Judul: Little Fire on the Candle

Sub-Judul: Still Unspoken

Fandom: Naruto

Disclaimer: Masashi Kishimoto

WARNING: AU, OOC-ness

Pairing: SasuHina, SasuSaku

NOTE: Semua tokoh di sini bereaksi sesuai karakterisasi mereka yang ada dalam kepala saya (yang merujuk pada Warning, mengandung unsur OOC-ness), dan berbicara/bertindak sesuai situasi yang mereka hadapi. Dengan kata lain, tidak ada niat menjelekkan pihak manapun dalam fic ini maupun fic saya yang manapun.

Bagi saya semua masih dalam konteks kewajaran dan masuk akal sebagai peran antagonis (antagonis bukan berarti jahat, melainkan berada pada posisi yang berlawanan dan/atau berbenturan dengan tokoh utama).

Jadi saya harapkan, mulai sekarang dan untuk ke depannya, bila saya terkesan membuat seorang tokoh bersikap buruk atau semacamnya, tolong ingat kembali hal ini ya. Mohon kerja samanya :)

Without further ado, here we go…


Little Fire on the Candle

( Act 6: Still Unspoken )


.

Sakura melangkahkan kakinya dengan langkah terburu menyusuri lorong kelas yang asing baginya. Tangannya penuh dengan tumpukan kertas dan map merah bening. Suara pantulan hak pendek sepatu pantofelnya beradu dengan lantai keramik sepanjang lorong, hingga ia berhenti di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu mahoni cokelat tua. Menghela napas sebentar, ia mengetuk pintu itu. Sekali, lalu dua kali.

"Masuk," suara di dalam terdengar cukup samar, namun cukup terdengar oleh Sakura. Tangannya segera menggenggam kenop pintu dan membukanya perlahan.

Masuk ke dalam ruangan yang cukup luas itu, Sakura mendapati Sasuke tengah duduk di balik meja bundar besar yang terletak di tengah ruangan. Di sekelilingnya duduk panitia OSIS lainnya memutari meja bundar itu.

"Kau cukup tepat waktu, silahkan duduk."

Sakura menatap Sasuke yang tampak menyunggingkan sedikit senyum padanya. Sakura mengangguk sembari tersenyum dan menghampiri meja besar itu.

"Telat empat menit dua puluh detik," sebuah suara tegas menyeruak.

Sakura menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Seorang wanita berambut merah berkacamata bingkai cokelat tengah menatapnya dengan tajam.

"Maaf, butuh waktu tiga puluh menit bagiku untuk datang kemari," Sakura membungkukkan badannya sedikit, menarik kursi di seberang Sasuke dan duduk dengan sedikit canggung.

Gadis berambut merah itu membetulkan letak kacamatanya, "Ya, tentu saja."

Sakura mengerutkan keningnya, tak mengerti maksud dari gadis itu. Mencela? Atau bergurau?

"Seperti yang kukatakan di telepon, ada sedikit perubahan rencana," Sasuke membuka suaranya. Seketika semua perhatian semua orang dalam ruangan itu tertuju padanya. "Dewan murid mendesak kita untuk mengadakan seminar sebelum festivalnya dimulai. Bagi mereka festival hanya sekedar buang-buang uang saja," lanjut Sasuke.

Sasuke menatap anak buahnya satu persatu, dan kembali melanjutkan, "Seminar yang dituntut untuk segera dilaksanakan ini harus kita laksanakan darurat. Aku dan Temari sudah berdiskusi tadi malam. Sayang sekali kita tidak punya event planner untuk festival ini, dan mengurus seminar hanya akan merepotkan saja. Tapi apa boleh buat, keinginan Dewan Murid adalah mutlak. Tidak akan ada festival jika kita tidak melaksanakan seminar."

Semua peserta rapat di ruangan itu berkasak-kusuk. Terkejut, sekaligus kesal.

"Mereka suka sewenang-wenang, Dewan Murid itu!" seorang pemuda berambut bob hitam mendengus, mengepalkan tangannya.

Sakura menggigit bibir bagian bawahnya, merasa sebagai orang luar yang tak mengerti apa-apa dan berada di tempat yang tidak seharusnya.

"Karena itu, Sakura," suara rendah namun tegas milik Sasuke kembali menyeruak, "kau dengan sekretarisku akan mengurus seminar itu," sambung Sasuke.

"Eh??" Sakura tak menyembunyikan rasa terkejutnya.

Temari melambaikan tangannya, "Tenang saja, kau hanya akan menjadi panitia dadakan—event planner untuk seminar itu, sementara yang lainnya mengurus persiapan festival. Kita butuh lebih banyak tenaga untuk berkonsentrasi pada festival. Seminar hanya sebagai formalitas, sampingan. Tidak perlu terlalu bagus, yang penting cukup menarik dan tidak membosankan."

"Mana ada seminar yang tidak membosankan?" pemuda berambut bob hitam tadi menyeletuk lagi. Temari mengirimkan tatapan tajam padanya hingga pemuda itu berkeringat dingin dan terkekeh minta maaf.

"Bagaimana, Sakura? Kau akan dibantu juga oleh beberapa staf yang tidak terlalu sibuk. Bersedia?" suara Sasuke kembali terdengar.

Sakura mengerutkan keningnya, "Tapi aku kan orang luar?"

"Bukan masalah," Sasuke menjawab tegas. "Aku sudah membaca proposal klubmu, kau cukup berpengalaman dan kunilai kau juga berpotensi. Sejak awal, festival ini juga bukan acara resmi dari sekolah, orang luarpun boleh turut andil demi kesuksesannya."

Sakura tampak berpikir, tak menyahut untuk sejenak.

"Aku yang akan bertanggung jawab untukmu," Sasuke menambahkan, dengan segaris senyum tipis.

Sakura sedikit tersentak dengan perkataan Sasuke itu. Dilihatnya pemuda berambut hitam itu tampak sungguh-sungguh dengan ucapannya. Setelah berpikir sekian detik, ia menganggukkan kepalanya walau dengan sedikit ragu, "Baiklah. Aku akan berusaha sebaik mungkin," ia tak ingin mengecewakan harapan Sasuke.

Sasuke balas mengangguk, mengangkat sebelah tangannya dan mengarahkannya pada gadis berambut merah yang duduk di sebelah kirinya—gadis yang sama dengan yang tadi mengkritik keterlambatan Sakura, "Kalau begitu perkenalkan, sekretarisku, Karin. Kalian akan bekerja sama dalam beberapa waktu ke depan. Tidak secara langsung, tapi Karin akan membantumu menyiapkan proposal, surat, undangan, data, dan hal teknis lainnya yang kau butuhkan."

Sakura menatap gadis berwajah cantik dengan garis muka yang tegas itu. Dari raut wajahnya dapat disimpulkan bahwa ia tipe wanita yang akan melakukan segala cara untuk menunaikan tugasnya, tipe yang sangat berdedikasi tinggi pada pekerjaannya.

Gadis itu membungkukkan badannya sedikit, "Mohon kerjasamanya," ujarnya masih dengan gaya bicaranya yang penuh formalitas.

Seketika Sakura tersentak, otaknya mengulang memori yang sedikit samar.

Karin?

Karin katanya?

Orang yang sama dengan yang dikatakan Tenten kemarin??

Seketika Sakura menjadi pusing tujuh keliling. Dirasakannya kepalanya berputar kencang, 'Tuhan begitu senang mempermainkan aku'—pikirnya dan memutar bola matanya secara imajinatif.

"Karin, bantu Sakura semampumu," Sasuke menolehkan kepalanya pada gadis berambut merah yang dipanggil Karin itu. Gadis itu mengangguk dan menggumamkan 'Tentu saja' sambil melirik pada Sakura dengan sudut matanya.


Sakura menghela napasnya. Banyak hal terjadi dalam seminggu ini, dan hal-hal mengejutkan terus saja bermunculan. Ia merasa seolah Dewi Takdir tengah bermain-main dengan nasibnya.

"Kalau sering mengeluh begitu kau jadi seperti nenek-nenek," sebuah suara tiba-tiba menyusup gendang telinga Sakura.

Sakura melebarkan kelopak matanya, menoleh pada sumber suara.

"Yo," Sasuke tengah berdiri di belakangnya dengan senyum tipis di bibirnya. Kedua pergelangan tangannya tersembunyi dalam kantung celana seragamnya.

Sakura kembali mengalihkan pandangannya pada mesin penjual minuman yang tengah ia hadapi, "Ah, mau beli minuman ya? Maaf, aku bakal cepat," segera ia memasukkan uang koin bernominal 160 yen ke dalam selot mesin penjual minuman otomatis itu. Cepat ia menekan tombol untuk sekotak teh manis dingin.

KLEK

Sakura membungkukkan badannya dan meraih teh manisnya sembari melangkah ke samping mesin itu, memberi ruang bagi orang di belakangnya, "Silahkan."

Sakura sudah hendak melangkah pergi ketika suara itu kembali terdengar, "Ada apa denganmu?"

Langkah kakinya terhenti.

"Kau tampak tidak seperti biasanya," Sakura merasakan seseorang mendekat padanya. "Ada apa?" suara falsetto yang dengan caranya sendiri mampu membuat siapa saja tak mengalihkan perhatian selain padanya kembali mengusik telinga Sakura.

Sakura menghela napas, menatap pemuda itu melalui bahunya, "Ada banyak hal terjadi dalam empat hari ini. Betul-betul aneh," Sakura berujar.

Sasuke, sosok di belakangnya itu, menepuk pundaknya, "Kau pasti letih dengan pekerjaan yang tiba-tiba ini. Luangkan juga waktumu untuk sedikit beristirahat."

Sakura menggeleng, "Bukan, bukan masalah pekerjaan."

"Lalu?" Sasuke menatapnya heran.

Sakura mengangguk kini, "Yaa itu juga sih. Tapi ada hal-hal lainnya yang membuatku sedikit… apa ya, merasa tertekan. Seperti itu."

Sasuke mengerutkan keningnya, memiringkan kepalanya sedikit dan membuatnya terlihat imut—untuk wajah stoic-nya itu. Raut mukanya dengan jelas menunjukkan bahwa ia meminta penjelasan lebih gamblang.

"Hm, kau tahu," akhirnya Sakura memutuskan untuk angkat bicara, "mungkin sebaiknya kita tidak terlalu sering bersama."

Sasuke tak menyembunyikan keterkejutannya, "Kenapa?"

Sakura membalikkan badannya, berhadapan langsung dengan pemuda berparas tampan itu, "Ada banyak berita buruk beredar tentang kita, memangnya kau tidak tahu??" Sakura sedikit kesal.

Ia tahu benar bahwa tidak mungkin Sasuke tidak mengetahui apa-apa. Sekolah ini adalah tempatnya menuntut ilmu, menjejakkan kaki setiap hari. Hampir delapan puluh persen waktunya dalam seminggu dihabiskan di sini selain untuk tidur di rumahnya. Tidak mungkin ia tak tahu apa-apa.

"Apa itu mengganggumu?"

"Eh?" kini malah Sakura yang terkejut. Memandangi pemuda itu dengan tatapan heran. Tak mengerti maksud kata-katanya yang singkat dan tegas itu.

"Apa kabar burung semacam itu mengganggumu?" ulang Sasuke.

Sakura mengerutkan keningnya, tak mengerti kemana arah pembicaraan ini menuju. Ditatapnya raut muka Sasuke, namun tak ditemukannya petunjuk apapun, "Apa maksudmu?" akhirnya ia bertanya.

"Apa kau merasa terganggu hingga tidak mau lagi berada dekat denganku?" ulang Sasuke lagi, lebih memberikan penekanan pada setiap katanya.

Sakura menggeleng cepat, "Tidak, bukan begitu," Sakura menghela napas, "aku tidak pernah mempedulikan apa kata orang—maksudku aku memang peduli, tapi jika hal itu adalah sesuatu yang negatif dan kurasa tidak benar, aku lebih memilih untuk tidak peduli."

"Lalu? Apa masalahmu?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya.

Sakura menggerakkan kedua tangannya, "Ya Tuhan Sasuke, apa kau tidak mengerti? Semua orang membicarakan kita, mengatakan hal yang tidak-tidak tentang kita. Ini akan merusak reputasimu, dan bukan tak mungkin pacarmu juga mendengar kabar burung ini. Apa kau tidak mempertimbangkan hal itu?" Sakura sedikit merasakan sesuatu bergolak dalam hatinya.

"Apa Temari pernah protes padamu?" Sasuke malah balas bertanya padanya.

Sakura mengerutkan keningnya, "Protes apa?"

"Apa dia pernah protes dengan kedekatan kita?"

Sakura menggeleng, masih bingung dengan maksud Sasuke.

Tiba-tiba dilihatnya segaris senyum terpoles di bibir Sasuke, "Kalau begitu tidak masalah. Semua orang yang protes tentang kedekatan kita, mereka semua hanya iri padamu. Buktinya lihat Temari. Dia tidak suka padaku, makanya dia tidak protes. Yang lain protes karena mereka hanya iri dan cemburu."

Sakura mengerjapkan kelopak matanya.

"Makanya," Sasuke mulai lagi, "tidak usah pedulikan mereka. Kita berteman baik, tidak ada yang berhak melarang. Aku senang denganmu, kau senang denganku. Sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan. Persetan dengan yang lainnya," ujarnya penuh ketegasan, dengan nada penuh percaya diri seperti yang selalu meluncur dari mulutnya.

Sakura mengerjapkan matanya lagi. Detik berikutnya tawa renyah menggema dari mulutnya.

"Kenapa tertawa?" Sasuke mengerutkan keningnya sedikit.

Sakura memegangi perutnya, air mata menggenang di sudut matanya efek dari tertawa, "Ya Tuhan, lihat dirimu, Sasuke. Sangat percaya diri begitu. Kau bicara ini-itu, intinya kau mau bilang kalau kau sangat dipuja oleh banyak orang. Dasar narsis!" dan iapun kembali tertawa.

Sasuke menarik sudut bibirnya, "Memangnya tidak?" guraunya menantang.

Tawa Sakura semakin keras menggema. Hatinya kini telah mantap untuk tak mengacuhkan desas-desus itu. Terserah orang mau berkata apa, toh ia dan Sasuke tahu benar kenyataannya, dan itu sudah cukup baginya.


Sakura tengah melangkah bersisian dengan Sasuke, menuju mobil Sasuke di pelataran parkir. Ia menggamit map merah bening di ketiaknya dan menjinjing map kotak di tangannya yang lain.

"Karena tema festival kali ini adalah Festival Bintang, idemu untuk mengadakan seminar yang berkaitan dengan Astronomi sangat kusukai."

Sakura tersenyum lebar pada Sasuke, "Hentikan pujianmu itu. Sudah yang ketiga kalinya kau bilang begitu!" ujarnya sedikit malu.

"Lho kenapa? Tindakanmu yang berdedikasi sangat patut mendapat penghargaan," Sasuke mengangkat kedua alisnya, pura-pura terkejut. Sakura tertawa dan memukul lengannya penuh canda.

Tiba-tiba sudut mata Sakura menangkap sesosok gadis berambut pirang panjang dengan ekor kuda yang menjuntai hingga ke pinggulnya di kejauhan.

Seketika dirasakannya jantungnya berdetak kencang. "Sa-Sasuke, lewat jalan sini saja yuk!" Sakura menggamit lengan Sasuke tanpa basa-basi dan menyeretnya menuju jalan lain yang sedikit memutar dari jalan utama menuju pelataran parkir. Sasuke sedikit bingung, tapi diturutinya juga permintaan Sakura itu.

Sakura melangkah lebih cepat, 'Gawat kalau Ino melihatku bersama Sasuke. Dia pasti akan makin salah paham'—Sakura mulai merasa tak mampu berpikir dengan tenang.

"Itu mobilku. Yang itu," Sasuke menarik lengan baju Sakura dan beranjak menuju sebuah mobil silver yang ditunjuknya sekilas. Sakura mengikutinya dari belakang.

Naik bersamaan ke dalam mobil, Sakura menarik napas lega. Paling tidak ia sudah lolos dari Ino dan rasa cemburunya yang hebat. Dapat dirasakannya Sasuke tengah memperhatikannya dari sudut matanya, entah apa yang dipikirkannya. Namun Sakura memilih untuk diam, tak membuka suaranya.

Detik berikutnya mesin dinyalakan dan Sasuke menginjak kopling, seraya sedikit demi sedikit melepaskan pijakannya dari kopling dan menginjak gas, memacu mobilnya meluncur maju dan menelusuri jalan pelataran parkir yang cukup penuh.

"Kau begitu lagi," tiba-tiba suara Sasuke memecah keheningan.

Sakura sedikit terkejut, "Eh?"

"Wajahmu. Menunjukkan ekspresi begitu lagi," Sasuke melirik pada Sakura, "sepertinya ada yang kau pikirkan."

"Tentu saja, kau pikir aku ini tipe happy-go-lucky yang tidak berpikir banyak dan dengan kedipan matanya saja semua hal disekelilingku berubah menjadi menguntungkan bagiku? Banyak hal yang ada dalam kepalaku tahu," Sakura menjawab setengah bercanda.

Sasuke melepaskan pandangannya dari Sakura dan menatap jalanan parkir di depannya, sebuah mobil lain berada di depan mobil yang mereka tumpangi dan menghambat laju, "Aku tidak suka," Sasuke membuka suara lagi. "Aku tidak suka pada ekspresimu yang seperti itu. Kau selalu terlihat larut dalam pikiranmu sendiri. Sesuatu dalam dirimu membuatku tidak tenang."

Sakura tak menyembunyikan keterkejutannya. Tak yakin dengan pendengarannya sendiri.

" 'Apa yang dia pikirkan?'—aku selalu bertanya seperti itu dalam hatiku, tentangmu. Aku tidak menyukai sesuatu yang tidak dapat kumengerti. Tidak seharusnya ada hal di dunia ini yang tidak kumengerti. Tapi kau," Sasuke terhenti sejenak, menatap kedua bola mata emerald Sakura.

"Kau membuatku menjadi seperti ini. Membuatku tidak pernah dapat melepaskan pandanganku darimu. Ingin melihat lebih banyak hal tentang dirimu. Hal-hal yang tidak kuketahui, hal-hal yang kau pikirkan, aku ingin mengetahuinya dengan usahaku sendiri. Aku terpikat dalam sekejap mata."

Sakura melebarkan kelopak matanya, pupil matanya mengecil. Sungguh sesuatu yang sangat mengejutkan ia mendengar semua kata-kata yang baru saja meluncur dari mulut sang pemuda tampan dengan pembawaan dingin dan tak acuh di sampingnya itu.

Sakura menatap pemuda itu dalam-dalam. Tak banyak yang ditemukannya. Pemuda itu tampak berkonsentrasi dengan jalanan di depan matanya. Entah apa yang barusan ia katakan itu sungguhan atau tidak. Namun satu yang pasti, apapun yang dikatakannya telah membuat jantung Sakura berdegup dengan kencang tanpa bisa dikontrol.

Apa ia sadar dengan apa yang telah ia katakan?—Sakura membatin dengan penuh gejolak perasaan yang tak dapat digambarkan hanya dengan lantunan kata.

Tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi berdecit, mengerem dengan mendadak. Sakura hampir tersungkur ke dashboard bila seatbelt tidak menopang tubuhnya. "A-Ada apa?!" pekik Sakura kaget.

Sasuke tak menyahut, menekan tombol power window-nya dan menjulurkan lehernya keluar jendela mobil, "Hei, hati-hati kalau mau menyebrang!"

Sakura mengalihkan pandangannya ke kaca depan mobil, dan disadarinya mereka masih berada di kawasan parkir sekolah. Betapa terkejutnya ia ketika yang ada di hadapannya adalah seorang gadis berambut pirang dengan kunciran menjuntai hingga ke pinggul—benar, Yamanaka Ino.

Dari sekian banyak orang di dunia ini yang menyebrang tanpa lihat-lihat, yang berpapasan dengannya, adalah Ino. Padahal tadi ia sudah berusaha menghindar dari Ino. Namun sekali lagi Dewi Takdir berkata lain.

Sakura tercekat. Ino menatapnya dengan sangat terkejut, tak kalah terkejutnya dengan Sakura.

Sasuke memandang Sakura dan gadis berambut pirang di depan mobilnya bergantian, "Kau kenal dia?" bisiknya.

"Sakura…" gadis berambut pirang sepinggul itu membuka suaranya yang tercekat.

Sakura menelan ludah, menurunkan kaca jendela di sampingnya, "I-Ino, aku bisa jelaskan ini. Aku dan Sasuke ada pekerjaan untuk menjumpai calon nara sumber untuk seminar—ah, kau belum tahu, pagi ini kami rapat dan rupanya kita harus menyiapkan sebuah seminar dadakan untuk beberapa hari lagi. Makanya sekarang aku—"

"Cukup," gadis berambut pirang itu menyela.

Lidah Sakura menjadi kelu, ia ingin berusaha memperbaiki hubungannya dengan sahabatnya itu, namun kesalahpahaman semacam ini malah berulang.

"Sampai nanti," dengan satu hentakan kaki gadis pirang itu meninggalkan Sakura yang masih belum sadar dari rasa terkejutnya.

.

Beberapa menit telah berlalu, namun tak satupun dari Sakura maupun Sasuke yang membuka suaranya. Sasuke terfokus mengemudi, dan Sakura larut dalam pikirannya sendiri.

"Yang tadi itu temanmu?" suara Sasuke menyeruak kesenyapan.

Sakura mengangguk pelan, "Teman dekatku. Sejak tahun pertama masuk SMA, dia anggota klub Astrologi juga," jawabnya sedikit lirih.

Sasuke melirik sekilas, raut wajah Sakura yang tampak kebingungan dan tertekan tak lepas dari sorot matanya. "Kalian ada masalah?"

Sakura memutar bola matanya, menatap Sasuke dengan tatapan seolah-kau-tak-tahu-saja.

"Jadi sekarang selain pihak luar yang mencela kedekatan kita, bahkan temanmu sendiri juga begitu?" Sasuke bertanya dengan raut muka yang tak dapat diprediksi mengenai emosi apa yang tengah dirasakannya.

Sakura menutup kaca jendela di sampingnya dan berujar, "Tak kusangka berteman denganmu bakal jadi begini menyusahkan."

Sasuke hanya menyahut dengan tawa kecil. Sakura mengerutkan keningnya, tak menemukan satu halpun yang dirasa lucu, dan menghela napas panjang.


Suasana ruangan bercat jingga itu tampak lengang. Sekelompok orang yang sesaat sebelumnya berada dalam ruangan kini telah menjejakkan kakinya menuju kantin untuk menikmati makan siang. Yang tertinggal di sana hanyalah seorang gadis berambut hitam keunguan dengan kedua bola mata peraknya, termangu di bingkai jendela.

"Tidak makan siang?" sebuah suara menyeruak keheningan.

Gadis berambut hitam itu menoleh pada sumber suara dan didapatinya seorang pemuda berambut emas tengah berjalan menghampirinya dengan dua kotak bento di tangannya.

"Aku tidak lapar…" jawab gadis berambut hitam dengan sedikit lirih.

Pemuda berambut emas itu semakin mendekat, menyodorkan salah satu kotak bento pada sang gadis, "Dari pagi kulihat kau tidak makan apa-apa. Makanlah sesuatu, jangan terlalu memaksakan diri, Hinata," pemuda itu memasang senyum lebar di wajahnya.

Gadis berambut hitam yang ternyata adalah Hinata itu menggeleng pelan, "Kubilang aku tidak lapar…"

"Kalau ini tentang gosip murahan itu, kau bodoh jika terpengaruh oleh hal semacam itu."

Hinata terperanjat, "A-Apa maksudmu?" ia tak menyembunyikan kekagetannya.

Pemuda berambut emas itu mengangkat bahunya, "Seluruh penghuni sekolah tak henti-hentinya bergunjing tentang pacarmu. Terutama anak perempuan, haus gosip mereka itu."

Hinata melebarkan kelopak matanya. Tanpa menyahut, dilemparkannya pandangannya pada pemandangan di luar jendela sekali lagi.

"Hei, bagaimana perasaanmu?"

Hinata tak menyahut.

"Apa kau percaya pada isu itu?"

Kontan Hinata memutar lehernya dan bertatapan mata dengan pemuda berambut emas itu. "Tentu saja tidak. Sasuke tidak akan pernah mengkhianatiku," ujarnya tegas.

"Lalu apa yang membuatmu gundah?" pemuda itu tak melepaskan pandangannya dari Hinata.

Hinata meremas rok kotak-kotaknya, tak menyahut.

"Jangan samakan aku dengan pacarmu itu. Aku tidak mengerti apa yang ada dalam pikiranmu kalau kau tidak berkata apapun," pemuda itu kembali berujar.

Hinata mengerutkan keningnya, "…Apapun yang ada dalam pikiranku… itu urusanku."

"Walau aku adalah temanmu?"

"Kita adalah rekan kerja dalam proyek ini," Hinata semakin mengerutkan keningnya, tak mengerti kemana arah pembicaraan menuju.

Pemuda itu mendengus, "Kau selalu begitu, bertingkah seolah duniamu hanya milikmu sendiri. Milikmu dan pacarmu itu. Tidak pernah melirik pada sekelilingmu sedikitpun. Kau anggap kami ini apa? Batu loncatan untuk mencapai tujuanmu??"

Hinata terkejut bukan main, "A-Apa maksudmu?"

"…Tolong lebih perhatikan juga orang-orang di sekelilingmu. Mungkin kamu tidak sadar, tapi yang mempedulikanmu bukan hanya pacarmu itu saja…"

Hinata tak mengerti, mengerutkan keningnya lagi, "Jangan bicara seolah kau tahu banyak tentangku."

"Aku tahu."

"Eh?"

"Mungkin bagimu aku hanyalah orang bodoh yang menumpang ketenaran dalam proyekmu ini, tak dapat diandalkan, tidak kompeten, jauh berbeda dengan pacarmu itu. Tapi bukan berarti aku tidak tahu apa-apa."

"Tunggu, tunggu sebentar," Hinata mengangkat sebelah tangannya, meminta interupsi. "Ada apa ini? Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?"

Pemuda itu menarik kursi plastik di samping meja panjang yang menghadap ke bingkai jendela tempat Hinata berada dan meletakkan kedua kotak bento di tangannya ke atas meja. Menghela napas sebentar, pemuda itu duduk dan kembali angkat bicara. "Aku tidak bermaksud menuding, tapi…aku tahu apa yang kau lakukan."

Hinata mengerutkan keningnya lagi.

"Menghasut Ino."

Hinata membelalakkan kedua bola matanya.

"Aku tahu kau ingin mengerjai gadis berambut merah muda itu. Lalu kau membuat Ino melakukan hal yang sesuai keinginanmu. Tak pernah kuragukan kemampuanmu memanipulasi pikiran orang lain. Kau memang wanita yang cerdas, tahu benar bagaimana menempatkan posisimu dalam suatu masalah, dan menggunakan apapun yang ada di sekelilingmu untuk mencapai tujuanmu," pemuda itu bertutur tenang.

"Jangan berkata seolah-olah aku ini orang jahat saja," Hinata menggigit bibir bagian bawahnya. "Kau sama sekali tidak tahu rasanya melihat pacarmu sendiri terlihat begitu bahagia bersama orang lain di depan matamu."

Kini giliran pemuda berambut emas itu yang mengerutkan keningnya.

"Kau ingat hari itu, ketika tugas kita selesai lebih cepat dan aku pergi untuk menikmati secangkir latte untuk menjernihkan pikiran? Aku pergi ke tempat yang kau rekomendasikan kepadaku—Café terbuka itu—dan tebak apa yang kulihat?" Hinata menatap pemuda itu dalam.

"Sasuke sedang bersama seorang gadis asing, yang sama sekali tak pernah aku lihat sebelumnya. Tersenyum, terlihat begitu santai dan nyaman. Dan gadis itupun tersenyum, tertawa, menatap dengan penuh perhatian pada pacarku. Pacarku. Apa kau pikir aku bisa tenang? Merasa senang? Tentu saja tidak. Bayangkan dirimu ada dalam posisisku, kau juga pasti akan melakukan hal yang sama…!" suara Hinata meninggi, tak mampu menahan gejolak amarah di dadanya.

"Itu karena mereka berteman," dari nada bicaranya pemuda itu terasa berusaha menyakinkan Hinata—dan mungkin dirinya sendiri juga.

Hinata menggeleng, "Sasuke tidak pernah seperti itu. Kalau bukan urusan yang benar-benar penting, dia tidak akan berduaan saja dengan gadis lain. Tidak akan makan siang bersama. Tidak akan tersenyum lembut begitu. Tidak akan terlihat begitu santai dan nyaman di hadapan gadis lain. Seharusnya tidak begitu," Hinata bersikeras.

"Kau tidak seperti biasanya, tenggelam dalam emosimu begitu,"

"Kau juga sama saja," Hinata tersenyum pahit, "sejak kapan kau beranggapan bahwa dirimu Maha Mengetahui dan berhak menilai semua orang sesukamu? Senang sudah menyalahkanku? Senang sudah menilaiku?"

"…Rasa cemburumu itu hanya akan membawamu pada kehancuran…" suara pemuda berambut emas itu sedikit melemah.

Perlahan air mulai memnggenang di sudut mata Hinata, keningnya mengerut, kelopak matanya bergetar, "Jadi maksudmu aku akan kehilangan dia? Apa kau mau aku diam saja…melihat pacarku direbut oleh wanita lain…?" suara Hinata mulai menjadi lirih.

Pemuda itu mengepalkan tangannya dengan sedikit bergetar, "Tidak ada seorangpun yang merebutnya darimu! Gadis itu tidak melakukan apa-apa."

"Faktanya dia telah membuat Sasuke tertarik padanya, apapun yang dia lakukan. Apakah dia bermaksud begitu atau tidak, faktanya berkata demikian. Dan aku tidak akan diam saja," suara Hinata sedikit tercekat dan melemah.

"Apa kau sudah berbicara dengan Sasuke?" pemuda berambut emas itu menatap Hinata dengan tatapan iba.

Hinata menggeleng lagi, "Belum. Dia akan ke rumahku untuk malam mingguan minggu ini. Aku akan berbicara padanya saat itu."

"…Apapun keputusan pacarmu nanti, kau tidak boleh bersikap egois. Hargailah keinginannya, kalau dia memang ingin berteman dengan gadis itu. Jika itu membuatnya nyaman.."

Hinata menatap dalam-dalam kedua bola mata kebiruan pemuda berambut emas itu, "…Siapa? Siapa yang menyuruhmu berkata seperti itu?" Hinata menelan ludah, "Apa dia temanmu? Kau membelanya karena dia temanmu? Begitu…?"

Pemuda itu menggelengkan kepalanya cepat, "Aku sama sekali tidak mengenal gadis itu, temanku yang mengenalnya. Dia meyakinkanku bahwa gadis itu tidak seburuk yang kau kira. Dia gadis baik yang disenangi teman-temannya. Apa hanya karena keegoisanmu, lalu kau bermaksud menghancurkan persahabatannya dengan Ino?"

" 'Hanya karena' katamu? Jadi maksudmu aku tidak sepantasnya mempertahankan apa yang kumiliki, berusaha menjaga apa yang menjadi milikku, dan membiarkan orang lain merebutnya dariku tanpa perlawanan? Kau dengan gampang bilang aku egois, sekarang tanyakan pada dirimu sendiri, bukankah kau yang memaksakan pendapatmu padaku juga tak lebih dari makhluk egois?" Hinata menatap pemuda itu lekat-lekat, tampak jelas sesuatu mengusik hatinya dan membuatnya perih.

"Ya, kita semua memang egois. Semuanya egois. Tapi paling tidak pikirkan perasaannya sedikit, kau sudah sedikit keterlaluan," pemuda itu bersikeras.

"Jadi maksudmu kau ingin aku memikirkan perasaannya dan pada saat yang sama kau tidak memikirkan perasaanku?"

Pemuda itu menelan ludah, tak menyahut.

"Kenapa semua orang membela dia? Sai datang padaku, sekarang kau. Berikutnya siapa lagi??" suara Hinata mulai tercekat.

Pemuda di hadapannya membelalakkan matanya, "Eh? Sai kemari?"

"Dia menyalahkanku atas perubahan sikap Ino. Aku akui aku memang memanfaatkannya, tapi Ino bertindak atas keputusannya sendiri, dengan kesadarannya sendiri. Aku hanya mempertahankan apa yang berharga bagiku, apa tidak boleh?"

Pemuda berambut emas itu menghela napas, "Aku mengerti, hanya saja…caramu itu salah…"

"Salah atau benar bukan kau yang memutuskan. Kau sama sekali tidak mengerti apa yang kurasakan. Tidak pernah tahu bagaimana rasanya api cemburu berkobar di dadamu. Dengan mudahnya menilai sesuatu itu benar atau salah menurut pandanganmu semata, bersikeras pada ideologi kebenaranmu semata," Hinata menatap mata pemuda itu dalam-dalam, walau suaranya sedikit bergetar.

"…Justru kau yang tidak tahu apa-apa. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu…" pemuda itu berkata lirih.

"Kalau memang itu yang ada dalam kepalamu, bantu aku…! Kebahagiaanku adalah bersama Sasuke. Aku tidak meminta banyak. Kumohon mengertilah aku. Jangan memojokkanku, jangan menyalahkanku. Cuma itu yang kuminta. Kalau kau memang temanku—yang ingin melihatku bahagia, maka inilah yang terbaik untukku. Tidak ada yang lebih tahu tentang apa yang terbaik untukku, selain diriku sendiri. Tidak Sai, tidak kau, tidak pula siapapun. Aku sendiri yang paling tahu isi hatiku," Hinata menimpali dengan senyum miris di bibirnya, berusaha menahan gejolak di dadanya.

Sang pemuda menelan ludah, tak sanggup berkata-kata lagi.


Derap langkah Ino berpantulan di penjuru lorong kelas. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Tangannya meremas map di tangannya dan sesekali menyusut air matanya yang mulai berjatuhan perlahan.

"Ino? Ino!" sebuah suara terdengar dari kejauhan. Ino tak menggubrisnya dan terus melangkah.

Langkah Ino terhenti ketika dirasakannya seseorang mencengkeram bahunya, "Ino, tunggu!"

"Mau apa kau?" Ino menyahut kasar.

Gadis berambut cokelat di hadapannya mengerutkan keningnya, "Kau menangis, Ino?"

Ino mendengus, "Sakura betul-betul tidak mengerti apa artinya persahabatan. Seharusnya dia mengalah padaku!" ujarnya sedikit histeris.

Tenten, gadis berambut cokelat itu, menggelengkan kepalanya, "Oh, Ino. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kurasa aku dapat menebaknya. Dengar Ino, mungkin tak sepantasnya aku berbicara seperti ini, tapi…semua ini bukan soal kau dan dia yang berebut Sasuke. Lagipula walaupun tidak ada dia, Sasuke adalah milik Hinata."

"Jadi maksudmu aku sama sekali tidak punya kesempatan? Maksudmu aku tidak seharusnya ikut campur?" Ino meninggikan suaranya.

Tenten menelan ludah, tak berani berkata-kata.

"Benar," tiba-tiba sebuah suara menyeruak dari belakang Ino dan Tenten. Segera mereka membalikkan badan, dan di sana Temari tengah berjalan menuju ke arah mereka sambil melipat tangannya di dada.

"Temari..?" Tenten terkejut dengan kemunculan Temari, terlebih pada apa yang baru saja dikatakannya.

"Apa mak—"

"Jangan manja!" Temari menyela Ino dengan cepat. "Aku tidak mau ikut campur masalah konyol ini. Kamu, Hinata, Sakura, Sasuke, semuanya bikin aku muak saja," Temari berujar dengan suara tegasnya yang terkesan angkuh—khas dia sekali.

Tenten membelalakkan matanya, menatap Temari dan Ino bergantian, tak sanggup melihat kedua kawannya itu bertengkar.

"Dengar. Fokus utama kita adalah festival sepekan lagi. Kesampingkan semua masalah pribadi itu. Bersikaplah profesional sedikit. Jangan kau pikir aku tidak tahu apa-apa. Bagaimana ini dimulai, bagaimana ini berlangsung. Faktanya ini adalah masalah antara Sakura-Hinata-Sasuke. Kemunculan pihak lain hanya malah memperkeruh suasana. Kau harus tahu posisimu sendiri," kata-kata tajam kembali meluncur dari mulut Temari.

Tenten menahan napasnya, sungguh ia terkejut bukan main dengan apa yang dikatakan Temari—yang ia anggap tak memikirkan perasaan Ino sama sekali.

Detik berikutnya Ino hendak buka suara, ketika Temari kembali menyelanya, "Kau," ujarnya tajam, "sudah kalah. Jauh sebelum Sakura hadir dalam kehidupan Sasuke dan Hinata. Jauh sebelum pertarungan ini dimulai, kau sudah kalah. Sasuke sudah menolakmu. Dia tidak pernah menganggapmu siapa-siapa. Bahkan dia tak ingat namamu. Yang sudah kalah sebaiknya mundur saja dan terima kekalahan dengan lapang dada. Dewasalah sedikit, jangan manja!"

Tenten merasa kedua bola matanya hampir copot dari rongga matanya, sungguh tak menyangka Temari akan berkata kejam seperti itu tanpa keraguan sedikitpun.

Ino menghentakkan kakinya dan berlari menjauh dari tempat itu. Tenten terkejut dan hendak mengejar, ketika Temari menepuk bahunya dan menahannya.

"Biarkan. Kalau kita berlemah hati, kita tidak akan sanggup menolong siapa-siapa. Keempat anak itu harus ditolong. Cara yang sedikit menyakitkan dan menyedihkan, tapi harus dilakukan," ada penekanan pada kata 'harus' yang meluncur dari mulut Temari.

"Kau benar-benar Temari si lidah berbisa," Tenten menghela napas, "seharusnya kau bersikap sedikit lebih lembut padanya. Hargailah ia sedikit, pikirkan perasaannya…"

"Justru karena aku menghargainya, aku ingin dia menghentikan tindakan bodohnya untuk terus mendambakan laki-laki yang sama sekali tak peduli padanya. Justru karena aku memikirkan perasaannya, aku menyuruhnya mundur. Realistislah, dia sama sekali tidak punya tempat dalam masalah ini. Kalau bersikap lunak begitu terus, kau tidak akan mengubah apa-apa.

"Aku tidak suka cara seperti ini, tapi jika ini dapat menyelesaikan segalanya, aku tidak keberatan menjadi gadis bermulut kejam," Temari membalikkan badannya menuju arah yang berlawanan dengan arah Ino berlari tadi, dan melambaikan tangan pada Tenten di belakangnya.

"Belajarlah untuk jadi lebih tegas, Tenten!" seru Temari lagi dengan sedikit nada canda.

Tenten terkejut mendengar sudut pandang Temari yang sangat berbeda dari cara pandangnya selama ini, mencerna setiap kata yang yang dilontarkan dari bibir Temari tanpa keraguan sedikitpun itu.

Segaris senyum terpoles di bibir Tenten detik berikutnya, "Aku sekarang mengerti bahwa Shikamaru tidak salah jatuh hati padamu. Dia memang punya mata yang tajam dan berselera tinggi," ujarnya setengah berbisik pada dirinya sendiri sambil tersenyum simpul.

.

.

x.x TBC x.x


Fiuh… akhirnya chapter 6 selesai juga. Agak kesulitan, berhubung otak saya dipenuhi Suigetsu melulu.. :p (Ninja edit sedang dalam mode Suigetsu-biased)

Cerita mulai menunjukkan garis terang dan menuju ending (fic ini diperkirakan tidak akan lebih dari 10 chapter). Terima kasih pada kalian semua yang membaca dan mengikuti fic ini dari awal, terutama yang berkomentar. Komentar apapun sangat membantu saya yang pemalas ini jadi bersemangat. Sekedar 'Update!'—pun tak masalah, itu menunjukkan niat kalian menyemangati saya, dan saya senang. :)

Review reply untuk non-login-reviewer:

Risle-coe: Bukan bashing kok… _ Wah mungkin cara penyampaian saya agak keras ya? Saya mikirnya kalau dua orang cewek rebutan cowok pasti hal-hal mengerikan bakal terjadi.. hehe :p

Sip, udah apdet nih ^^

Mugiwara Piratez: Iya, trims sarannya kemarin dulu itu :)

Hahah kayak perusahaan ya? Gomen, soalnya OSIS di sini mengacu dari cara kerja BEM di kampus—yang memang begitu adanya ^^;;

Naru-mania: Yoyo juga XD Udah update nih :)

Kaori a.k.a Yama: Saya paling seneng bersilat lidah, dan seneng bisa menuangkannya di fic ini XD

Iya, Hinata 'antagonis'—dalam arti berada di pihak yang bersebrangan dengan tokoh utama. Tokoh utama fic ini kan Sasuke dan Sakura ^^

Bukan berarti jahat atau gimana :)

Liya_anag_baik: Masih, Sakura sepantaran sama Sasuke dan lainnya, anak SMA. Tapi sesuai yang dibilang Mugiwara Piratez dan reviewer lainnya, kisah ini berasa kuliahan aja. Saya salah langkah dengan ga buat kisah ini bersetting kuliahan aja ya ^^;;

Nakamura Kumiko-chan: Pacar (atau mantan?)-nya Sakura yang masih rahasia ini nanti muncul sekilas, jadi benang penghubung dari semua kejadian ini. (spoiler dikit :p)

numpang lewat: Gomen apdetnya agak lama ^^;;

Chapter ini cuma tiga perempat panjangnya dari chapter lima pula ^^;;

Ending udah mulai mencapai titik terang, yang pasti saya siapkan ending yang masuk akal, logis, realistis. :)

crackqueen: Sip, udah update nih :)

To all of the reviewers:

Makasih banyak udah menyempatkan diri buat kasih komentar dan menyemangati saya ^^

.

ETA: Harap A/N saya di setiap chapter dibaca (tulisan-tulisan sebelum cerita dimulai), karena semua yang berhubungan dengan teknis fanfic ini diungkapkan di sana. Protes terhadap OOC-ness, pairing tak masuk akal, setting AU, dan semacamnya, tidak akan ditanggapi. Saya mengetik Warning dan Note bukan untuk pajangan. :)

.

Regards,

.

- Ninja edit -