Judul: Little Fire in the Candle

Sub-judul: Silent Stone

Fandom: Naruto

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Drama, Hurt/Comfort

WARNING: AU, OOC-ness

Main Pairing(s): SasuHina, SasuSaku

NOTE: Merujuk pada saran dari Mugiwara Piratez, supaya chapter ini mengambil POV-nya Sakura, alih-alih saya gunakan Hinata, Sakura, dan Sasuke-centric secara bergantian.

Chapter 5 ini menunjukkan maksud saya di awal-awal chapter, bahwa fic ini tidak akan mengandung Mary Sue ataupun Gary Stu. Baik Hinata, Sasuke, maupun Sakura, ketiganya terlena dengan emosi masing-masing dan mengakibatkan mereka tak mampu berpikir dengan tenang. Mengambil tindakan yang melenceng, dan berbuat kesalahan. Mulai dari sini, OOC-ness bakal sering terjadi seiring dengan perkembangan cerita yang menuntut perkembangan emosi para tokohnya.

Saya ga pernah ikut OSIS di sekolah, jadi saya ga tahu cara kerja OSIS. Oleh karena itu, fic ini mengacu dari cara kerja BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di kampus saya, dengan sedikit penyesuaian.

Saya kekurangan tokoh untuk jadi Bendahara OSIS, yang mana saya harapkan seorang wanita. Tapi rupanya serial Naruto kekurangan tokoh wanita atau mungkin pengetahuan saya kurang (ngelap keringet). Semua tokoh wanita sudah menempati perannya masing-masing dalam fic ini, jadinya saya pilih Haku walau dia bukan seorang wanita. Saya rasa Haku cukup sesuai untuk imej seorang Bendahara. Dan anggap saja dia sepantaran dengan Sasuke dan yang lainnya, mohon pengertiannya demi kelangsungan cerita.


Little Fire on the Candle

( Act 5. Silent Stone )


.

Hinata melangkah bersisian dengan kekasihnya yang tampak larut dalam pikirannya. Sedikit perasaan tak senang menggelitik hatinya. Melihat kekasihnya, Sasuke, makan siang dengan gadis lain.

Adalah sesuatu hal yang tak biasa mendapati Sasuke makan siang dengan seseorang selain dirinya. Sebetulnya bukan masalah makan siangnya, tapi Hinata tahu benar kalau Sasuke tidak pernah membiarkan seorangpun mendekatinya.

Suatu kecurigaan mengusik kepalanya. Sasuke mempersempit jarak dengan gadis itu—siapapun dia. Sasuke membiarkan dirinya berdiri di tempat yang terjangkau oleh gadis itu. Ini sungguh tidak menyenangkan.

"Sakura," Sasuke membuka suara, mencolek pundak gadis berambut merah muda yang duduk membelakanginya dan Hinata. "Ini Hinata, pacarku."

Gadis berambut merah muda itu tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Hinata, "Selamat siang, aku Sakura."

Hinata menyambut uluran tangan itu, "Hinata Hyuuga," sahutnya pendek.

"Ayo duduk," Sasuke dengan sigap menarik kursi di seberang meja bundar di hadapan Sakura. Hinata duduk dengan tenang, diikuti Sasuke yang duduk di sebelahnya.

Pandangan Hinata kembali terpaku pada gadis berambut merah muda di hadapannya. Rambut yang terang, kulit yang putih, mata yang besar, bercahaya kehijauan terang, gerak-geriknya menunjukkan bahwa ia tipe wanita yang tahu benar apa yang ia inginkan dan bagaimana mencapainya. Seorang wanita yang cantik dan sekaligus berperangai kuat—dalam artian tertentu. Sekejap saja ia rasakan sesuatu dari gadis itu membuatnya tidak senang.

"Kalian sering makan siang bersama?" Hinata bertanya dengan kedua bola matanya tetap terpaku pada Sakura.

"Tidak, baru hari ini," Sakura menjawab, berbohong. Ia rasa tak baik untuk Sasuke bila ia mengaku pernah makan siang dengan Sasuke sebelum ini. Bagaimanapun ia cukup tahu diri.

"Oh, kemarin juga. Ada suatu pertemuan, ada dia juga," Sasuke tiba-tiba menimpali. Sakura melotot ke arahnya.

Hinata mengedutkan alisnya.

'Dasar tidak tahu situasi!'—pikir Sakura, mengerling pada Sasuke.

Hinata telah menetapkan. Ia tak suka pada gadis itu, Sakura atau apapun namanya, "Aku pacarnya Sasuke," Hinata menarik sudut bibirnya sedikit.

Sakura mengangkat sebelah alisnya, "Ya?"

"Terima kasih sudah menemaninya ketika aku tidak bisa," Hinata tersenyum lebih lebar kini. "Aku harus mengurus banyak hal belakangan ini, Sasuke jadi sedikit kesepian."

Sakura mengerutkan keningnya. Dapat ditangkapnya perasaan tak senang dari lawan bicaranya itu. Senyumnya sama sekali tidak ditujukan pada ungkapan terima kasih, tapi lebih pada mengingatkan tentang posisinya, "Itu sudah tugasku sebagai temannya," timpal Sakura dengan sedikit senyum.

"Oh?" Hinata menaikkan sebelah alisnya, "boleh aku tahu dengan siapa aku bicara?"

"Mulai hari ini aku resmi bekerja di bawah Sasuke untuk festival yang akan datang. Aku mewakili klub informal Astrologi yang akan mengisi salah satu stand utama. Kami baru saja mau berdiskusi tentang detailnya," Sakura bertutur tenang.

"Astrologi?" Hinata sedikit terkejut. Dialihkannya pandangannya pada Sasuke yang sedari tadi diam saja. "Tak heran kau masuk Astrology Chatroom itu. Untuk mencari nara sumber rupanya."

"Oh tidak, baru hari ini dia ditetapkan sebagai pengisi stand oleh wakilku," Sasuke menjawab jujur. Hinata mengedutkan alisnya, sesuatu membuatnya tidak senang. Sangat tidak senang.

"Lalu? Apa yang kau lakukan dengan Astrologi chatroom itu?" Hinata mencecar, suaranya tenang namun dapat dirasakan emosinya jauh dari rasa tenang.

"Permisi, maaf menunggu," seorang pelayan membawa nampan besar dan membungkukan badannya di samping meja mereka, menyela situasi yang mulai memanas itu tanpa tahu apa-apa. Sekilas dirasakannya suasana panas yang mendingin. Dengan cekatan ditatanya makanan di hadapan Sasuke dan Sakura.

"Aku minta secangkir latte," suara Hinata menyeruak, dan seketika pelayan di sampingnya itu mengangguk cepat.

"Ada lagi yang ingin dipesan, Nona? Makanannya, mungkin?" pelayan itu tersenyum lebar, memamerkan barisan gigi putihnya. Hinata menggeleng dan sang pelayan kembali menganggukan kepalanya. Setelah membungkuk sekali lagi, iapun hilang dari pandangan.

Hinata menatap menu makan siang yang tersaji di hadapan Sasuke dan Sakura, "Kalian pesan menu yang sama?" ucapnya, sedikit rasa tak senang tersirat dari kata-katanya.

"Oh," Sakura membuka suara cepat, "tadi Sasuke bingung hendak pilih makanan apa, jadi aku sarankan paket A Chinese food ini."

Hinata menolehkan kepalanya pada Sasuke yang duduk di sampingnya, menatapnya lekat.

"Ya itu benar," Sasuke berujar.

Hinata menelan ludah.

Ia tidak senang dengan gadis asing itu.

Sakura menatap lawan bicara di hadapannya. Seorang gadis cantik berparas lembut, dengan rambut hitam keunguan sepunggung, bagian depan rambutnya sedikit lebih pendek dari sisanya. Poni yang tipis menghiasi keningnya, kulitnya putih mulus dan sedikit pucat.

Dari raut mukanya bisa disimpulkan kalau gadis itu adalah gadis yang mampu mencapai apapun yang diinginkannya. Sebuah rasa haus tak terbatas pada apapun di sekelilingnya. Sebuah ambisi, tidak, mungkin egoisme, yang kuat terpancar dari sana. Dari caranya duduk dan bergerak, kelihatan benar kalau ia bukan gadis sembarangan. Seorang gadis yang berpendidikan dan terhormat.

Gadis berambut hitam di hadapan Sakura kembali menyesap latte-nya. Bulu mata lentiknya menutup sedikit dan bergetar perlahan, menikmati latte yang tersaji nikmat.

Seketika Sakura paham, tipe wanita ningrat seperti inilah apa yang para pria sebut sebagai sekuntum bunga di atas tebing. Berada di tempat yang tinggi, tak semua orang dapat menjangkaunya. Ia tak akan memandang ke bawah, tak pula akan menghampiri kita.

Harus kita sendiri yang memanjat dan menghampirinya, mempertaruhkan semua yang kita miliki, termasuk harga diri. Mungkin karena itulah ia dapat terlihat begitu serasi dengan Sasuke yang tak kurang dari sesosok makhluk nyaris sempurna dengan fisik dan kepandaiannya.

Melihat keduanya duduk di seberangnya, sambil sesekali saling mencuri pandang satu sama lain, sungguh membuat Sakura merasa terasing. Seketika dipercepatnya melahap makan siangnya.

"Kau makan cepat begitu, bukannya tidak baik?" tiba-tiba suara lembut gadis berambut hitam di hadapannya menyeruak.

"Ah, aku terbiasa begini," jawab Sakura sekenanya, dengan segaris senyum di akhir kalimatnya.

"Seorang wanita tidak seharusnya makan dengan cara seperti itu," gadis itu kembali bersuara, sedikit mengerutkan keningnya.

"Ah iya, maaf Hinata, tapi kurasa setiap orang punya caranya masing-masing," Sakura berucap sesopan mungkin. Sedikit dirasakan kejengkelan dalam hati Sakura, terhadap cara gadis lawan bicaranya itu menatapnya. Seolah-olah ia itu dianggap sebagai wanita barbar yang tak berpendidikan saja.

"Ah, benar juga. Seorang gadis yang masih percaya ramalan seperti kamu, tentu pola pikirnya berbeda ya."

Sakura mengedutkan alisnya, 'Apa-apaan ini, dia membodohiku!'—sungut Sakura dalam hati.

"Dari cara bicaramau itu, entah kenapa aku menangkap isyarat bahwa kamu menganggap astrologi itu cuma omong kosong?" Sakura meletakkan sumpitnya di atas mangkuk nasinya.

Hinata—gadis di hadapannya itu, tersenyum dan tanpa malu-malu mengaku, "Memangnya tidak?"

Sakura menyesap jus semangkanya perlahan dan menatap Hinata lekat, "Apa yang membuatmu berkata demikian?"

Hinata mengangkat bahunya, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, "Ramalan itu tak berdasar. Meyakini sesuatu yang abstrak. Mempercayainya hanya akan membuatmu memeluk harapan kosong, betul-betul tidak realistis."

"Kalau kau bicara soal 'dasar', berbeda dengan ilmu ramalan lainnya, astrologi bukan mengacu pada masa depan atau hal abstrak lainnya. Kita dapat mengetahui watak seseorang dari kedudukan benda langit di atas kepalanya saat ia dilahirkan. Bintang terang yang menyinarinya, planet yang bernaung di atasnya. Walaupun tidak betul-betul tepat, tapi pasti ada pengaruhnya. Setiap orang pasti terpengaruh oleh kedudukan bintang saat ia dilahirkan. Sedikit atau banyak, tak bisa dihindarkan," Sakura bertutur ringan.

"Dengan kata lain kau sangat percaya bahwa apa yang terjadi saat ini berkaitan dengan apa yang terjadi di masa lalu. Bukankah itu berarti kau adalah orang yang tak dapat lepas dari masa lalu? Masa lalu itu sesuatu yang sudah lama terjadi dan sepantasnya dilupakan saja. Masa depan tidak tergantung dari masa lalu," Hinata menyunggingkan senyum.

"Benar sekali, masa lalu bisa dibuat di masa depan. Walau hal yang terjadi di masa lalu adalah sesuatu yang buruk, bila kita melihatnya dengan cara pandang yang positif, maka ia akan menjadi baik dengan sendirinya," Sakura mengiyakan tanpa ragu.

"Lalu? Apa gunanya mempelajari astrologi? Di zaman modern seperti ini hal itu tidak akan menghasilkan uang," Hinata mengangkat sebelah alisnya.

Sakura menarik sudut bibirnya kali ini, "Kepuasan pribadi jauh lebih berharga daripada uang itu sendiri."

"Pada saatnya nanti kau akan melupakan mimpi semacam itu. Kenyataan tidak semanis yang kau pikirkan. Semua 'mimpi' yang semu yang kau percayai itu akan binasa seiring bertambahnya umur dan pengalamanmu," Hinata tertawa kecil.

Sakura menatap Hinata tak berkedip, ia sangat tidak senang mimpinya dipandang remeh seperti itu oleh orang lain, terlebih oleh Nona Muda yang tak tahu apa-apa, yang kerjanya hanya mengkritik dan mencela orang.

"Memang dalam hidup ini paling mudah mencari kesalahan dan kekurangan orang lain. Anda tahu benar bagaimana memanfaatkan kepandaian anda dalam bertutur kata," Sakura berucap tanpa berpikir.

Hinata memandang tajam ke arah Sakura. Sakura meraih sumpit di atas mangkuknya dan mengetuk mangkuknya dengan sumpit itu, "Anda tahu, mau bekerja seperti apapun kita nanti, mau setinggi apapun jabatan kita, pada saat mati tetap saja semuanya bergelar sama. Almarhum."

Tawa Hinata menyeruak, "Pandangan yang bagus," ujarnya di sela tawa renyahnya, "tapi sebagai sesama wanita, biar kuberi saran. Sebaiknya kau alihkan semangat mudamu itu untuk sesuatu yang lebih produktif."

Sakura mengangkat bahunya, "Kurasa apa yang kulakukan cukup produktif. Buktinya kini aku bisa duduk satu meja dengan seorang gadis hebat dan pandai yang memiliki idealisme kuat."

"Kau bercanda," Hinata menggelengkan kepalanya, "kau cuma beruntung kenal dengan Sasuke dan bertemu denganku."

"Sayangnya aku bukan orang yang percaya pada suatu kebetulan," tandas Sakura dengan sedikit senyum.

"Oh," Hinata mengangkat sebelah alisnya, "lalu?"

Sakura menghela napas, 'Ini dia!'—pikirnya. "Mungkin saja aku memang ditakdirkan untuk berada pada jalur yang sama dengan Sasuke-kun."

Hinata tak menyembunyikan rasa tak senangnya atas pernyataan Sakura itu. Ia meremas rok biru dengan corak keemasannya.

"Bagaimana perkembangan penelitianmu?" tiba-tiba suara Sasuke yang sedari tadi bungkam menyeruak.

Hinata menoleh pada kekasihnya itu, melirik sekilas pada Sakura sebelum tersenyum pada Sasuke, "Cukup bagus, tadi—" dan detik berikutnya, mereka mulai terlibat percakapan yang sama sekali tak dapat dimengerti Sakura.

Sakura menghela napas. Sedikit perasaan terasing menggelitik hatinya. Mungkin seharusnya ia tak berada di sini dari awal. Tapi ia cukup bersyukur Sasuke mengalihkan pembicaraan dan membuatnya lolos dari tatapan dingin Hinata.


"Apa-apaan sikapmu tadi itu?" Sasuke menoleh pada Hinata yang duduk di samping kursi kemudinya.

Mereka kini tengah menyusuri jalan menuju kediaman keluarga Hyuuga. Sudah menjadi kebiasaan Sasuke untuk mengantar pulang kekasihnya itu bila mereka bertemu sebelum waktu bubar sekolah.

Pandangan Hianta terpaku pada pemandangan di samping jendelanya, "Maksudmu?"

Sasuke menghela napas, "Tadi kamu tidak seperti biasanya. Biasanya kamu tenang dalam situasi apapun, tapi malah terpancing emosi."

Hinata menoleh padanya dengan cepat, "Dia yang mulai membuatku kesal."

"Ada apa denganmu?" Sasuke mengerutkan keningnya tanpa melepaskan pandangan dari jalanan di depan mobilnya, menghentakkan pedal gasnya.

"Aku…tidak suka dia," Hinata menjawab pelan, sedikit menundukkan kepalanya.

Sasuke menoleh ke arahnya kini, raut mukanya tampak menunjukkan kebingungan, "Kenapa?"

"Sekarang giliranku bertanya," Hinata menyela, "apa hubungan gadis itu dengan Astrology Chatroom di Browser History-mu kemarin?"

"Dia salah satu anggotanya," jawab Sasuke ringan.

"Sejak kapan kalian saling kenal?" Hinata mulai lagi.

"Kemarin lusa malam, tapi hanya sebatas dari chatroom," Sasuke kembali berkonsentrasi pada jalanan.

"Kemarin lusa malam?" Hinata mengerutkan keningnya, "kapan kalian makan bersama sebelum hari ini kalau begitu? Kau bilang kalian pernah makan bersama sebelum ini?"

Sasuke menelan ludah, "Kemarin siang…" jawabnya.

Hinata membelalakkan matanya, "Jadi… kemarin itu kamu pergi menemui dia? Saat aku menunggumu seharian?" ulangnya tak percaya.

Sasuke mengangguk sedikit, "Ya," jawabnya sedikit kaku. Ia tahu hal ini mungkin menyakiti Hinata, tapi ia lebih memilih Hinata marah padanya daripada harus menutupi sesuatu darinya. Baginya Hinata adalah orang yang sangat berharga. Ia tidak akan membohongi Hinata.

"Kenapa kau tidak bilang apa-apa?" suara Hinata sedikit bergetar.

Sasuke menelan ludah. Bukannya ia tak mau bilang, tapi ia pikir lebih baik memang tidak usah bilang saja, karena itu malah akan membuat rumit keadaan. Toh dia pikir Sakura hanya akan menjadi sosok imajiner yang hanya ia sendiri yang tahu. Tapi rupanya takdir berkata lain. Alih-alih, kini Sakura malah muncul di hadapannya. Dan lebih parahnya lagi, berhadapan langsung dengan Hinata.

"Apa yang lebih membuatmu takut?" suara Hinata membuatnya terhenyak. "Kau takut aku marah padamu atau kau takut aku memintamu untuk tidak menjumpainya lagi?"

Seketika Sasuke dapat merasakan dadanya tercekat. Ia mulai menebak kemana arah pembicaraan ini akan berujung.

"Kalau soal pengisi stand untuk festival, aku bisa mengusahakannya," Hinata mulai lagi. "Aku akan meminta temanku untuk mengisinya. Ah, kau tahu Yamanaka Ino? Dia teman dari anggota kelompok penelitianku, Sai, dan kadang datang ke tempat penelitian membawa kue kering. Kita bisa memintanya untuk mengisi stand kosong itu."

Sasuke mengerutkan keningnya, "Dengan kata lain kau memintaku untuk membatalkan kontrak dengan klub Astrologi?"

"Kue kering sangat disukai anak muda sekarang, kudengar stand lainnya fokus pada aksesoris selain juga makanan berat dan minuman dingin. Tapi anak muda juga senang camilan ringan, ini akan sangat menguntungkan," Hinata tak mengacuhkan pertanyaan Sasuke.

"Kau ingin aku membatalkan kontrak dengan klub Astrologi?" ulang Sasuke, meninggikan suaranya sedikit.

Hinata menatap kedua bola mata berwana onyx milik Sasuke lekat, "Aku hanya memberi pendapat, aku ingin yang terbaik bagimu. Sesuatu yang pasti."

"Ada apa denganmu?"

"Tidak, justru kau yang aneh. Kau yang biasa pasti tidak akan mengambil resiko dengan memberikan salah stand utama yang kosong itu pada klub tidak jelas semacam itu, tapi kau malah menawarkannya pada gadis itu, ada apa denganmu??" Hinata membalas sengit. Suaranya sedikit meninggi, raut mukanya menegang.

"Itu bukan ideku. Aku tidak menawarkannya pada Sakura. Semua wakilku yang mengurus. Aku sendiri terkejut ketika melihat orang yang dibawa Temari adalah dia," Sasuke membela diri.

"Aku tidak suka kau memanggil namanya seperti itu," Hinata memalingkan muka, kembali menatap pemandangan di samping jendelanya.

"Temari?"

"Sakura."

Sasuke memutar bola matanya, "Lalu aku harus panggil dia apa?"

"Nama marganya, mungkin?" Hinata mengangkat bahunya.

"Kau lihat sendiri dia memperkenalkan dirinya dengan nama depannya. Dan aku tidak sempat bertanya nama lengkap atau semacamnya. Temari juga belum memberikan proposal dari klub Astrologi itu padaku," Sasuke menghela napas. "Lagipula kau tidak keberatan aku memanggil Temari dengan panggilan 'Temari', tapi kau keberatan aku memanggil Sakura dengan panggilan 'Sakura', sungguh aneh."

Hinata kembali meremas rok birunya, "Karena Temari tidak suka padamu," desisnya berusaha berucap setenang mungkin. Namun suaranya mengkhianatinya.

"Apa kau pikir Sakura suka padaku?" Sasuke mengerutkan keningnya.

"Kalau bukan dia, mungkin saja kau yang suka padanya," Hinata menatap tajam ke arah Sasuke.

Sasuke terkejut, "Apa maksudmu?"

Hinata menghela napas, menundukkan kepalanya seidkit, "Maaf, tapi aku… sedikit merasa terganggu. Aku… tidak senang melihatmu dengan gadis itu."

"Kami bersama karena urusan pekerjaan, tidak lebih," tegas Sasuke.

Hinata mengangkat kepalanya, menatap Sasuke dan mencari pembenaran dari kata-katanya barusan. Tampak kesungguhan terpancar dari wajahnya.

"Kau percaya padaku, kan?" Sasuke bertanya, menatap Hinata lekat.

Butuh sekian detik bagi Hinata untuk menjawab 'Ya.'


Sasuke melambaikan tangannya pada Hinata yang masuk ke dalam rumahnya. Hinata sempat mengajaknya mampir, tapi mengingat besok ada rapat yang harus dihadirinya, Sasuke menolak ajakan Hinata dan kembali ke dalam mobilnya. Sasuke menghela napas sebentar, mulai menghidupkan mesin dan memacunya menyusuri jalanan.

Pikiran Sasuke kembali melayang pada kejadian hari ini. Tak pernah dilihatnya Hinata menjadi begitu emosional seperti hari ini. Seolah sesuatu tengah bergejolak dalam dirinya, dan Hinata sendiri tak mampu membendungnya.

Hinata yang biasanya tenang, tiba-tiba saja menjadi begitu kacau. Kacau mungkin bukan kata yang tepat, tapi bagi seseorang yang berkomposur dan teratur seperti Hinata, tentu hal ini sangat tidak lazim.

Baru kali ini Sasuke melihat Hinata marah. Ya, marah tentu kata yang tepat. Hinata marah melihatnya bersama gadis lain. Cukup mengherankan mengingat Hinata tidak pernah ambil pusing terhadap penggemarnya yang lain. Sasuke tahu benar, hampir semua wanita di sekitarnya menaruh hati padanya, begitu pula Hinata. Namun Hinata tak pernah mempersoalkan hal itu, sampai hari ini.

Apa yang dilihat Hinata dalam diri Sakura sehingga ia berpikir Sakura adalah sosok yang 'berbahaya'?

"Kalau bukan dia, mungkin saja kau yang suka padanya."

Ia memikirkan kembali kata-katanya pada Hinata,

"Kami bersama karena urusan pekerjaan, tidak lebih."

Benarkah? Sasuke bertanya pada dirinya sendiri. Benarkah demikian? Kalau ia tidak mengenal Sakura lewat chatroom itu, tidak bertemu dengannya di swalayan itu, tidak mengobrol sepanjang sore di hari itu, akankah ia makan siang bersama dengan Sakura hari ini? Akankah ia membiarkan orang lain berada dekat dengannya—dengan hatinya—seperti itu? Membiarkan orang lain memasuki hatinya seperti itu?

Sasuke mengurut dahinya. Tak masuk akal—pikirnya. Ia seorang Uchiha, tak akan pernah ingkar janji. Janjinya pada Hinata untuk selalu menyayanginya dan melindunginya sepenuh hatinya, tak mungkin ia mengingkari janji itu sendiri. Tak masuk akal.

Berulangkali diulangnya dalam hatinya kalau hal itu adalah hal yang mustahil. Namun didapatinya bahwa keraguan mulai muncul tanpa dinyana.


Hari berikutnya…

.

Suasana ruang OSIS masih tampak lengang. Sasuke sengaja datang lebih pagi sebelum waktu rapat dimulai. Ada beberapa hal yang harus dikerjakannya. Dilihatnya sebuah proposal bersampul merah marun di atas meja kerjanya. Temari telah menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Dengan santai ditariknya kursi putarnya dan menjatuhkan dirinya di atas kursi empuk itu. Tangannya mulai meraih proposal itu dan membolak-balik halamannya. Ketika matanya menangkap halaman yang berisi daftar pengurus klub, dilihatnya nama yang tertera pada bagian ketua pelaksana adalah Haruno Sakura.

"Jadi namanya Haruno Sakura ya. Haru no Sakura. Sakura musim semi," Sasuke bergumam, "nama yang indah, seperti pemiliknya," tambahnya dengan segaris senyum di bibirnya.

"Sebaiknya kau hati-hati dengan ucapanmu," tiba-tiba sebuah suara menyeruak.

Sasuke mengangkat kepalanya, dan didapatinya sekretarisnya tengah berdiri di ambang pintu ruang OSIS dengan tumpukan proposal di tangannya dan kini tengah berjalan menghampirinya.

"Berapa kali kubilang untuk mengetuk pintu dulu sebelum masuk," Sasuke mendengus.

Karin, sekretarisnya itu, menyibakkan rambut merahnya dan menjawab tak acuh, "Kalau kau tidak begitu terpesona dengan nama gadis itu seharusnya kau mendengar ketukanku."

Sasuke mengerutkan keningnya, ia yakin betul tidak mendengar suara apapun. Tapi tak diindahkannya hal itu, percuma saja bersikukuh dengan seorang wanita. Wanita itu cerewet dan egois, mau menang sendiri dan keras kepala. Kalau bukan karena Hinata, ia rasa ia tak akan tahu rasanya menyukai seorang wanita.

"Ini proposal baru yang akan disebarkan untuk sponsor baru, tujuh buah. Dengan ini kita sudah menyebarkan dua puluh buah proposal permohonan dana. Dalam dua minggu festival sudah akan dilaksanakan, kuharap tujuh proposal ini akan mendapat ACC," Karin meletakkan ketujuh proposal bersampul magenta ke atas meja kerja Sasuke. Sasuke mengangguk tanpa menyahut, meletakkan proposal di tangannya dan meraih proposal lain yang disodorkan sekretarisnya itu.

"Bagaimana kabar ketigabelas proposal kita lainnya?" Sasuke bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari proposal bersampul magenta yang kini ada di tangannya.

"Sepuluh dari tiga belas mendapat ACC. Delapan dari sepuluh sudah mentransfer uangnya lewat bank. Wakil ketua yang menandatangani kwitansi penerimaan, dan bendahara yang mengurus semuanya," Karin menggeser kursi di hadapan meja kerja Sasuke dan duduk dengan santai.

"Aku tidak melihat Haku belakangan ini, kemana dia?" Sasuke meraih bolpen di atas meja kerjanya dan mulai membuatnya menari di atas kertas proposal.

"Bendahara sedang sibuk mengurus kontrak dengan sponsor bersama Divisi Marketing," Karin memilin rambut merahnya yang panjang sebelah.

"Tujuh proposal ini mendadak sekali, berapa persentase keberhasilan ketujuh-tujuhnya di-ACC?" Sasuke menatap Karin, mengalihkan pandangannya dari proposal-proposal di hadapannya yang menunggu untuk ditandatangani.

Karin mengangkat bahu, "Entahlah. Mungkin delapan puluh, tidak, tujuh puluh persen."

"Jadi maksudmu satu dari tiap proposal ini hanya memiliki peluang sepuluh persen?" Sasuke mengerutkan keningnya, mulai tak suka dengan situsai seperti ini.

Karin balas mengerutkan kening, "Tentu saja tidak. Kalau kau melihatnya dengan cara demikian, berarti kau mengharapkan kemungkinan tujuh ratus persen untuk semua proposal mencapai goal."

Sasuke tersentak. "Ah, benar juga," Sasuke memijit keningnya, "Maaf, aku sedikit hilang arah."

Karin menepuk meja cokelat dari kayu oak yang memisahkan dirinya dengan Sasuke, "Ada apa denganmu? Seperti bukan dirimu saja. Kemana pikiranmu berkelana?"

Sasuke tertegun, "…"

Karin memasang tampang bingung, menunggu penjelasan Sasuke.

"Semua sudah kutandatangani, silahkan selesaikan pekerjaanmu," Sasuke menyodorkan tumpukan proposal ke arah Karin.

Karin tak menyembunyikan kekesalannya, "Kau menghindar dari pembicaraan kita," ujarnya sengit.

"Aku tidak menghindar. Lebih dari itu, tak ada alasan bagiku untuk membiarkanmu ikut campur dalam masalah pribadiku," tandas Sasuke.

Detik berikutnya sekretarisnya itu menghilang dari hadapannya dengan sedikit jengkel.

Suara ketukan di pintu terdengar sayup sebelum pintu besar dari kayu mahoni itu terbuka dan memunculkan sesosok gadis berambut pirang yang dikuncir empat dari balik pintu, menenteng sebuah map besar berwrna hijau. Sasuke mengangkat kepalanya dan bertatap muka dengan wakilnya itu.

"Aku sudah membaca proposal dari klub Astrologi," Sasuke membuka suara.

Temari, sang Wakil Ketua, mengangguk sebelum cepat-cepat menghampiri meja kerjanya di sebelah kanan meja kerja Sasuke.

"Aku akan mendampingi Divisi Marketing utnuk menghadap tujuh calon sponsor baru kita. Karin sudah kesini? Sudah minta tanda tangan?" Temari berujar dengan terburu-buru. Tangannya dengan cekatan mengumpulkan beberapa lembar kertas dan buku catatan kecil dari atas mejanya dan memasukkannya ke dalam map hijaunya.

"Dia sudah kemari," Sasuke menjawab, takjub melihat wakilnya itu secepat kilat mengemasi barang-barangnya ke dalam map dan tasnya sambil menyambar jas OSIS-nya.

"Aku sedikit jengah dengan tingkah si Lee itu yang sepertinya membuat tugas marketing jadi seperti main-main saja. Kau sudah dengar kalau dia menyanyi karaoke di depan calon sponsor untuk 'menarik perhatiannya—dalam versi dia'?" Temari menoleh pada Sasuke, memutar bola matanya.

"Wow, belum," Sasuke sedikit antusias. Anak buahnya yang satu itu—Lee, memang senang melakukan hal yang aneh-aneh semacam itu.

"Kalau dia gagal aku pasti marah habis-habisan. Tapi dia berhasil. Kau percaya? Berhasil! Aku heran dengan cara pandang orang tua yang kolot, mungkin sedikit hiburan untuk hari-hari mereka yang menjemukan semacam itu membuat hati mereka tergugah," Temari mengangkat bahu.

"Kalau dia memang sepayah kelihatannya, aku tidak akan mengangkatnya menjadi ketua Divisi Marketing," Sasuke menarik sudut bibirnya. Temari tertawa dan bergegas menuju pintu dan melambaikan tangan sekilas.

Sasuke kembali menekuni pekerjaannya. Tiba-tiba saja pikiran itu terlintas di kepalanya.

'Mungkin duniaku lebih berwarna dari duniamu."

Senyum tipis tersungging di wajah Sasuke. Untuk yang kesekian kalinya ia mendapati dirinya terpesona dengan cara pandang Sakura, gadis yang baru ditemuinya sejak dua hari itu. Banyak hal yang menarik di dunia ini, yang selama ini dilewatkannya. Sakura telah mengajarinya banyak hal, termasuk untuk lebih menikmati hidup dan melihat segala sesuatu dengan cara yang menyenangkan.

Detik berikutnya, sebuah pikiran yang ia sendiri tak pernah terbayangkan, terlintas di kepalanya.

'Seandainya aku bertemu dengan Sakura lebih dulu daripada dengan Hinata, kepada siapa aku akan jatuh cinta?'


Hinata mengetukkan jemari lentiknya di atas meja. Untuk yang kesekian kalinya ia menghela napas hari itu. Duduk di atas kursi kecokelatan sambil bertopang dagu pada lengan kursinya, menatap tabung-tabung percobaan di hadapannya.

"Hinata-san, ada yang menggangu pikiranmu?" sebuah suara membuatnya tersentak.

Hinata menoleh ke arah sumber suara dan didapatinya Ino datang menghampirinya dengan keranjang kue di tangannya. Kunjungan rutinnya ke ruang percobaan timnya sudah menjadi hal yang biasa. Ino datang dan membawa kue kering, bercakap-cakap dengan Sai, dan terkadang dengannya juga.

Rambut pirang panjang Ino dikuncir tinggi dan terjuntai hingga ke pinggul. Dalam setiap langkahnya ia melenggok dan rambutnya terayun. Walau tidak sangat cantik, tapi gadis itu cukup cantik.

Fakta yang lebih menarik perhatian Hinata saat ini adalah kenyataan bahwa gadis berambut pirang itu selalu bersikap baik padanya, walau yang bersangkutan mengharapkan kekasihnya, Sasuke. Dan tentu saja, selama ini Hinata pura-pura tidak tahu.

Suatu perasaan berkecamuk dalam diri Hinata. Ia tahu tak seharusnya ia bermain licik. Dan ia juga bukan orang yang kotor semacam ini, tapi rasa kuat tak mau kehilangan Sasuke mendorongnya untuk terjerumus dalam siasat kotor yang mungkin akan disesalinya kelak.

Namun Hinata lebih memilih untuk bertaruh. Kehilangan Sasuke karena gadis berambut merah muda yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan asmaranya dengan Sasuke itu, atau mengotori tangannya sendiri.

"Ino," Hinata membuka suara. Sekuat tenaga membulatkan tekadnya, "kalau tidak salah, kau pernah bercerita kalau kau ikut bergabung dengan sebuah klub informal tentang Astrologi?"

Ino tak menyembunyikan rasa terkejutnya. Tak biasanya Hinata menaruh minat pada hobinya yang satu itu. Ia tahu benar kalau Hinata bukan tipe orang yang peduli pada hal-hal yang baginya tidak realistis. Dunia Hinata adalah dunia tentang angka. Semua hal ada nilai dan kepastiannya. Astrologi hanya sampah di matanya.

"Sasuke mendaftarkan klub Astrologi di kota ini untuk festival sekolah dua minggu lagi," Hinata menangkap isyarat kalau Ino merasa ada sesuatu yang tak beres, sehingga ia buka suara lagi untuk menghapuskan kecurigaan Ino.

"Oh? Ah, begitu?" Ino sedikit membelalakkan matanya.

"Kau tidak tahu?" Hinata mengangkat sebelah alisnya.

Ino diam sejenak, "Seharusnya aku tahu. Aku dekat dengan Ketua klubnya, tapi kenapa dia tidak memberitahuku, ya?" Ino berbicara sendiri.

Senyum tersungging di sudut bibir Hinata dan dalam sekejap saja menghilang, "Mungkin kau diabaikan oleh Ketua klubmu itu?"

"Tidak mungkin, Sakura bukan orang seperti itu. Mungkin dia lupa atau semacamnya," Ino tertawa hambar. "Ah, mungkin dia sibuk. Sibuk mengurus kontrak dengan OSIS untuk festival itu," Ino menggerakkan kedua tangannya untuk memperkuat argumentasinya itu. Namun Hinata menangkap keraguan dari kata-katanya.

"Oh…" Hinata mengangguk. Ino menghela napas, ia sendiri tak yakin dengan apa yang dikatakannya, namun melihat seseorang yang pandai seperti Hinata saja mengiyakan pendapatnya, hal itu pastilah benar.

"Tapi sepertinya dia punya banyak waktu luang untuk makan siang dengan Sasuke."

—Rupanya tidak.


Suasana café Au Revoir tampak tenang seperti biasa. Tidak begitu banyak pengunjung, namun tidak juga sepi. Tempat yang menjadi markas perkumpulan klub Astrologi untuk beberapa minggu ke depan itu memiliki suasana yang tenang dan nyaman.

Sakura tengah mengecek daftar yang diberikan Shikamaru padanya tentang barang-barang yang akan dipamerkan dan dijual pada stand astrologi mereka untuk festival yang akan datang, ketika lonceng kecil di atas pintu berdentang. Sakura membalikkan badannya, bersiap untuk menyambut kawan karibnya yang baru saja datang.

"Kenapa aku baru diberitahu?" tiba-tiba Ino mencecar dengan gusar.

Sakura mengerutkan keningnya, "Eh?"

"Tidak usah sok polos. Aku sudah tanya Tenten dan Kiba, mereka sudah tahu. Bahkan Shikamaru paling tahu duluan. Kenapa cuma aku yang diberitahu di detik-detik terakhir??"

Sakura makin mengernyitkan keningnya. Ia dan Ino memang sering bertengkar karena hal-hal sepele. Dengan begitulah mereka bisa menjadi akrab dan dekat. Orang bilang semakin serimg bertengkar maka hubungkan akan semakin erat. Namun Ino yang ada di hadapannya kini terlihat sangat gusar.

"Ino, duduk dulu," Sakura menunjuk kursi di hadapannya.

"Kau tidak memberitahuku karena ini berhubungan dengan Sasuke, kan?"

Sakura menghela napas. Ia tahu, cepat atau lambat ini akan terjadi. "Dengar Ino, aku tidak mau kontrak kerja klub kita terganggu dengan perasaanmu padanya. Kontraknya baru dimulai kemarin, aku memberitahu Tenten dan Kiba untuk mempersiapkan dekorasi, Shikamaru kuberitahu untuk mendata barang-barang klub kita. Kau belum kuberitahu karena kupikir toh kita akan bertemu hari ini, sekalian kita bahas teknisnya," Sakura menghela napas sejenak.

"Lagipula kemarin waktu Temari membawaku pada sang Ketua OSIS, aku sama sekali tidak tahu bahwa dia adalah orang yang kau sukai selama satu setengah tahun ini. Aku sendiri kaget, sungguh!" lanjut Sakura berusaha meyakinkan Ino.

Ino mengerutkan keningnya, otot-otot di wajahnya menegang, "Jangan mungkir! Kau bahkan mengajaknya ke pertemuan klub dua hari lalu! Kiba, Tenten, Shikamaru dan Chouji bisa jadi saksi!"

Sakura memutar bola matanya, "Aku tidak mengajaknya, dia sendiri yang mau ikut. Lagipula saat itu aku tidak tahu siapa dia. Temari bahkan belum bilang apa-apa padaku soal festival itu."

"Pantas saja kau melarangku ikut, rupanya ada dia," Ino berujar sengit.

"Apa maksudmu?! Kau sedang flu, sudah sepantasnya aku sebagai temanmu untuk melarangmu keluar rumah sampai kau sembuh benar. Dan sudah kukatakan, saat itu kontrak belum muncul, dan aku tidak tahu kalau Sasuke itu adalah orang yang kau sukai!" Sakura mulai gusar, tak senang dengan perlakuan Ino padanya yang tak mau mendengar penjelasannya sama sekali.

"Oh, hentikan drama ini, Nona," Ino melipat kedua tangannya di dadanya, menyunggingkan senyum sinis, "siapa yang percaya kata-katamu?"

"Apa maksudmu?" Sakura mulai meninggikan suaranya.

"Bagaimana kau bisa kenal dengan Sasuke saja sudah mencurigakan, tahu? Chatroom? Bohong benar. Non-sense besar. Aku tak percaya kebetulan macam itu."

Sakura meletakkan bolpen di tangannya dengan kasar di atas meja, "Kalau kau berkata tentang kebetulan, aku sendiri tak percaya. Berkenalan dengannya di room kita, tiba-tiba bertemu di swalayan, makan siang dengannya bersama anggota klub kita, dan berakhir sebagai rekan kerja dengan sangat mengejutkan. Kau pikir aku sendiri tidak kaget?"

Ino menatap Sakura tajam, "Jadi maksudmu semua yang terjadi adalah takdir? Takdirmu untuk bertemu dengannya? Lalu apa? Menjalin kasih dengannya? Memuakkan."

Sakura mengerutkan keningnya, tidak senang mendengar ucapan Ino, "Jangan mengambil kesimpulan seenaknya. Aku sudah bilang ini tidak lebih dari sekedar hubungan kerja. Bersikaplah profesional sedikit!"

"Profesionalisme macam apa yang kau maksud? Makan siang dengannya? Jangan kau pikir aku tidak tahu kau makan siang diam-diam dengannya kemarin. Tujuanmu dari awal memang mengencaninya!" Ino meninggikan suaranya.

"Aku tidak makan siang diam-diam. Dan aku tidak mengencaninya," Sakura menatap Ino dalam-dalam. "Kemarin itu kebetulan saja dia belum makan siang dan mengajakku. Kau tahu sendiri aku tak pernah menolak ajakan makan dengan siapapun. Dan kami makan siang sebagai teman, sekaligus rekan kerja," Sakura memberi penekanan pada kata-katanya.

"Kau tahu sendiri aku suka padanya tapi menggodanya!" Ino kembali meninggikan suaranya.

"Jangan sembarangan!" Sakura bangkit berdiri. "Aku tidak pernah menggodanya! Yang aku tahu adalah kau menyukai Ketua OSIS di sekolahmu. Mana aku tahu kalau yang kau maksud itu adalah Sasuke. Aku bahkan tidak tahu kalau kalian satu sekolahan!"

"Detik ketika kau melihatnya di ruang OSIS itu adalah detik seharusnya kau tahu apa yang harus kau lakukan. Ketua OSIS yang kusukai itu adalah Sasuke. Seharusnya kau paham untuk tidak mendekatinya. Kau sama sekali tidak menghargaiku sebagai temanmu!" kekesalan Ino memuncak. Tak peduli kini ia dan Sakura menjadi pusat perhatian pengunjung café yang sedikit itu.

"Jangan mendikteku tentang apa yang harus kulakukan dan tidak," Sakura menukas tajam, "aku tidak merasa harus menjauhinya hanya karena salah satu temanku suka padanya. Dia berhak berteman dengan siapa saja. Aku juga begitu."

"Tidak ada teman yang makan siang bersama," Ino membalas Sakura dengan tatapan tajam.

"Jangan konyol, kau sendiri makan siang dengan laki-laki bernama Sai itu hampir setiap hari. Memberi harapan padanya padahal kau suka pada orang lain," Sakura menarik sudut bibirnya. Seketika ia merasa menyesal telah mengucapkan hal itu.

"Kenapa jadi membawa nama Sai? Ini tidak ada hubungannya dengan dia! Ini tentang kita. Kau sama sekali tidak menghargaiku sebagai sahabatmu. Sebagai seorang sahabat seharusnya kau mengutamakan aku, bukan egomu!"

"Kalau kau memang sahabatku, seharusnya kau mengerti aku. Tidak mempermasalahkan apa aku dekat dengan orang yang kau sukai atau tidak. Lagipula kalau kau mau cemburu, sebaiknya simpan rasa cemburumu itu untuk pacarnya, bukan aku penghalang bagimu! Pacarnya itu yang mengekangnya!"

Ino mengerutkan keningnya, "Kau tidak pantas bicara begitu tentang Hinata-san!"

" 'Hinata-san' ? Begitu caramu memanggilnya?" Sakura meledek.

"Aku salah sudah mempercayai orang sepertimu. Kenapa aku menganggapmu sebagai sahabatku selama ini? Ya Tuhan, aku buta! Kau sama sekali tidak tahu arti dari persahabatan. Kau seharusnya lebih menghargai sahabatmu. Kau tahu aku suka pada Sasuke tapi kau terus saja mendekatinya, itu yang namanya sahabat? Persahabatan tidak akan goyah hanya karena seorang laki-laki, kau tahu? Seharusnya kau mengalah!"

Sakura mengerutkan keningnya, "Apa-apaan ini? Pembicaraan menjadi tidak jelas begini."

"Dasar pagar makan tanaman!" Ino menggebrak meja di hadapan Sakura dan membalikkan badannya menghampiri pintu keluar dengan langkah kasar.


"Sakura…" Tenten membuka suara dengan hati-hati.

Sakura mendongakkan wajahnya, bertatapan dengan gadis berambut cokelat yang baru muncul. "Hai Tenten, kau melewatkan hal yang seru," Sakura tersenyum miris.

Tenten menghela napas, sedikit enggan ia duduk di hadapan Sakura. Dipandanginya ruang café yang lengang. Matahari sudah tenggelam beberapa menit lalu. Lampu-lampu gantung di atas ruangan dihidupkan dan memberi kesan sedikit temaram dan hangat.

"Aku tidak mengerti," Sakura membuka suara, memainkan bolpen di tangannya, "kenapa semua jadi begini," lanjutnya pelan.

Tenten menelan ludah, sedikit ragu diucapkannya juga hal yang ia tahan sedari tadi, "Ng… Sakura… Kurasa aku tidak berhak ikut campur. Tapi… kurasa Ino ada benarnya."

Sakura terkejut, ditolehkan kepalanya pada Tenten yang tampak kesulitan mencari kata-kata. "Maksudmu?"

"Aku sendiri kaget bukan main mengetahui ternyata Sasuke adalah orang yang disukai Ino dan selalu disebut-sebut olehnya selama ini di pertemuan klub. Tapi aku tidak akan ikut campur masalah perasaan Ino terhadap Sasuke maupun perasaanmu terhadap Sasuke atau sebaliknya."

Sakura menatap Tenten dalam, tak mengerti kemana arah pembicaraan ini menuju.

Tenten menelan ludah sebelum kemudian melanjutkan, "Masalahnya adalah Sasuke sudah punya pacar. Aku dengar begitu dari Ino."

"Lalu?" Sakura mengerutkan keningnya.

Tenten menghela napas, "Sakura… kau bukan seperti dirimu saja. Sasuke sudah punya pacar. Tidak seharusnya kau dekat-dekat dengannya."

Sakura menggelengkan kepalanya, raut mukanya menunjukkan keputusasaan, "Apa maksudmu? Aku hanya berteman dengannya, apa itu salah?"

"Aku percaya itu. Tapi tidak dengan orang lain. Apa kau tahu apa yang disebarkan gadis bernama Karin itu? Temanku yang sekolah di sekolah mereka bilang, gadis bernama Karin itu menyebarkan isu yang buruk tentang hubunganmu dengan Sasuke. Kau tahu sendiri kabar burung menyebar dengan cepat, melesat bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya. Bukan tidak mungkin dalam waktu dekat semua orang akan menganggapmu tukang rebut pacar orang lain."

"Siapa juga itu Karin? Aku tidak kenal dia, kenapa dia ikut campur?" Sakura meninggikan suaranya sedikit.

"Kau tahu benar bukan itu masalahnya, kan. Kudengar Sasuke itu sangat terkenal dan digilai banyak wanita di sekolahnya. Wajar saja banyak yang merasa kesal padamu."

"Iri," Sakura tertawa hambar. "Itulah masalahnya. Orang-orang itu hanya iri mendengar fakta kedekatanku dengan Sasuke. Mencari berbagai alasan untuk membenciku, berkata kotor tentangku. Yang bahkan tak mereka kenal sama sekali. Siapa mereka untuk menghakimiku? Siapa mereka untuk menilaiku? Mereka hanya kecewa tidak berhasil mendapatkan Sasuke dan menimpakan kelemahan dan ketidakberdayaan mereka dengan membenciku."

Tenten mengangguk, "Itulah. Masalahnya Sasuke adalah orang yang tak biasa. Dekat dengan orang terkenal seperti itu tentunya membawa masalah."

"Yang benar saja," Sakura mengurut keningnya, "kalau gadis-gadis tukang gosip itu memang sebegitu tidak senangnya melihat 'Sasuke-mereka' dekat dengan gadis lain, seharusnya mereka membenci Hinata. Hinata kan pacarnya! Sementara aku hanya orang lain, temannya. Tak lebih. Lalu kenapa aku yang dibenci??"

"Itu karena mereka telah pasrah pada hubungan Sasuke dengan Hinata. Mereka tak bisa berbuat apa-apa tentang hal itu. Ada tali penghubung tak tampak yang erat di antara mereka, yang tak mungkin seorangpun mampu memutuskannya. Mereka pasrah dan menelan kekecewaan, gagal mendapatkan orang yang mereka puja sepenuh jiwanya itu," Tenten menghela napas sejenak. Tampaknya temannya yang ia katakan bersekolah di tempat yang sama dengan Sasuke itu memberinya banyak informasi.

"Tapi kemudian kau muncul. Muncul begitu saja tanpa peringatan apapun, dan menempati posisi yang kuat di mata Sasuke. Seolah kau ini istimewa baginya. Tentu saja para gadis itu sangat berang. Mereka yang bertahun-tahun memuja Sasuke dan hanya mampu melihat sosoknya dari jauh, tiba-tiba harus mengaku kalah darimu yang tiba-tiba saja muncul tiga hari yang lalu," lanjut Tenten lagi.

Sakura menatap Tenten dengan pasrah, "Aku mengerti kau mempedulikanku, tapi kau lupa tentang dua hal yang utama. Pertama, kita masih punya kontrak kerja dengannya. Aku tidak mungkin menghindarinya. Dan kedua, sejak kapan aku peduli pada kebencian orang terhadapku?"

"Mengenai kontrak kerja itu aku bisa mengerti, tapi yang kedua aku tidak setuju," Tenten mengepalkan tangannya, meremas ujung baju terusan merah mudanya yang bergaya Cina. "Kau memang tahan terhadap celaan orang lain, tapi jangan lupa dengan Hinata! Itu nama pacar Sasuke kan? Hinata?"

"Ada apa dengan Hinata?" Sakura mengerutkan keningnya.

"Ada apa katamu? Ya Tuhan Sakura, kau tak sadar telah melukainya? Kau mendekati pacarnya di saat dia tidak ada. Di saat dia mengejar mimpinya dan berharap membagi kebahagiaan menunjukkan keberhasilannya pada pacarnya itu kelak. Tapi kau tiba-tiba muncul di antara mereka dan membuat Sasuke mulai berpaling darinya," Tenten mendesis, suarnya sedikit terpekik menahan apapun emosi dalam dadanya.

"Siapa yang mencuci otakmu? Ino? Karin? Atau mungkin si Hinata itu?" Sakura menatap Tenten dengan pandangan tak percaya.

Sakura menarik napas sebelum kembali berujar, "Kau tahu benar aku tidak pernah merayu atau mendekati Sasuke seperti yang mereka katakan. Kami hanya berteman, mengobrol, merasa nyaman dengan keberadaan masing-masing. Kalau dia mulai menjauh dari pacarnya, itu bukan salahku!

"Seharusnya si Hinata itu tahu benar kalau pacarnya itu sangat tampan dan digilai banyak wanita. Seharusnya ia menjaga baik-baik pacarnya itu. Kalau Sasuke merenggang dengannya, itu bukan salahku! Aku tidak pernah memintanya begitu, aku tidak pernah berkata buruk soal pacarnya, aku tidak pernah menggodanya. Lalu kenapa ini tiba-tiba saja jadi salahku??" Sakura mengibaskan tangannya di udara, gejolak emosi di dadanya memuncah.

"Aku tahu, aku tahu, Sakura. Kau hanya berteman dengan Sasuke. Tapi kau harus memikirkan perasaan Hinata," Tenten memelankan suaranya, berusaha menenangkan Sakura.

"Kau menyuruhku memikirkan perasaan Hinata, tapi kau sama sekali tidak memikirkan perasaanku!"

Tenten dapat menangkap bola mata hijau emerald yang biasanya bersinar terang itu tampak muram, dengan rasa sakit terpancar darinya. Ia menelan ludah. Kelu.

"…Yang kutakutkan… adalah kau jatuh cinta padanya," Tenten bersuara dengan sedikit tercekat, "karena bagaimanapun, kaulah yang akan terluka pada akhirnya."

Kali ini giliran Sakura yang tak mampu berkata-kata.

.

.

TBC


Apakah firasat Tenten itu benar? Benarkah semuanya akan berakhir menyakitkan bagi Sakura? Atau mungkin bagi Hinata? Bagaimana dengan Sasuke?

Duduk manis dan tunggu jawabannya segera.. *ditampol*

.

ETA: Typo-error & paragraph-cutting sudah dikoreksi.

Chapter ini nyampe lebih dari 6000 kata, jadi saya agak malas mem-proof-read sebelumnya :p

.

Saatnya membalas komentar dari reviewer non-login di chapter lalu:

Mugiwara Piratez: Makasih sarannya :)

Dalam chapter ini saya ga fokus pada Sasuke-centric seperti baisanya, tapi berpindah-pindah centric. Mengingat chapter ini banyak 'aksi'-nya.. ^^

Nanti di chapter yang akan datang mungkin ada satu chapter khusus Sakura-centric :)

Risle Coe: Di chapter 2 Sakura bilang 'Pacarnya menghilang' kan? Kemanakah ia? Siapakah ia? Tunggu jawabannya di chapter depan~ ^^ *dilemparin tomat*

Naru-mania: Udah update nih ;)

Endingnya masih rahasia hehe~ *kabur* :p

Hellsins: Kamu pernah ngerasain pacar kamu 'direbut' orang kah? Sabar aja yaa *tepok-tepok*

Kaori aka Yama: Iya makanya di chapter 1 dulu dikasi warning OOC.. ^^;;

Tapi saya sertakan juga Warning-nya di chapter ini lagi deh, biar readers ga shock. Trims himbauannya ;)

Tanpa Nama: Met datang kembali ^^

Dibilang dari pagi ampe sore juga, karena diselingi banyak hal. Baca doujin, nonton dvd, makan, minum, etc, soalnya mood naik turun. lol (lap keringet)

Tentang 'pertarungan' Hinata vs Sakura yang kamu nantikan, saya buat jadi begini. Mudah-mudahan ga mengecewakan..

Saya rasa Hinata bukan tipe yang akan melakukan kombat secara langsung layaknya gadis tangkas. Kepandaian, ketenangan, dan cara pandangnya yang dibesarkan sebagai gadis ningrat (dalam fic ini) membuatnya lebih fokus dalam mengatur siasat dan memanfaatkan situasi, untuk menyingkirkan lawan—dalam hal ini yaitu dengan memanfaatkan Ino— daripada melawan Sakura yang ahli dalam bersilat lidah secara langsung. *lap keringet*

All in all, untuk semua yang sudah berkomentar, Terima kasih banyak! ^^