Judul: Little Fire on the Candle

Sub-Judul: Hollow

Fandom: Naruto

Disclaimer: Masashi Kishimoto

WARNING: AU, OOC-ness

Pairing: SasuHina, SasuSaku

Dedicated to: Amazing readers yang bersedia baca dan komentar di chapter sebelumnya :)

NOTE: Makasih buat Fujimoto Izumi yang sudah mengingatkan kekurangan chapter ini, saya akui saya telah ceroboh dengan tidak memasukkan penjelasan gamblang pada chapter ini, mengingat tidak semua orang dapat menarik wacana simbolik.

Saya tambahkan sedikit penjelasan di sini untuk memperjelas.

ETA: Astrologi adalah ilmu ramalan berdasarkan kedudukan benda langit. Dengan kata lain, lebih menekankan pada emosi individu dan pergerakan benda langit yang menyertainya. Zodiak, Shio, dan semacamnya termasuk pengetahuan astrologi, namun yang dipelajari secara keseluruhan adalah proses permulaan dari kehidupan, watak manusia, dan semacamnya. Penjelasan lebih lanjut bakal diungkapkan pada chapter-chapter selanjutnya oleh para tokohnya sendiri. 'Astrology' dalam cerita ini bukan tempelan belaka, justru dia bakal punya peran penting buat perkembangan cerita & endingnya nanti. :)

Ladies & Gentleman, without further ado, enjoy the fic…


Little Fire on the Candle

( Act. 3: Hollow )


.

Sasuke melangkahkan kakinya dengan ringan menuju café tempat pertemuan para anggota astrology chatroom akan dilangsungkan. Lonceng kecil di atas pintu kayu berdentang ketika Sakura membuka pintu depannya.

Sasuke melayangkan pandangannya ke seluruh pelosok ruangan. Meja-meja kayu mahoni berwarna cokelat mengkilat, dengan bangku-bangku panjang berwarna cokelat yang lebih gelap. Gelas kaca kecil berisi air dan sekuntum bunga matahari bertengger cantik di atas setiap meja.

Bantal-bantal duduk berwarna biru langit dengan rumbai-rumbai emas di sekelilingnya, tersedia di setiap bangku panjang—lengkap dengan kain segitiga dengan corak kotak-kotak antara oranye dan kuning di sandarannya.

Beberapa pot bunga besar tampak di setiap sudut ruangan—pot sederhana berwarna cokelat pekat. Lantainya dilapisi papan dan permadani tipis merah marun dengan corak eksotis dari abad pertengahan. Lampu-lampu tua yang besar bergantung di langit-langit ruangan, kaca-kaca kecil dengan bohlam kecil berwarna kuning tertata apik di atasnya.

Dinding ruangan tertutupi wallpaper bernuansa biru langit dan oranye, serta ornamen keemasan pada sekat pembatasnya. Jendela-jendela besar di setiap dinding, dengan bingkai kayu berwarna jingga. Gorden tipis berwarna putih bertengger di setiap bingkai jendela.

Sungguh sebuah café yang sederhana—pikir Sasuke.

Sasuke sedikit terkejut ketika Sakura menggamit lengannya, menyeretnya menghampiri sekelompok orang yang tengah duduk-duduk di salah satu meja panjang di sudut ruangan. Sebagian dari mereka tengah sibuk menelusuri deretan baris tulisan dalam buku menu, dan sebagian lagi tengah bercakap-cakap.

"Perkenalkan, ini Sasuke. Dia baru gabung room kita kemarin malam," Sakura berseru pada mereka, sambil mengibaskan tangannya pada Sasuke. Seketika perhatian orang-orang itu teralih pada Sasuke. "ID name-nya Speak of the Devil," tambah Sakura dengan senyum.

"Ehh?? Speak?? Yang tadi pagi itu??" gadis berambut cokelat yang tadi melambaikan tangannya pada Sakura di luar itu melebarkan kelopak matanya, menatap Sasuke dengan pandangan terkejut.

Sasuke merasa sedikit tidak nyaman menjadi pusat perhatian begitu, tapi ia sendiri yang telah menjerumuskan dirinya pada situasi seperti ini.

"Hai, panggil saja aku Sasuke," ujar Sasuke kaku. Dipandanginya satu-persatu orang yang tengah duduk di meja itu.

Tampaknya semua sepantaran dengannya. Ada seorang anak laki-laki berambut hitam yang dikuncir tinggi menyerupai nanas, seorang anak laki-laki berambut hitam jabrik yang membawa seekor anjing, dan seorang anak laki-laki gemuk dengan buku menu di tangannya.

"Hai," anak laki-laki berambut nanas menyahut duluan. Sasuke memandang ke arahnya dan sedikit mengangguk.

"Ok, mari kita duduk," Sakura menepuk kedua tangannya dan mempersilahkan Sasuke duduk di sebelah si rambut nanas. Ia sendiri duduk di seberang Sasuke, setelah sebelumnya memberi jalan lewat bagi Tenten untuk duduk di sebelah si anak gemuk. Sasuke duduk dengan tenang, meraih buku menu yang bertumpuk di hadapannya.

"Perkenalkan, Kiba dan Shikamaru," Sakura menunjuk dua orang yang duduk di bangku yang sama dengan Sasuke, "kemudian ini Chouji dan Tenten," sahutnya menunjuk kedua orang yang duduk di sampingnya.

Sasuke mengangguk sedikit. Ia tak biasa mengingat nama banyak orang sekaligus, apalagi nama dari orang-orang yang baru saja dikenalnya. Namun tak ada salahnya mencoba—pikirnya.

"Aku kaget sekali," gadis berambut cokelat yang bernama Tenten membuka suara, "tadi pagi aku mengobrol sebentar denganmu, dan tiba-tiba saja kau muncul di sini sekarang."

Sakura meraih buku menu di hadapan Sasuke, "Oh, apa yang kalian bicarakan?" tanyanya sedikit antusias.

"Tidak banyak. Tiba-tiba saja off tanpa menunggu jawabanku," Tenten tersenyum masam, melirik pada Sasuke.

Sasuke berdehem sedikit, berusaha sesopan mungkin, "Aku merasa bosan, jadi kuputuskan untuk off saja," jawabnya dan langsung ditendang Sakura di bawah meja.

"Maklumlah, orang baru. Sedikit gugup," Sakura tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana. Tenten hanya merengut.

"Kapan kalian bicara? Aku tidak lihat kau datang," anak laki-laki berambut nanas yang diperkenalkan Sakura sebagai Shikamaru menoleh pada Sasuke.

"Tepat setelah kau pergi," Tenten menyeletuk, mengetuk jarinya di atas meja. Shikamaru manggut-manggut.

Sakura menjentikkan jarinya ke arah pelayan yang tampak sedang bengong, "Sebaiknya kita pesan sekarang atau Chouji akan sekarat," guraunya mengedipkan mata. Yang lain tertawa.

Seorang pelayan laki-laki muda datang tergopoh-gopoh dengan sebuah buku catatan kecil dan bolpen cokelat mengkilat. Rambutnya yang diberi gel malah membuat sangkaan kalau itu minyak, "Sudah menentukan pesanan?" tanyanya sopan, membungkukkan badannya.

Chouji mengangkat tangannya sigap, "Aku duluan! Aku! Aku mau spaghetti bolognaise ukuran jumbo, pizza ukuran jumbo, dua gelas orange float jumbo, dan tiga scoop es krim rasa vanilla dengan saus melon!"

Sang pelayan sibuk mencatat pesanan Chouji, dan beralih pada yang lainnya dalam diam, bertanya dengan raut mukanya.

"Aku pesan kebab jumbo satu, dan hot dog ukuran sedang untuk anjingku," Kiba menyahut, "minumnya milkshake cokelat ukuran sedang," tambahnya lagi.

"Aku mau nasi goreng seafood, dengan lemon tea dingin ukuran sedang," Tenten menimpali.

"Aku mau satu paket roti bakar spesial, dengan es jeruk," Shikamaru angkat bicara, "gulanya terpisah," tambahnya.

Sang pelayan sibuk memainkan bolpennya di atas buku catatan kecil. Kemudian ia beralih pada Sakura dan Sasuke, "Sudah tentukan pesanan?" tanyanya masih dengan gaya bicaranya yang sopan.

"Hmm…" Sakura tampak berpikir sejenak, "lasagna ukuran sedang, dengan cola," ujarnya kemudian.

Sang pelayan mengangguk dan mulai mencatat lagi. Kemudian dialihkannya pandangannya pada Sasuke yang masih berkutat dengan buku menu di tangannya. "Anda tuan?" pelayan itu sedikit mencondongkan tubuhnya.

Sasuke menunjuk gambar dalam buku menunya, "Es kopi, tanpa gula."

Kontan semua mata memandang ke arahnya, "Tanpa gula? Serius kau??" Shikamaru membelalak.

Sasuke mengangkat bahunya, "Aku tidak suka yang manis-manis," ujarnya ringan.

"Bawakan sebungkus gula untuknya," Sakura menyerobot. Sasuke melotot ke arahnya, namun tak diindahkannya kecaman Sasuke itu.

Pelayan muda itu berlalu setelah membungkuk sebentar. Sol sepatunya memantul di atas papan kayu dan mengetuk dengan nada yang berirama, seperti disengaja saja.

Sasuke hendak buka suara, ketika Sakura mendahuluinya, "Glukosa baik untuk tubuhmu. Sekali-kali kau harus mengonsumsinya, biarpun cuma sedikit."

Sasuke mendengus. Sebenarnya bisa saja ia menangkis perkataan Sakura itu. Tapi diurungkannya niatnya, mengingat ia masih akan tetap berada di antara orang-orang itu dalam beberapa jam ke depan. Damai tentu menjadi pilihan paling bijak.

"Ini kali pertama ada orang baru yang ikut perkumpulan," Kiba angkat bicara, menatap Sasuke lurus-lurus. "Apa yang membuatmu memutuskan untuk ikut? Ajakan Sakura?"

"Aku tidak mengajaknya, dia ikut karena sedang nganggur—katanya" timpal Sakura. "Bahkan aku tidak bilang padanya tentang pertemuan hari ini. Belum bilang, lebih tepatnya. Ia ketiduran waktu kami mengobrol semalam," Sakura tertawa kecil.

Sasuke kembali teringat kejadian semalam, "Ah aku… semalam itu pacarku menelepon," sahutnya dengan nada penyesalan, atau seperti itulah standar 'penyesalan' bagi seorang Uchiha.

Sakura membelalakkan matanya, "Oh," sahutnya singkat.

Sasuke mengamati reaksi Sakura. Tidak banyak yang bisa ditemukannya. Apa barusan itu nada kecewa, kesal, atau biasa saja—ia tak tahu. Sekali lagi Sasuke menelan kenyataan bahwa ia sama sekali tak bisa menebak apa yang ada dalam kepala lawan bicaranya yang berambut merah muda itu.

"Ngomong-ngomong soal pacar," Sakura menoleh pada Shikamaru, "bagaimana hubunganmu dengan gadis berambut pirang yang kau taksir itu?"

Shikamaru menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, "Dia tidak suka padaku," ujarnya singkat.

"Sayang sekali," Sakura menampakkan keprihatinannya.

Shikamaru menghela napas, "Tapi aku tidak akan menyerah. Cuma ditolak sekali lalu mundur, bukan laki-laki namanya. Aku akan mengajaknya kencan sebanyak seratus kali. Dalam seratus kali itu, kurasa dia akan menerima ajakanku walau cuma satu kali," ujarnya mantap.

Sakura hanya membulatkan bibir, "Wow, selamat berjuang, Tuan Optimis."

Sasuke mengamati pelayan yang datang menghampiri mereka dengan rak dorong dari metal keperakan. Pelayan yang sama dengan yang tadi, kini mulai menata pesanan di atas meja dengan tangkas.

Sedikit rasa kagum menggelitik Sasuke, ketika sang pelayan dengan tepat meletakkan makanan dan minuman mana yang untuk siapa.

"Selamat menikmati," pelayan itu berbungkuk dan kembali mendorong raknya menuju lubang kecil di sudut ruangan.

Disebut lubang, karena memang tampak seperti lubang. Sebuah pintu tanpa daun pintu. Tampaknya menuju ruang masak atau semacamnya. Rumbai-rumbai dari kerang berjuntai menutupinya samar.

Sasuke meraih es kopinya dan memasukkan sebungkus gula ke dalamnya, sebelum kemudian mulai menyesapnya perlahan. Perutnya masih kenyang dengan sandwich tuna yang dimakannya sebelum mampir kemari tadi. Yang lainnya mulai menikmati makanannya masing-masing setelah mengucapkan 'Itadakimasu' bersamaan.

"Lalu apa rencanamu berikutnya, Shikamaru?" Sakura kembali angkat bicara.

Sasuke mengernyitkan keningnya. Baginya, seorang gadis berbicara saat makan, sungguh tak pantas. Tapi ia tak berkomentar dan membiarkan orang-orang aneh itu mengobrol.

Orang-orang aneh—ya, tentu saja. Baginya, segala sesuatu yang tak biasa adalah aneh. Bukankah definisi dari aneh itu adalah sesuatu yang tak wajar? Walaupun kadang ia berpikir, yang lebih tak wajar justru adalah bagaimana masing-masing individu membuat parameter untuk sebuah tingkat kewajaran dengan pertimbangannya sendiri-sendiri.

"Entahlah," Shikamaru mengangkat bahunya. "Dia itu semakin dikerasi malah akan semakin menjauh. Harus pelan-pelan, kurasa," ujarnya sedikit menghela napas. Dapat ditangkap sinyal keputusasaan walau samar dalam nada kalimatnya.

"Dia gadis yang baik, si Temari itu. Yah, walau perangainya sedikit keras," Sakura tertawa kecil.

"Aku tahu," tandas Shikamaru, "makanya tak akan aku lepaskan," ujarnya sambil nyengir lebar.

Sasuke mengerutkan keningnya, "Kalau dia memang tak suka, jangan memaksa. Pikirkan perasaannya kalau kau terus mengganggunya begitu," ujarnya tanpa pikir panjang.

Kontan Shikamaru menoleh padanya dengan cepat dan mata membelalak. Sakura menginjak kaki Sasuke di bawah meja untuk yang kesekian kalinya hari itu.

"Sasuke-kun, bisa ikut sebentar?" Sakura tersenyum dengan ekspresi yang tampak sedikit masam.

Sasuke mengerutkan dahinya, namun diikutinya juga Sakura yang melangkah menuju salah satu sudut ruangan, ke dekat pintu keluar. Yang lain sedikit heran, tapi tetap fokus pada santapan masing-masing—kecuali Shikamaru yang kini tampak sedikit merenung.

"Kau ini, benar-benar senang mengatakan apa yang ada dalam kepalamu, ya?" ujar Sakura dengan nada penuh penekanan setelah cukup menjauh dari teman-temannya. Pandangannya sesekali melirik pada sosok Shikamaru yang tampak lunglai dan lemas di meja mereka.

"Oh tentu saja," Sasuke memutar bola matanya, dikiranya Sakura hendak bicara apa.

"Barusan itu aku menyindir, tahu," Sakura sedikit jengkel.

Sasuke tertegun, "Memangnya apa salahku?" ia tak terima dengan perlakuan Sakura.

Sakura menghela naaps, bersandar pada pilar kayu di belakangnya dan menatap Sasuke dengan pandangan heran, "Apa salahmu, katamu? Ya Tuhan, Sasuke. Barusan itu kau baru saja menghancurkan semangat orang lain, tahu tidak?" Sakura mendesis. Jika ini di luar ruangan, ia pasti sudah berteriak atau semacamnya.

"Aku cuma mengatakan hal yang rasional. Kalau perempuan yang dia taksir tidak balas menyukainya, sebaiknya menyerah saja. Buang-buang tenaga dan pikiran. Cari saja gadis yang lain, kan gampang," balas Sasuke enteng.

Sakura mengerling ke arahnya, memicingkan mata, "Kau ini, selain sering menganggap orang lain tidak penting, juga senang menggampangkan masalah rupanya," menghela napas sebentar, ia melanjutkan, "Sasuke, dia itu suka pada Temari—gadis yang ia taksir itu—sejak lama, setengah tahun lalu. Yah, mungkin belum cukup lama, tapi kurasa itu cukup lama. Kau tahu kan maksudku, standar lama dan sebentar tiap orang itu berbeda," Sakura menggerakkan kedua tangannya

Sasuke tak menyahut, membiarkan Sakura melanjutkan.

"Mungkin ini terdengar tak wajar untukmu, tapi siapapun akan berjuang mendapatkan seseorang yang dia suka. Tak terkecuali si Shikamaru itu. Biar dia kelihatan asal-asalan dan cuek begitu, dia itu betul-betul suka sama Temari," Sakura mulai lagi. "Oh, dan Temari itu salah satu dari anggota Astrology Chatroom, ngomong-ngomong. Sayangnya tidak hadir hari ini," tambahnya dengan cepat. Seperti biasa, nada suaranya cepat dan lantang, walau kini sedikit mendesis untuk menghindari menarik perhatian pengunjung café yang ada di sana.

"Apa hubungannya denganku?" Sasuke mengurut punggung lehernya. Perasaannya sedikit tak tentu, antara tidak senang diceramahi seorang gadis yang baru dikenalnya beberapa jam saja, dengan rasa ingin tahu.

"Di saat seperti itu, seharusnya kau menjadi pendengar yang baik. Mau setuju atau tidak dengan apapun keputusannya, sebagai teman yang baik kita harus mengerti dan mendukungnya. Bila ia melakukan kesalahan nanti, baru kita bertindak sebagai penghiburnya," Sakura berujar dengan hati-hati. "Kecuali kalau yang dilakukannya itu memang benar-benar salah, baru kita protes dan berusaha menghentikannya."

"Apa-apaan itu, kalau tidak setuju, kau seharusnya terbuka pada temanmu dan mengatakan tidak setuju," Sasuke mengerutkan dahinya, berpegang teguh pada pendiriannya.

Sakura mengangguk, "Benar, itu memang benar. Tapi dalam prakteknya, ada kalanya kejujuran itu tidak sebaiknya diungkapkan dengan gamblang,"

Sasuke menatapnya heran.

"Maksudku, sebaiknya diam. Atau berkomentar bila diminta—daripada mengatakan sesuatu yang dapat menyakiti hati orang lain. Kita harus pandai pilih situasi dan kondisi. Juga lawan bicara," Sakura menambahkan. Penegasan terasa dari setiap kalimat yang meluncur dari mulutnya.

Sasuke tampak berpikir, lalu ia menghela napas, "Caramu berbeda denganku. Kau dengan pendirianmu, aku dengan pendirianku."

Sakura menunjukkan air muka yang sedikit kecewa.

"Tapi semenjak aku bilang aku bertekad ingin menjadi orang yang tidak menyakiti perasaan orang lain dengan mudahnya," Sasuke mengangkat kepalanya, beradu pandang dengan Sakura, "aku akan mengikuti gayamu," ujarnya dengan seulas senyum.

Sakura berkedip, dan meledaklah tawanya. "Ok, itu bagus," sahutnya di antara derai tawa. "Nah, sekarang kau minta maaf padanya sana," ujarnya dengan sisa tawanya.

Sasuke mengerutkan keningnya, "Minta maaf?" ulangnya setengah tak percaya.

"Iya, minta maaf. Bagaimanapun, kau sudah menyinggung perasaannya. Mau kau salah atau tidak dengan argumenmu, yang jelas dia sudah terluka dengan kata-katamu. Kau harus minta maaf," Sakura tersenyum lebar.

"Minta maaf bagaimana?" Sasuke sedikit merasa tak senang dengan saran Sakura itu, walau ia tahu ia tak punya pilihan lain.

"Katakan 'Maafkan aku, ya'—begitu saja, mudah kan?" senyum tak lepas dari bibir Sakura.

Sasuke tak menyahut, namun dihampirinya juga meja tempat yang lainnya tengah asyik dengan hidangan yang tersaji di hadapan mereka itu.

Sasuke kembali duduk di samping Shikamaru, dan dicondongkannya tubuhnya sedikit ke arah Shikamaru, "Maafkan aku," bisiknya pelan, namun cukup terdengar oleh Shikamaru.

Shikamaru terkejut bukan main. Sebelum ia sempat bereaksi, Sakura menepuk pundaknya, "Jangan murung terus, ayo main poker!" ujarnya riang.

Sasuke sedikit merasa tidak nyaman melakukan hal yang tak biasa dilakukannya. Ia jarang bergaul dengan orang lain, jarang bersiteru dengan orang lain, dan tentu saja jarang mengucapkan kata maaf. Perasaan yang asing baginya, membuatnya tak nyaman.

Ditatapnya Sakura yang tengah tertawa dengan kartu-kartu di tangannya, dan seketika ia mengerti. Rasa tak nyaman itu pudar seiring waktu, selama senyum dan tawa gadis itu di sana, mencerahkan hatinya dan menentramkannya.


Sasuke melangkahkan kakinya dengan sedikit lambat, hal biasa yang dilakukannya dengan Hinata. Hinata berjalan dengan sedikit lambat—untuk ukuran laki-laki, maka dari itulah ia terbiasa menyeimbangkan kecepatan langkahnya. Namun tak disangka gadis berambut merah muda yang kini ada di sampingnya malah berjalan melewatinya.

Sasuke menggeram, "Kau ini sama sekali tidak ada anggun-anggunnya," ujarnya ketus.

Sakura menoleh sedikit, "Langit mendung begini, kalau jalan lamban begitu bisa-bisa tercegat hujan," timpalnya sekenanya.

Sasuke menghela napas. Bagaimanapun ia sudah mempersiapkan diri untuk melihat keanehan macam apapun dari gadis itu. Tidak seperti namanya yang feminin–Sakura—gadis di depannya itu memiliki sifat spontanitas dan aktif.

Bila diibaratkan kembang api, Hinata bagaikan kembang api kecil yang memercikkan api yang indah dan cantik, sementara Sakura bagaikan kembang api besar yang siap menarik perhatian semua orang dengan keindahannya tersendiri.

"Aku tak menyangka kau payah bermain kartu," Sakura membuka suara dan tertawa.

Sasuke merengut, "Mana kutahu. Cara mainnya saja aku baru tahu," ujarnya sambil mendengus. Suatu hal yang memalukan seorang Uchiha sepertinya, payah dalam suatu hal. Uchiha selalu menang, selalu sempurna, selalu menjadi yang terbaik, dalam hal apapun. Seharusnya seperti itu. Bukan menjadi seorang pecundang yang kalah.

"Kau bukan pecundang yang kalah," Sakura berujar sambil tersenyum simpul.

Sasuke tersentak, memegangi kepalanya, "K-Kau, barusan itu, membaca pikiranku ya??" ia menatap Sakura dengan tatapan horror.

Sakura tertawa geli, "Mana mungkin!" sahutnya. "Cuma menebak. Habisnya kau kelihatan terpuruk dan kesal begitu, kalah berturut-turut sebanyak tujuh belas kali," ujarnya dan mulai tertawa lebih kencang.

"Jangan ingatkan lagi," sahut Sasuke kesal. Tawa renyah kembali Sakura menggema.

"Kau sepertinya sangat dipercaya oleh teman-temanmu itu," Sasuke mengalihkan pembicaraan.

" 'Teman-teman kita'! Ingat, mereka itu juga temanmu," Sakura menekankan kata-katanya.

"Yaa," sahut Sasuke acuh tak acuh. "Kau sangat dipercaya oleh 'teman-teman kita' itu," ulangnya dengan penakanan pada kata 'teman-teman kita'. Sakura tertawa lagi.

"Hm dipercaya bagaimana maksudmu?" Sakura menahan helaian rambutnya yang dimainkan angin sore, masih dengan sisa tawanya.

Sasuke mengangkat bahu, menatap lurus ke depan—ke arah matahari yang mulai tenggelam. Cakrawala mulai terpoles kemewahan nuansa jingga.

"Yah, mereka bicara tentang banyak hal padamu tadi, tentang kehidupan mereka," ucap Sasuke dengan tatapan mata masih terfokus pada lembayung senja.

Sakura tersenyum sedikit sebelum mulai dengan celotehan panjangnya, "Menceritakan perasaanmu atau pengalamanmu pada teman-temanmu akan membuat perasaanmu menjadi lebih enak. Itu pulalah yang mereka lakukan. Mereka menumpahkan segala hal yang ada dalam kepala mereka, menyalurkan segala hal yang tersimpan dalam hati mereka, dan aku mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian.

"Dengarkan, bayangkan diriku ada di posisi mereka, merasakan apa yang mereka rasakan, melakukan apa mereka lakukan, memikirkan apa yang mereka pikirkan. Kemudian aku sadari bahwa setiap orang memiliki pembenaran tersendiri atas segala tindakannya.

"Tidak ada yang baik dan benar secara gamblang. Antara hitam dan putih terdapat garis abu-abu, tergantung dari sudut mana kau melihatnya. Memahami hal ini, rasa toleransi-ku menjadi mencuat, bisa dibilang aku bahkan tak bisa menghakimi seseorang itu baik atau buruk. Aku berusaha mengerti mereka, memahami mereka, dan lambat laun hal itu tiba-tiba saja menjadi kebiasaan," Sakura bertutur dengan lancar.

Sasuke melirik sedikit ke arahnya kali ini, "Dan alasan itu pulalah yang menyebabkan mereka percaya padamu sepenuhnya," ucapnya melanjutkan kalimat Sakura.

Sakura menarik napas dalam-dalam, meregangkan otot tangannya dan menggeliat, "Yah, mereka merasa aku enak diajak bicara, itu saja."

'Itu saja', dan hal yang sederhana itu membuatnya begitu istimewa di hadapan teman-temannya—pikir Sasuke. Namun tak diungkapkannya hal itu. Ia sendiri sedikit bingung, sebelumnya ia tak pernah merasa ingin memuji seseorang. Atau dalam hal ini, menyatakan kekagumannya.

Segala hal yang berhubungan dengan gadis berambut merah muda terang ini selalu tak masuk di akal—pikirnya.

"Bagaimana denganmu? Lebih senang mendengarkan atau bicara?" Sakura menoleh padanya. Rambut merah mudanya bersemu keemasan dipantulkan sinar lembayung.

Sasuke menoleh sekilas, "Tidak keduanya."

"Eh??" Sakura mengerutkan keningnya.

Sasuke menoleh ke arahnya lagi dan mendapati raut wajah penuh rasa keingintahuan terpampang di sana. Ia menghela napas, "Aku jarang berbicara dengan orang lain," sahutnya mengakui.

Sakura tampak berpikir sejenak, "Kenapa? Kau tidak punya teman? Apa tidak suka berinteraksi dengan orang lain? Atau mungkin keduanya?" cecarnya tajam. Tepat sasaran.

Sasuke mengibaskan helaian daun yang terjatuh di atas kepalanya, "Mungkin keduanya. Tapi aku memang merasa nyaman sendirian," —dengan Hinata, tentunya—tambahnya dalam hati.

"Bagaikan peti harta yang tersembunyi dan terkunci rapat, kau tidak membiarkan seorangpun mendekat atau menyentuhmu, memberi jarak pada orang lain. Bahkan ketika seseorang menemukanmu, kau tidak membiarkan dia membuka hatimu. Tidak membiarkan seorangpun masuk ke dalam kehidupanmu."

Sasuke menghentikan langkahnya, menatap Sakura. Yang ditatap, balas menatapnya. Angin bersemilir memainkan helaian rambutnya yang tergerai.

"Kau harus sedikit membiarkan orang lain menghampirimu. Perasaanmu pasti akan menjadi lebih baik," Sakura kembali berujar.

Deru angin terdengar dan menyapu dedaunan. Beberapa helai daun kering hinggap di rambutnya yang tampak halus, namun tak diindahkannya.

Sasuke kembali mengambil langkah. Pikirannya tengah dipenuhi berbagai informasi yang tak masuk akal. Dadanya dipenuhi perasaan aneh yang bergejolak, emosi yang berputar dalam kepala dan hatinya. Ia mulai merasa mual.

Sedikit rasa penyesalan telah berkenalan dengan gadis berambut merah muda di belakangnya sempat terlintas di kepalanya. Gadis itu bukan hanya bermain dengan pikirannya, tapi juga perasaannya.

"Kau banyak diam di sana," Sakura kembali mengejar langkahnya.

Sasuke tak menyangkal, "Aku tidak terbiasa terlibat dalam percakapan dengan banyak orang," ujarnya ringan seolah itu adalah hal yang wajar.

"Tidak dengan keluargamu juga?" Sakura mengangkat sebelah alisnya.

"Aku punya seorang kakak laki-laki yang sibuk dan menuntut ilmu di luar negeri. Ayahku sibuk bekerja, dan Ibuku bergosip," Sasuke mengangkat bahu tak acuh.

"Wow, keluarga yang ramai," Sakura tak mengindahkan ucapan tersirat dari kata-kata Sasuke. "Aku anak tunggal, tidak tahu rasanya punya kakak. Sepertinya menyenangkan?"

Sasuke mencibir, "Tidak jika kakakmu adalah Itachi Uchiha. Dia itu tak pernah bosan menggangguku. Sejak kecil aku selalu dijahili olehnya, bahkan pernah dipakaikan baju perempuan," omel Sasuke.

Sakura tertawa, "Kakak yang unik, jadi ingin bertemu."

"Dia belajar di Amerika, mengambil program S2," Sasuke menimpali.

"Oh ya? Apa subjeknya?" Sakura tampak sedikit takjub.

"Bisnis, Bisnis Internasional. Dia sudah ditetapkan akan menjadi penerus perusahaan Ayah kami kelak," Sasuke menjawab ringan.

"Oh, bekerja di bidang apa Ayahmu itu?" tanya Sakura lagi.

"Industri otomotif, jual beli kendaraan bermotor dan suku cadangnya," jawab Sasuke, lebih santai kini.

"Wah hebat," Sakura bergumam sambil tersenyum.

Sasuke mengalihkan pandangannya pada Sakura, "Bagaimana denganmu?"

Sakura membelalakkan matanya, kemudian ia tertawa.

"Kenapa tertawa?" Sasuke tampak tak senang.

"Sakura menghentikan tawanya, "Oh maaf, hanya saja aku sedikit kaget, kau menaruh minat pada kehidupan orang lain begitu," ujarnya sambil mengulum senyum.

Seketika Sasuke tertegun. Pertama, ia tak sadar saja tahu-tahu sudah balik bertanya tentang Sakura, dan kedua—yang lebih utama—bagaimana bisa ia mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi seperti itu pada orang lain.

Hal ini tidak pernah terjadi. Tidak dalam kehidupan Sasuke yang telah dijalaninya selama tujuh belas tahun itu. Sasuke Uchiha tidak berbagi. Tidak membagi kisahnya pada orang lain. Begitu seharusnya.

Detik berikutnya segaris senyuman tersungging di wajahnya, "Kurasa sekarang aku paham mengapa teman-teman kita itu sangat menyukaimu," Sasuke berujar hampir berbisik.

Sakura memiringkan kepalanya, mengerutkan keningnya, "Hm?"

Sasuke tertawa kecil, "Lupakan," ujarnya menahan senyum, "jawab saja pertanyaanku. Bagaimana keluargamu?"

Sakura masih tak mengerti, tapi tak dapat dipungkiri ia merasa senang melihat Sasuke tertawa. Biarpun tawa itu entah bermaksud mengejek atau memuji atau apapun, seorang Sasuke bisa tertawa saja sudah merupakan suatu keajaiban alam.

"Ayahku bekerja di pabrik tekstil, sebagai mandor. Ibuku mengajar di sekolah dasar. Beliau seorang guru," jawab Sakura.

Sasuke membulatkan mulutnya, "Wow, seorang guru. Ibumu itu pasti orang yang lembut sekali."

Sakura tertawa, "Jangan karena pacarmu gadis feminin, lalu kau pikir semua anak perempuan juga seperti itu. Ibuku sama cerewetnya seperti aku," sahutnya di antara tawanya.

"Apa kau akan menjadi seorang guru seperti dia?" Sasuke tak mengindahkan ejekan Sakura.

Sakura mengangkat bahu, "Entahlah. Tapi aku lebih tertarik pada ilmu ramalan perbintangan," ucapnya sungguh-sungguh, "makanya aku gabung Astrology chatroom. Ilmu ramalan yang berpatokan pada kedudukan bintang-bintang," tambahnya melirik pada Sasuke sekilas.

Pertanyaan yang menggelitik Sasuke sejak kemarin malam, memuncak kali ini. Diputuskannya untuk ia tanyakan langsung pada yang bersangkutan, "Apa menariknya ilmu perbintangan?" tanyanya tanpa basa-basi.

Sakura menoleh sekilas, "Seperti biasa, pertanyaanmu sangat blak-blakan. Khas kamu sekali," ujarnya tersenyum simpul.

Sakura menarik napas sebelum mulai angkat bicara, "Kau tahu, alam semesta bergerak dalam jalurnya sendiri. Semuanya menempati posisi dan porosnya masing-masing. Saling melengkapi, saling ketergantungan. Gugusan bintang, planet, satelit, batu asteroid, semuanya memiliki pola hidupnya tersendiri. Tiba-tiba ada di muka bumi ini, tidak ada proses permulaan, tapi ada proses penghancuran alamiah. Bahkan bintang yang besar dan bersinar sangat terang sekalipun, akan musnah pada gilirannya, ketika sampai pada waktu penghabisannya. Itulah Supernova."

Sasuke mendengarkan dengan seksama, tak menyela. Membiarkan Sakura menyelesaikan penjelasannya yang sepertinya akan panjang.

"Hidup juga seperti itu, semua makhluk hidup memiliki tujuannya masing-masing untuk menjalani kehidupan. Hanya saja, sebagian orang sudah menyadarinya, namun ada juga yang masih bimbang dengan eksistensinya di dunia yang fana ini.

"Setiap planet memiliki gaya grafitasi tersendiri, antar planet saling menempati posisinya masing-masing dan bertahan karena hal ini. Tentu saja hal ini dibutuhkan supaya tidak terjadi benturan antar planet.

"Dalam kehidupan manusia, hal ini bisa diibaratkan sebagai suatu individu. Antara satu individu dengan individu yang lainnya, memiliki sekat pembatas yang tak tampak. Kepercayaan, idealisme, keteguhan hati, prinsip, keyakinan, semua hal itu membuat individu memiliki perbedaan corak satu sama lain.

"Jika tidak hati-hati mengontrol tingkah polah kita, bisa-bisa terjadi benturan dengan individu lain. Saat bertemu dengan kutub yang sama, akan saling tarik menarik dan bisa-bisa malah berakhir saling menghancurkan. Bila dua kutub yang berbeda bertemu, sepertinya saling menolak, padahal secara tak sadar tarik-menarik.

"Pada hakikatnya, antar planet itu terdapat gaya tolak menolak yang sebenarnya saling menarik. Oposisi. Kehidupan manusia, layaknya kehidupan bintang, tak luput dari hukum alam semesta. Kita semua saling membutuhkan, senang maupun tidak, siap maupun tidak. Bersama-sama mengarungi lautan alam semesta, benda-benda ruang angkasa itu tak pernah sekalipun berbenturan. Walau ada kalanya terjadi benturan ringan, dia akan mampu memulihkan dirinya sendiri," Sakura mengakhiri penjelasan panjangnya.

Sasuke berusaha mengolah ucapan Sakura dalam kepalanya.

"Sasuke-kun, kau lebih suka bulan atau matahari?" tanya Sakura tiba-tiba.

Sasuke tak menjawab dengan cepat. Kemudian ia ingat Hinata—yang mana bayangan sosok mungilnya selalu muncul di malam hari ketika ia bersedih dan memeluknya dengan penuh kasih. Sosoknya yang tenang dan senyumnya yang menyejukkan hati, bagaikan gadis bulan dalam legenda.

"Bulan," jawab Sasuke singkat.

"Bulan, ya..." Sakura tersenyum tipis, menendang pelan batu kerikil di bawah kakinya.

"Kau sendiri?" Sasuke balas bertanya. Tanpa disadarinya ia mulai tertarik dengan sudut pandang gadis itu dalam menilai kehidupan. Gadis seumurannya kebanyakan heboh berbicara soal fashion dan bintang sinetron, bukan hal rumit soal bintang dan jagat raya.

"Aku lebih suka matahari," Sakura tersenyum lebih lebar ke arahnya. "Bulan itu curang, padahal dia dapat bersinar berkat matahari. Tapi lihat saja, di siang hari bulan masih bisa terlihat walau samar, namun matahari tak bisa terlihat sama sekali saat malam tiba dan bulan menguasai langit."

"Itu karena pergerakan bumi yang berotasi," timpal Sasuke.

Sakura tertawa, "Kau tak punya romantisme," ujarnya, meninggalkan pertanyaan besar di kepala Sasuke.

"Sasuke-kun," suara lantang itu kembali terdengar.

Sasuke tak menghentikan ataupun melambatkan langkahnya.

"Aku lewat jalan sini," tambah sang pemilik suara. Sasuke tertegun, memperlambat langkah kakinya kali ini.

"Kalau ada waktu, main-mainlah ke room lagi ya," Sakura—gadis yang telah membuatnya banyak berpikir seharian ini, tersenyum ke arahnya.

Ada sedikit rasa kecewa menggelitik hati Sasuke. Entah itu kecewa karena akan berpisah di sana, atau karena mereka mengakhiri perjumpaan itu dengan hal yang tidak mengenakkan.

"Sampai nanti," Sakura melambaikan tangannya dan berbelok ke sisi yang berlainan.

Sasuke memandangi sosoknya yang berbalut pakaian terusan berwarna merah terang dengan ornamen lingkaran putih itu. Seketika disadarinya ia merasa tidak senang karena harus berpisah dengan gadis itu. Pertemuan yang hanya berlangsung sebentar itu, perjumpaan yang singkat itu, terasa begitu membekas di hatinya.

Kepala Sasuke dipenuhi dengan pikiran mengenai Hinata dan Sakura. Keduanya begitu berbeda. Hinata yang lembut, anggun, dan sangat cantik, dengan senyum lembutnya mampu menyembuhkan luka sesakit apapun. Sakura yang riang, aktif, dan menarik dengan keunikannya sendiri, dengan senyum riangnya yang mampu membuat siapapun bersemangat.

Seketika ia tersentak dalam lamunannya sendiri. Tak pernah ia menyangka bahwa ia akan pernah membandingkan pacarnya sendiri dengan orang lain seperti itu. Sesuatu ada yang salah—pikirnya. Ada yang salah….

.

.

TBC


Akhrinya chapter 2 ini selesai, terimakasih bagi yang sudah menanti dengan sabar :)

Berikutnya, kemunculan Hinata. Sasuke dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang sulit.

Ada saran? Kritik? Yang lainnya?

Suka? Tidak suka?

Saya tunggu pendapat kalian :)