Judul: Little Fire on the Candle

Sub-Judul: Confession

Fandom: Naruto

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Drama, Hurt/Comfort

Rating: T

Pairing: SasuSaku, SasuHina

WARNING: AU, OOC-ness

NOTE: Maapkan keterlambatan saya dalam mengapdet chapter ini, karena berbagai kendala. Saya usahakan betul2 supaya chapter depan tidak selama ini. Kepada readers yang 'meneror' saya dan menagih update, terima kasih atas perhatiannya untuk terus memantau fic ini ^^

Juga pada seseorang yang mengaku sakau nunggu lanjutan fic ini.. (Ya, itu kamu. *tatap seseorang*)


Little Fire on the Candle

( Act. 10: Confession)


.

Tepat ketika Temari selesai mengakhiri ucapannya, pintu ruang OSIS terbuka lebar. Temari dan Sakura tekesiap melihat sesosok pemuda berambut hitam muncul dari balik pintu.

"Maaf sedikit terlambat," pemuda berambut hitam pekat itu melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya dengan santai namun berkomposur.

"Sasuke," Temari memecah keheningan. "Sakura ingin bicara denganmu."

Sakura melotot tajam ke arah Temari, namun yang bersangkutan tak mengindahkannya. Tetap fokus memperhatikan ekspresi atasannya itu.

"Oh? Mengenai festival besok? Silahkan, duduk di sini," Sasuke menunjuk kursi hitam di seberang meja kerjanya dengan sopan.

Sakura tertegun. Nada suara Sasuke yang penuh formalitas seperti itu tidak pernah ia dengar sebelumnya.

Temari menghela napasnya, tahu benar dengan apa yang tengah terjadi. Sasuke kini telah berada dalam mode formalitas sebagai seorang Ketua OSIS. Bukan sebagai teman, apalagi sahabat. Ekspresi yang ditunjukkan oleh garis mukanya yang tegas itu adalah ekspresi dari Uchiha Sasuke yang selama ini kenal—sekaligus tak pernah ia kenal.

Sasuke yang individualistis dan egois, bersikap sekehendak hatinya dan tanpa ragu menyakiti hati orang lain. Sasuke yang sama yang selama dua tahun belakangan menjadi atasannya.

Temari tak pernah sedikitpun merasa bahwa ia mengenal atasannya itu. Dibandingkan dengan diri Sasuke yang dikenalnya selama dua tahun ini, Sasuke yang dikenalnya beberapa hari ini justru jauh lebih ia kenal.

Menatap Sasuke dan Sakura bergantian, Temari meraih selembar bukti pembayaran.

"Sakura, bisa kau ambil standing banner pesanan kita sekarang?" Temari menyodorkan bukti pembayaran itu pada Sakura, yang masih mematung di balik seberang meja kerjanya.

Belum sempat Sakura menyahut, Temari kembali membuka suaranya, "Dan Sasuke, bisa kau antar Sakura untuk mengambilnya? Daripada naik taksi, lebih praktis ambil bersamamu saja, kau kan bawa mobil."

"Hn," Sasuke melirik sekilas, "boleh saja."

Sakura menelan ludah.

Sasuke beranjak berdiri dan menghampiri Sakura, "Ayo," sahutnya ringan.

Menerima bukti pembayaran dari tangan Temari, Sakura sempat menangkap isyarat mulut dari gadis pirang berwajah tegas itu berseru tanpa suara: 'Bicaralah.'

.


Perjalanan menuju tempat pemesanan standing-banner itu dihabiskan dengan keheningan. Sakura dan Sasuke sama sekali tak membuka suaranya, terlarut dalam alam pikiran masing-masing.

'Bicaralah.'

Tampaknya ucapan Temari itu cukup manjur, terbukti dengan rasa tak tenang yang kini menggerogoti Sakura.

Hampir saja ia mulai membicarakan topik tabu antara dirinya dan Sasuke saat itu juga, ketika ia teringat bahwa mereka masih akan bekerja bersama-sama sesampainya kembali di sekolah. Akan terasa tidak mengenakkan bagi kedua belah pihak bila mereka membicarakan masalah pribadi sekarang.

"Matamu sembab," tiba-tiba suara Sasuke mengejutkannya.

Sakura tak menyahut, hanya memberikan gumaman.

"Sudah baca sms-ku semalam?" Sasuke mulai lagi.

"Begitulah," timpal Sakura acuh tak acuh.

"Ada yang mau kubicarakan."

"Nanti saja," sela Sakura cepat. Ia cukup terkejut mendengar bahwa ada yang ingin Sasuke bicarakan dengannya.

"…Baiklah."

Perjalanan kembali dihabiskan dengan kesenyapan yang tidak menyenangkan. Hingga tiba-tiba saja mereka terjebak kemacetan. Sakura menghela napas panjang. Dengan kondisi seperti itu kini dirinya dan Sasuke terperangkap dalam kondisi amat tidak mengenakkan. Kesunyian yang memenuhi atmosfer dalam mobil sungguh membuat tidak nyaman.

"Tampaknya macetnya akan cukup lama," sahut Sakura kemudian. Memutuskan bahwa saling diam tidak menjadi jalan keluar sama sekali.

"Hn," di sampingnya Sasuke hanya menjawab datar.

"Kalau begitu…" Sakura membulatkan tekad, "ayo kita bahas saja sekarang."

Dapat ia tangkap sekilas kerutan di dahi Sasuke. Namun segera tergantikan dengan air muka tenang seperti biasanya. "Ok," ujarnya singkat.

"Semalam itu… Apa kau serius dengan isi sms-mu semalam itu?" Sakura memulai pembicaraan.

Tak ada jawaban untuk beberapa saat.

Sakura melirik pada Sasuke yang tampak terhipnotis dengan jalanan padat di depan kaca mobilnya.

Ia sudah hendak bertanya ulang, ketika suara Sasuke menyelanya cepat, "Jadi karena itu kau menangis?"

Sakura mengerjapkan matanya. 'Ha?'

Pertanyaan macam apa itu?

"Kau tahu," Sakura mati-matian membendung emosinya. "Semalam itu aku aku sudah membulatkan tekad untuk melepaskan sesuatu yang berharga bagiku, sementara kau tiba-tiba saja bilang 'Sayonara'. Sayonara. Dengan enteng, sayonara."

Sasuke mengerutkan keningnya sedikit.

"Mungkin bagimu kata itu bagimu mudah terucap, mungkin kau memang tidak merasakan apa-apa saat mengucapkannya. Tapi kata itu begitu dalam artinya buatku," Sakura berusaha tenang. "Jadi kau bermaksud mengucapkan selamat tinggal padaku? Selamat tinggal dari apa? Dari kehidupanmu? Kau akan membuangku? Begitu saja? Semudah itu?"

Untuk beberapa saat Sasuke tak menjawab.

"Kau selalu, selalu, dan selalu saja memikirkan Hinata. Tapi kau tidak pernah memikirkanku sama sekali. Sedikitpun tidak."

"Apa maksudmu?"

"Maksudku? Maksudku sesuai dengan kata-kataku. Kau tidak mau menyakiti Hinata, tidak mau membuatnya bersedih. Membiarkannya mendapatkan apa yang diinginkannya walaupun menekan keinginanmu sendiri, semua hal dalam kepalamu hanya soal Hinata. Tapi kau tidak peduli sama sekali padaku. Dengan begitu mudah mengatakan selamat tinggal!" emosi yang tak terbendung itu memuncah keluar.

"Itu karena kau bilang sebaiknya aku kembali saja padanya," Sasuke menimpali dengan kerutan dalam di dahinya.

"Aku hanya bilang sebaiknya kau ikuti kata hatimu! Ah, aku mengerti. Jadi kau memang mau membuangku. Aku sudah tidak dibutuhkan, bahkan sebagai teman lagi," Sakura tertawa hambar.

"Aku tidak bisa begini terus, kau pikir aku tidak menanggung beban apapun? Aku juga banyak berpikir tentnag hal ini, dan kau bilang dengan tegas bahwa sebaiknya aku memilih Hinata," Sasuke menukas tajam.

Sakura meninggikan suaranya, "Sudah kukatakan aku tidak menyuruhmu apa-apa. Aku hanya memberimu pilihan, siapa yang akan kau biarkan terluka. Dan kau lebih memilih melindungi perasaan Hinata! Saat itu kupikir aku bisa tetap jadi temanmu, tapi tiba-tiba saja kau bilang sayonara. Sekarang kau pikir baik-baik, kau pikir bagaimana perasaanku waktu itu?"

"Kenapa kau emosi begitu? Ini—"

"Oke, kukatakan! Aku suka padamu! Puas?"

Sasuke terbelalak. Sontak memutar lehernya menatap Sakura di sampingnya.

"Kau yang tiba-tiba saja memberiku pilihan bagimu, menyuruhku memilih untukmu, lalu kuberi kau pertimbangan lain mengenai keputusanmu, dan kau mengucapkan sayonara dengan begitu mudahnya. Kau pikir bagaimana perasaanku?"

Sasuke tak mengucapkan sepatah katapun. Mengerutkan keningnya sedikit ia menggelengkan kepalanya cepat, "Tapi… Tapi kau sama sekali tidak… tidak ada tanda-tanda kau suka padaku."

"Memangnya bagaimana rasa suka yang ada dalam kepalamu? Setiap bertemu lalu merona, debaran jantung berdetak kencang, tak sanggup menatap matamu langsung, senyam-senyum setiap mengobrol denganmu, begitu?"

Sasuke tak menyahut. Raut keterkejutan masih terpampang di wajahnya.

"Maaf saja kalau itu yang kau maksud dengan tanda-tanda rasa suka. Aku tidak seperti itu, dan aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun darimu. Aku…Aku hanya bertindak dan bersikap sesuai keadaanku. Dan aku baru yakin aku suka padamu pun tadi malam, setelah kurasakan betapa terlukanya aku dibuang olehmu begitu saja," Sakura mengakhiri kata-katanya setengah berbisik.

"Kalau begitu…kenapa kau malah memberiku pilihan?" Sasuke tak habis pikir.

Sakura mendesis tajam, "Lalu kau mau aku bagaimana? Tidak mungkin 'kan aku bilang 'Sudah putuskan saja Hinata, dan kau jadian denganku saja'. Tidak mugnkin, 'kan? Pikirkanlah sedikit, bagaimana kalau kau ada di posisiku saat itu!"

Sasuke tertawa.

Sakura mengerutkan keningnya, "Apa yang kau tertawakan?" ujarnya sedikit gusar.

Namun yang menimpali pertanyaan Sakura itu hanyalah senyum yang dikulum Sasuke.

Sakura mengerutkan keningnya semakin dalam. Ia sudah hendak bertanya, ketika baru disadarinya bahwa kini keadaan mereka berdua telah semakin tidak jelas.

Menyatakan rasa suka dalam kondisi seperti ini, dalam situasi tidak jelas begini, apa ada sesuatu yang berubah? Sakura menghela napas dalam hati. 'Yah, Temari. Paling tidak, aku sudah bicara. Sesuai saranmu.'

Mobil yang mereka tumpangi berbelok di pertigaan dan mulai memasuki jalanan lengang. Melaju dengan lancar, kedua insan di dalamnya larut dalam hening.

"Sudah sampai," tiba-tiba suara Sasuke memecah kesenyapan.

Sakura melihat pemandangan di luar jendela. Mobil yang ditumpanginya merapat ke sisi trotoar jalan.

"Jalan kaki sedikit ke gang besar itu, nanti sampai di tokonya," ujar Sasuke lagi sesaat kemudian setelah mematikan mesin.

"Ho," Sakura menyahut singkat.

Sasuke membuka pintu mobilnya dan beranjak keluar, "Sudah. Nanti dilanjutkan pembicaraan pribadinya. Sekarang kita kerja dulu," sahutnya ringan.

"Oke," timpal Sakura. Ia sendiri pun paham, bahwa akan menjadi tak mengenakkan jika urusan pekerjaan dan masalah pribadi dicampuradukkan. Malah akan semakin atmosfer di antara keduanya semakin tidak jelas.

Setelah keluar dari dalam mobil dan menutup pintunya, Sakura segera melenggangkan kaki rampingnya menyusuri jalanan dalam gang besar. Sasuke berjalan di sebelahnya seolah tak memikirkan apa-apa.

"Toko Blue Print ini sangat terkenal. Selain kualitasnya bagus, harganya juga murah. Sesuai untuk acara-acara sekolah yang bermaksud menekan biaya serendah mungkin," suara tenang Sasuke menyeruak.

"Oh ya?" Sakura menyahut sekenanya.

"Lee dan Temari yang menemukannya. Temari bilang secara tidak sengaja menemukan tempat itu ketika berkeliling mencari sponsor kecil untuk acara seminar OSIS yang lain," ujar Sasuke lagi, lebih santai lagi.

"Hm," Sakura bergumam sedikit. "Lee itu yang model rambutnya bob pendek, 'kan?"

"Benar. Tingkahnya memang eksentrik, tapi begitu-begitu juga dia cukup dapat diandalkan. Dia—"

Dan tiba-tiba saja percakapan berlanjut ringan dan seperti biasa. Seperti bagaimana kedua insan manusia itu menghabiskan waktu bersama—selama ini. Tak sedikitpun tersirat hal-hal mengenai problematika personal antara mereka yang terucap. Keduanya tahu, bahwa mengatakan apapun saat ini tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik.

.


"Lalu kalian saling menghindar dari masalah itu?" Temari menyeruput orange float-nya dan menatap Sakura lekat.

Sakura menghela napas, "Hentikan tatapanmu itu. Di saat begitu, aku bisa apa? Aku juga sudah bertindak bodoh sekali. Di saat situasi tidak menyenangkan, aku mengomelinya panjang lebar dan menyatakan rasa suka sambil marah-marah," ia menelungkupkan badannya di atas meja.

"Bukan bodoh," Temari menyedot orange float-nya hingga menimbulkan suara nyaring. "Konyol."

"Ha. Terima kasih," Sakura memutar bola matanya.

"Lalu dia jawab apa?" Temari tak mengacuhkan nada sarkasme Sakura.

Sakura mengangkat sebelah alisnya, "Jawab apa?" ia malah balas bertanya.

"Ya, bagaimana perasaannya padamu?" Temari mengerutkan keningnya dan menatap Sakura dengan tatapan heran.

Sakura mengetukkan jemarinya di atas meja, "Entahlah."

"Entah?" Temari menaikkan sebelah alisnya. Dahinya semakin berkerut terlipat.

"Aku tidak tanya," timpal Sakura. "Lagipula daripada 'pengakuan cinta', yang kulakukan itu lebih seperti omelan baginya. Protes atas perlakuannya padaku. Bukan dalam konteks asmara atau semacamnya."

"Kalian sangat jauh dari kata romantis," Temari memicingkan kedua matanya.

"Berisik," Sakura mencibir.

"Terus? Sekarang kalian kembali lagi ke awal? Ke dalam ketidakjelasan yang sama?" Temari menghela napas panjang. "Aku heran padamu, Sakura."

"Tidak sama," tukas Sakura. "Paling tidak, dia sudah tahu apa yang mengganjal dalam hatiku. Terserah dia berikutnya akan membawa kemana hubungan kami ini. Yah, dikatakan hubungan pun, dari awal juga di antara kami tidak ada apa-apa. Kalau sudah begini, apapun keputusannya aku ikuti alur saja…"

"Bagaimana jika ia memilih untuk tetap berada di sisi Hinata?" Temari mencecar.

Sakura tertawa kecil, "Jangan bodoh. Dari awal juga, kemungkinan dia memutuskan Hinata itu tidak ada. Apapun yang terjadi dia tidak akan melepaskan Hinata."

"Tapi kau belum tahu bagaimana perasaan Sasuke, bukan? Kita tidak tahu apa sebenarnya yang dipikirkannya. Siapa tahu dia sebetulnya juga menyukaimu," Temari bersikeras.

"Sekalipun begitu," Sakura menghela napas, menegakkan badannya dan bersandar pada sandaran kursi kantin. "Dia tidak akan pernah memutuskan Hinata. Dia tidak bisa. Tidak sanggup."

Temari menatap sahabat baiknya itu lekat-lekat. Mengatupkan kedua kelopak matanya, ia berucap perlahan, "Aku tahu benar kau paling tidak suka dikasihani. Mengatakan kata-kata penghiburan macam apapun malah akan membuatmu merasa tidak nyaman."

Sakura mengembangkan senyum lebar, "Kau sangat mengenalku."

"Tapi," Temari kembali membuka kedua kelopak matanya dan menatap Sakura, "aku sungguh-sungguh ingin membuatmu merasa lebih baik."

Sakura tersentak. Dengan senyum yang melemah di wajah pucatnya, ia mengatupkan kedua kelopak matanya, "Terima kasih…"

"Apa begitu tidak apa-apa?" suara Temari kembali terdengar.

Sakura mengangkat bahunya pelan, "Kalau ditanya ada apa-apa atau tidak, tentu saja ada apa-apa. Aku pasti akan bersedih, namanya juga orang patah hati. Tapi paling tidak, dengan begini kuharap ia sedikit mempertimbangkan bahwa aku berdiri di sisinya sebagai seorang sahabat pun tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin dia membuangku begitu saja."

Segaris senyum terpoles di bibir Temari, "Kau sudah berhasil melewatinya. Melewati egomu sendiri. Kuucapkan selamat."

Sakura tersenyum tipis, "Aku bisa menahan rasa sakit karena kehilangan orang yang kusukai, tapi aku tak kuasa kehilangan seorang sahabat juga sekaligus."

Temari menatapnya tanpa suara.

Ia paham benar bahwa apa yang baru saja meluncur keluar dari mulut gadis berambut merah muda di hadapannya itu begitu berat diucapkannya.

.


Sakura mengaduk melon float di hadapannya dengan berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya.

Temari telah beberapa saat yang lalu kembali ke ruang OSIS, sementara dirinya masih terpaku di meja kantin tanpa tujuan. Tugasnya untuk hari itu sudah selesai, dan ia hanya stand-by untuk berbagai hal di luar rencana yang mungkin butuh bantuannya.

Festival kebudayaan besar yang melibatkan dirinya akan dilangsungkan esok hari. Bersamaan dengan berakhirnya kisah antara dirinya dengan Uchiha Sasuke.

Sakura menarik sudut bibirnya. Dikatakan kisah pun, apa yang sudah terjadi antara ia dan Sasuke bagaikan dongeng yang aneh. Entah ini kisah romansa atau bukan, yang jelas kisah antara dirinya dengan Sasuke sama sekali tak memiliki bumbu romantisme.

Tak ada debaran jantung, tak ada senyum malu-malu, tak ada kata-kata puitis, tak ada tutur kata lembut, tak ada sentuhan fisik atau apapun.

Tapi entah bagaimana, kisah yang ia rajut bersama Uchiha Sasuke tiba-tiba saja berakhir menjadi selendang asmara tak terwujud.

'Yah, paling tidak, bukan asmara tak tersampaikan,' Sakura tersenyum hambar.

"Sakura, 'kan?"

Sakura terperanjat. Segera ia kembali dari alam pikiran mengawangnya. Dilihatnya sesosok pemuda berambut panjang cokelat tengah tersenyum di sampingnya.

"…Neji?"

"Benar," pemuda itu mengembangkan senyumnya semakin lebar. "Boleh aku duduk?"

Sakura mengerutkan keningnya sedikit, "Oh tentu. Silakan."

Pemuda berambut cokelat panjang yang dipanggil Neji itu menarik kursi tepat di seberang Sakura dan mendudukkan dirinya dengan santai.

Sakura mengaduk melon float-nya, "Apa kabar?" tanyanya berbasa-basi. Sejujurnya ia sedikit canggung menghadapi si tampan di hadapannya. Tak usah disebutkan betapa kepingan bola mata keperakan milik sang pemuda bergaris muka sempurna itu seolah menyimpan banyak misteri yang membuat siapapun seolah merasa terseret dalam pesonanya.

Sekilas Sakura terpikir bahwa Neji berada pada level yang sama dengan Sasuke dalam tingkat ketampanan sejati laki-laki.

"Baik-baik saja. Kau? Tidak, ya?" ujar Neji masih dengan senyum di bibirnya.

Sakura mengerutkan keningnya. Dengan seenaknya lawan bicaranya itu menyimpulkan perasaan hatinya. Tapi, yah, memang betul sih tebakannya. Apa ia sebegitu mudah ditebaknya hingga kegundahan hatinya tampak di permukaan?

"Aku dengar semuanya dari Sasuke," Neji menyahut seolah mendengar isi hati Sakura.

"Oh," timpal Sakura singkat.

Detik berikutnya kesenyapan menyelubungi mereka. Tak satupun dari Sakura maupun Neji mengucapkan sepatah kata pun.

Merasa atmosfer di sekeliling mereka menjadi berat, Sakura mencoba mencairkan suasana, "Tidak pesan makan siang?" tanyanya berbasa-basi.

"Aku sedang menunggu pacarku."

"Oh," Sakura mnyesap melon float-nya.

Hening kembali.

"Apa pacarmu itu sekolah di sini juga?" Sakura kembali dengan usahanya menceriakan suasana.

"Tidak," Neji mengeluarkan ponselnya. "Ah, dia akan datang sedikit terlambat," ujarnya menatap layar ponselnya yang berkedip. Segera ditutupnya kembali flip ponselnya dan ia letakkan ponsel merah gelapnya itu di atas meja.

"Oh," Sakura menyiduk es krim float dari gelasnya. "Mm kamu tidak ikut OSIS, ya?"

"Tidak. Aku kurang senang kegiatan yang bikin bahu pegal," Neji mengangkat bahunya.

Sakura tertawa kecil, "Padahal tampangmu serius seperti Sasuke, tapi kalian berbeda sekali."

"Dia dari dulu memang senang membunuh waktu dengan kegiatan-kegiatan formal yang membuat otaknya semakin terkuras. Dia perlu belajar caranya bersenang-senang dariku," timpal Neji dengan nada setengah bercanda.

"Oh ya?" Sakura tertawa lagi. "Tapi belakangan ini dia mulai banyak tersenyum dan kadang tertawa. Dia juga jadi senang bercanda. Walau candaannya tidak lucu," tuturnya ringan diakhiri dengan tawa renyah.

"Benar. Berkat kamu."

Sakura terkesiap. Diangkatnya kepalanya dan ditatapnya Neji lekat-lekat. Mulutnya terkunci rapat.

"Meski kukatakan dia perlu belajar dariku, pada kenyataannya dia tidak pernah mendengarkanku. Keberadaanku pun hanya sekedar teman lama yang dulu pernah tiga tahun sekelas di SMP, dan aku putra dari kolega ayahnya. Lebih dari itu, aku tak ada bedanya dengan Lee, Sai, atau yang lainnya baginya."

Sakura tak menyahut. Mendengarkan dengan seksama. Atau lebih tepatnya, ia tak sanggup berkata-kata.

"Kurasa dia memang tak pernah menganggap siapapun berarti baginya. Dunia tentang dirinya adalah antara dia dan Hinata saja. Berdua mereka mengunci diri dari dunia luar dan tak membiarkan siapapun menjamah mereka," Neji menatap ranting pohon yang bergoyang di luar jendela kantin. Awan kelabu menggantung di langit mendung.

"Hubungan yang berbahaya," timpal Sakura pelan. Senyum tipis tersirat di wajahnya.

"Awalnya kupikir hal itu tidak apa-apa. Aku…melihat kedua orang itu, memperhatikan keduanya sudah sejak lama. Hinata adalah sepupuku. Bukannya aku tidak tahu apa-apa tentang yang terjadi padanya—bagaimana keluarganya menekan dia dan selalu membebani dia—tapi aku menutup mata dari semuanya. Karena aku selalu merasa bahwa aku tidak bisa melakukan apa-apa."

Sakura terkejut. Kenyataan bahwa Neji adalah sepupu Hinata sungguh di luar dugaannya. Benar juga, setelah diingat-ingat lagi, Neji memperkenalkan dirinya sebagai Hyuuga Neji. Marga yang sama dengan Hinata. Salahanya sendiri yang tidak menyadari hal ini.

Ah ya, karena saat itu pikirannya bercampur aduk tentang macam-macam hal.

Kini perasaannya menjadi tidak enak. Mau apa saudara Hinata mendatanginya seperti ini?

"Lalu aku bertemu Sasuke. Dalam sekejap mata saja, aku langsung tahu. Dia memiliki tatapan yang sama dengan Hinata. Tatapan penuh loyalitas dan kesempurnaan, yang menutupi kesendirian dan kekosongan hati mereka."

Sakura menelan ludahnya. Tak mengerti kemana pembicaraan menuju.

"Kami selalu satu kelas selama di SMP. Dan di setiap acara pesta keluarga, aku selalu mengajaknya mengobrol di satu-dua kesempatan.

"Tapi lagi-lagi pikiran itu kembali menggerogoti isi kepalaku. Lagi-lagi aku diingatkan oleh alam bawah sadarku bahwa aku tidak bisa melakukan apa-apa. Apapun yang kulakukan, bagi Hinata maupun Sasuke aku hanyalah orang luar yang tak mereka biarkan menjamah hati mereka."

Hening menyesap sejenak. Angin dingin bersemilir masuk melalui celah kusen jendela. Sakura menundukkan kepalanya sedikit. Tak ingin melihat raut wajah lawan bicaranya yang entah mengapa tampak begitu penuh penyesalan seperti itu.

"Aku mengusulkan pada paman Hiashi—ayah Hinata—untuk bertaruh. Mempertaruhkan kebahagiaan putri semata wayangnya, untuk bertunangan dengan penyandang nama Uchiha."

Sakura membelalakkan kedua kelopak matanya lebar.

"Saat itu pilihannya ada dua. Antara Itachi dan Sasuke. Paman Hiashi bertanya padaku, yang mana."

Neji memejamkan matanya sejenak.

"Dan aku mengatakan 'Sasuke. Uchiha Sasuke'."

Angin bertiup lebih kencang kini, membuat helaian rambut Sakura dan Neji terayun perlahan seirama alunan angin. Air muka Sakura dengan sempurna tersembunyi di balik helaian merah muda di wajahnya.

"Kudengar awalnya Sasuke menolak mentah-mentah pertunangan itu. Tapi tentu saja ia tak kuasa melawan ayahnya sendiri. Akhirnya ia mulai mencoba menerima Hinata, dan tanpa sadar tahu-tahu saja mereka sudah menjadi kura-kura dalam tempurung yang tak mau keluar cangkang sama sekali.

"Saat itu apa yang kupikirkan? Aku berpikir, apa yang kulakukan itu salah? Apa keputusanku untuk menolong mereka itu hanya membuat mereka jatuh semakin dalam ke dalam keterpurukan?"

Sakura tak menyahut sama sekali.

"Aku juga tidak buta. Aku tahu benar bahwa hubungan mereka itu sangat kuat sekaligus sangat rapuh. Melihat mereka selalu mengingatkanku pada kesalahanku sendiri. Seandainya dulu aku tidak aku begini, tidak begitu. Hingga sampai pada perasaan untuk lepas tangan dan membiarkan semuanya yang akan terjadi, terjadi saja. Lalu kuputuskan untuk meninggalkan keduanya sesuka mereka. Aku menolak satu sekolah dengan mereka. Aku tidak ingin ikut campur lebih banyak, sebelum semuanya bertambah buruk."

Sakura masih terdiam dalam hening.

"Dalam ketidakberdayaanku atas kesalahan masa laluku itu, bertemu dengan seseorang. Di dunia maya," Neji menatap Sakura lekat. "Seseorang dengan bola mata yang sama denganmu."

Sakura mengerutkan keningnya. Mengangkat wajahnya dan menatap Neji langsung.

"Aku…" Neji tampak memikirkan sesuatu.

Sakura memiringkan kepalanya sedikit. Menunggu Neji menyelesaikan kalimatnya.

Neji menghindari tatapan Sakura dan melirik pemandangan di luar kaca jendela di sampingnya. Sakura memperhatikan dengan seksama. Samar ia merasa bahwa ada yang ingin disampaikan Neji namun tertahan di tenggorokannya.

"Kemudian takdir telah mempertemukan Sasuke denganmu. Yang kudengar hanyalah Hinata merenggang dengannya," tutur Neji sesaat kemudian.

Sakura pura-pura tak menyadari bahwa dirasakannya Neji seolah mengalihkan pembicaraan.

"Kau ingat hari dimana aku memergoki kalian berdua di café terbuka? Saat itu kukatakan bahwa sebelumnya aku pernah melihat kalian berdua datang ke café yang sama tepat sebelum aku pergi."

Sakura sedikit mengerutkan keningnya, berusaha mengingat-ingat, "Hm ya, sepertinya kau mengatakan hal seperti itu."

"Saat itu aku melihat kalian berdua, ketika aku sedang bersama pacarku."

Kembali kening Sakura terlipat semakin dalam.

"Segera setelah itu aku tahu bahwa ini seperti hukuman bagiku. Hukuman dari langit atas dosaku di masa lalu, yang telah main-main dengan kebahagiaan orang lain. Semenjak saat itu, setiap hari aku selalu menunggu kalian di café yang sama, hingga akhirnya kita bertemu di hari itu—dimana aku menghampiri kalian berdua."

Sakura masih tak mengerti, namun ia tak menimpali. Membiarkan Neji menyelesaikan apapun yang ingin disampaikannya.

"Saat itu kuputuskan untuk menilaimu. Gadis seperti apa yang telah hadir di antara Sasuke dan Hinata. Walau aku belum yakin benar, tapi kurasa kau gadis baik-baik. Saat itu aku bahkan mengatakan pada Sasuke untuk berhati-hati. Kubisikkan di telinganya, 'Jangan main api bila tidak mau terbakar'."

Sakura sedikit terkejut.

"Saat itu aku mencium badai yang akan datang. Aku tahu bahwa sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang mungkin akan membuat Sasuke dan Hinata semakin terluka."

Sakura menelan ludah. Jadi Neji menyalahkannya…

"Tapi kemudian aku melihatnya. Melihat Sasuke telah berubah banyak. Dia yang tak pernah menerima kehadiran siapapun di sisinya, tiba-tiba saja mengajakku berbicara dan bercerita banyak hal tentang dirinya. Meminta saranku. Bertanya padaku. Mendengarkan kata-kataku. Aku sangat terkejut bukan main. Lalu aku tersadar. Yang telah membuatnya menjadi seperti itu, yang telah mengubahnya, adalah kamu."

Sakura terperanjat, "Eh?"

"Aku tidak mengerti, apa ini takdir atau bukan. Tapi saat itu aku telah paham. Aku tidak boleh terus menerus melarikan diri dari masalah ini. Jangan hanya karena kesalahanku di masa lalu, kemudian aku angkat tangan dan terus saja pura-pura tak melihat biarpun aku tidak buta. Akhirnya kuputuskan untuk membantu supaya Sasuke bisa bersamamu."

Sakura membelalakkan kedua bola matanya lebar.

"Mungkin ini sama saja seperti sebelumnya. Aku dengan seenaknya mempermainkan kebahagiaan orang lain, menilai yang terbaik bagi orang lain, dan mengarahkan mereka untuk hasil yang kuharapkan. Tapi aku…" kata-kata Neji tertahan.

"…Kau hanya ingin Sasuke bahagia. Begitu juga dengan Hinata," Sakura melanjutkan kata-kata Neji dengan senyum di bibirnya.

Neji tersentak. Sejenak kemudian ia pun turut tersenyum, "Kau gadis yang baik."

Sakura sedikit salah tingkah dipuji tiba-tiba begitu. Apalagi oleh seorang Neji yang sangat sulit diprediksi.

"Entah apakah ini untuk menebus dosaku di masa lalu, atau untuk masa depan, aku tidak tahu. Aku juga tidak meminta kau memaafkanku. Tapi…kuharap kau mengerti bahwa yang menciptakan kedua monster itu adalah aku. Yang membuat Sasuke dan Hinata menjadi seperti itu adalah aku…"

Sakura menggelengkan kepalanya cepat, "Kau hanya melakukan yang menurutmu baik. Tidak ada niat buruk darimu sama sekali. Apapun yang terjadi setelah itu, sudah bukan tanggung jawabmu lagi. Mereka bertindak dan berpikir sesuai kata hati mereka. Semuanya bukan tanggung jawabmu sendiri," ujarnya lembut.

Neji kontan membelalakkan matanya.

Detik berikutnya tawa renyah pun membahana.

Sakura terkejut mendengar tawa Neji yang ringan dan menawan. Baru kali ini dilihatnya Neji tertawa lepas seperti itu.

"Tidak heran dia sangat menyukaimu," ujar Neji di sela-sela tawa renyahnya. "Kalian betul-betul mirip."

"Eh?" Sakura memiringkan kepalanya sedikit.

"Dia juga mengatakan hal yang sama ketika kami pertama kali bertemu. Dan itulah yang membuatku suka sekali padanya," tambah Neji ringan.

Sakura mengerutkan keningnya, "Dia?"

"Sakura?"

Sebuah suara yang begitu asing sekaligus familiar tertangkap gendang telinga Sakura. Menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, Sakura terkejut bukan main.

"Gaara…?"

.


Gerimis turun membasahi bumi. Bau tanah bercampur air hujan menyeruak di udara.

Melangkahkan kakinya menapaki jalanan yang basah, seorang pemuda berambut merah terang melirik pada pemuda lain di sampingnya, "Dia tidak berubah dari semenjak terakhir kali aku melihatnya. Dia gadis yang baik," ujarnya pelan.

"Aku merasa bersalah sekali padanya untuk banyak hal," sahut yang satunya setengah berbisik.

"Karena itu kau berusaha membuatkan jalan kebahagiaan baginya, dengan berusaha membuka mata Sasuke?"

"Aku ini manusia rendah. Aku yang memulai semuanya, dan aku menyerahkan akhir kisah ini pada gadis itu. Bahkan aku memarahi Sasuke habis-habisan untuk meyakinkannya atas perasaannya terhadap gadis itu. Padahal aku sama sekali tak punya hak apa-apa. Aku yang…memulai semua ini. Bertindak seolah akulah yang paling benar. Menuding Sasuke dengan kata-kata kejam."

"Dia juga orang yang baik, si Sasuke itu," si rambut merah tersenyum samar.

"Ya. Dia sama sekali tidak menyalahkanku. Dia memang tidak diberitahu mengenai keterlibatanku atas pertunangannya dengan Hinata. Tapi tidaklah sebodoh itu. Kurasa dia tahu. Tapi dia sama sekali tidak menyinggung hal itu. Dia membiarkan dirinya kusalahkan. Dia bahkan hampir tak melawan…"

"Itu karena dia tahu kau tidak bermaksud buruk. Kau hanya memberinya jalan hidup, ia sendirilah yang memutuskan bagaimana melewati jalannya itu. Ia sudah siap dengan segala risiko atas perbuatannya, dan ia akan mempertanggungjawabkannya," si rambut merah bertutur tenang. "Jangan menanggung semuanya sendirian saja."

"Aku ini orang yang payah," pemuda berambut cokelat panjang tertawa hambar.

"Payah juga tidak apa-apa. Kau bukanlah pecundang."

Menatap bola mata emerald milik pemuda berambut merah, sang pemuda berambut cokelat terdiam.

"Seorang pecundang akan selalu melemparkan kesalahan pada orang lain, tidak mau mengakui kelemahan dan kekotoran hati sendiri. Baik, kau, Sasuke, maupun Sakura, kalian bertiga adalah orang-orang yang hebat. Kalian tidak saling membenci ataupun menyalahkan satu sama lain," kepingan emerald itu berkilat dengan lembut.

Neji—sang pemuda berambut cokelat, perlahan menarik ujung bibirnya hingga melengkung membentuk kurva halus, "Kau benar-benar mirip dengan gadis itu. Kurasa aku mengerti kenapa Sasuke bisa suka padanya."

"Maksudmu?"

"Kalau tidak bertemu denganmu, kurasa aku akan jatuh cinta pada gadis itu. Dan seandainya Sasuke yang biseksual, kurasa dia juga akan suka padamu," timpal Neji dengan nada canda.

Gaara—si rambut merah menyala, tertawa nyaring, "Dalam satu dan lain hal kau memang mirip dengan Sasuke. Terutama selera bercandamu yang payah itu."

"Eh? Tega sekali! Aku—"

Gerimis yang terhenti telah tergantikan oleh bianglala tujuh warna yang menghias angkasa. Tawa canda mengisi riuh jalanan kota yang basah oleh genangan air hujan, bersahutan dengan gemericik bunyi air yang beradu dengan sol sepatu kedua pemuda yang kini menautkan jemarinya sembari melangkah menembus hari yang cerah dalam langkah mantap itu.

.

Kotak susu strawberry terguling di lantai.

"Barusan kau bilang apa?"

Sakura tersenyum lebar, "Aku bertemu Gaara."

"Bukan itu. Kau bilang Gaara dengan…..?" Temari menahan kata-katanya.

"Neji. Kau kenal?" Sakura membuka lemari es kecil di sudut ruang OSIS yang lengang itu dan meraih sekotak es jeruk.

"Bagaimana mungkin aku tidak kenal! Dia kawan lama Sasuke yang sesekali datang kemari, sekaligus sepupu Hinata yang juga sesekali datang dan makan siang dengan Hinata saat senggang," Temari bertutur cepat, memungut susu kotaknya yang terlepas dari genggamannya sesaat sebelumnya saking terkejutnya.

Sakura mengulum senyum, "Itu pasti dia lakukan karena dia khawatir pada kedua orang itu. Dia sangat perhatian pada keduanya."

"Tunggu, tunggu dulu," Temari memijit keningnya, menghampiri keranjang sampah dan melempar susu kotaknya yang telah kosong. "Semuanya jadi terasa kacau balau dan aneh."

"Tidak kacau atau aneh, kok. Justru semuanya menjadi jelas," Sakura menghempaskan tubuhnya di atas kursi di seberang meja kerja Temari. "Sejak awal, ternyata kebetulan itu memang tidak ada. Sasuke menemukan dan memasuki Konoha Chatroom, itu karena sejak awal room itu telah ditandai. Oleh Gaara, yang kadang meminjam laptop-nya untuk chatting dengan Neji.

"Semenjak putus denganku dan berpacaran dengan Neji, orang tua Gaara memutuskan sambungan internet ke kamarnya, sehingga ia hanya bisa menumpang pada Sasuke."

Mengikuti Sakura sebelumnya, kini Temari menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kerjanya, setelah sebelumnya mengelap genangan susu strawberry di lantai dengan lap tangan yang tergantung di samping lemari es.

"Mungkin Sasuke pernah melihat sekilas ketika Gaara dan aku berbincang di room. Dan secara tidak sadar, ia kemudian memilih chatroom yang sama ketika ia memutuskan untuk berselancar di dunia maya itu."

"Luar biasa," Temari berdecak kagum. "Dan dari hal kecil itu, semuanya berujung pada perjumpaanmu dengan para lakon drama kehidupan ini. Semua pemainnya sudah lengkap di belakang panggung, dan satu per satu mulai naik ke atas panggung utama. Sampai mana kisah kalian akan bergulir, dan ending macam apa yang menanti kalian, tak ada yang tahu. Bukan kisah roman picisan yang menguras feminisme, tapi drama hidup yang mengasah jati diri masing-masing."

Sakura terkikik geli, "Apa-apaan itu? Kau terlalu berlebihan."

Temari menghela napas panjang, menatap Sakura dengan senyum di bibirnya, "Aku bangga. Kau sama sekali tidak menuding ataupun membenci Gaara maupun Neji. Sama halnya dengan kau tidak tidak membenci Sasuke maupun Hinata."

"Kau mau aku marah?" Sakura menyeruput es jeruknya dan menatap Temari lekat-lekat.

Cepat Temari menggelengkan kepalanya, "Tidak, tentu saja tidak. Tapi reaksi wajar adalah kau marah pada Gaara yang telah meninggalkanmu begitu saja dan tiba-tiba kini muncul di hadapanmu mengaku sebagai pacar laki-laki lain, lalu Neji yang menyembunyikan kenyataan bahwa ia adalah pacar Gaara—dan berarti dialah penyebab keretakkan hubungan kalian berdua dulu.

"Lalu pada Hinata yang seenaknya saja menudingmu dengan macam-macam pikiran tidak benar, dan Sasuke yang sama sekali tidak memikirkan perasaanmu dan memilih untuk menjaga perasaan Hinata," Temari bertutur cepat.

"Marah ya," Sakura tersenyum hambar. "Perasaan itu sudah kubuang jauh-jauh. Perasaan betapa aku sangat menderita, terpuruk, dan semacamnya, hal-hal semacam itu hanya akan membuat diriku sendiri jatuh ke dalam pikiran negatif. Dengan menyalahkan orang lain terus-terusan, sama saja artinya dengan aku tidak menyadari kesalahanku. Sama saja dengan artinya aku menghindar dari kenyataan dan lari dari masalah dengan jalan pintas, yaitu merutuki orang lain. Sementara tak akan ada yang berubah. Tak akan ada yang menjadi lebih baik. Juga diriku sendiri. Sama sekali tidak…"

Temari menatapnya tanpa menimpali.

"Aku ini sangat tahu diri," senyum samar terpoles di bibir Sakura. "Baik dengan Gaara maupun Sasuke, aku telah melakukan kesalahan yang sama. Akulah yang tak berjuang keras untuk mempertahankan mereka. Aku yang begitu, sungguh tak pantas menyalahkan mereka atas keputusan yang mereka buat.

"Saat itu aku dihadapkan dengan pilihan, dan aku telah memutuskan. Mereka juga punya pilihan, dan mereka telah memilih. Sudah sepantasnya aku menghargai keputusan mereka," Sakura mengakhiri ucapannya.

"Kalau sudah begitu, aku sebagai orang luar pun jadi tak bisa lagi membantah dan menyalahkan siapa-siapa," Temari memejamkan matanya dan menyunggingkan senyum lembut. "Aku sangat bersyukur. Bisa punya teman-teman yang begitu luar biasa."

Sakura sedikit mengerutkan keningnya, namun segera tergantikan dengan senyum yang sama lembutnya dengan yang terpoles di wajah Temari.

Kicauan sepasang burung di luar jendela besar OSIS menjadi melodi syahdu yang berkumandang mengisi kekosongan udara dalam ruang lengang itu.

"Besok, semua pemain akan berkumpul di atas panggung untuk menampilkan akhir cerita. Ending macam apa yang akan kita dapatkan, tidak ada seorang pun yang tahu…" samar suara Temari terdengar, seolah menyahuti senandung burung di luar jendela.

.

.

TBC


End Note:

Seperti yang Temari katakan, chapter depan adalah penutup kisah Little Fire on the Candle ini. Terima kasih bagi kalian semua yang sudah mengikuti fic ini dari awal sampai ke titik ini. ^^

Soal adegan pertemuan antara Neji-Saku-Gaara, sengaja tidak saya paparkan langsung, karena kalau saya jabarkan di sini, bisa malah jadi memperpanjang fic, dan fokusnya jadi buyar. Mungkin nanti saya buat side story (?)

Chapter depan, semua pemain 'lama' macam Ino, Sai, Shikamaru, Tenten, akan mendapat giliran porsi tampil, bersama dengan Hinata & Sasuke tentunya. Jangan kelewatan! ;) *promosi*

.

.

Review replies buat non-login reviewers:

Naru-mania: Temari emang paling nyante di fic ini. Mungkin nanti saya buat side story antara ShikaTema di sela-sela Little Fire, saat para tokoh utama kita sibuk berkutat dengan cinta segitiga (?) XD

Neji & Gaara udah dibeberin tuh.. Soal Hinata, chapter depan :)

Nakamura Miharu-chan: Kenapa apanya? o.o

Semoga kecintaanmu terhadap Neji ga luntur setelah baca chapter ini.. ^^;;

liinaru: Tuh udah dibeberin.. ^^ Udah update~

Mamehatsuki: Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. XD *plakk*

Jadi bahan intorspeksi diri? Wih, bagus tuh *-*

Silakan serap sisi-sisi positif dari fic ini, yang negatifnya buang jauh-jauh. ^^

Kyoro: Iya, hampir semua tokoh menyimpan rahasia. Rahasia terakhir bakal disajikan di chapter depan.. ;)

Sasuke memang bebal. XD *dijotos*

Mugiwara Piratez: Neji juga ternyata punya alasan di balik setiap tindak-tanduknya tuh.. Moga ga ngurangin rasa suka kamu sama Neji.. XD

Soal Hinata disimpen buat chapter depan, ending. Kita lihat aja jadinya sama siapa. ;) *dilemparin batu*

Ren: Sankyuu! Nih apdetannya, gomen telat.. ^^;;

KindofLoveMaster: Mungkin karna saya pengen menegaskan bahwa setiap orang punya sisi dewasa dan egois masing-masing. Tinggal bagaimana pengendalian diri masing-masing aja.. ^^

Semoga chapter ini ga mengecewakan.. *lap keringet*

Kaori aka Yama: Karna udah mau ending, yang panas2nya mulai mendingin.. ^^

Ah, itu typo, mustinya 'ringan'. Gomen, sekarang diedit. ^^;;

Soal Neji & Gaara, tuh udah dipaparkan jelas. Kalau kurang jelas, mungkin nanti saya buat side story, kalau peminatnya banyak (?) XD

rio murasaki: Halo, udah update nih :) Maap ya lama..

.

.

All in all, Terima kasih banyak buat kalian semua yang sudah mengirim feedback buat fic ini. Saya bakal lebih semangat lagi berikutnya! ^^

.

.

(Typo-error akan dikoreksi secepatnya)