Judul: Little Fire on the Candle
Sub-Judul: Burning Inside
Fandom: Naruto
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Drama, Hurt/Comfort
Rating: T
WARNING: AU, OOC-ness
Main Pairing(s): SasuHina, SasuSaku
NOTE: Chapter ini menunjukkan mengapa fanfic ini ber-genre Dramaketimbang Romance. Banyak drama yang terjadi.. ^^;;
Little Fire on the Candle
( Act. 7: Burning Inside )
.
"Pendaftaran untuk menjadi partisipan seminar siap dimulai, aku sudah menyiapkan formulir dan berbagai macam surat perizinan. Ketua bilang kita tidak perlu mengajukan proposal karena seminar ini adalah permintaan langsung dari Dewan Murid."
Sakura mengangguk, tersenyum sedikit pada gadis berambut merah yang tengah berdiri di hadapannya sembari mengacungkan tumpukan kertas padanya, "Terima kasih, Karin."
"Tak masalah, ini sudah tugasku," gadis berambut merah yang dipanggil Karin itu membetulkan letak kacamatnya.
Sakura dapat mendengar kalimat implisit yang tak terucapkan, 'Bukan berarti aku senang membantumu.'—dari cara gadis itu berkata-kata. Ia memutar bola matanya secara imajinatif.
"Aku berpapasan dengan Sai di ruang OSIS tadi pagi. Dia bilang Divisi Media sudah menyiapkan flyer dan poster untuk seminar ini. Dia menunggumu di ruang komputer," Karin membalikkan badannya dan beranjak pergi.
Sakura hendak menahannya namun diurungkannya niatnya. Dilihat sekali pandangpun terlihat jelas kalau gadis itu tak menyukainya. Menghela napas, Sakura celingukan, berharap menemukan seseorang baik hati yang menolongnya menunjukkan arah menuju ruang komputer yang dimaksud Karin.
Sebuah bayangan siswa berambut emas menarik perhatiannya, segera Sakura melambaikan tangannya, "Ah, permisi, bisa minta waktu sebentar?" sapanya sesopan mungkin.
Pemuda berambut emas itu terhenti dari langkahnya, menoleh pada Sakura dan sekilas mengerutkan keningnya, namun segera memasang air muka yang santai, "Ya? Ada perlu denganku?" sahut pemuda itu riang.
Sakura tersenyum lega, tampaknya pemuda itu orang yang ramah, "Aku ada perlu di ruang komputer dengan Sai, ada urusan Kegiatan OSIS. Tapi aku tidak tahu letak ruangan yang dimaksud. Kalau tidak keberatan, bisa bantu tunjukkan arah? Buat peta misalnya?"
Pemuda berambut emas itu mengembangkan senyum lebar, "Aku mau ke tempat Sai. Bareng saja sekalian?"
Sakura balas tersenyum lebar, "Ah! Syukurlah. Terima kasih."
.
Dengan langkah bersisian kini sepasang muda-mudi itu melangkah menyusuri lorong yang panjang. Pemuda berambut emas melirik pada tumpukan kertas di tangan sang gadis.
"Sini kubawakan?" pemuda itu menawarkan.
"Tidak usah, tidak berat kok," sang gadis—yang tak lain adalah Sakura—menggeleng dan tersenyum.
"Tidak apa-apa, aku terbiasa membawakan barang anak perempuan," pemuda itu sedikit memaksa.
"Ah, Ti—"
"Kalau begitu bawakan barang-barangku," sebuah suara memotong ucapan Sakura dan diikuti dengan tumpukan kertas yang hinggap di kepala pemuda berambut emas.
"Uwaa!!" pemuda itu berontak, diputarnya lehernya dan didapatinya seorang pemuda lain berambut hitam pendek di belakangnya. "Sai!"
"Sakura, kan?" pemuda berambut hitam itu menatap Sakura yang melongo melihat kejadian barusan.
Sakura mengangguk cepat, "Saya Sakura. Diberi wewenang untuk menjadi OCP pada seminar akhir pekan ini. Mohon bantuannya," ia sedikit membungkukkan badannya.
"Sai. Ketua Divisi Media," pemuda berambut hitam yang mengaku sebagai Sai itu mengangguk sedikit.
"Aku Naruto!" pemuda berambut emas yang tadi mengantar Sakura itu berseru, "Uzumaki Naruto, lengkapnya," ujarnya dengan senyum lebar.
"Kau tidak ada urusan dengan Kegiatan OSIS," timpal Sai datar—dengan tega.
Naruto mencibir, dan mulai mengomel panjang lebar pada Sai. Sakura tertawa renyah melihat kedua orang itu bertengkar mulut, "Kalian sangat akrab ya?"
Sai dan Naruto kontan berhenti, menatap Sakura bersamaan. Sakura mengerjapkan matanya, "E-Eh, apa aku salah bicara?" ujarnya sedikit khawatir menyinggung kawan-kawan barunya itu.
"Ah, tidak," Naruto cengengesan. Sakura mengerutkan keningnya.
"Di tempat yang penuh dengan orang-orang serius dan terpaku pada aturan dan tata karma ini, tawa yang lepas seperti itu sungguh suatu pemandangan yang langka," Sai menjawab rasa penasaran Sakura.
Sakura membulatkan bibirnya, "Kadang berada di tempat yang penuh orang-orang pandai dan terhormat seperti ini membuatku sedikit gugup," sahutnya dengan senyum di bibirnya. "Senang bertemu dengan orang-orang yang baik seperti kalian."
"Kurasa sekali-kali kita semua butuh peregangan urat syaraf. Tata karma dan semacamnya kadang bikin bahu pegal," Sai mengangkat bahunya dan menarik sudut bibirnya sedikit. Sakura berkesimpulan bahwa begitulah cara pemuda yang minim ekspresi itu tertawa.
"Jadi…ini poster dan flyer yang harus kita sebarkan?" Sakura menunjuk tumpukan kertas di tangan Naruto.
Sai mengangguk sedikit, "Flyer masih ada sebagian, sudah kusuruh anggota divisi-ku untuk menyebarkannya. Yang ini bagian kita."
"Boleh aku bantu?" Naruto mengembangkan senyum lebar.
"Tentu saja, kalau bukan kau siapa lagi yang membawa barang berat itu," jawab Sai datar. Naruto kembali merengut. Sakura terkikik geli.
.
Menyusuri lorong kelas, kini mereka tiba di depan majalah dinding besar. Sai mengeluarkan sebuah kunci dari kantung celananya dan membuka dinding kaca di hadapan mereka dengan hati-hati. Sakura meraih selembar poster berukuran besar dari tumpukan di tangan Naruto dan menyodorkannya pada Sai. Dalam sekejap poster berwarna-warni itu kini terpajang sempurna di dalam majalah dinding. Sai menutup pintu kacanya kembali dan menguncinya.
"Stand pendaftaran peserta seminar akan mulai dibuka siang ini, bisa kau sediakan orang-orangmu untuk menjaga stand?" Sai menoleh pada Sakura.
Sakura mengangguk, "Aku sudah menghubungi teman-temanku. Ada empat orang yang bersedia."
"Bagus," sahut Sai, "sekarang kita sebarkan flyer dan tempel beberapa poster lagi di sekitar gedung sekolah."
Melangkahkan kakinya bersisian dengan Naruto, Sakura mengamati punggung pemuda berambut hitam di depannya. Kulitnya yang pucat dan warna matanya yang gelap, pembawaan yang dingin dan tenang, wajah yang rupawan, sedikit banyak Sai mengingatkannya pada Sasuke. Namun ia merasa ada sesuatu yang membedakan pemuda yang satu ini dengan Sasuke, dan ia sendiri tak mengerti apa itu. Segera Sakura menggelengkan kepalanya cepat dan fokus pada pekerjaannya.
"Sakura," tiba-tiba Naruto menegurnya.
Sakura melirik sekilas, "Ya?"
"Maaf kalau aku lancang, tapi kudengar kau cukup dekat dengan Ketua OSIS?"
Sakura sedikit terkejut, namun segera ia kuasai dirinya dan memasang tampang tenang, "Ya, kami bertemu sebelumnya di suatu acara klub," sahutnya.
"Kebetulan sekali ya?" Naruto berkomentar ringan.
Sakura mengerutkan keningnya, "Ya, kebetulan sekali," timpalnya sedikit bingung. Sekilas ditangkapnya isyarat tidak mengenakkan dari cara Naruto menatapnya barusan, namun tak diindahkannya hal itu.
"Bekerja dengan Karin tentu merepotkan, kalau begitu?" Sai kembali buka suara. "Kabar yang beredar mengatakan kalau dialah sumber semua kabar burung tentang kau dan Sasuke," tambahnya tanpa merasa canggung sedikitpun.
"Sejauh ini semua baik-baik saja. Walau perangainya keras tapi sepertinya dia cukup berdedikasi pada pekerjaannya, kuakui itu," Sakura menjawab alakadarnya, tak ingin terlibat dengan gosip. Memberikan pernyataan sembarangan pada kondisi tak mengenakkan seperti ini bukan tak mungkin malah akan membuatnya tersudut pada kondisi yang lebih buruk.
"Uchiha Sasuke adalah orang yang populer di sisni. Tentu sulit untuk gadis sepertimu berteman dengannya," Sai kembali berujar.
Sakura mengerutkan keningnya, tak mengerti ke mana arah pembicaraan menuju.
"Banyak hal terjadi dalam beberapa waktu ini, banyak hal pula telah berubah. Namun pada akhirnya semua akan menempati posisinya masing-masing. Sebelum semuanya menjadi tak dapat dielakkan, sebaiknya setiap planet tetap menempati porosnya masing-masing, atau terjadi benturan yang tidak diharapkan."
Sakura membelalakkan matanya.
"Aku tahu sedikit tentang ilmu bintang," Sai tersenyum sedikit.
Sakura tak menyahut.
"Suasana tenang sebelum badai selalu mengerikan," kini sepasang bola mata hitam pekat itu menatap lekat-lekat kedua bola mata emerald Sakura.
Sakura tak berkata-kata.
"Hei, Sai. Jangan menakut-nakutinya," Naruto angkat bicara.
Sai mengalihkan pandangan dan mengangkat bahu, "Ini bukan gertakan. Aku cuma mengutarakan kemungkinan yang terjadi. Walau sekarang kau bilang kalian hanya berteman dan sebagainya, bukan tak mungkin sesuatu akan berubah. Paling tidak kau harus siap dengan segala resiko yang memungkinkan terjadi."
Sakura menelan mentah-mentah perkataan Sai itu tanpa menimpali.
"Jadi poster dan flyer sudah selesai ditempel dan disebarkan? itu bagus," Temari menepuk pundak Sakura. "Terus bagaimana stand pendaftaran seminarnya?"
"Stand sudah mulai dibuka, yang menjaganya sekarang Tenten dan Chouji," Sakura menenggelamkan dirinya di kursi empuk di seberang meja kerja Temari, menghela napas panjang.
"Kau banyak menghela napas akhir-akhir ini," Temari berkomentar, menaikkan sebelah alisnya.
"Entahlah, kurasa aku sedikit lelah," Sakura mengangkat bahu.
Temari menarik sudut bibirnya, "Secara fisik atau mental?" godanya.
Sakura mencibir, "Sialan." Temari tertawa.
"Kalau soal Ino, sudah beres. Sudah kuberi pengertian kemarin," Temari kembali pada pekerjaannya, mengecek dana sponsor yang masuk ke rekening OSIS berdasarkan pembukuan Bendahara.
Sakura menaikkan sebelah alisnya, "Oh tidak," ia menghela napas sebentar, "kalau kau, pasti dengan cara yang kejam."
Temari tertawa kecil, melirik sekilas pada Sakura, "Memang apa lagi yang kau ekspektasi dariku?"
"Yaa, yaa, aku tahu gayamu," timpal Sakura dengan senyum. Temari tertawa sekilas dan kembali berkutat dengan pembukuan di hadapannya.
"Eh, tunggu," Sakura membelalakkan matanya, "lalu bagaimana reaksi Ino? Dia tidak apa-apa, kan?"
Temari mengangkat bahunya, "Entah. Aku tidak lihat dia sejak kemarin."
Melihat raut muka Sakura yang mulai murung, Temari menambahkan, "Biarkan saja, dia sudah bukan anak kecil lagi. Sudah saatnya dia bertindak dewasa layaknya orang dewasa."
Sakura tersenyum hambar, "Tentu, tentu saja," ujarnya.
Tiba-tiba saja Temari mengacungkan tangannya dan menunjuk Sakura dengan bolpen di tangannya, "Ini bukan berarti aku tidak marah padamu. Kau, Ino, Sasuke, Hinata, kalian semua sama saja, membuatku kesal."
"Kenapa?" Sakura mengerutkan keningnya.
"Karena kalian telah melibatkan diri dalam permainan yang berbahaya," Temari menimpali dengan tajam.
"Apa maksudmu?" Sakura semakin mengerutkan keningnya lebih dalam, tak mengerti maksud perkataan Temari.
"Mungkin bagimu ini semua adalah hal yang tak dapat dielakkan. Pertemuanmu dengan Sasuke, kedekatan kalian, pekerjaan yang mengharuskan kalian sering bersama, perjumpaan dengan Hinata, kesalahpahaman dengan Ino, semuanya seolah merupakan hal yang biasa—normal—dan tak dapat dihindari. Dengan alasan bahwa inilah resiko berteman dengan orang populer seperti si Sasuke itu. Tapi kau lupa satu hal," Temari menatap lekat kedua bola mata emerald Sakura yang kini terpaku padanya. "Masalah sebenarnya jauh lebih mengerikan dari itu semua," Temari merendahkan suaranya, memberi penegasan dalam setiap kata yang meluncur dari mulutnya.
Sakura sedikit tersentak, "Apa maksudmu?"
Temari menepuk meja kerjanya, "Jangan pura-pura tidak tahu!" menatap tajam ke arah Sakura, ia melanjutkan kalimatnya dengan hati-hati, "masalah utamanya adalah tidak ada yang bisa menjamin bahwa kau tidak akan jatuh cinta padanya. Pada Sasuke."
Sakura membelalakkan matanya, tak sanggup berkata-kata.
"Aku yakin kau juga menyadari hal ini, namun kau berusaha untuk tidak memikirkannya. Bukan tidak mungkin, seiring berjalannya waktu kalian akan saling jatuh cinta. Sekarang yang jadi masalahnya adalah seberapa jauh hatimu bisa bertahan."
Percakapan sore itu di ruang OSIS berakhir dengan Sakura yang membisu sepanjang sisa waktu, dan Temari yang berkutat dengan pembukuannya.
Melangkahkan kakinya menyusuri trotoar pelataran parkir, pikiran Sakura dipenuhi dengan berbagai macam hal yang berkecamuk di hatinya. Menengadahkan kepalanya menatap matahari senja dengan pesona jingganya, pikiran Sakura kembali melayang pada percakapan singkatnya dengan Sai dan Temari.
Sakura menarik sudut bibirnya sedikit, tersenyum miris ia memahami maksud dari kedua temannya itu. Sejak awal dia telah paham benar bahwa kedekatannya dengan Sasuke adalah sesuatu yang berbahaya. Tidak ada hubungannya dengan orang lain, tapi apapun yang terjadi pastinya akan berpengaruh pada hubungan antara ia dan Sasuke sendiri. Pertanyaannya adalah akankah semuanya menuju pada akhir yang penuh tangis dan air mata atau canda dan tawa.
Sakura menelan ludah, sekonyong-konyong terngiang perkataan Temari tepat sebelum ia melangkahkan kakinya melenggang keluar ruang OSIS dan pamit pulang, "Kau tahu semuanya akan menjadi rumit, tapi kau tetap melangkahkan kakimu ke dalam hidup Sasuke. Sakura kau bodoh."
"—Ra! Sakura!"
Sakura tersentak dari lamunannya. Ditolehkannya kepalanya ke arah sumber suara di belakangnya. Di sana Sasuke tengah menjulurkan kepalanya dari dalam kaca mobil dan melambaikan tangan padanya, "Minum teh bersama?"
Sakura dengan lihai menyembunyikan perasaan tak menentu dalam hatinya, memiringkan kepalanya sedikit. Tak biasanya Sasuke mengajakanya minum teh bersama—atau lebih tepatnya menghabiskan waktu bersama dengannya—jika tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Yang lebih mengejutkan adalah ini hari Sabtu, malam minggu—bukankah seharusnya Sasuke ada kencan dengan Hinata atau semacamnya?
"Ok," tanpa pikir panjang Sakura mengangguk dan melangkahkan kaki jenjangnya menuju pintu mobil Sasuke yang kini terbuka lebar.
Mengencangkan seatbelt-nya, Sakura mengamati Sasuke dari sudut matanya. Dapat ditangkapnya raut mukanya sedikit tegang.
"Ada apa?" Sakura memulai pembicaraan. Ia tahu benar ada sesuatu yang mengganjal pikiran pemuda berambut hitam di sampingnya itu.
"Eh? Ah, tidak," Sasuke menjawab dengan tidak meyakinkan. Sakura mengerutkan keningnya, namun memilih untuk diam. Jika Sasuke memang tidak mau membicarakan apa yang ada dalam kepalanya kini, bukan tempatnya untuk memaksanya.
Perjalanan singkat itu terasa begitu lama. Suasana hening yang menyelimuti mereka berdua membuat atmosfir terasa esak. Namun tak seorangpun dari mereka yang mencoba memecah keheningan. Seolah keduanya larut dalam pikiran masing-masing yang tak berujung.
Memutar setirnya, kini mobil yang mereka tumpangi mulai memasuki pelataran parkir café terbuka yang sama dengan yang mereka datangi beberapa hari yang lalu. Sasuke dan Sakura turun dari mobil dan berjalan bersisian menuju salah satu meja yang kosong.
Seorang pelayan datang menghampiri mereka dan berlalu lagi setelah kedua orang itu memesan dua cangkir teh dan semangkuk puding buah untuk Sakura.
Sakura mengamati sekeliling café, walau pikirannya tetap terpaku pada pemuda berambut hitam di hadapannya itu. Dari caranya bertingkah, Sakura tahu benar ada sesuatu yang ingin disampaikan pemuda itu. Seolah bingung dengan bagaimana memulai pembicaraan—atau semacamnya. Sakura tetap menunggu.
Tak berapa lama pesanan mereka datang. Sakura mengirup teh manisnya perlahan dan mulai menikmati puding buahnya. Dari bawah kelopak matanya dapat dilihatnya Sasuke tengah mengaduk teh manis di hadapannya sementara pikirannya tetap terlarut akan sesuatu.
"Lho, Sasuke ya?" tiba-tiba sebuah suara nyaring menyeruak.
Sakura sedikit terkejut, begitu pula dengan Sasuke. Kontan keduanya menolah ke arah pemilik suara. Di sana seorang pemuda berambut cokelat gelap yang panjang tengah berdiri menatap mereka berdua dengan kedua tangannya dalam sakunya.
"Neji?" Sasuke menyahut singkat.
Pemuda berambut panjang yang dipanggil Neji itu melirik sekilas pada Sakura, "Apa aku mengganggu?"
Sakura menggeleng cepat, "Tidak, kami sedang bersantai," ujarnya. Mereka memang sedang bersantai. Kan?
Kembali mengalihkan pandangannya pada Sasuke, Neji membuka suaranya lagi, "Boleh aku bergabung?"
"Duduklah," lagi-lagi Sasuke menjawab singkat.
Tanpa basa-basi Neji mulai menarik kursi plastik di hadapannya dan duduk di antara Sakura dan Sasuke yang berseberangan satu sama lain. Melambaikan tangannya pada seorang pelayan yang tampak menganggur, Neji memesan secangkir latte dan mengamati pelayan tersebut melenggang menuju dapur.
Sejenak kemudian Neji mulai membuka suaranya, "Aku tidak tahu kalau kau sudah putus dengan Hinata."
"Hah?!" Sasuke terperanjat. "Aku apa??"
"Putus. Dengan Hinata. Ini pacar barumu, kan?" Neji menunjuk Sakura dengan dagunya sekilas.
"Sembarangan, aku tidak putus dengan Hinata! Kami baik-baik saja," Sasuke bersungut.
"Sepasang muda-mudi menyesap teh bersama sambil menikmati senja di Sabtu sore, kalau bukan kencan lalu apa namanya?" Neji mulai lagi.
"Kami tidak berkencan," tukas sasuke lagi.
"Oh, jadi dia ini siapa?" Neji mengangkat sebelah alisnya.
"Teman. Cuma teman," jawab Sasuke singkat.
Sakura meraih cangkir tehnya dan menyesapnya banyak-banyak.
"Pantas saja Hinata tak mengabariku apa-apa, rupanya kalian memang tidak putus," Neji menarik sudut bibirnya sedikit.
"Darimana anggapan seperti itu muncul?" Sasuke mengerutkan keningnya kini.
"Tempat ini tak asing bagiku. Kalau pengelihatanku tidak salah—dan aku yakin memang tidak pernah salah—aku melihat kalian bersama beberapa hari yang lalu di sini, tepat sebelum aku pulang."
Sasuke memutar bola matanya, "Ah, itu. Ya, ada urusan pekerjaan. Dan waktu itu Hinata juga datang dan kami makan bersama," Sasuke mengamati latte di hadapan Neji, "dia minum latte sepertimu, lebih tepatnya."
"Oh?" Neji mengangkat sebelah alisnya, "sayang sekali aku melewatkan wajah cemburu Hinata," ujarnya setengah bercanda. Sasuke mendengus.
Menoleh pada Sakura, Neji membungkukkan badannya sedikit, "Hyuuga Neji. Teman Sasuke dari SMP."
"Sakura," Sakura balas membungkukkan badannya sedikit.
"Hebat juga kamu, bisa akrab dengan dia. Si Sasuke ini terkenal dingin dan seenaknya lho, tidak peduli bikin orang sakit hati atau tidak," Neji sedikit menyeringai dan menunjuk Sasuke dengan sendok kopinya. Sasuke mendengus namun tak menimpali.
Sakura tersenyum sedikit, "Aku tahu betul itu. Waktu pertama bertemu, dia memang senang bersikap seenaknya dan bicara tanpa memikirkan perasaan orang lain," timpalnya.
Neji tertawa kecil, "Lalu? Bagaimana bisa kalian akrab? Kalau penilaianku tidak salah, kalian cukup dekat, betul tidak?"
"Hmm mungkin karena satu dan lain hal. Ah, aku juga tidak tahu. Sasuke kenapa kita bisa akrab?" Sakura mengalihkan pandangannya pada Sasuke yang sedari tadi hanya terdiam tanpa memasuki percakapan.
Sasuke mengangkat bahu, "Aku nyaman bersamamu, apa kau tidak nyaman bersamaku?" ia malah balas bertanya.
Sakura tertawa renyah, "Tentu saja aku senang bersamamu."
"Hee," Neji bergumam dengan seringai di sudut bibirnya, "entah kenapa aku mendapat kesan bahwa kalian punya atmosfir harmonis di sekeliling kalian berdua," godanya dengan nada canda.
Kontan Sakura tertawa nyaring, "Yang benar?"
Neji hanya mengangkat bahu dan beranjak dari kursinya setelah sebelumnya menghabiskan sisa latte di cangkirnya. Tepat sebelum melangkah pergi ia, ia menepuk pundak Sasuke, "Hati-hati. Jangan bermain api kalau tidak mau terbakar nantinya."
Sasuke mengerutkan keningnya, namun Neji keburu melenggang pergi sembari melambaikan tangannya dan menggumamkan 'Sampai nanti' pada sepasang muda-mudi yang kini kembali terlarut dalam pikirannya masing-masing itu.
Kini Sakura dan Sasuke kembali menikmati alunan musik di dalam mobil Sasuke yang melaju menyusuri jalanan. Sakura sudah hendak pulang sendiri ketika mereka menghabiskan tehnya masing-masing, ketika Sasuke menawarkannya untuk mengantarkannya pulang. Awalnya Sakura hendak menolak, namun ketika dilihatnya raut muka Sasuke yang tampak tak biasa, ia putuskan untuk menerima ajakan Sasuke itu. Dan di sinilah mereka sekarang, terpaku dalam kesenyapan di dalam mobil dengan AC dingin namun entah kenapa udara terasa menyesakkkan.
Sakura menghela napas. Menopang dagunya dengan tangan kirinya, ia mengamati pemandangan di samping kaca mobilnya, "Sasuke…" akhirnya ia putuskan untuk mengakhiri kesunyian yang tidak akan membawa mereka kemanapun itu. "Kalau ada yang ingin disampaikan, katakan saja sekarang."
Sasuke sedikit tersentak, ia berdehem sedikit, "Erm, sebenarnya tidak ada hubungannya denganmu. Tapi…" ia berhenti sejenak, "aku merasa ingin berkeluh kesah pada orang lain."
Sakura mengerutkan keningnya, "Ada apa?" tanyanya, tak sungkan lagi kini.
Sasuke menghela napas sejenak, "Hinata."
Sakura sedikit tercekat mendengar nama itu meluncur dari bibir Sasuke, namun segera ia kuasai dirinya dan bertanya dengan lembut, "Ya? Ada apa dengan… Hinata?" ada sedikit rasa canggung dengan caranya menyebut nama Hinata, namun tampaknya Sasuke tak mengindahkan hal ini.
Sasuke melirik sekilas pada Sakura dengan sudut matanya. Tak pernah ia sekalipun membicarakan masalahnya pada orang lain. Lebih dari itu, tak pernah sekalipun terbersit keinginan untuk membagi kisahnya dengan orang lain. Namun perasaan tak tertahankan untuk memuntahkan semuanya pada seseorang yang dapat ia percaya begitu tak tertahankan.
Disinilah ia kini, bersama gadis yang baru dikenalnya selama beberapa hari saja, namun tak dapat dipungkiri bahwa gadis itu telah menjadi salah satu diantara begitu sedikit orang yang ia beri kepercayaan besar hingga ia putuskan untuk mencurahkan masalahnya pada gadis itu.
"Hinata," Sasuke telah memutuskan untuk mengikuti keinginan hatinya, "dia minta bertemu malam ini."
Kontan Sakura terkejut dan membelalakkan matanya, "Kalau kau memang ada janji, biar aku pulang sendiri saja, turunkan aku di pinggir jalan, aku bisa pulang naik taksi," ujarnya cepat.
"Tidak, tidak," Sasuke menggeleng cepat. "Dia bilang aku boleh datang jam berapa saja. Aku akan ke rumahnya setelah mengantarmu pulang."
"Oh," sahut Sakura pendek. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya namun tak ia sampaikan, merasa ia bukanlah siapa-siapa untuk bertanya tentang urusan pribadi Sasuke. Mereka memang akrab seperti yang pemuda berambut panjang—yang dipanggil Neji itu bilang, namun bukan berarti mereka punya hak untuk saling mencampuri urusan pribadi masing-masing. Sakura tahu batasan itu, ia tahu benar dimana posisinya berada.
"Dia bilang ada sesuatu yang mau dibicarakan denganku," Sasuke kembali membuka suaranya.
Sakura mengerutkan keningnya, namun lagi-lagi mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia sebaiknya diam saja dan menunggu Sasuke berbicara sampai tuntas.
"Entah apa yang mau dia bicarakan, tapi aku punya firasat buruk tentang hal ini."
Sakura menelan ludah, masih terdiam dan membiarkan Sasuke melanjutkan ceritanya.
"Kau tahu," tiba-tiba saja suara Sasuke yang semula tenang kini meningkat dan penuh dengan emosi yang berkecamuk, "dia itu kadang sangat sulit dimengerti. Ok, aku dan dia memang sangat mirip satu sama lain. Tapi kadang aku malah jadi bingung sendiri. Apa yang dia mau? Apa yang ada dalam kepalanya? Aku seringkali tidak mengerti. Yang bisa kulakukan hanya mendengarkan ceritanya dan kami duduk terdiam. Seperti itu. Selalu seperti itu. Dan sekarang dia tiba-tiba mengajakku bicara serius begini, entah apa yang dipikirkannya," kalimat-kalimat itu meluncur bertubi-tubi dari mulut Sasuke, hingga Sakura terhenyak.
Sakura menatap pemuda berambut hitam di sampingnya itu. Kedua bola mata onyx-nya berkilat dengan gejolak emosi—apapun itu, yang tengah membara di sana.
"Aku dan dia selama ini menjalani hubungan kami seperti ini. Diam. Dalam diam. Aku selalu merasa dia mengerti aku, tapi semakin hari aku semakin menyangsikan hal itu. Apa menurutmu ini baik, hanya diam saja dan membiarkan semua masalah mengalir dengan sendirinya? Hanya diam dan saling menjilat luka masing-masing. Tak ada kata penghiburan, tak ada kata penyemangat. Semuanya hanya tentang aku, dia, dan kesenyapan."
Sakura menelan ludah, tak pernah dilihatnya Sasuke yang tampak emosional seperti ini. Sesuatu ada yang aneh dengannya—pikirnya.
"Sasuke, kau tidak seperti dirimu, ada apa?" Sakura bertanya dengan hati-hati.
Sasuke sedikit tersentak setelah menyadari bahwa sesaat sebelumnya ia telah terjebak dalam emosinya sendiri. Menghela napas, ia merendahkan suaranya, "Entahlah. Aku…hanya cemas, entah apa yang dipikirkan Hinata. Bagaimana menurutmu? Kalian sama-sama wanita kan, menurutmu apa yang ada dalam kepalanya?"
Sakura menelan ludah, "Jika kau berpikir sedikit saja, tentu kau mengerti. Dia itu tidak suka dengan kedekatan kita," jawab Sakura datar.
"Untuk alasan seperti itu, apa perlu dia mengundangku dalam suatu pembicaraan serius?"
Sakura menghela napas, "Mana kutahu, aku bukan dia!" tanpa sadar suaranya meninggi. Seketika ia tutup mulutnya dan menggumamkan kata 'Maaf' tanpa menoleh sedikitpun pada Sasuke.
Sasuke tak menyahut untuk beberapa lama. Perjalanan mereka dihabiskan dengan kesenyapan yang kembali menyeruak. Hanya sesekali Sakura membuka suaranya untuk mengarahkan tujuan menuju rumahnya.
Meluncur cepat, mobil itu kini sampai di depan rumah Sakura. Tepat ketika Sakura turun dari mobil dan hendak menutup pintu, Sasuke berujar pelan, "Maaf, aku sedikit emosional hari ini. Aku tahu, kau bukan Hinata," dan iapun berlalu dengan menyisakan pertanyaan besar di kepala Sakura.
Sasuke memutar setirnya dan memacu mobilnya lebih kencang. Jalanan malam yang cukup lengang memudahkannya memacu kendaraannya itu dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Kepalanya dipenuhi berbagai macam hal yang berkecamuk. Sesekali dilampiaskannya kekesalannya itu pada pengemudi lain yang menghalangi jalannya atau mendahuluinya.
'Ini tidak benar, aku menjadi kacau begini'—ujarnya dalam hati di sela-sela kewarasannya yang masih tersisa.
Dalam sekejap saja kini Sasuke telah sampai di kediaman keluarga Hyuuga. Memarkirkan mobilnya di depan rumah, Sasuke mematikan mesin dan melompat turun dari mobil.
Berjalan dengan sedikit ragu menuju pintu depan ketika seorang wanita setengah baya dengan perawakan gemuk menghampirinya, "Nona Hinata sudah menunggu dari siang di kamarnya," ujar wanita itu.
Sasuke mengangguk dan menggumamkan kata 'Terima kasih' seraya beranjak menuju pintu belakang, dimana ia akan lebih cepat sampai ke kamar Hinata yang memang terletak di bagian belakang rumah besar bercat putih polos itu.
Dengan dua ketukan di pintu, kini Sasuke memasuki kamar Hinata yang tampak lengang. Tak jauh berbeda dengan kamarnya, tak ada poster maupun apapun tertempel di dinding kamarnya yang sunyi.
"Hinata, maaf membuatmu menunggu," ujarnya.
Hinata yang kini tengah duduk dengan tenang dan anggun di atas ranjang tidurnya tersenyum lembut, "Tidak apa-apa. Silahkan duduk."
Sasuke menarik kursi putar di dekat meja belajar Hinata di seberang tempat tidurnya dan menjatuhkan dirinya di atas kursi empuk itu.
"Maaf membuatmu repot untuk meluangkan waktu datang kesini di tengah kesibukan kegiatan OSIS. Aku tahu besok kalian akan mengadakan seminar dan diikuti festival beberapa hari lagi, tapi aku malah mengusikmu dengan masalah pribadi," Hinata bertutur lembut, rasa bersalah tersirat dari setiap kata yang terucap.
Sasuke menghela napas, "Tidak apa. Langsung saja, ada apa?"
Hinata mengerutkan keningnya, "Kenapa aku menangkap kesan bahwa kau merasa tidak senang?"
"Aku sedikit letih, maaf. Ada apa?" Sasuke berusaha memelankan suaranya.
Hinata menarik napas sebelum mulai membuka suaranya, "Kau…tahu sendiri, kan? Ada banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini…"
Sasuke tak menyahut. Membiarkan Hinata melanjukan.
"Mungkin kau tidak sadar, tapi…banyak hal dalam dirimu telah berubah…"
Sasuke mengerutkan keningnya.
"Tiba-tiba saja kau banyak berubah, perlahan namun pasti… Kenapa…?" Hinata berujar lirih, menatap Sasuke lekat.
Sasuke menggelengkan kepalanya, "Aku tidak menangkap apa yang mau kau katakan, apa maksudmu?"
"Pertama kau tiba-tiba saja ingat nama teman-temanku. Kau tidak tahu betapa terkejutnya aku ketika kau menyebut nama Naruto ketika aku menyinggung rekan proyekku, kau makan siang bersama orang lain, banyak menghabiskan waktumu dengan orang lain, dan tahukah kau kalau akhir-akhir ini kau semakin sering tersenyum?" Hinata tak mampu membendung perasaannya yang bergejolak.
"Itu…itu semua proses adaptasi. Kau tahu kan, di sekelilingku banyak orang-orang yang menarik dengan kepribadian yang unik, sedikit banyak aku mulai terpengaruh," Sasuke menyahut cepat.
"Jangan coba menyangkal. Sesuatu ada yang salah, ada yang berubah tentangmu," Hinata menahan mati-matian genangan air yang mulai terbentuk di pelupuk matanya.
"Aku tidak membuat penyangkalan, mengertilah, mungkin kau merasa aku tidak seperti biasanya atau semacamnya, tapi aku tetaplah diriku. Tak ada yang berubah dalam diriku, hanya sesuatu yang tampak saja," Sasuke mencoba menjelaskan.
"Apapun yang kau katakan, tidak mengubah fakta bahwa kau memang telah banyak berubah," Hinata bersikukuh.
Sasuke menghela napas, "Baiklah, bila kau memang melihatnya demikian. Lalu apa yang salah dengan perubahan?" Sasuke menggerakkan tangannya.
Hinata terkejut bukan main. Air matanya yang menggenang kini tak tertahankan lagi dan mulai berjatuhan perlahan, "Kau tidak berpikir bahwa itu menyakitkan bagiku?"
Sasuke mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu?"
"Kau telah berubah sementara aku tetaplah aku yang lama."
Sasuke tersentak, berusaha mencerna kata-kata Hinata.
Sejenak hening menyesap. Baik Sasuke maupun Hinata tak ada yang membuka suaranya.
Sasuke mengangkat sebelah tangannya dan meremas kepalanya, berbagai hal campur aduk di kepalanya yang kini terasa berat itu, mulai membuka suaranya dan memecah keheningan, "Dengar, Hinata… Tidak ada yang mengharuskanmu berubah. Aku menyayangimu sebagai dirimu sendiri. Aku tidak menuntut perubahan darimu."
Hinata menanggapi kalimat Sasuke itu dengan senyum hambar, "Begitu? Mungkin memang itu yang kau pikirkan. Tapi bukan itu yang kau rasakan."
Sasuke terperanjat, membelalakkan kedua bola matanya.
"Jangan kau pikir aku tidak sadar. Bukan cuma perilakumu yang berubah. Hatimu juga telah berubah."
"Apa mak—"
"Sasuke yang menyayangiku bukan yang seperti ini!" Hinata menyela ucapan Sasuke. Sasuke semakin terkejut.
"Dia adalah orang yang bertalenta, pandai, kurang senang bersosialisasi, selalu menjaga jarak dengan orang lain, hanya sedikit orang yang ia biarkan memasuki ruang hatinya. Selalu tampak kuat, namun menyimpan kegundahannya sendiri. Terlihat sangat dingin, namun sering juga terlihat murung di kamarnya dan mengunci diri dari dunia luar. Dia yang seperti itu, dia yang begitulah yang menemukanku…"
Sasuke tak menyahut. Menatap Hinata dengan pandangan yang masih terkejut.
"Dia menemukanku yang meringkuk di sudut kamarku, menolongku dari kehidupanku yang menyesakkan. Kami selalu bersama-sama membagi kesendirian dan kesedihan kami berdua saja, menghabiskan waktu bersama dalam hening. Hanya dengan keberadaan satu sama lain, kami merasa nyaman dan tenang. Kebahagiaan seperti itu sudah lebih dari cukup bagi kami…"
Sasuke menelan ludah.
"Tapi kini, siapa yang duduk di hadapanku ini? Siapa kau? Kau siapa?"
"Hinata, hal ini tidak ada pengaruhnya dengan hubungan kita."
"Hal itu sangat berpengaruh bagiku."
Sasuke tersentak dengan kalimat Hinata yang menyelanya, "Apa maksudmu?"
"Yang ada di hadapanku kini adalah seorang pemuda yang pandai dan cakap, memperhatikan orang-orang di sekelilingnya, bersikap hangat pada kawannya, membuka diri pada orang lain, membiarkan orang lain memasuki ruang hatinya yang sebelumnya terkunci rapat."
Sasuke tak menyahut, membiarkan Hinata menyelesaikan.
"Kau yang dulu hanya membagi kisahmu denganku. Dengan aku saja. Katakan apa hal itu masih sama?" Hinata menatap kedua bola mata Sasuke lekat.
Sasuke menelan ludah.
"Kenapa? Tidak bisa jawab…?" suara Hinata kembali terdengar lirih.
Sekonyong-konyong Sasuke rasakan lidahnya menjadi kelu, namun dipaksakannya juga untuk membuka suaranya, "…Tentu. Kisahku hanya untukmu…" ia menelan ludah.
"Tidak ada yang lain?"
Sasuke tahu ini akan berujung pada hal yang tidak mengenakkan, namun ia tak ingin membohongi Hinata. Akhirnya ia putuskan untuk jujur dan bersiap dengan segala konsekuensinya, "Aku…kadang mengobrol dengan…Sakura. Yah, cuma obrolan ringan. Tapi kadang ada—"
"Itulah!" Hinata menyela, suaranya sedikit memekik.
"Tidak, dengar dulu, Hinata—"
"Tidak, kau yang dengarkan aku," Hinata meninggikan suaranya. "Bukan hanya tingkah lakumu yang berubah, sesuatu dalam dirimu juga telah berubah. Sesuatu yang jauh berada di dalam dirimu."
"Sekali lagi, walau begitu apa salahnya dengan perubahan? Ini tidak menjadi alasan untuk mempengaruhi hubungan kita, kan??" Sasuke mulai terpancing emosinya dan sedikit meninggikan suaranya.
"Apa kau tidak mengerti?? Ketika kau berubah sementara aku tetaplah aku yang lama, maka kita tak akan bisa sama seperti yang dulu lagi!" Hinata balas meninggikan suaranya.
"Omong kosong! Yang menjalani hubungan ini adalah kita, selama rasa sayangku padamu tidak berubah, tidak akan ada yang berubah. Apa mungkin kau yang tidak menyukai aku yang sekarang??"
Hinata tak menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Apa yang kau sukai itu adalah Uchiha Sasuke yang cool, penyendiri, memandang kehidupan dengan dingin, tenggelam dalam idealismenya sendiri dan melihat segala sesuatunya dengan perspektif sinisme, tidak menghargai orang lain dan menilai segala sesuatunya hanya berdasarkan standar idealisnya, individualistis dan selalu membentengi dirinya dengan orang lain?"
Hinata tak menyahut kini, menatap Sasuke dengan kedua kelopak mata yang melebar.
"Lalu sekarang setelah aku berubah, kau tidak suka? Aku tidak bilang kalau aku yang dulu itu salah, buruk, atau semacamnya. Tapi aku juga tidak merasa aku yang sekarang ini jelek atau buruk. Aku senang seperti ini. Apa itu tidak boleh?"
Hinata menggeleng cepat, "Bukan masalah baik atau buruk, bagus atau jelek. Tapi kau telah meninggalkanku, sedikit demi sedikit kau pergi ke tempat yang asing bagiku. Aku tidak mengenalmu yang sekarang. Apa yang harus aku lakukan? Kau yang selama ini hanya menggantungkan dirimu padaku seorang, kini telah menaruh kepercayaan pada orang lain. Gadis itu. Gadis itu lebih pantas untukmu yang sekarang. Sedangkan aku? Bagaimana denganku??"
"Sekali lagi, ini tidak ada sangkut pautnya dengan Sakura."
"Dan sekali lagi kukatakan, jangan menyangkal. Tanya pada dirimu sendiri. Bukankah dia yang telah membuatmu menjadi seperti ini? Dia yang seperti itu sesuai untuk dirimu yang seperti sekarang ini. Dibandingkan dia yang begitu diberkahi dengan kasih sayang dari lingkungannya, dari teman-temannya, aku bukanlah apa-apa," Hinata tak mampu membendung emosinya dan air matanya mulai mengalir perlahan di pipi lembutnya.
"Sangat aneh kau merasa cemburu padanya, iri padanya. Lihat siapa yang berstatus sebagai pacarku. Lihat siapa yang kutelepon setiap malam. Lihat siapa yang rumahnya kudatangi malam ini. Bukan dia, kan?"
"Itu karena kau merasa terbelenggu dengan kewajibanmu! Kau telah berjanji untuk selalu menyayangaiku, menyukaiku melebihi siapapun, mencintaiku. Harga diri dan sumpahmu pada diri sendiri itulah yang membuatmu tetap bersama denganku," Hinata mulai tercekat, "seandainya tidak pernah kau ucapkan janji itu, aku yakin kau akan meninggalkanku."
Sasuke tak menyahut.
"Katakan apa yang harus kulakukan?" Hinata kembali berujar lirih. "Apa yang harus kulakukan supaya kau yang telah berubah ini tetap menganggapku yang terpenting? Aku ingin menjadi yang terbaik bagimu, paling istimewa bagimu. Bukan orang lain. Jangan beri ruang untuk orang lain…"
Sasuke beranjak melangkah mendekati tempat Hinata duduk di ranjangnya, "Baik kau maupun Sakura, kalian tidak sedang bersaing mendapatkan aku. Sejak awal aku adalah milikmu, dan Sakura tahu itu. Dia bukan gadis jalang yang akan merebut pacar orang, dia tidak seperti itu, dia gadis baik-baik. Tidak ada yang perlu kau cemaskan tentang dia di antara kita," Sasuke mengusap lembut pipi Hinata.
"Kau tidak tahu…" Hinata mulai terisak, "tidak tahu apa yang bisa terjadi. Walau hari ini kau berkata seperti itu, siapa yang tahu apa yang terjadi esok atau lusa?"
"Ini tidak seperti kau saja, terpengaruh pada sesuatu yang abstrak dan tak berdasar. Kemana cara pandangmu yang selalu berdasarkan realitas dan menjunjung tinggi kelogisan?" Sasuke mengerutkan keningnya.
"Justru karena aku realistis aku bisa berkata begini," Hinata menimpali dengan tajam.
Sasuke mengerutkan keningnya semakin dalam.
"Hati manusia tidak bisa ditebak. Tidak ada rumus yang dapat menjamin konsistensi hati manusia. Hati manusia bisa berubah. Begitu pula rasa cinta yang berfluktuasi tanpa dapat dielakkan. Tahu-tahu saja semua hal dapat terjadi dan yang bisa kita lakukan adalah menerimanya. Dan aku tidak senang dengan sesuatu yang tak dapat diprediksi. Aku tidak suka perubahan."
Sasuke tak mampu berkata-kata.
"Mungkin bagimu kecemburuanku ini adalah hal yang bodoh. Tapi bagiku, ini adalah hal yang besar pengaruhnya pada diriku. Bukan hanya pada kisah asmara kita. Tapi juga pada apa yang kupercaya, apa yang kurasakan. Kau tidak mengerti betapa hal ini terus mengusikku, sementara aku tak mampu berbuat apa-apa. Kau semakin menjauh dariku. Bukan ragamu, tapi jiwamu. Aku semakin merasa tidak mengenalmu. Mungkin karena sebenarnya aku memang tidak pernah memahamimu. Yang bisa kulakukan hanyalah menemanimu dalam kesendirianmu yang hitam pekat. Tidak seperti gadis itu yang sanggup mengulurkan tangannya dan mengajakmu keluar ke dunia penuh cahaya yang terang benderang."
Sasuke terpaku dalam posisinya, membeku.
"Itulah. Aku merasa jika dibandingkan gadis itu, aku bukanlah apa-apa. Aku tidak pantas untukmu. Maka dari itu aku cemas. Cemas kau akan meninggalkanku…"
Hening menyesap sejenak, sebelum Sasuke mengakhiri pertemuan mereka itu dengan ucapan, "Sekarang kita sama-sama dalam kondisi labil. Kita bicarakan lagi lain waktu. Sekarang beristirahatlah."
"Begitu? Lalu apa yang kau katakan?" suara di seberang saluran telepon menyeruak setelah beberapa saat keheningan menyesap.
"Hinata terus beranggapan bahwa aku akan meninggalkannya. Mungkin aku memang berubah, tapi apa menurutmu hatiku juga telah berubah? Apa hati manusia bisa berubah semudah itu?"
Tak ada jawaban.
"Neji? Katakan, apa aku telah berubah seperti yang Hinata katakan?"
Terdengar suara helaan napas dari seberang sana, "Ya, Sasuke. Ya."
Sasuke mengerutkan keningnya, "Benarkah?" ulangnya tak percaya.
"Kalau kau yang dulu, tidak akan malam-malam begini meneleponku dan menceritakan masalahmu padaku. Kau tahu, sudah bertahun-tahun kita berteman, tapi aku selalu merasa kalau kau tidak menganggapku sebagai teman sungguhan. Aku hanyalah salah satu dari sedikit orang yang kau kenal dan sering menghabiskan waktu denganmu karena acara keluarga kita, menghabiskan waktu bersama karena kita menuntut ilmu di tempat yang sama. Lebih dari itu, kau menyimpan dirimu untukmu sendiri."
Sasuke tak menyahut, sedikit terkejut dengan pengakuan Neji tentang apa yang ia pikirkan selama ini tentang dirinya.
"Dan aku, hanya bisa memaklumimu. Membiarkanmu bersikap seperti itu. Tidak pernah mengeluh, tidak menuntut apa-apa. Aku menerimamu apa adanya sebagai temanku."
"Apa yang mau kau katakan?" Sasuke semakin tidak mengerti.
"Bahkan orang jenius seperti aku tidak tahu jawabannya. Jawab aku, antara seseorang yang mengerti dirimu dan menerimamu apa adanya dan membiarkanmu bersikap sesukanya, dengan orang yang memahamimu namun berusaha membuatmu berubah menjadi lebih baik, mana yang paling benar?"
Sasuke terkejut bukan main.
"Bukan tempatku untuk menilai sesuatu itu baik atau buruk. Tapi apa yang terjadi padamu belakangan ini mengarah pada hal-hal yang postif, jadi kuanggap perubahanmu ini baik. Terserah bagaimana kau akan menyikapi perubahan ini sekarang, tapi ada yang perlu kukatakan padamu sebagai teman lamamu."
Sasuke menunggu Neji melanjutkan kalimatnya.
"Aku tidak akan sanggup berkata seperti ini jika kau tidak berubah menjadi seperti sekarang. Aku tidak akan pernah bisa mengungkapkan pikiranku tentangmu. Entah apa yang terjadi, apakah muncul keberanian atau kesempatan, mungkin juga keduanya. Yang jelas kau telah membuatku ingin mengatakannya. Dan itu semua, karena kau telah berubah. Ada yang berubah dalam dirimu."
Sasuke terdiam, mengolah kata-kata Neji dalam benaknya. Tak pernah ia kira kawannya itu menyimpan berbagai pikiran mengenai dirinya. Baginya selama ini Hyuuga Neji adalah sekedar teman lama, putra dari salah satu kolega Ayahnya, sepupu dari pacarnya, orang yang sama jeniusnya dengan dirinya, mampu mengimbangi percakapan intelektual dengannya. Namun tak pernah ia sangka bahwa kawannya itu memikirkannya sejauh itu.
"…Sasuke," suara dari seberang itu kembali menyeruak, membuyarkan lamunan Sasuke. "Aku tidak bisa memberi jawaban atas masalahmu. Tapi yang dapat kukatakan adalah," hening sejenak, "pernahkah kau memikirkan apa yang dirasakan gadis yang satunya lagi? Sakura?"
Sontak Sasuke terkejut bukan main, "Apa maksudmu??"
"Jangan naif," Neji menukas tajam. "Apa kau yakin, dia tidak akan jatuh cinta padamu?"
Sasuke menahan tawa, "Apa-apaan itu, tentu saja tidak mungkin. Kami—"
"Jangan mungkir," Neji memotong, "kemungkinan bahwa ia jatuh hati padamu tidak nol. Mungkin dia memang bukan gadis sembarangan yang akan terpesona hanya dengan tampang dan gayamu. Tapi kalian telah banyak menghabiskan waktu bersama. Apa kau pernah berpikir seandainya dia suka padamu? Atau mungkin malah kau yang tanpa sadar telah menyukainya?"
Lidah Sasuke menjadi kelu dalam sekejap. Kedua bola matanya membelalak.
"Pikirkan itu. Bukan cuma Hinata yang terluka di sini. Bukan tidak mungkin secara tidak sadar kaupun telah melukai gadis itu. Segala sesuatu tidak akan bisa kembali seperti semula setelah semua yang terjadi. Kau terlalu ceroboh karena telah bermain-main dengan api."
Detik berikutnya Neji memutuskan saluran telepon mereka. Meninggalkan Sasuke dalam keheningan bersama dengan pikiran dan kebimbangan yang makin bertumpuk di kepalanya.
.
.
TBC
End Note:
Cerita semakin memuncak, perlahan namun pasti Sasuke mulai diarahkan pada dua pilihan yang sulit.
Chapter ini banyak drama-nya, buat yang kurang suka, mohon bersabar sedikit ya ^^;;
Karena chapter ini fokus pada perasaan Hinata, berikutnya kita akan lihat bagaimana perasaan Sakura dan apa yang dipikirkannya selama ini.
Buat yang lupa—Tentang pacar Sakura, di chapter 2 Sasuke bertanya apa Sakura punya pacar atau tidak, dan jawaban Sakura adalah, "Tidak ada. Menghilang."
Pacar Sakura ini tampaknya banyak yang menantikan ya, semoga kalian ga berekspektasi terlalu tinggi soal mantan Sakura ini, takutnya malah kecewa dan gebukin saya rame-rame.. ^^;; *kabur*
Review-reply buat non-login reviewer:
.
YoyoY: Saya juga seneng sama Temari, bisa dibilang dari semua heroine di Naruto saya paling deket pribadinya sama Temari ketimbang tokoh lain. Viva Temari! ^^
(Mantan?) pacarnya Saku bukan Naru.. tuh mereka baru ketemu sekarang kan :)
Update diusahakan cepat. Tapi kalau belum mood maksain bisa-bisa hasilnya juga maksa, kadang berjam-jam cengok nunggu mood dulu ^^;; (susahnya moody)
Kanna seuji: Pokonya saya usahakan bakal buat ending yang ga ngeselin.. ;)
Hinata cemas, Sasu bingung, Saku (?) di chapter depan.. :)
Kaori a.k.a Yama: Yo juga ^^
Awalnya memang niat jadiin Temari penampar realita buat para tokoh cewek di sini, tapi ga niat bikin Temari sekejam itu. Tau-tau pas ngetik tangan langsung auto-pilot sendiri, ngetik apa yang sekiranya seorang Temari ungkapkan di saat begitu. Ternyata banyak yang suka heheh ^//^
Iya itu Naru, hubungannya sama Naru masih belum jelas.. :p
Soal mantan Saku, cek di End Note ya :)
Naru-mania: Ino nanti muncul lagi di chapter berikutnya, tampaknya chapter berikutnya bakalan panjang banget atau mungkin saya bagi dua nanti *lap keringet*
Yup, betul, setiap hal pasti bertolak dari alasan, dan semuanya punya pembelaan tersendiri.. ;)
Soal pacarnya Sakura, silahkan liat di End Note :)
Nakamura Miharu-chan: Udah update nih ^^
Mugiwara piratez: Syukurlah kalau cukup realistis :D
Iya, cowok emang kurang sensitif sama perasaan orang. Mainannya otak mulu, jarang pake hati =3=
Makanya muncul si Neji ini buat memberi tamparan keras biar Sasu mikir.. :p
Ryu kun: Iya, Naru yang berusaha menghentikan Hinata akhirnya malah terjebak sendiri dan sulit membantah. *pok-pok naru*
Erm..sayangnya Naru bukan (mantan?) pacar Saku ^^;;
Risle-coe: Temari jadi favorit ya, viva Temari! ^-^
Yup, tiap orang pasti punya alasan dan pembelaan tersendiri atas semua tindakannya ;)
Syukurlah kalau hobi berdebat saya bermanfat :)
crackqueen: Iya, sekitar 2-3 chapter lagi. Baca terus ya ^^
Kyoro: Maap chapter 7 ini telat... T__T *sembah*
Moga chapter ini ga mengecewakan..
Temari favorit banyak orang ya :D
Liya anag baik: Iya, Naruto. Tuh akhirnya dia ketemu Sakura ^^
Suka Hinata nggak yaa? Gimana Naru? *colek pundak Naru* Hehe masih rahasia katanya.. :p
BonSUJU: Salam kenal juga.. ^^
Hehe iya, banyak yang berkomentar kalau Temari di chapter lalu keren, chapter depan dia bakal 'beraksi' lagi ;)
Imuri: Sip, udah update nih ;)
.
To all of you, Thanks a lot for spending your time to leave comments, love you all~ ^^
.
ETA: Chapter 7 ini typo-betaed by Baka Tantei Seishiro Amane, mengingat saya agak sibuk dalam beberapa hari ini. Trims yak, otouto! :)
Tantei-kun ini adik dari salah satu teman dekat saya di kampus. Bagi yang senggang, Silahkan coba baca fanfic dia~ ^^
