramah pada siapa saja, itulah Hinata. Semua orang senang berada di sampingnya. Keberadaannya membawa suasana tenang dan nyaman bagi siapa saja. Walau dibesarkan sebagai seorang putri konglomerat, tak lantas membuatnya besar kepala.
Hinata selalu membantu temannya yang sedang dalam kesulitan. Bahkan pernah mereka berdiri mematung sampai berjam-jam menunggu hujan reda di pinggir toko, karena Hinata memberikan payungnya pada seorang nenek yang kebingungan dan kehujanan. Hinata adalah sosok yang begitu sempurna saat itu, hingga ia menemukan sisi lain dari sosok tegar Hinata.
Di balik wajahnya yang selalu tersenyum lembut, Hinata selalu berusaha menyembunyikan segala kekurangannya. Keluarga Hyuuga adalah keluarga yang sangat menjunjung tinggi kesempurnaan. Tidak ada hal yang lebih memalukan bagi mereka daripada cacat yang melekat dalam diri Hinata. Dibesarkan dalam lingkungan seperti ini membuatnya kuat dengan caranya sendiri.
Hinata tidak akan pernah menunjukkan kelemahannya sendiri pada siapapun, selain terhadap Sasuke. Sasuke tahu dengan pasti, Hinata sering merasa kesepian. Sasuke tahu pasti, Hinata sering menangis diam-diam ketika ada masalah. Dan pada saat itu, ia selalu duduk di samping Hinata dan membiarkannya menangis semalaman di pundaknya.
Sasuke selalu terdiam memeluk erat tubuh mungil Hinata. Hanya suara degup jantung mereka berdua, seirama dalam hening dan hembusan angin malam. Sama halnya seperti Hinata yang akan selalu mendekapnya erat ketika ia sendiri yang sedang bersedih. Sasuke hanya membiarkan dirinya terlihat lemah di hadapan Hinata seorang.
Hinata bukanlah boneka. Ia tak sempurna, sama seperti makhluk hidup lainnya di muka bumi ini. Beban yang dipikulnya terlalu berat untuk gadis itu. Sasuke tahu hal itu. Dan ia akan menjaga Hinata baik-baik, selalu melindunginya, dan menemaninya dikala suka maupun duka. Itu janjinya kepada Hinata dan pada dirinya sendiri.
.
.
Sasuke melirik arloji di tangan kanannya. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Matahari sudah tinggi, panas teriknya menusuk kulit. Kerongkongannya kering, dan seketika ia ingat belum makan apa-apa sedari pagi. Dihampirinya sebuah toko swalayan untuk membeli sebotol minuman dingin dan sesuatu untuk mengganjal perutnya yang mulai keroncongan.
Dalam lemari es kecil itu bermacam-macam minuman dingin berderet rapi. Sasuke memilih sebotol minuman soda, dengan sebungkus sandwich tuna di tangannya yang lain.
Ketika hendak menutup lemari es itu, seseorang menahan pintu kaca itu. Sasuke menoleh pada sosok gadis berambut merah muda di sampingnya yang tersenyum, "Aku mau ambil minuman," sahut gadis itu seraya mengalihkan pandangan dari Sasuke ke arah deretan minuman dingin di hadapannya.
Sasuke mengerutkan keningnya, 'Dimana aku pernah lihat gadis ini?' pikirnya.
Gadis berambut merah muda itu tampak menimbang-nimbang antara sekotak minuman rasa jeruk dengan sekotak teh manis. Garis-garis di wajah bersihnya mengerut, seolah berpikir keras tentang minuman mana yang akan dibelinya
'AH!'
"Melody in the sky??" Sasuke tanpa sadar bergumam cukup keras.
Kontan gadis berambut merah muda itu menoleh ke arahnya. "Eh?" gadis itu sedikit terkejut.
"Kita mengobrol sebentar kemarin," Sasuke berujar dengan semangat. Terbersit dalam pikirannya kenapa juga ia merasa sesenang ini.
"Ah, teman di Konoha chatroom ya? Siapa?" Gadis berambut merah muda itu menutup pintu kaca di hadapannya. Di tangannya kini digenggam sekotak minuman rasa jeruk dan sekotak teh manis.
"Speak of the devil," Sasuke sedikit merasa canggung. Sempat terlintas di pikirannya untuk bertanya 'Hei apa kau akan membeli kedua minuman itu dan meminumnya bersamaan?' tapi diurungkannya niatnya. Itu hanya akan membuat dirinya seperti orang bodoh saja.
"Speak…" gadis bermata besar itu tampak berpikir. Memandangi Sasuke dari atas ke bawah. "Ah! Sasuke-kun??" gadis itu membelalakkan kedua bola matanya.
Sasuke mengangguk, "Ya," jawabnya singkat.
"Oh maaf, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu secepat ini! Pertemuannya masih satu jam lagi kan? Tapi aku senang," gadis itu berujar riang.
Sasuke mengerutkan keningnya, "Pertemuan?"
"Ya, minggu ini di café kecil depan stasiun, kan? Aku juga mau ke sana setelah ini," gadis itu bertutur dengan cepat. "Tak kusangka, orang baru biasanya ikut setelah dua atau tiga minggu bergabung di room sebelum akhirnya menaruh kepercayaan pada anggota perkumpulan dan memutuskan untuk ikut pertemuan," gadis itu masih bertutur dengan suaranya yang riang. Sasuke sedikit penasaran bagaimana gadis itu bisa bicara tanpa jeda dalam satu tarikan napas saja.
Seketika Sasuke sadar dari lamunannya, "Eh sebentar, perkumpulan apa? Pertemuan?" Sasuke tak menyembunyikan kebingungannya.
"Eh? Tentu saja perkumpulan pecinta astrologi. Dan soal pertemuan… kau akan pergi ke sana sekarang, kan?" gadis itu balik mengerutkan kening.
Sasuke tampak berpikir, berusaha mencerna apa sebenarnya yang sedang terjadi. Percakapan di Konoha chatroom pagi ini, lalu ucapan gadis di hadapannya ini, "Ah! Mungkin maksudmu anggota chat di Astrologi Lovers room janjian berkumpul hari ini di suatu tempat?" Sasuke menebak.
Sakura membelalakkan matanya, "Lho jadi kenapa kau di sini kalau bukan mau ke tempat pertemuan?" ia malah balas bertanya.
Sasuke mengangkat bahu, "Rumahku di dekat sini. Cuma iseng jalan-jalan sampai merasa sedikit haus dan masuk swalayan ini," ujarnya ringan.
Gadis di hadapannya tertawa, "Ya Tuhan, kebetulan sekali kalau begitu. Kupikir kau mau ke tempat pertemuan. Tapi walau kau tidak akan ke sana sekarang, aku senang bertemu denganmu hari ini. Kami tunggu sampai kau cukup percaya pada kami dan memutuskan untuk ikut pertemuan," gadis itu tersenyum lebar. Masih dalam gaya bicaranya yang unik, cepat dan sedikit lantang.
Sasuke sedikit menimbang. Pikirannya mengolah situasi dan sampai pada satu kesimpulan, 'Mungkin tak buruk juga kalau dicoba,'–pikirnya.
"Tadi kau bilang pertemuannya satu jam lagi? Aku tidak ada rencana apa-apa hari ini. Kalau sekedar menghabiskan waktu, kurasa aku tidak keberatan," Sasuke melirik jam dinding yang bertengger di sudut dinding swalayan tempatnya berdiri. Pukul sebelas lewat lima.
"Sungguh? Ah senangnya! Yang lain pasti akan terkejut sekali," gadis itu mengembangkan senyumnya lagi. "Ayo kita bayar dulu belanjaan kita dan menuju tempat pertemuan," gadis itu melangkahkan kaki jenjangnya menuju kasir. Sasuke mengikutinya.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit, Sasuke dan gadis berambut merah muda itu sampai di depan sebuah café mungil.
'Au Revoir'—Sasuke membaca papan nama café bercat jingga itu. Nama yang cukup unik untuk sebuah café. Bukankah 'Selamat tinggal' itu terlalu ekstrim untuk nama sebuah tempat makan cemilan dan minum kopi?
"Kita masih punya waktu setengah jam, mau jalan-jalan sebentar di taman itu?" gadis berambut merah muda di samping Sasuke membuyarkan lamunannya, menunjuk taman kecil yang penuh pohon rindang di seberang jalan.
"Tak masalah," Sasuke menjawab datar.
Gadis di sampingnya mulai melangkahkan kaki dan siap menyebrang. Dari kejauhan tampak mobil melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, namun gadis itu tetap melangkah. Sasuke terkejut, terlebih ketika gadis itu sampai di seberang jalan dan menengok ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak menyebrang?!" seru gadis itu setengah berteriak.
Sasuke segera menyebrang. Tatapannya tak lepas dari gadis berambut merah muda itu, yang kini tampak sedikit canggung.
"Kenapa? Ada yang aneh di mukaku?" gadis itu mengibaskan tangannya di depan wajahnya.
"Hm tidak," Sasuke melepaskan pandangannya dari gadis itu dan mulai melangkah menuju gerbang taman yang terbuat dari pagar tinggi melengkung dengan rumput jalar dan bunga liar membelit pagar dengan artistik.
"Orang aneh," gadis itu mengangkat bahu, kemudian melangkah mengikuti Sasuke tanpa bertanya lebih lanjut.
Sasuke mengerling ke arahnya, "Aku bisa dengar itu," sahutnya sedikit tak suka.
Gadis di belakangnya tertawa kecil, "Oh maaf, hanya saja aku tak biasa dipandangi seperti itu."
Sasuke mengeluarkan sandwich tuna dari kantong plastik belanjaannya. "Hm, aku cuma heran kau menyebrang asal-asalan begitu," ucapnya.
Gadis berambut merah muda yang kini berjalan sejajar dengannya itu mengerutkan keningnya, menoleh ke arahnya, "Asal-asalan bagaimana?"
"Pacarku biasanya memperhatikan sekeliling jalan. Melihat ke kanan dan lalu kiri, sebelum menyebrang. Dia juga menungguku memberikan isyarat aman boleh menyebrang. Lalu kami menyebrang dengan aku di sebelah kanannya," Sasuke mengangkat bahu.
"Oh aku tidak se-feminin itu," gadis itu menusuk kotak minuman rasa jeruknya dengan sedotan sebelum kemudian menyedotnya. "Kurasa pacarmu itu tipe wanita yang anggun?"
Sasuke mengangguk membenarkan. "Dia sangat cantik," Sasuke sedikit tersenyum.
Sakura menyeringai takjub, "Wow, kau sangat suka pacarmu itu ya? Hebat, jarang ada laki-laki seperti itu."
"Bagaimana dengan pacarmu?" Sasuke mengalihkan pembicaraan. Baru disadarinya bahwa percakapan mereka tanpa sadar telah mengarah pada urusan pribadinya, yang tak biasanya ia ungkapkan pada orang lain.
Gadis di sampingnya yang kini menusuk kotak teh manis dan menyedotnya sedikit menggembungkan pipinya, "Tak ada. Menghilang."
Sasuke terkejut, "Menghilang? Menghilang bagaimana?"
Gadis di sampingnya mengacungkan kotak teh manis di tangan kanannya dan kotak es jeruk di tangan kirinya. "Lihat, kalau aku minum es jeruk dan teh manis bersamaan, rasanya jadi teh jeruk," ujarnya riang.
Sasuke mengerutkan keningnya. Ia hendak membuka suara lagi, ketika gadis itu melangkahkan kaki menuju bagian dalam taman itu. Sasuke mengurungkan niatnya, menangkap isyarat bahwa gadis itu tak ingin melanjutkan pembicaraan.
Yah, bagaimanapun mereka hanya mengobrol beberapa baris kalimat tadi malam, dan baru bertemu beberapa puluh menit hari ini. Tak ada alasan bagi gadis itu menceritakan masalah pribadinya pada orang asing sepertinya.
Lagipula Sasuke sendiri tak mau membagi kisahnya pada gadis itu. Sasuke Uchiha tidak berbagi, tidak akan berbagi.
Baginya sudah cukup dengan pengertian dari Hinata, dan pelukan hangatnya ketika ia sedang dalam masalah. Karena ia dan Hinata tak pernah bicara lewat kata-kata. Mereka saling mengerti satu sama lain tanpa harus banyak berkata-kata. Kadang Sasuke berpikir bahwa Hinata sangat mirip dengan dirinya sendiri. Menatap Hinata bagai menatap cerminan dirinya sendiri.
"Sudah berapa orang yang kau ajak bicara di room?" gadis di sampingnya memecah keheningan.
Kini mereka telah sampai di sisi sebuah danau buatan kecil, dengan bunga teratai terapung berkelompok dan beberapa ekor angsa putih berenang dalam barisan di permukaan danau.
Sasuke memandang hamparan danau yang berkilau keperakan di sisi kirinya itu, "Dua," sahutnya pendek. Angin kencang bertiup dan ia menggerutu ketika dedaunan berjatuhan dan mengenai sandwich yang tengah dinikmatinya.
"Oh siapa saja?" gadis di sampingnya berusaha merapikan rambutnya yang tertiup angin.
"Kau dan…. Erm… aku tak ingat," Sasuke mengangkat bahu. Mengunyah sandwichnya dengan lahap.
Gadis di sampingnya mengerutkan keningnya, "Hei."
Sasuke tak menoleh ke arahnya, "Hn?"
"Coba kau panggil namaku."
Sasuke sedikit terkejut. Ditatapnya gadis di sampingnya itu. Gadis itu menatapnya dalam-dalam.
Sasuke kembali menggigit sandwichnya, menghindari tatapan gadis itu, "Aku tak ingat."
Gadis itu memutar bola matanya, "Oh sudah kuduga."
"Aku tidak punya hobi mengingat nama semua orang yang kupikir hanya akan kujumpai satu kali saja seumur hidup," Sasuke membela diri.
Gadis itu menghela napas, "Yaa yaa."
Sasuke meremas bungkus sandwich di tangannya, "Aku tak menyangka akan bertemu denganmu," sahutnya sambil melempar bungkus plastik itu ke tempat sampah beberapa meter di belakangnya.
"Aku juga," gadis itu tertawa kecil. "Ah, kau ingat saat pertama masuk room dan aku tanya 'Kenapa kau masuk room ini?' Kau bilang karena kau iseng saja asal pilih room. Dan hari ini juga kita bertemu karena kau iseng saja jalan-jalan."
Sasuke membuka botol minuman sodanya, "Hn, lalu?"
"Perjumpaan kita penuh kebetulan," gadis itu mengembangkan senyumnya, "dan aku tidak percaya suatu kebetulan. Mungkin saja ini takdir," ia terkekeh.
Sasuke mengerutkan keningnya, "Takdir?"
"Yah siapa tahu," gadis itu mengangkat bahu dan meneruskan penjelajahannya di taman kecil itu. Menyusuri jalan setapak dengan rerumputan di sekelilingnya.
Tanpa berpikir Sasuke membuka suara, "Tidak ada yang namanya takdir. Semua manusia berusaha sendiri, manusia yang menciptakan segala situasi dan kondisi. Hidup ini adalah pilihan. Aku memasuki Konoha chatroom dan Astrology room karena aku memilihnya. Aku pergi ke swalayan itu karena aku memilihnya. Tidak ada kebetulan atau takdir."
Gadis berambut merah muda menatap Sasuke, "Kau terlalu banyak berpikir," dan kembali memunggungi Sasuke.
Gadis itu berjalan di depan Sasuke sambil membentangkan tangannya, merasakan hembusan angin ke arahnya. "Ahh segarnyaaa," gadis itu mengatupkan kedua kelopak matanya dan mengembangkan senyum lebar.
Sasuke menyesap minuman sodanya. Matanya terpaku pada gadis berambut merah muda di hadapannya. Sinar matahari yang terik memantul berkilau di permukaan rambutnya yang terang. "Kamu… kenapa selalu tersenyum dan tertawa begitu?"
"Eh?" gadis itu membalikkan badannya menghadap Sasuke. Angin memainkan rambut merah mudanya yang tampak lembut.
Sasuke mengangkat bahunya, "Ah tidak, aku hanya sedikit penasaran ketika pertama melihat fotomu di profil Konoha chatroom. Kau tertawa riang begitu. Apa karena kau begitu menyukai kamera? Atau karena hidupmu sangat menyenangkan?"
Gadis itu membelalakan matanya, dan tawa renyahpun membahana.
Sasuke mengerutkan keningnya, merasa tak senang. Sasuke menyukai eksak. Ilmu pasti yang punya jawaban untuk semua pertanyaan. Tapi gadis di hadapannya ini begitu sulit dimengerti. Dan ia tak suka akan hal itu. Ia tak suka sesuatu yang tak dapat diprediksinya.
Gadis di hadapannya itu menghentikan tawanya. Dengan senyum lebar di wajahnya ia menjawab, "Mungkin karena hidupku lebih berwarna dari hidupmu?"
Sasuke tertegun. Dipandangnya gadis itu berjalan meninggalkannya. Tangan kanannya menahan rambut merah mudanya supaya tidak berantakan ditiup angin.
Gadis itu menoleh ke arahnya, "Apa yang kau lakukan? Ayo cepat, nanti kutinggal lho. Dalam hidup ini jangan sampai ketinggalan pesta," gadis itu tertawa lagi.
Sasuke kembali mengurut punggung lehernya. Gadis di depannya itu sungguh sulit dimengerti. Kadang tertawa dan senyam senyum saja seperti orang bodoh, tapi kadang mengatakan sesuatu yang dalam dan membuatnya terkejut, seperti barusan itu.
Dipandanginya punggung gadis itu. Baju terusan berwarna merah dengan ornamen lingkaran putih, tampak menyolok mata. 'Berwarna ya…' tanpa sadar Sasuke bergumam.
Detik berikutnya Sasuke melangkahkan kakinya menyusul gadis itu, "Sakura! Kan??"
Gadis itu menghentikan langkahnya, sedikit terkejut, "Eh?"
Sasuke berusaha tak bertatapan dengan gadis bermata besar itu, "Namamu. 'Sakura' kan?" ulangnya lagi.
"Kau ingat?" gadis itu memiringkan kepalanya sedikit.
"Barusan kuingat-ingat," ujar Sasuke masih tetap menghindari tatapan gadis itu.
Gadis itu tersenyum lebar, "Terima kasih sudah mengingat namaku, Sasuke-kun," ujarnya terdengar senang.
Sasuke terbatuk, "Aku… tidak biasa mengingat sesuatu yang…" ia sedikit ragu, "kuanggap tidak penting."
Gadis berambut merah muda yang dipanggil Sakura itu kini terkejut. "Aha, dingin seperti biasa," ia kembali berjalan, meregangkan otot-otot tangannya.
"Apa boleh buat, begitulah aku," Sasuke mengangkat bahu. Menutup botol minuman sodanya.
"Kalau sudah biasa, boleh terus saja melakukannya? Seperti itu tidak apa-apa? Mungkin memang tidak apa-apa. Hanya saja, bukannya hal seperti itu akan menyakiti hati orang lain?"
Sasuke tertegun. Diangkatnya wajahnya dan kini matanya beradu pandang dengan mata besar berwarna emerald gadis bernama Sakura itu. Sepasang mata yang besar dan bercahaya, seolah suatu energi yang tak ada habisnya terpancar dari kedua bola mata itu.
"Mereka kan orang lain," sahut Sasuke setelah beberapa detik mereka larut dalam hening.
"Belum tentu mereka menganggapmu orang lain, kan?"
Sasuke kehilangan kata-kata. Ini tidak benar, pikirnya dalam hati. Ia, Sasuke Uchiha, tidak pernah kehilangan kepercayaan diri atas prinsipnya. Tidak pernah kehilangan kata-kata dalam situasi apapun. Tidak ada satu halpun di dunia ini yang tak dimengertinya. Ini semua tidak benar. Namun apapun yang terjadi setelah perjumpaannya dengan gadis aneh di hadapannya itu memang tidak pernah benar.
Sasuke memalingkan wajahnya ke arah danau yang membentang berkilau keperakan, "Ah, aku…"
"Dibandingkan dengan menyakiti hati orang lain," Sakura memotong, "bukannya lebih menyenangkan kalau membuat orang lain tersenyum?" ujarnya dengan senyum yang terkembang di bibirnya.
Sasuke terdiam. Itu benar, pikirnya. Ia sangat menyukai senyum Hinata yang lembut dan penuh kehangatan. Ia ingin selalu menjaga senyum itu. Senyuman dapat menyembuhkan luka sedalam apapun, beban seberat apapun, kelelahan seperti apapun.
Ditatapnya sosok Sakura yang kini tengah tersenyum di hadapannya. Dilihat berapa kalipun, senyum riang itu seolah menghanyutkannya, membawa perasaan bersemangat dan ringan padanya, sekaligus sesuatu yang menggelitik hatinya.
"Aku…" Sasuke berdehem sedikit, menghindari tatapan Sakura, "akan berusaha mengingat nama teman-temanku mulai sekarang," lanjutnya setengah berbisik. Namun cukup keras untuk terdengar oleh Sakura yang kini tampak terkejut.
Sasuke menyunggingkan senyum tipis padanya, "Aku ingin jadi orang yang tidak menyakiti hati orang lain."
Angin berhembus kencang. Rok merah menyala Sakura berkibar seirama dengan rambut merah mudanya yang melambai-lambai. Sakura tersenyum lebar, "Itu bagus!"
"Mungkin yang lain sudah berkumpul di café, ayo kesana," Sasuke melangkahkan kakinya, berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya.
Sakura mengikutinya dari belakang tanpa menyahut. Sasuke memperhatikan Sakura dari sudut matanya. Senyum di wajah Sakura tak juga hilang. Tanpa disadarinya ia pun tersenyum. 'Melihat senyum gadis ini membuat perasaanku ringan,' pikirnya dalam hati.
"Sakuraaaa!" suara seorang gadis menyeruak nyaring di kejauhan. Sasuke dan Sakura menoleh ke arah sumber suara dan tampak seorang gadis berambut cokelat dengan dua cepolan melambaikan tangan ke arah mereka.
"Tenten!" Sakura berseru, balas melambaikan tangannya.
Sasuke menepuk pundak Sakura, "Aku ingat nama itu. 'Candy sweet and sour' ," ujarnya menunjuk gadis berambut cokelat yang tengah melambaikan tangannya ke arah mereka.
Sakura sedikit terkejut. Detik berikutnya senyum merekah di wajahnya, "Tuh kan, kalau memang niat, kamu bisa mengingat apa saja. Di dunia ini tidak ada yang tidak penting lho, Sasuke-kun."
Sasuke balas tersenyum, "Entahlah. Aku hanya akan mengingat hal yang kusukai saja," ujarnya.
Sakura tertawa, "Paling tidak kau sudah ada sedikit kemajuan," sahutnya dan berlari menyebrang untuk kemudian toss dengan gadis bernama Tenten itu.
Sasuke menghela napas, "Dasar cewek aneh," gumamnya dengan senyum menghias wajahnya.
.
.
TBC
Akhirnya chapter 2 selesai juga, semoga cukup memuaskan :)
Ada saran? Kritik? Yang lainnya?
Suka? Tidak suka?
Silahkan ungkapkan komentar kalian :)
.
Respon untuk Sakura_haterz:
Makasih udah baca fanfic Little Fire on the Candle ini :)
Saya mohon maaf karena ga mungkin kan saya ganti tokoh Sakura di sini tiba-tiba.
Semua tokoh yang muncul dalam fic saya, sudah dipertimbangkan baik-baik—dari segi karakteristik sampai kesesuaian dengan cerita.
Silahkan hubungi saya via email (ada di profile saya) kalau masih ingin berdiskusi lebih lanjut.
.
Regards,
Ninja_edit.
