Summary: Mamori dan Hiruma… ber'kencan'?


"Hiruma, kita mau kemana sih?"

"Ikuti saja aku, manager sial!" jawab Hiruma seraya menarik tangan Mamori.

"Tapi sakit, tahu! Kau tidak tahu betapa kekarnya tanganmu itu, hah?" Mamori menarik tangannya dari cengkraman Hiruma, namun Hiruma menarik tangan yang satunya lagi. Apa daya, akhirnya Mamori pun hanya bisa mengikuti langkah Hiruma.

Sampai pada akhirnya mereka berhenti di depan toko aksesori. Mamori terkesiap melihat plang toko tersebut. Hiruma.. dia betul-betul akan membelikan perhiasan untuk cewek itu..? pikirnya. Seketika jantung Mamori berdetak kencang.

"Aku tidak tahu selera cewek. Sedangkan kau cewek, coba kau pilih salah satu aksesori ini." Perintah Hiruma. Mamori mengangguk sambil melongo dan masuk ke dalam toko yang nuansanya berwarna putih dan pink tersebut. Hiruma mengalihkan pandangannya dari cat-cat dinding yang warnanya menyolok itu.

"Pusing… sebaiknya kau cepat, manager bodoh." Keluhnya sambil menutupi matanya dengan kedua tangannya.

Mamori mengubrak-abrik bagian cincin dan gelang. Hiruma menunggunya di depan pintu. Lalu saat dia melihat-lihat di bagian kalung, matanya terpaku kepada satu kalung berbentuk hati berwarna silver.

"Lucunya…" ucap Mamori sambil mengangkat kalung itu dari tempatnya. "Hei, Hiruma, bagaimana kalau ini—"

Mamori terkejut mendapatkan Hiruma yang sedang memperhatikannya dengan begitu serius. Sekejap, muka Mamori memanas. "Hiruma..?"

Hiruma berjalan ke arahnya dan mengambil kalung itu. Dia memperhatikannya selama beberapa detik, lalu berjalan ke kasir untuk membayarnya.


Mamori's POV

Aku bingung. Apa perasaan ini? Aku tidak pernah mengalami perasaan aneh ini sebelumnya… haruskah kutanyakan kepada Suzuna, atau yang lain? Tidak… tidak usah. Ini aneh. Sangat aneh.

Apa maksudnya ini? Jantungku berdetak kencang. Mukaku memanas. Lulutku melemas. Semua terjadi bersamaan saat aku sedang bersama Hiruma. Ya, Hiruma, seorang setan bertaring yang sangat suka memakai kekerasan.

Jangan-jangan… aku.. menyukai Hiruma? Rasanya tidak mungkin sekali.

Tapi, bisa jadi. Karena di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.


Normal POV

"Hiruma… sebenarnya itu untuk siapa?" tanya Mamori saat mereka berdua sedang di tengah perjalanan menuju stasiun.

"Untuk ibu tetanggaku."jawab Hiruma asal. Mamori mengeluarkan suara seperti 'pfft' yang sangat pelan, hampir seperti bisikan. Ada ada saja alasannya, batin Mamori. "Lagipula, untuk apa kau bertanya-tanya, dasar manager sial,"

"Tidak, aneh saja kau membeli sesuatu yang 'berkerlap-kerlip'…" Mamori menekankan kata berkelap-kelip. Hiruma ber'ck'.

Tanpa terasa mereka berdua sudah di depan rumah Mamori. Sebelum Mamori membuka pagar rumahnya, dia menengok ke arah Hiruma.

"Hiruma, ucapkan selamat kepada tetanggamu itu dariku, ya. Karena dia akan segera menjadi orang pertama yang menerima hadiah darimu," canda Mamori yang dilanjutkan oleh tawanya.

"Tidak akan, manager sial." Hiruma membalikkan badannya dan mengambil haluan untuk pulang ke rumahnya. Tapi baru satu langkah, dia berhenti. "Ah, ya, untuk hari ini…"

Mamori tidak sabar menunggu kata selanjutnya. Dia sampai menggigit bibir bagian bawahnya. Dia mengira Hiruma akan berkata 'Terima Kasih' atau semacamnya, tapi beberapa detik kemudian dia kecewa karena Hiruma berkata "Tidak jadi,"

Tapi kemudian ada yang membuatnya lebih kaget lagi. Saat Mamori berjalan 2 langkah dari depan pagarnya, Hiruma mengucapkan kata yang tidak mungkin akan didengar oleh Mamori lagi. Kata yang sangat aneh, sehingga membuat Mamori pusing. Kata terlangka yang belum pernah didengar olehnya selain terima kasih—walau Hiruma pernah mengucapkannya sekali saat mereka chatting.

"Met tidur… Mamori."


Whawhahwahwaha XD saya nggak bisa apdet banyak-banyak nih minggu ini.. paling banyak 2 chapter lah. Hoho *plak* gimana, gimana? Makin seru? Apa makin garing? Sarannya ditunggu ya.. pastinya dengan jalan REVIEW ^^. Tapi usahain jangan sampai flame ya, kalau emang mau kasih kritik. Arigatou~