Judul: Little Fire on the Candle

Fandom: Naruto

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Drama, Hurt/Comfort

Rating: T

Pairing: SasuHina ; SasuSaku

WARNING: AU, OOC-ness

NOTE: Bagian kedua dari Act 8: Another Question. Sasuke bagaimanapun harus menghadapi permasalahannya dengan Hinata maupun Sakura.

Sedikit perubahan rencana. Karena satu dan lain hal, debat SasuSaku untuk sementara ditunda, dan aksi Temari juga (mohon maap *bungkukin badan*) Tapi sebagai gantinya, konflik semakin meruncing dengan pasti. Dan saya pastikan kedua janji saya di atas akan segera tiba dengan lebih hot.. ;)


Little Fire on the Candle

( Act 8: Another Question II )


.

"Kenapa?" ulang Ino lagi, dengan sebelah alisnya yang terangkat.

Sasuke melirik pada Sakura dengan sudut matanya, menunggu reaksi gadis itu. Ia mengerti bahwa ini adalah antara Sakura dengan temannya itu, dan dia tak punya tempat untuk ikut campur.

Sakura melenguh pelan, menelan ludahnya. Ia balas menatap Sasuke, menunggu pemuda itu memberikan pendapatnya.

Akhirnya aksi hening saling tatap itu pecah dengan suara dehem Ino, yang tampak sedikit gusar, "Mau kubantu atau tidak?"

Sakura menghela napasnya, dan menyodorkan plakat di tangannya pada Ino perlahan, "Tolong berikan pada Temari," ucapnya hati-hati.

Ino menyambut plakat yang terulur itu tanpa menyahut. Tepat sebelum Ia melangkah pergi, Sakura kembali berseru, "Terima kasih."

Ino hanya melambaikan tangannya tanpa menimpali, dan melenggang pergi ke arah lobby seminar.

Beberapa saat setelah sosok Ino menghilang di belokan, Sasuke membuka suaranya dengan sedikit terburu, "Apa kau yakin ini tidak apa-apa? Bukankah kau dan dia sedang ada masalah?"

"Aku percaya padanya," Sakura mengangkat bahunya dan tersenyum. "Jika rasa percaya sudah hilang, pondasi persahabatan kami pun akan betul-betul hancur tak bersisa. Walau dia masih marah padaku, kuharap rasa percayaku ini akan sedikit membuatnya mengerti bahwa aku selalu menganggapnya sebagai temanku, bahkan setelah semua yang terjadi di antara kami," sahutnya ringan.

Sasuke menghela napas panjang, "Baiklah jika itu yang terbaik menurutmu. Tapi jika gadis itu—siapa namanya?—ternyata mengkhianati kepercayaanmu dan tidak memberikan plakat itu pada Temari, aku tidak segan-segan akan membuat perhitungan dengannya," tandasnya tegas.

Sakura memutar bola matanya.

"Biar wanita sekalipun," tambah Sasuke lagi.

"Namanya Ino. Kau benar-benar tidak ingat dia sama sekali?" Sakura mengerutkan keningnya.

"Kenapa aku harus ingat?" Sasuke malah balas bertanya.

Sakura bangkit berdiri, sedikit meringis ketika dirasakannya tumit kakinya terasa sakit, "Dia sudah menyukaimu sejak lama, kau tidak tahu?" ujarnya yang sebetulnya tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan.

"Kalau dia tidak pernah bilang, mana aku tahu," Sasuke menimpali dengan nada tak acuh.

Sakura menatap Sasuke lekat, "Benarkah?" ia memicingkan kedua matanya, berusaha menarik keluar segala macam emosi yang tersimpan di balik balutan ekspresi acuh tak acuh sang Uchiha.

Sesaat Sasuke terdiam, sebelum pada akhirnya mengakui, "Ok, kuakui, sedikit banyak dapat kurasakan kalau dia menyimpan perasaan padaku. Tapi itu kan sekedar naksir, bukan suka sungguhan," ia membela diri.

"Hmm entahlah," Sakura bergumam, mengalihkan pandangannya dari Sasuke, mulai fokus untuk berjalan menuju ruang kesehatan.

Sasuke tak menimpali, melingkarkan lengan kanan Sakura di pundaknya, "Ruang kesehatan ada di lantai satu, kau yakin bisa sampai ke sana dengan kakimu?" ada sedikit nada kekhawatiran terasa dari setiap kata yang meluncur dari mulutnya itu.

Sakura mengangguk yakin, "Asal kau membantuku tetap berdiri, aku pasti bisa."

"Oh, tadinya mau kubopong kau seperti seorang tuan puteri," gurau Sasuke, yang lalu disambut pukulan kecil di lengannya oleh Sakura. Sasuke tertawa kecil.

Dengan tertatih-tatih, sepasang muda-mudi itu berjalan pelan namun pasti menyusuri anak tangga menuju ke bawah. Selang beberapa saat, mereka telah sampai di lantai satu, dan mengarah pada ruang kesehatan di sayap kanan gedung sekolah yang luas itu.

Dalam beberapa langkah, mereka telah tiba di depan ruang kesehatan bercat hijau lembut. Tangan kanan Sasuke terjulur dan meraih kenop pintu kayu bercat cokelat di hadapannya. Perlahan memutar kenop aluminium itu dan memberi salam.

"Silahkan masuk," sebuah suara lembut dari dalam ruangan terdengar nyaring.

Sasuke dan Sakura segera memasuki ruangan, "Temanku keseleo," ujar Sasuke sesaat kemudian.

"Sakit tidak?" wanita paruh baya berambut hitam sebahu menyambut keduanya dan menyorongkan kursi ke hadapan Sakura.

Sakura tersenyum dan mengangguk sambil meringis.

"Untung aku tetap berjaga hari ini. Kudengar OSIS ada kegiatan seminar?" wanita perawat itu menghampiri almari kaca berisi macam-macam obat dan kotak P3K.

"Ada, masih berlangsung," jawab Sasuke mengiyakan, duduk di atas ranjang putih.

"Aku belum pernah melihatmu?" Wanita perawat itu kembali menghampiri Sakura dengan kotak pengobatan di tangannya.

Sakura hendak menjawab ketika Sasuke mendahuluinya, "Dia Sakura. Dia membantuku mengurus seminar."

"Oh," wanita perawat itu sedikit mengerutkan keningnya, namun segera memasang raut muka profesionalnya dan mulai mengurut tumit kaki Sakura perlahan.

Sakura meringis, kedua matanya terpejam cepat bersamaan dengan gerakan tangan sang wanita perawat yang mengurut tumitnya.

"Sakura, ini Shizune. Perawat sekolah," ujar Sasuke lagi.

Sakura samar menjawab, "Ha-Halo," di sela-sela ringisannya.

"Aku tidak tahu kepengurusan OSIS membolehkan adanya turut campur pihak luar?" wanita perawat yang dipanggil Shizune itu mengedipkan sebelah matanya pada Sasuke.

"Kalau aku Ketua OSIS-nya, kenapa tidak?" Sasuke menajwab sekenanya. Shizune tertawa.

"Baiklah, kubalut tumitmu sekarang, tahan sedikit ya," Shizune tersenyum lebar pada Sakura dan mulai merentangkan gulungan perban putih.

Sakura mengangguk dan mencengkeram besi pinggiran ranjang putih polos di samping tempatnya duduk dengan pasrah.


Untuk yang ke sekian kalinya, Tenten meremas kepalanya dengan was-was. Raut kekhawatiran jelas terpampang di sana, dan ia mengetukkan jemarinya di atas meja resepsionis.

"Sedang menunggu ini?" sebuah plakat hijau teracung tepat di hadapan Tenten.

Tenten tersentak, terkejut bukan main, "Sakura?!" dan seketika raut mukanya mengerut dalam, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Ino??"

"Mana Temari?" tak mengacuhkan rasa bingung Tenten, Ino mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lobby.

Sesosok bayangan berambut pirang berkuncir empat menarik perhatian Ino. Dengan segera ia beranjak meninggalkan meja resepsionis tempat Tenten mematung dengan heran, menuju sosok itu berada.


"Temari!" Ino berseru.

Temari yang tengah berdiskusi dengan pemuda berkuncir nanas menoleh pada sumber suara. Mengernyitkan dahinya melihat sang pemilik suara.

Tanpa basa-basi, Ino mengulurkan plakat di tangannya, "Nih," ujarnya singkat.

Temari mengangkat sebelah alisnya, tak menyahut.

"Sakura yang membawanya. Aku cuma membantu sedikit," seolah menjawab pertanyaan dalam benak Temari, Ino menyahut ringan.

"Lalu Sakura?" Temari masih belum menyambut uluran tangan Ino.

"Sedang di Ruang Kesehatan. Kakinya keseleo," Ino mengangkat bahunya.

Tak melepaskan pandangannya dari Ino, Temari meraih plakat di tangan Ino dan mengangguk sedikit, "Thanks."

"Lho bukannya kamu sedang marahan sama Sakura?" sang pemuda berambut nanas menyeletuk. Dalam sekejap Temari menyikut sang pemuda malang yang tak tahu situasi.

Ino menatap si rambut nanas yang kini meringis, "Memang."

Temari kembali mengerutkan keningnya, "Tapi kamu memutuskan untuk membantunya?"

"Tapi aku memutuskan untuk membantunya," timpal Ino membenarkan.

Temari menatap Ino sesaat, sebelum beralih pada si rambut nanas, "Shikamaru, masalah sudah teratasi. Kembali ke panggung seminar, aneh jika moderator terlalu lama turun panggung," sahut Temari tegas.

Detik berikutnya pemuda berambut nanas itu mengangguk dan melesat masuk menuju ruang seminar yang tengah riuh oleh tepukan tangan peserta seminar—tentang sesuatu yang dipertunjukkan oleh Chouji sebagai operator, pada layar infocus.

Perhatian Temari kembali pada Ino, menatapnya tanpa berkedip, "Kau sadar dengan apa yang kau lakukan?"

"Apanya?" Ino balas bertanya.

"Jangan pura-pura bodoh. Kalau kau mau, ini saatnya kau menghancurkan Sakura. Mempermalukannya. Membuat seminar ini gagal, hingga ia tak punya muka lagi di hadapan Sasuke," Temari membalas dengan tenang namun tajam—kalau tak mau dibilang curiga.

Ino menghela napas, menyandarkan punggungnya pada pilar raksasa gedung seminar di sampingnya, "Memang betul itu."

Temari tak menyahut, menunggu Ino menjawab lebih banyak.

"Tapi setelah kupikir-pikir, aku malah jadi seperti orang bodoh saja," lanjut Ino.

Temari menarik sudut bibirnya.

"Hei, Temari. Antara aku yang berbuat jahat, dengan aku yang malahan membantu rivalku sendiri, mana yang paling bodoh?" Ino mengalihkan pandangannya ke langit-langit gedung yang tinggi.

"Yang kedua yang paling bodoh," jawab Temari tanpa keraguan.

Ino mengatupkan kedua kelopak matanya, tak menimpali.

"Tapi aku tidak membenci orang bodoh," sahut Temari lagi, dan tak ayal mengejutkan Ino.

Ino mendapati Temari tengah tersenyum ke arahnya.

"Begini lebih baik," ucap Temari seraya menepuk pundaknya pelan.

Senyum samar tersirat di wajah Ino, "Ini bukan untuk Sakura."

"Aku tahu," sahut Temari.

"Juga bukan untuk Sasuke."

"Aku tahu."

"Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku melakukannya," Ino menatap ujung sepatu pantofel-nya di lantai keramik di bawah kakinya. "Aku bukan orang sebaik itu, yang dengan mudah merelakan semuanya. Aku juga manusia, bukan malaikat. Aku tidak sebaik itu."

"Egois itu tidak apa-apa," Temari kembali membuka suaranya. "Kau berbuat begini bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk dirimu sendiri. Aku tahu."

Ino menatap Temari lurus-lurus.

"Aku bangga punya teman sepertimu," sahut Temari dengan mantap.


Tenten menatap kedua kawannya yang kini tengah berbincang di kejauhan, di dekat pintu masuk untuk panitia seminar. Dilihatnya Ino dan Temari yang tampak seperti berbincang dengan serius, dengan Ino yang bersandar pada pilar putih raksasa penyangga gedung seminar. Rasa cemas belum pupus dari relung hati Tenten, bercampur dengan ketidakmengertiannya dengan situasi yang tengah terjadi. Mana Sakura? Sasuke? Kenapa Ino punya plakat sekolah?

"Sedang apa Ino dengan Temari?" sebuah suara menyeruak, membuat Tenten terkejut.

Tenten mengerutkan keningnya, memandangi sesosok pemuda berambut hitam pendek berkulit pucat yang tengah menatap ke arah Temari dan Ino, di depan meja resepsionis-nya.

"Ino membawakan plakat yang dibutuhkan seminar ini," jawab Tenten sedikit ragu. Ia tak mengenal sosok di hadapannya itu sediktipun.

Sang pemuda memutar tubuhnya dan menatap Tenten lurus, "Untuk menggantikan plakat yang patah?"

Tenten mengerutkan keningnya, "Benar. Apa kamu anak OSIS juga?" ia masih sedikit waspada.

"Bukan. Apa sebelumnya Ino berbicara dengan Hinata?" pemuda itu balas menjawab dan bertanya lagi secara bersamaan.

"Lalu dari mana kau tahu? Dan tidak, aku tidak melihat Ino bersama Hinata hari ini," Tenten masih tak mengerti arah pembicaraan menuju.

Sang pemuda tak menyahut, melongok ke dalam ruang seminar, "Terima kasih," ujarnya sebelum melenggangkan kakinya masuk ke dalam.

"Haa??" Tenten menatap punggung pemuda itu yang berlalu menjauh menuju bagian dalam ruang seminar, dengan bengong dan bingung.

"Semua baik-baik saja?" suara lain membuat Tenten terkejut.

"Sakura!" tenten berseru girang. Namun seketika ia tersentak melihat gadis berambut merah muda itu dibopong oleh pemuda tampan berambut hitam.

"Kakiku keseleo," Sakura menunjuk tumit kakinya yang terbalut perban.

Tenten memekik dan menghampiri Sakura, membantu gadis itu duduk di kursi empuk di balik meja resepsionis.

"Sudah ada yang bawakan plakat kemari?" Sasuke—sang pemuda tampan berambut hitam yang detik sebelumnya membopong Sakura—bertanya dengan sedikit tergesa.

"Ino? Sudah," angguk Tenten.

Sasuke menghela napas, tampak lega dan puas, "Kalau begitu aku kembali masuk ke ruang seminar. Tidak enak sudah membiarkan pacarku menunggu cukup lama."

Tenten mengangguk. Sasuke melenggang memasuki ruang seminar berlantai marmer ivory mengkilat dengan corak kelabu bergaya abad pertengahan itu dengan sedikit terburu.

"Tahu tidak, Sakura? Tidak enaknya menjadi resepsionis adalah kau akan banyak menjumpai orang yang datang dan berlalu begitu saja," Tenten tertawa hambar, setengah bercanda.

"Bagaimana dengan Ino? Dimana dia sekarang?" Sakura tak menimpali gurauan Tenten.

Tenten menunjuk ke arah Temari dan Ino berbincang sebelumnya, namun tempat itu kini kosong. Sedikit memiringkan kepalanya, ia mengerutkan dahinya, "Toilet? Mungkin?"

Sakura menghela napas. Dengan kondisi kakinya yang tidak memungkinkan untuk berjalan terlalu sering, ia tak dapat mencari jejak Ino sekarang.

"Kau belum cerita kenapa kau bisa keseleo, dan bagaimana Ino bisa mendapatkan plakat sekolah di tangannya," Tenten menatap Sakura, sedikit khawatir.

Sakura tertawa geli, "Jangan bilang kalau kau berpikir Ino mendorongku jatuh dari tangga atau semacamnya, dan merebut plakat itu dariku?"

Tenten tersipu malu dengan kecurigaannya, "Orang bilang wanita yang kasmaran dan cemburu hebat itu bisa begitu mengerikan," tukasnya membela diri.

Sakura memukul pundak Tenten sambil bercanda, "Tega kau, mencurigai Ino begitu. Aku terburu-buru meniti anak tangga dan terjatuh. Saat aku meringis kesakitan, Ino muncul dan menawarkan bantuan untuk menyerahkan plakat itu pada Temari. Sementara aku dan Sasuke ke Ruang Kesehatan."

Tenten mengerutkan keningnya, "Aku mengaku salah sudah mencurigai Ino. Tapi bolehkah aku terkejut mendengar ceritamu?"

"Yang mana?" Sakura memainkan bolpen di atas meja resepsionis sambil tersenyum simpul.

"Pertama, Ino membantumu. Ino? Ino yang itu?"

Sakura menjentikkan jarinya di depan Tenten, "Jangan bicara begitu. Aku juga heran dan bingung. Tapi aku percaya padanya. Dan buktinya, lihat, dia tidak bohong kan? Katamu sudah dia serahkan plakatnya pada Temari, kan?"

Jawaban yang sama sekali tak membuat Tenten puas, namun ia paham bahwa Sakura sendiri tak mengerti apa yang ada dalam kepala Ino saat ini.

"Kedua?" Sakura bertanya sembari kembali beralih memutar bolpen di tangannya dengan lincah.

"Kedua, aku kaget lho, barusan itu," Tenten nyengir lebar, "Kamu berpelukan sama Sasuke."

"Jangan mengatakannya dengan cara begitu, dia hanya membantuku berjalan," Sakura menggerutu.

Tenten mengangkat bahunya, "Yah, setelah masalahmu dengan Ino beres, sekarang masalahnya tinggal Hinata."

"Apa maksudmu?" Sakura mengerutkan keningnya cepat.

Tenten menghela napas, "Kuakui…beberapa hari lalu aku memang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kukatakan bahwa tidak sepantasnya kau mengganggu hubungan Sasuke dengan Hinata. Walau pada kenyataannya kau tidak berniat seperti itu, dan aku juga tahu hal itu."

Sakura diam tak menyahut.

"Tapi setelah kupikir ulang…" Tenten terhenti sejenak, "kalau memang ini yang terbaik bagi Sasuke, kenapa tidak?"

"Maksudmu?" Sakura tak menahan rasa bingungnya kali ini.

"Kalau Sasuke memang merasa lebih nyaman bersamamu, kenapa tidak? Kurasa kalian cocok dan—"

"Tenten," Sakura menyela cepat.

Tenten sedikit terkejut dengan perubahan nada suara Sakura yang menajam.

"Aku dan Sasuke hanya berteman," tegas Sakura.

"Hmm," Tenten menghela napasnya dan bergumam. Entah ia mengerti atau mengiyakan, atau mungkin hanya menghentikan topik yang entah bagaimana menjadi tabu dengan sendirinya itu.

"Bagus kalau kau mengerti," Sakura kembali dengan penegasannya.

Tenten tak berkata lebih lanjut, karena ia tahu bahwa sekali Sakura memutuskan sesuatu, akan sulit bagi orang lain untuk mempengaruhinya. Sakura yang dikenalnya selama ini selalu begitu, berpegang teguh pada pendiriannya. Betul-betul seorang gadis yang berprinsip keras.

"Ah, ngomong-ngomong soal Sasuke, tadi ada anak laki-laki yang sedikit banyak mirip dengan Sasuke," Tenten menepuk meja resepsionis dengan antusias, mengalihkan pembicaraan untuk menurunkan tensi menyesakkan di antara mereka.

"Oh?" Sakura sedikit tak berminat.

"Sepertinya dia mengenal Ino. Dia tanya apa Ino dan Hinata terlihat bercakap-cakap bersama hari ini atau tidak," lanjut Tenten lagi mengangkat bahunya.

Sakura mengerutkan keningnya, "Kenapa dia tanya begitu?"

"Sebelum kutanya, dia keburu pergi begitu saja. Masuk ke dalam ruang seminar," Tenten tertawa hambar. Kembali mengingat kata mutiara satirnya soal derita resepsionis.

"Firasatku tidak enak," desis Sakura pelan, namun cukup terdengar oleh Tenten yang kini menatapnya tanpa menyahut.


Sasuke menelusuri lantai marmer ruang seminar, dan sekilas menangkap sosok Temari di salah satu sudut panggung seminar di depan barisan sana. Wakilnya itu mengangkat jempol padanya. Tanda semuanya sudah 'OK' dan baik-baik saja. Sasuke membalas isyarat tangan Temari itu dengan anggukan kecil.

Dalam sekejap saja kini ia sudah sampai di barisan tempatnya duduk sebelumnya. Namun bertapa terkejutnya, ketika dilihatnya kursinya itu kini telah ditempati seorang pemuda lain yang berambut emas.

"Hinata?" Sasuke menghampiri kekasihnya itu, mengerutkan kening dan menatap tajam pada Naruto—si rambut emas yang duduk di kursinya.

Gadis berambut hitam panjang yang dipanggil Hinata itu menoleh dan tersenyum, "Sudah beres urusannya?"

Sasuke mengangguk, tanpa melepaskan pandangannya pada Naruto, "Ya, aku mengambil plakat dari rumahku. Plakat sisa seminar OSIS sebelumnya."

"Ini Uzumaki Naruto, rekan satu proyek yang kuceritakan sebelumnya," ujar Hinata lembut, memperkenalkan si rambut emas.

"Halo," Naruto mengulurkan tangannya.

Sasuke tahu betul bahwa tidaklah mungkin pemuda bernama Naruto itu tidak tahu siapa dia. Namun sebagai formalitas, disambutnya juga uluran tangan itu dan menjabatnya, "Uchiha Sasuke," sahutnya.

Naruto mengerling sedikit pada Hinata dan tersenyum tipis, "Kalau begitu, aku permisi dulu," ujarnya seraya beranjak meninggalkan kursinya—kursi Sasuke, lebih tepatnya.

Sasuke mengamati sosok Naruto yang pergi menjauh, dan mendudukkan dirinya kembali di kursinya. Sedikit rasa tak senang terpampang di wajahnya dengan jelas.

"Aku tidak tahu kamu akrab dengannya," Sasuke bersungut.

"Dia yang sekehendak hatinya datang dan duduk di sampingku," Hinata menjawab sedikit tak acuh. Pandangan matanya tetap lurus terpaku pada podium seminar, dimana sang narasumber tengah berorasi dengan lantang dan semangat.

"Kau tidak bilang kalau kau datang denganku?" Sasuke kembali bertanya.

"Berhubung kau tidak ada, tidak ada alasan untuk mengusirnya, jika itu maksudmu," Hinata menyahut tanpa mengubah intonasi datarnya.

"Ada apa denganmu?" Sasuke sedikit mengerutkan keningnya.

"Apa aku terlihat seperti ada apa-apa?" Hinata balas bertanya. Masih tak mengalihkan pandangannya pada Sasuke.

"Kau marah padaku?" Sasuke sedikit meninggikan suaranya, geram dengan tingkah kekasihnya itu.

"Menurutmu bagaimana?" timpal Hinata sekenanya.

Sasuke memutar bola matanya, "Dengar, tadi itu betul-betul situasi kritis. Kalau aku tidak bertindak cepat, entah apa yang akan terjadi."

"Paling narasumber merasa tersinggung, kondisi seminar menjadi tidak mengenakkan. Dengan kata lain, seminar gagal," Hinata menyuarakan ramalannya.

Sasuke memutar bola matanya lagi, "Nah itu kau tahu."

"Tentu saja, seminar begini sih sudah biasa kutangani," timpal Hinata.

"Hinata, Hinata," Sasuke memegang kedua bahu Hinata dan memaksanya melihat ke arahnya. "Aku tahu kau tidak senang aku pergi meninggalkanmu begitu saja. Tapi kuharap kau juga mengerti bahwa itu semua karena tugasku, kewajibanku sebagai Ketua OSIS. Untuk menjamin keberhasilan acara ini, kesuksesan akan kelangsungan acara ini."

"Kau bicara seolah aku mengekangmu saja," Hinata tersenyum samar.

Sasuke mendengus, "Kalau memang tidak begitu, tolong pahami aku sedikit," ujarnya berusaha meyakinkan Hinata.

"Kau bicara seolah aku ini orang jahat saja," Hinata memalingkan mukanya, kembali menatap podium, walau siapapun tahu pikirannya sama sekali tidak terpaku pada sang pembicara di depan podium.

"Apa maksudmu?" Sasuke mengerutkan keningnya, mengguncang bahu Hinata perlahan, meminta perhatian dari gadis itu kembali.

"Seolah aku ini monster jahat yang mengganggu kisah asmaramu dengan si gadis astrologi itu."

Kalimat yang dilontarkan dengan tegas dan tajam oleh Hinata itu membuat Sasuke terpaku di tempatnya.


"Apa kau cuma datang hanya untuk pergi lagi setelah beberapa detik?" Tenten memicingkan matanya, menatap pemuda berambut emas di hadapan meja resepsionisnya.

Naruto tertawa, "Kenapa bicaramu sinis begitu? PMS?"

Tenten merengut, "Tahu tidak? Dari tadi, ada saja yang datang, terus pergi lagi setelah beberapa detik," sungutnya.

"Eh, kalian saling kenal?" Sakura menatap Tenten dan Naruto bergantian dengan padangan yang terkejut.

Tenten mengangguk, "Kau ingat waktu kukatakan seorang temanku yang bersekolah di sini memberitahuku tentang gosip yang dibuat gadis bernama Karin yang tidak suka pada kedekatanmu dengan Sasuke itu?"

Sakura mengangguk.

"Ya ini, dia ini orangnya," Tenten menunjuk Naruto yang kini cengengesan.

Sakura membulatkan bibirnya, "Ya Tuhan, sungguh suatu kebetulan."

"Memangnya kau tidak bilang kalau kita saling mengenal, Naruto?" alih-alih, Tenten mengerutkan keningnya dan menoleh pada Naruto.

"Sakura butuh seseorang yang sama sekali berada di luar garis masalahnya, untuk membuatnya tenang di sekolah berhawa sesak ini," Naruto tersenyum lebar, memamerkan barisan gigi putihnya.

Tenten sedikit tak mengerti, namun ia hanya menghela napas dan memutar bola matanya.

"Kadang aku merasa," Sakura membuka suaranya kembali, "suatu kebetulan adalah mukjizat, sementara kebetulan yang datang terlalu bertubi-tubi adalah…"

Tenten dan Naruto memandanginya dengan sedikit terkejut, keduanya menanti lanjutan kalimat Sakura dengan pikiran masing-masing yang berkecamuk.

"Awal dari bencana."

Tenten dan Naruto saling berpandangan.


Seminar hari itu berlangsung dengan lancar dan sukses. Baik dari pihak nara sumber, panitia, maupun peserta seminar, semuanya mendapatkan kepuasan masing-masing dan meninggalkan ruang seminar dengan rapi dan teratur dengan perasaan senang.

Shikamaru dan Temari kini tengah mengantar para narasumber kembali ke pelataran parkir untuk meninggalkan kompleks sekolah. Kiba dan Chouji mengantar narasumber yang lainnya.

Dari awal hingga akhir, semua peserta seminar sama sekali tidak merasakan kejanggalan kondisi para panitia inti seminar yang sebenarnya dipenuhi oleh berbagai macam konflik internal. Semuanya terlihat baik-baik saja, lancar, dan profesional. Sungguh memuaskan.

Juga tak dapat mereka tangkap atmosfir janggal ketika penyerahan plakat dilangsungkan, dimana Ketua OSIS dan OCP Seminar masing-masing menjabat tangan para narasumber seraya menyerahkan plakat.

Yang terbersit di pikiran para peserta seminar adalah satu di antara dua: Sebal melihat gadis berambut merah muda tak dikenal yang berdekatan dengan sang tuan populer—Uchiha Sasuke—dan satu lagi takjub melihat harmonisasi di antara keduanya, yang tak dapat dipungkiri bahwa kombinasi Uchiha Sasuke dan gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Haruno Sakura itu, membuat siapapun mengakui bahwa ada sesuatu dalam diri mereka yang membuat mereka begitu serasi. Seolah saling melengkapi.

.

Dalam sekejap ruangan luas itu kini menjadi lengang dan sunyi senyap. Yang terdengar hanyalah bunyi lipatan kursi beludru merah yang mulai dibereskan dan diangkut para staf logistik bahu-membahu. Beberapa staf dari bagian divisi lain ikut turun tangan dan membantu.

"Ahh akhirnya beres!" Tenten bersorak girang.

Sakura mengembangkan senyum lebar, "Ya! Aku senang sekali!" serunya puas.

"Walau sempat terjadi kehebohan dengan patahnya plakat, untunglah semuanya bisa berjalan lancar," sahut Tenten lagi.

"Benar, syukurlah," timpal Sakura sambil tertawa riang.

"Harap semua panitia inti, bergabung dalam Rapat Evaluasi," sebuah suara lantang menyeruak. Tak kalah dengan bunyi dentingan dan gesekan batang besi kaki kursi yang dilipat dan diseret dalam ruangan.

Sakura menoleh pada sang pemilik suara, gadis berambut merah berkacamata bingkai cokelat yang tengah memandanginya dengan tajam. Tak melepaskan pandangan tajamnya itu sedikitpun dari kedua bola mata emerald Sakura.

"Lihat lagaknya yang sok kuasa itu. Dimana ia waktu kita kelabakan cari plakat?" Tenten mendengus, berbisik pada Sakura.

"Hush, begitu-begitu dia Sekretaris OSIS, pasti pekerjaannya banyak sekali," Sakura menyodok perut Tenten. Melangkahkan kakinya menghampiri sang Sekretaris.

Tenten mencibir dan mengekor di belakang Sakura.

.

Sakura menarik kursi yang diletakkan berjejer melingkar oval di lobby gedung seminar, dimana beberapa siswa lainnya sudah duduk di tempatnya masing-masing. Ia dan Tenten duduk bersisian dengan tenang—walau raut muka Tenten sedikit menunjukkan rasa tegang, tak biasa dengan suasana formal rapat seperti itu.

"Baiklah, semua sudah berkumpul," Sasuke, sebagai pemimpin rapat, membuka suaranya dengan tegas dan lantang, menyita perhatian seluruh panitia inti yang duduk di sekelilingnya.

"Rapat Evaluasi Seminar 'Sejuta Pesona Tata Surya' yang dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 17 Januari 2010, pukul 10:00-13:00 ini, dimulai," seru sang Sekretaris berambut merah dengan tegas, dan membuka buku catatannya.

"Pertama-tama, kuucapkan selamat. Selamat atas keberhasilan seminar ini. Keberhasilan ini telah didukung oleh semua pihak, dan aku mengucapkan terima kasih pada kalian semua, yang telah bekerja keras dan berupaya sepenuh hati demi kelangsungan seminar ini," Sasuke memulai sambutannya, dan diikuti oleh gemuruh tepuk tangan puas dan bangga dari seluruh panitia seminar.

"Sempat ada sedikit kendala, namun dapat diatasi dengan sigap dan tangkas, hingga semuanya kembali berjalan lancar. Dengan kata lain, seminar ini sukses besar!" ujar Sasuke lagi, kembali disambut kemeriahan para panitia, terutama para staf logistik yang bersorak sorai.

"Dan tentu saja, aku sangat merasa bangga pada OCP acara ini, yang telah mendedikasikan dirinya begitu penuh kesungguhan, dalam pelaksanaan seminar ini. Dari mulai perancangan acara, pencarian narasumber, persiapan teknis, hingga pelaksanaan yang luar biasa terkendali dan terstruktur, semuanya berkat sang OCP. Kuucapkan rasa terima kasihku yang sedalamnya pada Haruno Sakura."

Suasana rapat semakin riuh, menyelamati Sakura. Sakura hanya tersenyum sembari malu-malu dengan pujian Sasuke terhadapnya. Tak diindahkannya tatapan tak senang sang Sekretaris yang merangkap sebagai notulen rapat, di sebelah Sasuke.

Rapat Evaluasi itu dilanjutkan dengan pembahasan mengenai jalannya seminar. Hambatan yang dihadapi, kesan dalam penanganan tugas, dan saran untuk ke depannya, dari masing-masing panitia inti dan perwakilannya.

Keberlangsungan rapat yang penuh canda dan kepuasan itu diakhiri dengan tepuk tangan riuh dari para peserta rapat, ketika Sasuke dan Sakura berjabatan tangan untuk diambil potret kenang-kenangan mereka, oleh staf dokumentasi.


Malam harinya, di kediaman Sakura…

.

"Kau tahu Sakura? Tadi siang itu kau begitu keren," suara di seberang saluran telepon terdengar antusias.

"Hmm, terima kasih," Sakura mengunyah crackers-nya sambil menekan tuts keyboard-nya dengan lihai, mengapit ponselnya di antara celah bahu dan cuping telinganya.

"Lalu, lalu, waktu kau bersalaman dengan Sasuke di depan seluruh panitia seminar itu juga, ya Tuhan, sulit diungkapkan. Cocok sekali!"

"Maksudmu?" Sakura mengerutkan keningnya sedikit.

"Dengan kata lain," terhenti sejenak, "kalian betul-betul serasi satu sama lain," ujar suara riang itu lagi.

"Oh Tenten, berapa kali kubilang kalau—"

"Aku tahu, aku tahu," sang lawan bicara yang rupanya adalah Tenten itu menyela cepat. "Sayangnya Sasuke sudah punya pacar. Kan?"

"Berhentilah membuat hal ini sebagai lelucon," Sakura menghela napas.

"Aku serius," Tenten menyahut.

"Apalagi serius, berhentilah," timpal Sakura.

Desahan napas Tenten terdengar muram, "Sangat disayangkan. Ketika aku pada akhirnya memahami posisimu, pada saat yang sama aku mengerti betapa berat keadaanmu."

"Maksudmu?" Sakura mengklik mouse di tangan kanannya.

Tenten tak menyahut. Ia tahu benar bahwa Sakura memahami apa yang ingin disampaikannya.

"Semuanya berawal dari chatroom," Tenten berkata sesaat kemudian.

"Hm," Sakura hanya bergumam.

"Kalau seandainya saat itu dia tidak mengunjungi Astrology Chatroom, kita tidak akan kenal dia, ya?" Tenten kembali dengan imajinasinya.

"Kalaupun begitu, bukannya kita tetap akan bertemu untuk urusan Festival? Kurasa Temari tetap akan mencalonkan kita untuk mengisi stand kosong itu," Sakura menajwab sekenanya.

"Benar juga," Tenten mengiyakan. "Ah, tapi kalau kau dan Sasuke tidak saling mengenal sebelumnya, dia tidak akan mempercayakan seminar ini padamu. Dan tidak akan ada hari ini. Mungkin ada, tapi tidak begini kejadiannya. Entah siapa yang mengurusi seminar ini, dan kita hanya datang sebagai peserta, untuk menghargai acara OSIS sebagai rekan kerja kita, atasan kita."

"Kau benar," kali ini Sakura yang tersenyum dan mengiyakan.

"Ini semua sudah menjadi takdir yang digariskan untuk kita. Untukmu dan Sasuke, lebih tepatnya," Tenten tertawa geli.

"Ya, kami jadi teman baik," sahut Sakura, menatap lekat pada layar laptop-nya.

"Mmm," Tenten terdengar sedikit ragu. "Kalau…Kalau saja kau bertemu Sasuke lebih cepat satu tahun, sebelum ia berpacaran dengan Hyuuga Hinata, semuanya pasti akan jauh berbeda," ujarnya sesaat kemudian, dengan sedikit berhati-hati.

"Tenten, kalau kau mau memulai karir menjadi Mak Comblang, silahkan cari klien lain. Aku tidak berminat," tukas Sakura datar, namun terdapat penegasan dalam setiap kata yang ia lontarkan.

"Padahal kalian begitu serasi satu sama lain," Tenten bersikeras.

"Jangan diteruskan."

"Seandainya saja kalian bertemu lebih awal…"

"Jangan diteruskan. Kumohon jangan."


Sakura membaringkan tubuhnya di atas ranjang tidurnya yang berseprai putih dengan corak bunga sakura di pinggirannya. Tatapan matanya tertuju pada langit-langit kamarnya, sementara pikirannya melayang jauh.

Membentangkan kedua tangannya lebar-lebar, Sakura menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali perlahan. Pikirannya campur aduk, dadanya terasa berat.

Percakapan lewat udara bersama Tenten kembali terngiang dalam pikirannya.

"Padahal kalian begitu serasi satu sama lain."

Benarkah?

"Seandainya saja kalian bertemu lebih awal…"

Adakah yang akan berbeda?

Sakura mengatupkan kedua kelopak matanya.

Jauh, jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu benar jawaban dari kedua pertanyaan itu. Sesuatu dalam dirinya berteriak dan menjerit, berusaha menyuarakan isi hatinya yang selalu ia tutup rapat.

Ia tahu benar. Sekali saja ia lengah dan membiarkan pikiran kotor itu merasuk ke dalam dirinya, menguasainya, maka ia tak akan sanggup meloloskan diri dari jeratan alam bawah sadarnya. Labirin pikirannya yang rumit dan seolah tak berujung itu, sejujurnya memiliki pola tersendiri yang membawanya menuju titik jawaban dari semua hal yang memusingkannya. Namun ia sendiri tak ingin mengakuinya, tak ingin menyadarinya.

Sebegitu kejamnya kah sang Dewi Takdir, hingga mempermainkan hidupnya seperti ini?

Oh tidak. Lihat betapa ia telah perlahan namun pasti berubah menjadi gadis yang dipenuhi pikiran kotor. Pikiran untuk menimpakan kesalahan pada orang lain. Ketidakberdayaan yang membuatnya berusaha meloloskan diri dari rumitnya masalah, dengan menyalahkan orang lain.

Tiba-tiba suara dering ponselnya membuatnya terhenyak.

Dengan setengah sadar Sakura meraih ponselnya tanpa berpikir. Pikirannya masih kusut berkecamuk.

"Sakura, ini aku."

Sasuke?

Sakura meloncat dari posisinya terlentang, terduduk di ranjangnya kini, "Sasuke?"

"Mm… Apa kau sedang sibuk?"

Sakura mengerutkan keningnya, "Tidak juga, aku sedang mampir ke Astrology Chatroom setelah beberapa hari absen dari sana, tapi tidak begitu ada kerjaan. Ada apa?"

Terdengar helaan napas dari ujung saluran telepon, "Ada yang ingin kubicarakan."

"Eh?" Sakura menatap nanar pada sisi ranjang tidurnya. Entah mengapa firasatnya menjadi tidak enak.

"Masih ingat kalau aku dan Hinata berbincang malam minggu kemarin?" suara Sasuke terdengar sedikit ragu.

"Ya," Sakura menjawab singkat.

"Tadi kami melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda itu sepulang dari seminar."

"Ah.. Begitu…" Sakura tak mengerti ke mana arah pembicaraan menuju. Kenapa Sasuke meneleponnya? Namun ia sendiri tak sanggup bertanya. Atau mungkin ia hanya tak sanggup mendengarkan jawabannya.

"Bisa kita bertemu sekarang?"

Sakura terkejut bukan main, "Eh??"

"Bisa bertemu sekarang? Apa kau ada acara malam ini?" Sasuke mengulang.

"Tidak, tidak ada," Sakura mengerjapkan matanya.

"Baiklah. Kujemput setengah jam lagi. Jangan terlambat," sahut Sasuke lagi sebelum menutup sambungan telepon.

Sakura mengerutkan keningnya, menatap layar ponselnya yang kini berkedip dan putus sambungan.


Sakura menepuk tepi rok cokelat yang dikenakkannya. Menenteng tas kecil dengan jemari-jemari lentiknya. Ia tidak begitu sering mengenakkan dress seperti ini, namun sesaat sebelumnya ia mendapat sms dari Sasuke bahwa tempat yang akan mereka tuju nanti adalah café khusus steak impor yang cukup terkenal di Tokyo. Tentu saja café dengan kualitas internasional seperti itu menuntut pengunjungnya berpakaian pantas layaknya orang kelas atas.

Tak lama, sebuah mobil sedan silver tampak melaju dari kejauhan dan terhenti tepat di hadapannya. Kaca jendela mobil itu terbuka secara otomatis.

"Naiklah," ujar sang pemuda tampan yang duduk di kursi kemudi.

Sakura menarik kenop pintu mobil, menyusupkan dirinya ke dalam mobil yang hangat itu dan duduk dengan tenang. Setelah menutup pintu, mobil pun melaju cepat.

"Kau manis pakai dress," Sasuke bergurau seraya mengedipkan sebelah matanya pada Sakura.

Sakura berdehem, "Jangan mengejekku."

"Siapa? Tidak kok, sungguh, manis sekali," Sasuke kembali berujar, memberi penekanan pada setiap kata-katanya.

"Terima kasih," Sakura tak berani menatap Sasuke langsung. Seketika jantungnya berdetak kencang dan dirasakannya mukanya memanas. Segera ia palingkan wajahnya ke jendela di sampingnya. Tak membiarkan Sasuke menangkap basah dirinya yang merona malu.

.

Sisa perjalanan dihabiskan dengan keheningan yang menyelubungi kedua insan yang tengah larut dalam pikirannya masing-masing itu.

Dalam beberapa saat, mobil yang mereka tumpangi memasuki area parkir dari café steak yang menjadi tujuan. Setelah memarkirkan mobilnya, Sasuke dan Sakura beranjak turun dari mobil dan melenggang masuk ke dalam café.

Di bawah naungan langit gelap yang dihiasi taburan bintang terang, tiang-tiang kayu penyangga tatakan lampion berjejer rapi di beberapa tempat, menghiasi jalanan utama menelusuri jalan setapak berbatu menuju pintu utama café, dengan rerumputan di sekelilingnya.

Beberapa pasang muda-mudi tampak menikmati makan malam mereka masing-masing di beranda café. Meja-meja bundar dengan payung pantai di atas setiap meja, lengkap dengan tatakan kaca berisi lelehan lilin keemasan dengan api kecil yang menerangi meja mereka yang temaram.

Sasuke memasuki café dan melenggang menuju bagian dalamnya. Sakura mengikuti di belakangnya dengan langkah anggun. Hak sepatunya yang cukup tinggi berpantulan berirama lembut dengan lantai marmer café yang berwarna kelabu dengan corak perak yang indah.

"Uchiha Sasuke, sudah pesan tempat," ujar Sasuke pada pelayan yang menyambut di pintu masuk.

"Silahkan ikut saya," pelayan itu membungkukkan badannya dan mempersilahkan Sasuke dan Sakura mengikutinya.

Suasana di bagian dalam café tidak kalah indahnya dengan bagian luarnya. Meja-meja persegi dari yang untuk dua orang, hingga meja panjang untuk beramai-ramai, semuanya rapi tersusun bersama dengan tatakan kaca berisi lilin keemasan di tiap meja.

Dindingnya yang dilapisi wallpaper senada dengan lantai marmernya, memberi kesan kontras atas perbedaaan gradasi warnanya, tergantung tingkat pencahayaan yang dipantulkannya.

Pilar-pilar putih yang terbelit dedaunan dan mawar putih dan merah muda, menghias di sana-sini. Setiap beberapa meter, ruangan terpisah oleh aliran sungai buatan kecil yang menampilkan ikan-ikan kecil yang berenang dengan lincah di bawah sana. Di atas sungai terdapat jembatan-jembatan kecil dari kayu kecokelatan dan besi abu-abu perak yang terjalin seperti rantai sebagai pegangannya.

Berjalan semakin jauh ke dalam, pelayan yang berjalan di depan terhenti dan menunjukkan sebuah meja dengan sopan, "Silahkan. Untuk tuan Uchiha Sasuke."

Sasuke mengangguk dan menarik kursi untuk Sakura. Sakura sedikit terkejut dengan perlakuan Sasuke itu, namun tanpa berkata-kata ia mendudukkan dirinya di kursi yang disorongkan Sasuke itu dengan anggun dan hati-hati. Sesaat kemudian Sasuke duduk di seberangnya.

Sang pelayan menyalakan lilin di atas meja yang mereka tempati, "Saya panggilkan waitress sekarang, tuan?" pelayan itu membungkukkan badannya kembali di samping meja yang kini ditempati Sasuke dan Sakura.

"Kau sudah lapar?" alih-alih menjawab, Sasuke bertanya pada Sakura.

"Mau nanti atau sekarang, tak masalah," jawab Sakura, menghormati keputusan Sasuke. Berhubung Sasuke bilang ada sesuatu yang ingin dibicarakannya. Dengan kata lain, sungguh tak sopan bila ia yang memegang kendali atas makan malam mereka ini.

"Sekarang, kalau begitu," sahut Sasuke pada sang pelayan.

Sang pelayan menggumamkan 'Ya' dan melenggang pergi.

Sakura mengamati meja yang ia tempati. Meja kayu cokelat gelap itu tampak mengkilat dengan cahaya yang bergoyang dari lilin kecil di atas meja.

Kini Sakura dapat mengamati dengan lebih jelas. Tatakan kaca itu berbentuk seperti mangkuk gelas mungil dengan bentuk yang artistik dan rumit. Permukaannya membiaskan berbagai warna indah yang berbeda dari tiap sudut lekukan kaca. Redup dan terang tergantung intensitas cahaya yang diterimanya dari lilin berwarna emas yang ada di atasnya.

Lilin emas itu berbentuk batang gempal yang menjulang rendah, dengan hiasan kawat keemasan yang melingkar di batangnya dengan indah.

"Sekali lagi, selamat atas kesuksesan seminar hari ini," Sasuke membuka percakapan dengan senyum terpoles di bibirnya.

Sakura balas tersenyum, "Kau sudah mengatakannya berulang kali. Kalau bilang lagi, aku malah jadi malu," ujarnya setengah bercanda.

Sasuke tertawa kecil, "Sebagai ucapan terima kasih, kali ini kutraktir kau. Makan sebanyak mungkin, sepuasmu."

Sakura merengut, "Kau pikir aku rakus?"

Sasuke semakin tertawa.

Sakura menatap Sasuke sejenak, sebelum memberanikan dirinya untuk bertanya, "Lalu… ada apa?"

"Ya?" Sasuke menghentikan tawa renyahnya.

"Kau bilang ada yang ingin dibicarakan, berkenaan dengan permbicaraanmu dengan…Hinata," sahut Sakura sedikit canggung menyebut nama kekasih Sasuke itu.

"Hm," Sasuke tampak sedikit menimbang, "nanti saja setelah selesai makan. Supaya selera makanku tidak hilang."

Sakura mengerutkan keningnya. Hal apa yang sebegitu hebatnya dapat membuat selera makannya hilang?

"Permisi Tuan, Nona," seorang waitress berpakaian maid menghampiri meja mereka dan membungkukkan badan. "Silahkan," ucapnya lagi, menyodorkan dua buku menu masing-masing ke hadapan Sasuke dan Sakura di atas meja dengan sopan.

Sakura membuka buku menu itu dan membolak-balik halamannya. Begitu pula Sasuke. Sejenak kemudian, ia sudah menentukan pesanannya.

"Aku mau US Beef Pime Rib Roast," Sasuke memesan cepat. "Minumnya Orange Soda."

Sang pelayan mengangguk dan beralih pada Sakura yang menyahut, "Veal Loin Steak dengan Mango Juice."

Bunyi dentingan garpu dan pisau terdengar bersahutan. Kini Sakura dan Sasuke tengah menikmati hidangan lezat masing-masing sambil sesekali menyesap minuman dingin mereka.

Sejak tadi, baik Sasuke maupun Sakura, tak ada yang membuka percakapan mengenai topik yang seolah menjadi tabu malam itu. Percakapan hanya seputar seminar dan astrologi, dengan sesekali mengenai anggota OSIS dan teman-teman Sakura. Keduanya larut dalam konversasi random yang membuat mereka nyaman dan senang.

Namun pada saat yang bersamaan keduanya juga paham benar bahwa pada akhirnya mereka harus menghadapi topik tabu yang mau tak mau harus mereka bahas itu.

"Tempat yang begitu menyenangkan," Sakura mencondongkan kepalanya melirik sedikit pada ruang café yang temaram itu.

"Ya, ini tempat favoritku," timpal Sasuke sambil mengunyah US Beef-nya.

"Hmm sering kesini?"

"Lumayan."

"Dengan Hinata?"

Ini dia.

Sasuke menelan steak dalam mulutnya. Meraih gelas orange soda-nya dan menyesapnya perlahan.

"Kau tahu, akhir-akhir ini aku berpikir tentang banyak hal," Sasuke mulai.

Sakura tak menyahut, membiarkan Sasuke melanjutkan.

"Perjumpaan denganmu, bekerja bersamamu, menghabiskan banyak waktu denganmu, entah sejak kapan aku mulai berubah," lanjut Sasuke.

Sakura menelan ludah.

"Hinata berusaha menyadarkanku akan hal ini, walau aku tetap bersikeras bahwa tidak ada yang berubah dengan diriku. Ketika aku membicarakan hal ini dengan Neji—kau ingat dia kan?—Dia bilang bahwa aku memang telah berubah."

Jantung Sakura berdegup kencang. Entah ke mana pembicaraan menuju, namun sesuatu dalam hatinya tergelitik dengan perasaan tidak mengenakkan.

"Kemudian aku berpikir, apa yang berubah dari diriku. Apa penampilan? Sifat? Sikap? Kepribadian? Yang mana?"

Sakura tak menyahut.

"Dan tadi sore, ketika aku membicarakannya dengan Hinata kembali, baru kusadari satu hal."

Tanpa disadarinya, Sakura menahan napas.

"Aku…" Sasuke terhenti sejenak. "Aku tidak lagi mampu memahami pola pikir Hinata."

Sakura tersentak.

"Aku yang dulu, begitu mengerti tentang diri Hinata. Tanpa berkata-kata sekalipun, aku tahu apa yang ia inginkan, apa yang hendak ia ucapkan. Hubungan kami yang didasari oleh rasa percaya dalam kebersamaan yang hening, membuahkan rasa saling ketergantungan yang dalam satu sama lain. Bagiku, hanya Hinata lah yang mengerti aku. Sama halnya dengan bagi Hinata, hanya akulah yang mengerti dia."

Lagi-lagi perasaan tidak menyenangkan itu menyelusup rongga dada Sakura.

"Namun aku yang sekarang, aku yang telah melihat banyak hal bersamamu ini, telah berubah. Ada banyak hal dalam diriku yang berubah tanpa kusadari. Caraku berpikir, caraku melihat, caraku mendengar, caraku merasakan. Semuanya tidak sama lagi."

Apa ada yang salah dengan hal itu?

Sudut hati Sakura bertanya, namun lidahnya kelu. Tak sanggup untuk berkata-kata.

"Dan aku yang seperti ini, tidak lagi dapat memahami Hinata. Lambat laun aku mulai melihat begitu banyak perbedaan di antara kami. Cara berpikir kami, cara kami menyikapi masalah, semuanya telah berbeda.

"Bukan masalah tentang perbedaan itu sendiri yang jadi soal. Melainkan chemistry. Perlahan namun pasti, tidak ada lagi…chemistry di antara kami…"

Sakura membelalakkan kedua kelopak matanya.

"Ketika pertama kali Hinata mengatakannya, aku tidak mengerti. Tapi kini aku telah mengerti. Ketika aku telah berubah sementara ia tetaplah dirinya yang lama, maka kami tidak akan pernah bisa sama lagi.

"Aku telah mencoba, sekuat tenagaku, sepenuh hatiku, untuk memahaminya. Menerimanya semua hal tentang dirinya. Seperti yang dilakukan diriku yang dulu… Tapi semuanya tidak membuahkan hasil sama sekali. Yang ada hanyalah kesadaranku atas realita bahwa jurang di antara kami semakin melebar dan mendalam. Semakin aku berusaha menolak, semuanya malah semakin terasa jelas."

Sakura menatap Sasuke yang menundukkan kepalanya dan menghela napas berat. Dapat ditangkap olehnya bahwa Sasuke tengah mengucapkan kata-kata yang berat dan begitu membebaninya. Raut wajahnya tak dapat terlihat dengan keremangan cahaya dan rambutnya yang menyembunyikan wajah muramnya.

"Aku…sama sekali tidak bermaksud, tidak pernah berniat…meninggalkannya seorang diri," suara Sasuke terdengar tercekat.

Sakura hanya mampu mendengarkan. Tak mampu mengolah logikanya untuk bekerja seperti biasanya.

"Tapi…semuanya telah berubah. Aku dan dia tak bisa kembali lagi seperti yang dulu lagi. Hanya ada satu, hanya ada satu cara."

Sakura masih membisu.

"Jika Hinata tidak bisa berubah, maka akulah yang harus kembali pada diriku yang dulu. Melupakan…diriku yang sekarang."

Melupakan bahwa Sakura pernah hadir dalam hidupnya.

"Sakura," Sasuke kembali melanjutkan, "aku…apa menurutmu yang kulakukan ini salah?"

Sakura tak menyahut.

"Aku telah berjanji untuk selalu berada di sisi Hinata. Tidak akan pernah meninggalkannya. Selalu menemaninya, selalu bersamanya. Tapi sekarang aku malah mengingkarinya. Bukan ragaku yang meninggalkannya, melainkan hatiku. Perlahan hatiku mulai berkhianat dari dirinya," suara Sasuke terdengar kacau.

"Dengan kata lain…dirimu yang sekarang, tidak mampu lagi menyukainya…" untuk yang pertama kalinya dalam beberapa menit dalam kebisuan, Sakura angkat bicara.

Sasuke tak menyangkal. Terpekur dalam diam.

"Apa yang akan kau lakukan sekarang…?"

Sasuke menelan ludah. Menghela napas sejenak, ia berkata, "Untuk itulah aku mengajakmu bertemu. Aku meminta pendapatmu…"

Sakura terlejut bukan main. Kedua bola matanya terbelalak, pupil matanya mengecil.

"Jika aku meninggalkan Hinata, maka ia akan terluka. Dia… tidak pernah terluka karena orang lain seperti ini sebelumnya. Hinata selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Kesedihan tentang dirinya adalah kesendiriannya, rasa sepinya. Jika aku meninggalkannya, entah apa yang terjadi padanya, tak sanggup kubayangkan."

Sakura betul-betul lupa cara bernapas.

"Tapi jika aku tetap di sisinya, sama artinya dengan aku menipu diriku sendiri. Bahkan mungkin aku juga membohonginya. Aku harus terus menekan perasaanku sendiri. Menekan semua pikiranku, kebebasanku…"

Sakura tak mampu berkata-kata.

"Kau," Sasuke menatap Sakura lurus, "adalah sahabatku."

Dapat Sakura rasakan dunianya berputar kencang.

"Beri aku pendapatmu."

Bagaikan anak panah dengan mata panah besi tajam, kata-kata itu melesat cepat dan tepat sasaran, menuju relung hati Sakura.

Jantungnya seolah terkoyak dalam sekejap.

Hati Sakura menjerit hebat.

Beginikah? Beginikah yang namanya karma? Karma karena telah membiarkan dirinya dikuasai kekotoran dalam hatinya? Rasa kotor yang mendesak untuk berada bersama orang yang membuatmu nyaman, tanpa kau indahkan bahwa orang itu telah menjadi milik orang lain.

Sakura menelan ludah. Dirasakannya kerongkongannya menjadi kering seketika. Tanpa sanggup memalingkan pandangannya dari pemuda yang begitu ia sayangi, menatapnya dengan sejuta perasaan.

"Kalau…" Sakura menjawab parau, "kalau tidak sanggup meninggalkannya, maka kaulah yang akan terluka. Tapi jika kau meninggalkannya…maka dialah yang akan terluka."

Seolah dikuasai oleh suatu gejolak emosi tak bernama, membelenggu dirinya dan menyeretnya semakin dalam tanpa sanggup meronta, Sakura membiarkan kata-kata itu meluncur dari ujung lidahnya. Tanpa berkedip. Tanpa berpikir. Tanpa merasakan.

"Mana…yang kau pilih?" sekali lagi ia membuka suaranya yang tercekat.

Sasuke memandanginya lama. Raut wajahnya sungguh tak dapat diprediksi. Entah apa yang ada dalam kepalanya saat itu.

Namun Sakura tidak peduli lagi. Ia hanya menatap nanar.

"Jika itu adalah pilihannya," Sasuke mulai membuat keputusan.

Sakura menatap nanar. Bayang-bayang lilin berapi kecil membayang di wajahnya.

"Aku lebih memilih untuk menyakiti diriku sendiri."

Dan hujan pun tumpah ke muka bumi.


Berlari menyusuri tangga menuju kamarnya, Sakura tak menghiraukan keheranan Ibunya yang melihat tubuh puteri semata wayangnya itu basah kuyup dan menenteng sepatu hak tingginya.

Pandangan mata Sakura kabur. Segala hal yang ada di sekelilingnya tampak tak nyata. Bila ada garis batas antara khayalan dan kenyataan, maka di sanalah ia berada kini.

Membuka pintu kamarnya lebar, Sakura melemparkan sepatunya ke sudut ruangan dan membanting pintunya.

Menjatuhkan dirinya di atas ranjang tidurnya, ia membenamkan kepalanya di bantal putihnya.

Bunyi hujan yang bergemericik di luar jendela menjadi alunan melodi yang berirama bersama simfoni isak tangis dari sang gadis berambut merah muda yang telah merelakan sesuatu yang paling berharga baginya. Sesuatu yang begitu ingin ia lindungi, ingin dimilikinya.

Sesuatu dalam dirinya menjerit dan meronta.

Mengapa ia mengatakan hal itu pada Sasuke?

Mengapa ia menjawab seperti itu?

Karena pertanyaan Sasuke tak menyisakan ruang bagi perasaannya.

.

.

TBC


Woaa! Jangan bunuh saya! T-Tenang, ini kan masih bersambung.. ^^;;

Masih banyak yang belum diungkapkan, kan? Dan ini belum ending.

Silahkan yang mau nimpukin saya sama kaleng atau batu. Dari awal buat fic Little Fire ini, saya udah siap-siap untuk kena tuah dari bagian ini.. ^^;;

Yang pasti, baca terus ya. Dijamin ga nyesel deh.. ;)

Ah, dan terakhir, mungkin kalian bingung kenapa Sakura malah menjawab begitu untuk pertanyaan Sasuke, terus malah nangis sendiri (kesannya ga jelas banget nih Sakura).

Jawabannya sudah diungkapkan di line terakhir chapter ini: 'Karena pertanyaan Sasuke tak menyisakan ruang bagi perasaannya.'

Masih tersirat memang.. Kalau semisal belum bisa dimengerti, di chapter depan bakal dipaparkan dengan gamblang kok.. (dan inilah poin dari debat Sakura dengan Temari & Sasuke di chapter depan) ditunggu ya ^^

Sampai ketemu chapter depan. :)

.

.

Review Reply untuk non-login reviewer:

.

Naru-mania: Owkeh, udah! ^^

Mugiwara Piratez: Rencananya nanti kalau fic ini udah tamat, mau saya bikin polling, apa perlu fic ini saya rombak secara ekseluruhan buat ganti setting atau tidak. Abisnya mau diganti sekarang atau kemarin-kemarin udah terlanjur, jadinya untuk sementara saya biarin aja. Gomenchai~ T.T

Nah soal si Sasu yang rada bebal di sini, berikutnya dijelasin. ;)

Kaori a.k.a Yama: Mary Sue maksudnya tokoh (wanita) yang digambarkan begitu sempurna dan tanpa cela. Seolah dunia ebrputar di sekelilig dia. Misal: udah cantik, baik, kaya raya, ditaksir hampir cowok sekampung *halah* semacam ini.. Atau cantik, baik, miskin, tapi berbudi pekerti luhur tanpa cacat, ditaksir pangeran, dan semacamnya.. ^^

Fluktuatif (sifat berfluktuasi) maksudnya berubah-ubah, naik-turun, labil. Jadi nggak stabil dan sulit diprediksi.. ^^

Panggil apa aja bebas, asal ga aneh-aneh heheh :)

Debatnya ditunda bentar, chapter ini udah kepanjangan.. ^^;; (dilemparin kaleng)

Kuroneko Hime-un: Naruto ketularan Sai kali ya, misterius.. Gaulnya ama Sai mulu sih XD

liiynaru chan_chan: Sip, udah nih ^^

Sora Chand: Sudah~ heheh ^^

Nona Biru Tua: Gaara adalah…….. maish rahasia. (ditimpuk) Tunggu chapter depan ya :p

Tentang Ino, terkuak di sini kan? Kalo masih belum jelas, nanti bakal dipaparkan lebih jelas kok di chapter depan ^^

Baka Tantei Seishiro Amane: Udah nih ^^

Nakamura Miharu chan: Sip, udah apdet ;)

Risle-coe: Sakit?O.O Moga cepet sembuh.. :O Udah update nih~ ^^

.

Akhir kata, Terima Kasih banyak bagi yang terus mengikuti fic ini dari awal, terutama untuk kalian yang menyempatkan diri kasi semangat dalam bentuk feedback, baik login maupun non-login. Saya masih semangat berkat kalian, dan bakal terus berusaha juga buat kalian ^^

.

ETA:

Menjawab pertanyaan Kaori a.k.a Yama dan So-Chand, saya beri sedikit keterangan di sini, supaya ga ada lagi yang bingung. Makasih buat kalian berdua yang bantu menunjukkan kebingungan kalian.. :)

Plakat = semacam piagam penghargaan, bentuknya pipih dan terbuat dari kaca.

PMS = Pra Menstruasi. Kondisi labil emosi seorang wanita menjelang datang bulan.
Sering dipergunakan sebagai lelucon, terhadap wantia yang mudah marah atau uring-uringan terus.

Pertanyaan lainnya saya jawab di ch depan ya :)